. Rich and Violent Part 35 | Kisah Malam

Rich and Violent Part 35

0
76

Rich and Violent Part 35

ADELIA

duduk di kost-an seorang diri. malam yg cukup hangat ditemani dengan banyaknya nyamuk yg ingin berusaha menghisap darah seorang gadis yg usianya masih cukup muda ini. kipas angin dengan merek Maspion terus berputar tiada henti selain untuk membuat sirkulasi udara, namun juga untuk mengiring nyamuk agar tak menyerang si pemilik kamar.

sudah lebih dari seminggu sejak Adelia mengirimkan pesan kepada Kelvin yg ternyata tidak terbalas oleh Kelvin. Adelia sedikit terpukul, sedih dan terhantam badai ombak yg mengombang ambing hatinya. ketidakjelasan dalam hubungan ini yg membuat Adelia tak berani terus menyerang Kelvin dengan pesan singkat maupun telepon. ia hanya menunggu.
“ahh ini nyamuk masih aja”, umpatnya saat seekor nyamuk berhasil menghisap darahnya. Adelia mengenakan piyama celana panjang dan baju berlengan pendek serta rambutnya terurai indah. laptop di depannya hidup untuk membaca sebuah bacaan serta blog yg menarik untuk ia baca. HPnya berada di sebelahnya selalu berharap ada pesan masuk dari sang pangeran.

TING

suara pesan masuk. Adelia terburu meraihnya dan membukanya. wajahnya yg dari excited berubah karena pesan itu bukan dari orang yg ia harapkan.
“ahh bapak”, ujarnya dalam hati. pesan itu ia buka dengan membaca perlahan namun pasti agar tak ada satu katapun yg terlupa.
[18.40] Bapak: nak, usiamu semakin bertambah, nampaknya kamu perlu mempersiapkan masa depanmu membangun rumah tangga. Bapak kenalkan dengan anak teman Bapak ya.
[18.55] Adelia: haruskah sekarang, Pak? kalau hanya kenalan untuk berteman gapapa.
[18.56] Bapak: iya kenalan aja dulu. sabtu minggu depan pulang ya.
[19.05] Adelia: iya bapak.

“hmm apakah Tuhan ingin menunjukkan jodohnya padaku melalui bapak, apakah aku hanya diijinkan untuk kenal dengan mas Kelvin?”, ujar Adelia dalam hati sambil duduk bersandingkan tembok berwarna pink itu.
“mas, kenapa kamu selalu hilang disaat aku butuh….”, rintihnya.

pagi memang tak selalu cerah. terkadang mendung menyelimuti mentari pagi bahkan hingga ia mencurahkan semua air hujan yg membuat siapapun yg ingin berangkat ke kantor harus rela menaruh sepatunya di dalam tas maupun dimasukkan ke dalam jok sepeda motor. tak sedikit mahasiswa yg basah kuyup bagian bawahnya akibat menerjang hujan nan dingin pagi itu.

Adelia duduk sedikit di belakang, berbeda dengan biasanya yg selalu di baris depan.
“Del, tumben di belakang?”, tanya Laila yg tau-tau sudah duduk dibelakang.
“gapapa kok”, balasnya singkat.
“kamu kenapa e?”, balasnya Laila kembali.
“nanti aja abis kelas”, tutup Adelia yg tak berminat untuk segera bercerita.
sama sekali tak ada gairah yg terpancar, ia hanya ingin duduk dan ingin segera kelas ini berakhir sehingga bisa bercerita kepada dua sahabatnya mengenai kondisi yg ia hadapi. sebagai wanita yg lurus-lurus saja serta patuh kepada orangtua, ia harus menuruti keinginannya selain itu ia yakin orangtua pasti memberikan yg terbaik.

wajah Adelia yg biasanya riang dan bahagia, kini wajahnya tertekuk. gerimis diluar tak menyurutkan dirinya untuk melangkah menuju parkiran motor untuk segera pulang ke kost. walau kedua sahabatnya sudah berusaha mencegahnya. namun bersikukuh untuk segera pulang. air hujan yg mengenai wajah bisa sebagai kamuflase untuk menutupi airmatanya yg mengalir deras. di belakang motor Adelia, ada Laila dan Silvia yg mengikutinya. ketiga wanita itu memilih tidak memakai mantol untuk menutupi badannya.

Adel langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur dengan tengkurap, sehingga pantatnya terpantul indah karena gerakan itu.
“sayang, kamu kenapa?”, tanya Laila.
“aku weekend besok mau pulang ke kampung, bapakku mau ngenalin aku sama anak temennya”, ujar Adel sambil berurai airmata.
“apakah itu hal yg bagus atau engga?”, tanya Laila yg membelai kepala Adel.
tangisan Adel semakin menjadi.
“engga tau… aku gak ingin, tapi juga engga ingin nyakitin orangtuaku”, ujar Adel.
“apakah kamu ada masalah dengan mas Kelvin sehingga kamu menerima perkenalan itu?”, tanya Laila.
“aku udah seminggu lebih lost kontak”, balas Adel yg bersembunyi dibalik bantal.
Silvia yg awalnya ingin berusaha merebut Kelvin dari pelukan Adelia menjadi merasa iba, jika tangisan Adel ini karena dirinya, pasti Adel bisa saja ingin bunuh diri.
“mungkin dia sibuk sayang”, peluk Silvia.

Adel lantas memberanikan duduk dan memandangi kedua temannya itu.
“mungkin ini jalan bagiku”, ujarnya dengan lirih.
“iya, sama seperti kakakku, pacaran ganti-ganti pasangan namun akhirnya juga menikah dengan anaknya teman ibu, kita gak akan tau”, balas Laila.
“gapapa sayang, tunjukkan ke mas Kelvin kalau dia sudah melewatkan wanita terhebat yg ada di dunia ini”, puji Silvia.
“mungkin dia baik, dia memiliki jiwa kepemimpinan, dia ganteng, dia tajir, dia memiliki segala hal, tapi mungkin dia memiliki sesuatu yg tak ingin menjadi masalah bagimu di kemudian hari”, terang Laila yg bijaksana.
Silvia diam, ia sudah merasakan langsung bersentuhan dengan pemuda kaya itu. walau belum seutuhnya bersentuhan, namun keduanya sudah saling sedikit mengumbar nafsu. ada rasa bersalah kepada sahabatnya itu.

“jalan hidup emang gak ada yg bisa menebak, bukannya aku mendukung, tapi siapa tau ada hikmah sesuatu dibalik ini semua yg membuat kamu lebih bisa memaknai hidup”, terang Silvia bijaksana.

Adelia mengangguk dengan matanya terus bercucuran air mata.

tidak bisa dipungkiri, terkadang kita menolak perjodohan. namun pada kenyataannya perjodohan adalah salah satu opsi terbaik yg pernah direncanakan oleh si Empu kehidupan. terkadang kita tak pernah membayangkan bisa memiliki pasangan hidup yg sangat cantik/ganteng, yg sangat berwibawa, bijaksana atau mengerti makna hidup namun pasangan itu datang dari pilihan orangtua kita.

*

pernah diramalkan oleh raja hebat jaman kerajaan Nusantara masih berjaya bernama Jayabaya dari kerajaan Kediri. bahwa pulau Jawa akan berkalung besi. benar saya, hingga sekarang dari ujung barat Jawa hingga ujung timur Jawa sudah menyambung berupa rel kereta api. pada masa itu yg belum mengenal rel kereta api menggunakan track berupa besi, namun sang Raja sudah bisa mengintip di kehidupan yg sekarang. akibat dari kalung yg dari besi ini perekonomian pulau Jawa bergerak dengan cepat dan pesat, saking cepatnya masyarakatpun terkadang tidak mampu mengikutinya. namun sayang, budaya nan kaya dan beragam ini juga dirusak oleh beberapa oknum yg ‘katanya’ tidak sesuai dengan kaidah ajaran mereka. miris memang. pengetahuan mengenai ajaran belum paham seutuhnya namun sudah berani berujar seolah ia sudah paham seutuhnya. potret masyarakat yg perlu diganti.

di dalam gerbong kelas ekonomi yg menggunakan jalur berupa kalung ini. Adelia duduk melihat hehijauan padi yg sungguh cantik, pemandangan lembah, gunung serta pemukiman rakyat pinggir rel kereta api yg nampak rukun hidup berdampingan. namun, pemilik wajah yg cantik ini sedang tidak mood untuk ikut dalam hinggar binggar pemandangan.

dirumah sederhana yg tak lebih dari 120 meter persegi ini, keluarga kecil Adelia dibesarkan. rumah yg masuk di dalam gang kecil namun nampaknya bukan tempat yg kumuh. mengingat harga tanah dan rumah yg semakin naik, maka mereka mensiasatinya dengan hidup dirumah kecil namun di kota.
“ehh anak ibu sudah pulang”, sapa ibu yg selalu menanti kepulangan sang anak.
“hehe iya bu, bapak mana?”, balas Adelia dengan lembut.
“bapak ada di belakang sedang memberi makan perkutut”, balas ibunya. Adelia tak perlu menanyakan adiknya karena masih bersekolah.
walau ia menanyakan dimana bapaknya, namun ia merasa jengkel karena ini semua. karena ia juga masih kuliah yg setidaknya ada beberapa semester lagi. namun khas seseorang yg dari daerah, mencarikan jodoh untuk anaknya dengan teman anaknya yg lebih memiliki posisi memang sering terjadi. bukan hal yg buruk.

pikiran Adelia kosong. ia sedang autopilot. sesekali melihat HPnya, namun tetap nihil.

pada hari selanjutnya, tak ada persiapan khusus. ibunya hanya mengkukus seperti kacang rebus, ubi manis, jagung serta makanan traditional lainnya, daripada roti biasanya hanya di lihat saja. Adelia nampak anggun dan cantik menggunakan gamis panjang, bermake-up tipis. ia juga berharap kalau pria yg akan datang bisa meluluhkan hatinya. selain bisa membuatnya jatuh cinta, orangtuanya juga pasti akan bahagia. tak ada yg lebih indah dari seorang teman akhirnya bisa berbesanan. bapaknya khas orang jaman dahulu, berpenampilan mengenakan batik serta duduk diruang tamu menuggu tamu agungnya.

akhirnya datang menggunakan seekor Toyota Innova bermesin diesel varian termurah itu, namun sudah cukup bangga mengendarai itu karena sudah hampir menyentuh 400 juta serta seolah dunia sudah ia genggam. turunlah mereka berlima, tiga diantaranya adalah anak dari teman bapaknya Adel.
“waahh lama engga jumpa ini, sehat aja to?”, tanya sang tamu kepada bapak Adel.
“iya lah sehat masih seger”, balasnya sambil bercanda.
“waa ini pasti mbak Adelia”, tanya pria itu yg bisa saja menjadi bapak mertuanya.
“iya om”, balas Adel dengan senyum serta mengulurkan tangan.

ibunda dari pria yg akan dikenalkan kepada Adelia mencium pipinya seolah perkenalan ini sudah sangat kental, tak ada rasa canggung dan takut diantara mereka. pernikahan adalah salah satu cara untuk menyambung silaturahmi. Adelia juga sudah bersalaman dengan pria yg akan dikenalkan dengan dirinya, namun sayang sekali, ia lupa dengan nama pria itu karena kegaduhan antara kedua bapak yg ngbrol dengan sangat lantang.

pria itu hanya diam saja, sesekali memberi pandang kearah Adelia. berbadan tegap, memiliki potongan rambut kotak karena ia berprofesi sebagai angkatan. usianya lebih tua dari Adelia. mengenakan baju batik panjang membuat ia semakin gagah.
“anak saya, Satria, ya sudah saatnya lah untuk membangun keluarga sendiri, tapi dia entah kenapa susah sekali cari yg cocok, hingga bapaknya jadi ikutan mikir, terus ingat mas Purwo (bapak Adel) ingin menjalin silaturahmi waa yauda sekalian toh haha kalau mereka cocok ya syukur kalau engga yg gapapa”, ujar bapak dari pria yg berasal dari angkatan ini.
“ahaha tugas kita kan hanya menunjukkan, biarkan nanti anak saya dan mas Satria yg saling berkenalan lebih dalam”, balas bapak Adelia.

Adelia hanya terdiam sesekali tersenyum.

pada dasarnya, dalam berpasangan hidup, tidaklah mengenal tipe. yg penting cocok dan bisa menjalin komunikasi yg baik, itu sudah sangat cukup. Adelia menerima perkenalan itu sebagai langkah awal.

jantung Adelia berdegup kencang saat ia dan pria itu duduk untuk makan siang di salah satu sudut rumah, nasi sop ayam rumahan mememani obrolan mereka.
“kuliah sudah mau selesai ya?”, tanya Satria pada Adelia.
“iya, masih ada dua semester lagi lah, mas dinesnya dimana?”, tanya Adelia yg nampak sudah mulai cair.
“oh ya bagus dong hehe engga lama juga, aku dines di pangkalan di daerah Sumatera, tapi kan dirotasi terus”, balasnya sambil melahap daging ayam goreng yg sangat renyah dan enak itu.

Adelia hanya membalas dengan senyuman serta melahap dengan sangat lembut. tak lupa mereka juga saling menukar nomor HP saat sebelum berpamitan. suasana hati dara cantik ini berubah menjadi sedikit berbinggar mengingat ada pria yg mulai mengisi hatinya.

malam sebelum tidur pun Adelia masih sibuk untuk saling berbagi pesan dengan pria yg baru saja ia kenal pada siangnya. Pesan singkat berupa obrolan ringan serta mencari bahan untuk saling kenal. Adelia juga berpikir kalau pria yg sedang berbalas pesan merupakan perkenalan dari bapaknya, pasti akan lebih mudah memberi restu. akan sangat berbeda jika ia membawa Kelvin. sebagai seorang yg super kaya bisa saja ia merasa superior dihadapan orang tua Adelia yg hanya pegawai menengah biasa. wait…

Kelvin? siapa dia? pria muda kaya itu entah hilang bagai ditelan bumi, pesan singkat pada jaman dulu tidak dibalas. disayangkan Kelvin tidak memiliki media sosial sehingga Adelia tak bisa memantau Kelvin sedang berada dimana dan sedang apa.

**

“Kelv, our project will be running soon, in few days”, teriak Michael dari ujung telepon karena sedang berada di sebuah lokasi yg banyak alat berat sedang bersiap untuk meratakan tanah. project ini adalah project ambisius anak muda yg ingin memberikan tempat yg layak untuk para pegawai kelas menengah kebawah atau masyarakat kelas menangah kebawah yg ingin memiliki hunian diatas tanah, daripada hanya sebuah rumah susun.

“Good, glad to hear it. unfortunetely i cannot make it there”, balas Kelvin dari kantornya memandangi peta tanah dari atas di Bali yg beberapa waktu lalu ia beli dari om Suryo sembari membandingkan design bangunan yg cocok untuk daerah situ.

“maaf saya sedang membuat property di daerah Jatim dengan beberapa kawan saya”, ujar Kelvin kepada seorang tamu yg berencana menjadi lead design team developer untuk villa dengan view persawahan yg cukup mempesona.
“tidak apa pak, santai saja. itu adalah beberapa design yg cocok untuk terus memaksimalkan pemandangan persawahan yg ada”, balas seorang pria berpenampilan rapi.

Kelvin hanya manggut-manggut dengan menunjukkan wajah datar. meeting berlangsung cukup singkat.
“baik kalau begitu bapak, beberapa hari kedepan akan kami kirimkan kembali design yg pas untuk bagian belakang dari villa”, lanjut pria berpenampilan necis itu.
“baiklah”, balas Kelvin sembari pria itu pamit mengundurkan diri.

“bu Lydia kok belum masuk ya, ada apa ya?”, tanya Kelvin pada Audrey yg sejak tadi berdiri disebelah Kelvin sambil mencatat, karena antara Lydia atau Audrey akan di tempatkan di lokasi baru sampai villa baru itu bisa beroprasi dengan sendirinya.
“iya bapak, sudah seminggu ini engga masuk”, balas Audrey yg duduk disalah satu kursi di dalam ruangan Kelvin.
“menghawatirkan”, balas Kelvin sigkat.
“iya, saya tanya juga katanya akan masuk, tapi belum, mungkin kalau bapak yg menghubungi beliau akan cerita”, ungkap Audrey.
“apa dia ingin resign tapi bingung memulainya”, ujar Kelvin bertanya pada Audrey namun juga kepada dirinya sendiri, dibalas dengan mimik wajah dan badan mengisyaratkan tidak menahu.

Audrey berpamitan untuk kembali ke devisinya setelah meeting singkat tersebut. Kelvin mengamati wanita berbadan semok yg terbungkus dengan celana panjang serta blouse gelap yg juga dipadukan dengan jilbab yg senada sehingga mengundang rasa penasaran bagi seorang pria yg masih muda dan beringas menaklukkan banyak wanita ini.

Kelvin duduk di meja kerjanya, membuka laptop dan membuka semua gambar dan file design inspiratif yg ia simpan sembari mencari sebuah inspirasi yg cocok.

inspirasi, tidak bisa dipaksa memang. perlu sebuah perungan yg cukup dalam untuk mencapai kata sepakat. sembari menunggu, ia membuka file lama yg belum sempat ia buka dalam waku yg cukup lama.
“gila, gak nyangka bisa langsung main sama dua bidadari gini”, dalam hatinya memainkan kembali hasil rekaman adegan seks antara dirinya dengan Ariel dan Dinda.

jika, seorang manusia sudah memiliki harta, tahta dan wanita tinggal pilih sudah langsung melepas bajunya dengan sendirinya. apakah sebuah pernikahan itu penting? terlepas dari nilai dan norma yg berlaku di negara ini.

**

“ganteng gak?”, tanya Silvia pada Adelia yg sudah sedikit memiliki mood untuk tersenyum dan kembali normal.
Adelia mengangguk dengan mengumbar senyum.
“jadi kamu yg kemarin nangis-nangis, sekarang udah heppy aja?”, tanya Laila yg sedang duduk bertiga dibawah pohon nangka di sudut jauh dari kampus ini.

“apakah ini yg dikatakan lebih baik dengan seseorang yg bisa memberikan kepastian daripada pria yg memiliki segalanya namun penuh dengan teka-teki? aku bisa membayangkan seorang Cinta yg bingung dan hilang arah ditinggal Rangga”, ujar Adelia duduk di rerumputan memandangi jauh persimpangan jalan kampus yg cukup ramai sepeda motor.

-BERSAMBUNG-

Daftar Part

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂