. Petualangan Telanjang Part 12 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 12

0
164

Petualangan Telanjang Part 12

Episode Terlarang

Kau selalu memulainya dengan satu langkah kecil. Kaki Siska masih terasa bergetar ketika ia melepaskan penutup terakhir tubuhnya, tapi setelah 10 langkah, degupan kencang di jantungnya perlahan berganti dengan sesuatu yang lebih menyenangkan.

Sesuai kesepakatan, seluruh pakaiannya disimpan oleh Kinan dan Badeng, ─tentu saja, yang menunggu di ujung satunya. Belajar dari pengalaman masa lalu, pilihan itu terdengar lebih bijaksana ketimbang mengalami nasib yang sama seperti Kinan tempo hari.

Dalam permainan ini, Siska tidak diperbolehkan mengenakan alas kaki. Kinan mengharuskan Siska menjalani permainan ini hanya dengan mengenakan pakaian kelahiran.

Air sungai sebatas mata kaki mengalir indah di ujung-ujung jarinya yang berjingkat riang. Aliran jernih yang berasal dari mata air di puncak gunung itu bahkan menampakkan bebatuan vulkanis yang berkilau di bawahnya. Rasanya seperti berjalan di atas lapisan kristal, Siska menakjubi pemandangan indah di sekelilingnya. Tebing-tebing batu yang mengurung sungai kecil ini memberikan perlindungan sekaligus rasa aman. Setidaknya hingga beberapa ratus meter ke depan, tapi tetap saja berjalan dalam keadaan telanjang bulat di tempat seterbuka ini menimbulkan desiran-desiran indah yang membuat sudut bibir Siska tak henti melengkung ke atas.

Senjakala menyisakan cahaya jingga yang menyusup dari celah-celah daun di atas kepala. Sementara di depannya membentang tumbuhan perdu yang ditumbuhi epifit dan semak-semak paku yang menggeseki kulitnya yang telanjang. Siska tidak bisa menahan senyum yang menggantung ketika pantat dan pangkal pahanya bersentuhan dengan tajuk-tajuk daun yang diliputi embun.

Rasakanlah partikel-partikel udara dingin yang membelai kulit telanjangmu. Aroma tanah yang tercium jelas setiap kali engkau menarik napas. Juga bentangan warna hijau jamrud dari lumut yang memenuhi dinding-dinding terjal di kiri kanannya. Mata Siska memejam menikmati kebebasan yang melekat dalam setiap keindahannya. Sepasang kakinya yang telanjang bergerak melangkah di atas batu licin atau serpihan kayu mati. Rasanya ia seperti Alice yang mengikuti kelinci putih memasuki terowongan yang mengarah menuju negeri fantasi. Hingga tak terasa semakin jauh pula Siska dari titik awal petualanganya.

Lalu Siska menoleh ke belakang. Ujung lorong itu terlihat semakin jauh. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat menyadari betapa rawan dan tereksposnya dirinya kini. Syaraf-syarafnya tegang mengantisipasi kemungkinan bahwa ia berpapasan dengan orang lain di tempat terpencil ini, bagaimana cara menjelaskan ketelanjangannya? Langkah Siska terlihat semakin meragu, tapi kembali pun terdengar muskil karena tak ada siapapun yang menunggunya di sana.

Semakin ia berjalan, tebing-tebing di kiri-kanannya semakin melebar dan melebar, hingga berujung pada sebuah tempat terbuka persawahan terbuka. Siska bisa melihat pematang-pematang bertingkat yang mengelilingi. Beberapa petani terlihat berjalan di antara rumpun padi yang menguning. Sementara ibu-ibu berkemben terlihat mencuci tak jauh dari tempatnya berdiri.

Menyadari kehadiran Siska, seorang menolehkan kepala. Refleks Siska menyilangkan tangan di depan dada dan tersenyum canggung. Mencari alibi, Siska membenamkan diri dalam aliran air, berjongkok dan pura-pura buang air kecil. Berharap kehadirannya tidak mengundang kecurigaan. Siska akan mati kutu jika ditanya kenapa berjalan-jalan tanpa mengenakan pakaian sehelaipun.

Jantung Siska berdebar sedikit lebih kencang menanti reaksi berikutnya. Untungnya si ibu itu hanya melengos dan melanjutkan gosip sore dengan teman-temannya. Siska tersenyum dalam hati, meraupkan air pada kulitnya yang sudah lengket oleh keringat dan membaur dengan penduduk yang memenuhi lembah sungai itu.

Kenyataannya nyaris tak ada yang mempedulikan Siska yang berada dalam keadaan tanpa busana. Lihatlah sekumpulan ibu-ibu telanjang dada yang sibuk dengan cuciannya, atau anak-anak yang bermain air tak jauh dari tempatnya merendam diri.

Tempat itu semacam bendungan kecil. Air tawar mengalir dari dam beton setinggi lima meter. Sementara di atasnya adalah jalan raya besar yang berbatasan dengan saluran irigasi. Siska bisa melihat mobil yang melintas kencang di atasnya. Tubuh telanjangnya terpapar pandangan mata orang-orang yang lalu lalang. Dan Siska tidak habis pikir, bagaimana dirinya bisa mengacuhkan pandangan orang-orang yang lalu lalang di jalan raya di tempatnya berendam. Kinan benar, di tempat itu tidak dibutuhkan rasa malu, dan saat ini yang tampak di mata Siska keindahan, dan hanya keindahan.

Angin muson bertiup dari timur laut membawa kawanan awan yang tampak bagai gerumbulan wol di kolong langit. Matahari yang merendah mendekati cakrawala membiaskan spektrum warna jingga, berkilau, menimbulkan manik berkilauan dari bulir-bulir air yang menghiasi kulitnya.

Natural, tak ada gratifikasi seksual seperti yang ada di dalam benak Siska sebagaimana yang dibayangkan selama ini. Kelopak matanya mengatup. Menghayati desir angin yang membelai rambut-rambut halus di tengkuknya. Hangat matahari menyapa. Pakaiannya entah ada di mana. Dan kali ini yang ada hanyalah Siska dan alam semesta. Lebur.

Semuanya terasa seperti bunga tidur yang mengutuh. Siska tersenyum kecil dan mendapati dirinya berada di tengah segala kesementaraan itu. Langit senja yang membayang di hadapannya, bentangan sawah bertingkat yang bernaung dalam lembayung jingga. Rasanya ia sedang bermimpi, dan bisa terjaga sewaktu-waktu jika membuka mata.

Serombongan turis mancanegara melintas menggunakan sepeda gunung di jalan tanah di atasnya, disusul sebuah VW Safari yang berhenti diiringi suara mesinnya yang menderu.

“Siska!” terdengar suara yang amat dikenalinya.

Kinan keluar dari dalam mobil sambil berkacak pinggang. Wajahnya tersenyum lucu mendapati Siska yang bersimpuh telanjang di saluran irigasi layaknya seorang pribumi.

“Kinan!” pekik Siska lega.

“Hehehe, hebat juga kamu bisa jalan sampai sini.”

Siska tersipu-sipu. “Deg-degan habis, tahu!”

“Tapi kamu senang, kan?”

“Ehehehe…. Senang, dong,” Siska menyahut riang.

“Puas?”

“Puas banget, hehehe, makasih….”

Kinan duduk di sebelah gadis telanjang itu. Memperbaiki letak topi panama dan kacamata hitamnya. Siska jadi geli sendiri, karena bagai bertukar peran, kini Kinan yang berpakaian lengkap sementara dirinya yang telanjang bulat.

“Baju aku mana, Nan?”

“Disimpan sama Bli Badeng.”

“Idih. Masa aku disuruh telanjang bulat terus-terusan?”

“Tapi kamu juga suka, kan…”

Badeng menyusul turun dan mengulurkan sebotol besar minuman. Wajah Siska agak bersemu menyadari tatapan berandal laki-laki itu pada tubuhnya. Karena berbeda dengan para penduduk yang polos, Siska merasakan pancaran birahi dari pandangan Badeng yang seperti ingin melahap setiap inci tubuhnya. Risih pada awalnya, meski diam-diam Siska juga merasakan bangga karena keindahan tubuhnya dikagumi seperti itu.

“Minum dulu, Mbak,” kata pria berperawakan tegap itu.

“Makasih,” Siska tersenyum manis, menyambut dengan uluran tangan, seperti sengaja membiarkan buah dadanya yang mungil menantang pandangan Badeng.

Siska memiliki tubuh tinggi jenjang, kontras dengan tubuh montok Kinan. Meski buah dadanya tergolong mungil, badannya langsing-atletis karena rajin berenang, perut rata, dengan pinggul padat dan mengkal. Rambutnya dipotong pendek sedagu, hitam, dan membingkai wajah tirus blasteran dengan hidung bangir. Selain ibu dan teman dekatnya, nyaris, tak sedikitpun ia pernah merasakan puji-pujian. Siska bersekolah di sekolah swasta Katolik yang kesemua muridnya adalah perempuan, dan nyaris tak memiliki teman pria sama sekali. Leo dan teman-temannya adalah satu-satunya jendela bagi Siska untuk mengenal sesuatu yang disebut ‘lawan’ jenis. Dan kali ini, di tempat yang terasing ini, ia memiliki kesempatan, satu kesempatan terakhir untuk melakukan penjelajahan sensual.
Siska tak mengerti kenapa ia justru berlama-lama mengeringkan rambut dan tubuhnya. Membiarkan sepasang buah dadanya yang mungil dan daerah kewanitaannya yang tak berbulu menjadi santapan mata Badeng yang seolah ingin berlama-lama mengajaknya berbincang-bincang.

Ada dorongan dalam bawah sadar Siska yang menggerakkan pahanya untuk sedikit membuka, sehingga lepitan indah merah muda yang tersembunyi pada pangkalnya sedikit terpampang. Nikmatilah tubuhku selagi bisa, tawa Siska dalam hati.

Badeng tersenyum kecil. Menyulut rokok dalam ekspresi acuh tak acuh.
Anehnya, Siska membalas senyuman itu seolah bersengaja membiarkan Badeng menikmati tubuhnya berlama-lama. Cukup lama sebelum akhirnya ia menyilangkan kedua paha dan melipat lengan di depan dada.

“Saya sudah sering mengantar tamu nudis, mbak. Dari Jerman paling rame. Biasanya mintak diantar ke pantai di Pecatu sana. Kalau yang lokal cuma satu dua. Mbak ini yang ketiga,” Badeng seolah memberikan permakluman. “Sebenarnya saya mau antar mbaknya ke sana. Tapi sepertinya ndak cukup. Jam 9 malam, mbak-nya harus sudah sampai hotel. Makanya….”

“Yah… sayang banget ya…,” desah Siska kecewa.

“Ya mau gimana lagi,” suara Kinan terdengar dalam nada yang sama.

Diam. Keduanya menghayati keheningan yang tiba-tiba datang menyelimuti. Rasanya terlalu cepat.

“Makanya, sebelum kamu balik ke Jakarta, kita mengadakan satu permainan terakhir,” Kinan mendadak berubah riang.

“Eh, kamu serius tentang yang tadi?

“Yep. Seperti perjanjian kita, seharian ini kamu nggak boleh pakai baju sehelaipun. Telanjang bulat. Bugil. Kaya aku kemarin.”

“Telanjang bulat?”

“Yep. Tanpa sehelai benang. Bahkan sandal atau anting sekalipun.”

Siska menelan ludah. Wajahnya mendadak terasa panas.

“Tenang aja, Ka. Ada bli Badeng yang jagain.”

“Iya, Mbak. Tenang aja kalau sama saya. Saya bisa menjaga rahasia tamu-tamu.”

Anggukan pelan terlihat dari dagu Siska. Terlihat ragu meski bagian lain di tubuhnya kini justru bersorak tak sabar. Tonjolan daging di antara lepitan rahasianya menegang nikmat membayangkan permainan berbahaya yang akan dijalaninya sesaat lagi.

Siska sudah mahfum betul. Berada dalam situasi terancam membuat tubuh aecara otomatis mensekresikan hormon Adrenalin sebagai reaksi fisiologis. Akibatnya detak jantungmu seketika bertambah cepat, dan frekuensi pernapasanmu meningkat dua kali. Otot-otot tubuhmu menegang, bersiap atas segala kemungkinan skenario untuk menyelamatkan dri, dan ketika berhasil melepaskan dari marabahaya, otot melepaskan Dopamin yang berfungsi antagonis untuk memberikan rasa lega dan bahagia.

Sayangnya pada beberapa orang, hal ini berlaku patologis.

Sama seperti proses di mana engkau kecanduan Kafein atau Nikotin, kerusakan pada reseptor Dopamin yang terletak pada otak depan-mu akan membuat konsentrasi dopamin yang diperlukan untuk mendapatkan ‘rasa bahagia’ itu akan semakin besar dari hari ke hari. Lama-lama kalian tidak akan cukup dengan telanjang sendiri, Siska butuh ketegangan sebagai katalis agar otaknya memproduksi lebih banyak dan lebih banyak lagi Dopamin semata-mata untuk mendapatkan rasa senang yang hadir setelah meniti bahaya dalam petualangan yang penuh resiko.

Jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat, dan kelamin Siska mulai merespon dengan aliran hangat yang makin lama terasa semakin jelas pada pangkal pahanya ketika medengarkan instruksi dari Sang Mentor.

“Tantangan pertama, kamu harus jalan tanpa memakai apa-apa lagi sampai ke mobil.”
Siska menelan ludah. Saluran irigasi antara tempatnya berdiri dan mobil diparkir terpaut jarak sekitar 50 meter. Tak seberapa jauh, tapi letaknya yang terbuka sudah pasti membuat tubuh telanjang Siska terekspos pada para pengguna jalan.

Sebuah mobil Colt bak terbuka yang mengangkut buah-buahan melintas. Mendadak Siska merasa ragu.

Badeng tersenyum geli melihat Siska yang berdiri rikuh dengan tangan yang tersilang berusaha menutupi puting dan kemaluannya (yang sebenarnya sia-sia belaka).

“Rileks. Kalau kamu tegang. Justru kamu bakal dicurigai,” Badeng tersenyum, sekaligus tegas di saat yang sama.

Entah kenapa, ada nada otoritatif dari cara Badeng berbicara yang membuat remaja berambut pendek itu dengan sukarela menurunkan kedua tangan ke sisi tubuhnya. Wajah Siska agak bersemu. Malu tapi ada debar-debar aneh mendapati tatapan pemuda kasar yang penuh birahi itu pada tubuhnya.

“Aku tunggu di mobil. Oke?” Badeng memberikan dukungan untuk terakhir kali.

Siska menggigit bibir. Jalanan di atasnya terlihat sepi, dan rasanya tak akan ada yang peduli jika ia sekarang berjalan ke arah Kinan yang sudah melambai-melambai jahil dari kejauhan. Remaja berambut pendek itu memenuhi paru-parunya dengan tarikan napas dalam. Sedapatnya tidak menarik perhatian, ketika melangkah keluar dari dalam saluran irigasi dalam keadaan telanjang bulat.

Awalnya tak ada seorang yang menyadari. Sebelum akhirnya seorang menoleh ke arah Siska. Pekikan kaget ibu-ibu yang sedang mencuci terdengar menghardik ketika melihat Siska berjalan menuju jalan raya tanpa busana apapun di tubuhnya.

Gek? Hei, mau kemana? Gek? Hei! Bajunya dipakai dulu!!”

Kinan dan Badeng yang mengamati dari kejauhan hanya bisa terkikik geli melihat Siska yang mempercepat langkahnya dengan wajah merah padam. Sementara para warga hanya bisa terlongo-longo melihat seorang remaja kota yang melenggang telanjang menuju jalan raya seperti orang gila.

Siska masih mencoba bersikap sewajar-wajarnya, tapi ketika berpapasan dengan sekelompok bapak-bapak di jalan setapak. Barulah ia berlari terbirit-birit.

“Kyaaaaaaaah!!!!” Siska menghambur masuk ke dalam mobil yang segera disambut gelak tawa duo lendir di dalamnya.

Mesin mobil terdengar menderu. Disusul bunyi decit ban ketika mobil tua itu melesat sejauh-jauhnya. Rasa jengah akibat orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh membuatnya ingin buru-buru melarikan diri dari tempat ini!

Siska meringkuk dan memeluk erat-erat lututnya menahan malu. Tawa Kinan yang masih terdengar berderai terasa sama mengganggunya dengan aliran deras dari kewanitaannya sendiri…..

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Mobil itu melaju di jalan-jalan desa yang sepi. Kencang dan seolah tidak peduli. Siska tidak habis pikir bagaimana ia bisa meladeni tantangan Kinan yang kini malah terkikik-kikik melihat Siska yang meringkuk ciut di bangku belakang. Gadis jenjang itu hanya bisa menutupi tubuhnya yang telanjang. Berlindung dari pandangan pengendara yang melaju dari arah berlawanan.

Garis-garis cahaya dan menimbulkan efek flare pada kaca tebal mobil peninggalan perang dunia itu. Siska tak yakin dirinya tak benar-benar terlihat dari luar. Mobil itu tak dipasangi kaca film, dan tinggi sasisnya yang tak sampai 30 cm dari permukaan jalan seharusnya membuat seluruh penumpangnya tampak dari luar. Untungnya Badeng tak berniat memperlambat laju kendaraan, dan truk-truk berisi pasir galian C yang melaju turun dan berlawanan pun melalu dengan kecepatan yang tak bisa dibilang lambat. Rasanya, tak akan ada yang ambil peduli dengan keberadaan seorang remaja telanjang di bangku belakang

“Kinan… Bli… udah yuk… balik,” Siska merengek sambil menggoyang-goyang bahu Kinan

“Tenang… belum apa-apa ini, ehehehe….,” sahut Kinan jenaka.

“Kalau diberhentiin polisi gimana!” tanya Siska khawatir, meski diam-diam penasaran juga bagaimana rasanya naik mobil sambil bugil!

“Tenang, mbak. Di sini tempatnya sepi. Paling buruh-buruh galian C saja yang turun dari gunung sana.”

Siska kembali meringkuk dan memeluk pahanya rapat-rapat. Rona merah muda yang menghiasi wajah tidak bisa menyembunyikan hebatnya rasa malu yang berkecamuk dalam dada Siska.

Seorang pemuda desa menyalip mobil Volkswagen Safari itu dari arah kiri. Pengendaranya melirik sekilas. Siska menahan napas, sekuat tenaga menekan jantungnya yang mau copot. Untungnya hanya terdengar bunyi klakson sebagai respon.

Melewati pertigaan di ujung jalan, Badeng terpaksa melambat. Seorang ibu-ibu terlihat mengusung seikat daun kelapa di pinggir jalan membuat Badeng menginjak pedal rem, memberikan jalan kepada wanita paruh baya itu untuk menyeberang. Klakson pendek yang ditekan pemuda itu membuat ujung mata si ibu terpaksa menoleh ke arahnya. Kali ini cukup jelas sehingga ia bisa melihat ekspresi kikuk pada wajah ibu-ibu itu.

Mungkin ada sekitar setengah jam Siska diajak berputar-putar telanjang bulat di dalam mobil. Walau terkesan malu-malu, kenyataannya berada dalam kondisi tanpa busana di antara orang-orang yang berpakaian membuat Siska terangsang. Meski mati-matian menyangkalnya, remaja berambut pendek itu tidak bisa membohongi reaksi fisiologis tubuhnya sendiri. Desiran nikmat ketika tubuh telanjangnya dipandangi membuat Siska dilanda kegalauan yang luar biasa. Malu, tapi juga bangga dan horny di saat yang sama. Apalagi Badeng, pemuda tengik berotak itil yang tidak henti memuji kemolekan tubuhnya.

Siska tersenyum kecil. Ada rasa bangga yang terbit dalam hati mendengar gombalan Badeng. Tatapan Badeng pada tubuhnya yang tak ditutup sehelai benangpun menimbulkan desir-desir nikmat yang sangat disukainya. Nyala birahi di mata Badeng terlampau jelas untuk bisa disembunyikan, membuat Siska ingin menunjukkan lebih banyak lagi tubuhnya pada pemuda itu.

“Coba deh nggak usah ditutupin. Biar greget,” celetuk Kinan

Kali ini kedua tangan Siska bergerak turun dengan penuh kerelaan hati, tak lagi melindungi bagian-bagian intim yang sedari tadi bersembunyi dari tatapan.

Kinan tersenyum kecil melihat sepasang puting itu yang ternyata sudah mencuat erotis di puncak dadanya yang mungil.

“Badan kamu bagus tahu, Ka…” puji Kinan sungguh-sungguh. Matanya melirik pada tubuh jenjang bak perenang dengan perut rata yang tanpa lemak.

“Makasih, hehe…..” Siska tersenyum, benar-benar menyukai cara Kinan dan Badeng menatap area tak berbulu dipangkal pahanya.

“Ngangkang dong, Ka… please?”

“Ih, dasar! Maunya…” protes Siska bersungut.

“Kalo nggak ngangkang, bajunya nggak dibalikin, loh!”

“Kinan!”

Please?” Kinan mengerjap lucu.

Siska menggigit bibir. Menimbang-nimbang sesaat.

“Jangan bilang-bilang Leo, tapi!”

“Iyaaaa!!”

Dengan wajah bersemu, Siska menaikkan kedua kaki di atas jok. Sepasang pahanya dengan patuh membuka…

Pesona tubuh remaja yang jenjang-indah itu kini terpampang utuh. Pasrah dan menantang. Siska bahkan tak berani melihat ke arah Badeng yang kini bebas menjarah setiap jengkal bagian tubuhnya yang paling pribadi dengan pandangan mesumnya. Raut kagum di wajah pemuda itu sudah cukup memberikan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Siska, menimbulkan debar-debar nikmat yang membuat seluruh bulu kuduknya meremang berdiri.

Siska menaikkan kakinya di atas jok memamerkan sebentuk lepitan daging berwarna merah yang tampak licin-basah. Akal sehatnya yang kini sudah dipertuan birahi membuat Siska tak peduli lagi pada rasa malu. Degupan jantungnya bahkan kini terlampau jelas terdengar. Buah dadanya yang mungil terlihat turun naik seiring napasnya yang susul menyusul. Wajah Siska yang tirus bersemu indah, mendesah lirih setiap kali mereka berpapasan dengan pengguna jalan lain. Tatapan kaget orang-orang itu membuat Siska ingin sekali menyentuh dirinya sendiri.

Serombongan klub motor besar melaju dari arah berlawanan. Sepasang matanya yang dikatupkan erat-erat membuat Siska hanya bisa mendengar derum suara knalpon yang bersaing dengan dentum jantungnya sendiri. Bayangan tubuh telanjangnya sedang dinikmati oleh puluhan pasang mata membuat desiran nikmat pada kelamin Siska terasa semakin deras memburu.

“Siska… kamu tadi dilihatin tahu,” bisik Kinan, pelan.

“Iya…,” sahut Siska pelan.

Duduknya mulai tak tenang, entah oleh rasa gatal pada klitoris ataukah desakan kandung kemih yang menuntut untuk dikosongkan.

“Kenapa, Ka?”

“Kayanya aku mau pipis, deh…”

“Pipis apa ‘pipis‘…?” goda Kinan.

“Pipis beneran, nih…,” runtuk Siska, karena sepertinya memang siska benar-benar ingin buang air kecil! Sebotol besar air mineral yang ditenggaknya tadi sepertinya mulai memberikan reaksi.

Badeng cukup berbaik hati, ia menepikan mobilnya di sebuah tegalan yang ditumbuhi pohon pisang. Rumput dan rumpun-rumpun keladi tumbuh subur di parit kering yang memisahkannya dari jalan besar.

“Pipis di sini?” tanya Siska ragu, karena tempat itu adalah jalan protokol besar yang dilalui banyak kendaraan.

“Yoi. Ntar mbaknya pipis di sebelah kiri, ditutupi mobil, saya jamin ndak bakal kelihatan dari jalan raya,” kata Badeng menenangkan.

Siska mengedarkan pandangannya tak yakin. Berjingkat cepat, Siska menuruni mobil dan berjongkok di antara rimbunan keladi. Sebuah truk pengangkut pasir melintas sambil membunyikan klakson panjang. Tubuh telanjang Siska segera disambut oleh perasaan tegang-takut ketahuan yang justru membuatnya semakin terangsang.

Siska mengejankan otot-otot kegelnya kuat-kuat, bersiap mengosongkan kandung kemihnya, namun tepat ketika urin segar memancar dari uretra, Badeng memajukan mobilnya, membuat Siska yang sedang mempermalukan dirinya itu menjadi tontonan bagi seluruh pengguna jalan.

“Kinan! Kamu mau apa?!!!!.. uunnnh….. nnggghh…..eeeeee…” bibir Siska mengeluarkan suara yang sudah tidak jelas lagi, apakah tangisan atau rintihan waktu pahanya mulai dilelehi urin yang mulai merembes dari belahan pantatnya.

Wajah Siska merah padam akibat persenyawaan mematikan antara antara rasa malu dan terangsang yang demikian hebatnya, sekujur tubuhnya serasa kaku dan tungkai-tungkainya kehilangan kemampuan untuk menumpu, sehingga akhirnya remaja perawan itu terjatuh dalam posisi merangkak di pinggir jalan diiringi semburan deras cairan kencing dari belahan intimnya.

Semburan indah cairan urin mengalir melelehi paha dan betisnya. Tubuh Siska gemetar hebat. Tungkai-tungkai terasa limbung akibat sengatan nikmat yang melanda sehingga terpaksa ambruk di atas kedua lututnya. Siska bisa mendengar suara klakson dan suit-suit genit dari mobil yang lewat di sampingnya… juga rintihan lirih dari bibirnya yang setengah terbuka… pinggulnya yang tidak berhenti menggejang… dan dan aliran deras yang belum mau berhenti mengalir dari dalam rahimnya membuat Siska menyadari bahwa yang berejakulasi bukan sekedar cair kencing semata…..

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

“Ka, kamu tadi keluar…?” tanya Kinan ketika membantu menyeka lelehan urin di tubuh Siska dengan tissue basah.

“Hu-uh. Banyak banget.” Siska yang kini duduk di samping Kinan mengangguk malu-malu.

“Kalau mau colmek. Colmek aja, Ka…. aku ngerti kok gimana rasanya.”

Dada Siska terasa berdesir mendengar kata-kata Kinan itu…

“Kinan… jangan ngomporin ah.. tar kalau aku colmek beneran gimana…,” rengek Siska yang sudah horny berat.

“Tenang saja mbak, anggap saja saya patung KFC,” sahut Badeng (sok) acuh tak acuh, meski tititnya sudah ketar-ketir menuntut jatah ngewe.

“Atau… mau aku bantuin,” Kinan berbisik di telinga Siska. Cukup dekat sehingga Siska bisa membaui napas Kinan yang harum.

“Kinan… nakalh…. aaaaah…,” Siska hanya merespon dengan rengekan tak rela ketika sebelah tangan Kinan membelai pundaknya yang telanjang. Embusan napas Kinan yang menari lembut pada tengkuknya, membuat Siska tak memiliki pilihan lain selain membiarkan remaja hiperseks itu bermain-main dengan kekenyalan bukit-bukit indahnya.

Siska menahan napas, tak pernah menyangka juga kalau ia bakal terangsang digerayangi oleh sesama jenis. Remasan gemas Kinan pada dada mungilnya, dan diselingi pilinan dan cubitan nakal di puncak-puncak ranumnya tak mampu mencegah rasa nikmat yang membuat bibirnya mendesah. Siska mengerang. Pahanya semakin merentang. Naluri primordial seperti memiliki kecerdasan sendiri, menggerakkan tangannya mencari muara rasa hangat yang kini menggenangi lembah-lembah cintanya.

Pembuluh kapiler wajahnya berdilatasi. Memberikan rona merah muda yang diaksentuasi dengan butiran keringat di wajah Siska yang tirus. Lalu bibir sensual yang merah dan merekah itu…. mendesah dan mengeluarkan enggahan-enggahan erotis seolah mengundang laki-laki dan perempuan untuk segera melumatnya….

Rasanya semua serba sureal. Deru kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya justru membangkitkan birahi Siska, mengalirkan lebih deras, dan lebih deras lagi getah pelicin yang membuat ujung jarinya leluasa membelai tonjolan kecil yang tersembunyi di antara lepitan daging berwarna merah muda itu. Siska memejam nikmat. Mengerang sendirian. Sengatan geli yang menyebar ke seluruh tubuhnya membuat otot-ototnya mengejang involunter. Kaki kirinya menendang-nendang, semakin mengangkang di atas dashboard. Siska bahkan tak lagi mempedulikan kalau pengendara yang datang dari arah berlawanan bisa menyaksikannya masturbasi. Remasan Kinan pada dadanya. Tatatapan Badeng pada selangkangannya. Oh! Rasanya aku bisa gila! Desah Siska dalam hati.

Seorang anak melintas pada sebuah persimpangan. Teranggga tak percaya melihat kegiatan amoral yang terjadi di dalam mobil. Siska memang sudah lama memimpikannya. Masturbasi sambil ditontoni banyak orang. Tapi ini bahkan sudah melampaui segala fantasi tergilanya! Desahan pelan Siska berganti dengan rintihan-rintihan panjang. Jarinya bergerak makin cepat menyambut puncaknya yang akan tiba tak lama lagi. Paha Siska semakin merentang. Tubuhnya yang mengejang involunter membuat Siska terpaksa memeluk Kinan erat-erat.

“Kinan,…. Kinan… aku… akuh… nyampe… nyampe… nyampeeeh….” Otot-otot tubuhnya mendadak kaku seperti ada kaldera gunung berapi purba yang hendak meletupkan magma di bawah perutnya.

Lalu terjadilah, orgasmenya yang menakjubkan itu. Tubuh Siska mengejang beberapa kali dalam pelukan Kinan, hingga akhirnya ketika gelombang itu mereda, dia mendapati tubuhnya berada dalam buaian Kinan. Gemas, Kinan menciumi wajah Siska yang basah dan memerah. Ekspresi nikmat di wajah pasca orgasme itu membuat Kinan begitu bernafsu menciumi setiap jengkal kulit remaja berambut pendek itu. Siska bahkan tidak mampu menolak, ciuman Kinan yang bergerak lembut menuruni lehernya membuat Siska hanya mampu membelai rambut Kinan ketika anak itu mengulum salah satu puncak dadanya….

“Kinan….,” desah lirih Siska, mendekap kepala Kinan, seolah ingin membenamkan bibir yang tak henti melumat itu pada puncak-puncak lembut dadanya….

============================​

Siska hanya berharap dirinya tidak melangkah terlalu jauh. Karena bagaimanapun ia masih memiliki kehidupan pribadi sekembalinya di Jakarta. Siska adalah anak tokoh terpandang. Berasal dari keluarga Katolik yang taat. Siska benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan orangtuanya jika mengetahui bahwa anak perempuan mereka yang dibanggakan-banggakan melakukan hal nista seperti ini.

Tapi terkadang apa yang kau lakukan terkadang diputuskan bukan oleh akal. Tajuk-tajuk dadanya terasa gatal, dan lorong-lorong basah liang peranakannya terasa panas dan berdenyut-denyut mendamba cumbuan, atau mungkin lebih dari itu. Seperti ada substansi adiktif yang ditambahkan di dalam darahnya yang membuat Siska menginginkan petualangan yang lebih dan lebih lagi. Wajah Kinan kini yang terbenam pada pangkal pahanya dan bermain-main dengan kelembapan di bawah sana justru berperan bagai jerigen etanol yang disiramkan pada kobaran api. Birahinya meninggi, tapi tanpa kulminasi.

Siska hanya merasakan bahwa mobil itu berhenti di sebuah tempat kosong. Mesin mobil itu sudah dimatikan sedari tadi. Sunyi, yang terdengar hanyalah suara rintihannya sendiri. Matahari yang sudah terbenam utuh hanya menyisakan semburat ungu dari sela-sela bayangan daun bambu. Siska bahkan tidak bisa berpikir lagi, ia ada di mana, atau apa yang akan terjadi pada dirinya sedetik setelah ini. Lidah Kinan yang bermain-main dengan lembah-lembah sensualnya membuat Siska hanya mampu mengerangkan nama gadis itu.

Kinan tersenyum, manis sekali. Siska mengusap rambut gadis itu lembut ketika perlahan ciuman Kinan mulai merayap menaiki tubuhnya. Ada pesona tak terjelaskan yang keluar dari diri Kinan sejak keduanya bertemu. Pesona seorang Dewi Seks yang membuat Siska tak menolak menjalani pendakian asmara sesama jenis ini. Kinan sudah telanjang, Siska bisa merasakan payudaranya yang montok menempel pada tajuk mungil dadanya ketika remaja semok itu merangkak menaiki tubuh jenjang Siska yang telentang di bangku belakang. Lembut, ciuman Kinan beralih dari dada Siska menuju lehernya yang basah. Terbenam dan menghirup dalam-dalam setiap feromon yang menguar dari tubuhnya.

“Kinan….” bisik Siska lemah, membiarkan wajahnya diciumi oleh Kinan. Kening, mata, pipi, hingga akhirnya bibir lembut itu mendarat pada bibirnya. Lembut. Siska membiarkan bibirnya dipagut. Ada kehangatan yang meleleh masuk ketika tubuh telanjang kedua remaja itu mulai menggesek mencari kenikmatan.

Langit buram, dan ia nyaris tak bisa melihat suasana di sekitar. Kelima indera-nya tersita oleh cumbuan Kinan, ketika Siska merasakan ada pemain ketiga yang ikut serta. Siska merasakan pahanya yang kokoh berbulu menggesek di dekat betisnya, lalu jari-jari kekar terlihat mencengkeram gumpalan daging lembut di dada Kinan. Erangan nikmat Kinan yang diikuti dengan sentakan panjang membuat Siska tahu bahwa anak itu sedang dipenetrasi dari belakang. Siska bahkan tak lagi mempedulikan rasa canggung akibat permainan cinta bertiga.

Ekspresi birahi di wajah Kinan yang disetubuhi tepat di atas tubuhnya membuat rasa panas di kelamin Siska terasa semakin menyiksa. Tubuh Kinan menggeliat nikmat, menggelinjang dalam rengkuhan otot-otot liat Badeng. Batang keras berkecipak erotis dalam tubuh Kinan membuat Siska yang mendamba kenikmatan yang sama….

Siska tersenyum sendu, membelai dan menciumi wajah Kinan yang berkelindan peluh…

Diraihnya wajah Kinan, dan dilumatnya pada bibir. Penuh nafsu.

“Kinan…,” bisik Siska, nyaris tak terdengar, “aku juga ingin berzina.”

Ada aroma organik yang membuat Siska menjadi lapar, perpaduan antara asam keringat dan jejak-jejak hormonal yang mengaburkan akal dan logikanya, semacam senyawa kemikal yang meruap dari pori-pori dan membuat sang perawan begitu dahaga ingin menghirupi setiap lekuk dan liku otot-otot liat yang dilelehi keringat itu. Siska mengendus, mendengus, mengecupi bundel-bundel gagah otot dada pemuda berkulit gelap itu. Rasa gatal yang begitu hebat membakar di pangkal pahanya bahkan membuat Siska lagi tidak ambil peduli kalau lama-lama kecupannya itu berubah menjadi jilatan dan gigitan. “Mmmh,” Siska melengguh sendirian, menciumi puting susu Badeng, bahkan kalau bisa rasanya ia ingin menghabiskan tubuh maskulin itu seorang diri, tapi kali ini ia harus berbagi, karena di atas situ Kinan sedang menandak-nandak ganas di atas tubuh bidang sang pejantan alfa.

Berjongkok di atas perut Badeng, sepasang payudara montok Kinan berguncang-guncang ketika anak itu mengangkangi tubuh liat partner kawinya. Lihatlah buluh yang mengeras itu bergerak masuk-keluar liang lembut yang tak henti-hentinya melelehkan kelembapan, mengeluarkan suara berkecipak seksi diiringi erangan erotis setiap kali ujung tumpul itu menghujam ujung rahim sang betina.

Kinan memekik tertahan, tamparan gemas Badeng pada bongkahan sekal bokongnya membuat si montok terkejut-kejut nikmat. Batang keras penuh urat-urat liat yang bergerinjal nikmat dalam liang senggamanya itu benar-benar membuat Kinan ingin memperkuda tubuh kekar ini hingga tak bersisa!

Derit suspensi VW Safari itu semakin intens terdengar. Sinar bulan masuk melalui kaca jendela dan jatuh di atas tubuh Kinan yang tak berbusana, montok dan dipenuhi buliran-buliran peluh yang berkilat eksotis. Wajahnya basah dan memerah muda. Bibirnya terbuka dan mengeluarkan rintihan-rintahan yang terdengar dalam interval yang semakin memendek. Mata Kinan mengerejap lemah, lalu ketika suara rintihannya menghilang digantikan enggahan panjang, sekujur tubuhnya mengejang nikmat, diikuti semburan indah cairan kenikmatan yang membasahi perut Badeng yang dipenuhi kerat-kerat urat abdomen.

Kinan bahkan tidak bisa lagi mengeluarkan ceracau cabul yang sudah ingin melontar dari bibir, karena rasa ngilu akibat tiga puncak berturut-turut membuat remaja kelas tiga SMA itu hanya bisa mencakari dada bidang pejantannya, sebelum ambruk ambruk sebagai penyerahan total kepada sang pejantan, membiarkan tubuhnya direngkuh, bibirnya yang basah dilumat habis dalam sebuah pergumulan post-orgasmik yang menghanyutkan.

Ada rasa merinding di hati Siska melihat kemistri sepasang sejoli itu, lihatlah tubuh telanjang Kinan dan Badeng yang kuyup oleh keringat saling melekat seolah ingin meratakan desiran-desiran indah yang hadir di antariksa pasca ledakan besar supernova, lalu lumatan bibir yang penuh gairah itu, jambakan-jambakan mesra itu… Siska tak tahan lagi, tangannya dari tadi hanya mampu membelai kemaluannya seorang diri sambil meremasi buah dadanya yang mungil. Pergumulan dua orang itu terlalu intens untuk bisa diinterupsi. Dan ketika melihat Badeng mengejang dan menumpahkan benihnya di dalam rahim Kinan, Siska tak tahan lagi, bayangan bahwa indung telurnya sendiri yang dibuahi membuat sekujur tubuh Siska menggelinjang diikuti puncak kehangatan yang merembes deras dari ceruk intimnya. Siska termegap sekali, otot-otot tubuhnya yang mengejang tak memberikan kesempatan bagi anak itu untuk sekedar bisa mengungkapkan bahwa dirinya menginginkan penetrasi yang serupa. Siska tersenyum sayu ketika Kinan menoleh ke arahnya, dan pandangan mereka beradu. Menunduk malu, Siska hanya mampu menguak labianya dengan ujung jari, menampakkan lorong merah muda yang basah dan berdenyut itu.

Mahfum dengan badai birahi yang berkecamuk di dada remaja itu, Kinan dan Badeng membimbing Siska yang berlutut di bawah untuk beringsut naik ke jok belakang. Birahinya yang berkuasa atas nalar membuat Siska tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Ia hanya merasakan dada kenyal Kinan yang menempel di punggungnya yang telanjang, dan tubuhnya dibungkus oleh kehangatan tubuh lembut yang memeluknya dari belakang. Bibir Kinan terbenam di tengkuk Siska, mengecup dan mengendus pada susunan tulang belikatnya. Sebelah tangan Kinan menangkup pada buah dadanya yang mungil, sementara ujung jari tangan kiri membelai belahan Siska yang tak berbulu, lembut.

Siska memejam gugup, merasai dada pejal Badeng yang menempel di dadanya, lalu aroma maskulin itu, mmmh, Siska hanya melengguh lembut ketika dagunya diraih dan bibirnya dipagut, lembut. Tangan Badeng yang besar dan kasar menangkup pada dadanya yang mungil, memberikan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan ketika tajuk-tajuknya yang merebak bak buah ceri dipilin dalam sebuah permainan cinta yang membuyarkan segala nalar dan imaji. Sepasang paha Siska bergerak membuka, dan tangan-tangannya memeluk erat pada leher dan punggung kekar sang pejantan alfa. Tubuh rampingnya menggigil hebat ketika ia merasakan batang keras itu mulai menggesek tepat di lembah-lembahnya. Keras. Panas. Dan Siska kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa erotisnya pengalaman pertamanya itu. Siska menahan napas. Ujung tumpul Badeng yang membelah kubangan basahnya membuat sekujur tubuhnya seperti disengat oleh rasa nikmat yang tak terkatakan. Gadis itu termegap gugup, meremas tangan Kinan yang memeluknya erat dari belakang.

Panas. Siska hanya merasakan tubuhnya mulai dipenuhi oleh batangan keras yang menggeliat mencari jalan masuk. Tubuhnya menegang hebat. Ujung tumpul Badeng membentur sesuatu di dalam sana.

─Selaput daranya.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Di bawah selangkanganmu ada tiga buah lubang, dan kau harus menjaga baik-baik lubang yang di tengah-tengah, begitulah ibundanya mewanti-wanti.

Karena seingatnya ia terlahir perawan. Sama seperti setiap manusia berkromosom XX, kelamin Siska dilengkapi dengan selaput dara, ─setidaknya.

Sebelum ini, Menggesek-gesekkan selangkangan pada bantal-guling adalah aktivitas seks terjauh yang pernah dilakukannya. Selebihnya? Siska bahkan tak berani terlalu jauh menjelajah. Selaput dara adalah satu-satunya segel kehormatan yang dimiliki oleh wanita. Merusak segel kemasan sama artinya membuat dirinya tak lebih dari seonggok barang bekas pakai, kata ibunya mewanti-wanti, ─tak berharga.

Tentu saja Siska mengajukan protes keras. Bagaimana bisa wanita disamakan dengan barang dagangan? Tidak adil betul, batin Siska sambil memberengut kesal. Padahal ia pernah memergoki Kakaknya berduaan dengan pacarnya di dalam kamar.

Kenapa kamu boleh? kata Siska menggugat.

Abangnya menyahut enteng: ─Karena cowok itu semakin banyak pengalaman semakin jago. Sementara cewek,nah, semakin banyak cowok yang ditiduri, maka cewek itu bisa dibilang lonte.

Mana boleh begitu?! belot Siska.

Abangnya bersabda lagi: ─Karena sebuah anak kunci yang bisa membuka banyak pintu lebih istimewa dibanding sebuah pintu yang bisa dibuka oleh banyak kunci.

Kurang ajar betul, masa cewek disamakan dengan lubang kunci! Geram Siska tidak terima.

Bertahun-tahun Siska bergelut dengan dogma-dogma ini. Dorongan biologis dari tubuhnya yang matang dan siap untuk dibuahi harus mengalah pada nilai-nilai yang diamini masyarakat dan keluarga.

Zinah itu dosa besar. Masturbasi itu perbuatan setan. Bertahun-tahun, Siska bergelut dengan rasa bersalah yang selalu hadir bersamaaan dengan rasa nikmat ketika melepaskan busana di tempat yang tidak semestinya. Siska merasa kotor tapi juga menikmati. Ingin berhenti tapi juga tergoda mengulangi. Sebelum menyadari bahwa dirinya hanya terjebak dalam lingkaran yang sama.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Bagai sekawanan lebah yang berdengung, pecakapan-percakapan itu berputar-putar dan gulung-gemulung dalam kepala Siska. Membisik, menghardik, dan saling menghakimi dalam isi benak.

Ada frekuensi samar sinyal tak nyaman yang ditangkap Badeng dari tubuh sang perawan. Rasa jengah yang membuat otot-otot tubuh Siska menegang dalam getaran yang nyaris tak kasat. Lalu ketika selembar jaringan ikat itu nyaris koyak, Badeng menghentikan usahanya.

Pengalaman bertahun-tahun sebagai penjahat kelamin membuat Badeng tahu pasti, bahwa korbannya tidak terlalu menikmati, padahal biasanya hanya diperlukan sedikit sentuhan ajaib ujung tongkat saktinya untuk membuat gadis-gadis menyembah minta disetubuhi. Tapi kali ini…

“Eh?” Siska agak terperanjat, setengah kecewa, setengahnya lega, ketika ujung tumpul berdiameter cukup besar itu ditarik keluar dari belahan rapatnya. “K-kenapa?”.

Badeng tak menjawab, hanya meraih dagu Siska,lalu dipagutnya bibir mungil yang belum selesai tergugu itu. Lembut. Siska hanya merasakan dirinya mendadak lumer dalam lumatan yang menyapulenyapkan batas antara dunia nyata dan khayali. Mata Siska memejam, menghayati. Membiarkan paduan feromon dan odor tembakau itu memenuhi paru-arunya. Tangan Siska bergerak membelai tulang rahang tegas berlapis sisa-sisa cambang tipis yang bergerak turun menciumi pipi, leher, pundak dalam satu buaian kecupan-kecupan lembut.

“Nakalh….” Siska mendesah manja. Mengusap rambut Ikal Badeng yang kini terbenam dalam kekenyalan buah dadanya. Tangan Badeng yang kasar dan besar menangkup pada payudara mungil Siska, sementara tajuk-tajuk sebelah kanan harus merelakan diri menjadi bulan-bulanan sang penjantan. Pasrah, dibelainya rambut Badeng yang sepertinya belum ingin berhenti mengecup pada bagian-bagian tubuh sang perawan yang paling erotis. Pusar, paha dalam, lutut, dan ketika ia merasakan embusan panas itu sampai di kewanitaannya, tangannya refles meremas rambut Badeng. Karena dalam satu desahan, gundukan putih mulus yang merekah di bawah sana tenggelam dalam lumatan cabul sang pejantan alfa, membuat segala macam erangan, desahan, dan rintihan yang biasa kau dengar dalam film porno keluar dari bibir gadis yang tidak pernah alpa ke Gereja itu.

Siska bahkan tidak tahu lagi apa yang dilakukan Badeng di bawah sana. Pahanya kini sudah tersangkut di atas pundak telanjang sang pemuda, dan tak ada satupun lubang di bawah sana yang luput dari lumatan primitif yang membawa Siska larut ke dalam napak tilas nafsu-nafsu hewani paling primordial yang terkekang oleh segala adat istiadat selama ini. Siska menjambak rambut Badeng, menjepit kuat-kuat kepala pemuda itu dengan pahanya, seolah berusaha membenamkan wajah Badeng lebih dalam lagi ke dalam lautan cairan cinta yang menggelegak liar dari belahan tubuhnya yang terintim. Jilatan-jilatan itu. Kecupan-hisapan itu. Dan Badeng belum ingin berhenti. Lumatan itu semakub menelusup jauh ke bawah dan sampai di sebuah liang sempit yang berdenyut-denyut, sebentuk otot liat-kenyal yang bergerak-gerak seperti mulut kecil yang mendecap-decap, dan ketika jari kelingking Badeng menjelajah masuk dalam lubangnya yang paling menjijikkan, Siska meledak.

Semburan indah cairan cinta memancar bersama ekstase orgasmiknya yang membahana. Siska bahkan tidak bisa lagi mengenali suara yang keluar dari kerongkongannya kini, karena yang ada hanyalah pemujaan terhadap hasrat binatang di mana birahi dipertuhankan, di mana moral tak lagi menjadi signifikansi yang bisa menahan bibirnya untuk mengucapkan kata-kata cabul itu, erangan-erangan lonte itu. “Badengh… Badengh… bangsath… itil guah… memhek guaaaa…. elu… apaiiiiinh aahhh…. aaaaaah…. aaaaaaah!!!!” Punggung Siska melengkung indah.

Ngilu. Siska hanya merasakan sendi-sendi tubuhnya seperti dilolosi ketika badai kenikmatan itu mereda. Bagai segelondong otot tak berangka, tubuh Siska yang basah hanya mampu menggeliat lemah dalam pelukan Kinan, membiarkan remaja bertubuh montok itu bernafsu menciumi wajahnya yang memerah muda pasca orgasme. Hiking puluhan kilo dan petualangan telanjang gila-gilaan yang dilakoni Siska sejak pagi tak menyisakan apapun selain konsentrasi asam laktat yang bertumpuk-tumpuk dalam serabut ototnya. Glukosa darahnya nyaris habis tak bersisa, dan orgasme fantastis yang diberikan Badeng itu seperti selimut hangat yang menutup petualangannya dengan desir-desir indah yang masih meriap dalam ingatan.

Kecupan lembut jatuh di kelopak mata Siska yang mengatup. Kepalanya terasa ringan. Dan suara mesin mobil yang dinyalakan adalah hal terakhir yang didengar Siska sebelum kesadaranya meredup.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =​

“Aku benar-benar tak mengira kau juga bisa seromantis itu,” berkata Kinan saat mobil itu membelah jalan desa yang telah gelap sempurna.

Malam datang dan menghadirkan langit ungu yang dipenuhi taburan Bimasakti. Pedesaan Bali di dekade 90-an masih sepi dari ingar bingar, menyisakan jalan-jalan desa yang berubah sunyi selepas jam delapan malam. Dering jangkrik. Deru mesin berpendingin udara. Sandiwara radio yang diputar pelan. Mereka hanya memapasi bapak-bapak yang bersepeda dengan lampu dinamo di tempat itu.

“Sungguh. Kupikir kau akan merenggut keperawanan anak itu.”

“Seorang pendekar seharusnya tiada pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, nona.”

“Tak perlu kau bersilat lidah. Lalu kecabulan macam apakah yang sudah kau lakukan padaku, kisanak?”

“Kecabulan yang hanya bisa ditandingi oleh Ksatria Madangkara, Panglima Jangkar Hawa.”

“Saurrrr Sepuh… dalam kisah Daraaaah Biru… Wakakaka,” tawa Kinan lepas berderai.

Sandiwara radio yang diputar di radio memberikan bahan lelucon bagi dua orang itu. Siska terlelap di bangku belakang, telanjang, dengan kain pantai tipis yang hanya menutup bagian bawah tubuh.

Badeng melirik sekilas melalui kaca spion.

“Anak itu terlalu polos sehingga bisa kau perdaya.”

“Dan membiarkan dia melewatkan kenikmatan hidup?”

“Kau pun belum tahu apa-apa tentang kenikmatan hidup.”

“Oh, ya?”

“Tenang, kita masih punya banyak waktu. Aku akan mengajari,” tangan Badeng bergerak membelai paha Kinan yang telanjang di sebelahnya.

Kinan menepak punggung tangan Badeng, pelan saja, raut cemberut di wajahnya tampak terlalu menggemaskan untuk dikatakan sebagai penolakan.

“Lagipula kau kan tinggal di Bali, Kinan?”

Badeng menanyakan alamatnya.

“Mau-tahu-aja, wek,” Kinan menjulurkan lidahnya, lucu.

“Ya sudah, kalau tidak mau memberi tahu.”

“Lagipula kalau kuberi tahu, kau mau apa?!” cecar Kinan.

“Menjemputmu di malam minggu?”

“Lalu?”

Mekatuk,” jawab Badeng, jujur.

“Ih!”

“Kenapa? Kamu tidak ingin pulang?”

Kinan tak menjawab.

“Baiklah. Kamu bisa jadi peliharaan saya kalau mau. Saya memiliki kandang di rumah, dan kamu tidak perlu mengenakan baju lagi, telanjang bulat untuk selamanya,” gurau Badeng.

“Cabul!” Kinan mencubit lengan Badeng.

What’s next? Pertanyaan itu terlintas begitu saja. Kisah petualangan ini sudah mencapai penghujungnya. Besok atau lusa kakak-beradik Siska dan Leo mungkin kembali ke Jakarta, dan ia pun harus kembali ke kehidupan nyata. Rumah. Sekolah. Dan segala eksistensi dirinya yang disangkal Kinan selama ini. Semua pikiran itu melayang susul-menyusul, menjebak Kinan dalam labirin pikirannya sendiri

Telanjang bulat. Rasanya Kinan ingin seperti ini selamanya. Sepasang kelopaknya memejam. Semuanya seperti mimpi singkat yang bisa saja berakhir ketika ia membuka mata.

To Be Continude