. Status Berkelas Part 18 | Kisah Malam

Status Berkelas Part 18

0
95

Status Berkelas Part 18

Terbuka

—–

Tak terasa kini kusadari
Tanpa ada harapan yang nyata
Namun tak pernah aku sadari
Semua itu biasa saja hingga kau ada

Pertama kau sapa mata hati
Ada getaran mengusik sukma
Sesaat kuterbuai sendiri
Perlahan kutergugah akan alunan asmara

Terbuka mataku
Terbuka hatiku
Kutergugah karenamu
Dan kau beri tandamu

Kau hadirkan gairah
Kau hadirkan pesona
Di kala bersama
Bahagia terasa

Tanpa kusadari saat ini
Ku s’lalu merindukan dirimu
Keanggunanmu raih hatiku
Oh kasih, betapa jelita matamu

Mungkinkah kau sambut jemariku
Yang kini s’lalu mengharapkanmu
Oh betapa bahagia hatiku
Bilakah dirimu menyambut bunga kasih ini..

(Terbuka – M.E.) Hayati lagunya, klik disini..!http://www.4shared.com/mp3/ArKkZ7wl/me_-_terbuka.htmlhttp://www.4shared.com/mp3/ArKkZ7wl/me_-_terbuka.html

——-

Kebimbangan yang besar bergelayut di benak Najar. Kejelasan tentang Dion tak kunjung ia dapatkan. Sudah hampir 2 minggu sejak kepergian Dion ke Jakarta, namun tak jua ada kabar yang pasti dimanakah, dan sedang apakah Dion sebenarnya. Najar sudah tidak menggenggam uang sama sekali. Pekerjaan telah ia tinggalkan sejak menerima lamaran Dion. Lalu bagaimana nasib Najar jika sudah seperti ini?

Dengan sangat berberat hati Najar berusaha mendekat ke arah Hajar untuk menerima tumpahan unek-uneknya. Terlebih, kini uluran tangan Hajar untuk membantu arus dompet memang sangat diperlukan. Meski Najar sempat merasa sungkan karena pernah menolak niat baik Hajar, namun himpitan kebutuhan terutama untuk memasakkan pak Ali dirasa Najar memang perlu untuk menerima tawaran bantuan Hajar. Apalagi Hajar tentu juga ingin membantu tercukupinya apa yang diperlukan pak Ali.

“Ndut.. Ehmm.. Yopo yo aku ngomonge. Ehmm..wes ga sido wes. Wurung wurung”, (Ndut.. Ehmm.. Gimana ya aku bilangnya. Ehmm..ga jadi deh. Batal batal) sulit sekali Najar mengawali ucapannya. Rasa sungkan, gengsi, dan pusing bertumpuk menjadi satu menyumpal di mulut mungilnya sehingga begitu menghambat keluarnya susunan kata yang sebelumnya telah ia rangkai.

“Lho yopo seh.. Tiwas serius dipenthelengi kok malah ga sido. Onok opo seh mbakkk? Terbuka ae lah, ga usah bingung!!”, (Lho gimana sih.. Udah serius di pelototi malah ga jadi. Ada apa sih mbakkk? Terbuka sajalah, jangan bingung!!) Hajar menjadi tak sabar menunggu Najar menyampaikan maksud arah pembicaraannya. Rasa letih setelah estafet menunggu Nada di RS membuat Hajar kurang bisa berbasa-basi meladeni obrolan yang berbelit.

“Ojok nesu talah ndutt!!. Iyoo iyo aku tak tu nde poin ae. Iki lho koen lak mesti yo ngeroso aneh, mosok kok mas Dion iki wes rong minggu ga onok kabar. Ngirim duwik yo ga. Aku lak mumet seh ndut”, (Jangan marah dong ndutt!!. Iyaa iya aku to the poin aja deh. Kamu pasti juga ngerasa aneh, mas Dion udah 2 minggu ga ada kabar. Ngirim uang juga tidak. Aku kan jadi pusing ndut) Najar merapat di kursi panjang diruang tamu pak Ali tempat dimana Hajar duduk.

“Iyo mbak. Masio ketoke aku ga tau takon. Tapi sakjane aku yo mikir. Nang ndi seh mas Dion iki??”, (Iya mbak. Meski aku kelihatannya tidak pernah tanya-tanya. Tapi sebenarnya aku juga kepikiran. Kemana sih mas Dion ini?) melihat Najar yang murung, tak sampai hati Hajar melanjutkan dongkolnya. Dengan penuh perhatian ia tanggapi cerita Najar dengan penuh kekeluargaan.

“Hikks.. Hikk. Aku bingung ndut. Aku sedih, mumet.. Emboh lah. Iki sakjane aku duwe bojo ga sih ndut??”, (Hikks.. Hikk. Aku bingung ndut. Aku sedih, mumet.. Tak taulah. Ini sebenarnya aku punya suami ga sih ndut??), tangisan Najar mulai berderai. Kekalutan merebak di jiwa, terhembus pedih melalui kata-kata.

“Husss..ojok ngomong ngunu talah mbak. Yo jelas pean iku bojone mas Dion. Sabar mbak.. Sabar. Ojo mikir aneh-aneh”, (Husss..jangan ngomong gitu dong mbak. Ya jelas kamu itu istrinya mas Dion. Sabar mbak.. Sabar. Jangan mikir yang aneh-aneh) Hajar berusaha meluruskan omongan Najar yang mulai ngelantur.

“Hikks..iyo aku mudheng. Tapi mosok bojo koyok ngene. Ga direken blas.. Hikks hik. Ojok kok mikir aku iso mangan opo ga, wong mok say hello ae kok yo ga onok..hikks”, (Hikks..iya aku paham. Tapi masa istri nasibnya seperti aku gini. Tidak diperhatikan sama sekali.. Hikks hik. Jangankan berpikir aku bisa makan atau tidak, just say hello aja tidak pernah..hikks) Najar semakin merancau tidak karuan. Dorongan jiwa yang tertekan begitu menyesak.

“Wis mbakk..tenangg.. Sabarr. Lek gae maem wes ta ojok mikir sungkan barang nang aku. Lek aku nyekel duwik gae opo seh lek ga gawe nyenengno wong tuwo karo dulurku?. Sementara sak durunge onok bukti jelas yo ojok mikir elek sik nang bojo pean. Sopo eruh de’e nang kono yo lagi kepepet duwik e. Wes pean sing sabar ae. Mikir positif nang mas Dion. Mugo-mugo wonge nang kono sehat”, (Sudah mbakk..tenang.. Sabarr. Kalau buat makan sudahlah jangan berpikir sungkan segala ke aku. Jika aku punya uang, buat apa sih kalau tidak untuk menyenangkan ortu dan saudara?. Sementara sebelum ada bukti jelas ya jangan negative thinking dulu ke suamimu. Siapa tahu dia disana juga sedang kekurangan. Positive thinking aja ke mas Dion. Semoga dia disana sehat) Sedikit demi sedikit Hajar berusaha mengarahkan Najar untuk lebih tenang dan sabar. Segala sesuatu yang dilakukan karena emosi dan tanpa pertimbangan akan mudah ditunggangi setan.

“Iyo ndut suwunnn”, (Iya ndut makasihhh) Najar memeluk adik satu-satunya dengan penuh rasa sayang. Support dari Hajar memberikan jalan solutif bagi masalah yang sedang dihadapi. Beban yang memberat dipundak serasa sedikit terangkat sudah. Hanya tinggal memastikan kabar mas Dion bagaimana sebenarnya. Namun disisi hati yang lain, Najar memendam kasih yang dalam pada Indra yang telah membuatnya klepek-klepek. Haruskah ia terus melaju mengesampingkan Dion menuju jenjang perceraian?. Bagi Najar, tak ada sedikitpun dari sisi Dion yang pantas diberatkan oleh Najar meski tak dapat ia pungkiri bahwa sebenarnya rasa cinta kepada Dion itu telah ada. Kebersamaan dalam pelaminan perlahan mampu menumbuhkan cinta. Dilain pihak, gundah juga tercipta, tak ada nafkah, tak ada kehidupan seksualitas, tak ada pula perhatian. Semua terasa terasa hampa.

Kupejamkan mata ini
Mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah
tentang dirimu..
Tentang mimpiku..

Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan tolonglah diriku..

Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu

Tak bisa aku ingkari
Engkaulah satu satunya
Yang bisa membuat jiwaku
Yang pernah mati
menjadi berarti..

Namun kini kau menghilang
Bagaikan ditelan bumi
Tak pernah kah kau sadari
Arti cintamu untukku

(Hampa – Ari Lasso) Hayati lagunya, klik disini..!http://www.4shared.com/mp3/6t3rorT7/Ari_Lasso_-_Hampa.htmhttp://www.4shared.com/mp3/6t3rorT7/Ari_Lasso_-_Hampa.htm

“Eh mbak, aku duwe usul. Yopo lek kene ndulini omahe mas Dion sing nang Malang. Sopo eruh pean isok entuk kabar!!?”, (Eh mbak, aku ada ide. Gimana kalau kita bertandang ke rumah mas Dion yang di Malang. Siapa tahu dapat titik terang!!?) Hajar memberikan solusi pencerahan kepada Najar dan langsung disetujui.

——-

Hari itu juga Najar dan Hajar tiba di Malang dengan diantar oleh Khusna menggunakan brio seperti biasa. Rumah keluarga Dion sore itu nampak sangat lengang. Mungkin tepatnya rumah kakak Dion. Kedua orang tua Dion telah wafat. Dion menumpang di rumah tersebut karena kakaknya lah kerabat satu-satunya yang ia punya. Di rumah megah tersebut hanya ada sang kakak, Dion, dan seorang pembantu berusia lansia yang setia pada keluarga Dion sejak orang tua Dion masih hidup. Kakak Dion yang masih bujang memiliki sebuah perusahaan di kawasan ruko daerah Surabaya yang membuatnya jarang berada di Malang.

“Kolonuwun, mbah.. kok piyambakan?”, (Permisi, Nek.. kok sendirian?) Najar menyapa sang nenek pembantu yang saat itu sedang terbengong diam di teras rumah.

“Lho.. Den ayu..kok ndugi mriki?? Pundi den bagus kok mboten ketingal?”, (Lho.. Den ayu.. Kok sampai sini?? Mana den bagus Dion kok tidak kelihatan bareng?) Nenek tersebut menyapa ramah majikan barunya. Berkerut kening Najar mendengar itu. Niatnya nyari kabar tentang Dion, eh malah ditanyain Dion mana.. Beuhh..

“Ayo pinarak sik. Kulo tak teng wingking ngejong teh”, (Ayo silahkan duduk dulu. Saya kebelakang nyeduh teh) lanjut nenek tersebut.

“Mboten pun mbah, kulo keseso. Mas Pras teng suroboyo to mbah?”, (Tidak usah mbah, saya buru-buru. Mas Pras di Surabaya ya mbah) Najar merasa kurang nyaman berlama-lama di tempat tersebut tanpa ada Dion.

“Oh nggih, Den Pras teksih nyambut ngeten niki. Lho kok keseso to den ayu. Wonten nopo to sakjane kok kados nembe sumpek ngoten pasuryane?”, (Oh iya, Den Pras masih kerja. Kok buru-buru sih Den ayu. Ada apa sebenarnya ini kok kelihatannya sedang kalut gitu) pembantu renta itu terlihat mulai curiga dengan gelagat Najar yang tak biasa.

“Ngeten lho mbah.. Mas Dion niku pun kalih minggu niki mboten wangsul, ugi mboten wonten kabar. Mbok bilih mbah utawi mas Pras ngertos piyantune teng pundi??!”, (Begini lho mbah.. Mas Dion itu sudah dua minggu ini tidak pulang, juga tiada kabar. Mungkin mbah atau mas Pras tahu dia dimana??!) wajah Najar mengisyaratkan rasa kalut mengiringi ucapannya. Sang nenek terlihat manggut-manggut mencerna setiap kata yang terucap dari bibir seksi Najar.

“Walah.. Kulo nek pun ngertos Den Dion teng pundi nggih mboten bakal tanglet njenengan kolo wau. Tapi kulo gadhah cerito Den, mbok bilih saget mbantu”, (Walah.. Saya kalau tahu dimana Dion berada ya jelas ga bakalan tanya kamu Den. Tapi saya ada sedikit cerita Den, siapa tahu bisa membantu) nenek tangkas yang satu ini memang paling perhatian pada seluruh personel keluarga. Pantaslah kiranya jika keluarga Dion memilihnya sebagai pembantu sekaligus asisten keluarga.

“Crito nopo niku mbah?”, (Cerita apa itu mbah?) kejar Najar penasaran.

“Sekedap.. Mboten ilok lho kok ngendikan kalih jumeneng ngoten. Monggo to pinarak sik. Mekaten Den, kulo sempat merhatiaken Den Dion akhir-akhir niki. Piyantune radi benten. Pasuryane katon pucet. Mlampahe yo kados kirang tenogo. Kadose Den Dion niki gadhah gerah nopo ngaten. Den Dion niku piyantun ingkang lincah lho biasane. Grapyak, semanak, sae budhi pakertine. Benten kalih Den Pras.. Piyantune kasar, seneng mabuk, kadang njih mbeto wangsul wewadon nopo ngantos nginep..”, (Sebentar..tidak baik ngobrol sambil berdiri gitu. Silahkan duduk dulu. Begini Den, saya sempat memperhatikan Den Dion akhir-akhir ini. Dia agak berbeda. Wajahnya pucat. Langkah juga terlihat kurang tenaga. Kayaknya Den Dion ini sedang sakit. Padahal biasanya dia lincah. Ramah, kekeluargaan, bagus budi pekertinya. Beda banget dibanding Den Pras… Orangnya kasar, suka mabuk, bahkan kadang ngajak cewek nginep disini..) si nenek dengan wajah serius menceritakan hal apa saja yang ia tahu agar Najar tidak terburu curiga yang aneh-aneh terhadap Dion. Namun karena mumet, Najar malah semakin bingung dan frustasi. Dia sedang merasa digantung oleh Dion.

——-

Upaya Najar untuk menemukan titik terang dengan mendatangi rumah kakak Dion ternyata hanya mampu membuatnya pulang dengan tangan kosong. Dengan tahu keberadaab Dion, setidaknya Najar bisa segera mengambil sikap untuk meminta perhatian Dion atau bisa juga meminta cerai dari Dion. Namun dengan keadaan ini membuat Najar terkatung-katung. Pikirannya menjadi buntu.

Letih jiwa,
Menanti,
Mengejar,
Merintih.

Bosan pada gelap malam,
Lelah menunggu siang,

Jiwa melata mengejar hasrat,
Kelopak bunga sukma mengering,
Dedaunan kalbu meranggas,
Tertatih merangkak menahan pedih

Oh.. Hujan
Turunlah segarkan diri,
Sirami untuk kembali bersemi,
Raih imaji menuju berseri

Menanti keajaiban
Membunuh sepi..

(bait puisi jiwa – Najar)

—–

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part