. Petualangan Telanjang Part 10 | Kisah Malam

Petualangan Telanjang Part 10

0
185

Petualangan Telanjang Part 10

Senjata Pemuas Massal

Kalau suka jangan lupa dikomen. Kalau ada paragraf yang asyik kasih emoticon jempol boleh (kalau malu nulis komentar mesum). Kalau ada yang kurang asoy, kasih masukan boleh, enaknya digimanain.

Kalau sepi wa kasih SS Leo vs Badeng loh. Pake ilustrasi gerak. Terus nama kalian ane tag satu-satu. Mwahahahaha….

_______________________________

Siska membuka mata dan mendapati Kinan yang terbaring di sisinya. Aneh betul, batin Siska dengan wajah bersemu, tidur seranjang berdua dengan sesama wanita, sama-sama telanjang pula. Ya Tuhan, apa yang bakal dikatakan mama jika mengetahui hal ini?!

Lahir dan besar di kota besar tak membuat Siska tumbuh sebagai gadis serba liberal seperti yang disangkakan orang-orang kepadanya. Kenyataannya, Siska bahkan masih perawan! Menggesek-gesekkan selangkangan pada bantal-guling adalah aktivitas seks terjauh yang pernah dilakukannya. Selebihnya? Siska bahkan tak berani terlalu jauh menjelajah. Selaput dara adalah satu-satunya segel kehormatan yang dimiliki oleh wanita. Merusak segel kemasan sama artinya membuat dirinya tak lebih dari seonggok barang bekas pakai, kata ibunya mewanti-wanti, ─tak berharga.

Tentu saja Siska mengajukan protes keras. Bagaimana bisa wanita disamakan dengan barang dagangan? Tidak adil betul, batin Siska sambil memberengut kesal. Padahal ia pernah memergoki Leo berduaan dengan pacarnya di dalam kamar. Kenapa kamu boleh? kata Siska menggugat.

Karena cowok itu semakin banyak pengalaman semakin jago, sahut abangnya enteng. Sementara cewek,─ nah, semakin banyak cowok yang ditiduri, maka cewek itu bisa dibilang lonte.

Mana boleh begitu?! belot Siska.

Karena sebuah anak kunci yang bisa membuka banyak pintu lebih istimewa dibanding sebuah pintu yang bisa dibuka oleh banyak kunci, pungkas si abang lalu melenggos pergi.

Kurang ajar betul, masa cewek disamakan dengan lubang kunci! Geram Siska tidak terima. Bertahun-tahun, Siska memendam rasa dendam terhadap pola pikir patriarkal yang dianggapnya tidak adil itu. Bertahun-tahun, Siska berpura-pura menjadi gadis serba sempurna. Bintang kelas, tak pernah alpa ke Gereja, dan selalu dibangga-banggakan ibunya di depan kerabat dan handai taulan. Hanya saja, sang ibu tidak pernah mengetahui jika anak bungsu kesayangannya itu mengendap-endap di tengah malam, melepaskan satu persatu pakaian di halaman depan, dan merangkak dalam keadaan telanjang bulat layaknya seekor anjing.

Hanya pelarian semata barangkali, tapi justru dengan melakukan ‘hal-hal sinting’ itu, Siska merasa memiliki otoritas penuh atas tubuhnya sendiri. Sesuatu yang tidak pernah (dan mungkin tidak akan pernah bisa) didapatnya. Tidak dengan nilai-nilai selalu berhasil membuatnya merasa berdosa.

Zinah itu dosa besar. Masturbasi itu perbuatan setan. Bertahun-tahun, Siska bergelut dengan rasa bersalah yang selalu hadir bersamaaan dengan rasa nikmat ketika melepaskan busana di tempat yang tidak semestinya. Siska merasa kotor tapi juga menikmati. Ingin berhenti tapi juga tergoda mengulangi. Sebelum menyadari bahwa dirinya hanya terjebak dalam lingkaran yang sama.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =

Siska menarik napas panjang sebelum melirik kepada Kinan yang berbaring polos di sebelahnya. Kenapa baru sekarang? batin Siska. Pertemuaannya dengan orang yang senasib justru membuatnya merasa bahagia, sekaligus sedih di saat yang sama.

Kedua mata Kinan tertutup rapat, dan sepasang buah dadanya yang sintal terlihat membusung setiap kali anak itu menarik napas. Kinan memiliki tubuh yang tidak bisa dibilang langsing, namun tidak juga bisa dibilang gemuk, apa ya namanya, batin Siska, menggemaskan! Wajah manis dan posturnya yang seperti boneka beruang membuat semua orang rasanya ingin memeluk gadis lucu yang cocok dijadikan adik itu.

Siska terkekeh geli mendapati senyum di wajahnya sendiri. Meski sama-sama cewek, entah kenapa Siska suka sekali memandangi tubuh polos Kinan, terutama sepasang bukit kenyal di atas dadanya itu. Demi Tuhan, kenapa Kinan bisa memiliki payudara seindah itu? Siska menggembungkan pipi, membandingkan dengan kepunyaannya yang tak lebih besar dari buah jeruk purut. Betapa Tuhan bisa juga berbuat tidak adil!

Rona-rona merah muda di pipi Siska semakin terlihat jelas. Siska menggigit bibir bawahnya dan meremas seprei kuat-kuat, ngilu sendiri, ketika adegan masturbasi mutual semalam tiba-tiba berkilas di otaknya.

Tiba-tiba Kinan menggeliat dan menggumam, membuat Siska terjerembab jatuh dari fantasi erotisnya.

Ya Tuhan, Siska! Apa yang kamu pikirkan! nurani Siska menghardik dari balik kedalaman batin. Cepat-cepat Siska menghambur ke kamar mandi, menggosok gigi, dan membasuhkan air banyak-banyak ke atas wajahnya yang terasa panas. Siska malu sendiri dengan isi otaknya yang berpasir, lebih malu lagi ketika menyadari bagian tubuhnya yang paling jujur justru menyambut bahagia gagasan sinting itu dengan mengalirkan cairan hangat dari dalam belahan rapatnya.

Huaaaaah!!! Jangan sampe, deh! gua belok! batin Siska dengan wajah merah padam.

Suara air terdengar mengguyur deras dari dalam keran. Siska sengaja membiarkannya terbuka lebar-lebar sambil berdendang-dendang sendiri untuk mendistraksi pikirannya dari remah-remah kotor anak buah Lucifer.

Tubuhnya kini sudah terbenam sedalam dagu, sambil bibirnya berkomat-kamit lucu, “amit-amit jabang bayi… amit-amit jabang bayi… amit-amit jabang bayi gua jadi lesbi…. Huhuhuhu….” Siska sedang berusaha mengembalikan kesucian hatinya ketika mendengar suara ketukan di pintu.

Ka… Siska… kamu di dalam?” suara Kinan terdengar dari sisi satunya.

“Eh? Iya?”

Eng…. Masih lama mandinya…?”

“Baru aja mulai, kenapa emang?”

Eng… Anu… aduh… gimana ya…?”

“Kamu mau pakai toilet?”

Hehehe… iyaaa….

Siska menimbang sejenak, sebelum berkata, “sudah masuk aja nggak apa-apa.”

Bener?”

“Iya….”

Mendengar itu, Kinan segera menghambur tergopoh.

“Maap-maap-maap udah nggak tahan, huhuhuhu….”

Suara urin mengucur deras. Wajah Siska agak merona ketika bunyi urin yang menyemprot deras dari lubang kencing Kinan berlari-lari riang, menggedor-gedor keras gendang telinganya. Sementara Kinan sendiri, lihatlah dia justru nyengir tak berdosa sambil mengejan kuat-kuat mengosongkan kandung kemihnya tanpa mempedulikan Siska yang melirik rikuh dari sudut mata. Bagaimana Kinan bisa cuek bebek tanpa berusaha menutupi bagian-bagian tubuhnya yang paling privat? Lihatlah sepasang payudara sintal Kinan yang dibiarkan menggelantung bebas, atau semak-semak lebat di pangkal pahanya yang dipenuhi bulir-bulir air ketika anak itu dengan santainya bercebok di depan Siska.

Siska jengah sendiri dengan pemandangan di hadapannya, meringkuk dan memeluk kedua pahanya erat-erat untuk menutupi ketelanjangannya dari Kinan yang justru dengan tak acuh menyikat gigi dan mencuci muka di washtuffel tanpa merasa perlu mengenakan penutup tubuh terlebih dahulu.

“Gimana nih rencana hari ini?” Kinan membuka suara dengan mulut yang dipenuhi busa.

“Rencana apa, nih?” Siska menyahut antusias.

“Lho, siapa yang kemarin bilang mau ikutan acara ‘Naked Adventure, hehehe….”

“Hehehe…” wajah Siska semakin bersemu. “Pengen sih, tapi Leo gimana?”

“Kakakmu? Diajakin aja sekalian! Ahahaha!”

“Idih, ogah! Adanya dia malah lapor ke mama!”

“Emang kakakmu se-strict itu, ya?”

“Iya!”

Tahu sendiri deh Leo orangnya gimana! Siska memberengutkan pipinya kesal. Udah brewok, nyebelin pula, untung ketolong sama mukanya yang ganteng! Padahal kan Siska juga ingin merasakan ajojing di diskotek-diskotek yang bertebaran di jalan Legian seperti cerita kawan-kawan sekolahnya yang lebih dulu pernah berlibur ke Bali! Tapi nggak tahu kenapa, Leo kayanya protektif banget!

“Ah, padahal aku tahu kok, kalau mama-papa lagi keluar rumah dia suka masukin cewe ke rumah. Di rak bukunya juga ada majalah-majalah stensilan. Cuma di depan papa-mama aja dia sok-sokan jadi anak baik!”

“Oh ya?” Kinan pura-pura tidak percaya.

“Ya iyalah! Hampir tiap hari aku nemuin bekas tisu di tong sampah kamarnya, tahu sendiri deh itu buat apa?”

Kinan berusaha mati-matian menahan sudut bibirnya yang sudah ingin melengkung. Ternyata pemuda kaku yang ditemuinya semalam sama saja seperti Gede Panjul dan Badeng yang bisa ditaklukkan dengan lendir vagina dan payudara…

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Fajar bangkit dari balik cakrawala dan memulaskan kroma hangat di lembah-lembah sungai itu. Ada sebuah komplek resor mewah di pinggirnya, dengan kamar-kamar terpisah berbentuk bungalo dengan gerbang kecil dan pelataran pribadi.

Seorang pemuda berusia 21 tahun melangkah gusar ke arah bungalo tempat adiknya menginap. Bungkus rokok di tangan kanan, rambut gondrong diikat ke belakang. Lengkap dengan celana panjang jins belel, baju flanel lengan panjang yang digulung seperti penyanyi idolanya, vokalis grup band beraliran Grunge dari kota Seatle.

Leo adalah orang yang paling keberatan ketika Siska bersikeras ikut liburan ke Bali, apalagi kalau bukan teman-temannya yang tipikal penjahat kelamin. Melihat Siska yang masih kelas III SMA menjadi pusat perhatian begundal-begundal yang biasa diajaknya menghisap ganja justru membuatnya merasa tidak nyaman.

Bajingan betul, batin Leo. Padahal ia sudah merencanakan baik-baik jadwal hari ini. Pagi-pagi mengantar lalu ke pasar Sukawati bersama teman-temannya untuk mencari oleh-oleh, lalu turun ke Denpasar dan Tanah Lot. Tapi perempuan misterius yang tiba-tiba menampakkan dalam liburannya itu sudah berhasil membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Ada yang aneh dari Kinan, tapi Leo belum tahu apa. Kinan pertama kali menampakkan diri sebagai seorang gadis desa yang mandi tanpa busana di pinggir sungai. Dan kali ini Kinan datang mengaku motor dan pakaianya dicuri orang?! Heh, setan dongo pun bakalan tahu kalau Kinan berdusta! Alibinya terlalu mencurigakan!

“Mana dia?” tanya Leo ketus.

Siska sudah selesai mandi dan merias wajah di cermin kecil di dekat almari.

“Tuh, masih mandi.”

“Semalem dia nggak ngapa-ngapain, kan?”

“Elu kok nuduh macem-macem, sih Kak!” sambar Siska cepat. “ Nggak mungkin, lah! Semalam kita nggak ngapa-nggapain….. Paginya baru lesbian. Hehehe…”

“Ka, gua serius!”

“Pakai gaya 69. Terus scrisoring.”

Udah, deh. Jangan ngajakin berantem pagi-pagi.”

“Kak, apa mending gua lesbian aja kali ya? Biar virgin gua tetep utuh sampai maried.”

Siska terkikik geli, puas bukan main melihat wajah kakaknya yang berubah merah padam. Padahal ia hanya bercanda.

“Kak, coba deh elu santai sedikit. Kalau gini terus elu nggak bakalan laku-laku, tahu!”

“Tsk. Bilang biar dia buruan, gih! Habis sarapan terus kita ke kantor Polisi.”

“Eh, elu serius mau lapor Polisi, kak?”

“Ya iyalah.”

“Kasihan Kinan tahu! tar panjang urusannya. Kalau emang mau nolong kenapa nggak kita antar saja ke rumahnya?”

“Justru kalau dia menghindar gua jadi makin curiga.”

“Curiga buat?”

“Gimana kalau dia berniat jahat?”

“Payah, elu kebanyakan baca novel Trio Detektif!”

“Cerewet, buruan sarapan gih!”

“Nih sekarang gua mau sarapan,” Siska bangkit dan menyambar perangkat Walkman dan kamera Polaroid-nya.

“Lah. Terus dia? Elu tinggalin di sini? Barang-barang lu tar ilang gimana?”

“Ebuset, parno banget jadi orang!”

“Biar!”

“Yaudah, gua titip kamar kalo gitu!”

“Hei!”

“Wek!”

Terlambat, Siska sudah keburu menghilang di balik gapura kecil yang memisahkan bungalownya dengan resto, meninggalkan Leo dan Kinan berdua di dalam kamar .

Bajingan betul, jam segini masih enak-enak mandi. Leo berkali-kali melihat arloji di tangannya sambil mengetuk-ngetukkan batang rokok tak sabar. Asbak di hadapannya sudah berisi 2 puntung, tapi Siska yang belum juga kembali dari sarapan meninggalkannya dalam posisi serba salah dengan wanita tak dikenal di dalam kamar.

Suara air pancuran terdengar mengguyur deras dari dalam kamar mandi yang dibiarkan terbuka secelah. Leo bisa melihat uap panas yang mengepul dari dalamnya. Terdengar suara berdendang-dendang riang seolah sengaja mengundang pandangan Leo datang bertandang. Bayang-bayang sintal tubuh Kinan tampak dari balik tirai plastik. Samar-samar, Kinan terlihat sedang menggosoki sepasang gunung kenyal dan tajuk-tajuknya yang tampak jelas dalam bentuk siluet. Leo menangkap lekukan erotis itu sekilas sebelum lekas memalingkan wajah. Dirinya masih punya harga diri.

Ka?” suara Kinan terdengar dari dalam kamar mandi.

Asu, lah! Leo memaki dalam hati. Sudah menduga hal ini bakalan terjadi.

Siska….?” Suara Kinan tedengar sekali lagi.

Leo belum memutuskan gerakan berikutnya ketika kepala Kinan yang basah muncul dari balik daun pintu yang terbuka secelah.

“Eh, kak Leo. Siska mana, kak?” Kinan agak terkejut melihat penampakan pemuda berpenampilan Grunge yang merokok di sofa.

Leo mengalihkan pandangan, tapi ia masih bisa melihat pundak Kinan yang telanjang dari ekor matanya.

“Siska lagi sarapan,” sahut Leo ketus.

“Oh,” Kinan mengangguk polos, lalu menarik kepalanya masuk ke dalam kamar mandi.

Leo menyalakan batang rokok keempat sambil mengumpat kuat-kuat. Dan ketika makhluk keparat di dalam kamar mandi tak juga menampakkan diri, Leo mulai kehabisan kesabaran.

“Buruan, oi!”

Hening sebentar. Sebelum suara Kinan kembali terdengar, “kak…”

“Apaan?!”

Saya… nggak bawa handuk…

Asu buntung! Lagi, Leo mengumpat dalam hati.

Agak terpaksa Leo mengambilkan handuk kering dan mengulurkannya dari celah pintu yang terbuka. Kinan tercengir polos dari baliknya. Badannya masih agak basah, dan kedua payudaranya yang sekal tampak segar menantang dan dipenuhi bulir-bulir air. Sepasang tajuk-tajuknya yang coklat muda tampak begitu sensual di puncak bukit-bukit kenyal yang membulat sempurna. Sebentar saja, karena Kinan menutup pintu setelah mengucap terima kasih.

Kinan tersenyum manis, keluar dalam balutan handuk yang ternyata tak seberapa lebar. Handuk itu hanya mampu membebat sedikit di bawah pangkal paha sehingga sepasang bukit kenyal Kinan terpaksa meruah keluar dan memperlihatkan belahannya yang menggairahkan. Leo bisa menangkap kilasan pangkal paha Kinan yang tersingkap ketika anak itu melangkah kikuk sambil memegangi handuk yang sudah ingin merosot jatuh. Tubuh ranum Kinan terlihat segar dengan lapisan air di atas kulitnya yang eksotis. Rambut ikalnya yang basah digelung ke atas dan memperlihatkan tengkuknya yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu halus, tapi belum sempat Leo mengalihkan pandang dari rambut-rambut pubis Kinan yang tak sengaja tersingkap, remaja sintal itu berkata lagi…,

“Kak…”

“Apa lagi?!”

“Jadi saya boleh pakai baju yang mana?”

“Maksud kamu?”

“Baju saya kan dicuri orang, kak…”

“Tuhan Yesus!” Leo menepuk jidatnya. Tentu saja semalam Kinan datang tanpa sehelai pakaianpun! “Terus gua harus gimana?”

“Siska tadi bilang, pakai saja yang ada di lemari…”

Demi Tuhan! Bagaimana bisa Siska seteledor itu?! Bagaimana jika ada barang yang hilang?! Leo sudah ingin mengomeli adiknya habis-habisan.

“Tsk. Bangke bener dah. Ngerepotin bener jadi orang!” sambar Leo ketus sembari berusaha mendistraksi pandangannya dari gadis setengah telanjang yang menatapnya penuh harap. Menghadapi sepasang mata Kinan yang mengerjap lucu ke arahnya, Leo tak memiliki pilhan selain berpaling ke arah lemari.

Dengan wajah kesal Leo memilah pakaian yang ditata Siska dalam lemari. Agak rikuh sebenarnya. Karena meskipun Siska adalah adik kandungnya, tetap saja Leo adalah seorang lelaki! Terpaksa Leo memilah-milah pakaian dalam seksi milik adiknya sendiri. Ada sebuah lingerie seksi dari bahan satin. Juga beberapa celana dalam bermodel thongs dan bikini yang bersorak-sorak gembira ketika berhasil menebarkan bibit-bibit fantasi incestuous dalam pikiran Leo.

Bajingan, lah! Leo melempar beberapa lembar pakaian dalam ke atas kasur, beserta satu setel baju yang diambilnya secara acak. Kemeja, celana jins, beserta sepasang pakaian dalam berbahan sutera milik Siska.

“Pilih sendiri, lah! Pusing gua!”

Kinan tersenyum tulus. “Makasih, kak…”

Wajah Kinan manis betul, walau kesal ,Leo tidak bisa lagi memungkiri. Kinan adalah remaja dengan tipikal wajah gadis-gadis polos rumahan yang memenuhi primbon leluhur untuk diperistri. Leo pun tidak menolak jika ditawari. Sayang kewarasannya masih dipertanyakan! Pemuda itu masih menimbang-nimbang apakah aman membiarkan Kinan sendirian bersama barang-barang berharga milik adiknya ketika anak itu memanggilnya dari belakang.

“Kak…?”

“APA LAGI?”

“Bisa… minta… tolong?” Kinan bertanya pelan dengan wajah bersemu.

Handuknya kini sudah teronggok di lantai. Tanpa busana, Kinan berdiri rikuh membelakangi Leo. Satu-satunya penutup aurat yang ada di atas tubuhnya adalah sepasang kutang milik Siska yang berusaha mati-matian dikaitkannya. Sayangnya, ukuran cup dan lingkar dada Kinan yang surplus membuat usaha itu sia-sia belaka.

Asu buntung! Kenapa gua terlibat! Wajah Leo berubah merah padam, Kinan yang berdiri telanjang bulat di hadapannya membuat otaknya mulai tidak bisa berpikir jernih.

Berdiri tepat di belakang Kinan, Leo nyaris tak berjarak dari punggung dan bokong Kinan yang telanjang. Dengan jelas Leo bisa membaui wangi tubuh Kinan yang segar sehabis mandi. Juga tengkuk dan pundak mulus yang masih dipenuhi bulir-bulir air. Dada Leo berdesir. Kejantanannya mulai memberikan reaksi. Tangannya gemetar ketika menyentuh kulit mulus Kinan. Bagaimanapun juga Leo adalah lelaki normal.

“Tsk. Ikutan setres gua. Lagian kenapa sih lu cari penyakit? Motor dan baju ditinggal. Jalan-jalan bugil. Jangan salahin orang lah kalau barang-barang lu sampai dicuri!” omel Leo, semata-mata untuk menghilangkan rasa malunya karena harus tidak bisa mengancingkan tali kutang Kinan.

“Susah yah, kak?”

“Ya iyalah, mana pernah gua masang tali BH! Ngelepas BH mah sering!” sambar Leo kesal.

Pipi Kinan yang lucu seketika merona dan dikembungkan begitu rupa untuk menyembunyikan airmukanya yang sebenarnya. Entah kenapa, kalimat terakhir yang terucap dari bibir Leo membuat wajah Kinan terasa panas!

“Nggak bisa, nyerah gua!” dengus Leo putus asa. Kutang yang bukan ukurannya itu akhirnya tercampak sia-sia di atas bantal.

Kinan menyilangkan tangannya di depan dada dan telapak satunya di pangkal paha. Menunduk tersipu, anak itu meraih kemeja putih milik Siska dan berniat memakainya tanpa dalaman. Tapi lagi-lagi, lingkar dada yang terpaut orbit planet Uranus membuat pakaian yang biasanya body fit di tubuh Siska terlihat seperti pakaian anak-anak di tubuh montok Kinan. Dari lima kancing, Kinan hanya mampu mengancingkan tiga kancing paling bawah, sementara dua sisanya masih berusaha dikaitkannya dengan sekuat tenaga.

Ukuran kemeja yang berada di bawah rata-rata membuat tubuh sekal Kinan bagaikan dibebat oleh baju ketat yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya. Buah dada Kinan yang mengkal tampak tumpah ruah dari belahannya. Sementara bahan kemeja yang tipis tidak bisa menyembunyikan sepasang tonjolan puting yang mencuat dari baliknya. Leo menelan ludah. Menggenapi penampilan Kinan yang terlihat semakin erotis, hanya bagian atas tubuhnya yang tertutup pakaian sementara pantat dan pinggulnya yang masih telanjang seolah dengan tulus ikhlas memamerkan daerah aurat yang ditumbuhi rambut-rambut halus.

Kinan menatap Leo dengan pandangan meminta. “Sini, kak… bantuin…,” rengek Kinan merajuk.

Tangan Leo agak gemetar ketika mencoba mengaitkan satu biji kancing di bagian torso. Ukuran kemeja yang terlampau ketat membuat mau tak mau membuat buku-buku jarinya menyenggol-nyenggol bongkahan kenyal dan puting Kinan yang sudah mengeras maksimal. Pikirannya sudah tidak fokus lagi, Leo bahkan sudah melupakan amarahnya sama sekali. “Aduh…. Sempit… kak….,” dan lengguhan-lengguhan penuh pesan tersembunyi yang keluar dari kerongkongan Kinan itu, fuck, rasanya Leo ingin buru-buru menubruk remaja montok itu dan menindihnya di atas kasur!

“Gimana…?” Leo bertanya pelan.

Wajah Kinan agak bersemu mendapati wajah Leo yang menunduk ke arahnya.

Sempit, kak…,” Kinan menjawab tak kalah pelan. Wajahnya merah padam menyadari betapa mesumnya penampilannya saat ini dari cermin besar di ujung ruang. Seksi, sih… Kaya make kemben gitu yang belahannya kelihatan dan susunya tumpah-tumpah. Tapi ketat banget! Kaya make korset! Nggak kebayang deh, kalau Kinan disuruh pakai ini seharian. Mending bugil deh daripada asmanya kambuh!

“Loh, ngapain dilepas?”

“Sesak…,” jawab Kinan polos. “Saya ndak enak… takut nanti bajunya rusak….”

Wajah Leo agak bersemu ketika Kinan melepaskan satu persatu kancing bajunya dalam posisi membelakangi. Bagian belakang tubuh polos Kinan segera terpampang indah di mata Leo ketika Kinan memungut handuk yang tergeletak di lantai. Wajah Kinan semakin bersemu, menyadari bahwa dari posisinya yang membungkuk seluruh vaginanya pasti sudah terpampang jelas di depan mata pemuda itu. Basah dan mengundang. Bisa kah Leo melihatnya?

Suara langkah Leo terdengar mendekat. Tubuh Kinan gemetar menahan nikmat. Sepasang matanya terpejam erat. Seluruh ototnya menegang mengantisipasi gerakan Leo berikutnya. Sungguh mati, kalau Leo memang berniat memperkosanya, Kinan benar-benar pasrah.…

Kinan mendesah. Tangan Leo jatuh pada pundaknya, diikuti sensasi kain flanel yang melingkupi punggungnya yang telanjang.

“Pakai baju gua dulu, deh. Habis ini gua cari cara. Beli baju barong longgar di artshop kek. Lagian, badan lu tuh terlalu subur! Mau dicoba berapa kalipun bakalan tetep sama! Makanya diet!” suara omelan Leo kembali terdengar, tapi kali ini dalam nada yang mengayomi.

Meski sebal setengah mati karena birahinya digantung di ubun-ubun, dalam hati Kinan merasa senang juga, karena setidaknya Leo memperlakukannya seperti Puteri Raja di saat-saat terakhir. Walaupun dingin, Kinan dibuat tersipu-sipu juga ketika Leo dengan lembut memakaikan kemeja flanel miliknya dan mengancingkannya satu persatu.

Leo bertubuh tinggi tegap, sehingga kemeja lengan panjang miliknya tampak sebagai daster longgar di tubuh Kinan. Kenyataaannya Leo bahkan tidak sekaku yang dipikirkan Kinan. Melihat tatapan mata Leo yang menghangat, membuat Kinan menyadari bahwa orang itu bukanlah manusia yang diajak berkompromi seperti yang dikatakan Siska selama ini. Masalahnya, perlakuan gentlemen Leo itu justru membuat Kinan semakin penasaran kepada laki-laki yang satu ini! Uh, Kinan apaan sih? protes si montok pada dirinya sendiri.

Leo tengah memutar dial telepon kamar, berusaha menghubungi Siska yang belum kembali dari restoran. Kinan duduk di ujung dipan satunya. Tubuh Kinan masih ditutupi kemeja flanel longgar, tanpa apa-apapun di baliknya. Dua kancing paling atasnya terbuka dan menampakkan belahan dada, dan bagian bawahnya yang hanya setengah paha tak bisa menyembunyikan sepasang tungkai mulus dan segala rahasia yang ada di antaranya.

“Makasih,” Kinan berkata tulus.

“Hmm….” Leo melirik dengan sudut matanya, menangkap kilasan area pubis yang ditumbuhi rambut-rambut halus ketika perlahan kaki Kinan mendekat duduk di sampingnya. Leo belum selesai terpana, jarinya terhenti di angka terakhir dial ketika Kinan tersenyum manis dan mendekatkan wajahnya.

“Kak, saya… benar-benar tidak tahu cara berterima kasih kepada kakak dan Siska…,” Kinan berkata pelan.

“Oh… i-iya… sama-sama…” Leo menjawab tergagap. Pemuda bahkan tak sempat mengantisipasi, nalarnya berjuang untuk menormal ketika Kinan mendaratkan kecupan tulus di pipinya.

Adalah testosteron yang pegang kendali, Leo bahkan tidak bereaksi ketika Kinan melingkar pada pundaknya. “Cuma ini yang bisa saya kasih… buat kakak…,” bisik Kinan lirih di telinga Leo. Belum sempat menjawab, bibir Kinan tahu-tahu sudah menempel pada bibirnya yang masih gelagapan menerima serbuan yang tak diduga-duga itu.

Leo agak terperanjat mengetahui ternyata Kinan piawai dalam berciuman. Bibir Kinan yang tebal mengulum lembut dan berusaha memasukkan lidah di antara celah bibirnya tanpa bisa memberikan perlawanan.

Leo bahkan tidak menolak ketika jemari Kinan bergerak cepat membuka gesper sabuknya dan menjangkau ke dalam ujung keras yang masih tertutup celana dalam. Ada titik basah di ujungnya, Kinan bisa merasakannya dari telapaknya yang menyusup ke balik karet kolor Leo tanpa perlawanan berarti. Lalu, dalam satu gerakan cepat, batang kejantanan itu telah berada dalam kekuasaannya.

Kobaran birahi di mata Leo hanya perlu dikipasi sedikit sehingga anak itu teragitasi untuk balas mendaratkan cumbuan pada payudara Kinan yang terbuka di depan matanya. Pura-pura tak berdaya, Kinan hanya membiarkan saja Leo yang menindih tubuhnya. Diusapnya pelan rambut Leo yang terbenam pada kekenyalan dadanya dan membiarkan Leo larut dalam pengalaman mengisap masa kecil dan mengulum salah satu tajuknya. Kinan mengeluh pelan, sebelah tangan Leo membelai belahannya yang membasah. Tak lupa Kinan mengeluarkan rintihan manipulatif. Kinan tahu, lelaki paling suka mendengar wanitanya merintih tak berdaya. Lelaki memiliki ego untuk berkuasa, membiarkan Leo mengira dirinya yang memegang kendali justru membuat lelaki berlutut di ujung kaki wanita. Benar saja, hanya dengan satu erangan pura-pura orgasme, pemuda kaku yang tidak bisa diajak bercanda itu sudah tunduk sebagai budak seksnya.

Rasanya seperti setengah bermimpi. Kinan hanya bisa menatap nanar tubuh Leo yang merangkak telanjang di atas tubuhnya yang pasrah. Balas melucuti satu persatu kancing kemejanya hingga Kinan akhirnya terbuka seutuhnya. Napas Kinan berubah memburu menyadari tubuhnya yang kini tanpa penutup di hadapan Leo. Sepasang payudaranya membongkah menantang. Tungkai-tungkainya bergerak membuka, memperlihatkan seisi liang senggamanya yang sudah licin sempurna.

Kinan telah siap.

“Ayo…,” bisik Kinan meminta melingkarkan tangannya di leher Leo yang menciumi keningnya yang berpeluh.

Lalu sensasi itu datang juga. Sekujur tubuh Kinan mengejang nikmat ketika perlahan-lahan ujung tumpul Leo membelah himpitan rapatnya. Mendesahkan erangan yang basah sambil memeluk tubuh Leo erat-erat ketika pemuda itu bergerak menyetubuhinya, sebentar saja, karena (lagi-lagi) dengan sebuah rintihan pura-pura orgasme, Kinan berhasil membuat Leo percaya bahwa pemuda itulah yang memegang kendali.

“Aduh… aduh… Kinan pipish kak… Kinan pipish….,” Kinan mengerjap-ngerjap nikmat, membiarkan Leo menikmati kemenangan semunya.

“Enak?” Leo menciumi wajah Kinan Kinan sambil menyeringai penuh kemenangan.

“Ngilu, kak… aduh… aduh… udah, kak… memek Kinan ngilu….” Kinan mengaduh pura-pura. “Eh… Kakak… belum, ya?” tanya Kinan dengan wajah tersipu-sipu.

Leo menyeringai puas, mengira dirinya benar-benar perkasa seperti titisan legenda Banten.

“Sini, kak… saya bikin kakak enak juga,” bisik Kinan mesra sambil memilin puting susu Leo.

Bagai lalat yang tak menyadari jatuh ke dalam pesona Nephentes. Leo hanya merasakan tubuhnya didorong telentang di atas kasur busa, dan gadis itu merangkak di atas tubuhnya. Instingtif, tangan Leo bergerak membelai kepala Kinan yang bergerak menuruni lehernya. Sungguh mati, lumatan sensual Kinan pada daerah-daerah sensitifnya membuat Leo hanya mampu mengeluarkan eluhan-eluhan feminin yang kontradiktif dengan dengan perawakannya yang maskulin.

Kinan tertawa dalam hati, ternyata anak ini kutub antagonis dari Badeng yang brutal. Lihatlah, betapa mudahnya ia membuat Leo menyerah hanya dengan jilatan-jilatan mesum pada salah satu puting susunya. Gemas, gadis berwajah imut itu menggigiti menggigiti otot-otot abdomen Leo, meninggalkan bekas kemerahan di atas bongkahan-bongkahan roti sobeknya.

Melihat ekspresi Leo yang termegap tak berdaya ketika ciumannya bergerak turun membuat kewanitaan Kinan terasa semakin membanjir! Dan ketika batangan keras itu terbenam sepenuhnya ke dalam mulutnya, Kinan tak bisa lagi menahan diri untuk menyentuh dirinya sendiri.

Sungguh mati, Leo rasanya bisa gila melihat pemandangan erotis yang berada di bawah perutnya. Sambil masturbasi, wajah lucu Kinan bergerak maju mundur di antara pahanya. Terkadang pipi Kinan terlihat mengembung ketika sekujur batangan pusakanya terbenam hingga pangkal tenggorokan. Terkadang Kinan tersenyum lucu sambil menjulurkan lidahnya menjilati ujung tumpul Leo layaknya lolipop. Terkadang melumat sepasang kantung zakarnya hingga lubang anal.

Leo mengerang nikmat, punggungnya melengkung dan terbanting setiap kali kelingking Kinan bermain-main pada kelenjar prostatnya. Sedotan Kinan seperti menghisap Leo ke dalam pusaran rasa geli dan ngilu. Lagi, Leo hanya mampu melengguh tak berdaya sambil menjambak rambut Kinan yang sepertinya belum ingin selesai menyiksanya bagai seekor Sucubus.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Nyaris mustahil bagi Siska untuk menutup mata dari kegiatan amoral yang terjadi dalam kamar itu. Bersembunyi di balik kisi-kisi jendela yang terbuka, sebenarnya sudah sedari tadi anak itu kembali seperti yang direncanakannya bersama Kinan tadi. Cukup lama untuk menyaksikan Kinan menggoda Leo dengan pura-pura memintanya memakaikan baju. Sebenarnya ia dan Kinan hanya berniat menggoda, mengetahui sejauh mana cowok kaku itu bisa tergoda. Di tangah Siska tergenggam kamera polaroid, tak lupa beberapa foto yang sedianya akan digunakannya untuk memeras Leo nanti, tapi yang terjadi justru di luar dugaannya!

Darimana logikanya gadis berwajah manis itu bisa menjelma menjadi iblis wanita? Kinan bahkan tidak mengenali dirinya sendiri lagi. Seolah-olah yang berkuasa atas tubuhnya adalah sosok lain yang selama ini bersemayam dalam kepalanya. Kinan mengeluarkan seringai binal bak seorang Dewi Seks yang dipuja para penganut Paganisme, merangkak di atas tubuh Leo yang belum selesai mengelepar. Kasar, dijambaknya rambut Leo, dan dikangkanginya wajah tampan pemuda itu.

“Hisap!” hardik Kinan. Demi Tuhan, Kinan bahkan tidak mengenali suara yang keluar dari kerongkongannya sendiri. Karena saat ini yang memegang kendali adalah dorongan primordialnya belaka. Dikangkanginya wajah Leo, dan dipaksanya pemuda itu menghisap setiap mililiter lendir yang menetes-netes dari dalam lubang kelaminnya. Kinan tertawa lebar. Sisi gelapnya bersorak bahagia.

Tenggorokan Siska terasa kering. Kakinya gemetar melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa disaksikannya dalam kaset Betamax porno itu. Puas memperkosa wajah Leo, Kinan berjongkok di atas perut pemuda itu, menjangkau ke bawah dan mengarahkan batang kejantanan sang pemuda ke dalam liang senggama yang meneteskan lendir. Kinan bahkan tidak perlu banyak berusaha, karena dalam satu gerakan batang penis Leo sudah terbenam ke dalam tubuhnya.

Menyeringai, Kinan menjambak Leo sebelum mulai menggerakkan pinggul. Rintihan dan efek suara khas pengiring adegan persetubuhan segera mengambil alih. Melihat payudara Kinan yang berguncang-guncang erotis ketika ia menunggangi tubuh Leo dalam posisi woman on top, tentu saja membuat klitoris Siska berkedut-kedut nikmat. Sekuat tenaga Siska menahan diri untuk tidak menyentuh dirinya sendiri, tapi melihat kakaknya dilecehkan seperti itu, tangan Siska seperti bergerak dengan sendirinya mencari muasal rasa gatal di selangkangannya.

Siska terpaku tak bergerak, matanya menatap tak berkedip kearah tubuh telanjang Kinan yang menandak-nandak nikmat di atas tubuh kakaknya. Siska membelai dirinya sendirian, sepasang tungkainya gemetar hebat melihat batang kejantanan kakaknya keluar masuk liang senggama Kinan yang becek dan mengeluarkan efek suara berkecipak mesum setiap pinggul keduanya bertumbukan.

Siska mengerang sendirian. Tangannya berpegangan erat pada kisi-kisi jendela sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bergabung dalam adegan seks three in one, ─dengan kakaknya pula─, rasanya terlalu gila untuk diwujudkan dalam waktu sepagi itu. Siska cepat-cepat beringsut, menarik ujung kepalanya di balik rerimbunan palem di luar daun jendela, berusaha menyembunyikan keberadaannya.

Sebenarnya, Kinan bukannya tidak menyadari kehadiran Siska. Sekilas ia menangkap kelebatan wajah anak itu ketika mendengar suara erangan dari luar jendela. Bayangan yang jatuh dari arah jendela membuat Kinan sadar betul bahwa ia sedang diawasi. Menyadari bahwa ada orang ketiga yang melihatnya sedang berhubungan badan justru membuat relung-relung tubuh sang gadis eksibisionis seperti terbakar hebat. Kinan mengerang penuh kenikmatan, sengaja mengeluarkan ekspresinya yang paling binal sambil meremas payudaranya sendiri, demi memberikan tontonan paling epic kepada audiensya.

Siska tidak tahan lagi, melihat ekspresi sundal di atas wajah innocent Kinan, membuat kenikmatannya berada di ambang pintu. Siska termegap nikmat, sedang berusaha mendaki puncaknya sendiri, ketika suara rintihan sepasang insan yang sedang bergumul di dalam kamar itu juga terdengar bergerak dalam ekskalasi menuju puncak kenikmatan. Tubuh Leo berkejut-kejut nikmat memenuhi rahim Kinan dengan benihnya, diikuti dengan semprotan cairan squirt yang menyemburat dari dalam lubang kencing Kinan. Sepasang mata Siska yang menatap sendu ke arahnya adalah hal terakhir yang dilihat Kinan sebelum ambruk di atas dada Leo.

Siska beringsut perlahan, sedapatnya tidak mengeluarkan suara. Lelehan basah cairan cinta yang mengilap di paha jenjangnya adalah hal pertama yang ingin ia keringkan. Setidaknya. Siska mengendap menjauh, tak ingin mengusik Kinan dan Leo yang masih saling pagut dan menikmati sisa-sisa desiran orgasmik yang masih tersisa dalam ingatan.

Matahari beranjak meninggi, tapi ia tahu semuanya tak akan berakhir hanya sampai di sini.

Bersambung

Daftar Part