. Rich and Violent Part 29 | Kisah Malam

Rich and Violent Part 29

0
264

Rich and Violent Part 29

THE KONGLOMERAT

Kurang lebih beberapa minggu sejak peristiwa di rumah sakit yg membuat Kelvin dan Pak Wijaya mengambil keputusan untuk membeli rumah sakit tersebut atau saham mayoritas dari rumah sakit tersebut. Kelvin hanya perlu menerima update dari tim yg mengurusi itu semua, bahwa semua berjalan lancar. Owner rumah sakit sudah tua serta tinggal di luar negeri bersama anaknya. Pantas kalau ia tidak bisa mengawasi maksimal rumah sakit tersebut, yg ia tau hanya terus menerima pundi-pundi rupiah serta menetapkan kebijakan profit yg harus dihasilkan rumah sakit. Tanpa ia ketahui bahwa rumah sakit lehernya tercekik akibat program jaminan sosial yg menyesengsarakan rumah sakit. Mungkin pimpinan yg dipercaya owner untuk menjalankan roda bisnisnya kurang pandai sehingga banyak terjadi kolaps di sistem organisasinya.

Di tanah air tercinta ini, sebenarnya banyak konglomerat yg memiliki sifat seperti Kelvin, namun tidak nampak. Kenapa, kalau ada orang kaya yg masih menunjukkan kekayaannya seperti jalan-jalan keluar negeri, beli mobil mewah atau rumah mewah masih di posting di sosial media atau dipamerkan melalui televisi, pada dasarnya orang yg bersangkutan masih belum kaya serta masih belum mapan dalam hal jatidiri atau sering yg kita sebut dengan OKB (Orang Kaya Baru). Lihat saja seperti orang terkaya nomor wahid Indonesia, Michael dan Budi Hartono, tidak terlihat kan, adem ayem aja, engga seperti Raffi Ahmad atau artis lainnya yg ramai dan suka pamer. Selain itu, kegiatan sosial seperti ini sebenarnya sering mereka lakukan, tapi sering kali secara diam-diam yg penting tepat sasaran. Seperti membantu membangun masjid, sumbangan untuk membangun desa maupun memberikan pegawainya bonus yg nilainya cukup banyak. Tapi buat apa seperti itu dipublikasi? Mau nyari ketenaran? Yg penting mereka melakukan kewajibannya membantu orang yg membutuhkan regardless orang lain menilai apa, biarkan Tuhan yg menilai. Justru orang yg duitnya tak berseri ia ingin tidak diketahui oleh orang lain selain lingkupnya kalau dia kaya. Mereka hanya ingin jadi orang biasa yg turut merasakan panas dan hujan.

Langit Jakarta pagi itu lumayan gloomy, mendung tapi tak hujan. Ibarat nafsu memuncak tapi pasangan tak mampu memberikan orgasme. Dengan pakaian khas seorang pekerja tapi dengan mencolok bisa dibedakan mana seorang boss dan mana seorang pegawai. Kelvin duduk anteng dibelakang Alphard-nya di antar untuk menuju ke rumah sakit yg baru saja di beli. Pembelian itu hingga masuk ke koran atau media, tapi nama orang yg membeli adalah Pak Wijaya, lagi-lagi seperti yg dijelaskan diatas, orang kayanya dibelakang layar.

Hiruk pikuk rumah sakit masih berjalan seperti biasanya, tiada perubahan, masih ramai dan kali ini pelayanan jauh lebih baik, satpam ikut menyambut pasien yg turun dari mobil. Kelvin mengawasi dari jauh, banyak yg engga tahu kalau saham kepemilikannya adalah Kelvin. Perawat tampilannya lebih segar dengan senyum khas mereka masing-masing.
“Mas, all good, mungkin hingga 3 bulan kedepan masih masa transisi, jadi pembenahan dilakukan sedikit-demi-sedikit”, sapa Pak Wi memberikan jabat tangan.
“Iya gak masalah”, balasnya singkat pada mentor bisnisnya ini.
Kelvin duduk diruangan pimpinan bersama dengan Pak Wi membicarakan mengenai dampak dan prospek yg akan terjadi pada pengambil alihan ini. Termasuk beberapa pegawai bisa saja kena reshuffle yg juga akan berdampak pada perekonomian keluarganya. Hal kecil seperti itu juga mereka pikirkan.

Salah satu aspek yg ingin diubah oleh Kelvin adalah dari segi pelayanan, pelayanan harus hampir setara dengan palayanan hotel dimana semua pasien layak diperlakukan bagaikan seorang tamu. Dia sudah sakit, membayar dan pantas untuk mendapatkan perawatan yg maksimal. Pak Wi setuju. Serta ada beberapa program tambahan khusus pegawai HS group yg ingin berobat dengan harga yg miring. Tak lupa mereka juga membahas subsidi untuk oprasional rumah sakit agar kualitasnya bisa naik jadi yg lebih baik.

Kelvin berjalan menelusuri lorong pintu demi pintu untuk memantau adakah perubahan yg mencolok atas pemindahan tangan ini. Owner sebelumnya kini menjadi pemegang saham minoritas yg artinya mereka tetap menerima profit tapi tidak berhak mengambil keputusan. Ada sebuah ruangan yg terbuka sedikit, di dalamnya ada seorang pria setengah baya yg berusia 40 tahunan, mengemas barang-barangnya, wajahnya nampak lesu. Tak lain dia adalah manager administrasi yg terkena dampak dari perubahan ini.

“Boleh saya masuk”, tanya Kelvin menyamperi pria ini.
“Silahkan bapak”, balasnya.
Kelvin masuk lantas dia duduk di kursi yg untuk tamu, pria tadi diketahui bernama Hadi. Di mejanya masih terpampang foto keluarga, dia memiliki dua anak yg masih kecil menunjukkan wajah bahagia saat berfoto itu.
“Apa rencanamu setelah ini?”, tanya Kelvin.
“Entah bapak, mungkin akan memulai berjualan apa yg bisa di dagangkan”, balas Hadi dengan lesu.
“Aku masih bisa memberimu kesempatan, kalau berkenan, aku minta maaf karena kebijakan ini kamu terkena dampaknya”, ujar Kelvin dengan terbuka meminta maaf pada Hadi yg ia semprot dengan amarahnya.

“Benarkah bapak? Masih menerima saya atas kata-kata saya yg menyakiti bapak?”, tanya Hadi dengan wajah memberikan pengharapan.
“Lupakan yg kemarin”, balas Kelvin.
“Tekanan yg diberikan oleh pimpinan serta kebijakan pemerintah menjadikan kita bagaikan sapi perah yg susunya sudah tinggal menetes bapak, kami tidak bisa mendulang profit, pembayaran ke dokter jalan terus, tapi kami di administrasi selalu serba salah”, curhat Hadi mengenai kondisi rumah sakit.

“Baiklah baik, aku masih memberikan kesempatan padamu untuk tetap duduk sebagai manajer tapi aku akan memasukkan kamu dan mungkin beberapa anggotamu untuk menerima pelatihan managerial perhotelan, nanti kamu akan kami nilai dan maksud dari ini adalah agar pelayanan di Kasih Bunda mendekati pelayanan hotel”, terang Kelvin yg membuat Hadi lantas menarik tangan Kelvin dan dia berikan salam serta mencium tangannya sebagai tanda terimakasih yg luar biasa, ia terus menerus mengucap terimakasih.
“Jangan cium tanganku, aku masih terlampau muda, seharusnya aku yg mencium tangan Pak Hadi”, balas Kelvin dengan tersenyum.
Mereka berdua saling berkenalan dan menceritakan kehidupan pribadi mereka untuk mencairkan suasana yg sempat menegang dan mereka berdua saling berjauhan tak ingin mengenal. Tapi kini mereka saling memberikan masukan yg positif untuk kembali menaikkan citra rumah sakit yg selama ini hilang akibat dijadikan program pemerintah tanpa memperhatikan ada yg didalam rumah sakit.

**

Kehidupan seorang konglomerat memang terbilang membosankan, maka dari itu sering kita melihat yg masuk jajaran orang terkaya pasti tau-tau sudah berada di luar negeri, liburan atau entah ngapain yg tak terlacak. Bagaimana tidak, tanpa ke kantorpun uang terus masuk per harinya, setelah menambahan usaha lainnya, kekayaan Kelvin pun juga semakin bertambah, yg dari plus-minus 70jt per hari menjadi 210jt per hari. Itu hitungannya kecil, ada juga yg mencapai puluhan Milyar per hari, tak perlu sebut nama tapi sama-sama tau saja. Bahkan ada juga konglomerat yg pernah membuat liga sepakbola, pemasukannya per hari adalah 2,4M per hari, entah sekarang berapa di tahun 2018.

“Iya mas, nanti malam bisa sih, tapi udah ada janji sama temenku untuk makan, atau mau ikut aja, biar kenal”, sapa dibalik telpon sana yg bernama Adelia. Wanita yg sudah beberapa minggu tidak sempat diajak jalan oleh Kelvin karena kesibukannya dan wanita itu juga takut memulai mengajak jalan. Tapi mereka tetap terus berhubungan melalui pesan singkat.
“Yawes gapapa, udah lama juga engga ketemu kamu”, balas Kelvin dengan santai sambil duduk di teras balcony lantai 24 memandangi view nan jauh disana.
“Oke mas”, tutupnya singkat sambil membaca buku legendaris yg dijadikan sebuah film berjudul “the wolf of wall-street”.

Hari menjelang malam, Kelvin bersiap untuk menjemput seorang wanita yg menggetarkan hatinya. Bukan dari kalangan artis, bukan anak dari seorang konglomerat, hanya anak seorang pensiunan biasa. Tak menggunakan pakaian yg fancy, hanya polo biasa dan celana pendek serta sepatu slip on yg ia beli dengan murah di Tokopedia. Mobil Audi A6 yg selalu bersih dan kinclong siap mengantar sang tuan ingin pergi, mobil sedan berkapasitas 4 orang ini melaju kearah kost Adelia. Dimana kedua sahabat lainnya yg bernama Silvi dan Laila menuggu dari sana. Mereka berempat akan makan malam di cafe steak yg cukup besar tapi harganya tak begitu mahal untuk kantong majoritas orang Indonesia.

“Ayo silahkan mari, maaf mobilnya berantakan”, sapa Kelvin pada Adelia dan dua sahabatnya yg sudah menunggu di depan kost.
“Mananya yg berantakan mas hehe rapi gini”, ujar Laila yg sok kenal dengan Kelvin.
“Hay mas”, sapa Adelia yg duduk di depan.
“Hello, maaf baru sempat mangajakmu jalan malam ini”, ujar Kelvin yg santun dan kalem, beda saat ia menggebrak meja rumah sakit beberapa waktu lalu.
“Gapapa mas”, balas Adelia sambil Kelvin menjalankan mobilnya, kedua temannya dibelakang hanya diam tapi nguping setiap perkataan kedua orang yg duduk di depan itu.

Ditengah perjalanan, Kelvin berusaha untuk tidak menjadikan kedua temannya itu menjadi awkward dengan menanyai perihal perkuliahannya serta hal yg bersifat general. Silvi dan Laila yg berparas cantik, berkulit putih, hanya saja yg membedakan mereka adalah Silvi berambut panjang bergelombang dan Laila berambut sedikit lebih pendek. Ketiga sahabat ini memiliki badan yg cukup bagus, namun Adel selalu menggunakan pakaian yg longgar sehingga hanya bisa ditebak dalamnya seperti apa.

Mobil Jerman berteknologi canggih yg selalu terhubung ke HP Kelvin mendapat panggilan dari kakaknya yg sekarang menjadi dokter di China.
“Bentar ya, maaf diem bantar ya”, ujarnya sambil memijat tombol di headunit mobilnya.

“Hello kak, baru aja aku rencana mau telpon kamu, bagaimana kabarnya?”, tanya Kelvin memberi sapa yg terdengar ke semua yg ada di dalam mobil.
“Baik-baik aja, kamu gimana dan ayah ibu?”, tanya kakaknya.
“Baik juga”, balas Kelvin.
“Aku barusan di beritahu oleh ibu, katanya kamu barusan membeli rumah sakit Kasih Bunda itu”, tanya kakaknya.

“Ebuset beli rumah sakit”, ujar Silvi pada Laila. Adelia hanya diam tapi ikut mendengarkan.

“Iya kak haha nah aku mau telpon itu karena mau ngajak kakak untuk membangun sistem disini, longgarnya aja kapan, bulan depan juga gapapa, manut lah”, ujar Kelvin.
“Hmm lets see yah, tapi I am happy for you, Im willing to help”, tutup kakaknya yg lantas berpamitan untuk menyambung telepon itu lain waktu.

“Baru beli RS mas?”, tanya Adelia. Silvi dan Laila tersenyum tertawa, karena biasanya orang membeli mobil atau rumah, lha ini membeli rumah sakit beserta isinya.
“Haha iya, mau mencoba usaha yg lain”, ujarnya dengan santai. Obrolan ringan menemani perjalanan mereka menuju lokasi tempat mereka akan makan malam.

Lokasi tempat makan yg cukup ramai dan dengan design interior yg kekinian yg bisa untuk foto feed di instagram. Mungkin ini salah satu maksud mereka bertiga memilih makan di tempat ini, untuk eksis. Tapi memang diusia mereka yg menginjak 21 tahun pas usia dimana mereka sedang suka eksis untuk mencari ketertarikan pada lawan jenis. Mereka saling memesan makanan berupa makanan western, bagi Kelvin ini makanan tiap harinya saat berada di UK.

Sembari menyantap makan malamnya, Adelia sedikit merasa kikuk untuk ngbrol dengan Kelvin karena ada kedua temannya itu, dan diantara mereka juga engga jelas ada hubungan atau tidak.
“Kamu kok diem aja, ada apa?”, tanya Kelvin berbisik yg duduk disebelah Adelia sambil menaruh tangannya pada pahanya yg duduk mereka menghadap ke kedua temannya.
“Gapapa mas, malu aja mau ngbrol ada yg lihatin hehe”, balasnya berbisik.

“Kalian cocok lho, lucu gitu lihatnya”, ujar Silvi memuji Kelvin dan Adelia tiap ngbrol selalu berbisik.
“Iya hehe”, ujar Laila.
“Masa sih?”, tanya Kelvin sambil tersenyum dan Adelia wajahnya memerah karena malu.
“Hmm biasa aja ih, kan hanya temenan”, protes Adelia yg justru semakin di ejekin bercanda oleh temannya.
“Apanya, kalau mas Kelvin engga kontak aja galau haha”, tawa Laila yg tiap hari hampir bertemu dengan Adelia.
Mereka berempat akhirnya cair, saling ngbrol dan bercanda, melewatkan seperempat malam dengan cepat. Obrolan mulai dari masa kecil Kelvin, hingga akhirnya Kelvin bisa menjadi orang seperti saat ini. Adelia pun juga turut mendengarkan cerita yg blm pernah ia dengar dari perjalanan hidup seorang Kelvin. Tapi tetap ia tak menceritakan mengenai kegiatan sosial yg pernah ia lakukan. Hanya hal yg menarik untuk di dengar aja yg ia ceritakan.

“Eh lah kok udah jam 10.39, pulang yuuk”, ajak Adelia menyadari ternyata sudah malam sekali.
“Eh jam berapa pager kostmu di kunci?”, tanya Laila yg motornya dia taruh di dalam sana.
“Uuuuuuw jam 10”, balas Adelia dengan seperti menyesal lupa tidak lihat jamnya.
“Tidur dirumahku aja, ada tiga kamar, besok lagi biar dianter pulang”, ujar Kelvin dengan santai.
“Engga usah mas, ku tak nyoba suru mbukain yg jaga, tinggal di depan rumah kok”, balas Adelia menolak.
“Tapi selama ini kalau ada yg telat dibolehin masuk?”, tanya Kelvin kembali dan dibalas dengan gerakan kepala yg artinya tidak.
“Gapapa, dirumahku aja”, balas Kelvin. Dan Adeliapun akhirnya setuju. Mereka pun bergegas untuk meminta bill pembayaran, tentunya Kelvin yg membiaya makan mereka yg habisnya mungkin engga akan terlalu banyak.

“Maaf, ini mas Kelvin?”, ujar pria berbadan tegap menggunakan dasi yg sepertinya dia manager rumah makan ini.
“Hmm iya, kok tau ya?”, tanya Kelvin kebingungan.
“Oh baiklah hehe rumah makan ini bagian dari HS Group, jadinya ini juga milik mas Kelvin sendiri”, ujar sapa manager itu.
“Oh haha punya usaha kuliner juga, saya malah baru tau”, balas Kelvin sambil tertawa.

“Punya usaha sampe gak apal beb saking banyaknya”, tawa Laila pada Silvi berbisik. Adelia memberi kode pada mereka untuk menjaga sikap pada orang yg baru aja dia kenalkan.

Kelvin pun akhirnya ngbrol dengan manager tersebut dan memberi sapa pada pegawainya yg masih berjaga menjelang tutup toko pada pukul 11.30 malam. Mereka berempat lantas kembali menaiki mobil Kelvin, hingga sampai di Luxor, tak ada pembicaraan yg berarti diantara mereka, hanya saling ketawa ketiwi dibelakang antara Silvi dan Laila. Adelia menjadi sosok yg tak banyak bicara pada pertemuan kali ini, lebih banyak Kelvin menanyai Silvi dan Laila selaku orang baru yg mereka kenal.

Tiba di parkiran basement, Silvi dan Laila saling senggol melihat koleksi mobil sport yg berjejer dibawah sana. Betapa beruntungnya Adel bisa dekat dengan salah satu pemain kelas kakap di dunia perbisnisan. Kelvin membukakkan pintu untuk memasuki unitnya setelah beberapa detik mereka berada di dalam lift. Hanya ada satu ekspresi pada kedua teman Adelia, yaitu kagum.
“Oh iya, ini aku tunjukin kamar kalian, tidur bertiga gapapa ya”, ujarnya sambil menunjukkan kamarnya.
“Gapapa mas, maaf sudah merepotkan”, balas Adel dengan sopan dan lembut.
“Santai aja, seperti dengan siapa lho, anggap aja rumah sendiri, kalau mau ambil air, tinggal ambil aja di kulkas. Besok biar dianter sopirku, karna besok pagi aku ada meeting dengan seseorang”, tutup Kelvin sambil undur diri ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

“Del, gila sih ini, kamu dapet jackpot”, ujar Silvi yg hebring melihat temannya akan naik status.
“Apaan sih, aku dengan mas Kelvin blm jelas juga, ya hanya jalan aja gini”, balasnya.
Mereka bertiga di dalam satu ruangan meributkan dan menceritakan kembali yg Kelvin ceritakan, mereka sangat excited. Adelia seperti biasa hanya datar tak banyak ekspresi dan hanya mengiyakan yg mereka katakan. Malam semakin larut, tapi wanita sebagai kaum yg banyak bicara akan selalu ramai.

“Kamu udah pernah kesini yah Del, kenapa kamu tidur sama kita engga sama mas Kelv?”, tanya Laila menyaksikan Silvi yg melepas celana panjangnya yg sekarang hanya menggunakan celana dalam berbentuk seperti celana namun ketat.
“Maaf ye, gak bisa tidur kalau pakai celana panjang hehe”, ujar Silvi dengan santai.
“Lu pikir aku Silvi haha ini selangkangan kalo di colok masih keluar darahnya haha, lagipula blm nikah juga haha”, tawa Adelia.
“Masih kuno yah kamu haha”, balas Silvi sambil memeluk Adelia yg artinya bercandaan.
Lampu sudah mereka matikan yg artinya hanya lampu redup. Jendela yg tak begitu besar bisa diterawang dari dalam kamar, view yg disajikan adalah gemerlip rumah penduduk yg jauh disana. Adelia yg melepas jilbabnya menunjukkan rambutnya yg pendek dan indah, namun masih lengkap menggunakan pakaiannya yg tadi. Laila juga turut melepas celananya hanya menggunakan celana dalam yg cukup mini tapi masih menggunakan pakaian atasan. Pintu terkunci rapat.

Tak terasa, ketiga bidadari sudah tidur pulas. Kelvin menghabiskan malam dengan membaca buku di ruang depan hanya menghidupkan lampu yg menyorot pada bukunya. Menggunakan bathrope serta boxer tanpa atasan untuk menutupi dari hawa dingin angin malam yg jendela balcony-nya ia buka sedikit. Perbedaan perilaku seorang millionare dengan orang biasa yg sotoy adalah walau mereka sibuk, tetap berusaha meluangkan waktu untuk membaca buku daripada membaca broadcast WA yg isinya hoax.

Seorang wanita terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya kering, dengan perlahan menuruni kasur agar tak membangunkan temannya yg lain lantas berjalan keluar kamar. Melihat kiri dan kanan memastikan tidak ada kehidupan di ruangan luar. Pintu kamar Kelvin menyorot lampu dari dalam yg bisa diketahui dari sela-sela bawah pintu. Wanita yg tidak takut kegelapan mengambil gelas dan membuka kulkas milik Kelvin. Dari sudut ruangan yg lain dari sudut mata Kelvin ada sosok wanita yg engga tau kalau ada seorang pria duduk disana sendirian. Wanita itu menegak air putihnya sambil memandangi balcony, lantas terkaget melihat sosok pria duduk membaca buku di pojokan.
“Astaga!! Mas Kelvin?”, teriaknya terkaget.
“Silvi, belum tidur?”, tanya Kelvin menyaksikan wanita itu terpaku hanya menggunakan atasan serta celana dalam.
“Udah mas, tenggorokan kering”, balasnya yg sembari jalan pelan kearah Kelvin yg sedang duduk, “udah jam setengah dua pagi masih belum tidur mas?”, lanjutnya bertanya.
“Ya gini ini, malam buat baca buku sampai terkantuk”, balas Kelvin, “kamu engga dingin hanya pakai seperti itu?”, mata Kelvin memandang kearah tubuh bagian bawah Silvi yg memiliki paha super mulus dan body bagaikan gitar.
“Biasanya kalau tidur seperti ini mas, mas Kelvin juga hanya pakai seperti itu”, balasnya sambil dalam hati memandangi badan Kelvin yg cukup berotot dan proporsional.

Silvi duduk disebelah Kelvin turut memandangi kearah balcony dan merapatkan kedua kakinya.
“Temanmu pada tidur?”, tanya Kelvin dengan santai namun berdebar.
Silvi mengangguk pelan, “hanya kita berdua yg masih terbangun”, ujarnya dengan lirih dan tubuh mereka semakin berdekatan.

Tanpa ada paksaan dan ajakan.

“Smooccchh”, bibir kedua manusia itu saling bertemu dengan sangat sensual.

“Masss….”, ujar Silvi terkaget namun juga menikmati.

-BERSAMBUNG-

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part

Cerita Terpopuler