. Petualangan Telanjang Part 9 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 9

0
183

Petualangan Telanjang Part 9

Terra Incognita

Matahari sudah terbenam sempurna ketika Kinan akhirnya merapat di Wisma Dewata. Malam telah menggelapkan cakrawala dan Kinan harus mengendap-endap melewati persawahan yang terletak di belakangnya agar tak menarik perhatian petugas keamanan yang berjaga di pintu depan.

Kinan mendapati Siska, turis asal Jakarta yang sedang berenang dalam kolam renang di belakang bungalo yang berada tepat di pinggir sungai kecil.

Helaan napas lega tak kuasa keluar dari bibir Kinan. Sungguh, ia benar-benar tak menduga kalau Siska masih berada di tempat itu. Terpaut hampir 48 jam, seharusnya nyaris nihil kemungkinan Kinan untuk bisa menemukan gadis ibukota itu kecuali semesta ikut campur tangan dalam kejadian duniawi. Hingga saat ini mungkin hanya tinggal beberapa meter saja barangkali dari tempatnya bersembunyi, Kinan bisa melihat bisa sang gadis ibukota sedang berendam di dalam kolam, dan terlebih lagi, sama-sama nirbusana!

Selimut malam menyembunyikan keberadaan Kinan di balik pepohonan pisang yang mengelilingi cottage mewah di tepi sawah itu. Ada sungai kecil yang memisahkan Kinan dan pekarangan privat tempat Siska berendam. Tinggal satu langkah lagi barangkali, bagi Kinan untuk melepaskan diri dari situasi jahanam yang menjebaknya selama beberapa jam belakangan, namun hingga jam lewat di hitungan seperempat, sepasang kaki Kinan masih terpakukan pada tempatnya.

Kinan benar-benar tak percaya. Ia mengira hanya dirinya seorang yang memiliki kelainan ini, tanpa kali ini dirinya dihadapkan pada seseorang yang mengalami deviasi sikap dan perilaku serupa! Perut Kinan terasa mulas, perasaannya campur aduk antara senang dan juga tegang.

Dari pupil matanya yang melebar Kinan bisa melihat tubuh jenjang Siska yang semampai bak gadis sampul berendam di dalam kolam renang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Sepasang buah dada yang mungil ─tak sebesar dan semontok miliknya─ namun mengkal dan membulat sempurna dengan tajuk-tajuk merah muda yang menggairahkan diliputi dengan buliran-buliran air. Kinan bisa melihat sepasang benda kenyal itu berguncang indah ketika Siska muncul dari permukaan air.

Terlihat senyum bahagia yang melengkung dari bibir Siska yang merah muda. Wajah blasteran tirus dengan hidung mancung itu dibingkai dengan rambut pendek sedaku yang membasah ketika Siska setengah tubuhnya timbul dari dalam kolam renang kecil itu. Sebuah tolakan kecil pada dinding kolam melesatkan Siska menuju sisi satunya dalam gaya dada….

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​

Cahaya bulan cemerlang dan tebaran bintang-bintang adalah satu-satunya yang dilihat Siska saat ini. Ketiadaan polusi cahaya membuat langit terlihat seperti kubah keunguan yang menaungi hamparan persawahan di sekelilingnya. Siska membiarkan tubuhnya yang telanjang tunduk pada gaya apung. Tungkai-tungkainya yang jenjang menendangi permukaan air menimbulkan riak-riak cahaya yang berasal dari lampu ilumenes di bawah kolam renang kecil itu.

Selain ricik air, nyaris tak ada yang terdengar. Leo dan teman-temannya sudah beristirahat di kamar masing-masing, meninggalkan Siska seorang diri di antara pohon-pohon palem dan pisang hias yang merindangi halaman belakang bungalow bergaya tropis itu.

Senyum Siska semakin melebar sebelum menolakkan kakinya kuat-kuat dan meluncur kembali ke ujung kolam satunya. Leo dan teman-temannya sedang lelap tertidur setelah seharian trekking mendaki Gunung Batur, rasanya tak ada satupun alasan bagi Siska untuk mengkhawatirkan kehadiran orang lain di tempat itu. Bikini dan handuk kering terlipat rapi tak jauh dari tempatnya berendam, dan tak akan dibutuhkan waktu lama untuk mengenakan penutup tubuh jika dirinya sigap mengantisipasi….

Telanjang di alam bebas, Siska membatin bahagia, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Liburan Caturwulan kali ini adalah kesempatan terakhirnya. Tahun depan Siska sudah kuliah, itupun sudah pasti tidak bakal diizinkan mengikuti UMPTN di kota lain. Terlahir di keluarga birokrat tidak memberikan banyak pilihan bagi Siska selain mengenakan jas almamater kuning atau mencoba lagi tahun depan. Siska menggerutu dalam hati, seandainya saja ia terlahir di Pulau Dewata….

Entah kenapa, tiba-tiba saja Siska teringat dengan perjumpaannya dengan remaja misterius di tepi sungai kemarin siang. Siapa tadi namanya? Kikan? Kiran? Kinan? Wajah Siska agak bersemu mengingat kondisi Kinan yang hanya dibalut busana kelahiran di antara teman-teman kakaknya. Sayang banget cuma sebentar ketemunya, coba aja kalau gua bisa ikutan telanjang bareng Kinan! Siska membatin bahagia, sebelum terkejut sendiri karena tubuhnya ternyata merespon dengan baik khayalan mesumnya!

Hihihi, dasar lonte, Siska geli sendiri dengan reaksi fisiologis yang terjadi di bawah perutnya, baru aja berkhayal jorok dikit udah becek…. Udah, ah, cabs, batin Siska lagi, bersiap menyelesaikan sesi berenang dan melanjutkannya dengan sesi ‘yang lebih intim’ di kamar tidur….

Siska bergidik kedinginan, ketika tubuh telanjangnya disambut angin malam yang menusuk tulang. Lekas-lekas, Siska menyambar kimono handuk dan mengeringkan tubuhnya.

Siska sedang membereskan barang-barang bawaannya, ketika sayup-sayup mendengar suara erangan yang berasal dari balik pohon kelapa…

Alarm tanda bahaya di otaknya berbunyi nyaring. Sepasang matanya berubah menajam, dan cuping telinganya diarahkan ke asal suara. Siska mengira ia hanya salah mendengar, tapi ketika terdengar suara rintihan tertahan dari balik batang pohon kelapa, barulah ia menyadari, bahwa dari tadi kegiatannya sedang diawasi….

“Siapa itu?!” Siska menghardik ke arah asal suara, mencoba terlihat berani, tapi yang terdengar justru suara langkah yang mendekat dan bunyi dedaunan yang bergemeresek.

Siska sedang bersiap-siap mengambil langkah seribu ketika dari balik punggungnya muncul sosok misterius dengan rambut acak-acakan dan tubuh telanjang bulat.

Wajah Siska berubah pucat sepucat-pucatnya. Hampir saja ia menjerit melihat penampakan Kinan yang muncul dari kegelapan. Tapi setelah menyadari bahwa yang muncul adalah orang yang sama yang ditemuinya kemarin, Siska terkesiap. Kinan melangkah dengan terpincang-pincang.

“Ya Tuhan, Kinan! Kamu kenapa?!!!”

“Saya… waktu saya kembali… motor saya… pakaian saya….”

“Astaga!!! Aku sudah menduganya!!! Kamu enggak apa-apa?!”

Kinan menggeleng sambil menutupi bagian-bagian intim tubuhnya dengan gemetar. Refleks, Siska menyelimuti tubuh telanjang Kinan dengan handuk miliknya. Remaja ibukota memapah Kinan dan menuangkan segelas air minum untuk Kinan. Kinan menghabiskan jus jeruk itu dengan segera. Kinan mulai menangis terisak-isak, dan menceritakan tragedi yang menimpanya….

Jatuh iba, Siska pun menyelundupkan Kinan ke dalam kamarnya. Sudah bisa ditebak, Leo, sang kakak adalah orang yang paling keberatan dengan hal ini….

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​

“Gua nggak suka ini.”

“Ayolah, kak…,” desah Siska membujuk

Leo menyalakan korek dan menyulut rokoknya. Pemuda brewok itu bersandar di dinding, sementara sang adik duduk di atas sofa dan menatap kakaknya dengan wajah khawatir.

“Sekarang di mana dia?”

“Mandi.”

Leo mendecih.

“Gua udah tahu ada yang aneh dari anak itu waktu kita ketemu di sungai kemarin siang. Sekarang dia nongol di tempat ini, buat…?”

“Mau gimana lagi. Motor sama pakaiannya dicuri orang.”

What would you expect? Apa yang kamu kira bakal terjadi kalau ninggalin motor sama baju dan jalan-jalan telanjang bulat di tengah hutan?”

“Uhk…”

“Dan kamu sudah ngasih tahu alamat kita menginap kepada orang nggak dikenal. Ceroboh.”

“Tapi, kan… gua juga nggak tahu, kak….”

“Oke. Malam ini dia bisa tinggal di sini. Tapi besok pagi-pagi sekali kita harus lapor polisi. Gua nggak mau ada masalah.”

Kinan yang keluar dari kamar mandi menginterupsi pembicaraan kakak beradik itu. Kinan mengenakan kimono dari kain pantai. Lekuk tubuhnya yang basah tercetak jelas di balik kain tipis itu. Kinan tersenyum sopan, lesung pipinya terlihat menggoda, segar sehabis mandi menunjukkan kecantikan sebenarnya dari sang gadis kota.

Leo terlihat menggerutu, tapi ekor matanya teralihkan bada belahan dada Kinan.

“Maaf sudah merepotkan,” kata Kinan polos.

“Nggak apa-apa… sante aja, kali….”

“Jangan salah sangka. Saya masih tidak percaya pada apa yang kamu bilang,” potong Leo tegas.

“Kak!”

“Sorry, tapi gua cuma nggak mau ada masalah.”

Siska dan Kinan saling berpandangan. Gugup.

“Malam ini kamu bisa menginap di sini. Tapi ingat, saya ada di kamar sebelah, kamu sebaiknya berpikir dua kali sebelum memutuskan melakukan sesuatu ”

Tak ada yang berani membantah. Leo menghembuskan asap rokoknya gusar.

“Jelas?”

Kinan mengangguk gentar.

“Gua balik dulu. Dan jangan pernah berpikiran untuk berbuat macam-macam.”

Pintu berdebam ditutup.

Siska menuangkan segelas jus jeruk kepada Kinan. Kinan tersenyum dipaksa.

“Udahlah nggak usah dipikirin, Leo emang gitu orangnya. Serius banget.”

“Aduh, beneran nih aku nggak enak sama kamu dan kakakmu.”

“Nggak apa-apa. Aku juga bakal melakukan hal yang sama seperti kamu kalau bajuku dicuri orang, hehe,” Siska tertawa ringan.

Kinan tersenyum kecut.

“Lagian kamu kok sinting banget sampai ninggal baju kamu di tempat itu?”

“Awalnya sih, aku cuma mandi biasa di sungai.”

“Terus?”

“Ya udah, aku jalaaaan terus ngikutin aliran sungai itu sampai ke tempat kalian rafting.”

“Dan kamu melakukan itu dengan telanjang bulat?”

“Masih pakai sandal, sih.”

“Wow. Maksud aku. Wow.”

Kinan tercengir tak berdosa.

“Tapi waktu aku balik motor sama baju aku sudah nggak ada.”

“Ya, bagian itu udah bisa ketebak sih. Lagian kamu itu….”

“Jangan gitu, dong, huhu…. Serius, aku panik banget waktu tahu baju aku enggak ada. Sampe akhirnya aku keinget sama alamat yang kamu kasih.”

“Oh, wow, salut kamu kepikiran itu.”

“Hehehe… habisnya kalau mau lapor polisi, pasti panjang banget urusannya….”

“Iya juga, ya….”

“Yaudah, deh… akhirnya aku jalan sampai akhirnya sampai di sini….”

“Eh bentar-bentar-bentar! Maksud kamu, dari sungai tadi sampai ke tempat ini kamu jalan kaki… dengan telanjang… bulat?”

Kinan mengangguk. Siska terperangah.

“Terus orang-orang yang lihat kamu?”

“Mereka pikir aku orang gila!”

Siska tergelak-gelak, tapi pipinya berubah bersemu mendengar pemaparan Kinan itu.

Siska tidak mengira Kinan bisa sampai segila itu. Telanjang di sungai lain soal. Telanjang di tempat umum, dan dilihat oleh banyak orang. Demi Tuhan, Siska bahkan tidak bisa membayangkan bila dirinyalah yang berada dalam posisi Kinan.

Malam itu kedua gadis itu saling bertukar cerita tentang pengalaman mereka.

Kotak bekas Pizza yang dimakan berdua. Lampu sudah dipadamkan. Televisi yang menyala adalah satu-satunya penerangan di tempat itu. Kinan dan Siska duduk berhadapan di atas ranjang. Bertukar cerita.

“Sejak kapan?” sang gadis ibukota bertanya.

“Jadi nudis?”

“Hu-uh.”

“Kelas V SD, kalau nggak salah. Aku mulai tidur nggak pakai baju.”

“Kelas V? Sama, dong!”

“Kamu juga?”

“Hu-uh.”

“Wow, benaran? Aku kira cuma aku aja yang punya kelainan kaya gini.”

“Jangan salah, masih banyak kali orang-orang di dunia yang suka telanjang di tempat-tempat aneh.”

“Benar?”

Siska mengangguk.

“Kalau kamu, Nan? Pernah bugil di mana aja?’

“Di kamar udah pasti.”

“Ahahaha, sama. Kalau di kamar aku sudah pasti nggak pernah pakai baju.”

“Hehehe… terus di rumah kalau lagi nggak ada orang.”

“Samaaaaaa… terus-terus?”

“Di halaman pernah… terus pernah juga kapan hari aku mengendap-endap tengah malam ke luar rumah…”

“Eh? Serius?”

“Iya? Loh, kamu belum pernah, ya? Aku pikir kamu malah lebih berpengalaman dari aku.”

Siska menggeleng dengan wajah tersipu. “Gimana bisa bugil, kan kota isinya beton semua. Makanya aku seneng banget waktu bisa ke Bali, meski… yah.. nggak sesuai ekspektasi aku, sih.”

“Kamu tahu? Ini juga pertama kalinya buat aku. Seperti yang aku bilang kemarin, kalau enggak sekarang, kapan lagi?”

“Masa? Aku pikir kamu sudah sering…?” Siska melonggo nggak percaya.

“Enggak, lah! kamu kira aku gila, apa!”

Lalu keduanya tergelak-gelak. Lama, dua remaja itu bertukar petualangan telanjang masing-masing, yang rupanya tak jauh-jauh dari bertelanjang di halaman rumah, hingga jarum panjang yang menunjukkan angka tiga dini hari memaksa keduanya menguap dan tunduk kepada rasa kantuk.

“Benar tidak apa-apa saya, tidur di sini…?”

“Udah, nggak apa, lagian dari dulu aku kepengen banget punya saudara cewek, hehehe…”

“Hehehe…. Makasih…” Terdengar guncangan kecil ketika Kinan menaiki ranjang King Size berukuran besar itu. Kinan masih memakai kimono kain dan masuk ke dalam selimut tebal dari bahan katun tebal, dan Siska berbaring memunggungi sambil mengira-ngira apakah dirinya bisa tertidur malam ini.

Sejak kecil Siska terbiasa tertidur tanpa sehelai benangpun melekat di tubuh, hanya sesekali ia mengenakan celana dalam, itupun ketika datang bulan saja! Di sekolah dia selalu menjaga citranya sebagai anak baik-baik, bisa hancur reputasinya jika ketahuan gemar tidur sambil telanjang bulat!

Benar saja, kali ini pun Siska kesulitan memejamkan mata. Pendingin udara mengalir deras, tapi entah kenapa tubuhnya terasa panas. Siska berpikiran menunggu Kinan tertidur lebih dulu lalu di tengah malam dia akan melepas pakaian yang dikenakannya dan bangun lebih pagi untuk mengenakannya kembali, seperti yang pernah dilakukannya waktu menginap di tempat Nike dulu, tapi untuk Siska harus memastikan Kinan sudah tidur terlebih dahulu…

“Kinan….”

“Apa?”

Ternyata Kinan belum tidur.

“Kamu belum tidur?”

“Belum, kamu?”

“Sama, saya tidak bisa tidur…”

“Sama….”

Hening lama, sampai akhirnya Kinan buka suara.

“Aduuh… gimana cara aku ngomongnya ya…?”

“Apaan?”

“Aku… anu…. kalau…. aku… buka… baju… boleh?” suara Kinan terdengar meragu.

“Eh?”

“Aduuuh… aku tuh sebenarnya malu sekali… tapi aku tidak ingin dianggap aneh… tapi, aku saya enggak bisa tidur kalau masih pakai baju!” repet Kinan dengan wajah merah padam.

“Ahahaha! aku kira cuma aku yang aneh! hahaha!”

Wajah Siska ikut tersipu-sipu, meski senang sekali bisa menemukan teman yang memiliki kelainan yang sama.

“Ya sudah aku, buka baju ya…. kamu kalau mau buka baju buka baju saja sana!” kata Kinan sambil melepas penutup tubuhnya dan bergelung membelakangi.

Siska menyusul dan melepas celana pendek dan kaus barong longgar yang dikenakan, lalu ikut tidur dalam posisi saling membelakangi. Karena meski sama-sama perempuan, tetap terasa jengah betul harus tidur seranjang dalam kondisi telanjang bulat!

Jantungnya berdebar semakin kencang, malam itu Siska semakin sulit sekali tidur, karena telanjang di depan orang lain benar-benar membuat Siska merasa benar-benar erotis! Kewanitaannya kembali meremang dan putingnya ia tutupi dengan guling agar tidak malu, sebenarnya Siska ingin masturbasi tapi tidak enak karena ada Kinan. Siska melirik Kinan, anak itu juga sepertinya tidak bisa tidur karena terdengar suara terkekeh-kekeh dari sebelahnya

“Kenapa tertawa?” tanya Siska.

“Kamu juga nggak bisa tidur, Ka?”

“Iya….”

“Sama, dong…”

“Hehehe….”

“Ngapain dong… biar bisa tidur….?”

“Ng-nggak tahu…. deh…,” sahut Siska dengan wajah agak tersipu, karena entah kenapa ia merasa pertanyaan Kinan sedikit menjurus.

“Cerita-cerita lagi, mau…?” kata Kinan.

“Boleh-boleh-boleh,” sambut Siska sambil bangkit bersila. Tak lupa Siska memeluk bantal untuk menutupi bagian-bagian intim tubuhnya dari tatapan Kinan, karena berbeda dengan penampilannya yang spontan dan ‘serba kota’, Kinan adalah orang pertama yang melihatnya dalam keadaan tanpa busana! Yak, tul! Siska masih perawan!

“Haaaaah, yang benar?! sebab aku kira remaja-remaja di kota besar itu….”

“Kenapa? Terlibat pergaulan bebas? Kamu itu terlalu banyak nonton sinetron!”

“Hehehe….”

“Lagian bokap nyokap aku orangnya strict banget! Gimana mau ML kalau pacaran aja dilarang!”

“Sama-sama-sama! bapak aku juga galak bener….”

“Hehehe…. kalau kamu sendiri…?”

“Apa….?”

“Udah…. pernah….?” suara Siska agak bergetar, pipinya berubah merona ketika menanyakan hal pribadi tersebut.

Kinan mengangguk sambil mengulum senyumnya yang manis.

“Eh?! beneran kamu udah pernah?”

Kinan mengangguk lagi, lucu.

“Kapan?!”

“Waktu aku kelas 6 SD…..” jawab Kinan polos.

“Astaga-astaga-astaga, kok bisa?!”

“Aku diperkosa sama guru olahraga aku…”

“Ya Tuhaaaaaan, Kinaaaaan!! aduuuuh…. beneran aku tu samasekali nggak bermaksud untuk-”

“Nggak apa-apa…. udah lewat juga…..” Kinan tersenyum getir.

“Terus cowok kamu gimana? Dia nggak keberatan kan, waktu tahu kamu udah-”

“Hehehe…. aku nggak punya cowok, Ka….”

“Yang benar? Cewek secantkn kamu…? sayang banget!

“Hu-uh, aku nggak punya cowok….

“Kalau cewek?”

“Ahahaha…..” tawa Kinan pecah berderai.

Obrolan keduanya lalu kembali mengalir tak tentu arah. Siska tentu terkejut bukan kepalang ketika mengetahui Kinan lebih berpengalaman darinya.

Berbeda dengan Siska yang bersembunyi di balik bantal, Kinan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan ketelanjangannya. Wajah Siska agak bersemu melihat Kinan yang tanpa risih bersila di hadapannya tanpa menutupi sepasang buah dada berukuran masif dan daerah pubis rimbun di pangkal pahanya.

Masih sama-sama telanjang, Kinan bercerita semua tentang petualangannya, tentang kegilaannya dalam 48 jam terakhir, tentang petualangan seks spektakuler bersama Badeng yang membuat Siska terangsang dan tidak bisa menahan diri untuk menyentuh dirinya sendiri di depan Kinan. Kinan hanya tersenyum dalam hati melihat betapa mudahnya remaja ibukota itu dibuat menggelinjang hanya dengan sebuah cerita mesum yang keluar dari bibirnya….

“Bohong! Nggak mungkin kamu diperkosa cowok ganteng! Ngibul-ngibul-ngibul-ngibul, hehehehe…”

“Terserah deh, kalo nggak percaya. Bayangin aja ala yang bakal terjadi sama cewek yang telanjang malam-malam…. di jalan raya pula…. ini aja aku udah bersyukur banget enggak disakitin….”

“Astaga…. jadi beneran kamu diperkosa lagi?!” Siska melonggo tidak percaya.

“Diperkosa?” Kinan tertawa renyah. “Bisa dibilang gitu juga kali, yaaa…. tapi habisnya aku nggak ngerasa diperkosa sih, hahahaha…..”

“Hahaha… kok bisa?” tanya Siska yang sudah tidak tenang duduknya.

“Habisnya enak banget! Ahahaha, aku sampe dapet berkali-kali sampe akhirnya nggak kuat lagi…. ngilu banget!”

“Huaaaaah!!!! Stop! Stop! Stop! Jangan dilanjutin, huhuhuhu…. tar kalo aku pengen siapa yang tanggung jawaaaaab,” protes Siska dengan wajah merah padam.

“Ahahaha… kalau pengen kenapa emang?”

“Auk ah, bego….” Siska menggembungkan pipinya yang bersemu.

“Kamu pengen masturbasi, Ka?”

“Idih, apaan sih?!”

“Udah…. Nggak apa, kok… santai aja lagi…,” bisik Kinan menggoda, entah kenapa senyumnya terlihat memprovokasi.

“Eh?”

“Santai aja lagi, lagian kita kan sama-sama cewek… ngapain lagi malu…,” bisik Kinan sambil pura-pura mengalihkan pandangannya.

Jantung Siska berdebar seperti hendak jatuh ke lantai. Sudah lama sekali sebenarnya ia mengimpi-impikan hal ini, masturbasi di depan orang lain, sama-sama telanjang pula, dan kali ini, Kinan seperti menatapnya penuh harap, menunggu-nunggu ke mana gerangan tangannya akan mengarah.

Mendadak semua terdengar begitu hening seperti isi benaknya. Nyaris tak ada yang terdengar selain desau angin deru napasnya yang beranjak memburu. Malam sempurna menua, dan rasanya tak akan ada yang peduli kalau Siska melakukannya di depan Kinan, saat ini juga… tapi… Sisi dirinya yang masih waras mencoba menginterupsi, tapi sisi binatang Siska sepertinya lebih tertarik untuk meremas buah dada ranum dan tajuk-tajuknya yang sudah mengeras….

Sepasang matanya memejam, dan telapaknya bergerak mengikuti naluri untuk mencari muasal dari sensasi sensual yang meremang di bawah perutnya… Ia telah basah… dan bibirnya membuka secelah dan menyuarakan desahan parau ketika ujung jarinya membelai lembah cinta yang telah licin sempurna… Siska mengerang tertahan, dibiarkannya tubuh ranumnya menggeliat, menggelinjang, menikmati setiap remasan, cubitan, juga usapan-usapan nakal di relung-lepitnya yang paling rahasia…. Lama… Hingga ombak birahinya meninggi… dan kian meninggi… Siska melengguh nikmat, memejamkan matanya erat-erat. Kemudian yang terjadi adalah guncang. Disusul sunyi. Lalu gelombang demi gelombang yang saling berpacu menuju titik kulminasi.

Mata Siska terpejam erat. Suara batinnya tak lagi terdengar mendistraksi.

●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●°●​

Ketika membuka mata, Siska mendapati Kinan yang menatapnya dengan mata setengah terpejam. Sebelah tangannya meremas-remas gundukan kenyal dadanya, sementara tangan satunya bergerak liar mengocok kewanitaannya sendiri.

Siska tersenyum sayu mendapati Kinan melakukan hal yang sama, sisa-sisa gairah yang masih menderu deras dalam darahnya menggerakkan Siska untuk membuka pahanya lebih lebar, untuk menunjukkan bagian tubuhnya yang paling pribadi ke arah Kinan…. Tak sampai sedetik… Kinan mencapai puncak kenikmatannya sambil menyemburkan cairan squirt hingga terkencing-kencing….

Butuh waktu bagi keduanya untuk mengatur napas yang tersengal, sebelum masing-masing terkikik-kikik lucu sambil tersenyum sendu.

“Kinan… besok… ajakin saya telanjang, boleh?” pinta Siska dengan wajah bersemu.

Kinan tersenyum mengangguk, lalu memperhatikan dengan sudut matanya, wajah tirus blasteran bak seorang model sampul, tubuh Siska yang langsing dan tinggi semampai, buah dada mungil yang hanya sekepalan tangan tapi membulat mengkal dengan puting warna merah hati, juga gundukan kewanitaan yang dicukur mulus seperti bayi. Diam-diam otak Kinan mensintesis sebuah skenario brilian tentang bagaimana cara menjebak si gadis ibukota agar dipermalukan seperti dirinya. Senyum simpul Kinan tersungging di bibir Kinan membayangkan gadis semolek Siska diperkosa semalam suntuk oleh Badeng, dikenyot puting imutnya oleh si kakek ompong, dijilati klitorisnya oleh si guguk, dan dimandikan dengan peju kental dalam pesta seks bukake anak-anak kampung….

It will be interesting… batin Kinan. It will be interesting….

Bersambung

Daftar Part