. Skala Kehidupan Part 2 | Kisah Malam

Skala Kehidupan Part 2

0
289

Skala Kehidupan Part 2

RAHASIA MASA LALU

Ine

Bu Juleha​

(POV PAK KARIM)

Namaku ahmad karim orang-orang biasa memanggilku karim. Istriku bernama juleha, bersama istri aku aku dikaruniai putri satu-satunya yang bernama ine. Sebenernya aku pengen menambah anak lagi akan tetapi Tuhan tidak merestui jadilah ine sebagai putri tunggalku.

Aku seorang pengusaha meubel di kota ini. Aku merintis meubel sudah bertahun-tahun. Dulu aku adalah seorang tukang kayu. Waktu muda aku terbiasa menabung gaji dari tukang kayu aku kumpulkan selama bertahun-tahun, dirasa tabunganku sudah cukup aku mulai resign dari tempatku bekerja. Aku mulai merintis usaha meubel, selang dua tahun meubel berdiri aku meminang juleha jadi istriku. Juleha bunga desa pada waktu itu akupun bersyukur dapat meminang juleha meski usahaku baru berdiri. Jatuh bangun, pasang surut aku menjalankan bisnis meubel dan sekarang aku bersyukur usaha meubelku bisa terbilang sukses dan terbesar di kotaku.

Aku memperkerjakan banyak karyawan. Awalnya juleha hanya sebagai ibu rumah tangga tapi setelah putriku masuk sekolah juleha ingin merintis usaha akhirnya dipilihlah usaha mini market yang berada di kota ini. Setelah juleha sibuk dengan usahanya urusan rumah akhirnya terbengkalai akhirnya aku merekrut pembantu rumah tangga. Aku meminta tetanggaku untuk mencarikan pembantu dan dia bilang ada pembantu tapi agak jauh dari desa. Tetanggaku bercerita calon pembantuku ini bernama mbak Wati, mbak wati ini sangat butuh pekerjaan karena dia tulang punggung keluarga. Suaminya meninggal akbat kecelakaan kerja di proyek sehingga dia sangat butuh pekerjaan untuk membiayai anaknya yang berada di desa. Aku terenyuh mendengarkan cerita tetanggaku, akhirnya akupun mengangkat mbak wati jadi pembantu kamu. Tak disangka-sangka mbak wati orang bekerja keras, jujur dan tanggung jawab. Urusan rumah setiap hari hari diselsaikannya rumah selalu bersih dan wangi. Akupun mengapresiasi kinerjanya, disamping mengurus rumah mbak wati juga menjadi juru masak kami, masakannya enak dan sesuai lidah saya. Jadi aku dan istri sangat cocok dengan kehadiran mbak wati di rumah ini.

Siang itu, anakku pulang awal sekolah karena guru-guru di tempat sekolah putriku dengan rapat. Ketika masuk rumah anakku menemukan mbak wati tidak sadarkan diri. Putriku yang terkejut langsung menelponku mengabarkan bahwa mbak wati pingsan, waktu itu aku masih di gudang tempat workshop meubel sangat kaget atas kabari dari putriku dan bergegas ke rumah tak lupa juga saya mengabari istri tentang kabar mengejutkan itu. Setelah di rumah akupun segera membawa mbak wati ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan intensif di ruangan ICU terlihat dokter keluar ruangan dengan wajah tegang.

“dok bagaimana keadaan mbak wati?”tanyaku ke dokter yang sudah paruh baya.

“ini dengan siapa?apakah keluarganya?” tanya balik dokter dengan wajah yang terlihat sedih dan tegang.

“ini saya karim majikan mbak wati dok, mbak wati bekerja di rumah saya, saya juga belum mengabari keluarganya karena saya panik banget dok” jawabku

“mohon maaf bapak karim, saya sudah melakukan yang terbaik, akan tetapi karena waktu pingsan kepala mbak wati membentur lantai sangat keras akhirnya mbak wati mengalami pendarahan otak dan saya tidak bisa menyelamatkan nyawa beliau. Saya mohon maaf pak” jawab pak dokter dengan memasang wajah sedih.

“innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Terlihat istriku dan anakku menangis mendengar kabar tersebut. akupun pada akhirnya ikut mengeluarkan air mata juga.

“untuk jasadnya ini bagaimana pak karim” tanya dokter

“segera diproses dan di bawa pulang ke keluarganya aja dok. Ini saya mau mengabari keluarganya yang ada di desa”

“ baik pak kalau begitu silahkan ke bagian administrasi dan memproses itu.”

Aku segera ke bagian administrasi untuk memproses jenazah mbak wati dan memberikan alamat rumah mbak wati. Setelah membayar biaya rumah sakit dan ambulans akupun bergegas menuju kediaman mbak wati yang berada di desa.

Suasana sunyi melingkupi perjalanan kami karena kita sekeluarga merasa sedih di tinggalkan mbak wati. Dan aku juga memikirkan anak semata wayang mbak wati yang aku hanya tahu namanya dari mbak wati yaitu untung ferdinand. Pasti dia merasa sedih karena ibunya menyusul bapaknya meninggal. Dia pasti akan putus asa dan tidak semangat untuk hidup dan yang pasti dia akan putus sekolah, kakeknya yang aku denger dari mbak wati dulu juga sudah tua jadi kemungkinan untuk biayai sekolahnya gak bisa.

“pa, aku gak bisa bayangin keluarganya mbak wati ketika mendengar berita buruk ini pa. Hiks.. hiks.” Istriku juleha memcah kesunyian didalam perjalanan.

“iya ma, tapi mau gimana lagi udah takdir. Papa juga menyesal gak tahu kenapa tiba-tiba mbak wati pingsan hingga kepalanya terbentur lantai apa kita yang lalai gak pernah menanyakan mbak wati sakit apa ya ma?.” Jelasku ke istriku.

Istriku mengangguk “iya pa, apa kita terlalu sibuk akhirnya kita gak bisa memperhatikan mbak wati.” Ujar Istriku dengan sedih.

“itulah ma, aku jadi merasa bersalah. Huft.” Imbuhku.

“ma, aku daritadi kepikiran anak semata wayangnya mbak wati, kasian lho ma pasti dia akan putus sekolah, padah tahun ini SMP harusnya tahun ini masuk SMA lho dia ma.” Kataku memberikan usul

“iya ya pa, aku juga sempet berpikir tadi”ujar istriku

“ma, gimana kalau dia diangkat jadi anak kita ma?” tawarku ke istriku

“jangannnn, nanti aku berkurang kasih sayang dan uang jajanku” ine menyela. Keluar manjanya. Maklum putri satu-satunya.

“enggak sayang, kamu satu-satunya anak papa. Gak mungkin berkurang uang jajan dan kasih sayangnya papa ke kamu. Jadi jangan khawatir sayang” imbuhku menenangkan putriku

“iya deh iya. Awas aja kalau berkurang. Aku kabur dari rumah.” Ucap anakku sambil manyun.

“Jangan donk sayang. Iya papa janji” ujarku tersenyum sambil melirik putriku lewat kaca tengah.

“gimana ma?setuju gak usul papa tadi” tanyaku ke istri

“setelah aku pikir-pikir, iya deh pa jadikan anak angkat aja lagian sebagai bentuk tanggung jawab kita karena lalai menjaga mbak wati.” Jawab istriku yang menyetujui usulku

“Iya ma, nanti kita ijin ke bapaknya mbak wati kl gak salah namanya mbah pardjo.” Ujarku.

“iya pa, semoga mbah pardjo merelakan anaknya kita bawa.” Kata istriku, akupun menganggukan kepala.

Tak terasa mobilpun sudah memasuki gapura desa, setelah bertanya ke warga desa kediaman mbah pardjo akhirnya kita sampai di rumahnya mbah pardjo. Akupun turun bersama istri dan anakku. Terlihat anak mbak wati untung dan mbah pardjo sendiri sedang bercengkarama di teras.

“selamat sore mbah parjo, saya karim, ini istri saya juleha dan ini ine anak saya, saya yang selama ini mempekerjakan anaknya mbah yaitu mbak wati. Sebelumnya mohon maaf, Saya mau menginformasikan bahwa mbak wati tadi siang tiba-tiba pingsan di dapur. ‘Hiks.. hiks..hiks’ begitu saya dikabari bahwa mbak wati pingsan saya langsung pulang dan membawa dia ke rumah sakit. Dan setelah dilakukan pemeriksaan ternyata mbak wati mengidap kanker darah yang sudah stadium 4 ‘Hik.. hiks’. Dan barusan mbak wati menghembuskan nafas terakhir ‘Hiks.. hiks.. hiks’ dan kemudian saya langsung kemari untuk menginformasikan itu’” ujar pak karim sambil mengusap air mata yang keluar dari matanya.

“innalillahi wa inna ilaihi rojiun,, sekarang jenazahnya dimana pak?” tanya kakek sambil berlinangan air mata yang tak kuasa menahan kesedihannya dan memeluk cucunya.

“jenazahnya sedang dalam perjalanan kemari. Saya mohon maaf mbah tidak memberitahukan kondisi wati sedari tadi karena saya panik, keselamatan wati saya dahulukan tapi ternyata takdir berkehendak lain setelah dilakukan pemeriksaan dan perawatan intensif mbak wati menghembuskan nafas terakhirnya, sekali lagi maafkan saya mbah.” Ujar pak karim

“huuaaaa ibuuuuuuuu… ibuuuuuuu.. jangan tinggalin untung sendiri ibuuuu…” sambil nangis menjerit-jerit untung seakan gak percaya kalau ibu meninggalkannya secepat itu.

Tak lama kemudian mobil ambulan datang dan warga desa sang kakek berduyun-duyun datang untuk melayat sang jenazah. Setelah dimandikan dan disholati malam itu juga jenazah mulai dikubur di pemakaman desa. Banyak warga menangisi kematian mbak Wati disamping beliau baik dan ramah di lingkungan desa itu warga juga memikirkan anak semata wayangnya yang menjadi yatim piatu mulai hari ini.

Setelah jenazah selesai dikuburkan, banyak warga yang kembali ke rumah masing-masing karena hari sudah malam. Sedangkan pak karim sekeluarga masih di kediaman mbah Parjo untuk menemani dan menenangkan Untung beserta kakeknya.

“Mbah, mohon maaf sebelumnya untuk menebus kesalahan saya karena kelalaian saya terhadap kesehatan mbak Wati almarhumah selama ini, maka ijinkan saya membawa cucu mbah ini nak untung untuk ikut saya ke kota, saya akan membiayai sekolah SMAnya dan kelangsungan hidupnya mbah” pak Karim memulai pembicaraan kepada mbah Parjo.

Tampak kakek berpikir sejenak yang kemudian “gimana kamu cu?mau ikut pak karim ke kota?” tanya mbah parjo kepada cucunya.

“aku terserah kakek aja bagaimana baiknya tapi kalau aku ke kota, kakek disini sama siapa?”sahut untung

“ Kakek ini sudah tua cu dan sudah terbiasa hidup sendiri semenjak ditinggal nenekmu. Mau ya cu? Biar kamu mandiri dan gak ketergantungan sama kakek terus”.imbuh mbah parjo.

“gini Pak karim, saya ijinkan untuk membawa cucuku satu-satunya ini ke kota akan tetapi saya tidak setuju kalau untung hanya jadi benalu di keluarga pak karim. Saya maunya cucu kesayanganku ini ajari kerja disana kerja apa aja terserah.jadi pembantu disana suruh nyapu, ngepel, cuci atau apa aja yang bisa dikerjakan untung. Atau bekerja di usahanya bapak jadi tukang kayu juga gak masalah. Gak perlu di kasih gaji cukup di kasih uang saku dan biaya hidupnya saja. Gimana bapak karim?’ tanya mbah parjo.

“apa tidak mengganggu sekolahnya Untung mbah kalau saya pekerjakan Untung di sana?” tanya bapak karim.

“tidak masalah pak, biar untung belajar mandiri yang pertama, yang kedua biar Untung bisa bagi waktu antara sekolahnya dan tanggung jawab kerjaannya, yang ketiga saya ingin bapak mendidik untung untuk bekerja keras dimulai dari sekarang, biar dia tahu bagaimana sulitnya mancari uang pada jaman sekarang. Pahamkan apa yang saya maksud pak?” mbah parjo memberikan alasan agar si cucu ini kuat dalam menghadapi pahitnya dunia nantinya.

“kalau itu keinginan mbah parjo saya senang hati menerimanya akan tetapi untuk bekerja di bisnis kayu, saya rasa belum waktunya mbah. Kasian untung nanti gak bisa fokus, kalau jadi penjaga rumah sekaligus merawat taman yang didepan rumah sepertinya bisa mbah karena gak banyak waktu tersita dan untung masih bisa fokus di sekolahan.” Terang pak karim ke mbah parjo.

Sambil manggut-manggut mbah parjo menyetujui saran dari pak karim yang terpenting keinginan mbah parjo agar cucunya ini tidak ketergantungan sama orang lain dan bisa bemanfaat bagi pak karim sekeluarga sudah tercapai.

“kapan untung bisa di bawa pak karim?” tanya mbah parjo.

“lusa atau 4 harian lagi siap saya bawa mbah, besok saya carikan sekolah untuk untung terlebih dahulu kalau sudah siap saya jemput nak untung kemari mbah.” Jawab pak karim.

“baik mbah, sepertinya hari sudah semakin larut malam saya pamit dahulu, sekitar 4 hari lagi saya kesini untuk menjemput nak untung. Dan sekali lagi mohon maaf kalau saya lalai dalam menjaga mbak wati sampai saya gak tahu dia mengidap penyakit parah seperti itu.” Pamit pak karim dengan wajah yang masih menggambarkan raut kesedihan.

“namanya takdir mau diapakan lagi pak karim. Harus ikhlas melepas kepergian anak saya satu –satunya. Dan satu lagi tolong jaga cucu saya selagi di sana ya pak, seminggu sekali atau lebih saya akan menengok cucu saya nanti. Dan terima kasih banyak atas kebikan pak karim menolong keluarga saya ini. Hati-hati di jalan pak karim.” Imbuh mbah parjo.

“baik mbah, saya berjanji akan menjaga untung di sana dan rumah saya terbuka untuk kedatangan mbah parjo di sana. Pamit dulu mbah. Assalamualaikum wr wb .” ujar pak karim samil sambil berjalan ke mobil bersama istri dan anaknya dan tak lama kemudian mobil melaju meningglkan kediaman mbah parjo.

Di dalam perjalanan aku berbincang-bincang sama istriku, dia juga lega mbah pardjo sudah merelakan cucunya untuk kita bawa. Mbah pardjo juga terlihat lega cucunya masih bisa bersekolah, tapi mbah pardjo meminta satu syarat kepadaku bahwa cucunya jangan dijadikan anak angkat tetapi dia memintaku untuk mendidik kerja juga. Awalnya aku takut untung tidak bisa fokus tpi mbah pardjo meyakinkanku agar untung bekerja keras dan terbiasa hidup susah gak asal cuman numpang. Akupun mengiyakan permintaan mbah pardjo.

“ma, dari syarat mbah parjo tadi kita suruh ngapain ya untung?” tanyaku kepada Istriku

“iya pa, tapi bagus juga se untuk perkembangan untung, kalau dilihat dari sorot matanya untung itu anak yang rajin sepertinya pa” jawab Istriku

“ya itulah ma, atau gini aj ma. Untung kita suruh seperti mbak wati jadi pembantu sekaligus menjaga rumah tapi tugasnya aj yang kita kurangi. Kalau mbak wati dulu menyapu halaman dan dalam rumah, mengepel, masak, nyuci dan strika. Kalau untung pagi di suruh menyapu halaman rumah aj ma, terus nyirami tanaman depan dan samping rumah kan waktunya sebentar kalau pagi soalnya terbentur sekolah. Kalau sore suruh ngepel rumah dan cuci mobil. Untuk memasak, nyuci, strika dan menyapu dalam rumah kita rekrut pembantu baru tapi pembantunya yang datang pagi sampai siang aj. Gimana menurut mama?” kataku menjelaskan pekerjaan yang akan dilakukan Untung

Iya pa, besok mama mau minta tolong sama temen mama yang di kampung sebelah untuk di carikan pembantu yang pulang pergi dan gak nginap.” Jawab Istriku

“oke deh gitu aja ya ma.” Kataku menyetujuinya.

“terus rencana papa, Untung mau di sekolahin di SMA mana pa?” tanya Istriku

“kalau aku pikir-pikir ma, Untung kan gak selamanya ikut kita. Kita Cuma membantu agar Untung siap untuk mandiri setelah itu kita kasih kebebasan kemana dia melangkah, apa gak kita sekolahin STM aja ma, setelah lulus STM biar dia siap bekerja.” jawabku

“kalau mama pikir apa gak mending SMA aja nanti kita kuliahin juga si untung” kata Istriku.

“kalau menurut papa, Untung gak akan mau ma di kuliahin dia pasti memilih bekerja. Tipe-tipe kayak Untung itu gak mau merepotkan orang lain hidupnya. Jadi menurut papa, disekolahin STM aj nanti kalau dia lulus bekerja apa kuliah terserah pilihannya dia ma. Gimana?” terangku menjelaskan maksud kenapa aku menyekolahkan Untung ke STM

“oke deh setuju pa” istriku menyetujui rencanaku.

“oke papa juga besok mau daftarin dia ke STM swasta, kepala sekolahnya temennya papa, nanti di papa titipin aj ke beliau” imbuhku.

“ya sudah pa, mama tidur sebentar ya. Mama capek euy” terlihat istriku rebahan di kursi mobil. Sedangkan putriku sejak tadi sudah tidur.

Di keheningan karena menyetir sendiri, aku jadi teringat beberapa tahun lalu aku menyimpan suatu rahasia yang akan aku tutup rapat-rapat.

>>>>>>>

Setelah dari subuh tadi ada kiriman kayu glondongan dari perhutani akupun sampai lupa belum mandi. Sampai sarapanpun Wati jauh-jauh dari rumah untuk mengantarkan makanan ke gudang meubelku ini. Pembantuku satu ini memang rajin sekali, bertanggung jawab, bekerja keras. Rumahku jadi bersih sampai debupun enggan nempel di lantai. Karena begitu nempel langsung di sapu Wati pembantuku.

Wati sebenernya dia gak pantas untuk jadi pembantu. Wajah dan bentuk tubuhnya menggambarkan bahwa dia tidak pantas bekerja sebagai pembantu. Dengan wajah khas orang jawa, mata bulat jernih, wajah oval, kulit kuning kecoklatan rambut hitam sedikit berombak. Tubuhnya pendek mungkin 160 cm tetapi bulan pantatnya, gundukan payudaranya yang tidak besar menmbah pesonanya. Aku bersyukur punya pembantu kayak gitu. Kalau bosan lihat istri maka lihat pembantu dari kejauhan. Tapi aku gak berani menjamah bahkan mendekatinya karena setan belum bisa mengalahkanku.

Siang itu aku berencana untuk pulang dan mandi mengearkan badan karena dari pagi belum mandi terasa badan-badang lengket. Saat tukangku istirahat siang aku pun pulang mengendarai sepeda motor. Setelah tiba di rumah akupun membuka pintu depan tapi keadaan sangat sepi. anakku sekolah sedangkan istriku ke usahanya di kota ini.

“Mungkin Wati sedang tidur siang” pikirku.

Akupun melangkah ke kamar dan mandi karena kamar mandiku berada di dalam kamar tidur. Setelah menyegarkan badan akupun berencana makan siang sambil ngopi. Akupun melangkah ke rumah belakang tempat dapur dan kamarnya Wati. Saat ke rumah belakang berharap mbak wati didapur dan nanti akan aku suruh buat kopi. Begitu di rumah belakang suasananya juga sepi. karena pikiranku tadi Wati tidur akupun membuat kopi sendiri tanpa berencana membangunkan Wati.

Setelah membuat kopi akupun berencana ke rumah depan untuk menyantap makanan. Akupun mengambil jalan memuatar melewati kamar Wati. Biar tidak bingung rumahku berbentuk persegi dimana rumah depan untuk keluarga sedangkan rumah belakang sebelah kiri dapur dan sebelah kanan dua kamar pembantu. Tapi berhubung pembantuku Cuma satu akhirnya aku jadikan gudang untuk menyimpan barang-barang yang tidak terpakai. di tengah-tengah antara kamar pembantu dan dapur aku bangun taman dengan dikelilingi kolam ikan. Akupun mengambil jalan memutar otomatis melewati kamar pembantu itu.

Di saat aku di depan kamar Wati aku mendengar suaara erangan yang sangat lirih seperti orang kesakitan. Tanpa pikir panjang aku meletakkan kopiku di meja dekat situ dan aku langsung membuka pintu kamar Wati

KLEK !!

Akupun membuka pintu dan melihat kondisi Wati. Aku terperanjat kaget kondisi Wari sedang telanjang bulat dengan tangan di taruh di selangkangannya. Terlihat dua gunung yang bulat dan kencang dengan puting yang tidak hitam tapi kecoklatan terlihat cukup tegang. Sungguh pemandangan yang indah sampai aku tediam beberapa saat.

“Baaa…pakkk” kata wati memanggilku menyadarkan aku saat aku melongo melihat tubuh indah Wati

Akupun terpenjat kaget dan malu. Aku berpikir saat itu kalau aku keluar kamar maka suasana antara aku dan Wati akan jadi canggung, gak enak aja dalam rumah aada gep antar anggota didalam rumah. Akupun pasrah setan telah mengalahkanku.

JEBRET !!!

KLEK !!!

Akupun menutup pintu dan menguncinya.

Wati segera mengambil selimut untuk menutupi badannya yang sedang telanjang.

“Maaf wat, aku tadi habis buat kopi gak sengaja lewat depan kamarmu dan terdengar suruah rintihan seperti orang kesakitan jadi aku langsung membuka pintumu tadi.” Kataku sambil duduk di tepi ranjang. Sedang wati meringkuk di pojokan kasur sambil menutup tubuhnya dengan selimut.

”tapi..tapi bapak mau ngapain?” tanya wati sambil ketakutan.

“kenapa kamu telanjang bulat sambil tanganmu memainkan selangkanmu Wat” akupun tidak menjawab pertanyaan Wati malah bertanya balik.

“aaaa..kuuu..aaaa….kuuuu. “

HIKS.. HIKS.. HIKS !!!

Terlihat wati menangis sesenggukan.

“katakan jujur pada Bapak Wat, kenapa kamu melakukan itu? Aku sudah menganggapmu keluargaku jadi jangan malu untuk ungkapin rasa di hatimu” terangku mencoba untuk bersikap tenang

“maaf pak jangan marah pak. Bapak tahu statusku sekarang, hanya dengan ini aku melampiaskannya pak” jawab Wati yang terlihat sudah mulai tenang tanpa rasa takut lagi.

“oh aku paham Wat, kenapa tidak cari suami lagi?” tanyaku

“aku rasa-rasanya tidak ingin punya suami lagi pak, pikiranku hanya ke anakku dan kakeknya ankku di desa”

“oh aku mengerti.” Kataku dan aku berpikir gimana memulainya. Aku gak suka maksa ketika berhubungan sex aku hanya ingin memulai senatural mungkin

“bolehkah aku membantumu?” tanyaku mencoba melakukan speak speak iblisku karena nafsu setan sudah mengasaiku.

“tidaaaakkk uusaahh pak.. jangannn.. bapak punyanya ibu Juleha” jawab Wati dengan polosnya.

“ kalau kita sama-sama diam dan menyembunyikan ini. Tidak masalah Wat” jawabku tetap tenang sambil menatap tajam Wati

“……” wati hanya diam saja seperti berpikir sesuatu.

Akupun memegang tangannya tanpa di sangka tak ada penolakan dari wati.

“percaya padaku, kamu bisa fokus ke anakmu dan hasratmu tersalurkan” kataku sambil wajahku mendekati wajahnya. Sementara wajah wati menunduk saja.

CUPPPP !!!

Aku berhasil mencium keningnya. Tanganku meraih dagunya dan

CUPPP !!!

Aku mencium bibirnya

Aku lepas dan melihat reaksinya. Dia menatapku dengan sayu. Sepertinya setan juga berhasil mengalahkannya. Aku menatapnya. Sorot sayu mata kami beradu, aku mendekat wajahnya, nafas kami saling hangat terasa.

CUPPP !!!

Bibir kami bertemu, lembut pada awalnya, namun bibirnya terbuka aku langsung melumatnya lembut dan kita saling melumat tanpa kendali. Lidah kita saling membelit air liur kita saling tertukar. Sangat lama kita saling melumat.

“Mmmhhhh…” lenguhnya. Ketika ciumanku berpindah ke lehernya. Kukecup lembut dan kususuri lipatan lehernya terasa wangi menusuk hidungku aku pun menjilati setiap inci lehernya. Kepalanya menggeleng kanan-kiri dan tangannya memeluk leherku sambil melenguh.

Bukan hanya mulut dan bibir ini, tangankupun mulai membuka selimut dan menyentuh payudaranya. Aku remas pelan-pelan sambil memilin puting yang nampak kecil itu.

“aaahhhhhhhh…” desahnya ketika bibir ini menyusuri dadanya dan menaiki bongkahan payudaranya yang puncaknya langsung mengecup dan menjilat putingnya membuat Wati menggelinjang dan mendesis.

“eeemmmhh… zzssttt “ lenguhnya kian kerap.

Aku nikmati payudara kanan kiri. Terasa tanga Wati berusaha membuka kaosku akupun melepaskan ciuman dan membuka kaos. Setelah terbuka akupun menyusuri payudaranya lagi. gak bosan bosan aku menimati payudara indah milik wati.

Terasa geli disekujur badanku ketika tangan Wati memilin putingku.

“Emmmmhhhhh…” desahku. Akupun menuju perut menjilat semua inchi pertunya dan langsung menuju selangkangannya.

“aaaahhhhh…” pekik Wati tertahan. Aku sudah mengendusi bulu-bulu halus vaginanya yang lebat namun tidak panjang ini.

“auuuhhhh “ Wati memekik lagi saat lidahku menyentuh klitorisnya. Membuat Wati mermas apapun yang bisa di raih, bahasa tubuhnya yang keenakan membuatku kian bersemangat.

“enaaakkk pakkk. Akuuu keluaarrr” desahnya tertahan, terasa cairan vaginanya merembes di pintu lubang kewanitaannya dan akupun membersihkan cairan itu dengan lidahku.

Akupun bangun dan membuka sarungku nampak penisku sudah mengacung dengan gagahnya. Akupun mendekatkan penisku ke bibirnya.

“aaahhh..” erangku ketika bibir halus dan mulut hangatnya menyentuh penisku, lidahnya menyusi kepala dan batang penisku. Akupun menggemgam kepalanya sambil kepalaku mendongak ke tas menahan kenikmatan ini.

Setelah cukup lama lidahnya memainkan penisku dengan lembut aku menahan kapanya dengan lembut agara Wati mengakhiri aksinya. Untungnya Wati mengerti, akupun membuka pahanya dan tangan lembuh agak kasar Wati memgang penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya.

Cluuppp.

Kepala penisku mulai masuk ke lubang kewanitaannya. Terasa diemut kedutannya, serasa di sambut oleh cairan basahnya.

“Aaaahhhh…” erang kami bersamaan.

Penisku terhisap vagina sempitnya baru setengahnya tapi sudah full tank.

Kuangkat kembali, kutekan pelan, kuang dan kutekan lagi. tubuhku langsung berpeluh.

Clleebb !!! Cleebb !!! Cleebbbb !!!

“ aaarrggghhh… haaaahhhhhhh” Wati mengabarkan rasa nikmat.

Sedangkan aku menahan nafas sejenak ketika seluruh batang penisku amblas sepenuhnya. Terasa di sedot dan di remas, ujungnya terasa geli karena menyentuh lapisan halus idalamnya.

Ku buka bibirku. Nafas dari hidung saja tidak cukup

“Enak Wat” ujarku terbata-bata

“Punya bapak juga enak besar.. aarrggghhhhh” suaranya serak diselimgi desahannya.

Setelah saling mengabarkan rasa enak. Aku mulai memompa penisku. Tubuh Wati muncul tenggelan dalam kasur yang terlampau empuk. Aku menekan, ia menyambut, aku memompa, ia bergoyang.

“eemmhhh.. emmmhhh..eemmmhhhhhh..” refrein nikmat birahi keluar dari mulutnya seirama dengan pompaan penisku.

Rambut dipelipisnya basah oleh keringat, pun pula leher dan belahan payudaranya..

“aaahhhhh… uhhhhh” pelan desahannya terdengar sangat lembut di telingaku.

“ssshhh…”hanya desisan yang keluar dari mulutku.

Wati rupanya tipe wanita yang lembut di ranjang, sedangkan istriku tipa wanita yang gaduh di ranjang. Ah nikmatnya bisa menikamti 2 wanita dengan tipa berbeda ini.

Setelah 10 menit aku memompa penisku. Terada kedutan di vaginanya semakin keras. Sekun semakin memompa penisku dengan irama sangat cepat

“ aaakuuu keluuaarrr pakkk aaaahhhhh” desahnya tanpa bisa di tahan lagi. akupun menghentian pompaanku dan membiarkan Wati mengambil nafas dulu.

“gantiaan aku di atas pak ahhh”kata Wati sambil mendesah. Akupun mencabut penisku dan membaringkan diri di kasur.

Aku disuguhi pemandangan yang begitu menggiurkan. Payudaranya menggelantung, mengkilap karena keringat. Sedangkan vaginanya terbuka membentuk lubang kecil. Lelehan cairan keluar dari sana.

Dengan bertumpu satu tangan yang ia tumpangkan di dadaku, Wati mulai mengarahkan penisku pada lubang vaginanya dengan satu tangannya. Clleeeppp.. Bllleesssssss.. langsung amblas sepenuhnya.

“aaahhhh…mmmhhh.. ahhhh..mmmhhhh aaa..aaaa…aahhh “ Wati langsung memompa pinggulnya. Bibir Wati mengeluarkan suara-suara erotis.

“aaahhh oohhh iyaaa pakkk.. ahhh” lagi dan lagi. apalagi aku mulai meremas kedua payuradara wati yang menggantung indah. Sekali-kali aku memelintir putingnya.

Goyangan dan geolan pinggulnya makin kerap, sedangkan ceracaunya terdengar lembut tapi terasa membakar birahi.

“mmm..aahhhh…baaappaaakkk…akuuuu menginginkaan iniiii sejaaak laaamaaaa” racaunya dengan goyangan yang tidak terkendali. Sepertinya ia pun sedang menuju puncak.

Gerakan Wati liar tak terkendali. Ini sudah saatnya aku imbangi. Seluruh pompaan dan goyangannya aku ikut mengerang. Ada yang mendesak didalam kantong kemihku, terdorong ke atas ke dalam batangnya, terasa kian mengembang dan seakan mau pecah.

“akuu jugaa mau keluar watt..ohhh. ssttt” aku mengabarkan kenikmatan

“kita keluarrr baaarenggg paakkk.. ohhh.aahhh..oohhh” balasnya

PLOK.. PLOK..PLOK..PLOK..PLOK.

Bunyi perpaduan kelamin kami kian memanaskan birahi di antara kami berdua.

Tiba-tiba penisku diremas kuat bagai diperah. Apa yang kutahan akhirnya meledak juga. Ada dorongan deras dan kencang.

CROTT.. CROTT..CROTTT.

Aku mencapai klimaks. Bersamaan dengan itu ada cairan hangat yang menyemburi kepala dan batang penisku.

“aaarrrhhhhh keluaaarrrr paaakkk ohhhhhh” Wati melonglong dan tak lama kemudian tubuhnya ambruk di atasku. Kurasakan ia bergetar hebat.

Setelah sekian menit saling menikmati klimak bareng akupun mencium keningnya yang basah akibat keringat.

“makasih ya Wat, aku seneng membantu dan sebenarnya aku juga menginginkan ini. Aku udah lama memperhatikan kamu, tapi aku sadar aku punya istri dan anak. Kalau kamu mau kita bisa mengulanginya lagi di lain hari tapi aku minta jangan pake perasaan. Aku berjanji akan menjaga kamu, anakmu, dan bapakmu di desa.” Akupun mencurahkan isi hatiku dan PLONG rasanya.

“iya pak. Aku juga makasih banyak sudah membantu Wati.” Balasnya terasa matanya basah karena air matanya jatuh ke wajahku.

CUPP!!

Aku mencium bibir lembutnya.

“kalau kamu lagi kepengen, kode aku dengan membuatkan kopi manis. Kamu tahu sendiri aku suka kopi pahit.” Kataku

“baik pak”

“Ya sudah aku mau ngopi sebentar dan berbalik ke gudang.” Akupun pamit kepadanya

CUPPP !!!

Aku mencium bibirnya lagi. lidah kita saling melumat sebentar kemudian aku beranjak memakai sarung dan kaos kemudian keluar kamar.
.
..

(FLASHBACK END)

<<<<<<<

Aku pun sebenernya sangat sedih di tinggal Wati. Sesudah kita beberpa kali berhubungan sex tidak bisa dipungkiri aku sangat menyayanginya seperti istiku sendiri. Aku seakan-akan mempunyai istri 2 dalam satu rumah yang mana istriku Juleha sampai sekarang tidak mengetahui hubunganku sama Wati. Aku akan menyimpan rapat-rapat rahasia ini.

Dan sekarang aku akan menunaikan janjiku untuk menjadikan Untung anak angkatku. Tapi hanya dalam hatiku saja sedangkan orang-orang hanya tahu Untung bekerja denganku. Yang terpenting janjiku ke Wati untuk menjaga Untung dan mbah Parjo terlaksana.
.
..

….

(To Be Continue)

Daftar Part