. Petualangan Telanjang Part 16 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 16

0
147

Petualangan Telanjang Part 16

Dorongan Animalistik

The question is how far will you go?” desah Kinan sambil menggandeng tangan Siska.

Langit terlihat gelap oleh awan dan kabut ketika Kinan tiba di sebuah setapak besar. Batang-batang pohon rapat mulai terlihat jarang. La pisan lumut dan rumput yang tipis, menunjukkan bahwa tempat itu kerap dilalui, mungkin oleh penduduk desa yang mencari kayu bakar.

Jalan setapak itu cukup lebar dan membelah hutan lebat. Badan jalannya yang dikeraskan dengan batu paras di sana-sini membuat Kinan tahu bahwa tempat ini adalah jalur yang menghubungkan desa-desa di lereng gunung. Kinan dan Siska bisa melihat pejalan kaki yang lalu lalang sesekali (dan mereka langsung terbirit-birit bersembunyi karenanya!)

Kedua remaja itu berjalan di tempat terbuka. Telanjang bulat tanpa apapun yang melekat di kulit, bahkan alas kaki. Pakaian mereka jauh tertinggal, dan mereka tak tahu apa yang akan terjadi dalam 10 langkah ke depan.

Setelah hampir dua jam berjalan melalui hutan belantara, Kinan dan Siska melewati areal yang lebih terbuka. Setapak itu mengarah ke sebuah desa, Kinan tak ingin salah menerka, tapi setapak batu yang dibuat semakin rapi, dan saluran air di pinggir-pinggirnya membuat ia segera menyadari bahwa mereka sedang berjalan ke arah pemukiman.

Di sisi kiri mereka adalah tebing tinggi yang ditutupi lumut dan tumbuhan paku. Sementara di sisi kanan adalah jurang curam yang sebagian tertutup lebatnya hutan. Ada sebuah setapak batu di antaranya, dengan saluran air di sepanjang lereng yang mengalirkan air beraroma belerang yang mengepulkan uap panas. Dasarnya yang berwarna kekuningan membuat Kinan menerka-nerka bahwa ada sebuah sumber air panas di hulu.

Jalan setapak itu berakhir di sebuah persimpangan besar. Gerbang candi bentar berbahan paras menjadi tapal batas bersama sebuah beringin raksasa. Satu jalan berundak mengarah ke puncak gunung. Sementara satu lagi mengarah turun ke dalam jurang. Ada sebuah tanah lapang di sana, tak seberapa luas dan ditumbuhi dengan rumput-rumput tebal.

Sepi. Gumpalan kabut dan hawa dingin yang membungkus desa kecil di lereng gunung itu membuat para penduduk memilih berdiam di depan pendiangan yang hangat. Berbeda dengan desa Ibu Bendesa di kaki gunung sana, desa ini seperti terpencil dari peradaban. Kinan hanya melihat beberapa rumah-rumah berdinding bedek (anyaman bambu) dan beratap jerami di antara pohon-pohon tinggi.

Lama. Keduanya mengintai dari sebuah ceruk tersembunyi di balik pepohonan. Dibanding desa Ibu Bendesa yang terletak di kaki gunung. Desa ini lebih primitif dan terpencil. Masyarakatnya masih mengenakan kain jarik yang dikenakan sebagai cawat, dan hidup dari berternak dan menanam umbi-umbian. Kinan bisa melihat seorang bapak-bapak yang membopong pisang kepok mentah sebagai pakan ternak yang dikumpulkan dalam kandang komunal yang terpisah jauh dari pemukiman.

Suara gonggongan anjing terdengar menyalak dari dalam desa. Tak ingin mencari masalah, Kinan dan Siska memilih berjalan ke arah gunung mengikuti aroma belerang. Ada sebuah setapak kecil di sana, mengarah ke hutan pinus di belakang desa. Tak seberapa lebar dan pada beberapa bagian dikeraskan dengan batu-batu paras.

Beberapa ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) terlihat bergelantungan. Berteriak-teriak nyaring melihat kedatangan sepasang manusia yang tanpa busana. Batang-batang besar tumbuh rapat di kiri-kanan bersama semak-semak paku, melengkung dan bertemu pada kedua ujung dan membentuk gerbang hijau menuju ranah tak dikenal. Terra Incognita. Rasanya ia memasuki dunia lain.

Seorang kakek menggotong kayu bakar mendekat dari kejauhan. Memungut-mungut ranting dan mengumpulkannya dalam ikatan besar di punggungnya. Jarak yang cukup jauh membuatnya tak menyadari keadaan Kinan dan Siska yang tanpa busana. Kinan dan Siska masih cukup waras untuk tidak menarik perhatian di tempat asing seperti ini. Sigap, keduanya berjingkat cepat ke balik-balik sesemakan. Dewi Fortuna cukup berpihak kepada mereka, sehingga si kakek hanya melewati tempat persembunyian dua remaja bugil itu tanpa menoleh kekanan dan ke kiri.

“Gilaaaaa seru banget!” gelak Siska riang begitu si kakek lenyap dari pandangan.

“Nah, kan nggak nyesel.”

“Rasanya persis dulu pas waktu siang-siang pulang sekolah, aku bugil di halaman! Padahal waktu itu tetangga aku lagi nyiram halaman!”

“Oh ya? kamu basah dong!” sambut Kinan antusias.

“Banget! Aku malah diajak ngomong sama beliau, disangkanya aku masih pakai baju lengkap!”

“Aahahaha! Tolol!”

Lama keduanya berjalan sambil berbagi cerita, sehingga tidak menyadari kehadiran sosok ketiga yang mendekat nyaris tanpa suara. Ibu-ibu tua berjalan antara pepohonan. Posisinya yang cukup jauh membuat beliau tidak menyadari kehadiran Kinan dan Siska yang berjalan di arah berlawanan. Kinan baru mendengar suara langkahnya ketika sudah terlambat untuk bersembunyi.

Ketiganya sama-sama terperanjat. Kinan dan Siska menutupi keterkejutan mereka dengan memasang senyumnya yang sepolos mungkin. Ibu-ibu tua itu hanya tersenyum canggung sebelum mohon diri, meninggalkan Siska dan Kinan yang belum selesai gemetar.

Eksposur tak terduga itu membuat adrenalin semakin menderas begitu menyadari taruhan yang semakin riskan. Jalan ini kerap dilalui, keduanya mengambil kesimpulan, dan bukan tidak mungkin mereka akan berpapasan dengan pengguna jalan lain. Siska berpikir untuk kembali ke arah hutan, tapi terkadang apa yang kau lakukan diputuskan bukan oleh otak. Ekspresi jijik ibu yang melihatnya dalam kondisi tanpa busana justru memberkan sengatan-sengatan erotis pada klitorisnya!

Siska gemetar. Genggaman tangannya pada Kinan bertambah erat.

“Ka, kalau ada yang lewat. Kali ini, tak usah bersembunyi, berani?” bisik Kinan, tiba-tiba.

Jantung Siska seperti ingin melompat membayangkan itu. Antara excited, takut, dan horny bukan main!

“Kalau kita mendapat masalah, bagaimana?”

Kinan mengangkat bahunya, ringan. “Entahlah. Bukankah itu merupakan bagian dari permainan?”

Kenyataannya, kau bahkan sama sekali tak memiliki kendali. Telanjang bulat dan terpisah jauh dari pakaian membuat Siska benar-benar rentan. Mungkin saat ini Leo sudah tiba di desa kaki gunung. Atau malah, ia sudah ditinggal ke Jakarta. Siska gemetar memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengerikan dari petualangannya ini, tersesat dan telanjang bulat selamanya di dalam hutan, menjadi budak seks peliharaan warga desa, atau ditumbalkan dalam upacara pemujaan berhala. Cairan kental bening mulai membanjir seiring pikiran-pikiran Siska yang mulai mengarah pada tendensi suisidal.

“Kinan, ada yang datang….,” bisik Siska ketika mendengar suara langkah.

Sekelompok ibu-ibu mendekat. Siska melihat keranjang cucian yang diusung pertama, diikuti tubuh-tubuh pejal orang-orang gunung yang telanjang dada, muncul dari sebuah jalan menanjak.

Darah Siska seperti membeku. Jantungnya berdebar mengantisipasi. Batang-batang besar tumbuh rapat tak memberikan jalur untuk melarikan diri.

“Rileks. Anggap aja nggak terjadi apa-apa,” desis Kinan dingin, dan menarik tangan Siska mendekat.

Siska mempercepat langkah, menunduk, dan menutupi puting susu dan vagina.

Hanya ada keheningan dan suara langkah. Juga senyum-senyum canggung ketika dua rombongan itu berpapasan. Ibu-ibu itu bahkan tak mengatakan sepatah katapun, ia hanya menunduk, dan mempercepat langkah.

“Lihat, tidak terjadi apa-apa,” bisik Kinan gemetar, jantungnya pun sudah berdebar tak karuan.

Orang-orang gunung itu cenderung pemalu, batin Siska, terlihat dari orang-orang yang memapasi mereka lebih memilih diam dan menghindari kontak mata. Seorang ibu beserta anak-anaknya. Juga seorang remaja manis yang ketakutan melihat kehadiran sepasang wanita telanjang misterius di dalam hutan.

Tak lama berjalan, kali ini yang datang serombongan pemuda dan bapak-bapak. Orang-orang gunung yang biasa turun ke selatan untuk bekerja sebagai petani penggarap. Otot-otot mereka yang jantan dan liat hanya ditutupi selembar kain jarik yang dililitkan di pangkal paha sebagai cawat. Sepertinya juga baru pulang mandi.

Jarak mereka cukup dekat sehingga Siska bisa melihat air muka wajah bapak itu yang terkejut. Pria berumur 30 tahun itu menegur keras dalam bahasa Bali kasar, kenapa mereka telanjang? Kinan menjawab dalam bahasa Bali pula, dan Siska tak menangkap betul apa artinya.

Bapak-bapak tersebut hanya meneleng tak percaya. Sementara empat orang temannya memperhatikan tubuh Kinan dan Siska dari kepala hingga ujung rambut dengan mata yang seakan mau melahap sekujur tubuh mereka yang telanjang.

Wajah Siska merona kaerna malu. Tangan Siska langsung menutupi bagian-bagian privat, dan jantungnya berdebar keras sekali. Namun dibalik rasa malu itu, Siska merasakan sedikit rasa bangga mendapati tatapan pemuda-pemuda gunung itu pada tubuhnya yang tak berhalang.

Kinan yang berambut ikal sebahu memiliki tubuh montok dengan lapisan lemak di sana-sini. Buah dadanya mengkal dengan sepasang puting coklat muda dengan aerola kecil. Pahanya sekal dengan hiasan bulu-bulu lebat pada pangkalnya. Sementara Siska kebalikannya. Berwajah tirus dengan rambut pendek sedagu. Tubuhnya tinggi jenjang dengan perut rata dan bagian intim yang mulus tanpa bulu. Sepasang putingnya berwarna merah hati, mentitik ranum di atas payudara mungil sekepalan tangan.

Tangan Siska yang tersilang di depan dada hanya bisa menutupi puting dan daerah berharga di pangkal paha. Sementara pundak, pinggul, dan pantat terpampang bebas menjadi santapan mata orang-orang itu.

Gemetar karena malu, takut, dan terangsang, Siska membayangkan ia bakal dihakimi, dipermalukan, bahkan dilecehkan beramai-ramai oleh pemuda-pemuda gunung bertubuh jantan itu! Bayangan-bayangan cabul itu membuat dada Siska berdebar semakin kencang, dan napasnya makin memburu bersama cairan hangat yang meleleh semakin deras dari lorong vagina.

Akal sehatnya menolak, tapi nalurinya menuntut lebih! lalu sambil gemetar menahan malu yang teramat, Siska menurunkan lengan dan membiarkan seluruh tubuhnya terlihat. Liang kawinnya berdenyut-denyut menyambut tatapan orang-orang asing itu pada bagian tubuhnya yang paling rahasia. Siska tersenyum mengundang, dirinya sudah siap, kalau seandainya ia disuruh mengulum kejantanan berurat orang-orang itu sebagai ganti hukuman ia akan melakukannya dengan ikhlas.

Untungnya (atau malah, sayangnya) bapak-bapak itu hanya menghardik dalam bahasa Bali kasar dan menyuruh mereka segera pergi dari tempat itu.

Terdengar suara omelan, dan tubuh Siska masih gemetar ketika bapak-bapak itu membentak untuk terakhir kalinya sebelum menghilang di ujung kelokan.

“Dia bilang apa, Kinan?”

“Biarin aja! Reseh banget deh pokoknya,” kekeh Kinan tanpa merasa bersalah, tapi kata-kata itu hanya terdengar bagai dengungan tak berarti di telinga Siska. Rasa terangsang itu berganti-ganti dengan rasa lapar di perutnya

Gemuruh terdengar pelan, dan gerimis dalam wujud rinai tipis. Di depan hanya ada Pura Kuno dan pohon beringin raksasa yang terlihat wingit, membuat Kinan memutuskan untuk kembali.

“Aku lapar, Kinan. Tidak kah kau berpikir untuk kembali ke rumah Ibu Bendesa?” Siska menimbang untuk menyudahi petualangan telanjangnya ini.

“Kita cari makanan di desa itu, ya?”

“Jangan bercanda, Kinan! Kita tidak membawa uang! Lagi pula kita kan telanjang bulat!”

Dalam hati, Siska memang ingin berkeliaran telanjang bulat di kampung itu, tapi ada batas yang jelas antara fantasi dan realitas. Dan ia sedang tidak ingin mendapat masalah.

“Kita kan bisa menggunakan tubuh kita sebagai alat tukar.”

“Kinan! Jangan bercanda!”

“Hehehe….”

Sebenarnya Kinan pun menimbang-nimbang usulan Siska. Sudah lewat tengah hari, dan ia pun lapar sekali. Diperlukan waktu tiga jam setengah untuk sampai ke tempat ini, dan mungkin lebih untuk kembali. Menambah durasi petualanganmu lebih lama berarti menambah pula resiko kemalaman di tengah hutan. Lewat dari Senjakala adalah bagian para Roh dan Butakala, dan Kinan tak ingin menambahkan sebuah taruhan riskan.

Gemuruh besar kembali terdengar. Hari makin dingin ketika kabut pekat mulai turun dari puncak gunung, menutupi cahaya matahari dalam cuaca setengah mendung.

Kinan dan Siska berjalan agak terburu, tak ingin terjebak hujan di tengah jalan. Kau tahu, cuaca adalah hal lain yang tak bisa diprediksi. Sinar terik di pagi hari tak lantas menjamin langit cerah sepanjang hari.

Benar saja, tak terasa gerimis turun. Awalnya hanya berupa rinai tipis namun berubah menjadi tetes-tetes air yang deras. Memandikan tubuh telanjang Kinan dan Siska yang telanjang bulat. Kyaaaah! Siska berjingkat-jingkat panik, berusaha menutupi kepalanya. Pohon-pohon tinggi yang berfungsi sebagai kanopi tidak cukup membantu. Tubuh mereka yang telanjang bulat tak memberi perlindungan terhadap hawa dingin.

Keduanya mempercepat langkah. Lalu ketika tiba di persimpangan besar di depan gerbang desa, hujan lebat turun.

“Kinan! Hujannya deras sekali!”

Kinan mengangguk panik, menarik tangan Siska menuju satu-satunya tempat berteduh di kandang kecil berisi sapi dan babi di pinggiran desa. benar saja, begitu mereka melangkahkan kaki di dalam langit tiba-tiba bergemuruh dan mencurahkan seisi kandungannya. Kabut tebal mencegah keduanya untuk melanjutkan perjalanan.

Gemuruh besar mengentarkan nyali. Menggigil, Siska dan Kinan berteduh di dalam. Rasa dingin membuat keduanya tidak memikirkan lagi standar minimal penginapan. Siska meringkuk di atas tumpukan jerami, memeluk lututnya erat-erat. Badannya gemetar. Giginya gemeletuk. Hujan yang mendadak deras menurunkan suhu udara menuju 15 derajat di atas titik beku. Memaksa Siska memeluk Kinan erat-erat untuk membagi suhu tubuh untuk menghindari hipotermia.

Tiba-tiba Siska merasa rentan. Telanjang bulat dan berada di negeri antah berantah membuat tiba-tiba saja tendesi suicidal itu muncul kembali. Bagaimana jika ia mati di tempat ini? Anehnya, membayangkan mayatnya yang telanjang bulat dievakuasi dari gunung justru membuat kewanitaannya semakin deras mengalirkan kehangatan.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Mungkin ini adalah hukum karma, batin Siska. Seandainya saja ia tak menuruti bujukan setan untuk memamerkan tubuh telanjangnya. Seandainya saja ia menuruti pesan-pesan orang tuanya untuk menajga kehormatan, mungkin Siska tidak akan berakhir di tempat ini. Tersasardi tengah hutan rimba tanpa ada satupun pakaian melekat di tubuhnya. Mungkin ini adalah hukuman Tuhan, bahwa anak cabul sepertinya seharusnya dihukum menjadi budak seks selama-lamanya.

Rasa lapar membangunkan Siska dari mimpi-mimpi ganjil itu. Entah berapa lama ia tertidur. Hujan sudah reda. Bulan pucat yang menggantikan matahari memberikan iluminasi warna biru yang masuk dari celah-celah kayu. Cahaya jingga pelita damar tampak dari rumah-rumah warga yang sederhana. Mereka cukup beruntung. Kandang komunal yang berada di tepi desa itu cukup jauh dari pemukiman, sehingga rasanya tak akan ada yang peduli untuk memergoki dua orang wanita telanjang di sini.

Hari sudah beranjak malam. Mungkin Leo dan Badeng sudah tiba di desa Ibu Bendesa di kaki gunung sana, dan panik setengah mati. Mungkin saat ini sudah dikerahkan tim SAR untuk mencari mereka berdua. Mungkin ia bakal dimarahi habis-habisan di Jakarta. Kemungkinan-kemungkinan itu berdengung dalam kepala Siska. Entah kenapa, ia justru berharap tidak pernah ditemukan. Ketelanjangan ini rasanya terlalu nyaman jika ia harus kembali berpakaian. Masalahnya:

“Kinan…. aku lapar…,” rintih Siska lemah.

“Maafkan, aku cuma mendapat ini.”

Kinan menyodorkan sesisir pisang kepok yang setengah mentah. Dapat dari mana? Siska bertanya. Makanan ternak, jawab Kinan sambil menunjuk karung-karung berisi tandan-tandan pisang di pojokan.

Matanya mulai terbiasa dengan kondisi kurang cahaya, dan barulah Siska menyadari bahwa ia berbagi tempat tidur dengan belasan ekor babi dan satu ekor sapi. Aroma kotoran segera menyeruak memenuhi rongga hidungnya, tapi rasa lapar menihilkan rasa jijik, dengan lahap Siska menghabiskan satu sisir pisang di tangan.

“Terlalu berbahaya berjalan di tengah hutan malam-malam. Malam ini kita beristirahat di sini. Besok pagi-pagi sekali kita kembali ke tempat Ibu Bendesa,” kata Kinan yang mengawasi keadaan sekitar.

Siska mengagguk setuju, mulutnya penuh dengan pisang keras yang berasa tawar itu. Permasalahannya, bagaimana cara mereka menunggu pagi? Malam masih bersisa beberapa jam lagi, dan mereka harus bermalam di tempat menjijikkan ini.

Kandang itu terbuat dari batang-batang besar pohon yang tak diserut. Atap jerami dan dinding-dinding bambu cukup untuk sekedar mencegah hawa dingin, dan saluran air yang mengelilingi komplek berukuran 5×10 meter itu membuat tumpukan jerami itu cukup kering sebagai pembaringan.

Sapi dipisah dengan kumpulan babi yang bertubuh besar dengan pagar-pagar bambu. Menguik-nguik tanpa merasa terganggu dengan kehadiran sepasang manusia telanjang di tempat itu. Babi Bali (Sus vittatus) merupakan keturunan Celeng Hutan yang bertubuh besar dan berkulit kasar. Sementara Sapi Bali (Bos sundaicus) yang berkulit oranye-kecoklatan adalah keturunan Banteng asli Nusantara, dengan tanduk tajam, dan otot-otot yang pejal. Dan malam ini, sepasang remaja telanjang itu harus berbagi tempat tidur dengan hewan-hewan itu.

Anehnya tak sedikitpun pemandangan itu membuat mereka jijik. Berada dalam keadaan paling marginal dalam keadaan di mana engkau terlahirkan membangkitkan hasrat primordial manusia yang selama ini tersimpan di lobus frontal otakmu. Telanjang bulat bagaikan seekor binatang ternyata mampu membangkitkan insting-insting animalistik yang selama ini tak terikut berevolusi dalam DNA. Perlahan, Kinan dan Siska menyadari itu. Bagaimana dalam keadaan paling hina ini selangkangan mereka justru menghangat dan darah mereka perlahan mendidih berisi desakan untuk berkembang biak.

Mengerikan, betapa aroma kotoran hewan ini malah membangkitkan fantasi-fantasi masokhis tentang seorang wanita yang menjadi human pet suku-kuku pedalaman lalu dijadikan budak seks dan tumbal bagi berhala mereka.

“Gimana ya, rasanya jadi binatang peliharaan?” wajah Kinan tersipu-sipu.

Siska ikut bersemu karena dia pun membayangkan hal yang sama.

“Kau tahu Siska, kadang-kadang aku berpikir aku sudah nggak ingin lagi kembali ke kehidupan lamaku. Aku ingin begini seterusnya. Telanjang bulat dan nggak mengenakan pakaian lagi,” desau Kinan sambil memain-mainkan tali kekang yang tak terpakai.

“Aku tak pernah benar-benar ingin itu terjadi, tapi…,” Siska menunduk, malu sendiri pada fantasinya. “Kadang aku berkhayal… berkeliaran tanpa pakaian di jalanan umum… merangkak dengan empat kaki… dan pipis,

“Seperti ini?”

Kinan merangkak di dalam kandang. Tubuhnya yang telanjang bulat dan berlumpur membuat remaja montok itu tak jauh berbeda dengan hewan-hewan ternak di kandang itu. Kaki Kinan naik sebelah, dan kencing seperti seekor anjing. Tubuh montok Kinan yang menggemaskan terlihat menggigil sedikit ketika cairan kuning keruh mengalir di melelehi paha dan betisnya.

Entah kenapa, adegan itu membuat Siska terangsang. Remaja berambut pendek itu hanya tersenyum sayu ke arah Kinan sambil mulai membelai buah dada dan kewanitaannya.

“Sini… kamu juga harus coba….”

Wajah Siska agak bersemu membayangkan ia bakal melakukan hal memalukan seperti itu. Ayolah, Fransisca Theresia, yang benar saja, sisi batinnya yang masih waras mencoba menginterupsi. Bagaimana bisa anak baik yang tak pernah lupa ke Gereja melakukan hal ini? Keluarganya adalah kalangan terpandang, dan Siska adalah golongan terdidik, bagaimana bisa akan merendahkan martabatnya seperti binatang? Tapi pikiran-pikiran itu justru membuat sekujur tubuhnya gemetar dan kelaminnya makin panas.

Merangkak, Siska menuju tempat di pojokan di mana babi-babi berada. Lutut dan tangannya telah kotor oleh lumpur, dan kulitnya yang mulus tersalut debu, dan rasanya ia tak akan terlalu peduli untuk mengotori sedikit lagi. Siska memejam dengan wajah merah padam, menanggalkan semua harkat dan harga diri.

Tuhan, ampunilah, desah Siska putus asa sebelum melakukan hal yang sama. Sekujur tubuh Siska berdesir merasakan semburan hangat di selangkangannya. Malam terlalu hening sampai-sampai suara kencing itu tedengar keras, begitu jelas menggedor gendang seiring semburan urinnya yang menderas. Menahan malu, wajah Siska semakin bersemu karena gundukan tembemnya sedang deras-derasnya menyemburkan air kencing ditambah lagi Kinan melihat setiap detil adegan memalukan itu dari jarak dekat.

“Kinan, jangan dilihatin,” desah Siska dengan wajah merah padam. Keempat tungkainya yang merangkak gemetar hebat ketika lelehan urin itu merembes deras membasahi paha dan betis.

Malunya luar biasa, tapi nikmat sekali melakukan hal memalukan ini di depan orang lain! (Ah, Siska tiba-tiba membayangkan melakukan ini sambil ditonton oleh warga desa!)

Tiba-tiba pikiran ini membuat perutnya mulas. Dorongan dari usus besar mendesak untuk dikeluarkan. Siska kini menggigil oleh jalan pikirannya sendiri. Ada unsur hewaniah dalam diri Siska yang menggelegak. Mengambil alih kesadaran dan harga diri. Perlahan Siska berjongkok di pojokan. Mengejan dengan wajah merah menahan rasa malu dan terhina.

Feses-nya keluar dalam gumpalan lembut. Menjulur dari lubang anus dan melingkar di tumitnya. Siska mengerang lirih, tak pernah menduga akan melakukan hal menjijikkan ini di depan Kinan.

“Kinaaaaaaaaan….jangan lihaaaaat….,” rengek Siska dengan berurai air mata.

Sementara, Kinan menyaksikan adegan bak bokep scat itu dengan wajah sange, matanya menatap nanar, dengan sepasang paha yang terbuka lebar. Penuh nafsu, Kinan meremasi salah satu bongkahan kenyal dadanya, sambil mengocok belahan memeknya. Adegan bak bokep scat itu justru membangkitkan libidonya. Orgasmenya meledak dalam semprotan deras cairan squirt ketika kotoran terakhir jatuh dari lubang anus Siska..

“Sssssh…. Sika… kamu hot… bangeth…. sih…..” desah Kinan sambil meremas payudara montoknya.

Siska pun belum sadar betul dari birahinya. Buang hajat sambil ditonton orang lain benar-benar membuatnya terangsang hebat. Remaja ibukota itu belum selesai tersengal, dan tungkai-tungkainya masih gemetaran, ketika ia merasakan ada yang mendengus di lubang pantatnya.

“Kyaaah!” Siska memekik, merasakan benda lunak yang menguas di selangkangannya

Rupanya babi-babi dalam kandang itu tertarik dengan aroma kotoran manusia. Dengan segera mereka melahap feses Siska dan menjilati sisa-sisanya yang masih melekat di sela pantat. Makhluk-makhluk bertubuh tambun itu berebutan dan mendorong Siska hingga anak itu jatuh merangkak. Siska bahkan tak memiliki kesempatan untuk terkejut, jilatan-jilatan brutal pada lubang anusnya membuat remaja cantik itu menggeliat kegelian.

“Kinan… Kin… nan… to… long… aku… a-aku….” Siska megap-megap tak berdaya, kumpulan babi itu menghimpit tubuhnya yang telanjang. Merangkak-rangkak, Siska tak memiliki kekuatan untuk melawan, lidah para babi yang bermain-main dengan bagian tubuhnya yang paling privat membuat birahi anak itu mulai bangkit. “Ssssssssh…..” Siska mulai mendesah, tak peduli lagi kalau yang menjilati kelaminnya itu bukan manusia. Lidah-lidah babi itu terasa sedap juga ketika menjilati belahan memeknya yang sudah membanjir!

Siska berhenti melawan. Tanpa sadar pantatnya semakin menungging sehingga babi-babi itu leluasa menjilati lubang anus dan kewanitaannya. Bertumpu pada sebelah siku, wajah Siska menempel di tanah, sementara tangan satunya kini ikut meremas buah dadanya yang mungil. “Aaaaaaah… Kinan…. gua kooook…. sange sama babi….,” rengek Siska nista. Rasa malu dan terangsang akibat percintaan beda spesies itu membuat tubuhnya gemetar hebat. Siska mendengus-dengus birahi. “Hngggh….hnngggh… gua…. nyampeeeeh… huaaaaaah.” Orgasmenya tiba bersama dengan semburan indah cairan squirt yang meleleh hingga paha. “Aduh… aduh…. ngilu… udaaaah… ngiluuu… aduuuuh…. kooook guaaaa dioral sama celeeeeeng….” rengek Siska, karena bukannya berhenti, babi-babi itu malah dengan lahap menjilati lelehan peju orgasmenya. Aroma kewanitaan Siska yang mengandung feromon agaknya membangkitkan birahi para pejantan.

“Kinaaaan… tolongin guaaa…. gua nggak mau… diewe….sama babi…” dengus Siska meronta-ronta, karena seekor pejantan bertubuh besar kini menindih tubuhnya yang menungging.

Kinan beringsut mendekat dengan cara merangkak layaknya hewan, tersenyum sange sambil membelai wajah Siska yang malu-malu birahi. Diraihnya dagu Siska lalu dilumatnya.

“Tenang aja…. kamu belum pernah kan… ngentot sama binatang? enak kok….”

“Sssssh…. ooooh…. guaaah… nggak mauh… virgin gua… ilangh… sama celengh….” Siska megap-megap keenakan karena kontol sang pejantan yang berwarna merah mulai menggesek belahan tembemnya yang mulus.

“Tenang aja…. kontolnya babi nggak seberapa panjang….,” bisik Kinan mesra, tangannya menjangkau ke arah kontol si pejantan dan mengarahkannya pada lubang memek betinanya.

“Kinaan… jangaaan…. jangaaaaan…. ooooh” Siska mebeliak ketika penis pendek sebesar sosis itu membelah masuk ke dalam belahan perawannya yang rapat. Tak seberapa panjang dan tak mengenai selaput dara, tapi itu pun sanggup membuat tubuhnya yang telanjang menggeliat nikmat.

“Gimana…. enak…?”

“Enakh… bangeth… sssssh…… ohhhhh… jadi gini rasanya….dienthoth….” desah Siska binal ketika celeng jantan itu mulai menggenjot. “Papaaaa…. mamaaaaa…. anakmu diewe celeeeeng…. aaaah….. aaaaah…. aaaaaaah…..”

Kinan hanya tersenyum melihat persenggamaan dua spesies itu. Siska, remaja terhormat dari ibukota harus menjadi betina bagi seekor celeng najis. Tubuhnya yang molek dan seksi menungging-nungging keenakan dientot oleh seekor hewan besar berbulu. Suara ‘ngguik’ terdengar dari sang pejantan menunjukkan betapa sedap memek perawan betinanya. Siska yang belum pernah merasakan batang kontol pun merasakan hal yang sama. Matanya melotot sehingga hilang putihnya, dan mulutnya terbuka sampai meneteskan air liur ketika orgasmenya tiba, dan Kinan tahu ini baru permulaan, karena pejantan-pejantan lain mendengus-dengus menunggu antrian untuk mengawini sang betina.

Kinan membelai kelaminnya sendiri, menyaksikan remaja 18 tahun itu digilir oleh para celeng membuatnya liang kawinnya benar-benar becek. Kinan ingin disetubuhi, yang jelas bukan oleh para babi. Batang kontol mereka yang kecil itu tak akan sanggup untuk menuntaskan birahi sang remaja hiperseks.

Kinan berpaling pada seekor sapi jantan yang ditali di pojokan. Badannya kekar dengan otot-otot jantan yang liat, dan yang paling membuat dadanya berdesir adalah kejantanan berukuran besar yang menggelayut di antara dua kaki belakang. Uuuuh, muat nggak ya memeknya Kinan dimasukin sama kontol segede itu? batin Kinan sambil membelai-belai belahan tembemnya.

Kinan merangkak dengan tangan dan lututnya. Gemetar dan membelai batang peler sang pejantan. Kinan agak takut kalau sapi itu tiba-tiba mengamuk, tapi dengan lembut ia membelai ujung penis yang masih tertutup kulup, mengecupnya pelan.

Sapi Jantan itu melengguh, kecupan lembut Kinan pada batangnya yang berurat menimbulkan rasa nikmat yang membuat penis berbulu itu perlahan mengeras. Lembut dan penuh perasaan Kinan mulai mengocok penis sapi itu sambil mengulum ujungnya yang terasa asin. Kinan melengguh dengan mulut penuh. Batangan itu mulai mengeras dalam rongga mulutnya.

Remaja montok itu berjongkok bugil di bawah tubuh seekor sapi jantan. Kepalanya maju mundur mengulum falus tebal ke dalam mulutnya. Sementara sebelah tangannya bergerak nakal, membelai kelaminnya sendiri. Bayangan mental seorang gadis soleha yang mencabuli seekor sapi membuat liang kawinnya demikian basah dan mendamba. Lalu, ketika dirasanya pelumasnya sudah cukup, Kinan Kinan beringsut merangkak ke bawah perut sang pejantan, setengah berdiri membentuk sudut siku-siku dengan pinggulnya. Agak susah memang, tapi dengan satu gerakan pelan ia meraih pada ujung tumpul sang penjantan, mengarahkan

Terdengar lengguhan pelan dari sapi itu, diameter palkon yang hampir 5 cm itu membelah belahan memek Kinan yang lucu, membuat dinding-dindingnya melar seketika, “ssssshhh “Sssssssh….. aduuuuuuh… sesekh bangeth….. ” bibir Kinan megap megap birahi, tubuh montoknya mengejang keenakan, lelehan keringat menetes membasahi badan Kinan yang telanjang, menimbulkan kilatan erotis ketika tiba-tiba anak itu kejang-kejang orgasme. Rasa nikmat akibat dipenetrasi oleh pejantan beda spesies membuat memeknya menyemprotkan cairan squirt bagaikan keran hidran.

Kinan segera ambruk di atas keempat tungkainya, matanya melotot dan air liur menetes deras dari bibirnya yang terbuka menunjukkan betapa hebatnya orgasme yang didapatnya. Kinan melirik sayu kearah Siska yang tengah digilir oleh sekawanan babi. Ya Tuhan, entah apa yang akan dikatakan ayahnya yang seorang Haji kalau mengetahui anak perempuannya dientot seekor sapi?

Kinan masih tersengal oleh orgasmenya, dan benaknya masih memburu akal sehat ketika tiba-tiba ia mendengar suara ramai-ramai di luar kandang. Jantungnya berdetak waspada. Insting tanda bahaya segera bertindak menggantikan birahi.

Suara kentongan segera menyentak keduanya diikuti cahaya-cahaya jingga yang berasal dari luar jendela. Belasan warga kampung mengepung kandang itu dengan obor di tangan. Kinan dan Siska bisa melihat apinya yang menyala-nyala dan jelaga hitam yang melingkarke udara.

Seorang pria menyerbu masuk ke dalam kandang, dan memergoki dua orang remaja itu yang sedang mencabuli hewan ternak.

“OI!!! SEDANG APA KALIAN!!!!!!”

“Ini dia orang gila yang mengotori kampung kita!”

“B-bukan… k-kami tersesat!” Kinan tergugu-gugu, berusaha menjelaskan

“Bohong! Tadi siang tiyang lihat dia berkeliaran telanjang bulat di dalam hutan!!!!”

“I-itu!”

“INI DIA ORANG GILA YANG SUDAH MERESAHKAN WARGA!!!!!”

Kinan dan Siska dijambak keluar. Lehernya diikat dengan tali tambang besar dari sabut kelapa, dan sepasang gadis telanjang itu diseret kasar ke tengah lapangan di mana orang-orang sudah berkerumun dengan pacul dan senjata tajam di tangan dan berteriak-teriak murka.

Siska gemetar ketakutan. Air kencing meremebes deras membasahi paha dan betis. Berada di ambang ajal justru membuat keinginan bunuh diri itu kembali mengambilalih. Membayangkan dirinya dirajam, dikubur hidup-hidup, dan dilempari batu hingga mati justru membuat Siska merasa erotis sekaligus terangsang. Putingnya menegang, dan klitorisnya meremang. Lendir pelicinnya menetes banyak sekali.

Seorang kakek berjenggot putih yang sepertinya ketua adat itu mengambil alih komando dan menenangkan kerumunan. Siska tidak mengerti apa yang diucapkannya. Tapi Intinya mereka dianggap sebagai orang gila dan mengotori desa dengan perbuatan mesumnya. Untuk itu mereka harus menjalani hukuman pasung.

Kasar, Kinan dan Siska ditarik ke sebuah dinding batu, ada sebuah pasak besi di sana, dan dan ia tali tambang lehernya diikat bagaikan hewan peliharaan. Ia dipasung bagaikan pengidap skizophrenia, dan orang-orang mengelilinginya dan menontoni keadaannya yang telanjang bulat. Siska gemetar, tercekam oleh campuran mengerikan rasa malu, takut, dan terangsang yang membuat kewanitaannya tak henti-henti mengalirkan lendir segar.

“Lepaskan! Saya bukan orang gila!” suara Kinan terdengar lirih dari sebelahnya. “Saya mau pulang…. tolong…. saya bukan orang gila…..”

Seorang ibu tua mendekat dan menatap penuh rasa iba. Tangannya mengelus kepala Kinan yang belum selesai gemetar. Berbicara lembut dalam bahasa Bali halus.

Gek. Dengarkan Ibuk. Gek!”

Belum selesai gemetar, Kinan menatap nanar ke arah si ibu tua.

“Berkeliaran telanjang bulat selama berhari-hari. Kehilangan rasa malu dan memamerkan alat kelamin di depan umum? Orang waras mana yang melakukan itu semua?”

Kinan gemetar.

“Cuma orang gila yang melakukan itu.”

To Be Continude