. Skala Kehidupan Part 12 | Kisah Malam

Skala Kehidupan Part 12

0
283

Skala Kehidupan Part 12

Jatuh ke Jurang

Krik.. krikk. Krikk !!

Suara jangkrik bersahut-sahutan, di malam yang sesunyi ini aku sendiri duduk di teras rumah peninggalan mendiang kakek, entah kenapa mataku terjaga dan belum mengantuk sama sekali. Padahal jarum jam dinding menunjukkan di angka 11, jalan depan rumah sudah sepi. Malam ini aku di temani suara-suara jangkrik sedaang meratapi nasib.

Ya setelah aku kembali ke desa, perekonomianku sangat-sangat mengenaskan. Rencanaku membangun meubel di desa atau di rumah gagal total, banyak kendala – kendala sewaktu aku membangun meubel di desa. Uang tabunganku selama aku kerja di Pak Karim juga sudah ludes. Keberuntungan tidak berpihak kepadaku selama di desa ini.

Karena uangku habis sedangkan aku harus bertahan hidup, mau gak mau aku bekerja, setelah melamar kesana kemari dan dengan informasi temen Sdku. Sekarang aku bekerja di pabrik, di pabrik aku hanya sebagai buruh kasar karena berbekal ijasah STM maka wajar posisiku hanya sebagai buruh biasa.

Kata sukses sudah jauh di pandangan mata sekarang, ya karena keteledoranku pada akhirnya uang tabunganku ludes, uang tabungan yang harusnya buat modal meubel malah terpakai untuk kebutuhan sehari-hari, buat bayar ke bandar karena aku kalah judi, buat menghidupi mantanku yang notabene kehidupannya yang berfoya-foya. Kehidupan duniawi itulah yang menyebabkan aku masuk ke dalam jurang.

Bukannya aku tidak berusaha membuka meubel, sebelama beberapa bulan aku keembali ke desa sebenarnya meubelku sudah berjalan Cuma terkendala di pemasaran, aku begitu kesulitan memasarkan meubel, padahal ilmu selama aku kerja di Pak Karim tidak bisa di pakai ketika aku mendirikan usaha meubel ini.

Saat sedang lagi fokus memasarkan meubel, secara tidak sengaja aku bertemu dengan temen-temenku dulu saat masih bersekolah di SMP. Karena merasa pusing akibat meubel, aku pun mengiyakan ajakan temen-temen SD untuk berkumpul setiap malam di warung kopi yang tidak jauh dari rumahku, tiap malam ngopi sampai menjelang subuh, gak hanya ngopi kadang-kadang juga aku berpesta miras di warung itu, sampai dengan karena ajakan temen aku mengikuti judi bola, yang berawal darì hanya memasang 10 ribu sampai dengan ratusan ribu aku pasang, awal-awal aku menang tapi kelamaan banyak kalahnya.

Dan kebiasaan ngopi, pesta miras dan judi yang berakibat kepada meubel. Usaha meubel yang sedang aku rintis akhirnya berhenti di tengah jalan. Dan pada saat itu aku dikenalkan temen-temen SDku dengan seorang wanita tetangga desa yang bernama Lekha. Tidak lama kemudian aku sama Lekha jadian, awal-awal jadian sungguh menyenangkan. Aku yang sudah hilang kontak dengan Bu Juleha dan Yunita sudah menemukan pengganti, ya karena hpku hilang terjatuh sewaktu pulang dari pesta miras bersama temen-temen jadinya aku ganti hp dan nomor. Bu Juleha pun tidak berusaha mencariku akhirnya aku juga tidaak berusaha menghubunginya.

Jadian dengan Lekha membuat perekonomianku semakin merosot, secara tidak sadar aku di peras dengan makhluk bernama wanita ini, minta beliin baju, minta beliin lingerie, minta beliin BH maupun CD, minta beliin hp dan lain-lain. Karena sayang kepada Lekha, aku menuruti apapun permintaannya dia. Pada akhirnya uang tabunganku terkuras dan hutang dari judi bola menumpuk.

Setelah sadar dengan kebodohanku itu, akhirnya aku memutuskan makhluk bernama Lekha. Dengan slogan No Woman No Cry aku berhenti memikirkan dan mencari wanita. Kemudian judi aku tinggalkan meskipun aku masih punya tanggungan hutang kepada Bandarnya.

Dan sekarang inilah aku, pemuda yang sudah tidak punya apa-apa lagi, keluarga tidak ada, uangpun tidak ada. Gaji sebagai buruh pabrik habis buat makan dan bayar tanggungan hutang ke Bandar. Karena kesalahan kecil aku jadi begini, apa ini hukuman Tihan buat aku? Atau ini karma karena telah mengkhianati kepercayaan Pak Karim karena berselingkuh dengan Bu Juleha.

Akupun menangis dalam kegelapan dan kesunyian malam. Ingin rasanya kembali ke kota untuk bekerja lagi ke Pak Karim tapi entah mengapa dalam lubuk sanubariku menolak untuk melakukan itu. Karena sedari awal aku sudah bertekad untuk sukses di atas kakiku sendiri.

Benar apa kata pepatah, penyesalan ada di akhir. Setelah terpuruk daalam kondisi saat ini aki sudah tidak bisa apa-apa lagi. Teringat kata kakek untuk kembali ke kota dan meninggalkan desa ini yang tidak aku lakukan, itu juga yang membuat aku menyesal.

Apa ini sudah gatis takdir Tuhan? Apa ini sudah nasibku yang dari keluarga biasa saja. Sekeras apapun berusaha pada akhirnya kalau keluarga kita berada dalam status sosial yang rendah maka kita juga akan menjadi rendah juga alias miskin. Dalil atau petuah yang mengatakan hasil tidak akan mengkhianati usaha berarti hanya omong kosong belaka.

Berjam-jam sudah aku habiskan rasa penyesalan ini dengan deraian air mata, berbungkus2 rokok aku habiskan, bercangkir-cangkir kopi aku habiskan tetap saja rasa sesal ini tidak pergi. Huft.

Terus aku harus bagaimana?menyesali terus atau melangkah? Kalau melangkah, melangkah yang seperti apa?. Pada akhirnya, mataku pun sedikit demi sedikit mulai mengantuk, aku lihat jam ternyata sudah jam 1 dini hari, akhirnya aku bertekad menjalani seperti aliran air, kalau memang aku di takdirkan sebagai orang miskin, aku akan jalani dan bertekad untuk menjauhi segala hal yang membuat hidup semakin terpuruk.

Akhirnya aku melangkah kembali ke dalam rumah untuk tidur karena besok aku harus pergi bekerja di pabrik.

***

Begitulah aktivitasku sehari-hari, kerja di pabrik shift 1 yaitu jam 7 sampai jam 4 dan shift 2 yaitu jam 4 sampai jam 12 malam. Dalam seminggu di bagi mendapat porsi shift pagi 3 hari dan shift malam 3 hari. 1 harinya libur.

Kalau waktu libur aku bosan di rumah, aku kumpul-kumpul di warkop dengan temen Sdku, meskipun masih kumpul tapi aku sudah tidak mau di ajak pesta miras dan judi. Aku sudah bener-bener kapok dan ingin bangkit kembali dari keterpurukan.

Tidak hanya pesta miras dam judi, aki juga sudah kapok bermain-main dengan wanita. Banyak temen sesama buruh yang perempuan menggoda aku, kadang menatap aku lama, kadang mengerlingkan mata, kadang mencolek-colek daguku, tapi hatiku sudah menjadi batu. Aku tidak akan kembali jatuh ke lubang yang sama. Aku berpikir setelah ada uang baru aku fokus mencari pendamping karena sekarang aku sudah tidak punya apa-apa. Alat komunikasi sudah gak model android lagi, motor juga tidak punya kalau bekerja aku naik angkot kalau ada sisa uang, kalau gak ada uang aki berjalan kaki kadang-kadang juga aku numpang di temen sesama burrih pabrik yang searah rumahnya dengan rumahku.

Aku bertelad sebelum lunas utangku di bandar judi, aku gak akan aneh-aneh lagi. Rencana setelah utangku lunas baru membeli motor dan hp yang agak modern sedikit. Setelah itu aku berencana menabung untuk bisa bersekolah lagi ke jenjang lebih tinggi yaitu kuliah. Meskipun rumahku di desa tapi ada satu perguruan tinggi swasta dengan jarak sekitar 20 kilometer dari desaku. Perguruan tinggi itulah yang aku tuju nantinya.

***

Sudah setengah tahun aku bekerja di pabrik, tekun dan fokus menjadi prioritasku, akhirnya satu persatu permasalahan aku selesaikan, kurang 1 angsuran lagi utangku di bandar judi lunas, sehingga aku bisa bernafas lega. Sebenarnya dari bulan kemarin kalau aku total utangku sudah lunas tapi katanya bandar untuk bunganya akhirnya 2x angsuran lagi baru lunas. Aku tidak ambil pusing yang penting bagaimana aku bisa lepas dari perangkap judi itu.

Aku juga sudah berencana membeli motor bekas untuk keseharianku pergi ke pabrik dan membeli hp yang murah meriah yang penting bisa di buat WA dan ngegame. Karena untuk melawan suntuk satu-satunya hiburanku adalah bermain game.

Kadangkalanya aku kangen Pak Karim, Bu Juleha dan bahkan Ine. Tapi karena aku sudah tidak mau merepotkan lagi, aku harus melupakan mereka. Aku sebenernya ingin bersilaturrahmi ke sana tapi aku takut jika bertemu Bu Juleha dan aku melakukan kesalahan lagi seperti dulu. Jadi aku tunda untuk ke sana. Rencana setelah aku bisa membeli motor baru aku ke sana sekedar silaturrahmi. Karena berkat merekalah aku bisa sampai seperti sekarang.

Untuk Ine, mungkin dia sekarang sudah menjadi dokter yang sangat hebat. Perasaan dulu yang sempet hinggap kepada Ine sudah hilang seperti butiran debu, aku sangat paham siapa aku, statusku, jadi aku tidak berpikiran aneh-aneh kepada Ine. Aku juga berdoa semoga Pak Karim dan keluarga dalam keadaan sehat dan sukses.

###

2 bulan kemudian.

(Pov Ine)

Tut.. Tut.. Tut !!

Suara nada panggilan di hpku. Aku sekarang sedang menelepon pacarku yang bernama Fian.

“Halo sayang”

“Hikss.. Iya halo” jawabku sambil menangis.

“Kenapa menangis sayang?”

“Galau. Emmhh. Jadi gi..ma..na kepu..tu..san..mu?”

“Sudah jangan nangis sayang, 2 hari lagi aku akan menemui papamu. Ndak perlu galau lagi ya”

“Hiks.. gimana gak galau, aku ta..kutt”

“Sudah jangan khawatir, susah senang kita selalu menghadapi bersama-sama. Apalagi hanya masalah ini. Aku lelaki jantan sayang. Kita pasti bisa menyelesaikan masalah”

“Bukan masalah itu, aku taa…kuutt papa menolak kamu sayang”

“Sudah jangan terlalu dipikirin. Aku yakin papamu pasti menerimaku meskipun.. meskipun itu sulit. Tapi aku siap kok dan akan memperjuangkan kamu. Apa perlu aku membawa orang tuaku ke sana?biar bisa ngeyakinin kamu”

“Kal..lau bawa keluargamu aku semakin takut”

“Yasudah biar aku sendiri. Setelah itu baru aku bawa keluargaku”

“Iya. Yasudah kalau begitu. Aku tunggu 2 hari lagi ya”

“Iya. Dadah sayang. Tunggu aku ya. Sebentar lagi aku akan menikahimu. Sudah ya.. love you”

“Iya sayang. Love you too”

Klik !

Aku mematikan handphoneku, kemudian aku merebahkan badanku di atas kasur sambil menatap langit kamarku.

Sebentar lagi aku akan dinikahi lelaki pujaanku. Sudah 2 tahun kami berpacaran. Semenjak aku putus sama elle waktu SMA aku lama enggan punya pacar, tapi semenjak kuliah pertahananku runtuh. Aku terpikat oleh seniorku di kedokteran. Akhirnya aku berpacaran sama dia, ohya nama dia Gilang. Awal-awal pacaran dia baik, akan tetapi setelah 6 bulan berjalan dia selalu uring-uringan sama kayak elle. Masalahnya sederhana yaitu aku tidak mau diajak berhubungan badan. Aku sangat menjaga perawanku ini. Akhirnya aku trauma kejadian dengan Elle. Maka aku putuskan saja si Gilang ini.

Kemudian datanglah pangeranku ini. Dia seorang penyabar, perhatian, dan pastinya baik hati. Akhirnya aku berpacaran lagi dengannya. Awalnya aki takut kejadian dengan Elle dan Gilang terulang kembali. Tapi semakin lama berpacaran tidak terjadi. Waktu si Fian ngajak hubungan badan, aku sempat beberapa kali menolak. Tapi semakin aku menolak perhatian, penyayangnya masih sama tidak berubah sama sekali. Akhirnya tepat setahun berpacaran aku menyerahkan keperawananku kepada Fian.

Semenjak dapat perawanku Fian malah semakin sayang kepadaku. Dan aku tidak menyesal menyerahkan keperawananku ini, malah aku bangga karena aku yakin Fian ini akan menjadi pendamping hidupku nanti.

Dan telepon barusan ini, Fian akan segera melamarku. Sebenernya aku sekarang masih menjalankan studi kedokteran yaitu koas di salah satu rumah sakit di kotaku tempat kuliah. Tapi dalam minggu ini aku ijin cuti karena Fian akan segera melamarku.

Aku degh-degh an sekarang, aku takut lamaran Fian di tolak papa karena aku masih menjalani pendidikan. Tapi Fian tetep bersikukuh mau melamarku. Apalagi tadi katanya mau membawa ortunya ke rumah. Tapi aku bersikukuh biar fian sendiri yang meminta papaku, setelah papa setuju baru fian bawa keluarganya di hadapan papa.

Sekarang aku takut mau memulai pembicaraan kalau fian mau ke rumah, karena pasti papa akan marah karena aku masih menjalani studi. Tapi memang harus secepatnya Fian kesini dan melamarku agar kita berdua tenang dan khususnya aku agar tidak terbebani lagi.

Papa dan mama sekarang sendiri di rumah, hanya ada pembantu dan sopir yang setiap hari pulang, kalau dulu ada Untung yang mengabdi kepada papa mama. Sekarang Untung sudah kembali ke desanya setelah kakeknya meninggal. Kasian aku sebenernya sama Untung. Dulu aku sama dia sempet dekat, sebenernya teraakhir sama dia aki ada rasa sedikit, sedikit saja. Tapi aku sadar Untunf siapa, apa jadinya kalau aku berpacaran sama dia?yang hanya sebagai pembantu di sini.

Akhirnya perasaan itu aku kubur dalam-dalam. Apalgi semenjak aku kuliah aku sudah jarang ketemu dia, dulu sering aku curhat ke dia tapi setelah berpacaran dengan gilang aku sudah jarang menghubunginya. Bahkan sampai kakeknya meninggal aku juga tidak melayat karena kesibukan kuliah dan persiapan koas. Dan sampai sekarang kita semua lost kontak sama dia karena nomernya tiba-tiba tidak bisa di hubungi. Papa dan mama berulangkali menghubungi nya tapi selalu tidak aktif. Semoga kamu bahagia di Desa dan sukses ya Ntung.

Akhirnya aku sedikit tenang sekarang. Besok aku akan bicara sama papa dan mama mengenai rencana fian ke sini. Rasa kantukku pun mulai menyerang. Sekarang aku mau tidur dulu menyiapkan hari esok.

***

Triingg !!

Alarmku berbunyi, aku pun segera menggeliat dan bangun di pagi ini. Rencananya waktu sarapan ini aku bilang ke papa mama mengenai rencanaku semalam. Aku pun pergi ke kamar mandi untuk mandi pagi hari biar tenang dan otak segar agat aku lanacat membicarakan dengab papa mama.

Tok.. Tok.. Tok !!!

“Sayang, ayo sarapan dulu, makanan sudah siap di meja” suara mama berteriak memanggilku.

“Iyaa sebentar ma, habis mandi, mau nyisir rambut dahulu”

Setelah dandan ala kadarnya, aku seger keluar kamar untuk segera sarapan dengan papa mama. Terlihat papa mama sudah menunggu di meja makan.

“Pagi pa, ma”sapaku

“Pagi sayang” jawab mama

“Kenapa wajahmu kok sendu sayang, lagi ada sesuatu?ayo cerita ke papa dan mama”ujar mama

“Iii..yaa ma. Setelah sarapan ada hal yang akan Ine bicarakan”

“Oh yaudah, ayo makan duluan” kata mama seraya mengambil nasi ke piring papa.

5 menit kemudian kita semua sudah selesai sarapan.

“Gimana sayang, apa yang mau dibicarakan?”tanya mama memulai pembicaraan, sedangkan papa hanya diam saja.

“Gini ma, pa. Ehhmmm. Besok Fian mau ke sini”

“Oh iya. Kesini mah kesini aja. Udah lama papa sama mama nungguin kamu ngenalin pacarmu. Ya kan pa?” Jawab mama melegakan aku, terlihat papa juga menganggukkan kepala tanda setuju.

“Iya ma, semoga papa dan mama besok welcome ke fian ya ma, pa”

“So pasti sayang. Itu aja yang di bicarakan?”

“Iya ma, ii..tuu aja” jawabku gelagapan. Sebenernya aku mau terus terang bahwa tujuan fian kesini mau melamarku tapi aku entah mengapa hatiku bilang jangan dulu biar fian aja yang bilang ke mama papa. Kalau sekarang aku bilang aku takut di tolak papa sama mama.

“Yaudah, mama kira apaan kok tegang banget wajahmu”

“Hehe. Enggak ah masak tegang si ma”

“Yaudah papa dan mama berangkat kerja dulu ya. Kamu kapan berangkat koas?”

“Rencana setelah Fian ke sini, besoknya aku berangkat koas ma”

“Oh ya udah jaga rumah ya sayang”

Setelah itu papa dan mama berangkat kerja, sedangkan aku malas-malasan di kamar sambil membaca novel. Dan tak lupa aku WA fian untuk mengabari kalau papa dan mama sudah siap menyambutnya. Setelah terkirim, aku melanjutkan membaca novel.

***

Pagi ini merupakam pagi yang sangat cerah, sinar mentari sudah muncul untuk menyinari bumi. Tapi semakin mendekati fian kesini hatiku semakin degh-degh an. Aku harus menyiapkan mental seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tak lupa, aku pun berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar di lancarkan hari ini.

Kemudian aku menelpon pacarku.

“Halo sayang”

“Halo.. jadi jam berapa kesini sayang?”tanyaku

“Jam 8 an aku berangkat, paling nyampek rumah ya jam 11an sayang, kan 2 jaman perjalanan dari rumahku ke rumahmu”

“Kamu berangkat naik apa kesini?”

“Naik mobil sayang, biar papa dan mamamu semakin yakin dengan aku”

“Sayang. Aku deg-degh an”

“Sama sayang, tapi yakinlah semua baik-baik saja dan papamu menerima lamaranku. Tenang ya”

“Tapi kan.. gak semudah itu sayang”

“Ssssttt. Sudah gak usah terlalu dipikirin. Nanti kamu jadi stress. Biar aku aja yang menghadapi. Kamu tenang ya sayang”

“Yaudah kalau gitu”

“Yaudah aku siap-siap ya.. love you. Mmuaachh”

“Iya. Kalau mau berangkat kabari ya. Love you too. Mmwuachh”

Klik !!

Telepon dimatikan pacarku.

Huftt. Haaahhh !!

Aku menarik nafas panjang. Aku mau mandi dan dandan bersiap-siap untuk menyambut sang pangeranku ke rumah.

Tepat jam 8, Fian WA aku mengabari kalau mau berangkat, aku balas oke dan hati-hati di jalan gak usah ngebut. Kemudian aku melanjutkan dandan secantik mungkin.

Jam 9 aku keluar kamar, terlihat papa dan mama berada di ruang tv. Sekarang memang hari minggu jadi papa dan mama gak kerja dan santai-santai di rumah. Aku memandang kemesraan mereka berdua, tersenyum bercanda bahlan kadang tertawa.” Apakah setelah fian kesini, beliau berdua masih bisa bercanda dan tersenyum ya? Semoga lancar hari ini” ucapku dalam hati.

Akupun melangkah dan menyapa papa dan mama.

“Jam berapa pacarmu kesini sayang?”

“Paling sampai kesini 1 jaman lagi, tadi jam 8 mengabari kalau sudah mau berangkat”

“Yasudah kalau gitu mama mau mandi dulu dan siap-siap”

“Ikut mandi donk ma”

“Apa se papa ini. Di depan anak kok masih aja genit”

“Hahahaha”

Papa hanya tertawa saja setelah menggodai mama, aku hanya senyum-senyum saja melihat mereka berdua. Huft haaaahhh !!

Tepat jam 10 semua sudah menunggu di ruang tengah, papa juga sudah mandi setelah mama barusan. Papa juga sudah rapi dengan memakai kaos kerah polo, sedangkan mama memakai gamis panjang.

Aku pun segera WA ke Fian menanyakan sudah sampai mana? Tapi hanya centang dua dan belum biru artinya belum di baca. Aku menunggu sambil gundah gulana, beberapa kali jantungku degh-degh an.

Jam 11 fian belum menampakkan batang hidungnya. Aku beberapa kali WA gak ada balasan sama sekali. Aku telepon hanya dapat balasan “telepon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area…” aku, papa dan mama masih menunggu dengan sabar.

Jam 12 masih belum ada batang hidungnya fian, bahkan hpnya masih gak aktif. Aku pun risau dan galau. Sedangkan papa dan mama juga sudah gak sabar., beliau bolak balik tanya mana fian, perasaanku semakin gak enak. Sebelum ketemu papa mama sudah mengecewakan, apalagi setelah ketemu. Padahal masih ada mission yang akan kami lalui. Huft haahhh..

Karena papa gak sabar dan mulai mengantuk, beliau lalau pergi ke kamar untuk istirahat siang dan minta di temeni mama. Sontak, aku sendirian di ruang tamu sambil beberapa kali menghubungi fian. Beberapa kali aku menghela nafas sambil memikirkan keberadaan fian, “Apa jangan-jangan dia takut kemudian dia pergi dan ganti nomer? Terus gimana nasibku ini. Hiks..hiks..hiks” Gumamku sambil meneteskan air mata.

(Bersambung)

Daftar Part

Cerita Terpopuler