. Skala Kehidupan Part 11 | Kisah Malam

Skala Kehidupan Part 11

0
278

Skala Kehidupan Part 11

BACK TO VILLAGE

Sudah 3 tahun aku membantu di usahanya pak karim, sesuai dengan amanah kakek bahwa aku harus bertanggung jawab, bekerja keras, dapat dipercaya dan jujur, maka kemajuan dari usaha pak karim berkembang pesat. Tugas pak karimpun terasa ringan karena ada pengganti aku kadang juga aku dikirim untuk menagih tagihan uang atau mengecek pengiriman barang ke luar kota atau pulau aku laksanakan dengan baik.

Awalnya meubel yang hampir bangkrut sekarang berjaya kembali. Pemasaran semakin aku gencarkan mulai mengikuti proyek di perkantoran untuk menservice perabotan semacam kursi, sofa, meja dan lain-lain.

Toko juga tidak mengalami perubahan, stagnan tapi tidak mengalami penurunan. Semenjak aku tinggalkan, Yunita mampu menggantikan peranku cuman kelemahannya dia tidak berani mengambil resiko dengan berinovasi untuk menggenjot pertumbuhan toko. Pada akhirnya, toko stagnan tapi juga tidak menurun performanya. Pernah ada inovasi-inovasi yang di terapkan bu juleha, tapi inovasi belum mampu meningkatkan performa toko secara drastis.

Soal Bu Vika, aku sudah menjauhinya sedikit demi sedikit. Akhirnya sekarang kita sudah jarang hampir tidak pernah berkomunikasi. Aku galau pada awalnya memutuskan menjauhinya. Bu vika seperti mangsa yang bisa di terkam setiap saat, tapi aku takut akan ketagihan apalagi bermain dengan janda pasti banyak resiko-resiko yang bisa merugikan aku. Apalagi bu juleha sempet curiga aku setiap malam telpon-telponan. Karena aku tidak mau mengecewakan bu juleha akhirnya aku menjauhi Bu Vika. Sedangkan aku sama Yunita pun tidak intens berhubungan sepeeti dulu, yanita yang akan mau nikah ketambahan calon suaminya yang sudah sekota dengan dia jadi tidak ada waktu untuk berduaan dan bermesraan. Jadi otomatis sekarang hanya Bu Juleha wanita yang selalu memuaskan aku.
Setiap hari aku menyibukkan untuk membuat sistem di meubel seperti di toko, tapi kendala atau masalah-masalah sering aku hadapi. Usaha meubel tidak seperti usaha toko, jadi sistem yang akan aku gunakan tidak serta merta bisa di gunakan di meubel. Aku terus berpikir dan berusaha biar pak karim tidak kesulitan mengontrol usahanya itu. Aku merasa waktuku di kota , waktuku dengan pak karim, waktuku dengan Bu Juleha hanya tinggal hitungan jari. Entah firasat apa ini, tapi aku gak mau terlalu memikirkan ke depannya. Pak Karim sempet memintaku untuk sekolah lagi alias kuliah, karena pedomanku aku sudah gak mau merepotkan Pak Karim. Aku pun menyanggupinya dengan syarat biaya kuliah aku yang nanggung dengan gajiku perbulan itu. Rencanaku 2 bulan lagi aku mendaftar kuliah karena pendaftaran di buka sekitar 2 bulan kemudian.

***

Pada hari Jumat pagi-pagi sekali ketika aku mau berangkat ke gudang pengerjaan meubel tiba-tiba ada tetanggaku yang bernama Mas Hamid naik sepeda motor datang ke rumah pak karim. Setelah bertegur sapa dan menyakan maksud datang kesiini, Mas Hamid bercerita kalau kakekku jatuh sakit.
DEGH
“Apakah ini firasat yang selama ini menganggu pikiranku? Ujarku dalam hati.
Memang sudah lama aku tidak ke desa, karena kalau aku sering pulang ke desa maka kakek memarahiku. Saat aku tanya kenapa?, kakek pun enggan menjawab Cuma dia bilang aku di suruh fokus di kota saja jangan sering-sering ke kota. Sejak saat itu, aku jarang ke desa. Di samping takit kakek marah, aku juga sibuk dengan pekerjaan karena di meubel ini gak ada istilah hari libur. Hati minggu pekerja tetep masuk, hari besar nasional (tanggal merah) pekerja tetep masuk. Gila memang sistem yang di terapkan Pak Karim, katika aku mencoba memberi saran pak karim menolak mentah-mentah dengan alasan pekerja sendiri yang meminta masuk karena kebutuhan hidup semakin mahal jadi kehilangan 1 hari rasanya pekerja enggan. Jadi mau gak mau aku juga tetep masuk untuk mengontrol para pekerja akhirnya tidak ada waktu untuk menjenguk kakek ke desa.

“sudah 3 hari Mbah Parjo sakit mas, tadi pagi saya meminjam arit untuk mencari pakan ternak, eh aku melihat beliau tergeletak lemah sendirian” kata Mas Hamid

Aku yang mendengar itu tak mampu membendung air mata yang keluar. Setelah mas hamid pamit pulang, aku segera menemui Pak Karim yang pada saat itu lagi sarapan dengan bu juleha. Setelah mengabarkan bahwa kakek jatuh sakit pak karim tak hentinya istighfar sedangkan bu juleha juga mengeluarkan air mata mendengar kabar tersebut. akhirnya aku pamit ijin beberapa hari untuk merawat kakek. Pak Karim mengijinkan malah suruh bawa salah satu mobil untuk aku bawa ke desa dengan alasan untuk mempermudah kalau kakek diharuskan kerumah sakit. Dan Pak Karim berjanji untuk besok akan datang ke desaku menjenguk kakek. Akupun mengiyakan dan segera packing baju-bajuku.

Setelah pamit kepada Pak karim dan Bu Juleha, aku membawa mobil untuk menuju desaku, tak henti-hentinya air mata ini keluar memikirkan kondisi kakek. Entah mengapa firasat ini seperti aku mau di tinggal oleh ibuku, tapi segera kutepis firasat itu sambil berdoa semoga kakek umur panjang karena aku kepengen kakek melihat aku sukses terlebih dahulu untuk membahagiakan kakek. Setelah aku memasuki gapura desa selang 100meter dari gapura ada makam desa terlihat sepi, aku jadi lega ternyata firasatku salah. Akupun sudah sampai rumah disitu ada beberapa tetangga yang membantu merawat kakek.

“Assalamualaikum wr wb” aku mengucapkan salam setelah memarkirkan mobil

“Waalaikum salam wr wb. Ntung tambah besar aja ntung bawa mobil lagi, pasti udah sukses” gurauan tetangga melihatku bawa mobil dengan tersenyum aku menjawab.

“Enggak pak, bu itu mobil bos saya, sengaja disuruh membawa mobil agar mudah membawa kakek kalau butuh ke rumah sakit, kakek mana pak bu? Beliau sakit apa?” tanyaku kepada tetanggaku yang rutin membantu kalau kakek butuh bantuan.

“Biasa sakit tua ntung. Tahu sendiri kakekmu umurnya sudah 80 tahun, kamu juga kok sepertinya jarang pulang nengok Mbah Parjo?” tanya tetanggaku

“Lagi sibuk aku pak bu tambahan kerja banyak, jadi belum sempet menjenguk kakek didesa. Aku juga sebenernya kangen dan berharap kakek ke kota untuk menjengukku seperti bulan-bulan kemarin” aku menjawan secara diplomatis.

“Iya ntung kakekmu 1 bulan ini sakit-sakitan. Sakit sehari sembuh sakit lagi sembuh, tapi sakitnya gak lama kok paling maksimal dua hari udah sembuh. Waktu aku tanyai kakekmu kok gak ke kota nengok untung, jawaban kakekmu udah gak kuat ke kota beliau juga berharap kamu yang ke desa” seketika itu air mataku turun dari mata menyesal aku seakan lupa kepada kakekku memang karena pekerjaan aku jadi lupa keadaan kakek.

“Sudah-sudah jangan nangis namanya sibuk mau bagaimana lagi yang penting sekarang temui kakekmu sepertinya sudah bangun” tambah tetanggaku. Akupun beranjak masuk ke dalam kamar kakek dan bener kakek sudah bangun dan beliau tersenyum melihat cucunya sudah datang.

“Assalamualaikum kek, kakek sakit kok gak ngabarin untung. Tadi pagi mas hamid ngabarin untung bahwa kakek sakit, aku langsung pamit ke pak karim untuk ijin tidak bekerja” cerocosku sambil memeluk kakek.

“Waalaikum salam cucuku, iyaa kakek selama beberapa hari kemarin baru sakit kok cu, jadi gak usah terlalu mengkhawatirkan kakek cu” ucap kakek sambil melepas pelukan dan membelai rambutku.

“Maaf ya kek, untung juga beberapa bulan ini belum sempet nengok kakek, beban kerja di bisnisnya pak karim berat kek, jadi aku sering luar kota untuk membantu pak karim menghandle kerjaannya sampai tadi pagi tiba-tiba ada mas hamid mengabari kalau kakek sakit.” Tak terasa air mataku turun lagi.

“Udah cu Kakek gak apa-apa paling besok juga sembuh, biasa penyakit tua sering datang dan pergi, udah jangan nangis jagoan kakek kok cengeng” canda kakek kepadaku setelah melihat air mata ini keluar.

“Hehe. Iya kek yang penting kakek sembuh dulu. Aku juga udah ijin pak karim untuk sementara merawat kakek dulu sampai sembuh baru aku balik kota” imbuhku kepada kakek kemudian kita saling ngobrol dan ajaib sepertinya kakek langsung sembuh setelah kedatanganku. Terbukti kakek sudah bisa makan sendiri padahal kemarin disuapi tetanggaku. Dan banyak lagi makannya gak seperti biasanya.

Setelah melihat kondisi kakek yang sepertinya udah sehat tetangga yang biasanya membantu kakek berpamitan pulang. Sekarang di rumah hanya tinggal aku dan kakek. Kangen kondisi seperti saat-saat ini sebelum aku di bawa pak karim merantau kekota untuk melanjutkan hidup. Aku dan kakek ngobrol seperti biasa sampai malam. Di sela-sela ngobrol kakek juga memberikan petuah-petuah dan wasiat yang harus aku penuhi.

“Cu kakek ini sudah tua, bisa besok minggu depan bulan depan tahun depan sewaktu-waktu kakek di panggil Yang Maha Kuasa kamu jangan menangisi kepergian kakek, nangis boleh tapi jangan sampai berhari-hari nanti kakek malah gak tenang waktu di panggil Yang Maha Kuasa” tiba-tiba kakek berkata seperti itu.

DEGH!!!

“Kenapa kakek tiba-tiba bicara seperti itu kek?” tanyaku dengan wajah bingung.

“Hahahaha. Ya gak apa-apa cu, kan kakek sudah tua dan kakek merasa siap untuk di panggil menghadap-Nya. Jadi aku titip wasiat rumah ini aku berikan kepadamu cu, gak ada lagi penerus kakek selain kamu, terserah mau kamu jual atau kamu tempati tapi lebih baik kamu tempati dulu. Tapi ketika kamu lebih nyaman hidup dikota yang bisa buat kamu lebih sukses y kamu jual aja rumah ini dan satu lagi aku kepengen kamu suatu saat nanti sukses tidak seperti kakek yang kondisinya berada di garis kemiskinan, kamu harus jadi kaya cu setidaknya digolongan menegah ke atas yang terakhir ingat kata-kata kakek selalu tanggung jawab, bekerja keras, jujur dan dapat dipercaya selalu kamu pegang teguh ya cu, itu bekal hidupmu di masa mendatang”. Ceramah kakek sambil mengeluarkan air mata bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahgiaan karena terlihat wajahnya selalu tersenyum.

“iya kek, pasti aku melaksanakan semua petuah-petuah dari kakek. Dan aku berjanji untuk jadi orang sukses seperti yang kakek inginkan” kataku menenangkan kakek sambil rambutku dielus-elus kakek.

Tak terasa udah jam 9 malam. Kemudian kakek menyuruhku untuk tidur, waktu aku mengucapkan keinginan kakek untuk tidur bersama tapi kakek melarangku. “udah jadi jagoan kok masih manja ke kakek” katanya saat itu. Akhirnya aku bersih-bersih kemudian memasuki kamar sedangkan kakek sudah menutup pintu kamarnya untuk tidur. Aku berbaring sambil mengecek wa atau sms barangkali ada, setelah aku cek ternyata bu juleha menanyakan kondisi kakek kemudian aku menjawab kakek sudah sembuh jadi tidak perlu ke rumah sakit dan aku juga ijin untuk berada didesa 2 harian lagi untuk memastikan kakek sudah bener-bener sembuh. Setelah membalas pesan bu juleha aku mulai memejamkan mata dan terlelap.

Terdengar sayup-sayup suara adzan subuh berkumandang, aku lalu bangun dan kekamar mandi mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban. Sebelum ke kamar mandi aku sempatkan mengintip kamar kakek terlihat kakek masih terlelap tidur. Aku membiarkan saja kakek tidur kemudian aku pergi ke kamar mandi. Setelah melaksanakan kewajiban aku membuat dua buah kopi di cangkir kemudian aku di teras menghirup udara pagi sambil ngopi dan mainan hp. Satu cangkir kopi habis aku mulai merasa aneh kok kakek gak bangun-bangun gak biasanya jam segini belum bangun, aku lihat jam di hp menandakan jam 06.30 artinya gak terasa sudah setengah tujuh kakek masih tidur dan matahari juga sudah mulai menampakkan batang hidungnya. Akupun beranjak dari teras menuju kekamar kakek berniat membangunkan kakek karena matahari sudah muncul. Ketiak memasuki kamar terlihat kakek tidur terlentang sambil tangannya mendekap di atas perut.

“Kek bangun kek, sudah siang kek sudah setengah 7.” Tapi kakek tidak bergerak sama sekali matanya masih merem. Kemudian aku cek tangannya sudah dingin.

DEGH!!

Hatiku sudah kalut, kemudian aku cek hidung kakek untuk merasakan nafas yang keluar dari hidungnya. Gak terasa hembusan nafasnya. Aku mulai meneteskan air mata kemudian aku semtuh dadnya aku cek denyut nadinya. Gak ada denyut nadi yang kurasakan.

“INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN.. KAKEEEEKKKKKKKKKKK… HUUUUUAAAAAA” aku memeluk kakek sambil menangis tersedu-sedu.

“Ntungg,, kenapa teriak-teriak?” terdengar beberapa tetanggaku datang mendengar aku menjerit memanggil nama kakek kemudian mulai memasuki kamar kakek. Setelah aku beritahu bahwa kakek meninggal dunia tetanggaku iku menangisi kepergian kakek. Akhirnya banyak warga desa datang. Dan tak lama kemudian kakek di kebumikan di makam desaku itu.

Aku pun ijin kepada pak karim untuk tetap berada di desa karena sesuai tradisi dan syariat agama yang aku anut akan diadakan pengajian setiap malam untuk mendoakan sang kakek. Bahkan aku juga dibantu Pak karim berupa uang untuk prosesi acara pengajian itu. Tidak semuanya, tapi sangat membantu meringankan beban biaya selama pengajian itu.

Sudah selesai pengajian 7 harinya kakek, tapi aku masih enggan untuk kembali ke kota. Aku dilema, rumah ini satu-satunya peninggalan kakek bahkan peninggalan keluargaku. Seperti tidak rela aku kalau meninggalkan rumah ini dan kembali ke kota. Tapi kalau hidup di desa aku kerja apa, aku sudah berada di zona ternyaman di kota. Aku pun memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di desa dan akan memutuskan aku kembali ke kota selamanya atau tetep di desa.

****

Hari ini tepat 2 bulan semenjak meninggalnya sang kakek, kehilangan sang kakek tidak membuatku putus asa, bagaimanapun apapun keadaannya aku harus tetap hidup untuk masa depan aku sendiri, sudah tidak punya siapa-siapa lagi aku di dunia ini, ada saudara dari ayah akan tetapi sudah berlasan tahun gak pernah ada kabar juga kebanyakan merantau ke luar pulau. Hanya pak karim yang sudah aku anggap sebagai saudara bahkan sebagai orang tua. Dan kini aku sudah kembali ke desa menempati rumah yang di tinggal oleh kakek. Aku mencoba peruntungan untuk membuka usaha meubel didesaku ini.

Ya aku memutuskan untuk tidak menjual rumah kakek, aku mengubur impian untuk bisa kuliah, mengubur impian untuk sukses di kota. Aku mencoba tantangan untuk membangun meubel di desa dengan modal seadanya dari tabungan selama aku bekerja di toko maupun di meubel.

Teringat jelas sekitar beberapa minggu setelah kakek meninggal, aku mengutarakan niatku untuk kembali ke desa, bagaimana aku menjelaskan tentang wasiat kakek di malam sebelum meninggal.

“Pak Karim apakah sibuk? saya ingin berbicara empat mata dengan pak karim, mungkin lebih enaknya di teras aj pak sambil ngopi dan makan cemilan” ajakku ke pak karim setelah melihat beliau duduk di ruang tengah. Setelah kita duduk dan menyeruput kopi akupun membakar rokok.

“Gimana-gimana apa yang mau kamu bicarakan dan dikusikan?” tanya pak karim.

“Begini pak ini terkait masa depan dan hubungannya dengan wasiat yang ditinggalkan kakek tepat di malam sebelum beliau meninggal. Di malam itu kakek bilang setelah beliau pada akhirnya di panggil Yang Maha Kuasa beliau berpesan untuk menempati rumah beliau dulu sementara waktu, kalau bisa aku tetap tinggal di desa tapi kalau tidak bisa aku disuruh menjual rumahnya, akan tetapi setelah aku pikir-pikir sudah saatnya aku mandiri pak karim, aku ingin kembali ke desa untuk tinggal di sana sekaligus untuk memenuhi wasiat kakek. Dari kemarin sudah saya pikirkan didesa mau kerja apa akhirnya dengan bekal dan dasar yang saya miliki saya mau membuka meubel di desa, saya juga melihat peluang disana untuk meubel masih minim disana, menurut bapak bagaimana?” terangku kepada pak karim

“Ternyata jiwamu jiwa enterpreneur ntung, aku salut dan apresiasi dengan kamu. Gini aku gak bisa mencegahmu untuk tetap tinggal disini meskipun dengan adanya kamu disini pekerjaan bapak menjadi ringan, dan usaha bapak yang hampir bangkrut sudah kembali berkembang pesat akan tetapi kamu juga harus bisa mandiri. Gak selamanya kamu ikut bapak terus kalau kamu ikut bapak terus berarti kamu gak maju-maju ntung. Bapak yakin dan punya feeling kamu akan menjadi orang sukses dengan kakimu sendiri. Jadi aku mendukung keputusanmu dan untuk keinginanmu buka meubel disana aku akan bantu. Sekarang apa yang bisa aku bantu untuk membuka meubelmu disana?” kata pak karim sambil tersenyum

“Gak ada pak, bapak mengijinkan saya tinggal didesa dan membuka meubel disana saya sudah bersyukur” aku lega setelah mendengar bahwa pak karim mengijinkan aku membuka usaha meubel.

“Beneran gak ada? Kamu sudah punya modal apa belum? Tempatnya sudah kamu persiapkan belum? Tukang sudah apa belum? rencana strategi pemasaranmu sudah kamu pikirkan apa belum?” tanya pak karim

“Satu-satu saya jawabnya ya pak, yang pertama untuk modal y bisa dikatakan masih minim pak, saya sudah menabung gaji yang bapak berikan selama ini jadi sudah bisa dikatakan cukup untuk modal membuka meubel.

Yang kedua, untuk tempat di belakang rumah kakek meskipun gak luas tapi sudah cukup untuk tempat pengerjaan meubel

Ketiga, untuk tukang sementara gak perlu pak, saya akan mengerjakan sendiri. Semenjak saya bekerja di meubel bapak daripada bosa untuk mengontrol saya minta diajari tukang bagaimana cara menggosok, dempol, hingga menyepet meubel itu.

Terakhir, untuk strategi pemasaran mungkin saya keliling ke rumah warga desa saya dulu kalau di rasa masih kurang bisa ke desa sebelah saya pakai sistem door to door pak. Strategi kedua saya mau jual by online, Untuk pemasaran lainnya selanjutnya masih belum saya pikirkan lagi. Saya pakai sistem door to door dan online dulu pak. Tapi meubel saya ini hanya proses finishing aja pak, proses mentahannya saya pesen di bapak aja dulu dan saya ingin profesional pak, ketika saya pesan mentahan saya juga wajib membayarnya”. Jawabku dengan tegas agar aku tidak terlalu di bantu pak karim

“Oke kalau begitu akan tetapi jika selama perjalanan bisnis meubel kamu kurang modal jangan sungkan-sungkan bilang ke bapak, nanti kamu angsur semampumu dan tanpa bunga. Bapak gak mau kamu pinjam modal bank entah bank BUMN, swasta maupun bank titil. Paham ya?, terus kapan kamu pulang ke desa?” pak karim mencoba memberikan pengertian bahwa bisnis tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Iya saya paham pak, mungkin seminggu lagi saya akan membereskan pekerjaan disini dan juga membeli alat-alat untuk pengerjaan meubel” jawabku sambil tersenyum. GLODAK tiba-tiba ada suara bunyi barang jatuh dari dalam rumah.

“Oh satu lagi, bapak kasih pick up bapak yang lama dan agak usang. Itu pesangon bapak ke kamu karena dedikasimu selama ini berkeja dengan baik. Itu berguna buat mengirim barangmu ke pelanggan, masak kamu mau pakai becak kirimnya, sewa pick up juga mahal nanti untungmu berkurang” tambah pak karim

“Yang bener pak? Terima kasih pak terima kasih” kataku sambil mencium tangan pak karim. Bisa jadi contoh kedermawanan pak karim ketika aku sukses nanti.

Setelah berbicara di teras dengan pak karim aku berniat untuk masuk kamar karena hari sudah malam. Tapi sebelum masuk kamar terdengar bu juleha bilang ke pak karim bahwa supir pribadinya beliau izin sehari dan memintaku untuk menggantikan supir pradinya untuk satu hari saja. “jangan-jangan tadi bunyi glodak dari dalam rumah bu juleha, waduh drama lagi besok” batinku sambil menepuk jidat. Setelah masuk kamar terdengar hpku berbunyi kemudian aku mengeceknya aku kaget ketika membaca pesan WA tersebut.

Bu juleha : BESOK KAMU GAK USAH KE GUDANG ANTAR AKU KE TOKO !!!!

Aku : baik sayang

“Gak biasanya bu juleha mengirim WA dengan huruf besar semua, mungkin beliau marah dan gak terima dengan keputusanku” batinku saat itu, kemudian aku segera memejamkan mata dan terlelap.

Pagi-pagi aku sudah menyiapkan mobil untuk mengantar bu juleha ke tokonya. Tampak bu juleha keluar dengan wajah garang, tidak ada senyuman sama sekali diwajahnya. Kemudian aku segera membuka mobil dan mulai menjalankan mobil menuju toko bu juleha.

Selama perjalanan kita bertengkar layaknya sepasang kekasih yang mau ditinggal LDR, bu juleha tampak sangat marah atas keputusanku. Setelah aku jelaskan latar belakang dan meyakinkan meskipun aku di desa tetap bisa memuaskan dahaga birahi, banyak hotel short time di sebelah kota. Akhirnya bu juleha nampak menerima keputusanku dan memintaku berjanji kalau beliau menginginkanku tidak ada kata TIDAK. Aku pun mengiyakan kemauannya dan dia juga memintaku nanti istirahat siang untuk check in di hotel karena dia lagi kepengen.

****

Dan sekarang kehidupanku sebenernya di mulai. Tantangan sesungguhnya di mulai. Bagaimana tidak. Rencana hanya tinggal rencana. Sebenernya aku sudah memulai rencana dengan baik. Bermodalkan pick up aku mulai memasok kebutuhan meubel. Di depan rumah aku kasih plang bertuliskan “ Untung Furniture” , aku mulai menyetok barang yang akan aku jual. Pengerjaan mulai dari nol sampai selesai aku kerjakan sendiri. Meskipun gak sebagus para pekerja di Pak Karim dulu tapi setidaknya juga gak terlalu jelek, karena kalau memakai pekerja modalku akan berkurang untuk membayar itu. Sedangkan pelangganku aku masih nol.

Setelah menyetok beberapa jenis meubel aku mulai memasarkan ke tetangga-tetangga, by online juga sudah aku lakukan. Akan tetapi masih belum laku, para calon pelanggan hanya menanyakan berapa harganya, bisa kredit apa tidak, setelah aku kasih jawaban mereka hanya bilang terima kasih tanpa membeli.

Jadi selama sebulan ini tutup buku bulanan aku nol rupiah, bahkan minus karena modal pengerjaan beberapa meubel sangat merogoh tabungan. Ternyata memulai usaha dari baru dengan nol pelanggan lebih sulit daripada mengambil alih usaha yang sudah berjalan seperti ketika aku mengambil alih meubel pak karim untuk aku jalankan.

Waktu bekerja di pak karim pelanggan sudah ada, aku tinggal memproses ulang hubungan ke pelanggan yang sempet bermasalah. Tinggal berjanji atau memastikan tidak akan telat, dan mengontrol pekerja, memastikan barang tepat pengirimannya sudah beres masalah. Lah sekarang aku babat alas mulai dari nol. Meubelku masih belum punya nama, modal pas-pasan, mau mengikuti proyek juga masih ragu-ragu. Ah sangat mempusingkan.

Tapi aku akan menikmati setiap prosesnya. Keputusan meninggalkan kota sudah aku ambil. Gak mungkin kan aku balik kucing kembali ke kota. Aku juga berat meninggalkan rumah mendiang Kakek. Huft. Aku gak boleh putus asa. Aku harus sukses sesuai apa yang Kakek inginkan dengan kakiku sendiri.

(Bersambung)

Daftar Part