. Rich and Violent Part 37 | Kisah Malam

Rich and Violent Part 37

0
71

Rich and Violent Part 37
BIMBANG SESAAT

“saya dapet kabar katanya Lydia seminggu lebih engga masuk?”, tanya pak Wijaya di salah satu sudut ruang Luxor sambil menyeruput Americano di cangkir cukup kecil namun nendang itu. pria tua yg memiliki wajah seperti pak Bondan reviewer makanan ini memang sosok yg diinginkan dalam setiap perusahaan.
“sudah saya datengin dan masalah sudah beres, beliau sudah masuk kembali”, balas Kelvin yg disambi dengan makan croisant.
“kamu sendiri?”, tanyanya sambil melongok.
“ya”, Kelvin membalas dengan sangat yakin.
“kalau kamu jadi seorang presiden, kamu pasti akan capek menghampiri setiap lokasi dan kabupaten. kenapa engga memerintahkan perwakilan HS atau dari Luxor sendiri?”, tanya pak Wijaya.
“saya suka pendekatan yg personal, mereka itu manusia, bukan satuan barang, tiap masalah ada triknya sendiri”, balas Kelvin dengan kalem dan tangan kanannya menyobek roti itu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.

“nampaknya kerajaan HS siap untuk berpindah ke kendalimu”, canda pak Wijaya.
“haha engga, saya suka dengan yg kecil”, balas Kelvin sambil tertawa.
terdapat perbedaan yg sangat besar, jika ada masalah yg turun tangan adalah pimpinannya langsung. pegawai akan merasa lebih dihargai dan diperhatikan. beda cerita jika hanya ditanya melalui pesan singkat atau perwakilannya yg turun tangan. seorang pegawai akan merasa jika dirinya hanyalah sebuah unit. itulah mengapa mendekatan secara personal lebih cocok diterapkan di negara ini daripada hanyalah melalui perwakilannya. Pak Wijaya merasa bahwa Kelvin sudah lebih siap untuk menjadi pimpinan dari grup perusahaan jika sewaktu-waktu ayahnya ingin pensiun dan menikmati sisa hidup keliling dunia dengan istrinya.

“pak, saya mau tanya, pernahkah kita berurusan dengan mafia atau apa gitu, rasanya perusahaan kita adem-adem aja”, tanya Kelvin penuh dengan penasaran kepada sang mentor.
“haha pernah, tapi sekarang HS group sudah terkenal dengan engga mau main-main dengan negosiasi, kecuali dirimu yg masih suka berurusan dengan politisi kelas teri sebangsa bupati haha”, tawa pak Wijaya mengetahui Kelvin sedang berurusan dengan bupati di daerah timur sana.
“namanya juga belajar pak”, balasnya dengan pelan dan tertawa.

“jadi kita punya kerjasama dengan salah satu gank dunia ternama, yg dari Jepang. suatu ketika ada tiga oknum yg mengaku dari pemerintah minta development fee untuk pembangunan beberapa hotel dan termasuk Luxor, lalu saya memberi arahan ke mereka untuk kembali esok hari mengambil uang cash yg mereka minta”, cerita pak Wijaya.
“setelah mereka pulang, aku kontak Tuan Daishi untuk meminta bantuan membereskan oknum pemerintah ini. esok harinya oknum ini datang lagi, tapi yg di dalam ruangan bukan saya, melainkan para gank itu. entah oknum itu diberi pelajaran apa, tapi hingga beberapa tahun kemudian ini tak pernah ada ancaman yg berarti dengan seluruh perusahaan kita. ingat, hampir seluruh perusahaan besar memiliki gank kriminal atau mengontrak pensiunan tentara untuk memberi perlindungan dari oknum-oknum semacam itu”, lanjut cerita pak Wijaya.
Kelvin hanya diam dan memperhatikan, itulah mengapa apapun yg dilakukan oleh dirinya aman dari ancaman apapun, memang perusahaan besar biasanya sudah hampir dikatakan kebal oleh hukum. walau dampak AMDAL sangat besar seperti kasus lumpur yg pernah terjadi tapi tetap aja aman jaya.

pemerintah juga pasti super hati-hati jika akan memberi sanksi atau terburuknya pencabutan ijin usaha. simple sekali, itu tak akan pernah terjadi, kenapa, perusahaan akan dengan mudahnya menutup usahanya. dampaknya ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaannya, dan siapa yg akan di protes, pemerintah. pasti akan ada oknum tertentu yg menggoreng opini sehingga seolah-olah yg salah adalah pemerintah. pemimpin perusahannya bagaimana dan kemana? mereka sudah terlampau kaya untuk menghindar dari jeratan hukum dan keuangan mereka gak akan mengguncang kehidupan mereka. tetap akan hidup seperti sediakala. namun yg dibawah, jangankan untuk makan, untuk memamah aja mungkin engga punya tenaga.

lagipula, pemerintah pasti akan berupaya apapun agar industri akan tetap berjalan. ingat, banyak kampanye politik yg bilang akan membuka lapangan pekerjaan. siapa yg akan dimintai tolong untuk membuka lowongan kalau bukan pengusaha. tapi ya itu, walau adanya pembukaan lapangan pekerjaan, hanya calon pegawai yg jelas dan pintar yg akan diterima. calon pegawai yg bodoh ya engga mungkin diterima, itulah pentingnya pendidikan. siapapun presidennya kalau situ bodoh ya tetap gak akan menikmatinya. selain itu, susah bagi pemerintah akan menutup suatu industri atau perusahaan besar. tapi kalau UMKM ya tinggal dibuat kebijakan yg menggulung mereka, selesai.

*

“Del, weekend sudah ada yg dikangenin dong hehe”, tanya Silvia pada Adelia. mereka bertiga sedang menikmati sate taichan yg sangat terkenal walau bentuknya sama sekali engga ada menariknya dibanding dengan sate ayam madura yg sangat legendaris.
“apaan sih, wong ya hanya temen WA-nan lho”, balas Adelia sambil memakan sundukan sate itu.
“eh mas Kelvin engga balas WA kamu?”, tanya Laila.
“balas itu kapan hari, tapi ya maaf, engga kubalas”, balas Adel seperti sudah menutup hatinya untuk seorang Kelvin.
“wow kenapa?”, tanya Silvia penasaran.
“apa ya, aku kurang hmm engga tau, tapi kan dia super kaya gitu lho, takut aja”, balasnya dengan lirih namun sangat yakin dan penuh pertimbangan.
malam yg engga begitu dingin justru cenderung lebih ke hawa panas ini yg bisa membuat siapapun berkeringat dengan bercucuran. rambut di dalam kerudung Adeliapun juga sudah mulai terasa panas.

“weekend besok dia datang?”, tanya Laila.
Adelia membalas dengan anggukan setelah mereka tidak bertemu kembali sejak pertemuannya beberapa minggu lalu. senyuman yg mengumbar dari wajahnya pertanda bahwa wanita ini juga menyukai pria yg dengan sengaja di set-up oleh orang tuanya. pesan singkat dan video call menemani malam mereka menjelang tidur, seolah mereka sudah sangat dekat sekali walau hanya baru bertemu. hati Adelia tergetar saat mendengar nama pria itu disebut oleh sahabatnya. apakah ini jawaban dari pemberi hidup mengenai calon pendamping hidup dirinya?
“dari fotonya nampaknya lebih dewasa Satria daripada mas Kelvin ya”, tanya Laila.
“iyalah, mas Kelvin mah tinggal tunjuk bisa kebeli, jadi wajahnya lebih woles daripada yg kudu perjuangan”, balas Silvia yg memang ada benarnya. nampaknya Silvia sudah melupakan affair yg pernah terjadi antara dirinya dengan pria kaya itu karena bisa saja berimbas pada renggangnya persahabatan yg sudah mereka jalin.

*

waktu yg ditunggu-tunggu oleh Adelia, menjemput sang pria ganteng nan jantan itu di bandara dengan berpenampilan sederhana yg merupakan ciri khas dari dara anak pertama ini. memesan Oljek-Car untuk diantarkan ke bandara menemui sang pria yg mampu membuat hatinya terkapar karena cinta. HP terus ia genggam untuk memantau apakah sang pria sudah boarding atau belum, apakah delay atau ontime. mengingat jalanan Jakarta tidak bisa di prediksi, ia memilih berangkat terlebih dahulu.

duduk manis di kursi belakang dari Hyundai Avega yg menjadi primadona mobil di sebagian negara Eropa namun tidak untuk di Indonesia. melihat hirukpikuk jalanan yg ramai menjelang weekend. HP Adelia tergetar, ia membaca notifnya, pesan yg cukup singkat namun langsung to the point. namun bukan dari orang yg ia harapkan untuk mengunjungi HPnya.
[9.45am] Kelvin: Adelia, bagaimana kabarmu?
pesan dari pria yg pernah membuat Adelia galau namun hanya didiamkan tersipu angin. ia tak membuka pesan itu, namun notifikasinya langsung ia tutup. sudah hampir menyentuh satu bulan mereka tidak berkomunikasi. Adelia telah menutup pintu hatinya guna mempersilahkan orang lain yg lebih bisa menghargai dirinya untuk memasuki kehidupannya.

“neng, ke Bandara? mau pergi atau hanya menjemput”, tanya bapak tua yg menjadi sopir taksi online ini.
“hmm hanya menjemput, bapak”, balas Adelia sembari tersenyum.
“mau bapak tungguin atau bapak tinggal, neng bisa pesan lagi dengan taksi online lainnya”, tanya bapak itu dengan sopan dan lembut.
“oh bisa ditungguin, pak?”, tanya Adelia.
“bisa neng, nanti fee-nya yg tertera di aplikasi dan tambahin dikit hehe”, ujar bapak itu.
“oh yauda, ditunggu aja, pak….hmmm anaknya kerja dimana, pak?”, tanya Adelia.
“anak saya kerja di rumah sakit, neng, jadi perawat, di Kasih Bunda”, terang bapak itu yg membuat Adelia jadi konsentrasi mendengarkan.
“oh, habis ganti pemilik ya”, tanya Adel balik.
“kok neng tau, pernah kerja disana ya atau dirawat disana?”, tanya balik bapaknya.
“engga, baca di koran kok”, balas Adelia tak ingin mengingat wajah pemilik rumah sakit itu.
“katanya sekarang gajinya naik 2x lipat, tapi bapak tetep ojek online, buat ngasih uang saku cucu hehe”, cerita si bapak dengan riang. namun setelah obrolan itu bersingungan dengan pria yg pernah membuatnya sakit, Adelia tak ada keinginan untuk melanjutkannya. ia hanya diam.

tiba di bandara lama yg terbesar di Indonesia ini yg cenderung nampak kumuh dan justru terlihat seperti terminal sesak penuh dengan calo menawarkan taksi. Adelia menunggu di pintu kedatangan sambil memantau sang pria gagah nan tegap itu sudah berada dimana. bentuk fisiknya yg paling berbeda di banding penumpang lain itu terlihat menonjol, tak perlu kesusahan bagi Adelia menemukan pria yg bernama Satria itu.
“mas..”, sapanya dengan penuh keanggunan.
“hello, Adel, sudah lama menunggu?”, tanya pria tegap dan gagah itu.
“engga mas, baru aja dateng kok”, balas Adelia sambil memperhatikan Satria hanya menggunakan tas ransel berukuran sedang.

dengan menggunakan taksi online yg sama dengan mengantar Adelia berangkat, perjalanan menuju dimana Satria akan menginap. Adelia menunggu di lobby hotel sembari Satria menaruh tas dan bawaannya di kamarnya di atas. taksi online itu juga masih setia menunggu. di hari yg sore hari, mereka berdua memutuskan untuk menghabiskan waktu di salah satu coffee shop paling terkenal di tanah air namun rasanya gak ada bedanya dengan air pipis kuda namun hanya menang di brandingnya. taksi online itu telah menuntaskan misinya.
“aku jarang ke Jakarta”, ujar Satria membuka obrolan dengan wanita yg lebih banyak diam ini.
“kenapa gitu?”, balas Adelia.
“karena gak ada yg dituju. mungkin sekarang bakal sering”, balas Satria yg membuat Adelia tersipu malu.

disetiap sudut cafe ini, ada pasangan kekasih yg saling bertukar pikiran selain itu menunjukkan kemesraan mereka melalui selfie yg mereka ambil. ada bapak-bapak yg duduk membicarakan bisnis nampak sedang asyik namun wajahnya tetap terpancar wajah serius. pelayan sibuk memanggil nama pembeli yg namanya ia tuliskan pada gelas plastik itu. tapi menurut riset, 70% penulisan atau panggilan nama banyak yg salah. entah itu disengaja atau memang salah.

dipertemuan yg kedua ini, walau tiap hari mereka saling bertukar pesan dan video call namun bagi Adelia tetaplah canggung. pria yg bertugas di angkatan ini berada di posisi yg menguntungkan, ia tenang dan berwibawa menghadapi Adelia yg nampaknya serba salah. obrolan dari hal yg ringan hingga yg berat yg membutuhkan pikiran saling mereka tukarkan. atau ini adalah trick khusus agar Satria terlihat superior dalam hal pengetahuan umum. biasanya cowok sih begitu, suka pamer dengan yg ia miliki. pria berambut kotak ini nampak mulai tak jenak saat ia nampak akan bertanya sesuatu yg lebih serius.
“kenapa e mas, kamu kok nampak gak santai gitu haha”, ujar Adelia mengetahuinya.
“Adel, aku tak pandai merangkai kata, hmmm aku merasa sangat bahagia saat bisa ngbrol denganmu, bahkan saat pertama kali bertemu, rasanya aku langsung cocok, aku ingin kita berkenalan lebih jauh sebagai sepasang kekasih”, tanya Satria sambil menatap Adelia yg nampak tidak siap dengan pertanyaan seperti ini dan segitu cepat karena baru pertama bertemu.
“hmm mas, kita kan baru kedua kali bertemu ini, bagaimana kamu bisa yakin?”, tanya Adelia.
“keyakinan itu berasal dari hati, susah untuk aku jelaskan, namun bisa aku lakukan”, balas Satria yg bijak. “pikirkan lah, namun aku juga membutuhkan jawabanmu”, lanjut Satria.

Adelia diam sejenak, ia menyruput latte yg ia pesan. kopi manis itu membuat hatinya gundah gulana. pria yg sempat dinyatakan hilang, tetiba muncul melalui pesan singkatnya menanyakan kabar. seolah ingatan akan dirinya saat bersama Kelvin kembali teringat dengan jelas. saat Kelvin mencium tangan kanannya, hingga kado jam tangan yg cukup mahal yg ternyata saat ini sedang digunakan oleh Adelia. namun walau begitu, dihadapannya ada pria yg berani memberikan kepastian.

Adelia menarik nafas panjang.
“iya, aku terima”, balas Adelia dengan lembut dan lirih.
“terima apa, Del?”, tanya Satria memastikan.
“menerima mas Satria untuk menjadi kekasihku..”, terang Adelia sembari tersenyum.

Satria meraih tangan Adelia dan menciumnya.

BERSAMBUNG

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler