. Skala Kehidupan Part 3 | Kisah Malam

Skala Kehidupan Part 3

0
285

Skala Kehidupan Part 3

HARI PERTAMA DI KOTA​


Ine


Bu Juleha

(POV UNTUNG)

Sejak Pak Karim memintaku untuk ke kota, aku mulai sedikit-sedikit packing pakaian, barang-barang kenangan dari ibuku, dan peralatan- peralatan lainnya yang dianggap menunjang untuk hidup di kota. Aku dulu pernah hidup di kota sampai umurku 10 tahun jadi aku tidak sedikit kuper mengenai kehidupan di kota, tempat-tempat bermain atau tempat menjual makanan pun aku masih ingat betul di mana letaknya. Untuk sekolah, aku juga gak tahu akan di sekolahkan di mana.

Tepat sehari setelah meninggalnya Ibu, ada orang datang ke rumah Kakek. Orang tersebut mengatakan bahwa dia suruhan Pak Karim ijin untuk meminta fotokopian berkas-berkas ijazah dan Lembar nilai di SMP-ku yang telah dilegalisir untuk dibuat persyaratan masuk sekolah di kota.

Waktu aku tanya sekolah di SMA atau STM, orang suruhan Pak Karim tidak mengetahui detailnya, dia hanya diminta untuk meminta fotokopian berkas itu. Selain itu orang itu disuruh Pak Karim meminta nomor HP-ku untuk bisa berkomunikasi denganku untuk memastikan kapan aku siap pergi ke kota. Selain packing, kesibukanku sebelum pergi ke kota adalah menghabiskan waktu ber-quality time bersama Kakek. Karena pastinya setelah aku ke kota, aku akan jarang bertemu dan tidak sedekat dengan Kakek seperti ini.

Akhirnya tepat hari ini adalah hari keberangkatanku ke kota, kemarin sore Pak Karim telepon HP-ku bahwa besok pagi beliau akan menjemputku. Packing sudah, berkas-berkas asli juga sudah aku bawa, peralatan-peralatan lainpun sudah aku bawa, kemudian aku mandi dan berdandan simpel sebelum Pak Karim menjemputku. Setelah mandi, aku bercengkerama dengan Kakek sambil menunggu Pak Karim datang.

“Le, inget yo ucapan-ucapan kakek! Dimasukan ke hati dan pikiran dituangkan dalam tindakan ya Le!” ucap Kakekku sambil mngelus-elus punggungku.

“iya, Kek. Doakan Untung betah di kota, berguna bagi keluarga Pak Karim, dan menjadi awal kesuksesan Untung ya Kek,” kataku menjawab nasehat Kakek.

“iya, Le, iya. Kakek pasti doakan kamu!” ucap Kakek sembari mengeluarkan air mata.

Akupun akhirnya ikut mengeluarkan air mata, merasakan nasib Kakek setelah aku tinggal, di mana beliau hidup sendiri di desa. Meskipun masih ada tetangga yang siap membantu Kakek tapi tetangga tetaplah tetangga, berbeda cara menolong atau menyayangi antara keluarga maupun tetangga. Sesak dada ini menyelimutiku tapi Kakek meyakinkan aku untuk tetap berangkat, “raihlah cita-citamu dengan berdiri di atas kakimu sendiri, anggaplah tidak ada Kakek di dunia ini!” Itulah kata-kata Kakek ketika aku ragu untuk pergi ke kota.

Terlihat mobil Pak karim sudah dekat dengan rumah. Akupun segera memeluk Kakek dengan erat sambil menangis karena hanya Kakek yang aku punyai di dunia ini. Kakek pun menangis melepas kepergianku tapi Beliau berjanji sebulan sekali berjanji akan menjengukku di kota. Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya Pak Karim pamit untuk ke kota karena dia juga ada kesibukan jadi tak bisa mampir lama ke rumah. Setelah berpelukan, akhirnya aku menaiki mobil dan menuju ke kota.

Tibalah aku di kota pendidikan, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Dulu saat aku masih kecil, kota pendidikan terlihat asri, udaranya sejuk, dingin dan nyaman. Tetapi sekarang, kota ini berubah menjadi ramai dan macet belum lagi ditambah banyaknya gedung-gedung yang menjulang ke langit membuat udaranya jadi terasa panas.

“Semoga aku betah, hidup bersama dengan keluarga Pak Karim,”
 ucapku dalam hati.

Akhirnya sampai juga aku, di rumah yang luas dan besar itu. Rumah yang berlantai satu milik Pak Karim. Setelah memasuki halaman rumah, nampak di teras sudah berdiri Ibu Juleha menyambut kedatangan kami. Setelah mobil terparkir, aku pun turun sambil membawa tas besar yang berisi pakaian sehari-hari.

Assalamualaikum, Mah!” Salam pak Karim.

Waalaikum salam, Pah! Gimana perjalanan dari desanya Untung, Pah?” tanya Bu Juleha sambil meraih tangan Pak Karim, suaminya dan menciumnya.

“Lancar, Mah. Tapi begitu memasuki kota, sempet macet tapi gak lama kok. Papa ke dalam dulu ya, Mah. Oh iya, Mah! Nanti Untung dikasih tau, job disk sehari apa aja yang dikerjakan dan kamarnya juga disebelah mana. Kemudian jelasin sekolah dimana.pokonya hal yang menyangkut keseharian untung nnti mama yang jelasin.. papa mau istirahat sebentar kemudian mau controling meubel di gudang.” Ujar Pak Karim sambil masuk ke dalam rumah.

“Oke, Pah!” jawab Bu Juleha.

Assalamualaikum, Bu!” sapaku sambil bersalaman dan menunduk.

Waalaikum salam, sini masuk Untung! Masih ada barang di dalam mobil?” tanya Bu Juleha kemudian setelah menjawab salam dan menyambut salaman tanganku.

“Nggak ada, Bu. Ini sudah saya bawa semua!”ujarku yakin.

“Yaudah yuk kita masuk, sambil aku jelasin semua di dalam rumah!” Ujar Bu Juleha sambil berjalan ke dalam rumah. Aku pun mengikuti di belakang Beliau.

Sekilas tentang sosok Bu Juleha. Beliau wanita cantik dengan kulit bersih terawat, dadanya begitu menonjol. Aku taksir kira-kira, 38D ukurannya itu, pantatnya besar. Sekarang Beliau memakai jilbab menambah kecantikannya.

“Iya, Tante. Hehe.” Ujarku sambil tertawa kecil.

Bu Juleha memberitahu di mana letak kamar yang akan aku tempati. Kamarku berada di belakang. Rumah depan diisi Pak Karim dengan keluarganya sedangkan di belakang ada dapur, kamar mandi dan dua kamar yakni kamar yang aku tempati dan kamar bagi pembantu pengganti almarhumah Ibuku. Bu Juleha menjelaskan, kalau pembantunya menggunakan kamar di siang hari, karena pembantu pengganti almarhumah Ibuku pagi datang dan pulang sore hari.

“Untuk keseharianmu. Setiap pagi, menyapu halaman dan menyiram tanaman. Kemudian sore hari, membersihkan sampah, menyiram tanaman lagi dan membantu Pak Man mencuci mobil ya, Ntung!“ Bu juleha menjelaskan pekerjaan rumah untukku.

“Baik, Bu. Pak Man sendiri, siapa Bu? Kemudian pembantu rumah tangganya juga siapa namanya, Bu?” Tanyaku penasaran karena belum mengenal yang bekerja di rumah Pak Karim ini.

“Oh iya, lupa. Belum memperkenalkan mereka, Pak Mann… Mbok Ti..“ Bu Juleha berteriak memanggil mereka berdua.

Terlihat ada wanita separuh baya dan seorang Bapak berambut putih datang dari arah dapur.

“Iya, Nyah. Ada apa ya, Nyah?” sahut wanita itu cepat menghadap.

“Iya, Nyonya. Ada apa?” imbuh Bapak berambut putih.

“Kenalin, ini anaknya almarhumah Mbak Wati! Ini yang aku ceritakan kemarin, mau membantu pekerjaan di rumah sekaligus tinggal di rumah ini!” Bu Juleha memperkenalkanku pada keduanya.

“Yati. Panggil aja Mbok Ti, Mas,” ucap Mbok Ti sambil mengulurkan tangannya.

“Untung, Mbok.” Aku menyalaminya.

“Hopman. Panggil aja, Mbah Man,” ujar Mbah Man mengulurkan tangannya juga padaku.

“Untung, Mbah Man.” sahutku menyalaminya.

“Sangar namanya Hopman, pasti dia pecinta janda ini!”
 ujarku dalam hati sambil tersenyum.

“Oke, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian! Oh iya, Mbok. Tolong bikinkan air minum untuk Untung ya, Mbok!” Perintah Bu Juleha kepada mereka berdua.

Bu Juleha menjelaskan, kalau Mbah Man ini sopir pribadinya Pak Karim. Bu Juleha juga menjelaskan kalau Beliau sibuk dengan usaha mini market di kota ini. Kalau ke tempat usahanya, Bu Juleha menyetir mobil sendiri karena masih di dalam kota sedangkan Bapak sering keluar kota untuk urusan meubel dengan Mbah Man sebagai sopirnya. Bu Juleha juga menjelaskan bahwa atas beberapa pertimbangan, aku nggak jadi sekolah di SMA tetapi aku disekolahkan di STM negeri kota ini. Aku pun tidak bertanya alasannya apa? Aku hanya bersyukur bisa sekolah, STM atau SMA tidak jadi masalah.

“Nggak apa-apa ‘kan Mas, kalau sekolah di STM. Pertimbangan Bapak kamu disekolahin STM karena ketika lulus nanti kalau kamu memilih bekerja kamu sudah siap dan jika kamu memilih kuliah juga masih bisa. Sedangkan kalau SMA ‘kan umum, takutnya kalau kamu memilih bekerja kesulitan dalam melamar dengan ijazah SMA.” terang Bu Juleha menjelaskan.

“Iya, Bu. Nggak apa-apa, yang penting saya sekolah aja, sudah bersyukur.” Jawabku sekenanya.

Setelah memberikan penjelasan, Bu Juleha menyuruh saya istirahat dan pamit untuk mandi karena mau kontrol ke toko, Beliau menghandel usaha minimarket yang berada di kota ini.

Tiba-tiba anaknya, Bu Juleha bernama Ine keluar dari kamar dengan memakai pakaian kasual. Ine persis seperti ibunya, anaknya cantik, putih bersih, tingginya kisaran 165 cm dengan rambut lurus sebahu hitam mengkilau dengan ukuran payudara kira-kira 32 D dan bodynya juga nggak kalah jauh dengan Ibunya, satu kata sexy. Aku lihat, Ine sedang bersiap-siap mau pergi. Mungkin dia akan jalan-jalan, maklum masih masa liburan dan dua hari lagi mulai memasuki sekolah.

“Mah, Ine berangkat dulu ya Mah. Tuh udah dijemput!” Ine berpamitan kepada Bu Juleha.

“Eh, ini ada mas Untung, salim dulu Nak!” Ujar Bu Juleha sambil menahan Ine sebentar.

“Iya, udah tahu kok.” Jawab Ine cuek.

“Saya Untung, Mbak.” sahutku sambil menjulurkan tangan.

“Ya.” jawabnya sambil memasang muka datar, tanpa menyambut tanganku.

Aku hanya tersenyum, melihat wajahnya yang jutek.

“Pergi ke mana, Nak?” tanya Bu Juleha kepada Ine.

“Ke mall. Nonton bioskop, Mah.” jawab Ine cepat.

“Kok nggak ke sini temennya? Temen apa, temen itu Nak?” kata Bu Juleha menggoda Ine

“Temen, Mah. Buru-buru Mah, mau di mulai filmnya. Dadah Mamah!” Jawab Ine sambil berjalan terburu-buru keluar rumah.

Bu Juleha sejenak menghelas nafas, melihat kelakuan anak gadisnya.

“Maaf ya, Mas! Bukan karena Ine nggak ramah, tapi memang dari oroknya dia itu gitu!” ucap Bu Juleha memberitahu.

Beliau bercerita kalau Ine kelas tiga SMA negeri favorit di kota ini. Aku diminta memaklumi dengan kejadian barusan karena Ine itu orangnya memang acuh, judes, dan cuek terhadap orang bahkan ke lingkungannya. Bu juleha bercerita juga, anak muda sekarang kurang sopan-sopan. Dia tahu tadi, yang jemput Ine adalah pacarnya. Tapi nggak pernah dikenalkan ke Beliau, kata Ine belum waktunya. Memang etikanya ketika menjemput pacarnya ke rumah, pamit sama orang tuanya. Tetapi kata Bu Juleha, pacarnya Ine nggak penah pamit padanya.

“Pusing aku, Mas menghadapi Ine. Itu dilarang, malah marah-marah dan ngambek beberapa hari!” keluh Bu Juleha.

Aku yang tidak tahu apa-apa mengenai itu, cuma bisa tersenyum dan mengangguk saja.

Akhirnya Bu Juleha menutup obrolan itu dan menyuruhku menurunkan barang bawaanku ke kamar dan beristirahat karena sore hari sudah mulai melakukan aktivitas. Bu Juleha juga pamit, mau pergi ke mini marketnya karena mau ada kedatangan barang kiriman dari distributor untuk dijual di mini marketnya itu. Aku pun pamit ke belakang ke kamar yang aku tempati itu.

Aku pun mulai menurunkan barang bawaan sekaligus membersihkan sedikit debu dari almari maupun lantai. Setengah jam, aku bersih-bersih dan menurunkan bawang bawaan, akhirnya aku mandi dan beristirahat siang.

****

Aku bangun ketika jam menunjukkan angka tiga. Setelah merenggangkan badan, aku pun bersiap-siap untuk menyirami tanaman di halaman. Aku pun meminta arahan Mbok Yati sebelah mana kran airnya, selangnya dan tanamannya. Setelah diberi penjelasan Mbok Yati, aku mulai beraktivitas siram-siram dan sekalian aku juga menyapu halaman.

Setelah selesai menyapu dan siram-siram aku pun mulai mencuci mobil dengan Mbah Man. Meskipun sudah keriput dengan rambut putihnya, tetapi jiwanya masih jiwa muda sekaligus kemesumannya sudah mencapai level tertinggi.

Sore itu sedang asyik-asyik menyabuni ban mobil tiba-tiba Mbah Man bilang. “Busyet, pantatnya bulat bener.” Kata Mbah Man sambil melongo tidak berkedip.

Aku pun celingak-celinguk mengikuti arah pandangan Mbah Man. Terlihat Mbok Ti sedang menjemur pakaian yang sesekali menungging waktu mengambil pakaian dari bak. Akupun geleng-geleng melihat kelakuan Mbah Man.

“Bener ‘kan tebakanku? Wajah-wajah mesum ini, Mbah Man. Godain, ah!”
 kataku dalam hati.

“Lihat apa, Mbah?” tanyaku pura-pura penasaran.

“Itu, Mbok Yati! Busettt, bulat bener tuh pantatnya! Kalau disodok, pasti mantap tuh!” jawabnya spontan.

“Mbah-mbah. Apa sexy-nya Mbok Yati, udah tua gitu? Mbok yang cari yang muda-muda gitu lho, Mbah!” ucapku berkomentar.

“Wes, bosan aku Mas sama yang muda-muda. Aku sukanya yang tua-tua macam Mbok Yati itu.” Sahutnya jujur.

“Wkwkwkwk. Emang mau yang muda-muda sama Mbah?” ledekku sambil tertawa geli.

“Jangan salah, ketagihan! Itu servis-an Mbah bikin squirt terus itu. Tau squirt nggak kamu, Mas?” sahutnya bangga.

Aku sebenrnya tahu di cerita-cerita bokep atau video bokep. Tapi aku pura-pura polos aja untuk mengerjai Mbah Man. “Apa itu Mbah squirt? Maklum, aku masih belum 17 tahun Mbah.”

Squirt itu semacam ngompol mas, tapi yang keluar air kenikmatan bukan air kencing.” Terangnya memberitahu

“ohh gitu, ya Mbah!” seruku singkat.

“Besok-besok, aku bawain majalah dewasa Mas. Biar kamu itu belajar, meskipun belum 17 tahun tapi itu penting lho Mas.” katanya.

“wkwkwkwkwk. Ada-ada aja, Mbah. Penting buat apa Mbah?” Aku tertawa geli.

“Ya, Mbok Ti udah selesai jemur! Cenggur alias ngaceng nganggur lah ini!” Gerutu Mbah Man kecewa karena acara live show-nya habis.

“Penting buat pelajaran biologi, Mas. Biar nanti kalau Mas-nya nikah tahu mana lubang kenikmatan mana lubang buat keluarin kotoran biar nggak salah.” Mbah Man menambahi.

Aku pun hanya tertawa mendengarkan penjelasan Mbah Man. Malah dia bercerita, kalau sehabis pulang kerja atau pagi tepatnya Subuh dia rutin mengintip istri Pak RT yang lagi mandi yang kebetulan rumahnya berada tepat sebelah rumahnya. Lebih muda dari Mbok Ti, badannya lebih bagus dan padet, rambutnya kuning kayak rambut jagung kata Mbah Man.

“Susunya bulat Mas, putingnya item kecoklatan. Menggairahkan pokoknya. Tahu Momoka Nishina artis bokep Jepang, Mas. Susunya seperti itu bentuknya.” kata Mbah Man sambil membayangkan istrinya Pak RT itu sesekali air liurnya sedikit keluar dari mulutnya.

“Aku polos. Mbah. Jadi nggak tahu artis-artis bokep Jepang.” ujarku menggodanya

“udah besok tak kasih tahu gambarnya Mas, ada di majalah koleksi Mbah, kamu harus Mbah ajari salah satu bentuk keindahan dunia ini Mas.” kata Mbah Man.

Aku tertawa aja mendengarkan penjelasan Mbah Man.

“Tua-tua mesum ini Mbah hopman.”
 ujarku dalam hati.

Akhirnya selesai juga nyuci mobilnya dan aku pun masuk ke dalam rumah untuk segera mandi sore.

Sudah sebulan, aku tinggal di rumah Pak Karim. Aku semakin deket dengan Mbok Yati, Bu Juleha, Pak Karim dan Mbah Man. Banyak ilmu mesum dari Mbah Man yang ditularkannya padaku. Mbah Man menceritakan pengalaman-pengalaman mesumnya ke aku, kadang juga Mbah Man terpergok menggoda Mbok Yati yang usianya 50 tahun lebih dan sering juga kita bercanda di rumah. Pekerjaan di rumah menjadi lebih ringan karena kekonyolan Mbah Man dan Mbok Yati. Bu juleha dan Pak Karim juga ramah kadang semua rumah juga saling bercanda satu sama lain, sehingga sudah tidak kecanggungan berada di rumah ini.

Ada satu hal yang membuat janggal yang membuat aku kepikiran adalah sikap dari anaknya Pak karim yaitu Ine. Benar apa kata dari Bu Juleha? Ine itu anaknya, cuek, judes jarang tersenyum, bermuka datar. Sebenernya aku nggak pernah bermasalah dengan Ine, ngobrol pun tidak pernah, sempat pernah aku menyapanya ketika dia lagi di dapur dengan lagi-lagi hanya dijawab ‘iya’ sambil memasang muka datar. Tapi kalau sama Mbok Ti, dia banyak bercanda sambil gosip atau ngobrol-ngobrol ringan.

Kadang aku berpikir. “Apa ya salahku ke Ine? Kalau dirunut dari awal aku ke sini sampai sekarang, rasanya nggak pernah ngobrol. Apa sikapku yang salah? Apa aku pernah kurang ajar? Apa bicaraku yang salah? Ah, membingungkan!!”

Hal itu yang membuat belum nyaman 100% berada di rumah ini. Bukan baper atau bagaimana, cuman kalau lingkungan yang kita tempati ada hal yang janggal akhirnya kita bertanya-tanya dan merasa gak enak sendiri.

Disekolah aku punya banyak temen, ada yang namanya John, Eko, Nanksbry, Nawi, Elang, Issaq, Penthoel11, Mendung Sore, Arek e, Hiukali dan masih banyak lagi. kita sampai membuat grup sedulur selawas e untuk menjalin keakraban. Sebenernya John, Eko dan Issaq adalah kakak kelas tapi mereka berbaur dengan juniornya dan tidak mau di panggil kakak.

Aneh memang kebanyakan sekolah seperti STM ini bentuk senioritasnya masih tetap di jalankan tetapi 3 orang ini berbeda malah kalau ada yang memanggil sebutan kakak atau mas langsung di toyor sama mereka. 3 orang ini orang yang mesum hanya Issaq yang mesum tapi tidak diperlihatkan kalau John dan Eko setiap kalu berkumpul yang di bahas kalau gak selanggkangan y tempat mesum atau panti pijat plus-plus.

Yang menjadi aku terheran-heran adalah nama John kenapa selalu mesum?, dimulai dari bapakku di panggil john ya beberapa kali terpergok mesum, yang kedua hopman atau mbah man juga mesum 10x lipat dari bapakku, kenapa Hopman aku samakan dengan John karena aku telusuri-telusuri kepanjangan nama Mbah Man adalah John Hopman, tetapi beliau gak mau di panggil Mbah Jon katanya kayak Jojon (komedian terkenal yang punya brengos bentuk kotak di bawah hidung), Mbah Man malu akhirnya dia memakai nama Hopman aja biar gaul katanya, aneh memang Mbah Man itu. Terus ketiga ya temenku sekaligus kakak tingkatku itu bisa di bilang 10x dari Mbah Man artinya 20x lipat dari bapakku, bisa di bayangkan bukan. Hhehehe.

Kita membuat sebuah grup atau bisa di katakan geng kecil-kecilan dengan nama SSL kepanjangan dari SEDULUR SELAWASE (kita bersaudara selamanya). Kita bukan geng motor atau geng mafia kita hanya kumpulan orang-orang mesum dan rusuh. Mengasyikkan memang aku ikut berkumpul bersama mereka. Efek negatifnya kumpul dengan mereka adalah otakku ikut-ikutan mesum. Mesum itu wajar namanya manusia pasti punya nafsu hanya aku perlu mengontrol kemesuman itu hanya di otakku saja sedangkan perilakuku sebisa mungkin tidak menunjukkan kemesumanku.

Sering mereka sepulang sekolah ngopi-ngopi dulu di depan sekolah, libur sekolah ngadain acara memancing, atau bakar-bakar jagung dan ikan untuk menambah keeratan dan kesolidaritas grup kita ini. Kalau acara di hari libur atau ngopi sepulang sekolah aku bisa mengikuti tanpa melupakan pekerjaan di rumah kadang hanya beberapa jam aku ikut kumpul-kumpul. Temen-temen menyadari latar belakangku kenapa hanya ikut kumpul sebentar, malah kakak John yang marah-marah ketika aku belum juga beranjak pulang. Dia memang mesum tapi juga sangat perhatian kepadaku.

Itulah yang membuat aku merasa nyaman berada di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Banyak orang menerimaku tanpa memandang keadaanku seperti apa. Aku bersyukur untuk itu. Hanya satu yang masih mengganjal di hatiku yaitu Ine. Aku mencoba untuk masa bodoh dengan sikap Ine yang penting aku sopan tapi lama-kelamaan terasa agak bagaimana gitu. Itu yang aku berpikir ulang atau melamun hanya karena sikap Ine. “Dengan Mbok Ti senang bercanda atau ramah tapi kenapa denganku dia cuek dan memasang tampang judes. Apa dia memang ke semua temen-temen lelaki seperti itu, ya?”

Dan kejadian sore itu masih terngiang-ngiang di telingaku saat Ine, nggak ada angin dan nggak ada hujan tiba-tiba marah padaku saat aku sedang bercengkrama dengan Mbah Man sewaktu mencuci mobil.

“Dasar cowok kampungan!!” sungutnya marah. “Kerja tuh yang bener, jangan ngobrol saja! Tuh lihat mobilnya belum bersih malah asyik-asyikan ngobrol!”

Mendengar perkataan Ine seketika aku dan Mbah Man jadi terdiam dan menunduk. Mau membantah atau membela diri rasanya tetap aja salah karena kenyataannya memang kami asyik mengobrol sampai lupa untuk mencuci mobil Papah-nya. Tapi bukan yang kupermasalahkan marahnya tapi kata-kata kasar dan judesnnya itu padaku yang membuatku menjadi tidak nyaman bila ada dia.

“Maaf Neng Ine!” Mbah Man mewakili menjawab sementara aku hanya diam saja. “Tadi Untung nanya-nanya soal mobil sama Mbah, ya terpaksa kamin ngobrol tapi itu baru kok. Ini juga Mbah dan Untung mau cuciin mobil Papahnya Neng kok.”

“Huuh Pokoknya harus beres! Kalo tidak gue laporin ke Papah!” Ancamnya dengan wajah datar dan berlalu meninggalkan kami yang terpaku di tempat.

“Aneh ya, sikap Neng Ine!” Mbah Man bersuara setelah Ine sudah tidak ada. “Tidak pernah Neng Ine marah-marah ke Mbah, Ntung.”

“Memangnya gimana sih sikap Mbak Ine itu, Mbah?” tanyaku penasaran. “Perasaan sejak Ntung di sini dia jutek dan judes gitu sama Ntung, Mbah.”

Saking penasarannya, aku sampai tanya ke temenku grup SSL apa punya temen yang sekolah di SMA negeri tempat Ine berada. Akhirnya ada satu anak yang bernama Mendung Sore (aneh memang namanya tapi itulah kenyataannya kadang juga berganti nama Celenk_Sumatra) mempunyai kakak cowok yang bersekolah di SMA negeri itu dan satu angkatan dengan Ine yaitu kelas 3. Kemudian saat hari minggu aku main ke rumah Mendung Sore sekedar ngopi sambil ngobrol sekalian menayakan hal itu ke kakaknya Mendung Sore. Nama kakaknya adalah Rad.

“mas Rad boleh tanya gak mas?” aku memulai percakapan.

“tanya apa ntung?”tanya mas Rad

“mas kenal Ine gak?” aku bertanya balik.

“oh iya kenal, salah satu primadona kelas 3 SMA negeri tu, ada hubungan apakah dirimu dengan Ine? Setauku dia sudah punya pacar lho, orang kaya dan bisa dikatakan orang terkenal juga di SMA negeri” jawab mas Rad.

Akupun menceritakan detail bahwa Ine adalah anak majikanku dan aku serumah dengannya. Yang aku tanyakan sikap ine itu sendiri ke aku kok seperti itu apa dia memang sikapnya seperti itu atau hanya perlakuan terhadapku saja.

“ohh begitu to, sebelum aku jawab aku mau tanya. kamu naksir gak sama Ine?” tanya mas Rad menyelidikku

“enggaklah mas, cuma yang bikin aku penasaran kan sikapnya aja ke aku. Ngobrol aja gak pernah masak naksir se mas?” jawabku

“Ya bisa aja lho, naksir pada pandangan aja mungkin karena Ine cantik” ujar mas Rad menggodaku

Aku memang ingat jaman SMP tanpa harus ngobrol sama nita aja aku sudah naksir dengannya. Aku mengamini perkataan mas Rad tapi untuk Ine kayaknya enggak deh.

“enggak mas kalau naksir, Cuma ya aku masih penasaran akan sikapnya kepadaku, aku pengen ya setidaknya mau ngobrol atau ramah ke aku gitu mas” jelasku ke mas Rad agar tidak salah paham.

“oke paham-paham. Jadi gini aku gak tau secara mendalam dari si Ine, aku dari kelas 1 sampai sekarang beda kelas terus, tapi kalau di lihat kesehariannya sepertinya Ine endak cuek sama temen-temen cowoknya, dia memang agak pendiem jadi jarang ngobrol tetapi kalau di ajak ngobrol ya mau dan ramah kok.” Ujar Mas Rad sambil mengingat-ingat dan memberikan gambaran Ine di sekolahnya.

“Mungkin kamu gak pernah mengajak ngobrol ntung jadinya dia keliatan judesnya. Coba di ajak ngobrol tanya apa gitu mungkin langsung kelihatan ramahnya” imbuh mas Rad

“iya mungkin ya mas, lha tampangnya sudah judes jadi aku segan untuk ngajak ngobrol” jawabku sedih memikirkan Ine

“Lha itu, dont judge the book by the cover kalau inggrisnya kayak gitu ntung. Tahu gak artinya?” tanya mas Rad

“jangan menilai seseorang dari wajah atau bentuk tubuhnya gitu kan” jawabku

“Betul.. Oke sementara gitu aj. Mas mau keluar dulu karena ada acara dengan temen-temen mas, duluan ya Ntung, dek Mendung” ujar mas Rad

“Oke, Mas.” jawabku serentak dengan Mendung Sore. “Makasih banyak ya, atas infonya.” Kataku menambahi.

Sepulang dari rumah Mendung Sore aku belum mendapat kesempatan untuk mempraktekkan saran dari mas Rad. Tapi aku bertekad untuk mencairkan suasana dengan Ine itu agar galauku teratasi dan aku bisa konsen sekolah dan beraktivitas di rumah dengan tenang.

Akhirnya di suatu sore kesempatanku datang, sehabis aku mengerjakan pekerjaanku yaitu menyiram tanaman, menyapu dan mencuci mobil aku melihat Ine bercanda dengan Mbok Ti yang mana terlihat Ine masih menggunakan seragam sekolah. Akupun pura-pura ke dapur untuk mengambil gelas.

“permisi mbok Ti, mbak Ine, mau ambil gelas” kataku ketika masuk dapur

“……” terlihat Ine diam saja

“silahkan mas !!!” mbok Ti yang menjawab

Akupun mengambil gelas dan berbasa basi ke Ine.

“Dari pulang sekolah mbak?” tanyaku

“Iya” jawabnya sambil masang wajah datar

“ada tambahan pelajaran ya mbak? Setauku anak SMA negeri kan pulang jam 1 siang tadi” kataku basa-basi

“ihh kepo deh !!” jawabnya menjengkelkan

“…..” akupun diam gak bisa berkata apa-apa

“iya ni kepo mas Untung sama tu kayak mbah Man yang selalu kepoan” ujar Mbok Ti mencoba mencairkan suasana.

“hehehehe” aku hanya tertawa kecut sambil keluar dapur.

Entah ada perubahan apa endak dari Ine, jawaban “kepo” menurutku memang penolakan ketika aku tanya. Gak tau ah. Semakin galau aku ketika bicara soal Ine, masa bodoh ah dengan sikap ine, biarin kalau dia cuek sama aku, dia memasang wajah judes dan seterusnya. Yang penting aku sopan dan hormat padanya. Toh aku juga gak pernah melakukan kesalahan yang berujung aku di marahi atau di bentak sama dia.

****

Di suatu kesempatan, tepatnya hari minggu akan diadakan pengajian arisan RT yang kebetulan rumah pak Karim di tunjuk menjadi tempat pengajian dan arisan rutinan itu. Aku membantu menyiapkan segala keperluan untuk pengajian itu. Mulai dari pagi aku dan mbah man mengantar mbok ti dan Bu Juleha ke pasar untuk beli bahan-bahan sebagai hidangan para Tamu dan pesen nasi kotak untuk berkat (oleh-oleh sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada tamu). Setelah proses bantu membantu ternyata bahan memasak ada yang kurang. Kemudian bu Juleha menyuruh Ine dan aku untuk membeli bahan-bahan itu sekalian mengambil nasi kotak yang dipesen tadi pagi. Ine awalnya protes tapi karena desakan dan sikap tegas bu Juleha mau gak mau Ine mengiyakan perintah dari Ibunya itu.

kesempatan untuk mencairkan suasana dengan Ine” batinku pada saat itu

Akhirnya kita berdua pergi membawa mobil dengan Ine sebagai sopirnya. Malu sebenernya sebagai cowok yang disetir cewek tapi mau apa lagi aku yang belum bisa menyetir akhirnya mau gak mau Ine yang menyetir. Dan konyolnya, entah karena segan atau takut, aku gak membuka pintu depan tapi aku relek membuka pintu belakang karena aku berpikir Ine gak mau aku berada di sampingnya. Ketika aku mau duduk di belakang terdengar suara bentakan dari Ine.

“Hei Untung, emangnya aku ini sopir taxi !!!” ferutu Ine tanpa melihat wajahku

“Ha? Maksudnya gimana mbak?” aku yang belum sadar mencoba bertanya.

“ihh kamu itu pura-pura bodoh atau gimana? Cepetan kamu di duduk di depan” kata Ine dengan jengkel mendengar jawabanku.

“ohh oke-oke” ucapku dan segera beralih duduk di depan.

Setelah aku menaruh pantat di kursi depan mobil, mobil pun melaju meninggalkan rumah dan aku pun mulai mengajak ngobrol.

“ini nanti kemana dulu mbak?” tanyaku berbasa basi.

“lihat ajalah !! nanti kan kamu tahu” jawabnya sambil memasang wajah datar

“oke deh” imbuhku.

Krik.. krikk..krik..krik…
kita berdua terdiam. Aku berpikir enaknya mulai ngobrol dari mana ya enaknya.

“Mbak, kenal Mas Rad, nama panjangnya Raditya” akupun memulai obrolan setelah mendapatkan ide bahan untuk mengobrol.

“emangnya penting kenal Rad apa tidak? ngapain coba tanya-tanya?” tanya Ine dengan juteknya dan lagi-lagi memasang wajah judes.

“galak amat” ucapku spontan dan sangat lirih

“galak!! Siapa yang galak?? ”jawabnya, ternyata dia mendengar ucapanku itu.

“endak mbak itu lho pengendara motor itu galak, masak gitu aja membunyikan klakson” akupun beralasan setelah melihat ada orang menyembunyikan klakson dengan keras.

“huuuffff..fiuuuuuhhhh “ terlihat Ine menghelas nafas menunjukkan kekesalannya.

Krik..krik..krik..krik…. diam lagi.

Akupun bingung apa langsung to the point ya biar jelas alasan utama dia kayak gitu ke aku

“Mbak, kenapa se Mbak kok galak sama aku? kalau ada aku pasti mbak Ine masang wajah datar dan judes” ucapku entah mendapat keberanian darimana aku langsung to the point ke topik utama

“……”

“Mbak kok gak jawab!!! Apa aku ada salah? Kalau aku ada salah ucap atau perlakuan aku minta maaf Mbak” jawabku dengan perasaan deg-degan.

“…….”

Ternyata diem lagi. ya sudah akupun diam.

“hahahhahahahaha” terlihat Ine tertawa

“…..” aku bingung akan sikap Ine

“mau tahu banget apa mau tahu aj ?” ujar Ine

“banget” jawabku reflek

“gak apa-apa, emang aku kayak gini !! Mau protes?” ujar Ine

“ohhh,, oke gak apa-apa” ujarku yang sudah tidak mood mengajak ngobrol lagi.

Aku kehabisan akal dan seakan aku malas berbicara dengan makhluk satu ini. Kemudian aku memilih diam menikmati jalan dan melihat pemandagan di sekitar tanpa menghiraukan Ine lagi.

Ine pun juga gitu dia diam saja dan fokus menyetir sambil sesekali menerima telepon dari cowok sepertinya pacarnya. Akupun nyuekin aja sampai ke tujuan. Setelah membeli bahan yang kurang tadi dan ambil nasi kotak, kita pun kembali ke rumah tanpa ngobrol apapun selama perjalanan pulang. Aku sudah tidak mood dan Ine juga diam saja sedari tadi.
.
..

….
…..
……
……..
………..
……………
(To Be Continue)

Daftar Part