. Rich and Violent Part 30 | Kisah Malam

Rich and Violent Part 30

0
255

Rich and Violent Part 30

KOMPETISI

Seorang wanita terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya kering, dengan perlahan menuruni kasur agar tak membangunkan temannya yg lain lantas berjalan keluar kamar. Melihat kiri dan kanan memastikan tidak ada kehidupan di ruangan luar. Pintu kamar Kelvin menyorot lampu dari dalam yg bisa diketahui dari sela-sela bawah pintu. Wanita yg tidak takut kegelapan mengambil gelas dan membuka kulkas milik Kelvin. Dari sudut ruangan yg lain dari sudut mata Kelvin ada sosok wanita yg engga tau kalau ada seorang pria duduk disana sendirian. Wanita itu menegak air putihnya sambil memandangi balcony, lantas terkaget melihat sosok pria duduk membaca buku di pojokan.
“Astaga!! Mas Kelvin?”, teriaknya terkaget.
“Silvi, belum tidur?”, tanya Kelvin menyaksikan wanita itu terpaku hanya menggunakan atasan serta celana dalam.
“Udah tadi mas, tenggorokan kering”, balasnya yg sembari jalan pelan kearah Kelvin yg sedang duduk, “udah jam setengah dua pagi masih belum tidur mas?”, lanjutnya bertanya.
“Ya gini ini, malam buat baca buku sampai terkantuk”, balas Kelvin, “kamu engga dingin hanya pakai seperti itu?”, mata Kelvin memandang kearah tubuh bagian bawah Silvi yg memiliki paha super mulus dan body bagaikan gitar.
“Biasanya kalau tidur seperti ini mas, mas Kelvin juga hanya pakai seperti itu”, balasnya sambil dalam hati memandangi badan Kelvin yg cukup berotot dan proporsional.

Silvi duduk disebelah Kelvin turut memandangi kearah balcony dan merapatkan kedua kakinya.
“Yg lain pada tidur?”, tanya Kelvin dengan santai namun berdebar.
Silvi mengangguk pelan disertai dengan senyuman genit khas anak kota yg menyimpan banyak keinginan, “ya”, ujarnya dengan lirih dan tubuh mereka semakin berdekatan.
Tanpa ada paksaan dan ajakan.
“Smooccchh”, bibir kedua manusia itu saling bertemu dengan sangat sensual.

“Masss….”, ujar Silvi terkaget namun juga menikmati.
“Shit, I am sorry..”, ujar Kelvin menyesal telah mencium bibir sahabat Adelia. Kelvin dengan sopan menjauhkan badannya serta kepalanya dari Silvi.

“SMOOOCCCHHHHHH”, tangan Silvia menarik kepala Kelvin untuk kembali mengajaknya berciuman. Kelvin seolah terbius. Dia yg biasanya membius wanita untuk diajak tidur, kali ini dia kena buah simalakama (benar kan, buah simakalama?). Lidah mereka saling bertemu, mata mereka saling terpejam. Kelvin bahkan belum pernah merasakan bibir Adelia, namun justru di dahului oleh Silvia.

Tubuh seorang mahasiswi yg cukup bagus, masih kencang serta payudara yg pas ditangan Kelvin. Tangan Kelvin menjalar menelusuri tubuh wanita yg memiliki pacar ini. Mereka terbius dalam nikmat dan ciuman. Ruangan yg sudah meredup cahayanya membuat nafsu mereka berdua semakin memuncak. Silvia seolah tak peduli bahwa pria yg dia nikmati adalah kekasih atau pujaan hati sahabat dekatnya.

Silvia atau sering dipanggil dengan Silvi, bukanlah wanita yg seperti Adelia, yg dengan sangat berhati-hati bergaul dengan seorang pria untuk menjaga kehormatannya. Wanita yg berasal dari sekitaran Bandung yg memiliki kehidupan cenderung lebih bebas ditambah dari kalangan kelas menengah. Ditambah dengan tinggal di sebuah apartment seorang diri, mengajak pacarnya untuk berkunjung ke dalam unitnya adalah hal yg biasa baginya dan sahabatnya juga maklum karena ini Jakarta dan memang gaya hidup wanita ini. Selama ia tidak mempengarui atau menulari hal negatif untuk temannya.

“Stop, please I cant”, ujar Kelvin melepaskan ciumannya dan menyadarkan diri kalau yg ia lakukan bisa memperburuk keadaan yg sudah cukup buruk karena Adelia bisa saja lepas kapan saja karena tiadanya waktu khusus untuk Adelia.
“Aahhh kenapa mas?”, balas Silvi yg seolah tidak terima dengan Kelvin yg tersadar.
“Kamu sahabat Adel, maaf aku engga bisa”, protes Kelvin yg lantas membuat Silvia bangkit dari tempat duduknya.
Namun Silvia bagaikan macan yg sudah tidak makan sebulan lamanya dan melihat kawanan kijang berlarian bebas di padang yg luas. Rasanya hanya ingin menerkam dan melahap kawanan kijang itu. Silvia memposisikan diri tepat dihadapan Kelvin, berlutut diantara kakinya lalu sambil memberi kedipan yg sangat genit menaruh kedua tangannya pada celana boxer Kelvin.

Kelvin duduk hanya menyaksikan, kucing mana yg engga tergoda dengan ayam goreng berada di hadapannya, tiada yg menjaga dan melarangnya untuk memakan. Perlahan Silvi menarik boxer yg dikenakan Kelvin, penisnya langsung berdiri tegak bagaikan tiang bendera. Sambil melihat kearah Kelvin, Silvia memasukkan penis ke dalam mulutnya, bibirnya mengurut otot penis Kelvin yg menonjol. Kelvin memandangi gerak gerik sahabat Adelia ini sedang menikmati penisnya.
“Awwhh hmmm”, desah Kelvin ringan.
“Kalau gini daritadi kan enak gak kebanyakan drama”, ujarnya dengan lembut sambil ia berkonsentrasi mengulum buah kemaluan Kelvin.

Silvia memang sedikit bitchy, dengan body yg paling bagus diantara ketiga sahabat ini. Wajahnya yg juga cantik jika ditambah dengan makeup lengkap sudah kecantikan yg dimilikinya. Kepalanya dengan ritme sedang naik dan turun mengikuti irama. Kelvin terdiam keenakan. Dengan berani akhirnya ia membelai rambut Silvia yg sedang memberikan rasa enak.
“Gak usah ditahan mas, sampai keluar aja, aku ingin disembur di dalem”, ungkapnya dengan genit. Kelvin seatback dan relax menikmati tiap moment yg diberikan oleh Silvia. Tangan Silvi tidak membantu proses kuluman, dia sudah terlalu ahli mengulum penis sehingga tanganmu gak dipergunakan.

Penis Kelvin selalu tegak, apalagi saat Silvia menelan seluruh panjang penis pria kaya ini. Nafas Silvia terengah-engah keenakan.
“Hosh hosh hosh..”.
“Penismu sempurna banget, mas. Sayang gak ada yg ngurusin”, ujarnya sambil kembali memasukkan kembali pada mulutnya. Benar yg dikatakan Silvia, gak ada wanita yg rutin untuk menuntaskan nafsu pria berperawakan gagah ini.

Seolah mengetahui bahwa Kelvin sudah lama gak melakukan hubungan, Silvia mengulum naik dan turun dengan cepat, Kelvin tidak diberi kesempatan. Hanya tangan Kelvin yg menahan kepala Silvia jika gerakan dia akan segera meraih orgasme.
“Silvi ahh pelan aja aahh please ahh”, desah Kelvin.
“Hihi kenapa mas, keenakan tah?”, tanyanya sambil mengeluarkan seluruh penis dari dalam mulutnya.
Kelvin tersenyum memandangi wanita muda ini.

Kembali memasukkan ke dalam mulutnya. Silvia kembali pada ritme sepongan yg cepat, ia juga ingin segera berakhir agar temannya yg tidur bersamanya engga curiga kalau Silvia sedang tidak ada di dalam kamar. Dan itu membahayakan. Kalau Laila yg turun untuk mencari Silvia sih gapapa, kalau Adelia, bisa berabe dan akan timbul masalah yg sangat besar diantara mereka bertiga.

Penis Kelvin sudah tidak mampu menahan desakan lahar putih yg akan keluar. Tubuhnya menggeliat berusaha untuk melawan rasa nyeri yg menyerang tubuhnya. Tangannya sesekali menahan kepala Silvia agar ia diberi kelonggaran bernafas. Lidah mahasiswi ini menari di batang penis Kelvin, memberikan efek tersetrum bagi sang empu.
“Aku gak kuat..”, desah Kelvin yg sudah disepomg kurang lebih 12 menit.

Silvia semakin cepat bergerak, kepalanya semakin naik dan turun, lidahnya terus memberikan stimuli tambahan. Tangan Kelvin mencengkram kencang kepala Silvia. Otot tubuhnya mulai mengejang, keringatnya bercucuran.
“Awwwwwwhhhh ohhhh yes, kenceng lagi kenceng lagi”, perintah Kelvin.
“Awwwhhhh hamm aaahhh oohhh”, desahnya tertahan, dibarengi dengan semburan lahar dingin menyemprot di dalam mulut Silvia, sahabat dekat Adelia. Semburan yg cukup banyak.

Silvia tetap diantara selangkangan Kelvin, membiarkan penisnya sedikit melemas. Dengan lembut ia menarik dirinya dari tubuh Kelvin berusaha agar semua spermanya tetap tertampung di dalam mulutnya. Wanita muda ini lantas tersenyum ke arah Kelvin dengan genitnya sambil menelan tiap tetes sperma yg keluar.
“Aahhhh”, ujarnya setelah menelan seluruh cairan hina milik Kelvin.
“Kamu nakal sekali”, balas Kelvin.
Silvia lantas beranjak dari posisi awalnya yg berlutut bagaikan seorang abdi pada seorang raja. Ia berdiri dan Kelvin melihat celana dalam Silvia yg terlihat basah tepat dimana vagina itu berada.

“Aku tau sebernarnya kamu juga mengingkannya, suatu saat kita akan kembali berjodoh mas, di atas kasur dengan permainan yg lebih panas..”, terang Silvia yg seolah mengancam Kelvin.
“Maksudmu?”, balas Kelvin bingung dengan perkataan Silvia.
“Haha lupakan mas, bye goodnight”, lanjutnya dengan berjalan ke arah kamarnya dimana ia tadi sempat tertidur pulas. Kelvin masih duduk dan bingung dengan yg baru saja terjadi. Ia tersenyum melihat wanita seusia Silvia yg memiliki nafsu hingga tak mampu mengontrol dirinya sendiri. Penis Kelvin sempat berdiri lagi saat ia meraba badan wanita yg masih sangat muda melewati dirinya saat akan menuju ke kamar.

**

Di atas tanah pedesaan, saat matahari sudah mulai menerbitkan cahayanya. Ayam berlomba-lomba untuk bernyanyi menunjukkan siapa yg memiliki kokokkan paling keras. Para orang tua sudah keluar dengan sapunya untuk membersihkan dedaunan yg rontok akibat angin malam sebelumnya. Udara masih sejuk. Pemandangan itu yg hanya akan ditemukan di desa. Kehidupan di kota, saat matahari mulai muncul, disanalah pekerja mulai berangkat ke kantor sebelum macet.

Waktu belum menunjukkan pukul 6. Adelia sudah terbangun. Melihat kedua temannya yg tidur hanya menggunakan atasan dan celana dalam. Dengan masih sempoyongan dan loading. Ia meraih HPnya untuk melihat waktu. Dengan perlahan ia ke kamar mandi untuk pipis serta merapikan jilbabnya.

Ia berjalan keluar kamar. Sunyi adalah nama yg pas dengan kondisi saat itu. Berjalan menuju ke ruang tengah dimana ia pernah disidang oleh Kelvin mengenai hubungan dirinya dengan mantannya yg membuat Kelvin terlibat. Disudut ruangan dekat balcony, ada sosok yg membuat Adelia terkaget.
“Yaampun, mas Kelvin ketiduran disitu tadi malam”, ujarnya sambil mendekati pria yg baru saja malamnya mengeluarkan seisi buah zakarnya dengan sahabat wanita yg berdiiri disebelahnya saat ini. Buku tertutup terbalik berada di bawah kaki Kelvin. Kemungkinan jatuh sendiri akibat si pembacanya tetiba tertidur.

Dengan sangat perlahan, Adelia menyentuh pundak Kelvin yg tertutupi oleh bathrope.
“Mas….”, sapanya dengan lembut membangunkan tanpa mengetahui tindakannya pada beberapa jam sebelumnya.
Kelvin menguap serta perlahan ia membuka mata. Tersadar kalau bathropenya terbuka sehingga mengekspose dada serta celana boxernya, ia meraihnya dan menutupkan pada tubuhnya yg terbuka.
“Uhhh Adel, jam berapa ini?”, tanyanya sambil berusaha untuk terbangun.
“Jam 6 kurang mas, ada meeting jam berapa?”, Adel duduk dikursi yg berbeda menanyai dengan sangat lembut.
“Masih jam 9.30an kok”, balas Kelvin singkat.
“Aku buatin teh ya, biasanya gak ada yg buatin kan?”, ujar Adelia yg lantas beranjak untuk ke dapur, tanpa persetujuan Kelvin, Adel inisiatif untuk membuatkan minuman hangat.

Kelvin terbangun seutuhnya, ia membuka HPnya untuk membuka email jikalau ada yg penting untuk dibalas. Rencana meeting dengan beberapa komisaris perusahaan media yg sekarang ia kelola terkait arah angin politik mana yg akan mereka dukung serta pencitraan yg akan di naikkan. Sudah menjadi ciri khas di negeri ini, media ikut andil dalam pertarungan politik. Lokasi dapur yg beberapa langkah dari dimana Kelvin berada terdengar jelas suara adukan yg bertubrukan dengan dinding gelas.
“Ini mas, tehnya mumpung masih hangat”, ujarnya sambil membawa segelas teh dengan ukuran gelas sedang. Ia taruhnya di meja sebelah Kelvin, “kamu nampak capek sekali”, lanjutnya memperhatikan pria yg selama ini mengisi hatinya walau Kelvin sendiri belum menyatakan perasannya. Namun dari gerak-gerik mereka kalau ada sesuatu yg spesial diantara mereka.

“Terimakasih, setiap hari seperti ini aku”, balasnya dengan singkat sambil melihat kearah Adelia dan memberikan senyuman. Adelia malu. Ia enggan membalas tatapan Kelvin, “ada kuliah jam berapa hari ini?”, tanya Kelvin.
“Aku jam 11, kalau Laila dan Silvi kosong hari ini”, balas Adelia.
“Hmmm beda kelas ya”, tanya Kelvin dan di balas dengan anggukan dari Adelia. Tak banyak obrolan serius yg mereka bicarakan kecuali hal yg umum. Perhatian yg kecil diberikan oleh Adel yg membuat Kelvin menyimpan rasa bersalah karena apa yg ia lakukan beberapa jam sebelumnya, walau hanya sebuah blowjob. Khas seorang keibuan Adelia yg turut membereskan ruang tengah Kelvin yg berceceran oleh buku bacaannya.

“Nanti biar dianter sopirku ya, aku mau mandi dulu, sarapan untuk kita semua sudah disiapin nanti dianter untuk kita semua”, ujar Kelvin pada Adelia. Tak ada yg janggal dimata Adelia pada seorang Kelvin. Masih sama. Cuek dan perhatian diwaktu yg bersamaan. Wajahnya yg nampak capek ditunjukkan oleh Kelvin, pemandangan ini yg jarang ditunjukkan oleh Kelvin pada saat jalan dengan Adelia.

Kedua teman Adelia terbangun, kali ini sudah lengkap menggunakan celana. Silvia bertemu dengan Adelia. Ada rasa awkward, tapi Silvia berusaha tak menunjukkannya. Sihir asmara Kelvin juga mengenai Silvia, bukan karena hatinya, tapi karena kekayaannya. Berbeda dengan Adelia. Mereka bertiga duduk di balcony saling bercengkrama. Makanan hangat dari resto sudah diantar keatas, sarapan berupa english breakfast sosis, roti dan baked beans. Kelvin masih di dalam kamar untuk berpakaian serta keluar kamar setelah mandi. Setelan celana hitam dan kemeja warna biru muda dia kenakan.

“Udah pada bangun, Ayok ladies, sarapan, sudah ada kan?”, ajak Kelvin pada ketiga wanita yg sedang bercengkrama di balcony memandangi nun jauh disana dari ketinggian.
Adelia beranjak dan bersiap untuk menyiapkan untuk Kelvin dan temannya semua. Silvia menatap Kelvin dengan tatapan senyum dan genit diwaktu yg bersamaan. Dilakukannya dibalik Adelia. Kelvin tidak menggubris dan duduk di kursi meja makan yg cukup untuk orang 6 itu.
“Ini mas”, ujar Adelia menyiapkan makannya.
“Del, udah cocok lho hehe”, puji Laila yg tak mengetahui hubungan gelap antara Silvia dengan Kelvin.
“Ih apaan sih haha”, balas Adelia sambil memberikan satu per satu makanan pada temannya.
Obrolan ringan menyertai makan malam mereka berempat, mulai dari pujian teman Adel terkait kehidupan Kelvin yg sangat nikmat, jauh dari kesan capek doang duit sedikit dan hanya bersantai. Tidak yg harus jam 9 masuk kantor dan pulang pukul 5 sore.

Usai makan, pria yg akan menginjak usia 28 tahun ini kembali merapikan pakaiannya termasuk mengenakan dasi berwarna gelap. Saat pria ini sibuk membenarkan dasinya, 3 pasang mata menyaksikan pria ini tanpa berkedip. Dengan pikiran bahwa pria seperti ini yg banyak diidamkam oleh wanita. Kelvin membawa jas serta tas yg berisikan dokumen dan berkas lainnya.
“Aku keluar dulu ya, kamu tau kan cara ngunci pintunya, nanti kalau mau pulang bilang aja sama pak sopirnya, sudah tak kasih kontaknya”, perintah Kelvin memberi instruksi pada Adelia. Wanita muda itu membalas dengan anggukan dan mengantar Kelvin hingga pintu sudah bagaikan seorang istri mengantar sang suami untuk berangkat bekerja. Mereka tak terus akan enak-enakan dirumah Kelvin, mereka lantas bergegas untuk mandi atau membereskan kamar yg dipinjamkan oleh Kelvin. Dalam benak Silvia dan Laila yg tak ada kuliah, bisa saja mereka tinggal dirumah itu. Tapi apadaya Adelia harus pulang karena ia tak pernah membolos kuliah kecuali alasan sakit.

Sesuai instruksi yg diberikan oleh Kelvin pada Adelia. Kunci sudah ditempatkan yg diperintahkan serta sopir juga sudah diminta untuk mengantar dirinya.
“Eh mbak Adelia..”, sapa sang sopir yg dulu pernah mengantar Adelia saat tersandung masalah dengan mantannya.
“Ketemu lagi, pak”, balas Adelia memberi salam.
“Kok kenal, Del?”, bisik Laila.
“Dulu pernah dianter sama bapaknya ini”, balasnya yg juga pelan.

Adelia dan Silvia duduk di tengah sedangkan Laila duduk dibelakang sendiri. Nampak ada status yg diperjuangkan oleh kedua wanita ini. Saat naik Alphard, biasanya raja atau ratu akan duduk di tengah dan abdinya akan duduk dibelakang atau depan. Silvia yg diam-diam berusaha menduduki jabatan Adelia tak mau kalah dengan hanya duduk dibelakang. Adelia memang duduk berada di tengah, sudah semestinya. Strata pada posisi duduk di mobil ini memang samar-samar, tapi bagi pemilik atau yg sering naik mobil sekelas Alphard pasti mengetahuinya.

“Eh tadi malam, kok seperti ada yg bangun ya”, celoteh Laila yg duduk dibelakang.
Jantung Silvia lantas berubah menjadi cepat, secepat saat berlari dikejar anjing. Dia diam sejenak menunggu kata-kata yg keluar dari mulut Adelia.
“Ah perasaanmu kali, rumah segede gitu memang sering menimbulkan halusinasi”, balas Adelia dengan bijak.
“Iya ah jangan bikin kita merinding tau”, balas Silvi yg mendukung pernyataan Adelia. Dia sedikit lega karena tak ada mengetahui tindakan Silvia, setidaknya hingga jika Kelvin sampai membuka suara atau Silvia keceplosan menikmati penis Kelvin walau hanya sebuah blowjob.
“Masa tadi malem ada yg gak beres di kamar den Kelvin?”, tanya si sopir.
“Sepertinya sih pak”, balas Laila.
“Ah engga ah, saya pernah menemani deh Kelvin tidur di ruang depan juga aman-aman aja”, tutup si sopir.
“Laila nglantur itu pak haha”, jawab Silvia untuk menutupi perilaku bejatnya.

Perjalanan naik mobil mewah memang beda jika seperti naik Avanza, lebih anteng, nyaman dan kedap suara. Sopir juga engga kepo dengan perilaku si pemilik mobil maupun orang dia antar. Dia hanya melakukan pekerjaannya mengantar dari point A ke point B.

Kost yg tak begitu mewah, yg penting bisa melengkapi kebutuhan utama manusia, yaitu papan atau tempat untuk berlindung. Silvia dan Laila mengambil motor mereka dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat tinggal masing-masing. Adelia memasuki kamar kostnya sejenak dan bergegas untuk memasukkan kebutuhan untuk kuliahnya dan segera memacu sepeda motornya untuk segera ke kampus agar tidak telat mengikuti perkuliahan.

Beda dengan Silvia yg hari itu tidak ada kelas, berada di dalam kamar apartmennya membayangkan seiandaiannya tidak ada Adelia di rumah itu pasti adegan blowjob berubah menjadi adegan seks yg panas. Memek muda yg sudah pernah merasakan seks sebelumnya dengan mantan kekasih dan kini lebih sering beradu nafsu dengan pacarnya, tetiba menjadi basah kembali. Posisi tiduran dikasur menambah pas suasana untuk menyalurkan nafsu. Ia meraih teleponnya.
“Sayang, kamu dimana?”, tanya Silvia dibalik telepon tertuju pada pacarnya.
“Di rumah sayang, kenapa?”, balasnya pria itu.
“Sini dong ke apartment hehe bawa kondom ya”, ujar genit Silvia.
“Tumben oke, setengahjam lagi sampai”, tutup pria itu.
Silvia memasukkan jemarinya pada celana dalamnya, “ahh mas Kelvin, ku ingin jadi pemuas nafsumu”, desahnya.

Duduk di kelas baris kedua karena posisi baris pertama sudah penuh, HP ditaruh di meja disandingkan dengan buku tulis yg campur dengan mata kuliah lain.
[11.15am] Kelvin: sudah sampai kampus?
[11.15am] Adelia: sudah mas. masih meeting?
[11.45am] Kelvin: iya.
Pesan singkat yg membuat hati adem, bahagia dan senyum-senyum sendiri tanpa sebab.

-BERSAMBUNG-

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler