. Suradi Adventure Part 13 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 13

0
246

Suradi Adventure Part 13

HATI SEORANG BIDUAN 6

Tanpa jaket jeans, punggung itu terasa lembut dan halus.

Jari jemari tangan itu hangat menyentuh, berkeliaran di sana mencari titik-titik refleksi penyembuhan yang ajaib. Lalu menemukan sebuah kaitan BH, jari jemari itu melepaskannya. Menariknya ke luar dari kaos tipis berbahan katun combed yang lembut.
“Jangan.” Puspa terengah. Suradi terlanjur menarik BH itu dan menggenggamnya. Puspa menarik BH itu tanpa maksud merebutnya dari tangan Suradi. Dia bermaksud membimbing Suradi masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar Suradi melepas kaos putih polosnya.

“Kau takkan bisa mencegahnya.” Bisik Suradi. Sepasang mata Puspa menatapnya sayu. Kedua lengannya terkapar menyerah di atas kasur bersprei motif bunga-bunga. Dia tak bisa melawan dirinya sendiri. Sanjungan bibir-bibir lelaki itu pada seluruh bagian tubuhnya… pada kedua pundaknya, lengan atasnya, daerah sekitar ketiak dan pinggiran ke dua bukit payudaranya, perutnya… dengan ciuman dan emutan yang rakus, yang sangat murni, seakan lelaki itu adalah budak yang memuja dan menginginkan tubuhnya seperti orang kelaparan yang seminggu tak menemukan makanan… lalu memakannya pelahan-lahan untuk menemukan rasa yang asli.

Ya. Rasa yang asli. Rasa yang sejati.

Sangat wajar jika Puspa mengerang. Rasa yang asli dari syaraf-syaraf syahwat yang murni mulai berdenyaran. Rasa yang dulu pernah dia rasakan untuk yang pertama kalinya dengan Billy, pacar pertamanya di SMU. Rasa asli yang indah yang hanya datang sekejap.

Suradi melepaskan kemeja batik dan pantalonnya. Lalu melepaskan celana jean ketat Puspa dengan susah payah sebelum akhirnya dia melepaskan celana dalam gadis itu.

Puspa menggeram lagi.

Suradi tahu, Puspa itu type perempuan “pemalas” yang tak menyukai macam-macam gaya bercinta. Secara umum, type perempuan seperti ini titik G-spotnya terkonsentrasi pada klitoris. Namun Puspa memiliki kekhususan tersendiri. Seperti Lani, beberapa cabang titik G-spotnya tersebar di tempat-tempat tertentu yang pemiliknya sendiri tidak tahu di mana.

Setelah melakukan penyisiran di berbagai titik, kini Suradi tahu titik-titik cabang G-spot gadis itu. Yang pertama di area sekitar puting dan puting susunya, yang kedua di area antar pangkal lengan dan ketiak, yang ketiga di sekitar lingkaran elips bibir dalam dan bibir luar memeknya, yang ke empat yang utama, di bagian klitorisnya terutama di bagian batangnya yang sangat pendek.

Karena itu, setelah menelanjangi Puspa dan melemparkan celana dalamnya sendiri, Suradi menempatkan tubuh gadis yang sudah dipengaruhi efek berdenyarnya impuls-impuls syaraf kesyahwatan itu, berada di tengah-tengah ranjang yang memanjang. Kedua jemari tangannya menahan dan menggenggam lengan gadis itu di dekat sikut. Suradi menempatkan tubuhnya di antara selangkangan Puspa yang membuka lebar dan menempelkan bagian perutnya ke sekitar area elips memek Puspa.

Setelah persiapan awal yang sempurna, barulah Suradi melancarkan serangan serentak untuk menghajar titik-titik cabang G-spot itu.

Dengan mulutnya dia menggigiti secara mesra daging pinggiran di area sekitar puting dan dekat ketiak, membuat Puspa mengerang dan mendesah-desah. Puspa mencoba menahan denyaran itu tapi akumulasi sentuhan yang dilakukan bibir-bibir Suradi menafikan semuanya. Ketika puting susunya dikecup dan dikulum, Puspa menggelinjang dan menumpahkan lendir kenikmatan untuk yang ke 11 kalinya. Dia menaiki puncak bukit dan siap-siap mendaki gunung Semeru.
“Oughkhkh…” Puspa merintih ketika Suradi mengulum dan menyesap putingnya bersamaan dengan perutnya menggesek-gesek area elips memeknya, secara ritmis dan simultan.
“Akhkhhh!” Puspa mendesah keras ketika untuk yang pertama kali dalam hidupnya, berada di puncak gunung Semeru dan memuncratkan lendirnya pada perut Suradi. Dia mengaduh-aduh ketika lelaki itu tak mau menghentikan aksinya dan terus menstimulasinya dengan akumulasi rangsangan yang membuat gadis itu mengecrot berkali-kali.
“Adduuuhh…addduuuhhhh…”

Suradi tersenyum menikmati ekspresi wajah cantik itu, mata yang terpejam dan mulut manyun monyan-menyon mendesahkan suara desis.
“Kutunggu jeritanmu ya.” Kata Suradi dalam hatinya.

Suradi duduk bersimpuh di antara selangkangan Puspa. Dia membiarkan gadis itu sejenak menikmati puncak semerunya yang damai, melayang dan penuh awan. Dia kemudian membawa jari jemarinya meraup buah pantat gadis itu, kepala Suradi lalu merunduk untuk merumput di area pubisnya yang berbulu jarang. Memamah pinggiran paha dan bibir-bibir luar memek Puspa yang tipis. Dia akan membawa Puspa naik ke puncak Gunung Jaya Wijaya dengan lidahnya.

Lidah Suradi yang terlatih kini menyusuri pinggiran bibir-bibir dalam memek Puspa, memasukkan ujung lidahnya ke dalam liang memek itu dan mengentotnya dengan lidah. Kedua tangannya yang meraup buah pantat Puspa, meremas kuat menahan gelinjangan Puspa agar tidak terjadi pergeseran sensasi kenikmatan yang ditimbulkannya.

Pinggul gadis itu tak bisa diam ketika Suradi melakukan jilatan-jilatan itu, sehingga Suradi agak kewalahan juga. Dia segera mencucup itil Puspa dan menemukan batang itil yang pendek itu untuk distimulasinya dengan emutan dan gigitan kecil yang lembut.
“Aaakkkkhhh….” Puspa melengking dengan setengah jeritan yang tertahan di ujung tenggorokan. Perutnya melengkung dan pinggulnya mumbul ke atas. Puspa akhirnya tiba di puncak gunung Jaya Wijaya sambil menyemburkan lendir berwarna putih kehijau-hijauan. Srrr… srrrr….. prot…prott…

Puspa belum pernah ke puncak Jaya Wijaya. Dia melayang-layang di sana dan awan-awan itu berlarian di bawahnya.
“Aghgh… aku sudddahkhh tak tahan, kanghkhkh… oughkhhh…. ” Katanya dengan nada yang sangat menyayat. Ssrrr… srrr…. desiran lendirnya terus menggelosor.

(Pada suatu saat nanti, Puspa akan menciptakan sebuah lagu hit yang berjudul “Aku meleleh dalam pelukanmu”)

Suradi tersenyum dengan senyum kemenangan. “Inilah puncak gunung Mount Everest, yang hanya bisa kau daki 1 kali seumur hidupmu.” Bisik Suradi, lembut. Tapi Puspa tidak bisa mendengarkan bisikan itu. “Dan kontolku akan menikmatinya tanpa syarat.”

Cara terbaik membawa seorang perempuan ke puncak kenikmatan adalah memeluknya dengan erat, memasukkan batang kontol hingga penuh ke dalam liang memeknya, lalu menggenjotnya dengan ritmis dan sistematis. Tentunya hal tersebut dilakukan setelah semua persiapan dan pemanasan telah dilakukan dengan sempurna.

Suradi menggenjot memek Puspa dengan kontolnya setelah yakin kedua tangan gadis itu memeluk punggungnya dan kedua betisnya membelit pinggangnya. Tidak memerlukan waktu lama, hanya 15 menit genjotan konvensional saja yang berkecepatan sedang dan cepat di 5 menit terakhir, akhirnya Suradi berhasil membuat memek Puspa meledak dan menyemburkan lahar panas lendir orgasmenya dalam sebuah jeritan yang membahana.
“Aaaaaaaaakkkkkkkkkk…… ”

Puspa sakau di puncak tertinggi kenikmatan syahwat. Tubuhnya mengejang dan mulut memeknya muntah lendir yang sangat banyak.

Pada saat Puspa menjerit, pada saat itu pula Suradi memuncratkan pejuhnya di dalam memek Puspa yang menggelenyar-gelenyar dibadai sensasi kenikmatan yang tak terperi. Dia menumpakan dan menyemprotkan pejuhnya secara seluruhnya tanpa sisa. Nikmatnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

8

Antara sadar dan terjaga, khayal dan nyata, Puspa menerima kecupan di kening dan bisikan selamat tinggal dari Suradi. “Aku harus pulang.” Bisik lelaki itu. Tapi Puspa tak sanggup menjawabnya. Hanya saja dia merasa yakin hari esok matahari akan bersinar dan dia akan menemui lelaki itu dan memeluknya dengan penuh cinta dan perasaan sayang. Dia akan setia menjadi selingkuhannya atau menjadi apapun seperti yang diinginkannya.
“Aku akan bahagia jika berada di dekatnya dan mendapatkan pelukan hangatnya.” Kata Puspa dengan penuh keyakinan dalam lelapnya di alam khayal tidur yang mempesona.

Ketika Puspa terjaga dalam keadaan telanjang, dia tersenyum dan cekikikan sendiri sambil memeluk guling. Dia tak sanggup memetakan keindahan kejadian semalam. Dia merasa bahagia. Dia tidak peduli jam dinding menunjukkan pukul jam 2 sore, yang berarti bahwa dia telah tidur selama 15 jam seperti bayi. Namun Puspa tidak bisa tidak peduli pada manajernya, yang sudah menunggunya selama 2 jam di beranda.
“Maaf, Om, saya tidur lelap sekali.” Kata Puspa. Namun manajernya tidak menjawab, dia menatap Puspa dengan mata nanar penuh kegembiraan.
“Saat yang kita tunggu-tunggu akhirnya tiba.” Kata Rudi Susanto dengan nada girang yang tak bisa disembunyikan. Puspa ikut merasakan kegembiraan itu.
“Memangnya ada apa Om?”
“Kamu akan tour keliling Indonesia dan ASEAN.” Katanya dengan mata berkaca-kaca. “Seluruh crew dan personil band sudah siap-siap menunggu dengan suka cita, kita akan latihan selama 2 minggu di Jakarta, sambil mempersiapkan semua peralatan, lalu kita akan memulainya dari Banda Aceh…”
“Tapi… tapi Om, itu kan modalnya sangat banyak, darimana Om bisa mendapatkannya? Bukankah kemarin Om gagal mendapat kesepakatan dengan beberapa perusahaan sebagai penyandang dana?” Kata Puspa dengan keheranan.
“Kamu tidak perlu khawatirkan itu. Tour kita pasti akan menghasilkan untung yang besar… bahkan penyandang dana kita merasa sangat yakin keuntungan bersihnya akan lebih besar dari yang kita duga. Kita akan bekerja keras sepanjang tahun, Pus. Kamu harus mempersiapkan diri secepatnya.”

Puspa terbelalak.
“Siapa penyandang dananya, Om?”
“Melinda Liem.” Kata Rudi dengan gembira.

9

Pagi itu ketika terjaga, Linda menemukan pesan video di HP melalui aplikasi WA dan beberapa panggilan tak terjawab. Sambil menyesap kopi dia berpikir, lalu dia memijit sebuah nomor.
“Pak Rudi, ini dengan Linda.”
“Wah, pagi-pagi ada apa ya?”
“Bagaimana rencana tour keliling Indonesianya Rosadewi Puspa, Pak?”
“Kelihatannya tahun ini gagal Bu.” Kata Rudi. “Soalnya para investor meminta pembagian yang terlalu tinggi dari keuntungan bersih.”
“Berapa?”
“Mereka minta 6: 4.”
“Kalau Pak Rudi sendiri menawarkan berapa?”
“Saya tawarkan 4:6. Mereka menolak.”
“Berapa kota yang akan dikunjungi Pak?”
“Seluruh kota besar di Indonesia dan ASEAN kalau bisa.”
“Berapa menurut perkiraan Pak Rudi keuntungan bersih tiap shownya?”
“Sekitar 100 juta.”
“Itu berarti Pak Rudi dapat 60 juta tiap shownya ya? Mantap. Berapa lama kira-kira shownya, Pak?”
“Ya, bisa sekita 4 sampai 6 bulan lamanya, Bu. Mungkin juga setahun.” Kata Rudi.
“Baik. Saya tunggu detailnya di kantor ya pagi ini.” Kata Melinda dengan nada tenang.
“Maksud ibu Linda?”
“Kau butuh penyandang dana kan?”
“Jadi… jadi bu Linda akan…”
“Saya tunggu.”
“Ssssiaappp, Bu. Berangkat sekarang juga.”

10

Tour Konser Rosadewi Puspa yang bertajuk “Kisah Terindah” sepanjang tahun itu, didapuk dan digadang-gadang oleh media sebagai konser terbaik tahun ini, mengalahkan konser Tiga Diva Indonesia yang sangat legendaris itu. Dalam suatu konferensi pers yang ditayangkan di acara Gosip “Bibir Merah”, Rudi Susanto mengklaim keuntungan bersih yang diraup oleh manajemennya adalah sebesar 1,2 Milyar. Jumlah tersebut merupakan akumulasi keuntungan bersih setiap show diluar honorarium artis, personil band dan crew. Diakhir konferensi pers, Rudi menyebut-nyebut nama Melinda Liem sebagai eksekutif swasta terbaik yang mampu melihat peluang dan memberi kesempatan kepada siapa saja yang mau bekerja keras bersamanya.

Sementara itu, sepanjang tahun itu, Rosadewi menangisi malam-malamnya yang sunyi dan kerinduannya yang mendalam terhadap Suradi. Dia menyesali dirinya sendiri mengapa nomor HP lelaki yang dicintainya itu tidak dia miliki sehingga dia tidak bisa nelpon atau video call untuk melepas rindunya. Dari rasa sesal dan sunyi inilah lahir lagu-lagu hitnya yang menguasai tangga lagu di radio dan rating youtube yang sangat tinggi. Di antaranya yang paling terkenal adalah “Aku meleleh dalam pelukanmu”.

Pada bulan ke tiga tournya, Rosadewi mengalami keguguran karena keletihan yang terlalu. Kejadian itu bisa disembunyikan dari media dan wartawan gosip. Tapi tidak dari mata dan telinga Melinda Liem.

Melinda sebenarnya ikut merasa sedih, dia mengirimkan karangan bunga “Get Well Soon, but The Show Must Go On” yang diterima Rosadewi sebagai rasa simpati yang mendalam. Dan dia merasa senang bercampur haru.

Tapi jauh di atas segalanya, Melinda lah yang paling merasa senang. Dia sudah menjauhkan biduan itu dari kehidupan Suradi dan merasa bahagia atas keguguran kandungannya, sebab dengan begitu hubungan abadi antara biduan itu dengan Suradi bisa terputus.

Seandainya Rosadewi melahirkan anak itu, Melinda sudah mempersiapkan skenario untuk menculiknya dan akan mengakunya sebagai anak kandungnya sendiri.

Bersambung

Daftar Part