. Petualangan Telanjang Part 17 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 17

0
156

Petualangan Telanjang Part 17

Pencarian Terakhir

Laki-laki ini bajingan, Leo bisa menaksirnya dalam sekali lihat. Leher dan lengan yang dipenuhi bekas tato. Aroma parfum murahan. Lagak flamboyan seorang playboy kampung. Agak menyesal juga ia meminta orang ini menemani adiknya berjalan-jalan seharian. Naluri seorang kakak membuatnya memindai perlahan pejantan lain dalam kawanan yang mengancam posisinya sebagai alfa, dan yang paling bodoh adalah ia membiarkan Siska berjalan-jalan bersama orang itu.

Adiknya menghilang. Bukan berarti Leo tidak mencari sama sekali. Sesuai perjanjian, seharusnya anak-anak itu pulang selambat-lambatnya pukul dua belas malam. Leo sudah siap menyambar dengan omelan, tapi hingga pukul 00.15 yang ditunggu-tunggu belum juga muncul di gerbang Hotel.

Pertengah 90-an, dan waktu itu ponsel belum jamak digunakan. nyaris mustahil bagi Leo untuk menghubungi sang adik. Berkali-kali Leo berbicara dengan resepsionis, meminta disambungkan dengan pihak agen wisata, tapi mobil yang digunakan Badeng bahkan belum kembali ke pool!

Akhirnya, ketika arloji di tangannya menyentuh pukul 2 dini hari, Leo kehilangan kesabaran, “saya akan lapor polisi!” dengusnya sambil menggebrak meja resepsionis.

Ditemani manajemen Hotel, Leo melapor ke Polsek Sukawati. Dan Birokrasi, kau tahu, terlalu berbelit-belit. Mereka hanya menganggap anak-anak muda itu kemalaman klubing di Legian dan bakal kembali besok pagi dalam keadaan teler karena terlalu banyak menenggak tequilla. Hari sudah terlalu malam, dan akan sedikit merepotkan untuk melakukan pencarian.

“Lagipula, cuma ada petugas piket, ya ini kami berdua, Mas,” Pak Pulisi itu memberi permak luman.

Harus menunggu matahari terbit hingga pihak berwajib menyisir jalan-jalan dari dan menuju Kintamani, tempat mereka mengatakan akan bepergian kemarin. Bukan perkara mudah, karena setidaknya ada tiga jalur utama dan belasan jalan-jalan desa yang saling terhubung dengan kawasan wisata kaldera itu, tapi setidaknya, menggunakan pengaruh ayah Leo di Jakarta, pihak berwajib berkenan juga mengerahkan anggotanya untuk menyisiri jalan raya dan juga semua fasilitas kesehatan di sekitar itu.

Adalah bapak Inspektur Satu Jaya Sutrisna, komandan yang memimpin operasi pencarian. Jam 10 lewat, mobil yang digunakan Badeng ditemukan di lerengng gunung di sebelah Utara yang menghubungkan tempat itu dengan kabupaten Buleleng, namun tak ada tanda-tanda jejak manusia. Penculikan? Perampokan? Leo sudah mulai panik ketika radio panggil sang komandan berbunyi.

Badeng ditemukan, di sebuah Puskesmas kecil yang tak jauh dari tempat itu. Diperban dan digips pada pergelangan tangan. Tapi Leo tidak peduli, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencengkeram kerah baju pemuda itu.

“Bajingan! Di mana Siska!!!”

Badeng meringis, wajahnya penuh dengan bekas luka lecet. “Bung, tenang dulu… saya jelaskan.”

Seorang Mantri dan Petugas Polisi menenangkan Leo, dan Badeng mulai menjelaskan duduk perkara.

Mobil mereka mogok dalam perjalanan pulang. Badeng menitipkan Siska dan Kinan di desa kecil yang tak jauh dari situ, sementara ia hendak mengabari pihak Hotel untuk meminta bantuan.

“Tapi, tiyang yang kurang hati-hati. Karena kabut yang terlalu tebal. Tiyang jatuh ke dalam jurang.”

Untungnya manusia laknat itu belum mati. Badeng baru ditemukan oleh petani keesokan harinya, dan baru sadarkan diri tak lama sebelum Leo tiba.

“Tenang, adik bung, nona Siska dan nona Kinan dalam keadaan aman,” Badeng meringis ketika Leo melepaskan cengkeramannya.

Leo mendengus geram, merapikan kancing kemejanya. “Kalau ada apa-apa dengan adikku, kau akan menyesal.”

Badeng memilih tak menanggapi.

Radio panggil pak komandan berbunyi, Wayan, anak tertua Bapak Bendesa yang dikirim ke Gianyar Kota dan memberi tahu bahwa Kinan dan Siska ada di desa mereka.

“Nah. Tiyang juga bilang apa, bung,” dengus Badeng kesal.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Maka berangkatlah mereka menuju desa itu. Badeng, sebagai rasa tanggungjawab juga ikut serta. Lengan kirinya di-gips, dan ada luka jahit di dahinya, tapi itu tak menghalangi pemuda itu untuk melompat ke atas bak belakang mobil patroli. Tiga orang petugas bersma seekor anjing pelacak sudah ada di atas, dan Badeng memberikan petunjuk arah.

“Nah, di sini tiyang titipkan dua nona itu,” Badeng menunjuk kepada sebuah desa kuno di kaki gunung.

Ada rumah-rumah sederhana berdinding tanah liat dan warga yang terheran-heran melihat kedatangan Leo bersama aparat di desa mereka.

Bapak Bendesa keluar menyambut dan mengatakan bahwa Kinan dan Siska sedang berjalan-jalan di sekitar desa, dan sementara menunggu sebaiknya mereka beristirahat sambil menikmati suguhan kopi hangat dan gorengan Singkong. Bapak-bapak Polisi yang belum makan dari pagi, tentu dengan senang hati menanggapi, tapi tidak Leo.

Leo tidak bisa menyembunyikan rasa kurang suka di wajahnya. Penerbangan mereka pukul tujuh malam nanti. Kalau sampai mereka ketinggalan pesawat gara-gara ini, dia akan dengan senang hati mengomeli Siska dan Kinan. Cerobohnya anak itu, omel Leo, bagaimana ia bisa meninggalkan dompet dan barang bawaan Barang-barang Siska tersimpan rapi di kamar tamu di paviliun tamu. Leo langsung mengenali pakaian yang dikenakan tadi pagi diangin-anginkan pada sebuah tiang kayu. Termasuk sepasang pakaian dalam milik adiknya.

Leo mengernyit. Perasaannya tidak enak.

“Tadi dipinjami pakaian oleh anak saya,” Ibu Bendesa menjelaskan, tapi itu tidak cukup menenteramkan hati Leo.

Adiknya berkeliaran tanpa kancut.

Tiyang temani cari?” tawar Badeng.

Leo mengangguk buntu, tak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Badeng.

Maka dua orang berjalan menyisir jalan-jalan desa. Desa itu tak seberapa luas, hanya terdiri dari empat blok rumah yang tersusun rapi mengikuti empat barah mata angin. Badeng berperan sebagai penerjemah, menanyai beberapa warga yang kebetulan berpapasan.

“Oh, tiyang lihat dua orang mbok-mbok itu berjalan ke arah sana,” seorang anak menunjuk ke arah tapal batas yang mengarah ke gunung.

Perasaan Leo semakin tidak enak. Pemuda itu mempercepat langkah.

Hanya ada hamparan pohon cengkeh di depan, dan sebuah bangunan berdinding dobol tanpa atap.

“SISKA!!!!” Leo berteriak dengan seluruh udara yang ada di paru-parunya.

Tak terdengar jawaban.

“KINAAAAN!” Badeng ikut menjerit.

Perkebunan Cengkeh itu meluas hingga lereng gunung, dan sepanjang mata memandang dua orang itu tidak melihat siapapun selain batang-batang kayu.

Badeng dan leo menyisir tapal batas desa tanpa hasil. Hingga akhirnya Inspektur Jaya, memutuskan menggunakan anjing pelacak.

Aroma tubuh Siska dan Kinan, lagi-lagi, mengarahkan mereka pada perekebunan cengkeh di belakang desa. Kali ini indera penciuman anjing pelacak itu mengendus ke arah satu-satunya bangunan di tempat itu.

Intuisi barangkali, tapi ada sesuatu yang membuat Leo tergerak ikut memeriksa.Mata Leo bergerak mengedar. Rumah kecil barangkali tak sampai 3×5 meter lebar. Dinding-dindingnya yang terbuat dari bata merah sudah dobol di sana sini, dan atapnya sudah lama rubuh oleh jamur dan kelembaan. Gentong-gentong pecah terlihat di sana-sini. Bekas pengolahan deresan nira yang difermentasi menjadi arak.

Leo melangkah hati-hati, menghindari pecahan genteng yang ada di sana-sana. Anjing pelacak itu mengendus setiap ceruk dan lekukan sebelum mennyalak pada tumpukan ranting yang sepertinya menggunduk tak wajar pada sebuah cerukan.

Perasaannya semakin tidak enak.

Tumpukan kayu itu diungkap.

“Asu buntung!” desis Leo,

Pakaian adiknya.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Gemuruh besar terdengar di langit yang mulai menggelap.

“Kau tahu tentang hal ini, kan?!” Leo menuding ke arah Leo.

Badeng mengangkat bahu.

“BANGSAT!”

Hantaman keras mendarat di wajah Badeng dan membuat Badeng meringis.

Inspektur Jaya bersama anak buahnya segera melerai.

“Sudah kuduga ada yang salah dengan anak itu,” geram Leo.

Polisi-polisi itu hanya berpandangan, dan Leo tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

Inspektur Jaya berkoordinasi dengan Bapak Bendesa. Jalur pendakian itu mengarah ke Pura Kuno di puncak, ada beberapa desa kecil yang masyarakatnya masih berladang di lereng-lerengnya. Lagipula dua orang itu tidak membawa perbekalan, bahkan pakaian, seharusnya mereka tak pergi jauh. Tapi, itu justru yang membuat Leo khawatir.

Saat ini adiknya berkeliaran telanjang bulat di tengah hutan bersama orang tak dikenal. Bagaimana kalau ia berpasasan dengan orang jahat? Bagaimana kalau adiknya disakiti? Dan ini semua gara-gara eksibisionis jalang bernama Kinan itu. Leo menggeram geram. Geram kepada Siska. Geram kepada Kinan. Geram kepada dirinya sendiri karena sudah membiarkan hal itu terjadi.

Tiket pulang ke Jakarta diikhlaskannya sudah, dan Leo bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa kepada ayahnya nanti, tapi first thing first. Adiknya harus ditemukan.

Inspektur Jaya memimpin satu kelompok kecil tim pencari, tim-tim lain yang sedang disiapkan di Mabes akan menyusul jika dua orang itu tidak ditemukan hingga sore hari. Bapak Bendesa dan Badeng ikut serta sebagai wujud tanggungjawab, menyusuri jalan setapak dengan tebing curam di kiri-kanannya. Pohon-pohon tinggi menjulang di sana-sini, angker, dengan tajuk-tajuknya yang mulai diliputi kabut tebal.

Tiyang sarankan, kita harus segera kembali,” kata Bapak Bendesa khawatir.

“Bapak silahkan kembali, tapi saya akan tetap mencari adik saya!” tegas Leo.

“Bukan begitu, nak. Tapi… tanah ini menyimpan rahasia gelap… sudah banyak korban jatuh karena bermain-main dengan alam dan kegelapan….”

Leo mendengus meremehkan.

Tiyang serius. Tapi siapapun yang memasuki hutan larangan, pasti akan terkena kutukan! Sudah banyak pendaki yang menghilang karena berkeliaran terlalu jauh ke dalam hutan.”

Gerimis tipis mulai terlihat, dan Leo mempercepat langkah, mereka diburu waktu, Siska harus ditemukan sebelum cuaca berubah tak bersahabat. Tapi kau tahu, cuaca di gunung tidak pernah bisa diprediksi, belum ada sepuluh langkah, tiba-tiba langit bergemuruh diikuti dengan tetes-tetes air yang perlahan semakin rapat. Hujan datang dari arah puncak, membuat aliran air dari lereng-lerengnya mengubah jalan setapak itu menjadi sungai deras.

Inspektur Jaya menimbang-nimbang bersama bapak Bendesa, jalur ini memang bisa jadi berbahaya jika cuaca buruk. Leo berkeras melanjutkan, tapi keadaan alam tidak memungkinkan, lalu ketika kabut tebal benar-benar menghalangi jarak pandang, mereka tak punya pilihan lain selain kembali ke desa di kaki gunung.

“BANGSAT!” umpat Leo geram.

Adiknya masih ada di luar dan harus terjebak semalam lagi, telanjang, dan tanpa satupun pakaian yang melekat di tubuh.

Malam ini apapun bisa terjadi.

Apapun.

Bersambung

Daftar part

Cerita Terpopuler