. Status Berkelas Part 34 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 34

0
106

Status Berkelas Part 34

Resuffle, Scene 1

Satu bulan setelah kejadian pertarungan..

Hari minggu pagi sedikit mendung. Awan hitam menggumpal berarak menodai warna indah atap semesta. Namun gugusan hitam itu menorehkan satu keindahan tersendiri. Keindahan yang natural. Seperti juga naturalnya foto hitam putih jaman baheula. Ada sebentuk unik dari ragam ke Maha Dahsyatnya hamparan angkasa.

Duduk di gazebo rumah Hajar beberapa orang yang sangat familiar wajahnya. Dana, Nada, Hajar, Khusna, Indra dan juga Dira.

Angga masih sibuk merawat Hera yang masih tahap pemulihan. Najar dan Pak Ali sibuk bersama Dodo dan Yosa memulai pengerjaan pembuatam depot bakso utama di manukan.

Yosa masih mengalami penundaan keberangkatan ke Makasar. Keadaan bencana alam yang tak menentu seperti tsunami, gunung meletus, dan sebagainya yang akhir-akhir ini terjadi membuat kantornya cukup berpikir dua kali untuk memulai debut perdana kantor cabang disana. Mungkin perubahan ini akan membawa efek besar bagi alur kisah perjalanan hidup Yosa dan Dodo.

“Eh aku masih ga bisa mikir lho tentang semua keterkaitan yang terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari Yosa dan Dodo yang ternyata bolo dewe, sampai pada serangkaian permainan licik Pras terhadap keluarga Nada dan Hajar”, Khusna membuka pembicaraan dengan pembahasan yang masih berkutat pada masalah yang baru hangat-hangatnya terjadi.

“Iyo eh.. aku kaget pas ketemu Yosa dan Dodo.. lha wong mereka sering banget maen ke mas Sinto, tetanggaku. Aku kan yo os-tos-mas-tis ikut kenal baik sama mereka”, imbuh Dana dengan wajah berbinar.

“Semua serba berkaitan No.. tak ada yang mustahil di dunia ini jika Yang Kuasa berkehendak”, Indra menyahut. Tumben-tumbenan ia berkata bener dan tidak selengean haha.

“Injih (iya) Pak Ustadz..”, goda Dana disambut tawa riuh yang lain. Suatu hal yang langka jika melihat Indra seperti ini.

“Woooo… gile lu Ndroo !!, sok-sokan gaya jaim lu di depan Dira.. hahaha”, Khusna ikut menggoda. Indra terpojok tengsin dengan wajah abang, ijo, kuning.

“Gathell koen Kas !!, ga seneng liat temennya bener”, ucap Indra membela diri.

“Hahaha.. biasa ae om.. gausah dibuat-buat.. ketok wagu mu haha”, Dira ikut nyeletuk mengundang sorak sorai yang kembali hingar bingar memanaskan telinga Indra.

“Asemm iki Dira malah melu-melu (ikut-ikut)”, sergah Indra merasa terhakimi.

“Ehh bentar deh.. aku kok belum dengar cerita dari Nada tentang kejadian detail saat penculikan. Kamu aman kan say?, ga di anu-anu sama si Pras?”, Hajar menyela. Nada terhenyak seperti tersambar petir.

“Entutt iki Hajar… ada-ada aja pertanyaane”, batin Nada menggerutu.

“Wooii non… ditanya ditanya kok malah bengong.. jangan-jangaaan…. ehhm ndang kamu wes di anu yo?”, Hajar memburu.

“Eeh itu anu say.. iyyaah aman kok”, Nada membalas dengan terbata.

“Aman tapi kok jadi gugup gitu hayoo.. ???”, Hajar masih tak puas dengan jawaban Nada.

“Wahaha.. ojok memperkeruh suasana koen nduk!!. Tontoken (lihatlah) ini lagi bales WA Dodo lhooo.. jadi ga fokus”, haha Nada emang bener-bener jago aktingnya.

Candaan dan kebersamaan mereka nikmati. Terkhusus bersamanya Indra dan Dira tak menjadi suatu permasalahan yang mengemuka. Termasuk Hajar yang notabene adalah adik dari Najar, ia tak terlalu ikut campur mengenai hal tersebut. Semua punya hak melangkah, semua memiliki kesempatan untuk menemukan kecocokan, semua tergantung pribadi masing-masing.

Terlebih, Najar juga tetap santai dan bahkan membaur bersama Indra dan Dira. Itu menunjukkan bahwa mereka sudah berhasil memilah dan memilih menyelamatkan persaudaraan yang ada.

———–


Selang sekian menit..

“Ndra.. aku jadi serba salah”, terdengar Dira mencoba mengungkapkan apa yang ia ganjalkan. Saat itu Indra dan Dira sedikit menjauh dari yang lain untuk membahas internal mereka.

“Serba salah kenapa?”, Indra bingung dengan maksud perkataan Dira.

“Jujur aku ga enak hati sama Najar. Tapi disisi lain aku juga tak mau kehilangan kamu”, lanjut Dira.

“Ooh itu… gampang itu mah hehe”, jawab Indra enteng sambil menyunggingkan senyum.

“Gampang yaopo (gimana)?”, Dira kini yang sebaliknya bingung.

“Ya poligami aja hahaha”, Indra berseloroh namun juga bermuatan serius.

“Yee..maunya yaa hmm. Aku sih ga masalah jika harus berbagi dengan Najar”, Dira berusaha jujur.

“Nah kalau gitu ayo..”, Indra mendelik jenaka.

“Ayo ayo.. ayo gundulmuu !!. Belum selesai aku ngomong woii. Aku memang ga masalah jika harus berbagi. Yang jadi masalah itu malah kamuuu.. aku ragu kalau kamu bisa adil. Adil itu ga sekedar omong doang lho. Adil dalam segala hal itu ga gampang!!”, Dira berusaha menjelaskan. Indra hanya cengar cengir menyimak.

“Hahahaha.. Diraaa dira. Kamu itu bingung apa sihh. Nih tak kandani (aku kasih tahu). Aku sudah putus sama Najar dengan baik-baik. Kami tak ada masalah dengan cinta. Hanya waktu saja yang tak berpihak pada kami. Jalan hidup telah berubah seiring perjalanan waktu, dan itu tak bisa di mundurkan kembali. Yang sudah terjadi ya itulah kenyataannya. Jadi kami akhirnya bersepakat, menjadi saudara akan lebih baik”, kali ini Indra benar-benar serius dengan ucapannya. Tak ada keraguan dari setiap kata yang ia sampaikan.

“Syukurlah kalau begitu.. hmmmhh”, Dira menghela napasnya dalam-dalam. Beban berat di benaknya seperti telah terangkat, tersapu angin sepoi.

———-

“Broo.. aku boleh curhat?”, suara Dana terdengar lirih di telinga Khusna. Saat Indra masih ngobrol bersama Dira, Dana dan Khusna juga asyik menyendiri berdua menikmati kopi hangat dan kepulan asap tembakau. Nada dan Hajar sudah beberapa saat lalu pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk mereka semua.

“Curhat opo No?”, tanya Khusna singkat.

“Di kafe mu masih perlu penyanyi ga?”, tanya Dana. Sebuah pembahasan yang diluar perkiraan Khusna.

“Coba aku tanyakan sama bos besok. Buat siapa No?”, sambut Khusna memberikan sedikit angin segar.

“Gae aku Kas. Jujur aku lagi mumet banget. Hasil dari dagang gorengan sudah tak cukup lagi buat menopang kebutuhan di rumah. Si Astri adikku satu-satunya bulan depan sudah mulai pendaftaran kuliah. Belum lagi bapak yang perlu rajin check up ke dokter untuk mengontrol kondisi kesehatannya. Akhir-akhir ini beliau sering mengeluh pusing dan vitalitasnya menurun. Belum lagi buat makan sehari-hari. Gaji pensiunan bapak yang cuma 1,5jt sebulan jelas ga cukup. Aku lah satu-satunya harapan mereka”, Dana tertunduk lesu.

“Ehmm, aku paham No. Tapi aku ga bisa janji kalau kamu pasti bakal diterima jadi penyanyi disana. Kondisi kafe juga agak surut. Tapi tetap akan aku coba tanyakan besok”, Khusna merasa sangat iba. Tapi ia tak tahu harus berbuat apalagi untuk menolong sahabatnya tersebut.

“No.. kalau kamu butuh suntikan dana.. aku punya tabungan lumayan bisa kamu pinjam dulu. Orangtuaku di tasik sana masih bekerja, jadi aku masih cukup bisa untuk menabung selama ini. Rencananya sih buat celengan nikah kelak. Tapi kan masih lama. Pakai aja dulu gapapa”, Khusna coba memberikan solusi bagi Dana.

“Ahh.. ga bisa gitu juga Kas. Pekerjaanku tak akan bisa mencover untuk aku bisa mengembalikan pinjaman. Aku tak mau membebanimu. Kalaupun aku pinjam, tentu dalam batas kemampuanku agar aku bisa kembalikan”, jawab Dana menolak halus tawaran sahabatnya.

“Gapapa sih sebenarnya. Kamu bisa kembalikan kapan-kapan se bisa kamu. Ga ada batasan. Tapi semua itu terserah kamu. Aku selalu membuka tangan jika kamu membutuhkan bantuan, kapanpun, selama aku bisa dan memiliki”, Khusna masih tak tega. Namun ia sangat hafal karakter Dana. Sahabatnya itu tipe yang tak bisa dipaksa. Apa yang ia lakukan adalah sesuai kemauan dia.

“Suwun Kas.. koen dan Indro benar-benar sahabat terbaikku”, Dana terharu atas kebaikan Khusna. Khusna menjadi ikut terharu melihat ketulusan Dana.

“Walahh.. lanang-lanang (cowok) kok malah podo mellow ngunu. Bahas apaan sih ?. Senyum dikit gitu napa..!!”, Hajar muncul di hadapan mereka. Keduanya kaget, menyembunyikan mata mereka yang berkaca-kaca.

“Hehe gapapa.. cuma sekedar cerita suka duka masa lalu kita.. teringat jadi sedih”, jawab Khusna menutupi.

“Yaudah ayo podo maem sek (makan dulu). Wes dimasakno bos Nada huenakk iki. Indra.. mbak Diraa.. ayo sini maem dulu”, Hajar berteriak riang. Semua berhamburan masuk menuju meja makan.

———-

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part