. Suradi Adventure Part 11 | Kisah Malam

Suradi Adventure Part 11

0
271

Suradi Adventure Part 11

HATI SEORANG BIDUAN 4

“Hari ini adalah hari yang pendek. Saya tadi ke luar jam 4, latihan sebentar di rumah Oyong, pergi ke hotel jam 7, sekarang sudah ada di rumah.” Kata Puspa. “Silakan kopinya.”
“Saya boleh merokok?”
“Boleh. Beranda ini area bebas merokok.”
“Kalau hari yang panjang?” Suradi menyesap kopinya. Lalu menyalakan kreteknya.
“Bangun pagi, terhuyung-huyung ke kamar mandi. Langsung pergi ke tempat latihan, melatih aransemen baru; atau menghafal lagu baru yang sedang ngetren… aku tidak selamanya menyanyikan laguku sendiri… banyak lagu lain yang lebih bagus… manggung, show siang… istirahat sebentar, jalan lagi, show sore… biasanya agak ngantuk, cari tempat untuk tiduran, bisa di mobil atau di tempat ganti baju… show malam, istirahat sebentar, show tengah malam… baru terasa badan ini capeknya minta ampun. Pulang ke rumah jam 2 atau jam 3 pagi.”
“Waw.” Kata Suradi. “Sampai segitunya ya nyari duit.” Suradi tersenyum.
“Itu bisa berlangsung sepanjang minggu.” Kata Puspa.
“Uh. Pasti cape.”
“Sangat. Tapi kadang rasa lelah bisa diobati dengan sanjungan dan pujian… pada awal-awal dulu show, terasa indah. Ada pemuja yang memberi bunga… terkadang mereka mengharapkan lebih. Ketika sebuah lagu dinyanyikan dengan penuh perasaan, seseorang akan tersentuh hatinya… tiba-tiba saja mereka merasa dekat dengan kita…”
“Bukan kita, kamu.” Suradi tersenyum.

Puspa melirik ke arah lelaki itu.
“Tapi mereka tidak tahu sanjungan yang sesungguhnya untuk seorang perempuan.” Kata Puspa
“Saya tahu.”
“Sampai saat ini, menurutku, belum ada seorang laki-laki pun bisa menyanjung seorang perempuan dengan cara yang sesungguhnya.” Puspa terdengar serius. “Semua yang terlihat di panggung adalah polesan, sebuah entertainment untuk menyentuh perasaan penonton… itu seringkali tidak ada hubungannya dengan hidup keseharian… bagaimana Kang Sura tahu? Dari istri?”
“Saya tahu, bukan dari istri saya.” Suradi berkata serius. Matanya menatap jauh ke langit yang biru gelap.
“Kalau begitu, dari mana akang tahu?”
“Dari pengalaman.” Kata Suradi, tenang dan datar. “Sanjungan terbaik untuk seorang perempuan adalah menerima dia apa adanya, secara tulus.”

Puspa terdiam.
“Kedengarannya aneh.” Kata Puspa. “Walau masuk akal.”
Suradi menyesap kopinya sampai habis.
“Kalau seorang perempuan dipahami dan diterima dengan akal lelaki, takkan ada seorang lelaki pun di dunia ini yang sanggup melakukannya. Saya jamin.”

Puspa tertawa lembut.
“Memang akal lelaki itu seperti apa?”
“Jangan tanya saya. Saya sendiri kurang paham dengan akal saya.”

Puspa tertawa. Lelaki di depannya ini benar-benar aneh, tapi ada benarnya.
“Kang Sura pernah selingkuh?”
“Ya.”
“Istri di rumah tahu?”
“Mudah-mudahan tidak. Itu akan melukainya.”
“Bagaimana kalau dia tahu?”
“Entahlah. Mungkin lukanya takkan tersembuhkan.”
“Ya, mungkin takkan bisa disembuhkan.” Kata Puspa, nada suaranya terdengar gemetar.
“Tapi seorang perempuan takkan pernah tahu perasaan seorang lelaki ketika tahu istrinya selingkuh.”

Puspa menatap lelaki itu dengan serius.
“Lelaki itu diam. Tak pernah memberi tahu istrinya bahwa dia tahu istrinya selingkuh. Setiap malam lelaki itu berpikir, mencari cara yang terbaik untuk bunuh diri.” Suara Suradi terdengar gemetar.
“Setiap malam?”
“Ya, setiap malam.”
“Tidakkah lelaki itu berpikir untuk membalas perbuatan istrinya?”
“Tidak. Lelaki itu mencintainya dan menyanjungnya dengan setulus hati.”
“Waw.”
“Apakah lelaki itu… kamu?”
“Bukan. Tapi saya tahu persis dia.”
“Siapa?”
“Orang yang paling dekat dan paling berjasa dalam hidup saya.”
“Siapa?”

Suradi terdiam.
“Dia ayah saya.”

Pembicaraan tiba-tiba membeku.

“Kamu pernah selingkuh, Pus?” Tanya Suradi.
“Mau tambah kopinya?” Puspa membelokkan arah pembicaraan. “Bi, tolong kopinya tambah lagi. Sekalian dua.” Katanya. “Pernah.” Puspa berkata pelan. “Setelah dia lebih dahulu terciduk di suatu losmen.”
“Ow. Bales dendam rupanya.”
“Begitulah. Akhirnya kami pisah baik-baik.”
“Bagaimana nasib dia? Selingkuhanmu itu?”
“Tidak lama, mungkin cuma seminggu dua minggu. Dia lebih buruk dari yang aku duga.”
“Mau dapet apel malah tomat.” Suradi tersenyum.
“Kamu sendiri?”
“Apanya?” Tanya Suradi.
“Selingkuhanmu?”
“Saya menikahinya.”
“Kamu mencintainya?”
“Sangat.”
“Terus?”
“Oh… saya ingin sekali melupakannya. Tapi sulit… Dia meninggal.”
“Innalilahi… kenapa?”
“Kecelakaan lalu lintas. Sopir truk itu sedang teler ketika menabrak toko kelontongnya. Dia meninggal seketika bersama 2 orang pembeli.” Suara Suradi benar-benar terdengar gemetar.
“Istrimu tahu dia?”
“Saya berrencana memberi tahunya jika sudah melahirkan.”
“Dia hamil?”
“Ya.”
“Tragis sekali.”
“Kayaknya pembicaraan ini terlalu jauh.” Kata Suradi.
“Ya, terlalu jauh. Tapi cangkir ke dua sudah datang.” Kata Puspa sambil menyambut baki yang disodorkan pembantunya. “Makasih ya bi.”
“Sama-sama neng.”

Puspa menyesap kopinya. Dia mengambil kemasan rokok dari tas tangannya.
“Ini jatah terakhir untuk malam ini.” Katanya sambil menyalakan sigaretnya. “Maksimal 6 batang sehari… saya merasa bodoh sekali… kita berbincang seperti sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.”
“Ya, aneh sekali. Entah bagaimana menjelaskannya. Kita seperti dekat, tapi jauh. Kita asing satu sama lain, tapi kita merasa dekat. Yang lebih aneh… ciumanmu tadi, sangat aneh.”
“Sori, Kang. Aku keceplosan. Cuma di pipi koq.” Kata Puspa, seperti tak acuh.
“Tidak, bukan itu. Saya merasakan hal yang sama.”
“Hal yang sama, apa maksudnya?”
“Kesepian. Kita merasa kesepian.” Kata Suradi. Dia menyesap kopinya dan menyalakan kreteknya. “Ini batang terakhir.” Katanya. “Maksimal 1 bungkus sehari.”

Puspa tertawa kering. Dia menakr-nakar perasaan lelaki itu.
“Mungkin jika di bibir akan terasa lebih aneh lagi.” Kata Puspa.
“Tidak. Kau tidak mungkin menghentikannya.” Kata Suradi.
“Aku tahu batas.” Kata Puspa.
“Saya tidak berani membuktikannya.”

Tiba-tiba saja Puspa menatap Suradi dengan tatapan menyelidik.
“Dalam keadaan seperti sekarang ini, aku bukanlah seorang biduan pujaan tua muda. Aku cuma perempuan biasa.”
“Karena itu kau takkan bisa menghentikannya.” Kata Suradi.
“Aku bisa.”
“Tidak. Saya tidak ingin membuktikannya.”
“Kamu takut?”
“Ya. Saya takut.”
“Istrimu?”
“Bukan.”
“Dirmu sendiri? Rasa bersalah?”
“Bukan.”

Puspa terdiam sejenak.
“Kamu takut siapa? Aku janda. Tidak akan ada orang yang menuntutmu.”
“Bukan juga.” Kata Suradi sambil menyesap kopinya

Bersambung

Daftar Part