. Petualangan Telanjang Part 11 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 11

0
171

Petualangan Telanjang Part 11

Falsafah Amoral

Pria berkemeja putih itu akhirnya tak tahan lagi untuk tidak melirik pada kaca spion. Perempuan yang duduk di bangku belakang berparas terlalu manis untuk bisa diacuhkan. Hidung bangir. Sepasang alis mata tebal. Leher jenjang mulus− sudah lebih dari cukup untuk membuat kelenjar testosteronnya deras berproduksi.

Tubuhnya yang semampai hanya dibalut summer dress dari bahan katun warna putih, sehingga dada dan pundaknya yang langsat terpapar oleh matahari yang mengilat dari kaca jendela. Amboi. Lalatpun akan tergelincir sekiranya berani menjejakkan kaki di atas kulit selembut pualam itu.

Mobil VW Safari warna hitam yang dikendarainya bergerak membelah jalan makadam pada sebuah gigir bukit. Di sebelah kanannya adalah jurang dalam yang dipenuhi dengan hutan pinus berwarna hijau pekat. Sementara di sebelah kiri adalah lautan lava beku berwarna kelabu kelam. Di kejauhan terbentang lanskap menakjubkan berupa danau kaldera dengan puncaknya yang masih mengepulkan asap sulfatara.

Ia bisa melihat kesima di mata penumpangnya yang terpantul pada kaca jendela.

“Menakjubkan bukan, miss?” ia membuka suara.

Perempuan beriris hazel itu mengangguk. Senyum lepas mengembang pada bibirnya yang ranum kemerahan.

“Gunung Batur,” ia menjelaskan. Dulunya tempat ini adalah sebuah gunung berapi purba berukuran masif, salah satu bagian dari cincin api yang menyusun kepulauan Nusantara bersama Krakatoa dan Tambora yang berbahaya. Erupsinya yang eksplosif ribuan tahun lalu kini hanya menyisakan kawah berbentuk amphiteater yang menggelilingi danau vulkanis dan sebuah puncak baru di kejauhan.

Cool...,” Tawa renyah terdengar dari belakangnya.

Di desa Kintamani mata Siska disambut dengan pemandangan kota tua dengan rumah-rumah berdinding lumpur dengan atap-atap rumbia. Beberapa wanita pribumi berkain jarik melenggang santai di tepi jalan dengan payudara terbuka mengusung keranjang berisi hasil bumi di atas kepala. Sementara kaum pria yang bercawat duduk-duduk mengelus ayam jago sambil mengunyah tembakau.

“Perjalanan masih panjang,” sang sopir berkata. Kita masih harus melewati jalan darat yang membelah dasar kawah lama untuk sampai ke tempat tujuan.

“Bangunkan saya kalau sudah sampai, please,” Siska berkata ketika dirasainya laju kendaraan perlahan terseok karena jalan yang mulai menurun dan berkelok-kelok.

“Baik, miss.”

Hanya terdengar deru mesin bensin yang merayap membelah kerimbunan hutan hujan yang diliputi kabut. Hari menjelang pagi, dan matahari masih tersembunyi di balik tajuk-tajuk pohon berukuran gigantis yang menjulang tinggi diselingi tanaman pakis dan paku-pakuan khas negeri tropis. Di ujung jalan yang berkelok, Siska melihat pagoda kayu tinggi bertingkat tujuh, tersembunyi di balik rimbunan rimba dan gapura raksasa yang dipenuhi ukir-ukiran magis dan kain putih yang ditulisi simbol-simbol rahasia.

Bau tanah, aroma hutan. Ada sesuatu dari dalam bawah sadar yang perlahan terketuk dan tak bisa dijelaskan dengan aksara. Sebentuk kerinduan akan tempat kelahiran yang seharusnya sama sekali tak ada dalam ingatan… Seandainya aku dilahirkan di tempat ini, batin Siska sebelum kedua matanya terpejam rapat.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Adalah Karma, hukum sebab-akibat yang mengikat segala yang terlihat dan tak terlihat. Karena hidup sejatinya adalah rangkaian kebetulan-kebetulan yang sekilas tampak acak, tapi sebenarnya berjalan dalam satu aliran sungai besar yang mengarah pada satu muara yang sama. Hidup adalah satu momentum kekal dengan vektor yang tak bisa diprediksi. Kamu tak akan tahu siapa yang akan kau temui hari ini.

Panggilan telepon di kantornya membuatnya tak bisa mengelak. “Ada turis dari Jakarta, minta diajak lava tour ke Batur,” berkata atasannya. Sebenarnya ia sudah hendak menolak, membayangkan pasangan paruh baya yang minta diajak berfoto di antara bongkahan lava beku membuatnya lebih memilih tidur siang ketimbang menderita kebosanan seharian. “Ini tamu VIP, penting,” kata atasannya mengimbuhi.

Maka demi keinginan luhur dan iming-iming tips yang akan digunakannya untuk menyewa pelacur, berangkatlah ia pagi-pagi sekali. Sepatu kets, celana flanel dan kemeja putih, tak lupa semprotan Lenzo di ketiak. Rambutnya yang ikal dikeramasi dan dipulas pomade, dan brewok tebalnya tak lupa dipotong dan menyisakan sedikit cambang tipis demi memberikan impresi seorang pemandu wisata bonafid. “Karena jangan kau sampai tampak seperti begundal,” lagi, atasannya mewanti-wanti.

Anak orang kaya, pejabat di Jakarta, katanya. Cantik sih, tapi jangan harap kamu bisa ngentotin dia, batinnya mencoba berdamai dengan realita. Sebenarnya ia sudah bersiap kecewa, tapi ketika si pemandu wisata mengenali wajah Kinan yang berjalan di samping Siska, ia segera menyadari bahwa semesta bekerja dengan cara yang tidak diduga-duga.

“Hei,” Kinan yang duduk di jok belakang menggoyang-goyang pundak Badeng.

“Hmmh,” sahut Badeng acuh tak acuh.

“Heeeei, bli mesum….,”

“Apa?”

“Ih. Pura-pura nggak kenal!”

“Hehehe…”

“Kamu tahu? Aku benar-benar tak mengira kamu bisa serapi ini.”

“Dan aku juga nggak mengira bisa ngelihat kamu pakai baju. Nggak mau melalung lagi? Nanti saya temani dalam kamar….”

“Huuu… maunya,” Kinan mencubit Badeng keras-keras, untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.

Badeng tersenyum kecil. Ia tak pernah mengira remaja montok yang dua malam lalu didapatinya berkeliaran seperti orang gila kini malih rupa layaknya seorang gadis kota? Tubuh sekal Kinan kini terbungkus dress warna tosca dengan tali spagheti. Rambutnya yang semalam tergerai acak-acakan acak-acakan kini digelung indah, lengkap dengan pulasan gincu dan riasan wajah warna cerah yang sama sekali tak mengesani kesan ndesa sedikitpun.

Begitu juga Kinan. Ia masih belum selesai terperenyak melihat Badeng yang tiba-tiba muncul di depan matanya. Setelan pekerja kantoran. Brewok dipangkas rapi. Lengkap dengan bunga di telinga dan ikat kepala Bali di kepala. Kinan tertawa dalam hati, ternyata berandalan yang pernah menggagahinya itu bisa juga terlihat tampan.

Siska yang tertidur lelap di jok belakang. Memberikan kesempatan bagi Kinan dan Badeng bercakap-cakap. Tak perlu topeng kali ini. Karena kali ini keduanya bertemu lagi dalam persona yang benar-benar berbeda. Badeng akhirnya tahu kalau Kinan sebenarnya adalah anak seorang dokter bedah terkemuka di kota Denpasar, dan Kinan juga baru bahwa Badeng berprofesi sebagai pemandu wisata profesional. Ada tabir yang terbuka. Ada kepura-puraan yang perlahan dihilangkan seiring percakapan yang dipertukarkan.

“Jadi mau kemana hari ini, tuan putri? Trekking? Cari oleh-oleh di Sukawati? Kamu tahu, saya sudah dibayar mahal untuk menemani kalian seharian ini,” Badeng mencoba menghayati peran barunya kali ini.

Kinan tertawa kecil, mengenakan kacamata hitamnya dan tersenyum berkuasa. “Ada saran, bapak pemandu wisata? Hehehe…”

Rafting?”

“Ahahaha… terserah, deh. Yang penting tempat yang tenang… yang sepi… yang enak buat…─”

“─telanjang?”

“Ih!” Kinan mencubit pundak Badeng, pipinya tampak sedikit merona. “Terserah!”

Melintas tak terlalu terburu-buru, mobil antik buatan Jerman itu bergerak pelan melewati jalan berkelok yang membelah dasar kaldera purba. Di kiri kanan mereka adalah lava beku sisa erupsi tahun 1926 yang membentuk bongkahan-bongkahan karang raksasa yang hanya bisa ditumbuhi kaktus dan rumput gersang. Rasanya Kinan sedang berada di planet lain.

Mendekat ke arah danau, Kinan bisa melihat permukaannya yang membiru disusul puncak stratovulkanis gunung berapi aktif di kejauhan. Dapur magmanya yang berpotongan dengan sediaan air perifer di kerak bumi mengalirkan mata air panas dari celah-celah karang yang dimanfaatkan penduduk untuk mandi. Kinan pernah diajak berpakansi oleh keluarganya ke tempat ini beberapa kali. Toya Bungkah, benar Kinan langsung mengenalinya dari papan nama besar, gerbang bambu, dan halaman tanah yang difungsikan sebagai tempat parkir.

Mobil bergerak melaju. Badeng seperti tak berniat melambatkan laju kendaraan. Pemuda itu malah memijak pedal gas, mengarahkan kemudi pada satu jalan sempit yang menurun. Sedikit bergerinjal karena jalan yang berbatu, dan berujung pada gang sempit yang diapit oleh pohon-pohon tinggi. Ada satu lapangan kecil di tepi danau, tak seberapa besar, tapi Kinan bisa melihat sebuah sepeda kumbang yang diparkir.

“Yang tadi itu Toya Bungkah, pemandian yang dikelola sama desa adat, rame sekali sama toris, apalagi musim liburan,” Badeng merasa perlu menjelaskan. “Nah yang ini pemandian yang biasa dipakai sama warga sini. Kalian pasti suka. Soalnya tempatnya lebih─”

“─lebih sepi?” sepasang Kinan segera menyambut berbinar.

“─lebih mantep pemandangannya, hahaha!”

Badeng memang sama sekali tidak berdusta. Siska membuka mata dan disambut dengan hamparan biru air danau yang berkilat indah. Gunung tinggi di Timur Laut, juga kabut tipis yang masih melayang rendah di atas permukaan air. Bau belerang dan aroma pegunungan menyerbu indera penciumannya setiap kali ia menghidu.

Terpisah dari pemandian Toya Bungkah, tempat ini ─kalian tidak perlu tahu namanya─, memiliki penampilan yang lebih bersahaja. Air panas yang mengalir dari dalam perut bumi dialirkan melalui pipa-pipa bambu menuju bilik-bilik mandi terbuka di bawah rimbunan pinus. Seorang kakek-kakek terlihat membasuh tubuh di bawahnya. Selebihnya, nyaris sepi. Yang terdengar hanyalah tiupan angin dan suara-suara burung yang bernaung di dahan-dahan pinus.

Siska mengerjap tak percaya, di bawahnya terdapat kolam karang berisi air panas yang mengepul, hanya terpisah beberapa jengkal dari air danau yang sedingin es (mungkin menyatu bila air pasang). Seorang ibu-ibu telanjang merendam diri bersama anak gadisnya yang berumur lima tahun di dalamnya. Menyambut ramah pada kedatangan mereka di tempat itu.

“Yeh, De Jaya. Tumben ngenah?”

Nggih, mbok. Ngateh tamu, niki,” jawab Badeng ramah yang sepertinya mengenali ibu-ibu itu.

______________________

Tumben ngenah = kok baru kelihatan?

Nggih mbok. Ngateh tamu niki = iya kak. Mengantar tamu ini.

Badeng = hitam legam

Ngiring = mari

___________________________

“Jaya siapa?” mata Kinan berbinar kepo.

“Nama asli saya.”

“Oh. Kirain namanya beneran ‘Badeng’.”

“Hahaha… itu gara-gara kulit saya hitam.”

Mata Siska memutar curiga. Aneh, kok sepertinya kedua ini sudah saling kenal? Namun belum sempat ia bertanya, ibu-ibu di dekatnya keburu menyela.

Ngiring, gek. Mandi sama-sama. Harap maklum, tempatnya seperti ini.”

“Ndak apa bu,” jawab Siska mencoba sopan.

Siska mencelupkan ujung jari ke dalam air yang suam-suam kuku sambil menimbang-nimbang apakah akan menceburkan diri dalam bikini ataukah pakaian kelahiran. Agak rikuh sebenarnya, karena ini adalah pertama kalinya Siska menelanjangi dirinya di depan banyak orang. Sementara Kinan… ah dia mah nggak usah ditanya! Siska tidak mengerti bagaimana caranya Kinan bisa dengan santainya melepaskan pakaian hingga telanjang bulat lalu menceburkan diri ke dalam kolam air panas itu, meski ditempat itu masih ada Badeng…. Ukh…

“Nah, mbaknya berdua mandi-mandi saja dulu di sini. Nanti habis dari sini kalau mau kita bisa mampir ke Monkey Forest atau cari-cari oleh-oleh di Sukawati. Mau nyeberang lihat makam di Trunyan juga boleh,” kata Badeng (pura-pura) sopan.

Blindak ikut mandi sekalian?” Kinan bertanya dalam intonasi menggoda sambil membasuhkan air ke atas bukit-bukit kenyalnya yang menantang.

Siska langsung melotot protes.

Merasakan kecanggungan Siska, Badeng (pura-pura) menolak.

Ndak usah. Mbak berdua saja yang mandi-mandi dulu. Saya di atas sana cari kopi. Kalau butuh apa-apa panggil saja. Mari.”

Siska menghela napas lega, tidak bisa membayangkan jika harus melepaskan satu persatu penutup tubuhnya di depan orang itu. Karena meskipun berkulit legam terbakar matahari, pemuda berparas keras itu tetap saja terlihat menarik. Siska tidak bisa membohongi reaksi panas di tubuhnya ketika pemuda itu meliriknya diam-diam.

Badeng menghilang di balik karang dan batang-batang pinus, tapi entah kenapa Siska merasa pemuda itu masih mengawasinya dari kejauhan. Jari-jarinya yang sudah berada pada ujung dress mendadak meragu.

But hey, ini kan yang kamu inginkan selama ini, Siska? Ia berkata pada dirinya sendiri. Dirinya sudah kepalang tanggung, ia sudah menempuh ratusan kilometer demi momen-monen ini. Fuck it, umpat Siska kuat-kuat.

Dress putihnya adalah yang terbuka pertama, disusul bikini hitam yang terlipat rapi di bawah kaki. Tubuh setengah telanjang Siska kini hanya terbungkus sehelai bawahan berbentuk celana dalam mini. Siska berbalik membelakangi, sepasang kakinya yang jenjang berjingkat bergiliran, melolosi penutup tubuh terakhirnya dalam satu gerakan canggung sebelum buru-buru menyilangkan sebelah lengan di depan dada dan satu telapaknya di pangkal paha.

Siska tak mengerti kenapa Kinan bisa begitu tak peduli. Remaja bertubuh mengkal itu sudah asyik berendam dalam kolam air hangat. Tubuh telanjangnya terendam hingga pundak, sepasang buah dadanya yang mengkal terlihat membayang indah di bawah permukaan air. Remaja berparas manis itu tersenyum manis, melambaikan tangan mengajak menggabungkan diri.

Siska tersenyum canggung. Hati-hati, Siska menuruni karang-karang licin yang mengarah pada sebuah ceruk kecil tersembunyi. Ujung kakinya mencelup ragu, dan saraf-saraf sensorinya segera diserbu ruaman sensasi hangat yang memanjakan. Hangat bangeeeet! Siska membeliak bahagia.

Berpegangan dengan kedua tangan pada dinding karang agar tidak terpeleset, Siska melangkah hati-hati, sampai-sampai alpa pada bagian yang ingin ditutupinya. Sepasang puting mungil dan daerah kewanitaaannya yang sama sekali tidak ditumbuhi rambut itu terekspos sekilas. Sebentar saja, karena Siska buru-buru membenamkan tubuhnya pada sebuah ceruk sedalam leher.

Matahari bergerak meninggi menghantarkan jarum pendek jatuh di angka sebelas satu persatu warga desa pamit pulang meninggalkan mereka berdua bersama isi benak yang mengambang. Percakapan tak tentu arah seperti partikel-partikel kabut yang mengambang di udara. Hingga akhirnya Siska tidak malu-malu lagi berenang dari ujung ke ujung kolam air panas itu, bahkan sesekali berbaring di atas batu dan membiarkan matahari pagi memandikan kulitnya yang tak tertutup apapun kecuali rona-rona merah muda.

Siska teringat kamar mandi semi-terbuka di hotelnya. Satu dindingnya terbuka dan menghadap taman kecil yang dikelilingi tembok tinggi, memberikan ilusi optik seolah-olah Siska sedang mandi di tempat terbuka. Ada kendi tanah liat dan beberapa pot tanaman dalam ruang di tempat itu demi estetika banal sebuah nuansa tradisional. Siska tidak bisa ditipu. Karena mandi di tempat terbuka seperti ini adalah hal yang paling diimpi-impikannya selama ini.

“Senang?”

Siska mengangguk lucu. “Kamu tahu? kemarin sebenarnya kami sudah sempat ke sini sih, tapi ke tempat yang satunya yang air panasnya ditampung di kolam renang itu, tahu nggak?”

“Oh, tahu-tahu-tahu. Aku pernah diajak ke sana sama bapak aku.”

“Eh, jadi kamu beneran orang Bali asli?”

“Ibu aku yang orang Bali asli.”

“Oh. Pantas. Blasteran ternyata,” Siska merujuk pada hidung bangir, alis mata tebal, dan rambut Ikal khas bangsa Semit. “Aku tebak. Kamu pasti bukan orang desa yang kamu bilang.”

“Hu-uh. Aku sekolah di kota. Bapak aku dokter bedah.”

“Haaaaah? Serius?”

Kinan mengangguk. Siska membelalak, tak sanggup membayangkan jika Kinan mempertaruhkan nama baik keluarga besarnya dengan melakukan semua kegilaan ini.

“Kamu nggak takut ketahuan?!! Nggak takut bikin malu keluarga kamu?!!!”

“Ngapain? Toh nggak ada yang kenal aku,” jawab Kinan santai yang membuat Siska semakin terngangga tak percaya.

“Kok kamu bisa cuek gitu sih, Nan?”

“Telanjang?”

“Hu-uh.”

“Awalnya malu, sih. Apalagi waktu pertama datang dan mandi di sungai. Aku kencing dan dilihatin sama anak-anak nakal.”

“Hah? Itu dalam posisi telanjang?”

“Telanjang bulat.”

Wajah Siska sedikit bersemu membayangkan Kinan tengah ditonton dalam keadaannya yang paling memalukan itu.

“Tahu, nggak waktu itu aku maluuuu banget. Tapi setelah itu hampir tiga hari tiga malam aku nggak pakai baju sama sekali, sampai-sampai aku lupa kalau aku sedang telanjang,” pandangan Kinan terlihat semakin mengawang. “Sampai aku tiba di satu titik…. di titik di mana rasanya aku nggak mau pakai baju lagi untuk selamanya….”

“Ahahahaha…,” Siska tertawa dengan wajah merona, entah kenapa cerita Kinan terdengar begitu erotis di telinganya. “Aku juga punya fantasi gitu, tahu! Berkhayal kalau aku bisa pergi ke sekolah nggak pakai apa-apa cuma sepatu sama ransel. Tapi tar aku dikira orang gila, dong! Hahahaha!”

“Gila, ya…,” Kinan berkata pelan. “Iya juga kali ya….. tapi kalau enggak sekarang kapan lagi? Kamu tahu? Sampai bulan lalu aku masih jadi anak baik-baik yang nurut sama perintah orang tua. Tapi sekarang? Tiga hari tiga malam aku sama sekali nggak memakai baju sehelai pun. Kamu tahu? Rasanya buat sesaat aku bisa jadi diri aku sendiri setelah sekian lama aku pura-pura jadi orang lain. Mungkin kamu ada benarnya, aku harus jadi gila dulu untuk menemukan sesuatu… yang namanya….” Kinan terdiam sesaat, “… pelepasan….”

Siska terdiam. Teringat saking depresinya ia pernah berencana berangkat sekolah hanya dengan mengenakan sepatu dan kaus kaki. Diam-diam ia merasa begitu relate dengan cerita Kinan. Bertahun-tahun, satu-satunya yang diinginkan Siska adalah melepas pakaiannya, dan menjeritkan segenap udara dari dalam paru-parunya dan berkata, ‘persetan kalian semua!’

See? Aku tahu kamu juga memikirkan hal yang sama,” Kinan bangkit dari dalam air dan mengulurkan tangannya. “Ayo. Kamu nggak akan pernah tahu kalau belum pernah mencoba.”

Siska sejenak terperenyak, tubuh Kinan yang telanjang terpampang jelas di depan matanya, sepasang tangannya bergerak mengulur, seolah menyambutnya melangkah dalam ranah tak dikenal, Terra Incognita.

“Tapi….. Kalau… aku ketemu sama orang lain gimana…? Apa… yang nanti… dibilang keluarga… aku….?”

So, what?” Kinan berkacak pinggang, menelengkan kepalanya. “Di tempat ini nggak ada yang kenal kamu, Siska. Nggak ada yang peduli kamu anaknya siapa. Nggak ada yang peduli sehari-hari kamu ini bintang kelas atau rajin ke Gereja. Di sini kamu itu incognito, nggak ada yang mengenali. Di tempat ini kamu bisa menjadi persona yang sama sekali baru.”

Betapa selama ini kita hidup dengan mengenakan topeng, berpura-pura alim, berpura-pura bijak, demi diterima dalam masyarakat. ironisnya justru dengan berlindung di balik topeng anonimitas, seseorang bisa menunjukkan wajah sebenarnya, seseorang bisa meliampaskan segala hasrat primordialnya yang selama ini tunduk pada norma-norma kesopanan. Sebuah katarsis yang paripurna.

Fuck it. Siska menarik napas dalam dan melangkahkan kakinya ke atas batu karang. Satu langkah kecil di mana dirinya tidak bisa kembali lagi. Perbatasan terakhir menuju ranah tak dikenal.

Rasa malu dan sengatan dingin segera menyambut ketika tubuh Siska yang tak tertutup apapun itu muncul seutuhnya. Tuhan, apa yang saya perbuat?!! Siska segera menyadari betapa tereksposnya ia berdiri di tempat seterbuka ini. Di depannya adalah danau yang luas membentang. Di belakangnya adalah hamparan lava beku. Siska bahkan bisa melihat mobil yang bergerak membelah jalan aspal di kejauhan. Refleks Siska menyilangkan tangan di dada dan telapak di pangkal pahanya. Jantungnya berdetak kencang. Akal budinya berusaha melindungi kehormatan terakhirnya sebagai wanita, tapi nalurinya berkata yang sebaliknya.

Siska tersenyum kecut, berjalan rikuh sambil berusaha menutupi bagian-bagian terlarang tubuhnya dari pandangan Kinan. Aneh juga, padahal semalam keduanya tidur telanjang seranjang.

“Ngapain masih ditutupin? Hehehe…. Malu sama aku…?”

Siska memberengutkan wajahnya yang merona, setengah tidak rela menurunkan tangan yang menutupi tubuhnya dan membiarkan sepasang buah dada dengan puncak-puncaknya yang berwarna merah hati, juga belahan intim yang mulus tanpa bulu terekspos sepenuhnya.

“Nah, gitu dong…,” Kinan menyambut dengan jempol terangkat. “Yuk ikut.” Remaja montok itu lalu menggandeng tangan Siska, membimbing melewati serangkaian karang dan pohon pinus. Di antara lanskap magis itu, sepasang remaja telanjang itu tampak seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Berjalan di tempat seterbuka itu, Siska bahkan tidak bisa memikirkan apa-apa lagi ketika melangkahkan sepasang telapaknya yang telanjang melewati perbatasan terakhir menuju daerah tak dikenal. Kepalanya terasa ringan. Semuanya terasa begitu samar dan tak kasat. Rasanya Siska sedang bermimpi mendapati dirinya yang telanjang bulat kini berjalan di lelehan lava beku di dasar kaldera gunung berapi purba. Di atas kepalanya adalah langit yang membentang tak terbatas. Sementara satu-satunya penutup tubuhnya adalah angin dingin yang membelai setiap lekuk dan relung tubuhnya yang tengah membara. Jantungnya yang berdetak cepat dan memompa hormon adrenalin membuat Siska seperti melangkah di atas awan….

Ada serangkaian pancuran yang mengalirkan air panas melalui bilah-bilah bambu. Tempatnya yang terbuka membuat keduanya terekspos jelas, baik dari arah danau, maupun dari arah jalan raya yang berkelok di timur laut. Terpaut jarak cukup jauh dari kolam tempat mereka berendam, Siska baru menyadari bahwa pakaian mereka berada di ujung yang satunya. Ada rasa tidak aman yang tiba-tiba menyergap. Peringatan tanda bahaya yang berbunyi ketika ia semakin menjauh dari zona aman.

“Kinan balik, yuk…,” Siska merengek rikuh, tak ingin terekspos di tempat terbuka terlalu lama.

“Lho, kok udahan?”

“Malu. Gimana kalau bli pemandu wisatanya balik?”

Justru itu tujuankuuuuu, tahuuu!!! Kinan sudah ingin tertawa dalam hati. Tapi layaknya seorang junjungan yang ingin menyesatkan pengikutnya, Kinan berkata,

“Udah tenang aja. Kapan lagi kamu bisa mandi di tempat eksotis seperti ini?” Kinan mengambil sebuah batu apung dan menggosok-gosokkan pada kulitnya.

“Uuuh…” Siska memberengut lucu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sementara Kinan, huh! Kenapa anak itu bisa cuek saja bergaya seperti bintang iklan sabun!

“Ahahahaha…. Rileks aja… nikmatin semua… ikutin arusnya…. Lepaskan… lepaskan…. Tatap mata saya….”

“Nggak lucu! Ahahahah!” tapi Siska ketawa juga, hehe….

“Kalau gini terus kamu jadi mirip kakak kamu, tahu. Serius.”

“Idih, ogah gua disamain sama orang itu!”

“Ahaha. Makanya nikmatin prosesnya. Seize the day.”

Kinan menyodorkan segenggam daun sirih yang dipungutnya dari rumpun tak jauh dari tempat itu.

“Apaan nih?”

“Sabun alamiah.”

“Gimana cara makainya?”

“Gini,” Kinan meremas daun sirih itu sehingga mengeluarkan buih dan membalurkan ke tubuhnya.

Siska mencoba.

“Kok punyaku nggak keluar busa?”

“Gini. Diperasnya harus banyak sekaligus,” Kinan mencontohkan dan mengusap cairan licin itu pada pundak Siska.

Remaja bertubuh jenjang itu menggeliat kaget atas kehadiran telapak tangan Kinan yang tak diduga-duga di atas kulitnya. Siska memprotes kesal, tapi Kinan hanya tergelak-gelakjenaka. Siska menggembungkan pipinya, melipat tangan di depan dada, dan berbalik memunggungi. Tapi anehnya, Siska tidak sungguh-sungguh berusaha membuat Kinan tanpa berniat menghentikan kegiatannya. Karena, sungguh. Perpaduan antara air hangat yang mengucur di atas kepalanya, dan gosokan batu apung dan sabun sirih membuat Siska merasa lebih nikmat dari semua perawatan relaksasi di SPA ternama.

Suara burung terdengar riuh rendah berkicau di antara pucuk-pucuk pinus yang menaungi kepala mereka. Sementara suara ricik air terdengar memenuhi gendang telinga. Desau angin. Suara degup jantungnya sendiri. Siska memejamkan mata, membiarkan indera pendengarannya yang menghayati kehadiran setiap frekuensi suara di udara. Kinan benar, ia hanya perlu mengikuti alirannya.

“Enak?” bisik Kinan di telinga Siska. Tangannya bergerak meratakan buih-buih sabun di pinggulnya.

“Hu-uh,” Siska menjawab dengan mata terpejam, karena usapan Kinan yang dipadukan dengan pijatan ringan membuat otot-otot pinggangnya yang pegal setelah bertualang seharian terasa agak meregang.

Bau tanah. Aroma pinus. Sengatan belerang. Indera penghidu Siska diserbu berbagai bau-bauan seiring napasnya yang mulai memburu. Ia bahkan bisa membaui aroma napas Kinan yang harum dan mengembus tepat di tengkuknya.

“Kamu tahu? Dari kecil kita sudah diajari untuk jijik kepada tubuh kita sendiri……”

“Telanjang… kan… emang… dosa…” jawab Siska pelan, karena pijatan Kinan enak betul.

“Kamu tahu, dulu di Surga, Adam dan Hawa bahkan nggak memakai pakaian sehelaipun…. tapi mereka sama sekali nggak merasa malu apalagi birahi…..”

Diriwayatkan ketika Adam memakan buah larangan, ia langsung mencari dedaunan dan untuk menutup auratnya. Beberapa memahami bahwa pakaian Nabi adam dilucuti sebagai hukuman Tuhan. Beberapa lainnya memahami bahwa setelah memakan buah larangan aurat manusia pertama itu ‘terlihat’. Tapi bagaimana jika buah larangan justru memberikan manusia sebuah pengetahuan. Birahi dan Ajal. Eros dan Thanatos. Makhluk mortal memiliki rasa malu dan birahi. Menjadi makhluk mortal berarti tidak layak lagi sebagai penghuni surga. Maka dibuanglah manusia ke dunia.

______________________
Eros = Naluri Kehidupan

Thanatos = Naluri Kematian
_______________________

“Seandainya Adam dan Hawa tidak memakan buah larangan, aku yakin, sekarang kita semua masih ada di Surga….,” Kinan berkata pelan, berisik di telinga Siska, “telanjang bulat seperti saat kita diciptakan… atau dibangkitkan….”

“Ahahaha… teori bagus, tapi aku yakin kamu baca di Doraemon,” Siska merespon asal, karena pijatan Kinan sudah tiba di titik-titik sensitifnya.

Bergerak ke bawah, telapak Kinan memijat bongkahan kenyal bokong Siska. Bergerak meremas otot-otot glutoid Siska dengan penuh perasaan, Kinan meratakan cairan sirih licin itu pada belahan pantat Siska dengan jari-jarinya. “Mmmmmh…..” Lengguhan pelan terdengar ketika ujung jari Kinan membelai lubang anal Siska. Duh, mulai nggak wajar nih pijatannya. Sebenarnya Siska sudah ingin menolak, tapi tapi digrepe seperti ini siapa juga yang pikirannya masih bisa waras?! Adanya Siska yang malah kebayang-bayang memeknya ikutan digrepe, huhuhuhu…

Duh, gue kok jadi nggak normal gini, ya? batin Siska. Karena memang sejak pertama ketemu di sungai itu, badan montok Kinan kaya nggak bisa keluar dari pikirannya! Awalnya sih Siska cuma horny gara-gara ngebayangin dia yang jadi Kinan, tapi waktu Kinan muncul di hotelnya, juga waktu mereka masturbasi bareng, terus waktu mereka tidur bareng, sampe puncaknya waktu Siska ngintipin Kinan ML sama kakaknya, pesona sensualitas si gadis montok itu mau nggak mau mengganggu bawah sadarnya. Siska kira dia cuma kagum melihat keindahan tubuh Kinan, tapi ketika otak mesumnya mulai membayangkan ‘yang bukan-bukan’, Siska mulai tahu kalau ada yang tidak beres dengan dirinya.

Tapi masa Kinan juga, sih? batin Siska lagi. Karena Kinan bukannya berhenti malah seperti sengaja mencabuli bagian-bagian intimnya! Tangan Kinan mengusap sabun pada paha dalamnya, Siska bisa merasakan setruman listrik ketika jari-jari Kinan yang licin menyerempet belahan vaginanya. Sebentar saja, karena Kinan segera berjongkok metatakan antiseptik alami itu pada paha yang satunya. Sebelum naik lagi, membelai belahan intim Siska, terus turun lagi. Terus gitu. Huaaaaah, lama-lama gua bisa bisa gila!

“Balik, Ka….” kata Kinan pelan.

Bagai budak yang patuh, Siska menurut tanpa membantah. Wajahnya sudah memerah sayu, napasnya sudah tidak karu-karuan ketika mendapati Kinan berjongkok di antara kedua kakinya. Telanjang bulat, Kinan tersenyum polos ke arah Siska sambil meratakan buih pada betis dan lututnya. Jantung Siska rasanya sudah ingin berhenti berdetak melihat pemandangan erotis ini, dari kejauhan Kinan pasti terlihat sedang memberikan service oral kepada gadis bertubuh jenjang itu!

Siska bisa merasakan napas Kinan yang panas mendengus-dengus pada miliknya yang paling pribadi. Dari posisinya, Kinan pasti bisa melihat klitorisnya yang sudah menonjol dari belahan rapatnya yang tidak ditumbuhi bulu sehelaipun.

“Jangan dilihat, Nan…. Malu…,” geleng Siska dengan wajah seperti tomat. Malu tapi erotis sekali rasanya bagian tubuhnya yang paling memalukan dilihat dalam jarak sedekat itu.

“Ngapain malu?” jawab Kinan tak kalah pelan. “Patriarki mengajarkan wanita untuk takut pada tubuhnya sendiri. Tubuh wanita dianggap sumber dari segala dosa sehingga perlu ditutupi, sama seperti Hawa yang membujuk Adam untuk memakan buah larangan.”

Siska mendesah pelan. Jari-jari Kinan membelai lembut pada sepasang labianya yang rapat. Tidak dengan gerakan mengancam, tapi penuh hormat, seolah membelai ceruk suci di mana berasal semua kehidupan dari dalamnya.

“Di sekolah kita diajari tentang reproduksi, rahim, indung telur. Tapi kenapa kita sama sekali tidak pernah diajari apa itu fungsi klitoris…?”

Lembut, bagaikan menyentuh sebuah benda yang terbuat dari kristal, ujung jari Kinan mengusap sebentuk daging menonjol sebesar biji jagung yang tampak mencuat dari belahan rapat Siska.

“Emang… buat apa…?” Siska sudah termegap-megap tak berdaya melihat Kinan bermain-main dengan pusat kenikmatan surgawinya itu. Sepasang kakinya mulai kehilangan tenaga, pusaran rasa nikmat yang diberikan Kinan membuatnya merasa perlu menumpu pada pundak gadis bertubuh montok itu.

“Ayolah… jangan pura-pura nggak tahu…,” desah Kinan manja, senyumnya menggoda. “Sayangnya itu semua dianggap tabu… bahkan di belahan bumi lain, ada banyak wanita-wanita malang yang klitorisnya diamputasi… Mereka menganggap klitoris bisa membuat wanita menjadi liar. Seperti kuda liar yang perlu dikastrasi agar jinak. Karena menurut mereka wanita yang baik itu adalah wanita yang jinak… sedang wanita yang suka bermain-main dengan klitorisnya adalah sundal belaka….”

Jari Kinan bergerak menguak sepasang bibir rapat yang melindungi bagian intim yang belum pernah dijamah itu, membelai dinding-dindingnya yang lembut dan telah diliputi getah pelicin. Tanpa kesulitan, buku-buku jari Kinan seperti bermain seluncuran di sebuah lembah licin yang dipenuhi sumber-sumber kenikmatan badani semata. Membuat tubuh telanjang Siska menggeliat nikmat dalam rengkuhannya. Kinan menciumi perut Siska yang basah, sambil satu jarinya bergerak menjelajah ke dalam lorong-lorong yang telah bergerinjal basah.

“Kinan… jangan dimasukin, ya… please… aku masih virgin…. Aku masih mau maried nanti….” pinta Siska sambil meremas rambut Kinan. Sepasang matanya berkaca, tapi deraan nikmat pada kelaminnya membuat Siska tidak bisa berbuat apa-apa selain menggelinjang nista.

“Kenapa enggak? Dimasukin itu enak, tahu, hehehe…” kata Kinan sambil menciumi paha Siska dengan penuh kemesuman.

“Ih, kamu aja kali…. Aaah….. aku… nggak mau…. malam pertama nanti…. aku ngecewain suami aku….” Siska mendesah munafik, berbanding terbalik dengan ekspresi sayu ‘fuck me please‘ di atas wajahnya yang memelas minta disetubuhi. “Orang macam kamu… mana ngerti….”

Senyum di wajah Kinan seketika menghambar. Mendadak hati Kinan dikuasai amarah yang ia tak tahu dari mana asalnya. Ujung kukunya terhenti tepat pada permukaan selaput dara Siska. Dan hanya diperlukan satu tusukan kecil untuk membuat vagina anak ini berdarah.

Sebuah.

Tusukan.

Kecil.

Akal sehatnya kembali mengambil alih. Ya Tuhan, apa yang hendak kamu lakukan, Kinan! Bahkan ia sendiri terperanjat dengan pikiran-pikiran keji yang muncul dalam otaknya. Seolah dalam kepalanya berkuasa persona berbeda yang saling memperbutkan satu tubuh yang sama.

Cepat-cepat Kinan tersenyum, beringsut naik dan melingkarkan tangannya di pinggang Siska. Lembut, Kinan mengecup pundaknya yang dipenuhi bulir-bulir air. Tubuh Siska masih gemetar sebagian, entah karena nikmat pre-orgasmik yang batal diraihnya, ataukah karena nyaris kehilangan keperawanan.

Air mengucur deras jatuh di atas pundak keduanya. Membungkam bibir-bibir itu untuk berkata lebih jauh. Siska hanya mendapati tubuhnya yang gemetar di dalam rengkuhan Kinan. Penjelajahan sensual tanpa orgasme membuat liang kewanitaannya terasa begitu panas dan mendamba.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Badeng baru muncul ketika matahari tepat berada di atas kepala. Membawa nampan berisi kopi rempah hangat dan singkong goreng, Badeng tersenyum sopan dan meletakkannya di pinggiran kolam. Halah, senyum palsu, Kinan tertawa dalam hati, karena pemuda berotak titit itu pasti dari tadi menunggu-nunggu. Lihatlah sudut matanya yang sesekali melirik mencoba peruntungan bagai seorang penjudi.

Pandangan seorang pria asing yang melirik diam-diam ke arahnya membuat Siska tak nyaman. Rikuh, Siska menyilangkan tangan di dada dan pangkal paha demi menyembunyikan bagian-bagian intim tubuhnya dari pandangan yang dirasanya terlalu menelanjangi. Tapi justru itu yang membuat Siska terlihat semakin menggairahkan di mata Badeng! Wajah blasteran, badan langsing khas remaja ibukota, ditambah raut muka malu-malu birahi, demi segenap Setan Cabul, Badeng akan mencari seribu satu cara untuk menggagahi anak ini!

Tidak, ketiganya tidak melakukan seks orgy di tempat itu. Keperawanan Siska pun tidak diambil Badeng seperti yang kalian bayangkan. Gunung adalah tempat suci, kata Badeng. Dewa-dewa berdiam di puncaknya. Melakukan lebih jauh dari ini sama saja artinya dengan bunuh diri.

Sebaliknya, mereka pergi ke destinasi berikutnya. Kinan menyarankan agar Siska hanya mengenakan kain pantai tanpa dalaman lagi. Tak sulit bagi Kinan untuk mempersuasi, desiran-desiran erotis yang belum juga hilang dari pangkal paha membuat akal sehat Siska terlalu insignifikan untuk bisa menginterupsi.

Menderu, mobil tua buatan tahun 1973 itu bergerak membelah lautan lava beku di antara kabut yang mulai turun. Kinan menempelkan wajahnya di kaca jendela, memandangi pantulan wajah gadis kecil yang memandanginya dari sisi satunya. Aku diperkosa, gadis kecil itu berkata. Untuk selamanya manusia-manusia suci itu akan menganggap aku kotor hanya karena aku tidak berdarah di malam pertama. Ada yang pilu dari tangisan Kinan yang tak bersuara. Ada sosok gadis kecil berumur 10 tahun yang ketakutan dan selamanya akan terkurung di bawah sadarnya.

Jangan, pak… Kinan mohon…

Kamu merasa nyaman to?

Jangan, pak….

Diam! Salahmu sendiri berpakaian mengundang!

Bersambung

Daftar Part