. Petualangan Telanjang Part 15 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 15

0
146

Petualangan Telanjang Part 15

Naked Hiking

Matahari menanjak di lengkung langit menguaskan cahaya hangat pada tajuk-tajuk pinus, dan satu persatu penduduk yang mandi pulang seiring siang yang menjelang. Siska menurut saja ketika didandani oleh anak-anak Ibu Bendesa. Penduduk di desa itu menggunakan campuran bebungaan yang direndam dengan minyak kelapa untuk mengkilapkan rambut. Sementara tubuh mereka yang telanjang dibaluri dengan boreh yang terbuat dari dedaunan yang ditumbuk, bunga, akar harum, dan bubuk kunyit.

Anak gadis Ibu Bendesa meminjami Kinan dan Siska kain tenun bermotif manis, diikatkan dengan selendang di pinggang tanpa mengenakan lagi dalaman. Namun ketika diberikan sehelai lagi untuk menutupi dada, Kinan menolak.

“Kalau begini saja, boleh?” Kinan membusungkan sepasang mangkok-c bongkahan dadanya.

Anak-anak Ibu Bendesa berpandangan. “T-tidak apa-apa. Asalkan mbok-nya tidak malu.”

________________________________________
|Mbok = kakak perempuan |
________________________________________

“Tidak sama sekali. Karena saya merasa ini justru alami. Benarkan, Ka?”

Siska mengangguk. Wajahnya bersemu. Entah kenapa ia dengan sukarela melakukan hal yang sama.

Sementara belum ada tanda-tanda Leo dan Badeng yang akan tiba dalam waktu dekat. Wayan, anak tertua Ibu Bendesa sudah turun ke Ubud kota sejak subuh tadi dan seharusnya saat ini sudah tiba di tempat mereka menginap.

Ibu Bendesa tadi berkata, barangkali mereka dalam perjalanan. Siska mengangguk. Entah kenapa ia bahkan tak hal itu tak lagi menjadi prioritas. Mengusir rasa bosan karena menunggu adalah hal yang ada di pikiran Siska saat ini.

Masa panen kopi yang masih terpaut jauh membuat hanya beberapa saja warga yang berangkat kekebun untuk menyiangi gulma atau menyemprot pestisida. Selebihnya hanya menghabiskan waktu membelai-belai ayam jago di depan rumah.

Siska dan Kinan berjalan menyusuri jalan desa yang sunyi. Kain tenun berwarna alam yang membebat hingga pinggang membuat keduanya tak berbeda dengan penduduk sekitar. Sementara sepasang payudara yang telanjang terpampang, indah dengan putik-putiknya yang mengembang ranum, siap untuk dipetik. (Kinan dan Siska tidak mengenakan apa-apa lagi dibaliknya!)

Anehnya, nyaris tak ada yang peduli. Para penduduk hanya melihat sekilas sebelum kembali pada aktivitas masing-masing. Perhatian mereka lebih karena keheranan anak anak kota mau melakukan hal ini, selebihnya indiferen dengan dada Kinan dan Siska yang telanjang.

Benar seperti yang dikatakan kakeknya, di tempat itu ketelanjangan berjarak dengan birahi. Para petualang dari Barat menyebut tempat ini dengan sebutan Last Paradise on Earth, tempat di mana penduduknya masih memiliki kemurnian taman surga yang tak memandang tubuh manusia sebagai dosa asal. Di tempat ini sepasang buah dada mereka yang bukanlah sebuah hal tabu yang harus ditutupi.

Ada pohon beringin besar di sana menaungi sebuah balai besar dan Pura Desa, (Kinan melewatinya semalam). Kerumunan bapak-bapak yang berkain dan bercawat mengelilingi sepasang ayam jago yang diadu di pelataran. Sementara kanak-kanak bermain congklak dan menyanyi Jangi-janger di panggung kosong. Ibu-ibu dan para gadis membentuk kelompok-kelompok kecil di bale-bale, menganyam sesaji dari daun kelapa. Sebagian berkemben, sebagian telanjang dada ─terutama yang sudah berumur.

Keduanya berjalan semakin jauh ke tapal batas desa, ke tempat di mana terdapat kanal kecil yang digunakan untuk mandi tadi pagi. Seorang ibu sedang mencuci berlembar-lembar kain batik dengan lerak di situ.

“Pemandangan ini benar-benar mirip dengan lukisan yang aku lihat waktu aku kecil.”

Kakeknya yang orang Bali adalah kolektor lukisan, sekedar mengingatkan. Membuat Kinan sedari dini terpapar dengan keindahan tubuh manusia semenjak dini.

“Umurku masih kecil waktu itu, tapi semenjak itu aku tahu ada berubah dari cara aku memandang ketelanjangan.”

“Maksudmu?”

“Seiring bertambahnya aku mulai bertanya-tanya: kenapa mereka telanjang? apa mereka tidak malu telanjang di depan umum? bagaimana rasanya telanjang di muka banyak orang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar berulang dan berulang. Jauh di dalam alam bawah sadar Kinan, suatu gagasan mulai terbentuk diam-diam. Kinan tidak ingat sejak kapan ia mulai suka memandangi tubuh telanjangnya sendiri. Yang pasti ada rasa bangga yang terbit, rasa senang yang membersit, hingga membuat anak itu betah berlama-lama mematut-matut diri di depan cermin hanya untuk mengagumi lekuk tubuhnya yang terlihat indah tanpa benang sehelaipun.

“Kau tahu Kinan?” desau Siska. “Gagasan adalah parasit yang paling berbahaya. Karena begitu ditanamkan, nyaris mustahil untuk menghapusnya.”

Kinan tersenyum getir. “And here I am. Naked. Kadang aku berpikir aku ingin berada di tempat ini. Telanjang selamanya.”

“Aku pun… ingin,” desis Siska ragu. “Tapi kita kan masih punya kehidupan? Kau tak ingin pulang, Kinan?”

Kinan tersenyum kecil. “Kau sendiri?”

Siska mengangkat bahu. Semakin Siska menyadari bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan pulau indah ini, semakin ia tak ingin berpisah dengan kesementaraan ini.

Suara ibu-ibu yang sedang mencuci mengembalikan Siska dari lamunan singkat. Beliau berkata dalam bahasa Bali, mumpung masih di sini kenapa mereka tidak berjalan-jalan ke air terjun di dekat sini? Kinan menjawab bahwa keduanya masih ingin menikmati suasana di tempat ini. Beliau mengangguk dan meringkasi cucian, dan mohon diri. Meninggalkan keduanya dengan kesunyian pagi.

Jalan setapak itu sepenuhnya sepi dan rasanya tak akan ada yang peduli. Tangan Siska bergerak tanpa sadar. Melepas penutup terakhir auratnya. Tubuhnya yang indah segera terpampang, jenjang dan telanjang tanpa ditumbuhi bulu sehelaipun.

“Petualangan ini, Kinan, mau tidak mau akan berakhir. Tapi itu bukan berati kita tidak bisa menutupnya dengan ‘satu petualangan terakhir’”

Berjalan-jalan telanjang di tengah hutan belantara? Atau terlibat dalam percumbuan tabu yang mendidihkan selangkangan? Tiba-tiba saja pipi Siska bersemu memikirkan kemungkinan-kemungkinan permainan nakal yang akan dilakukan bersama Kinan.

“Kukira kita menunggu Leo?” Kinan tertawa melihat kenakalan ‘muridnya’, “Penerbanganmu malam ini, kan? Leo tentu akan murka jika tak menemukanmu ketika tiba di tempat ini.”

“Jangan pura-pura, Kinan. Kau tahu, resiko adalah bagian dari permainan. Semakin tinggi yang kau pertaruhkan, semakin nikmat pula ‘puncak’ yang kau dapatkan,” Siska mengerling mengundang.

Siska melangkahkan kaki agak jauh ke dalam kebun cengkeh sambil tersenyum jahil. Tangannya merentang membelai batang-batang kayu, dan kakinya yang telanjang merasakan tekstur daun-daun kering ketika ia melangkah makih jauh ke dalam, dalam jarak yang tidak wajar untuk membuat jantungnya sedikit berdebar.

Siska menoleh ke kiri dan ke kanan. Mandi telanjang di telabah adalah lain hal. Tapi berkeliaran telanjang di tengah kebun cengkeh? Bagaimana cara ia menjelaskan ketelanjangannya jika dipergoki? Klitorisnya agak meremang, dan Siska benar-benar mengakrabi ini. Bertelanjang di tempat yang tak semestinya selalu berhasil menambahkan sensasi erotis dalam petualangannya!

Adalah Dopamin yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap apa yang terjadi dalam dirinya saat ini. Hormon setan pembawa rasa bahagia yang diproduksi ketika engkau mendapat kesenangan itu bisa membuat sudut bibirmu seketika melebar ketika merayakan puncak-puncak kenikmatanmu.

Berada dalam situasi bahaya membuat tubuh secara otomatis mensekresikan hormon adrenalin sebagai reaksi fisiologis. Akibatnya detak jantungmu seketika bertambah cepat, dan frekuensi pernapasanmu meningkat dua kali lipat. Otot-otot tubuhmu menegang, bersiap atas segala kemungkinan skenario untuk menyelamatkan diri diri, dan ketika berhasil terlepas dari marabahaya, otak melepaskan dopamin yang berfungsi antagonis, itu sebabnya kalian akan merasakan ‘sense of relief‘, kelegaan begitu terlepas situasi genting.

What do you say, Kinan?” tangan Siska mengulur, mengajak Kinan dalam sebuah petualangan terakhir.

“Final episode?” tanya Kinan sebelum melucuti selembar kain yang menjadi penutup aurat.

“Final episode,” Siska mengangguk pasti. “Ini adalah episode pamungkas, apapun yang terjadi,kita tak akan pernah menyesali.”

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Karena yang kau perlu hanyalah sedikit keberanian. Kain penutup tubuh mereka kini sudah terlipat rapi di balik sebuah ceruk berbatu. Kinan menyamarkannya dengan ranting kering dan dedaunan. Alas kaki, dompet, perhiasan, telah ditinggal di penginapan. Selebihnya mereka akan menjalani petualangan ini hanya dengan pakaian kelahiran tanpa apapun lagi yang melekat di tubuh selain baluran daun liligundi (Vitex trivolia) yang digunakan sebagai penolak gigitan serangga.

Sengaja keduanya menghindari jalan setapak, karena beberapa penduduk yang mencari kayu masih terlihat melintas sesekali. Kinan dan Siska hanya berpatokan pada saluran air yang membelah hutan. Sumber air di pegunungan mengalir melalui kanal batu yang mungkin sudah ada sejak satu abad yang lalu menjadi satu-satunya penunjuk arah. Perlahan, pohon-pohon cengkeh mulai berganti dengan batang-batang raksasa beringin dan kaliandra.

Jalan yang mereka lalui semakin menanjak. Hamparan jurang terjal di sebelah kiri. Pohon-pohon hijau membentang sejauh mata memandang. Di cakrawala adalah gunung tinggi yang menjulang. Matahari pagi menyepuh puncak-puncaknya dalam warna emas.

Berbeda dengan Denpasar yang hiruk pikuk, ataupun Ubud yang semarak. Desa itu sepenuhnya sepi. Posisinya yang berada di lereng gunung dan berjarak dengan jalan raya membuatnya bisa menikmati detil-detil kecil bebunyian yang biasanya luput dari perhatian. Kepondang dan Murai Batu bernyanyi di pucuk-pucuk dahan.

Kinan menoleh ke belakang. Lihatlah, betapa jauh mereka kini berjalan. Pakaian mereka telah jauh tertinggal, dan keduanya berjalan jauh memasuki hutan rimba hanya dengan tanpa apapun yang melekat di tubuh, bahkan sepasang alas kaki. Telapak mereka yang telanjang menapak pada daun-daun lapuk di tanah, sambil berusaha menghindari beberapa kerikil tajam di sana-sini. Terkadang merangkak melewati pohon-pohon tumbang. Tangan mereka bergerak menguak daun-daun lebar pakis dan keladi yang merintangi. Embun-embun lembabnya meninggalkan jejak-jejak basah di atas kulit sepasang bidadari yang telanjang.

Kinan dan Siska berjalan di bawah Berjalan di bawah bayangan sejuk pepohonan. Gunung terselubung dalam kabut. Kanopi pepohonan tampak semakin rapat dan menyisakan cahaya hijau yang merambat dari celah-celah daun, membuat mereka seperti memasuki halaman sebuah negeri fantasi. Gendang telinganya mulai menangkapi suara-suara hewan penghuni hutan, dan indera penciumannya mulai dimanjakan dengan aroma kayu yang lapuk. Batang-batang hijau yang bersalut lumut. Ranting-ranting patah yang terinjak kaki. Mereka bahkan tak lagi memikirkan tubuh keduanya yang tanpa busana. Kinan dan Siska berjalan sambil berpegangan tangan bagaikan sepasang peri.

Beberapa kali mereka memapasi penduduk desa yang mencari kayu bakar di setapak kecil yang membelah hutan, tapi dengan sigap pula Kinan dan Siska berjongkok di balik semak-semak. Keduanya menyadari bahwa mereka tak sepenuhnya aman, tapi kehadiran tak terduga dari pihak ketiga itu memberikan tambahan bumbu-bumbu ketegangan pada petualangan telanjang mereka!

Satu jam berjalan, keringat yang berlelehan membuat tubuhnya mulai mengilat. Sesekali Kinan menyeka tetasan peluh di keningnya. Hawa sejuk pegunungan tak serta merta menghilangkan panas perjalanan. Lalu, ketika napas dalam paru-paru mereka mulai habis terpakai, keduanya terduduk di aliran air yang kini berubah menjadi sungai kecil. Berselonjor dan membiarkan air dingin menghanyutkan rasa lelah di serabut otot mereka.

Kandungan kalsium karbonat membuat permukaan air sedalam mata kaki itu berwarna jernih sempurna, Kinan bisa melihat batu-batu berkilauan di dasarnya. Di kiri kanan mereka adalah permukaan tanah yang tersaput lumut. Pakis-pakisan dan tanaman epifit tumbuh menjalar pada pokok-pokok raksasa trembesi menghiasai lapang pandang mereka dengan hijau jamrud. Sebatang kayu tumbang, melintang di atas sungai. Beberapa cendawan tumbuh di pinggirnya menguarkan aroma lapuk setiap kali kau menghirup napas.

“Beneran kaya nudis, ya,” Kinan tersenyum riang.

“Emang beda nudis dan eksibisonis apa?”

“Nudis itu orang yang menikmati ketelanjangannya, dia bugil karena emang suka bugil aja, nggak ada motif seksual. Kalau eksibisonis, dia menikmati sensasi ketika ada orang lain yang melihatnya dalam kondisi tanpa busana.”

“Hmmm.” Siska manggut-manggut. “Kalau kamu, Kinan?”

“Aku hardcore eksibisionis, dengan fetish dijadikan human pet dan sex slave.”

“Ih!”

“Ahahaha.” Kinan tergelak sambil menampar-nampar permukaan air dengan tungkai-tungkainya. “Kalau kamu, Ka?”

“Eh? Aku…?”

“Nudis? Eksibisionis?”

“Uh….”

“Sekarang lamu terangsang, nggak? Telanjang bulat, di tempat terbuka seperti ini.”

“Enggak,” jawab Siska cepat. “Aneh, ya? Aku malah ngerasa,─”

“─Natural?”

“Betul-betul-betul. Kenapa, ya? Padahal Dulu pas awal-awal naked, dengan bugil di kamar pun aku udah basah banget!” jawab anak itu polos.

“Sama…,” Kinan berkata dengan pandangan mengawang. “Waktu awal-awal jadi nudis, bahkan dengan bugil di kamarpun aku bisa basah, tapi lama-lama toh kebiasa juga, dan lama-lama aku nggak merasakan sensasi deg-degan yang aku rasakan pas pertama kali bugil….” tangannya bermaindengan permukaan air. “Terus karena ngerasa bosen, aku mulai cari-cari sensasi bugil di tempat yang nggak semestinya, di ruang tamu, di halaman rumah, di sekolah waktu hari Minggu. Makanya aku juga mulai jarang pakai baju… you know it, bugil di tempat yang nggak semestinya kaya gini nambah tantangan… kan…?”

“Terus….?” pipi Siska agak bersemu, ada kisah hidupnya yang beririsan dari cerita Kinan itu.

“Tapi ya lagi-lagi gitu, Ka. Lagi-lagi aku ngerasa bosan. Bugil aja lama-lama nggak cukup untuk bikin aku puas. Terus aku mulai colmek di tempat-tempat yang nggak umum. Aku mulai colmek di tempat yang nggak lazim, di WC sekolah, di kelas waktu hari Minggu, gesek-gesekin memek di meja guru. Kamu tahu Ka…? Aku ingin dipergoki sedang bugil dan colmek di tempat yang nggak seharusnya. Aku ingin dipermalukan. Aku ingin dilecehkan…”

Kinan terdiam, lalu melanjutkan:

“Ya, aku nggak benar-benar mengharapkan seperti itu juga juga kali…. tapi memikirkan resiko-resiko itu… dan apa yang akan terjadi kalau aku ketahuan… selalu berhasil bikin vagina aku jadi makin basah… dan orgasme aku jadi tambah nikmat…”

“Aaaaaah…. Kinan… kok ngomongin colmek, sih… gua ntar horny, nih!” rengek Siska. Kata-kata vulgar Kinan membuat kewanitaan Siska terasa meremang.

Secara naluri, tangan Siska bergerak ke selangkangannya sendiri, mencari sumber rasa gatal yang berasal dari tonjolan daging kecil di atas belahan hangat kewanitaannya

Kinan tersenyum nakal melihat Siska yang mulai membelai kelaminnya sendiri.

“Kamu beneran sange, Ka?” bisik Kinan.

“Banget,” Siska menggitit bibir.

“Mau colmek?”

Siska mengangguk dengan wajah bersemu.

“Mau dibantuin?” Kinan mengerjap lucu.

Please? Aku mau yang seperti kemarin…,” rengek Siska sange. “Aku nggak tahu, nih… kok rasanya kurang basah aja kalau aku colmek sendiri.”

Kinan menggeleng sayu, mengusap punggung tangan Siska yang tengah masturbasi. “You miss the point, Ka. Kamu perlu tantangan, yang pasti bukan di tempat sepi seperti ini.”

“Eh?”

“Ikut aku.”

Siska benar-benar terangsang. Hasrat untuk masturbasi itu membuat Siska tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Anak itu hanya menurut ketika tangannya digamit menjauhi aliran air, menuju setapak yang mereka hindari sejak tadi.

Batang-batang pohon rapat mulai terlihat jarang di sebuah lapangan terbuka yang ditumbuhi rumput. Lapisan lumut dan rumput yang tipis, menunjukkan bahwa tempat itu kerap dilalui, mungkin oleh penduduk desa yang mencari kayu bakar. Dada Siska berdesir menyadari betapa rentan dan tereksposnya ia kini: terpisah belasan kilometer dari pakaian, dan tak mengenakan sehelai benangpun, bagaimana jika ada pejalan kaki yang melintas? Pikiran-pikiran itu menyublim menjadi kehangatan yang meleleh di antara ceruk-ceruk hangatnya. Tanpa sadar, pinggul ranum Siska ikut bergerak memburu rasa sedap yang meriap di selangkangannya.

Ada sebuah batang kayu rubuh melintang, tak seberapa besar, llicin oleh hujan dan terbebas dari serat kasar kulit kayu.

“Sayang kita tidak membawa kamera,” desah Siska sambil duduk mengangkangi batang melintang itu, bertahun-tahun tergerus sungai dan hujan menghaluskan serat-serat kayu menjadi permukan pejal yang sehalus pualam. Siska merasakan permukaan halusnya menggerus di antara sepasang labianya yang menggunduk ranum.

“Gimana…. Sekarang tambah basah, nggak?”

“Banget…,” Siska mengusap vaginanya yang mulus tanpa bulu. Belahannya yang rapat telah dihiasi dengan kilapan erotis cairan pelicin.

Kinan tersenyum melihat puncak dada Siska yang berwarna merah hati itu telah mengeras, dan Siska mencubit benda menggemaskan itu, meremas gemas sepasang buah dadanya yang mungil.

Lagipula. Bukankah kenakalan-kenakalan seperti ini yang kau inginkan?

Lalu Siska mulai menunggangi batang licin itu, canggung bagai gerakan seorang perawan yang baru mengenal seks. Tangannya menopang berat tubuhnya, sementara pinggulnya bergerak maju mundur memburu setiap detil rasa sedap yang berasal dari gerusan erotis antara klitoris dan permukaan mulus batang kayu. Tempat ini nyaris sunyi, dan rasanya tak akan ada yang peduli jika Siska mengeluarkan suara erangan-erangan seksi. Matanya melirik nanar kearah Kinan yang hanya tersenyum-senyum menyaksikan adegan remaja bertubuh jenjang itu melakukan pendakian cinta seorang diri.

Tubuh Siska yang langsing membuatnya terlihat lebih muda dari usianya yang delapan belas. Kulitnya yang putih mulai dihiasi dengan buliran keringat dan rona-rona merah muda seiring dengan ombak birahi yang kian meninggi. Siska menggigil nikmat, tubuh telanjangnya menggeliat gelisah seperti memburu puncak kenikmatan

Kinan membelai punggung Siska yang berpeluh, mengecup lembut pada pundak. Remasan intim Kinan pada puah dada membuat remaja bertubuh jenjang itu mengerang nikmat. Siska berpegangan pada lengan Kinan ketika dirasanya sekujur tubuhnya tiba-tiba mengejang. “Aduh… aduh… Kinan… Kinan… gua… nyampe… aduh… aduh…” Punggung Siska melenting, dan pantatnya berkejut-kejut nikmat ketika kelaminnya menyemburkan cairan squirt yang menyemprot kencang membasahi betisnya.

Siska tersengal beberapa kali, sebelum akhirnya napasnya lepas dalam satu helaan lega. Sekujur persendiannya berasa dilolosi, sehingga ia merasa perlu berpegangan pada tubuh Kinan yang memeluknya erat.

“Gilak… enak banget…. aduh… memek gua masih gatelh…. aduh…. nnnnhhhh…..”

“Lega?”

“Adanya gua malah tambah sange… sssssh…. duuuu gua kenapa siiiih…” Siska berjongkok di tengah jalan setapak mengocok memeknya dengan jari. “Kinaaaan… gua kok malah jadi hiper giniiiiiih…..” keluh Siska.

Orgasmenya tak meredakan birahi malah terasa semakin membakar.

“Kinan…. gua mau lagi… yang… kaya kemarin….?”

“Kemarin? Ngapain…?” Kinan mengerling menggoda.

“Ituuuuh… yang kemariiiin.”

“Apa?”

“Lesbiaaaan.” Wajah Siska seketika panas seperti diterpa bara api. “Isepin memek gua, Naaaaaan. Pleaaaaase…. sssssh….” Siska berjongkok di bawah kaki Kinan, memeluk paha wanita telanjang itu sambil mengocok kelaminnya sendiri. Kata-kata lacur yang diucapkannya itu seketika membuat lendir pelicinnya semakin deras membanjir. “Aku… mau… posisi… gunting… kaya kemarin…..”

“Males ah, aku kan masih suka cowok.”

“Pleeeease…. gua bakal lakuin semua permintaan lu…..” Siska menciumi vagina Kinan bagai budak yang menghiba.

“Serius?”

Please!”

“Oke. Kalau begitu. Seharian ini kamu harus jadi budak seksku dan menuruti semua perintahku!” tegas Kinan sungguh-sungguh.

“Oooh… iyaaaah… ssssssh…. aku jadi budak sekssh….”

“Sebelum itu kamu tidak boleh orgasme, atau masturbasi diluar pengetahuanku.”

Siska membeliak tak terima. “Kok… gitu… sih…? tapi… hu-uuuuh.”

“Kenapa? kamu tinggal mengikuti semua apa yang aku perintahkan. Lalu barulah kamu boleh orgasme.” Kinan mencengkeram kasar tangan Siska. “Satu permainan terakhir, dan kita akan membuatnya jadi tak terlupakan.”

Siska tahu Kinan hanya pura-pura, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menyambut gembira permainan itu.

Siska mengangguk pasrah.

Vagina-nya semakin membasah.

To Be Continude