. Skala Kehidupan Part 10 | Kisah Malam

Skala Kehidupan Part 10

0
298

Skala Kehidupan Part 10

NIKMAT MANA YANG ENGKAU DUSTAKAN

Tak terasa sudah 3 tahun ini aku menjadi wakilnya Bu Juleha, tantangan memajukan cabang usaha toko Bu Juleha juga sudah aku lewati. Pertumbuhan toko semakin lama semakin naik, pelanggan setiap hari bertambah. Bu juleha semakin senang dan sayang kepadaku, aku berhasil menjadi andalannya. Malah, tugas bu juleha semuanya aku handel. Dulu dia jarang di rumah, sekarang banyak menghabiskan waktu di rumah, apalagi dengan sistem yg modern sekarang, memudahkan Bu juleha mengontrol 3 toko. Kalau ada masalah, aku berada di baris terdepan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Aku dan Bu Juleha bagaikan striker messi dan Ronaldo, saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak hanya berpartner di pekerjaan, kami juga berpartner di ranjang. Beberapa kali kita melakukan persetubuhan di ranjang dan intens melakukannya semakin sering, sekali dalam sehari kita melakukan hubungan terlarang ini. Belum lagi kalau Yunita meminta jatah, aku pun mau gak mau melayaninya karena Yunita sudah ketagihan dengan si tole ini. Meskipun suami Yunita sudah resign pekerjaan dan bekerja yang sekota dengan Yunita, tidak serta merta hubungan terlarang ini berhenti. Minimal dalam seminggu yunita minta jatah untuk aku puaskan. Kadang-kadang aku berpikir betapa nikmatnya hidup ini. Kita seperti punya dua istri yang meminta untuk di puaskan. Istri tua bu Juleha sedangkan istri muda Yunita.

Naiknya pertumbuhan toko Bu Juleha tidak di imbangi dengan usaha meubel. Justru usaha meubel pendapatannya menurun drastis, banyak pelanggan tidak puas. Bukan tidak puas terhadap barangnya, tapi tidak puas terhadap komitmen pengiriman barang. Seringnya molor dari waktu yang seharusnya menjadikan pelanggan tidak meneruskan kerjasamanya. Banyak pelanggan yang beralih ke pengusaha meubel-meubel yang lain yang menjadi pesaing pak karim. Hal ini di sebabkan karena pak karim semakin hari semakin menua, beliau sering mengeluh capek, akibatnya kontrolling kurang. Tukang-tukang kebanyakan santai pekerjaannya. Dulu, 1 set pengerjaan meubel bisa 2-3 hari selesai sekarang 1 -2 minggu baru selesai. Pendapatan per satu bulan berkurang drastis. Hal ini membuat geram pak karim, karena kalau ini dibiarkan maka meubel Pak Karim lama-lama akan bangkrut.

Dalam suatu ketika, aku dan Bu Juleha di kumpulkan di ruang tengah. Awalnya aku kketakutan kalau pak karim mengendus rahasiaku dengan Bu Juleha. Tapi ternyata tidak, Pak Karim mengumpulkan kita bertiga untuk membahas permasalahan meubel itu dan meminta pendapat bu juleha untuk menarikku ke usaha meubel. Awalnya Bu Juleha keberaten, karena Bu Juleha sudah berada di zona ternyamannya. Yang mana Pekerjaan toko jadi mudah, efektif dan efisien. Tapi setelah mendengar cerita pak karim bu juleha pun berpikir ulang. Akhirnya mau gak mau Bu Juleha mengikhlaskan aku untuk membantu pak karim mengembalikan kejayaan meubel dulunya.

Aku pun karena mengabdi dan menuruti segala perintah Pak Karim. Mau gak mau, suka tidak suka menerima itu akan tetapi aku meminta waktu 2 -3 minggu untuk mencari penggantiku sebelum aku fokus ke meubel. Setelah semua menyetujui akhirnya pak karim pamit untuk kembali ke kamar sedangkan aku dan bu juleha berdiskusi panjang lebar menyiapkan pergantian. Kita memetakan karyawan-karyawan di 3 toko. Selang beberapa jam di rasa situasi aman, kita pun melanjutkan diskusi yg awalnya di ruang tamu jadi di ranjang. Kita memuaskan birahi masing-masing sambil berdiskusi mengenai penggantiku itu. Enak bukan, berdiskusi sambil di ranjang.

****

Setelah 2 minggu berselang, dengan berbagai pertimbangan kita sudah memutuskan dan selama itu juga kita menyiapkan berupa training tata cara mengelola 3 toko tersebut. Bu Juleha pun aktif kembali mengontrol toko setiap hari. Karena baginya orang yg hanya di percaya hanyalah aku. Meskipun ada pengganti yg kompatible akan tetapi tidak semudah itu membuat Bu Juleha percaya. Yang aku percaya menggantikan aku adalah Yunita. Dengan segala kelebihan dia aku percaya yunita mampu menggantikan aku. Awalnya Yunita tidak pede menggantikan aku, tapi aku meyakinkan bahwa dia bisa. Dan akhirnya Yunita mau dan berkomitmen untuk bekerja keras dan dia punya syarat kepadaku untuk setiap 1 bulan sekali minta di goyang karena dia sudah ketagihan akan tole yang perkasa ini. Enak bukan.hehehe

Aku pun mulai memperbaiki meubel sedikit demi sedikit, yang mana aku mendatangi satu persatu pelanggan yang sudah tidak mau bekerjasama. Aku meyakinkan bahwa rule model sudah berganti bahkan aku berani menjamin akan mengembalikan uang jika tidak sesuai pesanan. Awalnya para pelanggan ragu akan tetapi aku meminta test case utk mengembalikan kepercayaannya. Dan juga aku sering mencari info model meubel yang terbaru dan sevisa mungkin para tukangku bisa mengerjakan model terbaru itu.

Sedikit demi sedikit kepercayaan pelanggan sudah kembali. Bukan jangka 1 minggu atau 2 minggu tapi berbulan-bulan aku sesering mungkin komunikasi untuk itu. Karena progres sudah naik, aku pu mencari pelanggan lagi untuk di masuki barang-barang dari kita. Akhirnya, berbekal dari info yang aku dapat, ada sebuah proyek untuk menservice segala macam perabotan kantor di kota seberang. Menservice di sini yaitu meubel yang sudah mulai rusak di repair menjadi sepeeti baru. Aku pin mencoba mengikuti proyek tersebut dengan mendatangi kantor itu. Aku mendatangi bagian umum menanyakan perihal proyek service itu. Bagian itu membenarkan dan menyuruhku mengajukan proposal dengan komposisi berapa buah kursi yang akan di service sekalian dengan harga tersebut. Gak tanggung nilainya puluhan juta. Aku yang batu pertama kali ikut proyek tersebut mencoba mengikutinya. Pihak kantor itu memberi waktu 2 hari lagi proposal harus jadi karena waktunya mepet sedangkan seminggu sudah di lakukan lelang proyek tersebut

Aku pun mulai membuat proposal pengajuan dalam waktu 2 hari. Setelah selesai membuat aku pun memberikan ke bagian umum untuk di proses. Dan pihak kantor mengatakan bahwa seminggu lagi akan di kontak mengenai tata cara pelelangan itu. Selang seminggu kemudian, aku di kontak untuk melakukan sesi presentasi mengenai proposal itu karena lelangnya bersifat tertutup. Jadi aku tidak bisa mengintip pesaing-pesaing meubel yang mengikuti itu.

Setelah hari H yang di tentukan kantor itu, aku pun berangkat intuk melakukan presentasi. Aku mengira akan ada banyak orang dari meubel lain yang juga akan presentasi. Tapibsetelah sampai dan disuruh menuju ruangan tersebut. Nampak keadaan sangat sepi, tidak seperti yang aku perkirakan. Security memintaku untuk memasuki ruangan itu.

Tok.. tok.. tok

“Silahkan masuk” terdengar suara wanita dari dalam.

Kriet !!

“Selamat siang Bu, saya pemilik meubel CV anugrah mau mengikuti lelang proyek iti Bu”

“Ohya silahkan duduk di sofa itu, sebentar saya mau ke toilet dulu ya. Kalau sudah silahkan bapak melakukan presentasi” kata wanita itu dengan lembit dan sopannya

“Baik bu, saya juga mau mempersiapkan bahannya”

Wow.. cantiknya wanita itu, dengan wajah natural tanpa polesan make up yang berlebihan, hidung mancung, bibir tipis, payudara yang tidak besar dan tidak kecil alias sedang menambah daya tarik tersendiri.

Selang beberapa menit, wanitu itu sudah kembali dengan senyum manisnya.

“Maaf Pak, kalau lama di toiletnya. Sudah siap presentasinya?”

“Sudah Bu, ini Curiculum vitae meubelnya sekalian SIUP dan TDPnya. Bisa di baca sekalian pengajuan mulai dari harga dan bahan-bahan lainnya” ujarku seraya menyerahkannya.

“Oke, sambil saya baca silahkan Bapak presentasi ya”

“Baik Bu, sebelumnya perkenalkan saya untung ferdinand saya wakil dari pemilik meubel itu dan bla bla bla…”

Ada lebih setengah jam aku presentasi dan di lanjutkan sesi tanya jawab mengenai hal-hal yang berhubungan dengan proyek service itu.

“Saya kira sudah selesai ya Pak sesi presentasinya, nanti saya akan menghubungi bapak bila memang bapak menang dalam lelang ini”

“Baik bu, tapi sebelumnya mohon maaf bu. Nama ibu siapa? Dari tadi kita nfobrol tapi saya belum tahu nama ibu”

“Penting kah Bapak mengetahui nama saya?” tanyanya sambil tersenyum genit.

“Bagi saya penting Bu, karena tak kenal maka tak sayang Bu. Hehe”

“Emang setelah tahu namaku, apa bapak jadi sayang sama aku?”

“Emm.. maksudnyaa.. emmm”

“Hahahaha.. iya pak saya paham, bercanda aja itu. Nama saya vika Pak, lengkapnya netty marchavika”

“Iyaa Bu, salam kenal”ucapku sambil mengangguk sopan.

“Ohya Bu, ini kartu nama saya untuk menghubungi saya jika saya memenangkan proyek ini”

“Baik saya simpan ya”

“Iya Bu, terima kasih banyak. Kalau udah semuanya saya pamit undur diri terlebih dahulu ya Bu”

“Iya pak silahkan. Berdoa saja semoga meubel bapak yang menang”

“Amin bu. Di usahakan ya Bu” ucapku seraya menyerahkan amplop yang berisi uang yang sudah aku persiapkan untuk pelancar. Maklum di negeri +62 semacam ini pelicin itu perlu untuk memuluskan rencana.

“Maaf pak, gak perlu pakai yang beginian” ucapnya.

Tapi lain mulut lain tindakan, memang dia menolak dengan mengembalikan amplop yang aku berikan tapi dia menuliskan secarik kertas kemudian menyerahkan kepadaku

Aku langsung bisa menangkap apa yang di maksudkan bu vika itu. Aku mengangguk tanda setuju dengan apa yang di tuliskan di kertas itu.

Kemudian aku meminta ijin untuk pamit pulang. Aku pun melangkah keluar kantor terlihat security mengangguk sambil menundukkan kepala tanda hormat.

“Ramah banget satpam ini”batinku. Aku pun membalas menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan sudah ramah kepadaku kemudian aku melirik tag name yang ad di seragamnya terlihat tulisan NOTETWO.

“Lah nama dia kok sama dengan pemangsa kimcil dari pulau seberang ya..”batinku sambil tersenyum mengingat cerita GHSC yang berjudul joko kertonyono yang juga membahas manusia pemangsa kimcil ini.

Setelah keluar dari area perkantoraan, kebingungan melandaku. Bingung enaknya menunggu dimana karena aku sudah berjanji dengan Bu vika itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berkeliling sambil mencari toko-toko meubel yang bisa di masuki barangku. Untunfnya aku sudah siap bahan berupa katalog untuk melakukan pemasaran. Aku pun melajukan kendaraan berkeliling kota ini. Aakhirnya aku menemukan satu toko yang menarik untuk di masuki barang-barangku. Akhirnya setelah bernegoisasi toko itu mau tapi masih sedikit mencoba 3 set meubel berupa sofa, almari dan kursi sudut dari kayu jati.

Setelah selesai tugas aku melihat jam masih menunjukkan 14.30 artinya kurang 30 menit lagi menuju ketemuan dengan Bu Vika. Karena bingung mau kemana, aku pun langsung menuju tempat cafe ABC untuk terlebih dahulu menunggunya. Setelah pesan aku menelpon pak Karim untuk mengabarkan progres presentasi tadi. Pak karim memberikan perintah untuk menambah uang yang berada di amplop tersebut bertujuan bahwa Bu Vika bisa mengusahakan proyek service meubel jatuh kepada perusahaan kami.

Setelah menunggu sekitar 30 menit sambil membaca-baca cerita yang berada di forum, terlihat bu vika datang dengan senyum khasnya. Uhh manis bgt senyumnya. Aku mulai menyapanya.

“Sore Bu, silahkan duduk”

“Iya pak,maaf y menunggu. Tadi masih berjibaku menyelesaikan pekerjaan di kantor”

“Ohiya tidak apa-apa bu, saya juga barusan datang kok” ucapku kemudian aku memanggil pelayan untuk mencatat pesananan bu vika.

“Maaf ya Pak, tadi ada cctv jadi saya gak berani menerima pemberian dari Bapak”

“Saya yang harusnya minta maaf Bu, saya juga tidak sadar kalau ada cctv di ruangan itu. Ohya ini Bu amplopnya”

“Iya pak terima kasih banyak”

“Diusahakan proyeknya jatuh ke perusahaan saya ya Bu”

“Bisa di atur Pak, tapi saya kasih sedikit bocoran ya pak. Untuk barang A , O daan X ini harganya kalau bisa di turunkan, karena di proposal lain harganya lebih mirah drpda yang Bapak ajukan. Itu aja pak. Untuk barang yang lain harga bapak sudah paling rendah di antara para perusahaan meubel lain”

“Oh gitu ya Bu, kira-kira berapa yang paling rendah di proposal pengajuan meubel lain?”

Kemudian menjelaskan barang A, O dan X harga paling rendah yang di ajukan segini, jadi aku menurunkan sedikit harga yang di ajukan meubel-meubel lain. Aku bersyukur Bu vika ini bisa di ajak kerjasama dan bener-bener mengusahakan proyej ini jatuh ke perusahaan pak karim. Aku pun berjanji kalau sudah selesai ada tambahan lagi imbalan karena sudah mengusahakan proyek ini. Dan Bu Vika pun setuju dan percaya kepadaku.

Kemudian kita berbincang-bincang ngalor ngidul, Bu Vika pun bertanya-tanya soal pribadiku. Aku menjawab apa adanya tapinsedikit merahasiakan info bahwa aku sebenernya anak pembantu pemilok meubel ini. Aku hanya bilang bahwa aku anak dari pemilik ini dan aku do tugaskan meneruskan meubel ini. Hehe. Agak sedikit pencitraan bos. Bu Vika juga bercerita bahwa dia janda karena suaminya meninggal dunia sekitar 3 bulan yang lalu dengan mempunyai 2 anak, laki dan cewek yang keduanya masih sekolah dasar dan yang cewek masih TK.

“Apa tidak kepikiran punya nikah lagi Bu?”

“Saya belum mikir ke situ mas, fokus besarin anak sama pekerjaan. Dan juga belum tentu anakku mau menerima kalau aku nikah lagi mas” ujarnya. Bu vika sudah memanggilku mas karena perawakanku yang masih muda, dia memanggil bapak do kantor tadi karena sebuah keharusan memakai bahasa baku di kantor. Dan aku juga di minta untuk memanggil mbak saja biar gak terlalu formal. Aku pun menyetujuinya.

Setelah berbincang-bincang tak terasa sudah pukul 5 sore dan Bu vika pamit untuk menjemput anaknya yang les di tempat les2an deket sekolahnya. Kemudian kita bertukaran nomer hp agar lebih mudah berkomunikasi mengenai proyek itu. Aku pun revisi proposal di suruh mengirim email saja biar tidak bolak balik ke kota ini. Ah baik banget Bu vika ini.

Setelah Bu vika berpmaitan, aku pun mengahbiskan minuman sambil bersantai sejenak sebelum pulang ke rumah pak karim. Pas lagi enak-enaknya bersantai Bu juleha menelpon untuk di suruh ke toko sejenak karena ada hal yang perlu di tanyakan mengenai sistem toko karena yang paling menguasai sistem tersebut.

“Ah paling sehabis menanyakan itu, paling minta di kontolin tuh Bu juleha”gumamku tersenyum sambil merasakan tole bangun dari tidur panjangnya. Ah nikmatnya hidup ini. Nikmat mana yang Engkau dustakan Ya Tuhan. Heuheuheu.

Setelah mendapat telepon dari Bu Juleha aku segera undur diri untuk menuju toko Bu juleha. Setelah menembus keramaian jalan aku sudah sampai di toko. Akupun masuk terlihat ada beberapa karyawan toko sedang melayani pembeli.

“Sore mbak, mas”

“Eh sore mas untung, tumben main kesini mas? Tanya salah satu karyawan.

“Iya nih mas, ibu tadi telepon katanya ada beberapa kendala mengenai sistem dan kebingungan”

“Oh iya mas. Tadi ibu sempat menyuruhku Cuma aku juga tidak bagaimana mengoperasikannya”

“Terus ibu lagi dimana mas?”

“Di ruangannya. Masuk aja mas”

“Oke siap. Makasih ya.”

Aku pun melangkah ke belakang menuju ruangan Bu juleha. Terlihat pintu ruangannya terbuka. Dia sibuk mengetik dilaptop munfkin mengerjakan laporan penjualan.

Tok.tok.tok.

Begitu terdengar ketukan pintu, Bu juleha menengok dan tersenyum manis. Duh cantiknya pavar gelapku ini. Gak ada bosan-bosannya aku melihatnya.

“Halo sayang. Gimana proyeknya?deal?” Ucapnya menyapaku dan menutup pintu kemudian langsung melumat bibirku.

Cup..cupp.. cupp. Mmwuaachhhh

Kita berpagutan sejenak melepas kangen.

“Lancar, untuk dealnya menunggu beberapa hari lagi. Tapi aku sudah bisa memastikan proyeknya akan jatuh ke tangan kita sayang”

“Syukurlah kalau begitu. Aku mah percaya kamu bisa mengembalikan kejayaan perusahaan keluargaku ini” ucapnya sambil melumat bibirku lagi.

Cup..cup..cupp. mmmwuaacchhh

“Aminn sayang. Oh ya biar gak terlalu malam, mana tadi yang bingung, biar aku selesaikan”

Kemudian Bu juleha menjelaskan kendala di sistem ini yang dia gak bisa di selesailan. Setelah memberikan penjelasan, aku di minta segera menyelesaikan.

“Cepet di selesaikan ya sayang.. aku kangen tolemu. Udah dua hari gak di tengokin tolemu” ucapnya sambil meremas pelan batang kejantananku.

“Ahh siaapp. Apa se yang enggak buat kamu sayang”

Cup..cup..cup..mwwuaachhh.

“Sebentar ya aku selesaikan dulu”imbuhku sambil menowel payudara 40 D itu.

“aahhh.. nakal.. oke cepat ya”

Aku pun melangkah keluar dari ruangan itu. Dan segera menyelesai kendala di sistem tersebut. Setelah berkutat kurang lebih 15 menit akhirnya selesai dan aku menjelaskan ke karyawan mengenai pengoprasian sistem tersebut. Setelah selesai menjelaskan aku berpamitan ganti menjelaskan ke vu juleha dan aku meminta kepada karyawan utk tidak menganggu karena sistem ini perlu kosentrasi tinggi. Karyawan pun mengiyakan. Aku pun tersnyum karena itu semata2 hanya alibi karena aku mau diskusi jahat dengan bu Juleha. Tidak hanya bu juleha yang kangen dengan toleku, aku pun oangen akan vagina Bu juleha yang harum bak sekumntum mawar merah. Heuheuheuheu.

Aku oun melangkah ke ruangan Bu Juleha. Setelah memasuki ruangan aku segera menutup pi tu dan menguncinya terlihat Bu juleha langsung berlari setelah tahu yang memasuki ruangan adalah aku. Dan langsung menyergapku dan aku di doronf ke dinding dan menfhimpitku bibirnya langsung mencari bibirku.

Mmmhhh.. mmmhhh..

Cup..cup..cup..mmuuuaacchhh..

Slurupp..sluruppp sluruuppp..

Terdengar suara adu mulut, adu air liur, adu lumatan yang di lakukan bibir kami. Kita salonf melumat sambil kepala miring kadang ke kanan dan kadang kekiri bergantian. Padahal hanya 2 hari kita gak berhubungan tapi seakan-seakan kayak 1 abad kita gak ktemu.

Sambil terus melumat, tanganku gak mau kalah aku langsung menuju payudara besanya aku meremas dengan kasar. Tidak hanya tanganku, yangan bu juleha juga menuju toleku juga meremas dengan kasar. Kita yang sudah di mabuk birahi langsung melucuti pakaian masing-masing. Bu juleha melucuti kemejaku kemudian kaos dalamku. Setelah di lucuti bu juleha langsung melepas lumatannya dan langsung menuju bawah bibir yaitu dagu kemudian dilanjutkan menuju leher. Jilatan demi jilatan menyusuri leherku. Semua leherku basah kena air liurnya. Setelah puas bu juleha mnjilati lenganku kemudian tangan dan terakhir jari. Jariku di lahap habis ke dalam mulut bu juleha yang terasa begitu hangatnya. Setelah puas bu juleha mengendus2 ketekku aku pun mencoba menghentikannya.

“Jangan sayang, aku belum mandi.ketekku bau” ucapku seraya memegang kepalanya untuk menhentikan endusannya.

“Sssttt. Mandi gak mandi.bau gak bau aku suka aroma tubuhmu sayang” ucap bu juleha dengan wajah sayu tanda birahinya sudah di puncak. Tanganku pun di arahkan ke atas.

Kemudian Bu Juleha mengendus lagi ketekku sesekali menjilati bulu2 keteku. aku pun hanya bisa pasrah dan menikmatinya sambil tangan satunya meremas kasar payudaranya. Oh nikmatnyoo. Setelah puas menjilati keteku bibir bu juleha berganti menyusuri setiap inchi dada bidangku. Sesekali beliau menggigit serta mencupang dadaku hingga merah. Kemudian dilanjut menjilat putingku kanan dan kiri sesekali di gigit. Aku pun berdesir, bulu kudukku semakin menegang, tolepun bersorak dengan mengeacung setegak-tegaknya di dalam CDku.

Setelah puas menjilat putingku, bu menuju bawah ke area perut dan pusarku. Uh. Setiap inchi tubuh depan semua di jilat. Melayang rasanya. Kemudian bu juleha mulai mencopot sabuk dan celanaku. Terlihat CDku menggembung besar seolah2 tidak cukup membungkus tole. Bu juleha langsung mencopot CDku.

Tuingg!!

Terlihat tole mengacung tegak mengenai wajah bu juleha.

“Hei le tole, kenapa se kamu ngangenin?” ucap bu juleha seolah-olah berbicara kepada tole. Padahl tole adalah tole , benda yang tidak bisa berbicara. Tidak seperti jago di cerita sebelah yang bisa berbicara.

Setelah berbicara seperti itu, bu juleha langsung menjulurkan lidah untuk menjilati kepala tole yang besar. Saluran kencingnya tole pun tak luput dari mainannya. Tubuhku pun meliuk-liuk seperti ular keket karena menahan geli. Bu juleha pun tertawa puas melihatku menahan geli.

Setelah berhasil mengerjaiku, bu juleha pun mulai mengulum si tole.

Sluruuppp..sluruppo..sluruuppp

“Eemmmmmhhh.. eemmhhhh.. eemmhhhh”

Suara kuluman mulut bu juleha yang maju mundur mengoral si tole. Terasa aku merasakan cairan yang menjadi amunisi tole mau meledak akupun menghentikan kuluman bu juleha.

Aku pun menarik tubuh bu juleha ke atas dan membalik ke dinding. Posisinya sekarang bu juleha di berada di dinding sedangkan aku menghimpitnya. Aku langsung mengulum bibir sexynya bu juleha.

Cup.cup..cupp.. mmwuaacchhh..

Sluruppp..sluruupo..sluruppp..

Aku pun mulai membuka baju bu juleha, tak berselang lama bu juleha sudah bertelanjang dada. Apa yang dilakukan bu juleha tadi, aku menirunya. Aku membalas apa yang sudah bu juleha lakukan barusan. Mulai dari dagu, leher, lengan, ketekpun tak luput aku jilati. Persis apa yang dilakukan bu juleha tadi. Terdengar bu juleha teriak-teriak keenakan sambil menahan geli. Untungnya ruangan bu juleha ini di setting kedap suara jadi kami merasa aman suara kita tidak terdengari dari luar.

Setelah puas menghajar bagian atas tubuh bu juleha, tak luput puting payudara besarnya aku hajar. Aku pun mulai membuka CDnya. Kenapa tidak membuka rok? Karena bu juleha memakai baju terusan semacam gamis sehingga sekali buka langsung seliruhnya terbuka. Terlihat bulu-bulu kemaluan bu juleha bersih karena rajin di cukur dan di rawat.

Aku oun segera menjilat setiap inchi bagian terluar vaginanya. Keemudian aku mengangkat kaki bu juleha ke atas, sehingga bu juleha mengangkan dan memperlihatkan bentuk vagina yang kemerah2an. Aku oun mencari klitorisnya dan langsung menjilat. Terlihat bu juleha merem melek sambil wakahnya semakin memerah menahan geli.

“Aahhh.. aaahhh.. terus sayang. Jilat yang kuat sayangg.. aaahhh.. ahhh”

Sluruuppo.. sluruupop.. sluruuppp..

Bunyi jilatanku di klitoris bu juleha.. terlihat vagina bu juleha semakin basah dan becek. Aku pun tidak menghentikan jilatanku malah semakin cepat jilatan di klotisku.

“Aahhh.. teruss sayangg, terus . Sebentar lagi aku mau keluar. Janganberhenti. Hisap yang kuat sayang. Enak sekali jilatanmu. Aahh.. ahhh..aahhhh..”

Sluruppo..sluruppo..sluruppp

Aku terus menerus menjilat, aku tidak akan berhenti kalau bu juleha belum mencapai klimaks.

“Aaahhh.. aahhhh.. seidikit lagi” ucaonya sambil menggigit bibir bawah sama matanya terlihat merem kemudian “aku keluaar sayaanggg.. aaaahhh.. aahhh.. sudah geli jangan di hisap lagi” sambil masih merem menikmati sisa sisa klimaksnya.

Setelah beberapa detik, bu juleha minta di gendong untuk di rebahkan di sofa depan meja kerjanya.

“Ayo langsung masukin aja sayang. Vaginaku udah becek banget”

Aku pun tidak menjawab, hanya saja toleku aku arahkan ke vagina bu juleha.

Slebb.. slebb.. slebb

Batang kejantananku mulai maju mundur menghajar vagina bu juleha. Kepala bu juleha mendongak menahan kenikmatan efek dari tusukan batang kejantananku yang besar ini. Sesekali tangan bu juleha mengelus kadang juga memilin putingku.

Aku menusuk bu juleha sambil.menahan geli akibat pilinan putingku ini. Kelemahanku memang berada di putingku ini. Gila nikmatnya gila. Tapi aku terus menusuk bu juleha yang awalnya temponya pelan sekarang mulai meningkatkan kecepatan daya tusukanku.

Plok.. plokk.. Plok..

Plok.. Plok.. Plokk..

Begitulah bunyi benturan dua paha kami yang saling beradu. Kita sama mendesah keenakan.

“Aaahhh.. ahhh. Ahhh.. ahh.. terus sayangg. Tole bener-bener perkasa”

“Aahhh.. aku juga kegelian nih, ooh.. ohh”

Setelah saling menusuk, akhirnya tiba saatnya bu juleha mengerang ngerang seperti mau klimaks.

Plokk.. plokk.. plokk..

“Cepetin sayang. Aku mau keluar. Aahhh… aahhh.. ohhh.. ssshhh.. ahhh.. ohhh”

Plokk. Plokk. Plokk

“Aku keluar. Mmhhhh.. aaaahhhhhh” ucap bu juleha sambil meringis keenakan.

Serr.. serrr.. serr

Terasa tole tersiram air kenikmatan yang di keluarkan dari vagina bu juleha. Terlihat keringat kita berdua bercucuran akibat olahraga jahat ini. Meskipun AC sudah 16 derajat tapi tetap suhu ruangan ini panas.

“Kamu di bawah sayang. Aku mau di atas”

Aku pun mengeluarkan batang kejantananku dari liang senggamanya. Kemudian aku pindah posisi di bawah dan bu juleha merangkak naik ke atas tubuhku. Terlihat bu juleha memposisikan vaginanya di atas penisku.

Sleb. Sleb. Sleb

Bunyi ketika vagina beceknya mulai memasuki batang kejantananku. Terlihat wajah bu juleha mmeringis keenakan ketika vaginanya sudah terisi batang kejantananku. Kemudian pantat bu juleha mulai bergoyang kanan ke kiri, atas ke bawah sambil tangan bu juleha memilin putingku. Aku pun gak mau ketinggalan dengan meremas payudara dan memilin putinfnya. Gak bosen rasanya dengan payudara bu juleha ini.

Semakin lama goyangannya semakin cepat. Desahannya juga semakin lama semakin keras. Kita saling memuaskan birahi ini. Kadang juga bu juleha merunduk mencium bibirku dan mengulumnya. Aku pun menegakkan badanku jadi seperti duduk. Kemudian aku mengenyot payudara besar bu juleha gantian kanan dan kiri.

Bu juleha pun semakin nafsu ketika aku mengenyot payudaranya. Goyangannya semakin cepat naik turun, meliuk-meliuk seperti cacing kepanasan.

“Aaahhh.. ahhhh.. ooohh . Iyaa lagii sayangg. Kenyot yang kuat. Aaahhh.. oohhh.. aahhh”

Plokk.. plokk.. plokkk.. plokkk..

“Terus sayang.. terus.. sebentar lagi aku mau keluar. Aku gak kuat kalau diginiin.. aahhh.. aahhhh.. aahhh.. ahhhh”

“Aku juga mau keluar sayaanggg. Kita barengan ya? Ahhh.. aahhhh. “ imbuhku

sSluruppp.. sluruppp.. slurupppp.. sluruppp

Bunyi sedotanku do putinf mungilnya bu juleha.

Plok.. plokk.. plokk.. plokk..

“Aku keluar sayaaanggg.. aaaaaahhhhhh.. sssshhhh.. ahhhh”

Serr.. serrr.. serrr

Batang kejantananku di guyur cairan klimaks bu juleha ketiga kalinya.

“Goyang terus sayang. Sebentar lagi aku keluar. Geli banget sudah toleku ini. Aaahhh.. ahhh” ucapku saambil menahan nafas karena spermaku sudah berada di ujung.

Plok.. plokk.. plokkk

“Aahhhh.. aahhh.. aahh.. ayo kluarin. Aku sudah gak kuat goyang. Vaginaku sudah mulai linu”

Crot.. crott.. crott.. crot.. crot..

“Aaahhh.. sudah keluar sayangg.. enak banget. Puas aku dengan goyanganmu sayang” ucapku terengah-engah.

Bu juleha pun langsung ambruk ketika spermaku sudah membanjiri liang vaginanya sambil naik turun nafasnya. Kita seperti lari marathon mengelilingi lapangan 10x.

Hosshhh.. hosshh.. hossshh..

Deru nafas kami berdua saling bersahutan. Keringat oun tak luput bercucuran menghiasi wajah dan bafan kita.

“Aku puas banget sayang. Makassih ya. Love u”

“Sama sayang. Love u too”

Setelah istitahat beberapa menit, kita saling membersihkan diri di kamar mandi. Ruangan bu juleha di lengkapi kamar mandi sehingga kita tidak perli mengendap-ngendap seperti maling. Kemudian aku bersiap untuk oulang terlebih dahulu ke rumah sedangkan bu juleha masih memberesi pekerjaannya karena kita juga membawa kendaraan masing-masing.

***

Beberapa hari kemudian bu vika mengabari kalau perusahaanku memenangkan lelang service peralatan kantor. Pak karim senang aku oun juga senang. Kemampuanku dan kinerjaku semakin meningkat meskipun hanya lulisan SMA tapi dalam hal memajukan sebuah usaha bisa di bilang aki berhasil. Dari mulai cabang tokonya bu juleha aku pin mampu mengembangkan dan memajukan tokonya kemudian meubel juga dari yabg hampir bangkrut aku membangkitkan lagi ghiroh meubel ini.

Pak karim dan bu juleha pun senang dengan pencapaianku. Gak sia-sia selama ini mereka berdua mendidik dan membiayai kehidupan sepeninggal ibuku. Tapi aku tidak merasa bangga firi dengan pencapaianku ini, aku hanya merasa bersyukur dan beruntung saja.

Bu vika juga setelah bekerja sama denganku mengenai service meubel itu, masih sering menghubungiku. Setiap hari dia mengechat aku terlebih dahulu. Aku pun membalas dan kadang kalanya aku mendengarkan curhatnya. Sepertinya bu vika ada semacam nyaman dan suka denganku. Aku yang apa adanya dan kadang kalanya suka blak-blak an jika mengobrol. Mungkin itu yang membuat betah bu vika kalau lagi ngobrol denganku.

“Aahh.. sepertinya ada wanita lagi yang bisa di habisi si tole” gumamku mengingat beberapa hari terakhir sering berchat ria dengan bu vika.

Nikmat mana yang Engkau dustakan.

(Bersambung)

Daftar Part