. Sinar Rembulan Part 14 | Kisah Malam

Sinar Rembulan Part 14

0
148

Sinar Rembulan Part 14

Masih Hari ke Tiga _Renata

Mimpiku berlanjut,
Atau memang ini mimpi bersambung ya ?
Sebenarnya apa sih sadar itu ?
Apa sih mimpi itu ?

Jangan2 kita ini mimpi tapi ngaku2nya sadar…
Atau malah kita ini ga sadar kalau kita lagi mimpi…
Ha ha ha

Aku mimpi punya anak, sekaligus 7 ….
Bayangin repotnya…
Hadewwww….

Punya istri 5, 2 diantaranya kembar.
Nikah bareng2 sekaligus…. edan pokoknya mah
Terus hamil bareng2…
Lahir hampir bareng….
3 anak lahir dr 2 istri…
4 anak kembar lahir dari 2 istri yng kembar

Tobaaattttt…..
Bapaknya bingung mau yang mana yang digendong….
7 bosss…. 7 kerepotan
7 sumber stress baru….

Pas lagi stress….
Tah…
Mimpi kok bisa stress ya….?
Tiba2 bibir ini rasanya gimana gitu….
Ternyata, Renata membangunkanku unik caranya…

CIUMAN

Lembut banget ciumannya….
Begitu aku bangun, ada wajah terkejut disana…

Wajah Renata nampak malu sekali…

Eh tadi itu belajar nyium apa nyium beneran pengen bangunin ya…?

Celingak celinguk lihat jam….
Eh ternyata jam 2 dini hari….
“Eh… Sayang, ada apa ya ?”
“Ihhh…mas… kaget tahu, pas enak2 nyiumin masnya bangun”
“Lha gimana toh ini, tadi ga ada niatan ngebangunin gitu ?”
“tadi sih pengen saja nyium, habisnya mas tidurnya kaya lagi tersiksa mimpi, ngeluh saja terus ngigau”

“Oh… ha ha ha, untung cuma mimpi, tapi boleh jadi tadi gambaran buat mas sih….”
“Memang mimpi apaan mas?”
“Mimpi punya anak 7 orang, 3 dari Tiara, Wanda dan Renata, Santi dan Sinta masing2 2 anak kembar. Aku sampai stress ngurusinnya, hadewww….”

“Hi hi hi, iya mas lucu mimpinya, tapi bakalan bisa kejadian sih kamau mas ngawinin kami berlima sekaligus. Rame kali ya mas”
“Ha ha ha, ga rame lagi, kalau nangis bareng kaya paduan suara deh, belom lagi kalau eek bareng ya, ha ha ha?”
“Ih, masnya jorok deh…. Hi hi hi”

“Sayangku Renata…….”
“Emmmm….ya mas “
“Bangun tidur begitu, kamu kok tambah cantik ya….”
“Hi hi hi, si masss mah, hayo ngerayu ya, pengen ya?”
“Mas boleh cium ?”
“Mmmmasss ihhh……?”

“Renata tampak malu2, rupanya urusan beginian memang Renata seperti baru mengalaminya, hhmmmm kayaknya butuh cara yang lembut dan tanpa kata2… cukup bahasa isyarat saja”

Aku memulainya dengan memegang dagunya, sambil mendekatkan bibirku padanya……
Perlahan mata Renata terpejam…
Bibirnya bergetar…

Kukecup perlahan bibirnya….
Sekali lagi lebih halus kukecup bibirnya….

Ketiga kalinya aku agak melumatnya, lidahku menerobos masuk…
Perlahan saja…

“Mmmmmmaaaaassss ssshhh”

Renata mulai mendesis perlahan, lidahnya mulai ikut membelit keluar…
Keempat kalinya aku benar2 melumatnya agak panas…
Renata ternyata cerdas betul dan bisa mengimbangi nya….

Tahap 1 selesai…

Aku ambil rehat sejenak, kupandangi wajahnya yang memerah dan nafasnya yang terasa tersengal….
Aku tak berkata2 sedikitpun…
Kubelai pipinya dan kuraba bibirnya…

Renata membuka matanya….
Sayu disana…
Dengan perlahan kugeser tanganku ke bawah….

Sambil melihatnya meminta ijin kebawah…
Renata memejamkan matanya kembali, bibirnya bergetar membuka lagi…

Kulumat kali ini dengan agak menekan dan dalam…
Renata mengimbanginya…

Tanganku membelai susunya yang sekel, susu perawan, bener2 belum pernah ada yang menjamah…
Tubuh Renata bergetar kala tanganku meraba susunya dari luar bajunya…
“Ooouuuchhhhh maassss”

Terus kubelai belai susunya dari luar bajunya cuma kali ini agak meremas sedang2 saja…

Sengaja kulewati putingnya…
Aku menunggu Renata memberi tanda.
“Maaasssssss”
Lenguhan kali ini disertai gerakan seolah mengarahkan putingnya untuk kujamah…

Perlahan kuraba putingnya, perlahan saja
Tipis tipis….
Lenguhannnya kali ini agak keras

“Ooooouuuccchhhhhh. Maaasss”

Anggap saja itu undangan utk lebih intens memainkan putingnya….
Putingnya mengeras terasa sekali dari luar baju tidurnya yang tipis….
Aku mulai memelintir, menyubit dan memencet dengan irama yang agak kencang….

“Ooouchhhhhhhhhhhhh”

Tubuh Renata menggelinjang tak keruan, dadanya dibusumgkan seolah ingin lebih banyak putinnya dikerjai… bibirku ikut turun menciumi leher jenjangnya….

Tanganku mulai meremas, kiri kanan aku mainkan dengan irama yang agak keras….
Lenguhannya berubah jadi teriakan….

“Maasssssssssss”

Renata terlonjak2 badannya sangat impresif dan impulsif….

“Ooooouuuccchhhhhhhhh”

Teriakan kecilnya menandakan puncak pertama dilaluinya…..
Aku benar2 kagum, tampak sekali Renata memang belum pernah dijamah sama sekali…

Terbukti sentuhan dr luar baju sekalipun ternyata bisa membuatnya mendapatkan big O yang sangat intens…

Agak lama memang

Ada sekitar 2-3 menit Renata melonjak2 kencang mengekspresikan perasaan nya.

Aku masih diam mwnunggu

Memandangi wajah Renata dalam keadaan puncaknya seolah sudah sangat memuaskanku…

Lama setelah nafasnya perlahan mulai teratur, Renata membuka matanya….

Senyumnya lebar menyiratkan kepuasan…

“Makasih ya mas, itu tadi benar2 nikmat…”

“Sama2 sayangku, sini peluk mas”

Aku memeluknya dengan lembut, kukecup bibirnya kemudian dahinya….

Renata tertidur pulas dalam pelukanku….

Hanya memakan waktu 20 menitan semuanya itu…

Dan sekarang jam setengah 3 dini hari….

Aku tak bisa tidur kembali.

Kancilen kata orang jawa, bangun tidur tak tepat masanya tapi benar2 bangun dan mau tidur ga bisa lagi…

Masa itu kugunakan utk memeluk dan membelai wajah Renata, menciumi dahinya…

Sunguh aku merasa bersyukur atas karunia berupa Renata….

***

Entah gimana ceritanya, ternyata aku tertidur juga.

Ha ha ha….

Kali ini Renata sudah bangun bahkan sudah mandi dan ganti baju…

Membangunkanku tetap dengan ciuman di bibir….

“Eh… jam berapa sekarang ?”
“Hi hi hi, jam 6 mas”
“Weittsss…. Jam 6 ? Walah dalah…”

Aku segera melompat bangun, mandi secara kilat juga gosok gigi juga kilat, ganti baju yang sudah disiapkan Renata juga kilat.

“Hi hi hi, sabar atuh mas…. Nanti kusut itu bajunya”

Tak cuma mengomentari, Renata turut merapihkan bajuku…

Memasangkan ikat pinggangku…

Bener2 deh istri yang luar biasa, eh … masih calon ding…

He he he..
“Mas duduk sini sebentar”
Renata memintaku duduk di ranjang kami dengan menepuk2 kasur…
“Ya ada apa sayang ku?”

Tiba2 Renata memelukku.
“Terima kasih ya sayang, malam tadi benar2 luar biasa buat Renata, juga maafkan Renata kalau tidak bisa memberikan kepuasan buat mas Buas ya”

“Ha ha ha, sama2 sayang kirain apa, mas sangat2 merasa beruntung bisa seperti ini dengan Renata, muuaach, bidadariku sayangku pujaanku cantikku Renata… muaaaach”

Bibir kami menempel erat, seolah tak mau terpisah lagi…

Ada rasa sayang dan cinta yang luar biasa yang kami salurkan lewat ciuman itu.

Keluar dari pintu kamarku, jatah Renata sudah habis…

Duh gusti, aslinya aku pengen terus bersama Renata…

Tapi …
Tetap saja kami keluar kamar juga…

Klek

Pintu terbuka…
Di depan pintu sudah berdiri Sinta….
Dengan gaya yang sangat elegant dan sangat Ayu…

Cipika cipiki antara Renata dan Sinta terjadi didepanku.

Setelahnya Renata pergi dulu ke kamarnya diatas.
Sinta masih diam disana.
Lagi2 aku dicukein.

Ha ha ha.

Sinta sepertinya masih ragu utk dekat denganku aku juga sama. Tapi aturan tetaplah aturan. Aku kemudian mengamit Sinta untuk keruang makan.

Ada semacam kelegaan Sinta melihat aku ambil bagian lebih dulu. Sejatinya mungkin Sinta ingin memulai tapi ada penghalang rasa yang tak mungkin dijelaskan.

***

Tidak seperti lainnya, Sinta memang sengaja off seminggu di Bandung, liburan sambil mengenalku lebih jauh sebenarnya…

Sehingga, tak ada acara antar mengantar ke kantor, yang ada hanyalah mengantar belanja, lebih tepatnya mengantar ke tempat belanja, ya Sinta ya Santi.

Ha ha ha….

Ya karena bertiga, aku kayaknya yang jadinya dibully ha ha ha.
Bukan apa, kami ini kaya saudara kandung deh sebenarnya,waktu kecil kami suka rebutan perhatian ibu. Ujung2nya aku pasti kalah lah…

Itu cerita jaman dahulu kala. Tiba2 entah 5-6 tahun tak berjumpa, sudah akan dinikahkan…

Orang jawa bilang wagu… kaku lah, gimana gitu, sampai kemaren aku sempat pingsan itu ya gara2 itu sebenarnya…

Mimpi saja ga pernah akan begini, jadi kagok edan lah isyilahnya diedankeun sakalian…

Ha ha ha…

“Mas ga suka ya dinikahkan sama kami, kok sampai2 pingsan waktu dikabari mau menikah dengan kami ?”
Sinta memulai percakapan, Santi ikutan lah kaya biasanya mereka saling membantu dan mengeroyok.
“Kalau mas ga suka, apan tinggal bilang saja langsung ga perlu pake pingsan apalagi nangis kaya waktu kecil dulu”

Ha ha ha….

Bener2 nih, belum2 dah ungkit2 masa kecil waktu rebutan perhatian ibu.
Dulu saking tertekannya sama mereka aku suka nangis sendiri soalnya…

Bagaimana tidak, kadang mereka berdua agak keterlaluan sih, contoh kecilnya soal makanan, kebetulan aku suka jajan tradisional yang namanya surabi. Kebetulan tetangga ada yang jualan dan cocok di lidah, aku suka beli dengan racikan yahud punya plus telor plus oncom.

Santi dan Sinta ternyata ketularan suka, sering kami beli ramai2 ke sana (ke rumah penjualnya) cuma kadang karena saking lakunya sampai sana dah ga ada sisa. Aku suka pesen dibuatin untuk diantarkan ke rumah.

Ceritanya waktu itu aku pesen 3 buah yang istimewa karena memang hari itu aku puasa, aku puasa senin kamis sejak kelas 4 SD lho…

Sudah aku pesankan untuk diantar ke rumah sore pas mau buka.

Tiba2 pas aku sekolah (sekolahku fullday boss sejak kecil, karena ibu sekalian bisa kerja sih alasannya) Santi dan Sinta karena kangen datang ke rumah. Biasalah nengokin “ibu” nya. Mereka tuh kalau suruh milih ikut ibunya atau “ibu”nya ya milih ikut “ibu”nya lah, mungkin karena ibu kandung mereka meninggal kala masih kecil, dan sering dititipkan ke rumahku dulu sebelum ayahnya menikah lagi. Atau memang ga suka dengan ibu tirinya, ga tahulah aku.

Intinya mereka lebih dekat sama ibuku dari pada ibu tirinya. Saat pindah ke luar kota dulu sempat berkali2 mereka minggat ke rumahku karena kangen.

Balik ke soal surabi. Bayangkan aku sudah ngences pengen buka dengan surabi khas adonan pesananku. Pas buka ternyata surabinya habis…

Dihabisin sama Santi dan Sinta yang kala itu masih kelas 2 atau 3 SD… tak bersisa…

Ngenes khan boss…

Asli ngenes, buka yang diidam2kan kaga ketulungan batal gara2 ada penganggu.

Bukan masalah besok bisa beli lagi..
Bukan masalah uangnya..
Tapi masalah momennya…

Lagian itu khan ada 3, masa dihabisin semua…
Keselnya mereka malah seneng aku sengsara gitu…

Mau marah, pasti ibu balik marahin aku…

Bakalan diceramahi panjang soal kasih sayang, soal anak piatu, soal mengalah pada saudara macem2 lah….

Nangislah aku….
Ngenes lebih tepatnya….

Dannnn….

Kejadian kayak begitu itu kaga sekali dua boss…
Sering banget malah…
Dah ga keitung lah….

Coba gimana kalau si boss jadi aku terus, si boss ternyata mau dinikahkan oleh ibu sama mereka….

Bingung khan…?
Kecilnya kaga akur….
Remajanya sering tengkar…

Agak gedean ngilang ga pernah ketemu…

Ujug2 mau nikah…
Puyemg khan…?

***

“Mas….. Belum jawab pertanyaanku kok sudah senyum2 mesum gitu sih?”
“Iya nih mas Budi, sekarang mesum Sin, kayaknya demen banget dia punya calon istri sampe 5 orang, hi hi hi”

Tuhaaannnn….

Gimana jawabnya ini….
Itulah bullyan mereka boss….
Celakanya…

Belum juga jawab…
Terus saja mereka nyerocos tak terbendung….

“Kali San… mas Budi sekarang memang agak kerawat sih, ganteng sih…. Cuma mesumnya itu lho”

“Hi hi hi, iya Sin… ntar kuat ga ya dia ngelayani 5 orang kalau jadi istrinya betulan….”

“Hi hi hi, tau tuh San, kita kayaknya harus belajar buat obat kuat San, bisa2 kalau ga bisa bikin obat kuat, pas giliran kita loyo dia hi hi hi”

Dan….

Sepanjang perjalanan bullyan demi bullyan berlanjut tanpa ada satupun pertanyaan yang bisa dikonfirmasi..

Ngenes ga boss….?
Ngenes lah ?

Paham khan kenapa aku sampai sekarang sama sekali kaga ada rasa serr pada mereka.

Jangan dibilang benci ya….
Aku sayang banget sama mereka…

Ibaratnya tuh, bagiku mereka adalah ya teman ya adek ya seorang yang istimewa karena senasib sih.

Aku tak tahu bapakku bagaimana dan siapa, soalnya begitu nanya soal bapak, pasti ibu mangis tersedu2 itu saja, makanya aku paling ga berani nanya2 soal bapak. Pantang bagiku bikin ibu menangis soalnya.

Ada beda lah dengan kedekatanku dengan Wanda, dengan Wanda kedekatanku smooth, halus banget perlahan lahan. Karena sekompleks, karena ibu kami masing2 berbisnis bareng, karena suka disuruh nganter2 juga.

Wanda dekat denganku setelah beranjak dewasa ….

Mereka, Santi dan Sinta deket sejak kanak2 bener2 masih kecil. Pas dewasanya malah ga pernah ketemuan, ada sih tapi sangat jarang berinteraksi kental, mereka sejak beranjak dewasa seperti menjaga jarak denganku, mungkin karena aku lelaki dan mungkin karena gak pas momentnya.

Mereka ke Bandung nginep bahkan, selalu kala aku tak ada dirumah, entah karena kegiatan kampus atau ada keperluan lain nya.

Itulah kami bertiga…

Ntah kenapa mereka suka dan mungkin tidak suka, tapi jelas2 mau menjadi calon istriku, kalau tidak mau, mengapa mereka siap2 melepaskan asset mereka demi nikah denganku coba…

Bukan sekedar menikah, tapi dimadu lagi.
Edan khan…

Jelas aku masih blank….
Jelas aku masih bingung….
Jelas aku ga paham kondisi ini…

Anehnya aku kok ya ga bisa ngomong apa2 sama sekali.

Aku memang pantang menentang kehendak ibu, itu saja alasan utamanya.

Sekalipun disuruh masuk neraka, kalau ibu yang nyuruh pastilah aku berangkat. Titik.

Kalau urusan dengan perintah ibu, pantang balik pulang sebelum beres urusan.

Apalagi disuruh kawin 5…
Maulah
Ha ha ha…
Alasan saja ya…

Nggak kok, ini soal ibu dan kebetulan soalnya asyik punya masa nolak dan menentang ?

***

Akhirnya, aku berhasil lolos dari bullyan bukan karena mereka berhenti membully, tapi karena memang sudah sampai pada tempatnya.

Sepanjang jalan tadi aku cuma senyum kecut.

Ha ha ha…
Nasib2 ya…
Apes yaaa
Itulah aku, sejatinya, apes…

Cuma entah banyak yang misalnya tahu cerita ini bilangnya aku mujur….

Edan po mujur…

Tapi kalau bicara kesejatian, orang edan itu orang paling berbahagia lho, bayangin saja tidur di pinggir jalan yg banyak mobil lalu lalang dia bisa nyenyak…

Luar biasa bukan…
Ha ha ha…

***

Di kantor, aku membaca laporan Bagas dan Ayu bahwa mereka sedang di Airport utk kembali pulang. Liburan mereka yang seharusnya seminggu dipangkas oleh Mbak Tiara agar cepet pulang, kantor dalam kondisi SOS, darurat.

Kehilangan banyak pegawai inti sekaligus membuat jalannya kantor terseok-seok. Dalam pembicaraan bersama bapak Wibowo dan jajaran Direksi, kami berdua mengajukan bisnis plan dengan mengerucutkan beberapa bagian dengang menggabungkan 2 atau 3 unit menjadi 1 unit besar.

Kebetulan memang orangnya kurang jadi, perampingan manajemen seolah mendapatkan tempat tanpa pertentangan berarti dari pihak direksi.

Secara kelembagaan perusahaan lebih ramping dan gesit, mudah mengkoordinasikan banyak hal karena masih dalam 1 bagian. Lebih efisien dan lebih mudah berubah mengikuti perkembangan jaman.

Kami mengajukan Bagas sebagai karyawan senior yang loyalitasnya teruji untuk menempati jabatan yang nantinya akan ditinggalkan oleh Mbak Tiara.

Satu lagi karyawan yang akan dipromosikan naik jabatan yaitu Rio. Memang kedua nya, Bagas dan Rio masih muda, justru itulah yang bagus untuk regenerasi.

Selama 4 bulan kami sudah merancang beberapa langkah penyesuaian agar naiknya mereka berdua menjadi smooth dan tanpa gesekan yang berarti. Bagaimanapun juga di Indonesia senioritas sangat mengakar, sulit untuk junior naik tanpa pembuktian diri yang cukup.

Tugas2 Bagas dan Rio kami atur sedemikian rupa sehingga mereka seolah akan diuji dengan bermacam tugas yang melampaui level mereka saat ini bahkan boleh dibilang melampaui yang seharusnya.

***

Rio akan kami serahi tugas mengadakan promosi besar2an mulai dari level lokal regional sampai puncaknya level nasional guna menggenjot pemasaran.

Bagas akan kami serahi tugas sebagai pemimpin produksi bahan2 yang akan dipromosikan oleh Rio.

Sebuah tuga yang akan mengasah jiwa kepemimpinan sekaligus kebersamaan antar bagian.

Kami akan uji keyakinan kami bahwa mereka pantas dan layak sebagai pemimpin lewat event2 tersebut.

Tentunya biaya yang akan dikeluarkan tidak sedikit, dan memang terbilang fantastis karena selama ini perusahaan kurang greget dalam pemasaran, lebih tepatnya pemasaran di”busuk”kan oleh oknum2 penghianat sehingga beberapa market share yang seharusnya dibina lepas diambil kompetitor.

Kami berdua bekerja dalam diam kebanyakan, sehingga tak banyak yang tahu langkah2 kami. Bagaimanapun juga, kejadian penghianatan yang terungkap belum tentu menggaruk semua penghianat. Kami tak ingin kecolongan kali ini.

Itulah bakti kami kepada Bapak Wibowo sebelum kami resign untuk mendirikan kerajaan sendiri.

***

Mbak Tiara selama bekerja berdua, memang berbeda, lebih bagaimana gitu…

Sedikit2 minta cium….
Minta peluk sampai minta kulum…
Ha ha ha…
Jatah di rumah masih lama soalnya.
Jam 3 sore Renata menelpon

Aku sengaja menyalakan speaker HP agar Mbak Tiara ikut mendengar.

Aku paham betul Renata, ga mungkin sekedar kangen menelpon, pasti ada sesuatu.

“Assalamu’alaikum mas….”

“Wa’alaikum salaam sayang, ada apa nih nelpon “

“Eh mas, Tiara ada disitu?”

“Kenapa, takut ketahuan ya nelpon mas…? Ha ha ha”

“Ih…mas, serius ini”

“Ada sayang nih dari awal aku speaker on kok”

“Hi hi hi, ada apa Nat ? Kamu nih gangguin orang lagi pacaran saja…..”

“Ih Tiara jelek, ini aku mau mintakan mas Buas datang ke lokasi tanah kemaren, soalnya ada yang harus cepat2 ditandatangani soal IMB, terus ada tanah dibelakang dijual murah euy, kayaknya bisa buat workshop yang punya jalan akses sendiri, orangnya butuh banget. Mas Buas biar bisa menilai tanah itu layak ga nya, bisa ga ijin keluar kantor?”

“Iya deh, tak ijini keluar kantor, ijin pacaran juga ga papa kok hi hi hi, aku sudah pacaran soalnya dari tadi, dapat beberapa ronde lah hi hi hi”

“Ih…. Tiara jelek, gitu kok diceritain sih, nanti aku pacaran beneran lho hi hi hi, cuma ntar gimana Santi dan Sinta ya… marah kali ya mereka hi hi hi, ah udah ah guyonannya, mas Buas kesini cepat, sejam lagi orangnya ngilang soalnya ada urusan dia”

“Ok deh Nat, mas Buas mu akan jadi Buas deh sama kamu…. Hi hi hi, jangan dihabisin ya? Kasihan Sinta ntar malam dapat cowok lemes kecapaian hi hi hi”

“Iiih jelek ah, mas Buas cepet kesini ya “

“Ok, siap dwh sayang, ini sudah selesai kok ronde 3 ma Tiara. Dah lemes dia ha ha ha”

“Jelek jelek jelek”

Klik….

Ha ha ha, ngegoda Renata soal mesra2an memang menyenangkan, habisnya lucu dianya.

Masih bener2 jaim deh.
Ha ha ha.

Renata i’m comingggggg

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler