. Petualangan Telanjang Part 13 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 13

0
179

Petualangan Telanjang Part 13

Tabu

Kepingan-kepingan citra itu mulai mengutuh dan membentuk proyeksi dalam lorong ingatan. Umurnya 13 tahun waktu itu, dan Kinan sedang menunggu lampu hijau di sebuah perlintasan. Siang terik, dan matahari bersinar panas sekali. Berkali-kali Kinan kecil mengibas seragamnya yang basah, sambil mengutuki diri kenapa ia tidak bisa melepaskan benda terkutuk ini dari tubuhnya lalu bersepeda telanjang bulat sampai rumah.

Suara teman-temannya terdengar menyentak, dan ia jadi geli sendiri menyadari betapa aneh keinginannya itu. Kinan mengusap peluh di dahinya, berusaha mengalihkan perhatiannya pada barisan pejalan kaki di kejauhan. Anak itu sedang menghitungi jumlah buku-buku jari ketika peristiwa itu terjadi.

─sungguh. Kinan berharap ia bisa melupakan itu.

Seorang perempuan muda, barangkali seusia Kinan saat ini. Berdiri kikuk di bawah kerindangan pohon Akasia. Telanjang bulat tanpa benang sehelai pun. Kinan bisa melihat kulitnya yang sawo matang, juga sepasang buah dadanya yang menggantung ranum. Areal segitiga yg membukit di selangkangan terpampang bebas pada seluruh penghuni jalan, dan perempuan itu sepertinya tidak peduli. Apa ia tidak malu? batin Kinan kecil dengan wajah bersemu.

Orang gila, teman-temannya berkasak-kusuk. Hati-hati, nanti kamu digigit! terdengar lagi suara anak-anak itu bercekikikan.

Benarkah? Karena perempuan itu terlihat cantik, manis menurut standar Kinan. Berbeda jauh dengan imaji Orang Dengan Gangguan Jiwa yang kumal dan acak-acakan dalam bayangannya, rambut perempuan telanjang itu hitam lebat, digerai manis sepundak. Kulitnya sawo matang, agak menggelap karena terbakar matahari dan disaluti debu. Kaki-kakinya yang tak beralas terlihat kotor, tapi dibalik semua itu, Kinan bisa melihat ada sesuatu yang sensual, sesuatu yang erotis dari ketelanjangan makhluk tuhan di depannya itu.

Tiba-tiba perempuan itu menoleh sehingga tatapan mereka bertumbukan. Kinan sontak tersentak, dan wajahnya langsung terasa panas. Cepat-cepat ia menundukkan kepala, tapi terlambat, perempuan bugil itu sepertinya menyadari perhatian Kinan dan berjalan mendekat. Cukup dekat sehingga Kinan bisa melihat sepasang buah dada yang berguncang erotis tak jauh dari tempatnya menunggu.

Si bugil tersenyum polos ke arah Kinan. Bibirnya tebal ranum dan melengkung manis, seolah menikmati tatapan Kinan pada bagian-bagian intim tubuhnya.

Jantung Kinan berdetak semakin cepat, dan posisi duduknya di sadel sepeda terasa semakin tak nyaman. Perempuan bugil itu kini berjongkok di hadapannya, menatap tepat ke arah Kinan seolah berkata:

─Nikmatilah.

Tangan Kinan gemetar, dan ia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk memalingkan pandangan ketika perempuan telanjang itu membuka lebar-lebar kedua paha, tangannya menjangkau ke bawah, menguak dan memperlihatkan seisi liang merah hati yang berbentuk seperti perut kerang itu ke arahnya.

“─kyah!” Kinan memekik tertahan. Dari dalam lubang kencing itu menyembur cairan kuning jernih diringi hardikan pengguna jalan.

Tapi perempuan itu bahkan tak merasa peduli, senyum sendunya ke arah Kinan menunjukkan bahwa ia menikmati semua ini.

Dan Kinan belum selesai gemetar ketika beberapa bapak-bapak pejalan kaki menggelandang wanita malang itu ke tepian. Seorang ibu menangkupkan sehelai kain pantai di pundaknya yang telanjang namun tak terlalu digubris

Lampu hijau menyala. Kinan mengayuh sepedanya lekas-lekas. Sudut matanya melirik selintas, menangkap senyum bahagia di bibir wanita malang itu.

─bagaimana rasanya? tiba-tiba saja pertanyaan itu membersit entah dari mana.

Seberapapun ia berusaha mengusirnya, pikiran-pikiran sinting itu seolah malah bernyanyi-nyanyi riang dalam kepala Kinan. Seharian itu ia dibuat tak tenang oleh rasa mulas di bawah perutnya, sehingga tak ada satupun materi bimbelnya yang meresap betul.

Ada yang menghangat dan perlahan meleleh, dan Kinan tak ingin membahas kenapa di saat-saat ini justru bayangan dirinya sendirilah yang berkilas-kilas.

Dan yang paling mengerikan dari semua itu adalah: diam-diam ia memendam fantasi yang sama.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Lima tahun berselang, dan Kinan tidak mengerti kenapa mimpi itu tiba-tiba muncul kembali sebagai bunga tidurnya.

Lihatlah ia kini, betapa angan-angannya itu sudah jauh terwujud. Tiga hari Kinan menggelandang tanpa pakaian sehelaipun, melakukan hal-hal gila yang bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya. Tidakkah ini lucu? Semesta memperkenankan doa kosong seorang bocah dan membolehkan Kinan untuk berada dalam posisi itu.

Kabut perlahan turun menutupi pucuk-pucuk pohon pinus. Nyala lampu kota tertinggal jauh di belakang, dan jalan aspal itu mulai berkelok melewati lereng gunung Batur dari sisi lain. Rumah-rumah penduduk tampak semakin jarang dan petak-petak tegalan mulai digantikan dengan pepohonan yang semakin lebat. Harus melewati dua Kabupaten sebelum kembali ke penginapan. Jalan aspal itu beranjak menanjak dengan tebing terjal di kanan dan jurang curam di kiri. Puncak gunung yang berwarna ungu terlihat di kejauhan.

Kinan menggeliat pelan. Laju mobil yang berhenti tiba-tiba membuat kelopak matanya yang terpejam mengerejap terbuka.

Badeng agaknya menepi di sebuah jalan desa.

“Kenapa berhenti?” tanya Kinan yang belum terjaga betul.

Badeng tak menyahut, tangannya memantik starter mobil.

Terdengar suara mesin yang menyala tersendat.

“Ada apa? bensin habis?”

“Sebentar,” sahut Badeng pendek, memutar kunci kontak sekali lagi. Kali ini sambil menginjak pedal gas keras-keras.

Terdengar suara derum putus-putus diikuti bunyi mesin yang kembali padam.

Wajah Badeng berubah cemas.

“Mobilnya nggak kenapa-kenapa, kan?” Kinan menyelidik waswas.

“Sepertinya mogok.” Badeng mencoba untuk terakhir kali.

“Hah?”

“Tunggu di dalam,” perintah Badeng sebelum turun dari kendaraan.

Jalanan itu sepi, dan di dalam mobil ada dua orang remaja cantik tanpa busana. Kinan agak khawatir kalau seandainya mereka dijebak dan di balik rumpun-rumpun bambu itu sudah bersembunyi komplotan Badeng yang akan menggagahi Siska dan dirinya bergiliran.

Kinan menelan ludah, tanpa sadar tangannya menyilang di depan dada. Menatap tegang ke arah Badeng yang membuka kap depan.

─Terdengar suara berkeriut engsel yang sudah berkarat.

DEWA RATU!” Badeng menjerit panik.

_____________________________________

Dewa Ratu = kira-kira artinya sama dengan OMG!!|
_____________________________________

“Kenapa?!” Kinan ikutan panik.

“Mesinnya hilang!”

“Yang bener?”

“MESINNYA HILAAAANG!”

“HAAAAAAH!!!”

Badeng menepok jidat. “Oia, mobil VW kan mesinnya di belakang,” dan ia garuk-garuk cengengesan.

“JANGAN BERCANDA!”

“Hehe, daripada setres,” pemuda itu melengos tanpa merasa berdosa, mengambil kotak perkakas dan sentolop dari bagasi yang terletak di depan.

_________________________________

|Sentolop = senter jadul dari bahan metal, biasanya panjang |
_________________________________

Siska yang terjaga mendengar perdebatan itu menggeliat di bangku belakang. Matanya mengerejap mendapati mobil yang terhenti di tengah hutan.

“Kinan kita di mana?” tanya Siska yang masih mengumpulkan nyawa.

“Mobilnya mogok,” sahut Kinan sambil melongok-longok ke arah Badeng.

“Ha?”

“Hu-uh. Mobil kita mogok.”

“Kok bisa??? Terus gimana???”

Kinan mengangkat bahu.

Badeng muncul di sisi kiri mobil yang menghadap jalan. Tangannya belepotan debu hitam.

“Gini sudah gara-gara berbuat mesum di tempat sembarangan. Mungkin kita kena sial,” keluh pemuda itu.

“Mobilnya gimana? masih bisa jalan, kan???” Siska dan Kinan tegang bagaikan keluarga pasien yang menunggu di luar ruang operasi.

“Tali kipasnya putus.”

“Tapi bisa kamu benerin, kan?” Siska yang paling panik di antara ketiganya.

“Bisa, sih. Tapi harus cari tali kipas baru.”

“Hah!”

Karena berbeda dengan mesin mobil pada umumnya yang menggunakan air radiator, Mobil Volkswagen berpendingin udara yang diputar dengan tali kipas untuk membuang panas, jelas Badeng.

“Kalau dipaksa malah berbahaya karena bisa overheat. Ya mau tidak mau harus diderek sampai Gianyar kota,” papar Badeng enteng.

Masalahnya saat itu pertengahan tahun 90-an, telepon seluler belum jamak digunakan. Meminta pertolongan kepada Leo atau menelpon bengkel pun nyaris mustahil dilakukan. Satu-satunya jalan adalah mencegat kendaraan lewat dan menumpang hingga kota, itupun kalau kau tak ingin berjalan kaki 20 kilometer ke arah Selatan. Bangli? Gianyar? Tabanan? Kinan bahkan tak tahu lagi ia berada di Kabupaten mana.

“Aku yang bakal ke kota mencari bantuan,” tegas Badeng, sambil menyulut sebatang rokok. “Kalau tidak ada mobil lewat ya terpaksa jalan kaki.”

“Terus gimana, masa kami ditinggal di sini!” protes Siska. Matanya berkaca-kaca

“Nggak apa-apa, Ka. Kalo apes, paling mentok kita digilir sama buruh bangunan!” Kinan merecoki.

“Kinan!”

Badeng tersenyum kecil dan mengembuskan asap rokoknya. “Tenang. Aku bakal cari cara. Kita pakai GPS.”

Global Positioning System?”

“Gunakan Penduduk Setempat.”

“BADEEEEEEEEENG!!!”

= = = = = = = = = = = = = = = = =​

Desa kecil itu terletak tak jauh dari jalan raya. Terpisah sebidang tanah tegalan yang ditanami pisang batu. Kinan bisa melihat pucuk-pucuk rumbia rumah yang membentuk siluet di kejauhan. Cahaya bulan redup, dan aliran listrik yang tak menjangkau daerah periferi membuat langkah mereka hanya bersandar pada sentolop panjang di tangan Badeng.

Setapak itu kecil tapi sering dilewati orang. Ada jejak-jejak kering rumput teki akibat kerap terinjak, dan rasanya mereka tak akan mengalami kesulitan melintas di antara pokok-pokok pisang.

Kinan, Siska, dan Badeng harus berjalan agak jauh ke utara sebelum berbelok di sebuah tanah lapang kecil. Ada sebuah pohon beringin besar di sana dengan Pura desa berpagar bata merah yang sudah berlumut. Sebuah sungai kecil dan jembatan batu, dua arca Dwarapala berbentuk raksasa bertaring menjaga tapal batas desa. Kain kotak-kotak hitam putih terlihat membungkus dengan sisa-sisa sesaji di bawahnya.

________________________________

|Arca Dwarapala = Patung penjaga yang biasa ditemui di depan rumah, tempat suci, atau candi. Biasa berbentuk sangar sambil memegang senjata. |
________________________________

─Suara gonggongan anjing terdengar menyambut di kejauhan.

“Desa apa ini?” bisik Siska, sambil memegangi lengan Badeng.

“Ini adalah Desa Penari. Dewi Ular Badrawuhi bersemayam di sini,” jawab Badeng asal.

“Badeng! nggak lucu, tahu!” Kinan mencubit pinggang pemuda slengekan itu.

“Betul, dan kalian akan dijadikan tumbal dalam ritual pengorbanan manusia Pancamakara sekte Bhairava.”

“BADEEEEEENG!!!” dua orang remaja itu mencubit Badeng keras-keras.

Pemuda itu hanya meringis kecil, seolah menikmati siksaan yang diberikan sepasang remaja bertubuh molek itu.

Kinan dan Siska sudah berpakaian tentu saja. Meski Kinan sudah menoleh ke kanan kiri, sambil mengira-ngira di mana ia bisa bertelanjang tengah malam nanti.

Berbeda jauh dengan ekspektasi Kinan atas sebuah desa di pedalaman, pemukiman itu tertata dalam petak-petak rapi. Jalan Desa dari batu kali yang dikeraskan membagi rumah-rumah dalam susunan empat mata angin. Saluran air yang dialiri air jernih memanjang kanan kiri. Semak-semak Puring (Codiaeum variegatum) ditanam di depan tiap-tiap rumah yang dikurung tembok bata berlapis tanah liat. Gapura beratap rumbia (angkul-angkul) berjajar seragam dalam undak-undak tinggi. Angka tahun yang masih berada di pertengahan 90-an membuat jaringan listrik belum menyentuh seluruh negeri, Kinan bisa menangkapi cahaya-cahaya jingga lampu damar yang menyala dari tiap-tiap rumah.

Terlihat nyala senter melambai dari arah berlawanan. Badeng balas melambaikan senter di tangan. Dua orang pemuda desa yang bertugas ronda berjalan mendekat. Badeng memberi salam dalam Bahasa Bali halus. Ada keperluan apa? mereka bertanya sesopan mungkin. Dan Badeng pun menjelaskan secara runtut.

Mobil mereka mengalami kerusakan, dan dua nona ini memerlukan tempat beristirahat, setidaknya hingga Badeng mendapatkan bantuan. Maka diantarlah mereka di rumah Bendesa (Kepala Desa Adat) yang menyambut hangat.

“Aduh-aduh, kasihan benar adik-adik ini. Mari, mari… masuk dulu!” seorang pria paruh baya gemuk berdiri menyambut. “De! Ada tamu, ne! Siapkan kamar malu!” ia berkata kepada seorang bujang yang segera tergopoh-gopoh menyiapkan seprei dan bantal baru.

____________________________________

Malu = dulu |
____________________________________

Siska mengedarkan pandangan. Pekarangan rumah itu terlihat lebih luas dari rumah-rumah lain. Asri dan ditanami petak-petak bunga Soka dan melati yang dipotong rapi. Ada empat paviliun terpisah dengan serambi terbuka dan bale-bale di tengahnya bertiang kayu dengan pintu-pintu dan ambangnya yang berukir

Badeng muncul bersama dua orang pemuda desa. Seorang menuntun sebuah sepeda jengki yang dipinjamkan dengan imbalan sekotak rokok.

“Kalian aku tinggal, tidak apa-apa?”

Kinan mengangguk. “Lama?”

“Sebentar saja. Aku mengambil mobil di hotel. Paling lama satu jam lagi aku jemput kalian.”

“Kalau ketemu Leo, ajak dia sekalian!” susul Siska.

“Beres!” Badeng menoleh ke arah remaja bertubuh montok itu. “dan Kinan…”

“Uit?”

“Jangan berbuat yang aneh-aneh!”

Kinan tersenyum lucu dan melambai kepada Badeng. “Hati-hati!”

“Pasti,” Badeng mendengus pendek.

Kinan masih bisa melihat nyala lampu dinamo sepeda kumbang itu sebelum akhirnya menghilang di tapal batas.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Malam sudah larut, Kinan dan siska diantar ke sebuah bangunan yang agaknya digunakan untuk menerima tamu. Kamar berdinding bata dengan sepasang pintu kayu berukir. Lantainya dari tegel warna hitam yang mengkilap karena digosok ampas kelapa. Ada sebuah dipan berkasur kapuk dengan sprei yang sudah diganti. Sebuah lampu damar sebagai penerangan, dan tercium aroma obat nyamuk bakar yang menyala di pojokan.

“Maaf, gubuk bapak cuma begini, dik.”

Siska tersenyum sopan. “Saya yang minta maaf sudah merepotkan, pak. Lagipula mungkin kami tidak sampai bermalam.”

Ndak apa-apa. Adik istirahat saja dulu sambil bersih-bersih. Lagipula kadang-kadang memang ada turis menginap di sini. Tapi ya begitu, tempatnya alakadarnya.”

Pada meja kecil di dekat lampu damar terlipat beberapa kain jarik dan baskom berisi handuk kecil dan air hangat. Satu nampan berisi dua gelas teh hangat, piring berisi bacang, dan biskuit Kong Ghuan kaleng yang sepertinya hanya dikeluarkan apabila kedatangan tamu istimewa.

“Nah, adik beristirahat saja dulu di sini. Nanti kalau temannya sudah datang, kami beri tahu.”

Matur suksma, pak.”

Nggih, sama-sama. Ngiring….”

________________________________________

|Matur Suskma = terima kasih |
|Nggih = iya |
|Ngiring = mari |
________________________________________

Pintu ditutup, dan ruangan itu pun berubah senyap. Udara dingin lereng pegunungan segera menyergap, membungkus dua orang itu dalam kesunyian yang membekap. Derik jangkrik. Nyanyian katak kawin. Ketiadaan polusi suara membuat Kinan bisa menangkapi setiap detil frekuensi di udara.

“Sekarang gimana….?” tanya Siska khawatir.

Kinan mengangkat bahu. “Kita tunggu? palingan sebentar lagi Badeng kembali bersama Leo.”

Siska merebahkan di atas kasur kapuk, membenamkan wajahnya di dalam bantal. Entah kenapa perasaannya tidak enak.

“Sudah, tenang aja,” Kinan sibuk mencomoti panganan yang disajikan, menepak-nepak riang kaleng Kong Ghuan.

“Tapi, Kinan….”

“Astaga!”

“Kenapa?!”

“Isinya emping.”

“Kinaaaaaaan!” Siska melempar bantal ke arah Kinan dan mengumpat sepenuh hati.

“Pssst! jangan ribut! ndak enak sama yang punya rumah!”

Siska memajukan bibirnya, sebal. Ia samasekali tidak mengerti kenapa Kinan bisa dengan santai menghadapi situasi ini. Lihatlah, anak itu malah melepas semua pakaiannya, telanjang bulat dan mulai menyeka lengketan peluh dan ampas-ampas persetubuhan dengan handuk kecil hangat.

“Huaaaah! Segaaaarnyaaaa…. cobain juga deh!” Kinan menempelkan washlap hangat itu pada wajah bak tengah berada di salon kecantikan

Siska memberengut. Dress pantainya basah kuyup oleh keringat, dan kulitnya sudah lengket sekali. Berendam dalam bath tub besar berisi air hangat adalah satu-satunya yang ada di pikiran Siska saat ini, tapi…. uuuuh! Remaja ibukota itu mengutuki akomodasi yang terlalu avant garde. Di tempat ini bahkan tidak ada sikat gigi! Dengan sangat terpaksa ia membasuh tubuhnya dengan handuk kecil seperti Kinan.

Potongan jeruk nipis dan batang sereh yang direndam air panas menebarkan senyawa aromatik yang mengurai sedikit ketegangan. Siska memejam, membiarkan kehangatan itu menghanyutkan sisa-sisa asam laktat di serabut ototnya. Pikirannya mengawang melewati kilasan-kilasan petualangan telanjangnya bersama Kinan.

Satu minggu yang lalu Siska adalah seorang anak manis yang penurut dan tak pernah lupa ke Gereja. Tapi lihatlah dirinya kini. Siska yang liar, Siska yang menikmati masturbasi di tempat umum, Siska yang terlibat panasnya pergumulan threesome. Mau jadi apa kau, Siska? Sisi moral dalam batinnya terdengar sinis mengutuki. Tapi di sisi lain ada ada yang menyambut bahagia keluarnya si anak emas yang terkurung lama dalam sangkar.

Kinan dan Badeng telah membuka satu pemahaman baru bagi Siska. Satu langkah kecil bagi petualangan besar yang akan menanti di depannya. Bagai seorang protagonis dalam novel Tolkien yang keluar dari zona nyaman dan melangkah menuju ranah tak dikenal, Terra Incognita. Dan gerbang itu sudah terbuka lebar, menanti petualangan-petualangan baru, kisah-kisah baru, yang akan direkam dalam lembar-lembar hidupnya, dan Siska tak ingin menyesali.

Kinan bersandar pada dinding. Berselonjor dengan tungkai-tungkai yang diluruskan untuk melenturkan otot-ototnya yang kaku. Sementara Siska masih berdiri di ambang pintu. Sesekali melirik arloji sambil melongok ke arah gerbang.

“Badeng pasti bersama Leo,” kata Kinan menenangkan.

Remaja berparas manis itu tersenyum lucu, tangannya merentang manja, mengundang Siska bergelung dalam kehangatan tubuhnya. Ia mengendus gemas di pundak Siska, dan dengan segera ia merasakan kulit Siska yang harum lemon.

“Berangkat besok sore?”

“Hu-uh.”

“Kalau sampai di Jakarta, jangan lupa untuk berkorespondensi.”

“Tentu. Kau juga harus menyuratiku.”

Kinan menuliskan alamat dan nomor telepon pada secarik kertas. Siska melakukan hal yang sama.

“Aku pasti kangen kamu.”

“Pasti.”

Ciuman itu mendarat di bibir. Sebentar saja, sebelum sepasang gadis remaja itu terkikik-kikik jenaka menyadari betapa lucunya hubungan di antara keduanya.

“Kamu nggak nyesel, kan bertualang sama aku.”

Siska terkekeh. “Tapi capek.”

“Kecapean gara-gara dioral Badeng?”

“Ih!” Siska mencubit Kinan dengan wajah tersipu. “E tapi beneran, enak banget jilatannya, hehehe…”

“Banget. Apalagi tititnya, hehehe…”

Kedua remaja itu terkikik-kikik.

“Kaya gimana emang…” Siska menggigit bibir bawahnya. “…rasanya?”

“Gimana, ya….” mata Kinan membola lucu. ”

Wajah Siska agak merona. Tangannya bergerak memainkan ujung selimut.

“Kenapa?”

“Aku….”

“Ya udah, kalau ragu nggak usah dipaksa.”

Siska menunduk dengan wajah bersemu.

“Setidaknya kamu harus melakukannya dengan orang yang istimewa.”

“Istimewa?”

“Kamu memangnya ndak punya pacar, apa?”

Siska menggeleng polos.

“Orang yang disayang?”

Siska hanya terdiam.

“Tapi semua terserah kamu, sih. Lagipula kan kamu yang menjalani. Asalkan kamu jangan seperti saya.”

“Kenapa?”

“Menyesal.”

Siska bisa melihatnya di dalam mata Kinan. Mata seseorang yang terluka.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Angin gunung yang berhembus dari lereng Batur membawa hawa dingin dan kabut. Memaksa sepasang gadis itu bergelung dan saling membagi panas tubuh. Derik jangkrik. Pelita damar hadir sebagai cahaya jingga yang jatuh di atas kulit mereka yang tak berpenghalang. Entah berapa lama sudah dua orang ini saling kecup. Satu jam? Dua jam? Siska kehilangan momen ini sedetikpun. Malah berharap agar Badeng dan Leo tak buru-buru datang. Ia tak butuh interupsi. Yang ia inginkan sekarang adalah belaian-belaian sayang dan kecupan lembut di kening dan pipinya.

Pelita damar itu mengendapkan jelaga, ujung sumbunya membara bersama malam yang menua, dan kecupan sayang itu berubah bergairah. Entah siapa yang memulai pertama, tapi lidah Kinan lah yang pertama memasuki rongga mulut Siska. Remaja berambut pendek itu merespon dengan lengguhan, menjulurkan ujung lidahnya untuk menyapa ujung lidah Kinan yang menggeliat sensual dalam mulutnya.

Tak pernah juga ia membayangkan melakukan ini dengan sesama wanita, tapi sepasang bibir yang melumat habis bibirnya itu, lidah Kinan yang menari-nari rongga mulutnya itu. dengusan napas bersama remasan-remasan gemas yang mendarat di bagian-bagian intimnya membuat birahi gadis 18 tahun itu semakin menggila.

Tubuh keduanya telah basah oleh keringat, dan dua pasang payudara remaja itu saling melekat seolah tak rela jika percumbuan itu terpisah.

Dan Siska tak ingin berlekas-lekas. Berusaha memelihara bara asmara itu selama mungkin. Kedua buah dada dan kulit telanjang keduanya bertemu dan puting mereka saling bergesekan, menimbulkan desiran-desiran erotis yang membuat pinggul keduanya bergerak memburu rasa nikmat yang bermuara dari pangkal-pangkalnya. Birahi pun tanak dalam lumatan, sepasang paha Kinan menjepit paha Siska menggesek-gesekkan selangkanannya di atas kulit mulus pasangannya, meninggalkan jejak-jejak basah di atas kulit paha Siska yang mulus.

“Mau, ya…,” desah Kinan manja. Perlahan dan penuh perasaan, Kinan mengarahkan tangan Siska kedalam kewanitaannya yang panas dan mendamba. Anak itu sudah benar-benar basah. “Please…?” pinta Kinan dengan wajah mengiba sambil sebelah tangannya menuntun pergelangan Siska pada payudaranya.

Pikirannya kosong. Siska bahkan tak lagi memikirkan bahwa ia melakukannya dengan sesama wanita. Klitorisnya yang berkedut-kedut membuat pikiran Siska semakin mengabut. Anak itu hanya bisa menurut ketika pinggangnya kembali direngkuh dan bibirnya dipagut. Lembut. Dan intuisi menggerakkan tangan Siska dengan sendirinya membelai belahan Kinan yang sudah sangat basah. Remaja itu benar-benar terangsang, dan tak sampai semenit, klimaksnya tiba.

Tubuh montoknya mengejang kaku. Orgasme itu meledak nyaris tanpa suara. Hanya enggahan putus-putus sebelum lepas menjadi satu helaan lega.

“Kamu nyampe, ya?” bisik Siska, napasnya terengah. “Cepet banget.”

Tatapannya nanar, tak bisa lepas dari sepasang buah dada Kinan yang besar dan kenyal. Dinding-dinding liang kawinnya berdenyut menuntut kenikmatan yang mutual.

Kinan mengangguk, menciumi pundak Siska yang mulai berpeluh. “Sekarang giliran kamu, ya…” Tangannya bergerak ke bagian lembab tubuh Siska. Menguak sepasang bibir yang membasah hingga sebuah tonjolan kecil terungkap dari balik selaput kulit dan dibelainya dengan lembut dan penuh perasaan.

Siska membeliak nanar, segera menutupi bibirnya dengan punggung tangan. Desahan-desahan dan erangan-erangan terlalu erotis untuk disuarakan. Jemari-jemari lembut Kinan bermain pada bibir-bibir di bawah sana, dan dadanya yang mungil lumat dalam mulut Kinan. Meremasi rambut Kinan yang perlahan bergerak turun.

Sepasang paha Siska pasrah dan membuka. Dibiarkannya Kinan merangkak dan menciumi bagian terahasianya sepuas hati di bawah sana. Rasa geli itu, serangan rasa nikmat itu… “oh…” Siska mendesah, meremas lembut kepala Kinan yang semakin dalam terbenam dalam keranumannya yang membasah. Jilatan Kinan pada bibir-bibirnya yang merekah, juga usapan erotis ujung jari Kinan pada kelembutan klitorisnya, semua siksaan birahi itu membuat kerongkongan Siska hanya mampu mengeluarkan desahan sensual semata.

Otot-otot perut Siska gemetar ketika ujung lidah Kinan mencucup pada lubang mungil berbentuk bintang kecil di bawah sana, menghantarkan impuls listrik yang seketika membuat punggungnya melengkung nikmat.

Dada Siska membusung, menampakkan sepasang puting ranum berwarna merah hati yang mengeras sempurna. “Kinaaaan… Kinaaaan… Kinan… k-kamu mau a-apa? j-jangaaaaan… j-jangan disana! jijik… jijik…. aaaaaah!!!”. Remaja berambut pendek itu menggeleng tak keruan, bibirnya yang termegap menggenggah dan mendesah, memperdengarkan suara pendakian birahi yang bergerak mendekat menuju ambang. “Kinaaaan…. Kinan…. Kinan…. aduh… aduuuh… aku… akuuuh,” Siska meremas lembaran seprei, tubuhnya yang mengejang kaku, tak menyisakan apapun. Menghanguskan Siska dalam orgasme yang membakar. Siska mendesah panjang, tubuhnya mengejang berkali-kali diikuti semburan segar cairan cinta.

Kepalannya terasa ringan, dan paru-paru Siska masih memburu udara sekitar ketika Kinan membimbingnya dalam posisi menyamping. Kenikmatan post-orgasmic membuat Siska tak bisa berpikir apa-apa lagi kenapa Kinan menyelipkan sebelah kaki di antara tungkai-tungkainya yang terbuka. “Kinan… kamu mau apa?” desah Siska terbata. Selangkangan mereka kini saling bertemu dan kelamin mereka menempel. Keduanya berbaring saling menyamping bagai sepasang gunting yang beradu.

Kinan memeluk paha Siska dan mulai menggerakkan pinggul sehingga klitoris mereka saling gesek berbagi cairan cinta yang semakin membecek. Erangan tertahan. Desahan yang tak bisa disuarakan. Cahaya pelita jatuh di atas tubuh telanjang sepasang wanita itu, memberikan detil-detil erotis di atas buliran-buliran keringat yang mengilat. Dan malam masih bersisa terlalu panjang. Kinan dan Siska saling gesek, saling menggoyang, memburu sebuah puncak yang tabu.

To Be Continude