. Rich and Violent Part 28 | Kisah Malam

Rich and Violent Part 28

0
297

Rich and Violent Part 28

KASIH BUNDA

Pagi yg cerah dengan mentari menyinari dengan yakin pada permukaan bumi. Burung gereja terbang kesana kemari menghinggap pada dahan pohon asli, bukan pohon plastik yg menjadi polemik dilayar kaca. Dengan riang berkicau saling berkomunikasi dengan sesama burung. Saat pagi ini segerombolan manusia menggunakan sepeda motornya saling berjejalan untuk segera sampai ke kantor mereka masing-masing. Pengguna mobil saling marah-marah karena banyaknya sepeda motor yg menghalangi jalan mereka serta melanggar peraturan lalu lintas. Memang berdasarkan riset, kalau ada suatu negara yg masih mengandalkan sepeda motor, konon negera itu akan susah menjadi negara maju.

Kelvin membuka berita hari ini dengan headline di halaman tengah bahwa seorang pegawai dinas PU di Semarang tertangkap tangan oleh komisi pemberantasan korupsi atas kasus korupsi pembangunan beberapa proyek di kota itu. Nama yg muncul tak lain adalah ayah dari seorang mahasiswa yg berani melabrak Kelvin karena kedekatannya dengan Adelia, mantan pacarnya. Tak tanggung-tanggung nilai uang yg di korupsi mencapai dengan 8 Milyar dengan ancaman penjara 13 tahun. Dari angkanya saja itu pasti seluruh anggota pak Walikota mengorbankan orang itu agar mereka tak terjerat. Berita yg cukup menyejukkan hati akhirnya Kelvin bisa membalas dendam pada anak kemarin sore itu.
[8.12am] Kelvin: Pak Wali, aman ya? Saya barusan baca berita.
[8.38am] Walikota: dengan siasat putih dari tim dan kesepakatan bersama akhirnya kami mengorbankan itu tikus, terimakasih atas dukungannya.
[8.40am] Kelvin: syukurlah.

Duduk sebagai penumpang duduk di kursi depan menggunakan setelan kemeja berwarna putih panjang namun lengannya di kikis ke atas membentuk indah tubuh seorang eksekutif muda ini. Duduk di ruang kemudi ada Pak Wijaya yg berperan sebagai penasihat utama seluruh usaha milik Pak Herry atau ayah Kelvin. Pak Wijaya sudah bagaikan Alfred untuk seorang Kelvin. Tutur katanya yg bijaksana dan sabar menjadi sosok yg cocok mendampingi Kelvin dalam pengambilan keputusan bisnis yg menyangkut uang besar.

Mereka berdua baru saja menyelesaikan rapat internal dengan seluruh pemegang saham, komisaris serta para direktur di perusahaan media yg baru saja diberikan kepada Kelvin dari ayahnya. Kelvin hanya duduk sebagai owner tanpa harus ikut campur pada produksi harian. Pak Wijaya adalah sosok yg dipercaya oleh semua petinggi perusahaan selain Pak Herry. Kepercayaan yg diberikan padanya tak membuatnya ia ingin berbuat curang atau menggulingkan Pak Herry.
“Kalau rapat di perusahaan media di gedungnya berisi banyak artis dan bintang ya”, canda Kelvin.
“Iya mas, tinggal milih aja haha macem di TV sebelah itu juga gitu yg anak pengusaha dapet artis, awalnya paling juga gitu”, balas Pak Wijaya yg duduk ngopi menemani Kelvin di ruang kantin perusahaan media yg Kelvin miliki.

Obrolan mereka membahas banyak sekali, dari hal sepele harian hingga ide usaha yg besar yg dipikirkan oleh ayah Kelvin dan Pak Wijaya. Termasuk dengan Pak Wijaya menceritakan bagaimana ayahnya bisa menang tender mengelola majoritas pulau reklamasi yg pernah menjadi sengketa.
“Ayahmu itu kalau cari kesepakatan dengan wakil rakyat sangat berani, kalau si pemimpin daerah ini sudah berani mengingkari janjinya, pasti ayahmu memiliki siasat untuk menjatuhkan si pemimpin, makanya hingga pensiun sekarang gak ada yg berani macem-macam”, terang pak Wijaya sambil menyeruput kopi hangatnya, “beliau yg tertiggi di rantai makanan, tapi kalau dengan pegawainya di sangat loyal, hanya sangat geram dengan pemimpin daerah yg pada lancang, makanya gitu”, lanjutnya yg membuat Kelvin hanya manggut-manggut mendengarkan dengan seksama.
“Banyak musuh yg ingin kami jatuh, tp ingat prinsip dari bisnis, berikan kualitas terbaik dan sejahterakan orang-orangmu..oh satu lagi, kerja kerja dan kerja”, itu pesan yg membuat Kelvin engga begitu peduli dengan banyaknya orang mengincar namanya.

“Hmmm saya dan tim juga sedang ada proyek ini untuk membuat perumahan rakyat yg murah tapi layak sekali untuk ditinggali”, ujar Kelvin memulai.
“Go on”, minta Pak Wijaya untuk dilanjutkan.
“Ada calon bupati yg minta dana ke kami, sebagai gantinya kita akan diberi tanah untuk dikelola, nah kami mikir mau buat perumahan yg terjangkau khusus untuk msyarakat menengah kebawah”, terang Kelvin menjelaskan panjang dan lebar menggunakan data.

Pak Wijaya hanya terdiam dan menelaah tiap kata yg keluar dari bibir Kelvin sembari sesekali meminum kopi hitam yg ada di depannya.
“Ada dua kemungkinan, dia akan jadi sangat populer karna mikirin rakyat kecil, itu kalau orientasi dia menyejahterakan rakyat kecil atau kalau dia money oriented dia engga suka atau akan minta persenan tiap rumah yg sold. Kalau dari ceritamu, hanya akan ngambil margin yg kecil, artinya engga mungkin kan akan di bebankan pada konsumen, maka kalian yg akan ngasih dia fee. Menurutku hati-hati aja mas, politikus emang gak bisa dipegang omongannya”, jelas pak Wijaya yg membuat Kelvin terus berpikir keras.

Duduk berdua di sudut ruangan. Seorang murid sedang mendengarkan arahan dari gurunya. Seseorang yg sepuh dan bijaksana. Kelvin sangat hormat dengan Pak Wijaya yg masih enerjik serta setiap ucapan yg keluar dari bibirnya merupakan tingkatan kebijaksanaan yg tidak dimiliki oleh banyak orang. Bahkan hingga makan siang mereka tetap pada dikafe yg sama serta posisi duduk yg sama. Kelvin sangat bersyukur memiliki mentor bisnis dan kehidupan yg sangat luar biasa.

“Ayo Pak, kita kembali”, ajak Kelvin setelah usai makan siang berupa makanan western food khas hidangan di dalam kafe.
“Boleh”, balas pak Wijaya. Mereka berdua saling mengemas barang bawaan mereka, berjalan menuju ke lobby kantor. Dua orang satpam saling memberikan salam sebagai hormat pada pemilik perusahaan dan orang kepercayaannya. Mereka berdua menunggu mobil BMW series 5 milik Pak Wijaya yg sedang diambilkan oleh petugas vallet.

Di dalam perjalanan yg cenderung ramai lancar ini, di jalanan ibukota ini majoritas mobil keluaran tahun 2015 keatas, entah mobil yg butut dan kuno pada hilang kemana, namun yg jelas jalanan engga juga lengang tapi yg ada semakin tambah ramai karena dengan mudahnya mendapatkan unit hanya dengan DP 5jt misalnya.

Ada panggilan telepon tertuju pada Kelvin, nomornya tak dikenali, Kelvin mendiamkan beberapa saat, namun ia merasa ada yg kurang pas dengan panggilan itu. Ia menjawabnya.
“Hello”, sapa Kelvin.
“Maaf bapak, saya Utomo, pekerja bangunan Luksor Tower C, maaf menganggu bapak”, ujarnya dengan logat Jawa asli.
“Iya, ada apa?”, tanya Kelvin yg bingung dengan orang ini.
“Maaf bapak, saya terkena masalah di rumah sakit, istri saya lahiran, awalnya prosesi akan normal, tapi ternyata harus sesar dan uang saya engga cukup, anak saya ditahan di rumah sakit sudah 15 hari ini, pelayanan terhadap istri saya jg ala kadarnya karna saya engga mampu bayar, boleh saya meminjam uang nanti dipotongkan di gaji saya bapak”, ujar Utomo sambil bergetar terdengar ingin menangis.
“Oke oke, kamu dirumah sakit mana?”, tanya Kelvin.
“Di RS Kasih Bunda, bapak”, balas Utomo.

“Pak Wi, ada pekerjaku yg butuh bantuan dirumah sakit, deket kan dari sini, bisa mampir sebentar ya?”, perintah Kelvin pada pak Wijaya sambil teleponnya terus terhubung dengan Utomo.
“Siap”, balasnya.

“Aku kebetulan di dekat sini, aku mampir ya”, kata Kelvin dengan tegas.
“Baik bapak, terimakasih banyak bapak”, ucap Utomo.

Selama perjalanan Kelvin menjelaskan duduk permasalahan yg menimpa salah satu pekerja rendahannya kepada Pak Wijaya. Rumah sakit terkadang justru menambah derita penderitanya dengan biaya yg mahal serta obat yg harus dikonsumsi setiap hari. Jaminan sosial? Itu sebenarnya justru semakin membebani rumah sakit, mereka terus merugi akibat skema itu, alat yg mereka gunakan pun bukan yg berteknologi tinggi karena untuk mengurangi biaya operasional. Alhasil ya hanya ala kadarnya aja.

Setibanya dirumah sakit, pekerja bangunan yg berpenampilan lusuh, lemas dan nampak seperti orang desa ini menunggu di depan lobby, menyambut bossnya dan orang kepercayaannya yg menggunakan pakaian sangat rapi serta setelan sepatu yg bisa berharga ratusan dollar.
“Terimakasih bapak”, ujar Utomo memberi salam dengan mencium tangan Kelvin dan Pak Wijaya. Ia kembali menjelaskan duduk permasalahannya pada kedua orang kaya ini.

Mereka bertiga berjalan menuju ruangan dimana Utomo seharusnya membayar kepada petugas kasir, namun wajah dari pegawai itu justru menunjukkan wajah jutek dan mahal senyum.
“Kalau ada pegawai seperti ini di HS Group (perusahaan holding yg menangani semua usaha dibawah pimpinan ayah Kelvin), sudah dipecat nomor satu”, bisik pak Wijaya.

“Mbak, saya mau nglunasin semua biaya lahiran pak Utomo”, ujar Kelvin dengan lembut dan masih sabar melihat ada perawat yg mahal senyum itu.
“Totalnya 24 juta, sama denda biaya diruangan bayi sebesar 250ribu per hari”, balasnya dengan jutek.
“Wow wow, apa ini biaya tunggakan, macem rentenir aja lu!”, teriak Kelvin.
“Itu kebijakan rumah sakit, kalau engga mau ya jangan berobat dirumah sakit, itu karena sudah jatuh tempo dan kami dijanjikan besak-besok terus oleh yg bersangkutan”, balas seorang lagi yg berada di dalam ruangan itu yg seperti bilik.

Utomo berada dibelakang mereka berdua nampak ketakutan karena biayanya terus membengkak.
“Panggil managermu!!”, marah Pak Wijaya.
Teriakan Pak Wijaya membuat pasien lain diruang tunggu menoleh kearah keributan, Kelvin sempat terdiam melihat Pak Wijaya membentak petugas kasir itu, tapi dia tetap tak bergeming, yg satunya meninggalkan ruangan mungkin untuk memanggil managernya.

Sesaat kemudian,
“Mohon maaf bapak-bapak, boleh keruangan saya untuk kami klarifikasi duduk permasalahannya”, ujar si manager berkacamata berpenampilan biasa dan nampak ia ingin membuat kami kalah.
Kelvin, Pak Wijaya, Utomo dan orang penjaga kasir itu kini berada di dalam ruangan, managernya masih bersikukuh kalau itu prosedur dari pimpinan jika ada yg menunggak pembayaran, pasien harus ditahan karena di khawatirkan akan lari.

“Pelayanan kalian ini sampah!”, bentak Kelvin.
“Bapak-bapak sekalian kalau tidak bisa menggunakan bahasa yg halus, maka saya harus panggil satpam dan lebih baik dulu kami tidak usah membantu persalinannya sekalian!”, balas si manager yg semakin membuat kedua orang kaya ini geram, Utomo dibelakangnya meneteskan air mata karena bisa berlarut-larut seperti ini.

Kelvin mengeluarkan secarik kertas serta menulis sesuatu diatas kertas tersebut, Pak Wijaya melihat apa yg ditulis oleh Kelvin, dia tersenyum.
“Bilang sama pimpinanmu, saya beli rumah sakit ini, dan kamu akan kupecat pertama dan akan ku miskinkan kamu beserta keluargamu, camkan itu!”, bentak Kelvin sambil memberikan kertas yg ternyata sebuah check yg didalamnya ada nominal besaran saham yg akan diambil alih oleh Kelvin.
“Pak Wi, tolong urusi pembelian ini, aku panggil tim audit serta tim legal untuk menyelesaikan ini semua”, lanjut Kelvin.
“Hee baru jadi manager aja belagu, kamu berurusan dengan orang yg salah”, ujar Pak Wi dengan bijaksana namun perkatannya menusuk hingga kerongkongan.

Si manager itu terdiam seribu bahasa. Kelvin menelpon timnya untuk segera merapat serta membawa mobil dan sopir untuk mengantar dirinya ke Luxor. Pak Wijaya akan memimpin ambil alih tersebut, si manager dipaksa untuk memanggil pimpinan serta owner rumah sakit tersebut, suaranya bergetar ketakutan. Dan yg jelas manager itu berada dalam bidikan Kelvin untuk segera dipecat dan dibuat menyesal berurusan dengan orang yg salah.

“Pak Utomo, anak dan istrinya bisa dibawa pulang ya”, ujar Kelvin dengan lembut.
“Pak, maafkan saya kalau urusannya jadi panjang begini, saya gak bermaksud apa-apa, hanya minta anak saya dibantu pembiayaan”, rengek Utomo menangis.
“Gapapa, santai aja, memang sudah lama aku ingin memiliki rumah sakit yg ramah sama orang yg membutuhkan pengobatan”, balas Kelvin sambil berjalan menuju kearah ruangan dimana si bayi dirawat bersama dengan ibunya.

Tim Audit dan tim legal sudah tiba membawa 2 unit Alphard serta 1 unit A6 milik Kelvin, ya rumah sakit jadi ramai, desas desus pengambilan alih sudah menyerbak hingga ke ruangan yg paling atas dari rumah sakit ini. Ada yg suka, ada yg sedih. Utomo beserta anak dan istrinya berkemas, berjalan menuju lobby, istrinya menangis bahagia melihat Kelvin yg membantu mereka tapi juga sungkan karena telah membuat kegaduhan dan Kelvin membeli rumah sakit akibat ulah Utomo. Tapi Kelvin tak memperdulikan, apa yg ia lakukan semata untuk membenarkan sistem yg ada.

“Pak Utomo, naik apa pulang kerumahnya?”, tanya Pak Wi setelah melihat anak yg baru lahir digendong oleh ibunya.
“Taksi aja Bapak”, balas Utomo dengan lugu.
“Eh naik, itu aja, Jo Jo, tolong dianter ya”, perintah Pak Wi agar Utomo diantar oleh Alphard yg mengantar kedua tim yg berurusan dengan pengambil alihan rumah sakit itu.
“Bapak, jangan bapak, saya naik taksi aja”, protes Utomo.
“Pak Utomo, tolonglah, terima saja”, senyum Kelvin sambil mengangguk kearah Utomo.

Utomo lagi-lagi meneteskan air mata, kali ini juga dengan istrinya, menangis ada orang yg masih memperdulikan mereka seorang rakyat jelata yg kecil.
“Baiklah bapak”, ujar lirih seorang Utomo sambil mencium tangan Kelvin saat berjabat tangan.

Melihat Utomo sudah pergi menggunakan Alphard. Tim Kelvin sudah mengadakan rapat dengan jajaran petinggi rumah sakit atas desakan dari Pak Wijaya yg ternyata bisa menjadi sangat kejam dan beringas. Kelvin hanya berada di balik layar, ia berjalan menuruni tangga untuk undur diri pada sang sopir setia menunggu di bawah. Ia melihat si manager tertunduk lemas di dalam ruangannya duduk bersebelahan dengan penjaga kasir yg membentak-bentak seorang Kelvin. Hati Kelvin sudah tertutup, sisi psikopat seorang Kelvin muncul. Ia berjalan dan duduk dibelakang di dalam mobilnya.

“Kalau kamu baik atau membantu sesama manusia, semesta akan mendukungmu, tapi kalau sebaliknya, semesta akan menghancurkanmu”, ujarnya dalam hati sambil tersenyum melihat mobilnya sudah jalan meninggalkan rumah sakit yg barusan ia beli.

-BERSAMBUNG-

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part