. Skala Kehidupan Part 1 | Kisah Malam

Skala Kehidupan Part 1

0
370

Skala Kehidupan Part 1

PROLOG

Di sebuah rumah sederhana yang berdinding bambu, penyangganya dari kayu di atas tanah yang tidak seberapa luas ini. Tepatnya di ruang tamu terdapat 2 orang yang satunya berambut putih dengan kulit yang sudah keriput dengan anak berambut hitam pendek yang kulitnya coklat hidung agak mancung sedang bercengkerama di sore hari yang cerah ini.

“kek, tadi malam waktu kebangun kok tiba-tiba untung kangen ibu ya.. padahal satu minggu baru nengokin kita kek” ujar lelaki muda itu.

“kamu aja yang terlalu manja le, masak baru seminggu udah kangen. Gini lho le. Kamu itu sudah besar sudah mau sekolah SMA, aku harap kamu jadi pribadi yang tanggung jawab, jujur, dapat dipercaya orang, jangan khianati kepercayaan orang, dan satu lagi kalau ada masalah apapun itu jangan lari dalam masalah itu akan tetapi hadapi dan selesikan masalah itu, jangan segan-segan untuk meminta maaf apabila kamu yang telah melakukan kesalahan, intinya jangan mundur le, bekerja keras juga. Kakek ini sudah tua sewaktu-waktu kakek meninggalkan dunia ini kamu sudah siap menghadapi pahitnya dunia, bukan hanya kakek ibumu juga kalau sewaktu-waktu di panggil sama Yang Maha Kuasa kamu juga harus siap melanjutkan hidup. Pokoknya apapun yang terjadi dengan atau tanpa kakek maupun ibumu, kamu harus tetap melanjutkan hidup dengan kerja keras. Kamu tahu sendiri kita sudah gak ada sanak saudara di daerah ini. Ayahmu telah lama meninggalkan kamu jadi kamu harus siap le. “ ceramah kakek pada sore itu.

“baik kek, aku akan ingat pesan-pesan kakek ini” ujar anak itu.

“pinter cucu kakek satu-satunya ini” ujar kakek sembari mencium kening anak itu sambil mengelu-elus rambutnya.

Ya anak itu bernama untung, untung ferdinand nama lengkapnya. Dia hidup bersama kakeknya yang bernama Parjo di sebuah desa yang berada di pegunungan. Sedangkan sang ibu yang bernama Wati bekerja di kota sebelah timur dari desanya yang dijuluki sebagai kota pendidikan. Sang ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di seorang juragan dibidang kayu (meubel). Sejak kecil Untung sudah ditinggalkan ayahnya karena kecelakaan kerja di sebuah proyek pembangunan gedung. Akhirnya demi membiayai anaknya sekolah, sang ibu mau gak mau menjadi tulang punggung keluarga memutuskan bekerja menjadi pembantu rumah tangga itu. Sang Ibu satu bulan sekali pulang ke desa untuk menengok anak berserta orang tuanya untuk mengirim uang bulan sekalian kangen-kangenan bersama anaknya.

Tapi kebahagian kakek dan cucunya itu sirna katika lagi asyik bercengkerama di sore hari tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah sang kakek itu. Nampak sepasang suami istri beserta anaknya turun dari mobil yang bernilai ratusan juta itu yang tampak raut kesedihan terpancar dari muka suami istri itu.

“selamat sore mbah parjo, saya karim, ini istri saya juleha dan ini ine anak saya, saya yang selama ini mempekerjakan anaknya mbah yaitu mbak wati. Sebelumnya mohon maaf, Saya mau menginformasikan bahwa mbak wati tadi siang tiba-tiba pingsan di dapur. ‘Hiks.. hiks..hiks’ begitu saya dikabari bahwa mbak wati pingsan saya langsung pulang dan membawa dia ke rumah sakit. Dan setelah dilakukan pemeriksaan ternyata mbak wati mengidap kanker darah yang sudah stadium 4 ‘Hik.. hiks’. Dan barusan mbak wati menghembuskan nafas terakhir ‘Hiks.. hiks.. hiks’ dan kemudian saya langsung kemari untuk menginformasikan itu’” ujar pak karim sambil mengusap air mata yang keluar dari matanya.

“innalillahi wa inna ilaihi rojiun,, sekarang jenazahnya dimana pak?” tanya kakek sambil berlinangan air mata yang tak kuasa menahan kesedihannya dan memeluk cucunya.

“jenazahnya sedang dalam perjalanan kemari. Saya mohon maaf mbah tidak memberitahukan kondisi wati sedari tadi karena saya panik, keselamatan wati saya dahulukan tapi ternyata takdir berkehendak lain setelah dilakukan pemeriksaan dan perawatan intensif mbak wati menghembuskan nafas terakhirnya, sekali lagi maafkan saya mbah.” Ujar pak karim

“huuaaaa ibuuuuuuuu… ibuuuuuuu.. jangan tinggalin untung sendiri ibuuuu…” sambil nangis menjerit-jerit untung seakan gak percaya kalau ibu meninggalkannya secepat itu.

Tak lama kemudian mobil ambulan datang dan warga desa sang kakek berduyun-duyun datang untuk melayat sang jenazah. Setelah dimandikan dan disholati malam itu juga jenazah mulai dikubur di pemakaman desa. Banyak warga menangisi kematian mbak Wati disamping beliau baik dan ramah di lingkungan desa itu warga juga memikirkan anak semata wayangnya yang menjadi yatim piatu mulai hari ini.

Setelah jenazah selesai dikuburkan, banyak warga yang kembali ke rumah masing-masing karena hari sudah malam. Sedangkan pak karim sekeluarga masih di kediaman mbah Parjo untuk menemani dan menenangkan Untung beserta kakeknya.

“Mbah, mohon maaf sebelumnya untuk menebus kesalahan saya karena kelalaian saya terhadap kesehatan mbak Wati almarhumah selama ini, maka ijinkan saya membawa cucu mbah ini nak untung untuk ikut saya ke kota, saya akan membiayai sekolah SMAnya dan kelangsungan hidupnya mbah” pak Karim memulai pembicaraan kepada mbah Parjo.

Tampak kakek berpikir sejenak yang kemudian “gimana kamu cu?mau ikut pak karim ke kota?” tanya mbah parjokepada cucunya.

“aku terserah kakek aja bagaimana baiknya tapi kalau aku ke kota, kakek disini sama siapa?”sahut untung

“ Kakek ini sudah tua cu dan sudah terbiasa hidup sendiri semenjak ditinggal nenekmu. Mau ya cu? Biar kamu mandiri dan gak ketergantungan sama kakek terus”.imbuh mbah parjo.

“gini Pak karim, saya ijinkan untuk membawa cucuku satu-satunya ini ke kota akan tetapi saya tidak setuju kalau untung hanya jadi benalu di keluarga pak karim. Saya maunya cucu kesayanganku ini ajari kerja disana kerja apa aja terserah.jadi pembantu disana suruh nyapu, ngepel, cuci atau apa aja yang bisa dikerjakan untung. Atau bekerja di usahanya bapak jadi tukang kayu juga gak masalah. Gak perlu di kasih gaji cukup di kasih uang saku dan biaya hidupnya saja. Gimana bapak karim?’ tanya mbah parjo.

“apa tidak mengganggu sekolahnya Untung mbah kalau saya pekerjakan Untung di sana?” tanya bapak karim.

“tidak masalah pak, biar untung belajar mandiri yang pertama, yang kedua biar Untung bisa bagi waktu antara sekolahnya dan tanggung jawab kerjaannya, yang ketiga saya ingin bapak mendidik untung untuk bekerja keras dimulai dari sekarang, biar dia tahu bagaimana sulitnya mancari uang pada jaman sekarang. Pahamkan apa yang saya maksud pak?” mbah parjo memberikan alasan agar si cucu ini kuat dalam menghadapi pahitnya dunia nantinya.

“kalau itu keinginan mbah parjo saya senang hati menerimanya akan tetapi untuk bekerja di bisnis kayu, saya rasa belum waktunya mbah. Kasian untung nanti gak bisa fokus, kalau jadi penjaga rumah sekaligus merawat taman yang didepan rumah sepertinya bisa mbah karena gak banyak waktu tersita dan untung masih bisa fokus di sekolahan.” Terang pak karim ke mbah parjo.
Sambil manggut-manggut mbah parjo menyetujui saran dari pak karim yang terpenting keinginan mbah parjo agar cucunya ini tidak ketergantungan sama orang lain dan bisa bemanfaat bagi pak karim sekeluarga sudah tercapai.

“kapan untung bisa di bawa pak karim?” tanya mbah parjo.

“lusa atau 4 harian lagi siap saya bawa mbah, besok saya carikan sekolah untuk untung terlebih dahulu kalau sudah siap saya jemput nak untung kemari mbah.” Jawab pak karim.

“baik mbah, sepertinya hari sudah semakin larut malam saya pamit dahulu, sekitar 4 hari lagi saya kesini untuk menjemput nak untung. Dan sekali lagi mohon maaf kalau saya lalai dalam menjaga mbak wati sampai saya gak tahu dia mengidap penyakit parah seperti itu.” Pamit pak karim dengan wajah yang masih menggambarkan raut kesedihan.

“namanya takdir mau diapakan lagi pak karim. Harus ikhlas melepas kepergian anak saya satu –satunya. Dan satu lagi tolong jaga cucu saya selagi di sana ya pak, seminggu sekali atau lebih saya akan menengok cucu saya nanti. Dan terima kasih banyak atas kebikan pak karim menolong keluarga saya ini. Hati-hati di jalan pak karim.” Imbuh mbah parjo.

“baik mbah, saya berjanji akan menjaga untung di sana dan rumah saya terbuka untuk kedatangan mbah parjo di sana. Pamit dulu mbah. Assalamualaikum wr wb .” ujar pak karim samil sambil berjalan ke mobil bersama istri dan anaknya dan tak lama kemudian mobil melaju meningglkan kediaman mbah parjo.

“alhamdulillah cu, kakek sudah lega ada yang mau menampung kamu. Dan berjanjilah kakek selalu menjaga martabat keluarga pak karim, turuti perintah pak karim dan istri jangan membantah. Belajar tanggung jawab. Disanalah hidup sesungguhnya dimulai le.” Lagi-lagi mbah parjo berceramah ke sang cucu

“baik kek, aku akan melakukan yang terbaik di sana.” Ujar untung kepada kakeknya sambil dielus-elus rambut untung oleh sang kakek.

“yasudah segera bersih-bersih diri dan tidur, sudah malam cu.” Ujar sang kakek sambil masuk kedalam rumah.

==============================================================================

Part 1

(POV UNTUNG)
Setelah kakek menyuruhku tidur aku kemudian bersih-bersih diri dan selanjutnya berbaring di kamar untuk istirahat akan tetapi sedari tadi aku tidak bisa memejamkan mata karena pikiranku kalut aku meratapi garis hidup yang diberikan oleh Tuhan ini. Ternyata namaku tidak seberuntung hidupku, aku termenung dan teringat masa-masa kecilku dulu waktu kedua orang tuaku masih lengkap.

>>>>>>>>>

Namaku Untung, lengkapnya yaitu Untung Ferdinand. Aku di lahirkan 16 tahun yang lalu dari rahim Ibuku yang bernama Watiniah panggilannya Wati dan Bapakku bernama Junaidi tapi panggilan John gak tahu kenapa dari huruf U bisa berganti dengan huruf O jadi aku juga ikut-ikut memanggil nama bapak dengan nama bapak John. Kedua orang tuaku sangat sayang padaku, kita bertiga merupakan keluarga yang sempurna. Bapak John sangat perhatian kepada Ibu maupun aku, bapak selalu menuruti apa yang aku maupun Ibu inginkan. Bapak sosok yang menjadi pelindung bagiku dan Ibuku, bertanggung jawab dan bekerja keras. Beliau bekerja di sebuah PT di bidang kontraktor, tidak heran kadang beliau pulang kadang pagi kadang siang kadang malam malah kalau ada proyek besar beliau bisa-bisa tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Bapak menjabat sebagai kepala mandor bagian lapangan kala itu. Selain sifat itu ada beberapa sifat negatif dari bapak yaitu usil dan mesum, untuk sifat mesumnya aku sembunyikan dari Ibuku kalau Ibu sampai tahu bisa-bisa di bakar rumah ini akibat kemarahan Ibu. Teringat jelas dulu sewaktu aku kecil, aku di ajak jalan-jalan berdua dimana aku di ajak ke tempat bermain oleh Bapak, ada dingdong, mandi bola, odong-odong, boom-boom car, dll. Bapak memberi kesempatan main sepuasnya kepadaku, kata Bapak ini merupakan hadiah karena rangkingku ada di 5 besar waktu kenaikan kelas. Setelah seharian aku bermain Bapak mengajak pulang akupun mengiyakan karena aku juga sudah puas. Waktu keluar dari arena tempat bermain ada mainan tembak-tembakan akupun menunjuk dan merengek-rengek untuk di belikan mainan itu, dengan menghela nafas akhirnya bapak menganggukan kepalanya tanda dia setuju. Kita pun berjalan ke pedagang mainan itu.

“berapa harganya ini mbak?” ucap bapak sambil menunjuk mainan tembak-tembakan kala itu.

“enam puluh ribu masnya. Buat anaknya ya ini mas, duh ganteng banget anaknya” ucap penjual sambil menggoda agar mainannya terbeli.

“aihh, bisa aja mbaknya ini, kalau anakku ganteng bapaknya juga ganteng kan” ucap Bapak menggoda penjualnya. Meskipun ada aku di situ kemesuman bapak mulai terlihat. Dia seakan tidak peduli akan keberadaan aku ini. Memang penjualnya terlihat cantik, sexy, payudaranya lumayan besar dengan hidung pesek bibir tipis dan rambut di cat kuning seperti rambut tanaman jagung.

“ihh bisa aj mas ini” kata penjualnya sambil tersenyum menggoda.

“namaku john mbak, john hofman orang-orang memanggilku. yaudah aku ambil mainan ini mbak, enggak saya tawar, ini uangnya mbak” kata bapak sambil memberikan uang seratus ribu.

“gak usah kembalian mbak, kembaliannya buat mbaknya itu buat beli BH aku liha-lihat gak cukup itu sudah Bhnya” imbuh bapakku sambil melirik buah dada penjual itu

“iya ni mas, tahu aja kalau kekecilan Bhku. Makasih ya mas nanti waktu pulang uangnya aku buat beli BH beneran” ucap penjual itu sambil mengedipkan mata ke bapak.

“sudah pak ayo pulang, kasian ibu di rumah” potongku untuk meredam kemesuman bapak.

“aku pulang dulu mbak, kapan-kapan kita sambung lagi.” Ucap bapak sambil mengedipkan mata ke penjual itu. ‘Dasar bapak ganjen, Huft’ pikiranku waktu itu.

Seperti itu salah satu kemesuman bapak yang dilakukan di depanku, sebenernya masih banyak lagi kemesuman bapak menggoda janda-janda yang lagi jualan. Meskipun mesum tapi bapak memperlakukan ibu seperti ratu di kerajaannya. Tapi kalau Ibu sudah marah bapak lari tunggang langgang meskipun hanya pakai CD.

aku dan kedua orang tuaku mengontrak rumah di kota dengan tujuan agar bapak tidak kejauhan waktu berangkat ke kantornya. Sedangkan kakekku tetap berada di desa pada saat itu.

Hanya bertahan 10 tahun sejak aku lahir kebahagiaanku bersama kedua orang tuaku. Teringat jelas pada waktu itu ketika aku pulang dari sekolah dengan jalan kaki dari kejauhan rumah tampak rame, ada tetangga bahkan ada kakek juga di situ akupun berlari menuju rumah, begitu kakek melihatku berlari beliau langsung mendekatiku dan menggendongku sambil menangis. Aku kebingungan waktu itu kenapa kakek menangis waktu itu apa yang terjadi.

“kenapa menangis kek? Apa yang terjadi, kenapa rumahku rame kek” tanyaku kebingungan waktu itu.

“ayahmu cu, ayahmu meninggal cu. Bapakmu jatuh waktu membangun proyek gedung.. yang ikhlas ya cu yang sabar cu masih ada kakek huuahh..huaahh” kata kakek sambil menangisi kepergian bapak.

“tidaaaakkkk, aku tidak percaya dengan kakekk” akupun melepaskan diri dari gendongan bapak dan berlari memasuki rumah terlihat bapak berbaring dengan kain kafan menempel di tubuhnya kemudian aku mencari ibu ternyata ibu di kamar sepertinya beliau masih pingsan.

“Bapaaaakkk.. bangunnn pakkkkk.. jangan tinggalin untung pak, aku gak ada temen main pakkk. Huaahh.. huaaahhh.. huaaahhh “ aku menangis dan meraung-meraung memanggil nama bapak. Kemudian gelap dan gelap melanda diriku.

Di dalam kegelapan itu tiba-tiba sesosok Bapak muncul di hadapanku sambil tersenyum, inginku memanggil bapak tapi untuk membuka mulutpun susah, untuk menggerakkan tangan juga susah. Tiba-tiba bapak bilang “anakku Untung, maafin Bapak ya nak, Bapak harus pergi. Jaga diri baik-baik ya nak, jadi pribadi yang mandiri, bekerja keras, tanggung jawab dan jujur. Jaga Ibumu dan Kakekmu. Kalau kangen Bapak, pergilah ke makam Bapak dan doakan Bapak pergi dengan lancar menghadap Tuhan. Bapak pamit ya nak, maafin Bapak” ucap bapak wakti itu kemudian sosok bapak hilang secara perlahan-lahan.

Aku mulai membuka mata terlihat disana ada Ibu dan Kakek serta beberapa tetangga lainnya, kemudian aku bangun dan mencari Bapak lagi, kemudian ibuku memelukku dan bilang bahwa bapak sudah dimakamin sekitar satu jam yang lalu. Akupun menangis di dalam pelukan Ibu sedangkan di belakangku Kakek mengusap-usap rambutku sambil meneteskan air mata.

******

Selang seminggu setelah kematian Bapak, Ibuku membawa aku ke tampat tinggal Kakek katanya disini sudah gak ada siapa-siapa lagi jadi mending hidup didesa bersama kakek disana. Untuk sekolahku akhirnya juga pindah dari kota ke desa dimana tempat tinggal kakek berada. Fix dari anak kota menjadi anak desa mulai sekarang. Sejak kepindahan ke desa akupun langsung berbaur dengan teman sebayaku. Aku mempunyai banyak temen sekolah maupun temen bermain didesaku, setelah pulang dari sekolah, bermain, kemudian sore hari ngaji di masjid, setelah maghrib ibu ngajari aku pelajaran sekolah setelah isya aku tidur sampai pagi begitu terus rutinitasku sehari-hari dan itu sukses membuatku melupakan kesedihan di tinggal seoang Bapak. Ibuku juga tidak mau mencari suami lagi dia bilang ingin membesarkan aku seorang diri mungkin saking cintanya kepada Bapak yang membuat ibuku enggan membuka hati untuk pria lagi.

Setelah beberapa bulan tinggal didesa bersama Kakek, tantangan hidup semakin berat dimana untuk makan susah, hidup serba kekurangan, untuk jajan bersama teman aku tidak bisa karena ibu tidak memberikan uang saku di sekolah, uang SPP sekolahpun sering telat membayarnya. Ibu bilang kepadaku ingin bekerja karena pesangon dari perusahaan ayah sudah habis dan kakek juga bekerja selagi kuat maklum kakek sudah berusia tua untuk bekerjapun seminggu kadang 2 hari itupun jadi buruh tani. Bisa di bayangkan kebutuhan sehari-hari dengan biaya bekerja kakek yang tidak seberapa tidak akan cukup, hal itu membuat hidupku bersama ibu jadi susah.

Satu tahun lamanya kita sekeluarga hidup kesusahan hingga akhirnya pada saat itu aku kelas 5 SD, Ibu mengabarkan ke kakek dan aku bahwa tetangga pada waktu masih ngontrak di kota mengabarkan bahwa ada lowongan kerja. Tetangga itu jauh-jauh sampai ke desaku hanya untuk menyampaikan informasi bahwa ada seseorang membutuhkan tenaga untuk bersih-bersih rumah, mengepel, menyapu, mencuci strika dan memasak dan gajinya juga lebih dari cukup. Ibu hanya bilang kepada tetangga itu untuk membicarakan dulu bersama kakek dan aku dan ibu juga meminta nomer telepon untuk memberi keputusan di ambil apa tidaknya secepatnya.

“Kek, anakku Untung. Tadi ada tetangga di kontrakan kota dulu namanya Ibu Anik memberikan informasi ada lowongan kerja jadi pembantu di kota, dia datang jauh-jauh dari kota kek hanya memberikan informasi itu, gimana menurut Kakek?”

“gini nduk, kita ini hidup serba susah sekarang tahu sendiri kakek sudah gak kuat kerja, kerja hanya seminggu dua kali saja itupun kalau badan kakek benar-benar fit sedangkan untuk membiayai hidup kita bertiga gak akan cukup, belum biaya sekolahnya untung ini gak akan mampu nduk. Kalau kakek boleh berpendapat ini merupakan rejeki kamu dan cucuku untung. Kakek memberi restu dan ikhlas melepas kamu pergi ke kota. Tinggal bagaimana dengan kamu sendiri, siap gak bekerja jadi pembantu rumah tangga itu nduk?” penjelasan Kakek.

“kalau menurut kamu gimana nak, gak apa-apa Ibu tinggal di ke kota?” ibu bertanya kepadaku

“kalau Untung se gak apa-apa bu, Untung juga malu setiap di tanyai guru kapan bisa bayar spp, untung juga malu ketika temen mengajak jajan bareng kan pasti untung menolak terus ajakan temen bu, toh disini Untung sama Kakek, kalau Untung kangen tinggal nyuruh ibu pulang.” Jawabku kepada Ibu.

“iya nak Ibu janji setiap seminggu atau dua minggu sekali ibu akan pulang ke desa. Iya sudah kalau begitu Ibu terima aj ya lowongan itu, ibu mau ke wartel sebentar telepon ibu Anik dulu” kata ibuku

“Aku ikut ya Bu” kataku kemudian Ibu menganggukan kepala.

Selang 3 hari kemudian Ibu berangkat ke kota untuk memulai bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Setelah acara peluk-pelukan sama Ibu akhirnya ibu berangkat ke kota dengan pakai ojek di lanjutkan memakai angkutan umum. Mulai hari ini aku hanya hidup berdua bersama Kakek di desa ini.

*****

Tak terasa aku sudah lulus SD dan melanjutkan sekolah ke SMP, gaji dari Ibu bekerja lebih dari cukup untuk sekedar makan sehari-hari bersama Kakek dan uang saku ke sekolah, hidupku sudah tidak merasa susah lagi. Memang awalnya Ibu seminggu kadang dua minggu sekali pulang ke rumah untuk menjengukku dan kakek sekalian memberi uang hasil gajinya. Tapi lama kelamaan ibu hanya pulang sebulan sekali bahkan hingga dua bulan sekali pulang. Mungkin ibu lagi sibuk-sibuknya di sana jadi belum ada waktu pulang begitu pikiranku kala itu.

Aku didaftarkan Ibu pada saat itu pulang di sekolah SMP negeri yang berada di desa sebelah, ibu juga membelikan aku sepeda federal bekas untuk pulang pergi ke sekolah. Tak terasa hari ini hari pertama kegiatan belajar mengajar di ke skolah setelah 3 hari lalu ada kegiatan perkenalan sekolah atau lebih dikenal dengan istilah MOS. Setelah kegiatan belajar di hari pertamaku sekolah aku pulang menuju parkiran untuk mengambil sepeda federalku. Pada saat mengambil itu aku di hadang kakak kelas dan memalakku. Aku ketakutan pada saat itu karena kondisi yang memalakku kakak kelas akhirnya sisa uang saku yang seharusnya aku tabung aku kasihkan ke mereka kemudian aku dilepas sama gerombolan kakak kelas. Ternyata tidak hari itu saja gerombolan kakak kelas memalakku bahkan setiap hari mereka memalakku. Akhirnya aku jengah dengan kelakuan mereka aku menolak ketika mereka memalakku. Sudah aku sangka efek domino ketika aku menolak untuk memberikan uang aku dipukul, gebuk, dan dikeroyok oleh gerombolan kakak kelas. Pada saat itu aku hanya bisa melindungi kepala dari amukan gerombolan kakak kelas. Untungnya satpam sekolahan berkeliling ke parkiran sepeda akhirnya setelah di teriaki satpam gerombolan kakak kelas berhenti memukulku dan lari tunggang langgang dari kejaran satpam sekolah. Akhirnya aku pulang dengan kondisi lebam, dahi benjol, bibir dan hidung berdarah.

Setelah sampai rumah aku mengadu ke kakek bahwa aku baru saja di keroyok. Kakek yang mendengarkan ceritaku kenapa aku di keroyok bukan sedih atau marah cucunya dikeroyok malah tertawa terbahak-bahak. Aneh memang kakekku itu..

“hahahahahaha, cu cu.. kamu di pukul gitu aja sudah nangis. Mana jagoan Kakek ini. Masak kamu gak membalas satupun pukulan?”

“gimana mau bales Kek, aku aja di keroyok 4 orang. Kalau satu lawan satu aku masih bisa mukul Kek” sungutku sambil cemberut melihat Kakek tertawa renyah.

“Kakek aja dikeroyok 4 orang masih muda aj Kakek bisa menang” ujar kakek dengan jumawa

“ya kan Kakek guru silat, wajarlah menang Kek” kataku bersungu-sungut. Memang Kakekku seorang guru silat, beliau bisa dikatakan pendekar di desaku.

“makanya kamu dulu mau Kakek ajari silat gak mau, sekarang di keroyok nangis, pakai rok aja kamu cu cu. Hahahaha” kata Kakek sambil tertawa lepas. Memang dari SD dulu setiap kakek mengajar silat akupun diajaknya akan tetapi aku selalu menolak karena gak penting. Tapi sekarang aku tahu pentingnya belajar silat untuk menjaga dan melindungi diri dan orang yang membutuhkan pertolongan.

“yaudah besok ajari aku silat kek, aku mau bales kakak kelas yang sudah ngeroyok aku ini” akupun bersemangat untuk belajar silat.

“gitu donk itu baru cucuku”kata Kakek sambil menepuk-nepuk pundakku.

Besoknya aku mulai diajari dasar silat dimulai dari latihan fisik, kemudian latihan teknik, dan terakhir latihan taktik. Di latihan fisik aku di gembleng habis-habisan oleh kakek dari lari sit up maupun push up sampai aku muntah-muntah, kakekku melihat aku muntah Cuma senyum sinis dan bilang “dasar lemah”. Aku yang merasa diremehkan oleh kakek meningkatkan latihan fisikku ini. Setelah latihan fisik kemudia latihan teknik meliputi kuda-kuda, sikap pasang, arah, pola langkah, pukulan, tendangan, tangkisan dan guntingan. “Untuk latihan taktik nanti kalau sudah kuat fisik dan tekniknya” begitu kata kakek, setelah 2 jam latihan terakhir sparring melawan kakek. Besok muka lebam, gosong seolah-olah menjadi makanan sehari-hariku kalau sparring lawan kakek.

Berselang 2 minggu aku sudah matang dalam hal fisik dan teknik aku mulai berlatih taktik, taktik ada 2 yaitu serang dan bela. Pembelaan dimulai dengan pembuangan yaitu membuang tenaga lawan agar staminanya habis, kemudian tangkisan, elakan dan pelepasan kuncian. Penyerang di mulai dari serangan dengan tangan berupa pukulan, colokan, tebasan, sikutan dan kuncian kemudian serangan kaki dimulai dari tendangan, dengkulan (lutut), serkel dan menjatuhkan (membanting) lawan. 1 bulan cukup aku sudah mempunyai dasar silat kalau sparring dengan kakek juga hanya kalah tipis saja.

Sebenernya aku sudah tidak timbul dendam kepada kakak kelas yang mengeroyokku kemarin karena malam latihan di sekolah pun aku ngantuk dan sepertonya si kakak kelas juga gak pernah lagi memalakku. Tapi tepat seminggu setelah aku mempunyai dasar silat entah momen pas atau bagaimana si kakak kelas berulah lagi ketika sekolah sudah sepi, aku sengaja pulang telat karena aku harus menyalin tugas dulu buru-buru berjalan ke parkiran. Tiba-tiba dari belakang ada yang teriak

“berhenti !!!” kata kakak kelas yang bernama beni. Aku tau setelah tanya-tanya temen-temen kelas

“kenapa mas?” tanyaku

“biasa setoran, ada uang lima ribu gak?” kata beni

“sebentar-sebentar bukannya kamu dulu yang kita keroyok?” temennya beni ikut berbicara

“oh iya bener dia orangnya” sahut temen satunya lagi

“ayo sini uangnya apa mau kita keroyok lagi kayak dulu” sahut temennya lagi. Total 4 orang mengerubungiku.

“hhahahaha, jangan main keroyok donk, malu tuh pakai aj rok dulu kalau mau ngeroyok” aku tertawa mengejek sambil melihat mereka dengan tajam.

“bacot lu, biar aku yang ngadepi bocah cecunguk ini” sahut beni yang tidak terima dengan perkataanku.

“jangan disini, dilapangan belakang aja biar luas” sahutku mencoba memprovokasinya.

Akupun berjalan ke lapangan, kakak kelas di depan sedangkan aku di belakang. Jarak 100 meter belum sampai lapangan mereka berhenti tiba-tiba beny balik badan dan melakukan tendangan setinggi dada.

Akupun yang sudah siaga karena feeling pasti kakak kelas akan menyerang tiba-tiba langsung menghindar kesamping aku pun mengayunkan pukulan tangan ke arah samping kepala dan pas kena telinganya, sebenernya dia sempet menangkis pukulanku tapi kekuatan tanganku yang sudah telatih lebih kuat dari pada tangkisan tangan beny.

BUGH!! “aduh” teriak beny waktu terjatuh. Pasti telinganya berdengan kena pukulanku

Aku yang tidak melepas kesempatan langsung mendatangani menginjak-injak kepala dan wajah beny.

BUGH.. BUGH..BUGH..BUGH..BUGH !!

Entah sudah berapa injakan aku lepaskan beni hanya melindungi kepalanya, tahu kalau kepalanya dilindungi perut dan dadanya terbuka kemudian aku menginjak perut dan dadanya. Beny melotot sambil muntah darah.

Aku yang kurang fokus terhadap 3 temennya tiba-tiba dari samping aku di tendang. Sebenernya tendangannya gak keras tapi sengaja aku berguling untuk menjaga jarak.

Gawat 3 lawan 1. Kalau aku gak segera sekali pukul tumbang bisa dikeroyok lagi ini.

Terlihat temennya menyerang dengan memukul dari arah samping kepala, aku reflek menangkis dengan tanganku menempel di telinga kiri kepalaku aku kerasin biar imbang setelah memukul lururs menggunakan kekuatan lengan dan badan digerakkan sedikit condong ke depan pukulanku masuk tepat kena rahangnya.

BUGH !! terlihat dia langsung jatuh dan pingsan

Tinggal 2 lawan lagi. Setelah tumbang aku fokus kedua temennya yang menyerang bersamaan dari arah kanan dan kiriku, dari arah kanan terlihat dia menendang dan dari kiri memukul akupun menggesar badanku kekiri tendangan dari arah kanan hanya menendang angin tapi pukulan dari kiri masuk ke tempurung kepalaku untungnya aku sudah melindungi kepalaku dengan tangan kiri menempel kepalaku jadi pukulannya setengah mengenai tanganku sengah lagi mengenai kepalaku. Setelah pukulannya mengenai tangan dan kepalaku aku langsung menyerang balik dengan memukul lurus ke depan dengan badan condong ke depan tepat mengenai rahangnya lagi.

BUGH !! Dia jatuh dan pingsan lagi

“hohohoho tinggal satu lagi, saatnya bermain-main” ucapku pelan

Begitu melihat temennya jatuh dan pingsan dia menyerang dan menghajarku habis-habisan, pukulan kanan kiri terus menerus dilakukan, aku dengan mudah menangkis dengan tangan kanan dan kiri. Terlihat sesekali dia juga menendang kena pahaku karena kuda-kudaku kuat maka tendangannya tidak mampu membuatku goyah. Terlihat dia sudah lelah memukul yang hanya kena tangkisan tanganku

Aku langsung menyerang dengan menendang lutut samping, dia langsung goyah karena tanpa dasar kuda-kuda kuat, aku langsung memukul lurus..

BUGH !! pukulanku terkena hidungnya dan langsung berdarah.

Tanganku menangkap belakang kepala sedikit menarik kedepan aku meloncar sambil mengarahkan lutut tepat di wajahnya.

BOOMMM !!! bibirnya berdarah, giginya entah tanggal atau tidak aku tidak peduli, dia jatuh dan aku menginjak-injak wajah, dada dan perutnya.

BUGH.. BUGH.. BUGH.. BUGH !!!

“ampunn” kata dia dengan suara pelan sambil tangannya melindungi dada dan kepala.

Akupun menghentikan seranganku dan bilang

“jangan malak dan mengangguku lagi” kataku terlihat dia menganggukkan kepala dengan wajah berdarah-darah.

Akupun langsung berjalan meninggalkan mereka dan menuju parkiran mengambil sepeda untuk pulang.

Sejak saat itu aku gak pernah di palak lagi dan aku bisa belajar di sekolah dengan tenang. 4 gerombolan kakak kelas pun tetep memalak tapi dia gak berani memalakku. Dan satu kejadian lucu ketika dia malak salah satu siswa dan dia melihatku maka dia urungkan malak dan berjalan menjauh. Akupun senyum-senyum aja melihat kelakuan mereka. Akupun tetap berlatih silat bersama kakek karena silat juga di samping untuk membela diri, silat juga bertujuan untuk menahan emosi, mendatangkan aura-aura positif yang masuk ke tubuh kita dan yang pasti untuk olahraga malam.

*****

Tak terasa aku sudah menginjak kelas 3 SMP, di kelas 3 SMP ini masa puberku dimulai, dimana aku mulai mengenal bokep mulai dari barat, jepang, bahkan IGO pun menjadi koleksiku. Aku dibelikan HP oleh ibuku dengan alasan untuk mempermudah komunikasi bila kangen dengan ibu atau ibu kangen denganku. Tapi hpku bukan hp modern sekarang ini hpku pada waktu itu nokia 3310 yang penting bisa untuk berkomunikasi dengan Ibu jika Ibu tidak pulang. Kadang pula saat weekend aku ke kota hanya sekedar ketemu Ibu bila Ibu gak bisa pulang ke desa.

Selain mengenal bokep, aku juga mulai mengenal cewek, dalam artian aku sudah bisa naksir cewek yang menjadi temen SMP saat itu. Nita adalah cewek yang pertama kali aku taksir, dengan kulit putih, hidung mancung, bibir sexy dan rambut lurus sedikit berombak menambah daya tarik tersendiri untuk aku. Tapi sayang rasaku ini tidak di tunjang dengan keadaan, aku sudah menyerah sebelum dia tahu bahwa aku naksir dia. Keadaan sosial tepatnya, dimana nita berada di golongan menengah keatas, dia anak seorang juragan terkenal di desa sebelah, sedangkan aku hanya seorang anak dari pembantu. Maka dari itu aku hanya jadi pemuja rahasianya saja, hanya memandang nita dari jauh tanpa berani melakukan pendekatan seperti temen-temenku yang lain. Pernah beberapa kali aku terpergok nita saat aku memandang sambil melamun, tapi setelah terpergok wajahku melengos seolah-olah tidak melihatnya. Sungguh memalukan apa yang aku alami saat itu. Keadaan seperti itu terus menerus sampai aku melaksanakan UAN dan dinyatakan lulus SMP.

Setelah pengumuman kelulusan pada saat itu hari sabtu dan ibu juga kebetulan bisa pulang ke desa. Akupun merayakan kelulusan bersama Ibu dan Kakek, kita bertiga bahagia karena nilaiku SMP masuk sepuluh besar. Sampai Ibu membuatkan tumpengan untuk di bagikan ke tetangga untuk merayakan kelulusanku. Akupun berencana masuk SMA favorit yang ada di kecamatanku, meskipun berada di kecamatan tapi SMA ini gak kalah dengan SMA di kota. Dan sekitar 2 minggu lagi aku berencana daftar di anatar oleh Ibuku. Saatnya Ibuku kembali ke kota, beliau berpamitan kepada Kakek. Dan aku mengantar Ibu ke pangkalan angkutan umum. Setelah sampai terlihat ada angkutan umum yang berhenti kemudian Ibu memelukku disitu aku punya firasat yang gak enak saat Ibuku memelukku. Ketika Ibu memelukku biasanya aku mencium bau parfumnya yang Ibu pakai akan tetapi pada saat itu aku mencium bau tanah di badan Ibu. Aku pun menanyakan itu ke Ibu.

“Bu bau badan Ibu kok aneh ya Bu? gak kayak biasanya, seperti bau tanah.” Tanyaku pada saat itu.

“mengarang aja kamu nak, Ibu sudah pakai parfum lho ini” kata ibuku sambil mencium bau badannya sendiri “ini lho baunya parfum Ibu” imbuh beliau.

“mungkin bukan bau badan Ibu ya yang aku cium tadi” jawabku bingung

“iya mungkin, yaudah Ibu berangkat dulu, jaga diri ya nak, jangan main jauh-jauh selama liburan dan kalau mau kemana-mana ijin Ibu dulu melalui telepon” pamit ibuku kepadaku sambil berjalan ke arah angkutan umum. Setelah ibu naik angkutan umum mulai berjalan menuju kota.

Malamnya pada waktu aku tidur, aku memimpikan ibu. Gak seberapa jelas mimpi apa pada saat itu tapi hanya yang aku ingat ada ibu di situ. Selang 3 hari kemudian akupun memimpikan ibu lagi sama kayak kemarin tidak seberapa jelas mimpi apa cuman ada ibu aja.

Besoknya sore aku menceritakan kepada kakek tentang apa yang aku alami itu tapi aku gak mau menceritakan mimpi itu aku hanya bilang kangen sama ibu.

“kek, tadi malam waktu kebangun kok tiba-tiba untung kangen Ibu ya.. padahal satu minggu baru nengokin kita kek” ujarku.

“kamu aja yang terlalu manja le, masak baru seminggu udah kangen. Gini lho le. Kamu itu sudah besar sudah mau sekolah SMA, aku harap kamu jadi pribadi yang tanggung jawab, jujur, dapat dipercaya orang, jangan khianati kepercayaan orang, dan satu lagi kalau ada masalah apapun itu jangan lari dalam masalah itu akan tetapi hadapi dan selesikan masalah itu, jangan segan-segan untuk meminta maaf apabila kamu yang telah melakukan kesalahan, intinya jangan mundur le, bekerja keras juga. Kakek ini sudah tua sewaktu-waktu kakek meninggalkan dunia ini kamu sudah siap menghadapi pahitnya dunia, bukan hanya kakek Ibumu juga kalau sewaktu-waktu di panggil sama Yang Maha Kuasa kamu juga harus siap melanjutkan hidup. Pokoknya apapun yang terjadi dengan atau tanpa Kakek maupun Ibumu, kamu harus tetap melanjutkan hidup dengan kerja keras. Kamu tahu sendiri kita sudah gak ada sanak saudara di daerah ini. Ayahmu telah lama meninggalkan kamu jadi kamu harus siap le. “ ceramah kakekku pada sore itu.

“baik kek, aku akan ingat pesan-pesan Kakek ini” ujarku saat itu.

“pinter cucu Kakek satu-satunya ini” ujar kakek sembari mencium keningku sambil mengelu-elus rambutku.

Akupun jadi tenang setelah mendapat petuah-petuah dari Kakek. Belum selesai ketenanganku tampak sepasang suami istri beserta anaknya turun dari mobil yang bernilai ratusan juta itu yang tampak raut kesedihan terpancar dari muka suami istri itu.

”itu bukannya pak Karim sama bu Juleha? kenapa beliau kesini? Dan dimana ibu?” batinku bertanya-tanya saat itu mengetahui ternyata pak karim yang datang ke rumah.

“Selamat sore mbah Parjo, saya Karim, ini istri saya Juleha dan ini ine anak saya, saya yang selama ini mempekerjakan anaknya mbah yaitu mbak Wati. Sebelumnya mohon maaf, Saya mau menginformasikan bahwa mbak wati tadi siang tiba-tiba pingsan di dapur. ‘Hiks.. hiks..hiks’ begitu saya dikabari bahwa mbak wati pingsan saya langsung pulang dan membawa dia ke rumah sakit. Dan setelah dilakukan pemeriksaan ternyata mbak wati mengalami pendarahan di otak karena sewaktu pingsan kepalanya membentur lantai ‘Hik.. hiks’. Dan barusan mbak Wati menghembuskan nafas terakhir ‘Hiks.. hiks.. hiks’ dan kemudian saya langsung kemari untuk menginformasikan itu’” ujar pak Karim sambil mengusap air mata yang keluar dari matanya.

Tak terasa air mataku keluar membasahi pipiku ternyata firasatku bener. Firasat ibu akan meninggalkanku benar, dari mulai bau tanah sampai dua kali mimpi tentang ibu.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,, sekarang jenazahnya dimana pak?” tanya Kakek sambil berlinangan air mata yang tak kuasa menahan kesedihannya dan memelukku. Akupun diem saja gak bisa berkata apa-apa. Aku berharap ini hanya mimpi. Tapi gak mungkin ini nyata, sangat-sangat nyata.

“jenazahnya sedang dalam perjalanan kemari. Saya mohon maaf mbah tidak memberitahukan kondisi mbak Wati sedari tadi karena saya panik, keselamatan mbak Wati saya dahulukan tapi ternyata takdir berkehendak lain setelah dilakukan pemeriksaan dan perawatan intensif mbak wati menghembuskan nafas terakhirnya, sekali lagi maafkan saya mbah.” Ujar pak Karim sambil mengusap air matanya.

“huuaaaa Ibuuuuuuuu… ibuuuuuuu.. jangan tinggalin untung sendiri ibuuuu…” aku tak kuasa menahan kesedihan aku menjerit dan menangis persis ketika bapak meninggalkan aku dulu.

Tak lama kemudian mobil ambulans datang dan warga desa berduyun-duyun datang untuk melayat jenazah Ibu. Setelah dimandikan dan disholati malam itu Ibu dikubur di pemakaman desa. Banyak banyak warga menangisi kematian Ibu yang secara mendadak itu.

Setelah jenazah selesai dikuburkan, banyak warga yang kembali ke rumah masing-masing karena hari sudah malam. Sedangkan pak Karim sekeluarga masih di kediaman kakek untuk menemani dan menenangkanku. Akupun melamun, dunia seakan runtuh, aku hanya punya kakek di dunia ini. Masih teringat kemarin ibu akan mengantarkanku mendaftar di SMA tapi belum juga mendaftar ibu sudah tiada.

Aku bingung.. !!!

Aku kalut…!!!

Aku berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah karena akan sangat membebani kakek, aku harus kerja tapi aku kerja apa dengan hanya modal ijazah SMP. Sempat terpikir apa aku bunuh diri saja mengikuti ibu dan Bapak yang sudah meninggalkan dunia ini. Tapi hatiku menolak aku harus kuat aku harus mandiri, teringat pesan bapak dulu waktu aku pingsan saat bapak meninggal. Aku gak boleh lemah.

Tiba-tiba.

“Mbah, mohon maaf sebelumnya untuk menebus kesalahan saya karena kelalaian saya terhadap kesehatan mbak Wati almarhumah selama ini, maka ijinkan saya membawa cucu mbah ini nak untung untuk ikut saya ke kota, saya akan membiayai sekolah SMAnya dan kelangsungan hidupnya mbah” pak Karim memulai pembicaraan kepada mbah Parjo.

Tampak kakek berpikir sejenak yang kemudian “gimana kamu cu?mau ikut pak karim ke kota?” tanya kakek kepadaku.

Aku berpikir sejenak. Menimbang tawaran dari Pak Karim. Aku yang berpikir akan kerja seoalh-olah punya harapan baru untuk tetap bisa bersekolah. Mungkin akan lebih baik kalau namatin SMA dulu baru kerja itu lebih baik daripada kerja hanya bermodalkan ijazah SMP. Tanpa menunngu lama aku menjawab

“aku terserah kakek aja bagaimana baiknya tapi kalau aku ke kota, kakek disini sama siapa?”sahutku dengan cepat

“ Kakek ini sudah tua cu dan sudah terbiasa hidup sendiri semenjak ditinggal nenekmu. Mau ya cu? Biar kamu mandiri dan gak ketergantungan sama kakek terus”.imbuh kakek akupun menganggukan kepala sebagai tanda menerima tawaran pak Karim.

“gini Pak Karim, saya ijinkan untuk membawa cucuku satu-satunya ini ke kota akan tetapi saya tidak setuju kalau untung hanya jadi benalu di keluarga pak karim. Saya maunya cucu kesayanganku ini ajari kerja disana kerja apa aja terserah.jadi pembantu disana suruh nyapu, ngepel, cuci atau apa aja yang bisa dikerjakan untung. Atau bekerja di usahanya bapak jadi tukang kayu juga gak masalah. Gak perlu di kasih gaji cukup di kasih uang saku dan biaya hidupnya saja. Gimana bapak karim?’ tanya mbah Parjo.

“apa tidak mengganggu sekolahnya Untung mbah kalau saya pekerjakan nak Untung di sana?” tanya bapak Karim.

“tidak masalah pak, biar untung belajar mandiri yang pertama, yang kedua biar Untung bisa bagi waktu antara sekolahnya dan tanggung jawab kerjaannya, yang ketiga saya ingin bapak mendidik untung untuk bekerja keras dimulai dari sekarang, biar dia tahu bagaimana sulitnya mancari uang pada jaman sekarang. Pahamkan apa yang saya maksud pak?” kakek memberikan alasan agar aku kuat dalam menghadapi pahitnya dunia nantinya.

“kalau itu keinginan mbah Parjo saya senang hati menerimanya akan tetapi untuk bekerja di bisnis kayu, saya rasa belum waktunya mbah. Kasian untung nanti gak bisa fokus, kalau jadi penjaga rumah sekaligus merawat taman yang didepan rumah sepertinya bisa mbah karena gak banyak waktu tersita dan untung masih bisa fokus di sekolahan.” Terang pak karim ke kakekku

Sambil manggut-manggut kakek menyetujui saran dari pak Karim. Sepertinya tujuan kakek ini agar aku tidak tergantung dengan orang lain atau benalu bagi orang lain dan yang pasti bermanfaat bagi keluarga pak Karim.

“kapan untung bisa di bawa pak Karim?” tanya kakek.

“lusa atau 4 harian lagi siap saya bawa mbah, besok saya carikan sekolah untuk untung terlebih dahulu kalau sudah siap saya jemput nak Untung kemari mbah.” Jawab pak Karim.

“baik mbah, sepertinya hari sudah semakin larut malam saya pamit dahulu, sekitar 4 hari lagi saya kesini untuk menjemput nak Untung. Dan sekali lagi mohon maaf kalau saya lalai dalam menjaga mbak Wati sampai saya pingsan tiba-tiba seperti itu.” Pamit pak Karim dengan wajah yang masih menggambarkan raut kesedihan.

“namanya takdir mau diapakan lagi pak Karim. Harus ikhlas melepas kepergian anak saya satu –satunya. Dan satu lagi tolong jaga cucu saya selagi di sana ya pak, seminggu sekali atau lebih saya akan menengok cucu saya nanti. Dan terima kasih banyak atas kebikan pak Karim menolong keluarga saya ini. Hati-hati di jalan pak karim.” Imbuh kakek sambil menyalami pak karim dan sku juga menyalami pak Karim, Bu Juleha serta anaknya pak Karim yang bernama Ine

“baik mbah, saya berjanji akan menjaga untung di sana dan rumah saya terbuka untuk kedatangan mbah Parjo di sana. Pamit dulu mbah. Assalamualaikum wr wb .” ujar pak Karim samil sambil berjalan ke mobil bersama istri dan anaknya dan tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan rumahku.

“alhamdulillah cu, kakek sudah lega ada yang mau menampung kamu. Dan berjanjilah kakek selalu menjaga martabat keluarga pak karim, turuti perintah pak karim dan istri jangan membantah. Belajar tanggung jawab. Disanalah hidup sesungguhnya dimulai le.” Kakek memberikan petuah-petuah lagi.

“baik kek, aku akan melakukan yang terbaik di sana.” jawabku sambil rambutku dielus-elus kakek.

“yasudah segera bersih-bersih diri dan tidur, sudah malam cu.” Ujar kakek sambil masuk kedalam rumah.

(FLASHBACK END)

<<<<<<<<

Setelah mengingat kejadian-kejadian bersama bapak, masa-masa kecilku, hingga saat ibu meninggalkanku. Akupun menyimpulkan dari petuah kakek tadi.

“oke kek kalu memang ini jalan Tuhan yang di berikan kepadaku, jika besok aku jadi di bawa kekota dan di asuh pak Karim sekeluarga. Aku akan bertekad untuk selalu taat kepada majikanku nanti pak Karim, Bu Juleha, dan anaknya Ine dan melindunginya. Aku akan belajar dengan sungguh sungguh, bekerja di rumah pak Karim sebaik-baiknya. Aku harus kuat menghadapi tantangan yang diberikan Tuhan ini. Aku berjanji kek akan jadi orang sukses membahagiakan kakek satu-satunya keluargaku yang tersisa di dunia ini.” Ujarku pelan sambil mengeluarkan air mata kesedihan.

“Ya Tuhan lancarkanlah jalan yang aku tempuh ini. Aminn” doaku sambil mengusapkan tangan ke wajahku.

Rasa kantukpun mulai menyerangku aku pun memejamkan mata dan besok harus menyiapkan pakaian, berkas ijazah SMP dan barang-barang yang akan aku pakai untuk modal aku memulai babak baru kehidupanku di kota.

(TO BE CONTINUE)

Daftar Part