. Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 78 | Kisah Malam

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 78

0
334

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 78

TETESAN DARAH​

Desa jati luhur beberapa tahun silam..

Aku yang sedang berlibur didesa ini, seperti biasa.. senang berkeliling kesawah untuk menikmati padi yang menghijau serta menghirup udara yang segar dari pepohonan disekitar sawah dan sungai… dan apa yang aku lakukan itu selalu membuat pikiranku tenang dan damai.. padahal setelah dari sawah.. kulitku selalu tergores terkena batang – batang padi yang menghijau.. dan goresan dikulitku akan semakin parah, apa bila terkena daun padi yang telah menguning.. ga tau kenapa kulitku ini sensitive dengan daun padi.. apa karena aku ga terbiasa didesa..? entahlah..

Setelah berkeliling sawah.. akupun beristirahat dipondok yang ada dibawah sebuah pohon yang besar, dan disebelahnya ada sungai yang agak lebar, airnya mengalir sangat jernih…. sungai ini membelah antara desa jati luhur dan desa jati bening.. desa jati luhur itu desa mbah jati.. sedangkan desa jati bening yang agak jauh setelah melewati sungai dan diatas gunung, adalah desa eyang ranajaya.. ayah dari ibuku..

Aku pun melanjutkan bersantai sejenak.. angin yang semilir – semilir dan bunyi aliran sungai yang terdengar merdu, langsung membuat kepalaku berat dan mataku mengantuk.. cuukkk.. tenang dan damai sekali didesaku ini.. hiufffttt.. huuuu..

Aku lalu merebahkan diriku dibalai, didalam pondok yang terbuat dari anyaman bambu..

Pelan – pelan aku merasa mataku mulai terpejam.. tiba – tiba aku merasa ada tangan halus yang meraba paha bagian luar, lalu merambat kebagian dalam dan terus naik.. cuukkkk.. rabaan ini langsung membuat birahiku naik perlahan.. dan lama – kelamaan aku merasa rabaan itu berada diselakanganku.. dan rabaan itu langsung berubah menjadi remasan yang pelan dan sangat nikmat tepat dikedua bijiku..

“hemmm..” aku bergumam keenakan..

Remasan itu pun naik lagi kearah batangku.. dan ketika tangan itu sudah dibatangku, remasan itu berganti menjadi kocokan pelan dari luar celanaku.. cuukkk.. mimpi apa aku ini..? kok enak sekali ya..

Perlahan aku membuka kedua mataku yang terpejam…

Dan betapa terkejutnya aku.. diatas posisiku tidur sekarang.. ada seorang wanita yang sangat cantik sekali.. dia duduk dengan berselonjor dan wajahnya menatap wajahku sangat dekat sekali.. assuuu.. aku kaget bukan kepalang.. apa ini halusinasi ku saja..? terus siapa yang dihadapanku sekarang ini, setan atau manusia..? aku pun langsung mengucek kedua mataku dengan pergelangan tangan kanan dan tangan kiriku, dan ini aku lakukan untuk memastikan apa yang aku lihat… nyata atau tidak.. lalu aku menatap lurus lagi dan masih dalam posisi tidur terlentang… dan wajah wanita cantik itu tetap berada diatas wajahku dan tangannya diam dibatang kemaluanku…

Bajingaaaannn….

Dia tersenyum dengan manis dan pandangan matanya langsung membuat aku gemeteran…

Akupun langsung memundurkan tubuhku menggunakan kedua sikutku.. aku merayap menggunakan punggungku kearah dalam pondok… pegangannya dibatangku pun terlepas…

“ka.. ka.. kamu siapa..?” ucapku dengan terbata – bata…

“hihihihihi.. masa cucu dan anaknya preman penakut sih..?” ucapnya sambil tertawa..

“siapa yang ga takut.. ditengah sawah yang sepi gini, tiba – tiba ada cewe yang datang langsung megang selangkangan..? apa ga nyeremin..?” ucapku.. lalu pelan – pelan aku dorong tubuh sampai aku terduduk..

“nyeremin apa ngenakin..?” ucapnya sambil membuka kedua matanya dengan lebar lalu memiringkan sedikit kepalanya.. asuuu.. wanita ini cantik sekali.. dan dia langsung membungkukan tubuhnya menghadapku.. tubuhnya yang hanya ditutupi kain jarik pun langsung memperlihatkan bongkahan indah di kedua buah dadanya yang putih bersih dan besar.. dan dengan perlahan dia merangkak mendekati aku.. cuukkk.. aku lalu memundurkan tubuhku sampai aku tersandar didinding pondok…

“stop ya.. stooopppp..” teriakku kepadanya…

“hihihihihi..” dia tertawa lalu menghentikan gerakannya dan langsung duduk dengan bersimpuh dikedua lututnya.. kedua tangannya pun menutupi mulutnya yang mungil dan tawanya yang kedengaran menyeramkan itu.. sebenarnya sih ketawanya terdengar merdu.. tapi berhubung ini ditengah sawah yang sepi dan tidak ada siapa – siapa dan aku tidak mengenalnya sama sekali.. pasti suaranya jadi mengerikan lah.. assuuu…

“kamu ini siapa sih..? kok nyeremin banget..?” tanyaku dengan posisi yang masih terpojok..

“ihh.. jangan takut gitu kenapa sih..? kayak mau aku makan aja kamu itu..?” ucapnya dengan agak sedikit sinis..

“kamu tuh ya.. ditanyain dari tadi siapa kamu, kok ga dijawab – jawab..?” tanyaku dengan sedikit agak keras..

“emang kenapa kamu mau tau siapa aku..?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya dan melebarkan kedua matanya lagi.. bajingannn.. ga salah nih pertanyaannya..? ya jelaslah aku mau tau siapa dia, siapa coba yang ga pengen tau sama wanita, yang tiba – tiba datang terus main pegang – pegang gitu..? assuu’og..

Tapi ngomong – ngomong, wanita ini memang benar – benar cantik sekali.. asliii cantik.. kulitnya putih, pipinya agak chubby, bibirnya mungil, dua gigi depannya pun terlihat agak seperti gigi kelinci.. dan dia hanya memakai kain jarik untuk menutupi tubuh montoknya.. kalau seandainya dikota.. sudah kupacarin dia.. tapi berhubung ditengah sawah gini.. siapa coba yang berani..? berkenalan pun berpikir dua kali aku.. jiancookkk..

“kamu mau jadikan aku pacarmu ya..? hihihihihi..” ucapnya lagi dan diakhiri dengan tawanya yang lagi – lagi terdengar menyeramkan.. assuuu.. dia bisa baca pikiranku atau gimana nih..? bajingaaannn..

“cuukkk.. bisa ga langsung dijawab aja pertanyaanku.. ga usah bertele – tele..” ucapku dengan tegas untuk menutupi rasa grogiku..

“ihhhh.. kenapa sih keturunan jati yang satu ini kok ngambekan..? emang ga bisa bercanda sedikit gitu ya..?” ucapnya dan kali ini dia terlihat agak kesel..

Kurang ajar wanita satu ini.. enak sekali dia memanggil nama mbahku.. asssuuu..

“jaga bicaramu ya.. enak sekali kamu manggil nama mbahku..” dan kali ini suaraku benar – benar meninggi sambil aku menunjuk wajah cantiknya.. aku sudah tidak setakut dan segrogi tadi.. kalau sudah menyangkut keluargaku.. iblis terjahat sekalipun akan kuhadapi.. assuu’og..

“uppsss.. marah beneran ya..” ucapnya sambil jari – jari lembutnya menutup mulutnya lagi sebentar dengan tetap memandangku.. dan kali ini wajahnya agak serius menatapku..

“kalau bicaramu seperti tadi tentang keluargaku.. aku bukan ngambek lagi, tapi aku akan marah.. dan aku tidak perduli siapa kamu..” ucapku dengan emosi yang terus naik dikepalaku dan mataku mulai melotot..

“san.. keluarga jati tidak pernah kasar terhadap wanita, walaupun lewat ucapan sekalipun atau gerakan tubuh.. semarah – marahnya keluarga jati terhadap wanita.. dia pasti akan diam atau bicara sedikit tapi mengena.. ingat T I D A K K A S A R..” ucapnya dengan akhiran kata yang diperlambat dan dipertegas.. lalu dia turun dari balai – balai bambu dan berbalik lalu berjalan kearah sungai..

Bangsattt.. siapa sih wanita ini..? kenapa dia mengenali aku dan seluruh keluargaku.. sampai sikap seluruh keluargaku terhadap wanitapun dia paham sekali.. bajingaannn.. dan kata – katanya tadi langsung membuatku terdiam…

Aku terus memperhatikan nya berjalan kearah sungai.. cuukkk.. bokongnya semok dan padat cuukkk.. pasti kalau berjalan, gesekan antara bongkahan bokong yang kanan dan yang kiri menghasilkan suara yang merdu.. dan kalau sempat dijepit dibelahan bokong itu, bisa langsung ga bernafas kita.. hahahahaha.. assuuu.. mikir apa sih aku ini..? dalam situasi seperti ini otak kotorku masih bisa bermain.. bajingaannn..

Siapa sih wanita ini..? apa dia wanita penunggu sungai dan sekarang dia mau kembali kerumahnya itu..? bangsattt.. bulu kudukku pun berlahan berdiri.. iiiiiiii..

Kulihat wanita itu menyeburkan dirinya kesungai lalu menenggelamkan perlahan tubuhnya sampai seluruh kepalanya masuk kedalam air.. dan sekarang dia telah tenggelam didalam sungai dan tidak muncul lagi.. jiancookkkkk.. dia beneran setan cuukkk.. aku pun cepat bergegas dan turun dari balai bambu dan ketika aku akan berlari meninggalkan tempat itu..

“mau kemana kamu san..?” ucap wanita itu memanggilku.. asuuu.. dia muncul lagi.. secepat apapun aku berlari, dia pasti dengan mudah mengejarku.. karena dia kan setan penunggu sungai.. bajingaaannn.. aku pun menghentikan langkahku..

Akupun langsung berbalik dan menatapnya lagi.. dan kali ini dia memunculkan tubuhnya setengah pinggang keatas.. kain jarik yang menutupi tubuhnya basah oleh air, sehingga terlihat sangat ketat sekali dan menampilkan tubuhnya yang ramping dan buah dada yang menonjol.. assuuuu.. seksi cuukk.. seksi pake banget…

“kamu itu takut atau nafsu sih sebenarnya..?” tanya wanita itu sambil memiringkan lagi kepalanya dan melebarkan kedua matanya.. asuuu.. cantikk sekali cuukk..

“siapa yang ga takut ngelihat wanita yang tiba – tiba datang, ga dikenal, ngeremas selangkangan, ngajak ngobrol yang sok dekat, terus masuk kesungai dan menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai kepalanya..? apa ga ngeri itu..? iiiii…” ucapku sambil menggidikan tubuhku..

“kalau takut, kenapa kok nafsu gitu ngelihatnya..?” dan kali ini dia menekuk kedua lututnya sampai menenggelamkan tubuhnya sebatas lehernya..

“gimana ga nafsu kalau kain penutup tubuhmu basah terus buah dadanya nyeplak begitu..?” ucapku

“ga konsisiten jadi laki – laki.. jadi intinya kamu itu takut apa nafsu..?” ucapnya lalu berenang menggunakan gaya punggung.. asuuu.. buah dadanya seperti melambai memanggilku dan meminta untuk diremas… cuukkk.. janncuukkk.. bisa – bisa kuperkosa nih wanita disini.. ga perduli setan atau apalah namanya.. tapi gimana caranya..? aku kan belum pernah berhubungan intim.. asuuu.. assuu… usiaku baru beberapa hari ini tujuh belas tahun.. jadi wajarkan kalau aku belum ada pengalaman tentang seks.. lagian dengan pacarku wulan pun, aku hanya sekedar ciuman atau meremas dikitlah.. hehehehehe… (kejadian ini beberapa hari sebelum aku mengambil perawan wulan..)

“kamu itu ya.. enak banget sih kalau bicara.. sebenarnya kamu itu siapa..?” ucapku lalu berjalan mendekati sungai.. terus terang sekarang aku jadi makin penasaran dengan wanita ini dan sudah tidak takut lagi.. dan aku pun duduk dibatu yang lumayan besar dipinggir sungai..

“kamu turun dulu kesini.. baru aku akan mengenalkan diriku..” ucapnya sambil terus berenang menggunakan gaya punggung agak ketengah sungai.. asuuu.. baiklah kalau maunya dia begitu.. siapa tau habis kenalan, aku dapat enak – enak dikit… hehehe.. dan yang ada dipikiranku sekarang.. ga mungkin dia setan.. setan kok bisa basah kena air.. hehehehe..

Akupun mulai membuka kaosku dan celana panjangku.. lalu dengan hanya menggunakan CD, aku pun mulai masuk kedalam sungai..dan dalam sungai ini hanya sebatas pinggangku saja.. airnya dingin, jernih dan segar sekali…

Aku lalu agak menekuk lututku sampai aku terendam air sungai sebatas leherku.. setelah itu aku tenggelamkan kepalaku kedalam air sebentar, lalu muncul kembali hanya sebatas kepalaku saja.. bangsaatttt.. airnya terasa sangat menyegarkan dikepala dan itu langsung membuat pikiranku rileks dan nyaman..

Walaupun aku asli desa jati luhur, tapi baru kali ini aku berenang disungai ini.. tapi aku ga tau waktu aku kecil dulu, pernah ga aku dibawa kesungai ini untuk berenang.. aku sudah ga ingat akan hal itu..

“gimana..? enak ya..? segarkan airnya..” ucap wanita itu dan berenang mendekati aku..

“lumayanlah..” ucapku dengan cueknya..

“dasar anak kota.. gengsinya tinggi banget.. kalau segar ya segar.. kalau ngga ya ngga.. jangan lumayan.. kata – kata lumayan itu nanggung banget dan ga enak didengar..” ucap wanita itu sambil melirikku..

“ga usah mulai lagi ya.. aku lagi nikmatin air sungai ini..” ucapku lalu aku menyelam lagi.. dan memunculkan kepalaku lagi..

“ahhhhh…” ucapku lalu membersihkan wajahku dari air dan dilanjutkan dengan membersihkan rambutku dengan kedua tanganku..

“namaku gadis..” ucap wanita itu.. cuukkk.. akhirnya dia menepati janjinya juga.. dia memperkenalkan diri tanpa kuminta..

Gadis​

“tinggal dimana..?” tanyaku dan kali ini aku menantap wajahnya dengan santai.. dan aku perkirakan wanita ini berumur antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun..

“ga usah tau banyak tentang aku.. dan tatapanmu itu ga usah begitu..” ucapnya dan wajahnya agak memerah.. entah malu atau marah..

“emang salah ya kalau aku melihat wanita cantik dengan tatapan seperti ini..?” tanyaku kepadanya..

Dia lalu memercikan air dengan kedua tangannya kearahku..

“gombal..” ucapnya sambil tersenyum malu…

Cuukkk.. cantik bener kamu dis.. cantik banget..

“boleh aku tanya satu lagi..?” ucapku kepada gadis..

“apa..?” dan dia melebarkan kedua matanya yang indah itu lagi, sambil memiringkan kepalanya sedikit.. assuuu.. apa setiap dia bertanya harus seperti itu ya ekspresinya..?

“kok kamu kenal aku..?” tanyaku..

“siapa sih yang ga kenal sama cowo ganteng kayak kamu itu.. hihihihi..” ucapnya lalu tertawa kecil dan menunduk malu.. assuuu.. dibalikkan kata – kata ku tadi sodara – sodara.. jadi enak juga akunya.. hahahahahaha..

“jadi balas nih ceritanya..” ucapku dan kembali aku menatapnya dengan santai..

“san.. jangan tatap aku dengan tatapanmu seperti itu ya..” ucapnya lagi dan kali ini wajahnya terlihat serius..

“emang kenapa..? kamu takut jatuh hati sama aku ya..?” tanyaku main – main.. cuukkk.. mulut ini kalau sudah sama wanita cantik pasti seperti ini.. bajingann.. kenapa ga bisa direm sih..?

“hehehehe.. memang keluarga jati itu terkenal dengan ucapan manisnya ya..” ucapnya dengan dingin..

“hey.. jangan mulai lagi ya..” ucapku sambil meliriknya..

“habis kamu gitu sih..” ucapnya sedikit meraju dan memanyunkan bibirnya yang seksi.. asuuu.. mulai kan.. dia terperangkap dengan kata – kataku atau sengaja memancingku..? kalau begini, aku jadi ingin memeluk dan mencium bibir seksinya..

Akupun mendekati gadis.. dan makin lama aku mendekati dia.. aku merasa seperti ada ikatan batin dengannya.. ntah apa namanya.. yang jelas dadaku bergetar ketika sudah didekatnya dan dia tidak menggeser tempatnya berada sedikitpun ketika aku dekati..(cuukkk.. kenapa kalau dekat dengan wanita cantik, aku selalu ngerasa ada ikatan batin ya..? ikatan batin apa ikatan nafsu.. hahahahaha.. assuuuu..)

Dan ketika aku sudah dihadapannya, kami saling menatap.. dan wajah kami, makin lama – makin mendekat… bibir kami pun tinggal beberapa centi lagi untuk saling mengecup dan melumat.. matanya terpejam dan bibirnya agak terbuka sedikit.. dekat dan dekat lagi.. aroma nafasnya pun tercium sangat harum.. bibirnya sedikit bergetar dan nafasnya memburu.. dan gadis tetap memejamkan kedua matanya sambil memiringkan kepalanya… lalu…. (maaf tidak dilanjutkan.. karena usiaku pada saat itu tujuh belas tahun.. karena peraturannya kan harus berusia delapan belas tahun.. dari pada nanti dapat teguran.. dan mohon maaf kepada admin.. karena ceritanya ini ada hubungannya dengan kisah masa lalu sandi.. jadi mohon dimaafkan kalau agak menyerempet dengan under age.. mohon dimaafkan..)

Dilanjut lagi ya.. dan setelah kami melakukan hubungan sex yang pertama kali bagiku itu.. aku menatap wajah gadis yang sedang telanjang bulat.. dia begitu sangat cantik.. dan dia tidak menangis ataupun menyesal setelah berhubungan badan denganku barusan.. dia hanya tersenyum dengan manisnya kepadaku.. aku pun menurunkan pandanganku.. aku melihat bongkahan buah dadanya yang putih dengan puting kecil dan merah.. dan pandanganku turun lagi melihat perutnya yang rata dan turun lagi tepat diselangkangannya.. dan aku langsung terkejut ketika mendapati darah yang mengalir dari kemaluan gadis.. dan darah itu bercampur dengan air sungai.. aku pun cepat keluar dari sungai dan berlari karena takut sekali.. bajingaann.. apa aku sudah bener – benar melakukan hubungan sex..? apa aku benar – benar kehilangan perjakaku..? assuuu.. aku berlari tanpa mengenakan pakaianku lagi dan aku hanya menggunakan CD yang kupakai tadi waktu berenang.. dan pada saat aku berlari, tiba – tiba aku tersandung batu, dan aku jatuh ketanah lalu kepalaku terbentur batu yang lumayan besar..

JEEDDUUUKKKK..

pandanganku berbayang dan mataku berkunang – kunang.. akupun merasa ada cairan keluar dari kepalaku.. dan aku meraba disekitar kepalaku.. cuukkk.. ini darah.. asuuu.. lalu..

Gelap..

“AAARRGGGHHHHH..” aku pun duduk dengan keringat yang keluar dari keningku sebesar biji jagung dan aku sekarang duduk dibalai bambu lagi.. assuuu.. kok bisa aku ada disini..? apa aku tadi tidur dan bermimpi..? aku lalu meraba kepalaku.. ga ada luka.. tapi kenapa rambutku basah..? apa ini keringat..? bangsattt..

Aku pun mengingat lagi kejadian beberapa saat lalu.. aku mengingat setiap detail persetubuhanku tadi dengan gadis.. bajingann.. mimpi atau nyata itu..? oh iya seingatku, tadi kan ada darah dikemaluan gadis.. aku lalu membuka kemaluanku dan melihat batangku.. kalau memang nyata hubungan badanku dengan gadis, berarti masih ada darah gadis yang menempel dibatangku.. aku pun mendunduk, lalu memperhatikan kepala batang kemaluanku sampai ke pangkal bawah batangku…

“hai bang..” ucap sesuatu mahluk menyapaku.. aku pun terkejut sampai tubuhku terangkat sambil menutup celanaku lagi.. bangsattt.. suara apa itu..? masa batangku bisa bicara sih..? aku lalu mengangkat wajahku dan menatap lurus kearah depan..

“siapa kamu..? dan dimana kamu..?” ucapku sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari asal suara yang mungkin berasal dari sekelilingku..

“dibawah sini bang.. dibawah.. kenapa ditutup sih..?” ucap mahluk itu dan suaranya memang dari arah selangkanganku.. bajingaaannn.. masa batangku bisa bicara sih..? ah ga mungkin.. ini pasti cuman khayalanku saja.. dengan tubuh yang gemetar.. aku mengintip lagi dibalik celanaku dan aku tutup lagi dengan cepat.. cuukk..

Ga mungkin.. ini ga mungkin.. mana ada batang yang bisa bicara.. assuuu.. dan untuk membuktikannya.. aku lalu menepes kepala batangku pelan dari luar celana..

PLAKKKKK..

“aadduhhhh.. bangsat kamu bang.. apa salahku..? kenapa kepalaku ditepes..?” ucap mahluk ditengah selangkanganku ini..

“cuukkkk.. jadi kamu batangku yang bisa bicara ya..?” tanyaku dengan terkejutnya… dan aku tetap tidak membuka celanaku..

“ya iyalah bang..” ucapnya sambil merenggangkan sedikit tubuhnya.. assuuu.. masa mau berdiri.. kalau dia berdiri, sebesar apa dia..? apa masih seukuran batangku yang kemarin..? Cuukkk.. apa aku ini mimpi lagi ya..? aku lalu menampar keras pipi kananku..

PLAKKKKK..

Assuuu.. sakit sekali.. berarti ini ga mimpi.. tapi apa memang bisa batangku ini bicara..? tapi gimana caranya kok tiba – tiba bisa bicara..? kemarin – kemarin kan ga pernah..? jiampuutt.. terus gimana dengan gadis tadi..? apa itu benar – benar nyata atau hanya mimpi..? kalau nyata kemana dia sekarang..? terus kalau nyata, siapa yang memakaikan aku baju lagi.. tadikan waktu aku berlari keluar sungai hanya menggunakan CD aja.. dan kepalaku berdarah terbentur batu.. bajingaannn..

“ke.. kenapa kamu bisa ngomong..?” tanyaku dengan terbata sambil melihat tonjolan celanaku.. bajingan.. ini kalau ada orang lewat, pasti disangkanya aku gila.. sandi cucu mbah jati bicara sama batangnya.. asuuu.. asuuu..

“usiamu sudah tujuh belas bang.. dan sudah saatnya aku akan berada dibawah perutmu ini..” ucapnya dengan sedikit serius..

“cuukkk.. jadi kamu ada disini seterusnya gitu..?” tanyaku lagi..

“diam aja sudah kamu bang.. terlalu banyak pertanyaan diotakmu itu.. jalani aja lah.. nanti waktu yang akan menjelaskan semuanya, dan bila sudah waktunya.. aku akan pergi dengan sendirinya.. hehehehe..” ucap mahluk yang ada diselangkanganku itu..

Cuukkk.. aku lagi malas berdebat.. aku lagi bingung sekarang.. belum hilang rasa kaget dengan wanita bernama gadis, sekarang sudah ada mahluk yang ada diselangkanganku.. bajingaaannn..

Akupun lalu turun dari balai bambu dan berjalan kearah rumah mbah jati.. aku terus berjalan dengan sejuta pertanyaan dikepala.. dan hari pun sudah mau sore..

“woi..” ucapku sambil berjalan dan menundukkan kepalaku.. aku menatap tonjolan diselangkanganku.. dan aku sedang memanggil mahluk yang ada diselangkanganku.. aku sengaja memanggil untuk memastikannya sekali lagi, dia ini memang bisa berbicara atau hanya halusinasiku aja..?

“wooiii..” panggilku lagi dan tidak ada suara.. bajingan.. mimpi aja toh tadi itu.. asuuu..

Aku lalu menampar dengan pelan lagi kepala batangku..

PLAKKKK..

“aduuhhh.. bangsattt.. kenapa lagi aku ditampar bang..? salah apa aku..? assuuu kamu itu..” ucapnya bersuara dari balik celanaku..

Cuukkk.. beneran bisa bicara dia.. bajingaaannnn…

“kamu dipanggil diam aja.. asuuu..” makiku..

“jadi woi tadi itu manggil aku bang..? bangsat kamu bang.. nama ku itu jago.. jago yang perkasa.. besar, panjang, berurat dan tahan lama.. hahahahahaha..” ucapnya alu tertawa..

“assuuu.. namamu jago..?” tanyaku sekali lagi..

“iya bang.. jago.. “ ucapnya dengan santai.. bajingannn.. gila aku ini.. gilaa…

Dan setelah sampai dirumah mbah jati, akupun melihat ilham sedang duduk santai diteras diatas balai bambu..

“mas.. dari mana seharian..? kok keluar ga pamit..? dicariin mbah putri sama mbah kung itu..” ucap ilham sambil menatapku..

“dari sawah ham..” ucapku singkat.. lalu aku duduk disebelah ilham.. karena ini lagi dirumah mbah jati, aku dan ilham tidak berani merokok.. karena kami berdua masih sekolah.. kami takut diomelin mbah putri…

“kamu itu mas.. ga kapok – kapoknya kesawah.. lihat kulitmu itu kalau dari sawah.. pasti banyak goresan lukanya..” ucap ilham dengan seriusnya..

“ah.. goresan kecil aja ini ham..” ucapku lalu aku menatap lurus kearah jalan.. pandanganku masih kosong dan masih seperti orang yang kebingungan..

“dikasih tau, pasti gitu jawabnya..” ucap ilham dengan ketusnya.. dan aku tidak menghiraukan kata – kata ilham.. aku tetap diam dengan berbagai pertanyaan dikepalaku..

“kenapa sampean mas..? kok kelihatan bingung gitu..?” tanya ilham dengan herannya..

“kamu kenal cewe yang namanya gadis ham..?” tanyaku ke ilham…

“gadis..? ga ada didesa ini yang namanya gadis mas..” ucap ilham sambil mengerutkan kedua alisnya..

“kalau dari desa jati bening ada ga..?” tanyaku lagi..

“ga ada juga mas.. hampir semua cewe desa jati luhur sama desa jati bening aku kenal.. emang kenapa mas..?” kata ilham..

“ga pa – pa..” ucapku berbohong..

“sandi…” panggil mbah jati dari dalam rumah..

“iya mbah..” ucapku lalu melihat ilham sebentar lalu berdiri dan masuk kedalam rumah..

Dan ketika aku sudah diruang tengah.. mbah jati sedang duduk dengan santainya sambil menghisap lintingan klobotnya..

“duduk le..” ucap mba jati kepadaku..

“iya mbah..” ucapku lalu duduk dikursi didepan mbah jati..

“besok kamu balik kepulau seberang ya..?” tanya mbah jati..

“iya mbah..” jawabku singkat..

“kamu sudah tujuh belas tahun ya..?” tanya mbahku..

“iya mbah..”

“oke.. mbah sudah bicara dengan ayahmu dan ayahmu juga setuju.. sekarang tergantung dari kamu sendiri..” ucap mbah jati yang membingungkanku.. assuu.. gimana aku ga bingung.. sudah seharian ini ada kejadian yang membuat otakku berpikir keras, sekarang mbah jati langsung berbicara dan sudah ada persetujuan dari ayahku.. tapi tentang apa..? huuu.. bisa gila beneran aku lama – lama didesa ini..

“maksudnya mbah..?” tanyaku dengan heran..

“tattoo keluarga jati.. setiap laki – laki dikeluarga ini yang sudah berumur tujuh belas tahun, akan ditatto rajawali didadanya.. apa kamu bersedia..?” tanya mbahku sambil menatapku dengan santai lalu menghisap lintingan klobotnya..

Cuukkk.. serius nih aku ditatto..? bajingaannn.. keren dong aku.. assuuuu..

“tattoo ini bukan untuk keren – kerenan le.. ini tattoo identitas keluarga kita..” ucap mbah jati dengan dinginnya..

Cuukkk.. mbah jati bisa membaca pikiranku..? bajingaannn..

“kalau kamu setuju.. kamu masuk kekamar ya..” ucap mbah jati lalu berdiri dan berjalan masuk kekamar tengah.. kamar yang biasa dipakai mbah jati untuk berdiam diri dan bukan kamar yang biasanya dipakai untuk tidur…

Cuukkk.. pikiranku pun langsung kacau.. antara senang dan takut.. senang karena ada perasaan bangga dan takut karena aku masih sekolah.. nanti kalau ketahuan gimana..? apa ga dikeluarkan dari sekolah.. terus apa ibu ga ngamuk sama aku..? tapi tadi mbah jati sudah bicara dengan ayah.. berarti ayah telah mengkondisikannya.. assuudahlah.. lebih baik aku masukk aja dulu kekamar mbah jati.. aku ini kan cucu pertama.. dan baru aku cucu mbah jati yang akan ditatto..

Lalu dengan langkah kaki yang mantap.. aku berjalan kekamar mbah jati.. dan ketika aku sampai didepan kamar beliau.. aku langsung mengetuk pintunya..

TOK.. TOK.. TOK..

“masuk le..” sahut mbah jati dari dalam kamar..

Aku pun langsung membuka perlahan pintu kamar tersebut.. dan suasana yang angker dan hawa yang menyeramkan langsung menyambutku.. kamar ini memang tidak ada yang berani masuk kecuali mbah jati sendiri atau mbah putri.. tapi mbah putripun jarang sekali masuk kekamar ini.. karena kamar ini bukan kamar tidur beliau berdua..

Cahaya yang remang – remang dan aroma bunga melati langsung terasa dihidungku.. bajingaannnn..

“masuklah..” ucap mbah jati sambil duduk ditepi kasur.. aku lalu masuk dan berdiri dihadapan mbah jati..

“minum ini dulu..” ucap mbah jati sambil menyerahkan segelas ramuan kepadaku.. rasanya hambar dan aku langsung menghabiskannya..

Setelah itu mbah jati menyuruhku membuka kaosku dan tidur terlentang diatas kasur.. setelah itu mbah jati mengambil dua bilah kayu.. yang satu ujungnya ada jarumnya dan yang satu tidak..

Dan setelah mbah jati berdiam diri sejenak.. mbah jati menaruh ujung kayu yang ada jarumnya didadaku dan memukulnya dengan kayu yang satu dengan pelan..

TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK.. TUK..

Bunyinya sangat pelan dan ketika jarum itu menyentuh kulitku dan tertanam sedikit.. tidak ada terasa sakit sama sekali yang aku rasa.. dan ukiran didadakku terus dilakukan oleh mbah jati.. beliau merajah dadaku sambil menembangkankan lagu – lagu pulau ini.. sebenarnya aku ingin bertanya dengan mbah jati tentang kejadian yang menimpaku hari ini.. siapa lagi kalau bukan gadis dan jago.. tapi irama ketukan kayu mbah jati membuatku langsung mengantuk dan perlahan aku memejamkan mata..

“le..” samar – samar aku mendengar suara mbah jati disela ketukan kayu didadaku..

“banyak kejadian yang akan kamu alami setelah ini.. diusiamu yang sudah beranjak dewasa ini.. kamu akan meraih cita dan cintamu dengan ditemani pikiran, akal, nafsu, hati, dan ruh..”

“sebenarnya semua manusia memiliki itu.. tapi untuk kamu, kamu akan mengalami hal yang berbeda.. kamu akan bisa berbicara dengan beberapa ‘temanmu’ itu, seperti kamu berbicara dengan manusia.. dan kalian akan terus berbicara sampai waktunya tiba, ketika cita dan cintamu telah kamu raih.. mereka akan diam dan tidak bicara lagi..”

“dan mbah hanya berpesan kepadamu.. berpeganglah pada tali kesadaran hidup.. karena itu yang akan membimbingmu selama perjalan hidupmu nanti.. ”

Suara mbah jati itu terdengar samar – samar.. antara sadar dan tidak sadar sampai aku terlelap.. dan aku baru bangun ketika sudah pagi hari..

Aku terbangun dan langsung keluar dari kamar mbah jati.. dan kondisiku yang tidak memakai kaos, menampakkan jelas tattoo yang ada didadaku.. assuuu.. tattoo ini keren dan sangar.. sama seperti tattoo ayah dan tattoo mbah jati.. lek gito dan lek ji’i, juga memiliki tattoo ini.. bajingannn..

Dan sore hari itu juga.. aku balik ke pulau seberang seorang diri.. karena berangkatnya pun hanya seorang diri.. aku kembali dengan berbagai macam pertanyaan.. semoga ini terjawab semua dengan berjalannya waktu.. semoga..

Itulah cerita singkatku tentang gadis misterius, jago dan tattoo didadaku..

Sekarang kita kembali kepertarungan di markas cakra..

Kami dari pondok merah, lek ji’i, lek gito, gani dan para anggotanya telah berhasil merobohkan barisan yang ada dihalaman.. dan kami sekarang telah masuk diruangan utama dirumah yang sangat besar ini.. ruang tengahnya pun terlihat sangat luas..

Kondisi kami pun banyak yang terluka dan berdarah – darah.. anggota lek ji’i dan lek gito pun sebagian tertinggal diluar dan beristirahat karena luka yang parah.. dan mereka tidak mau meninggalkan tempat ini tanpa bersama kami..

PROKK.. PROKK.. PROKK.. PROKK..

Seseorang keluar ruangan sambil bertepuk tangan.. dan dibelakangnya puluhan orang pun tampak keluar dan langsung berdiri dihadapannya.. cuukkk.. cakra.. akhirnya muncul juga dia.. bajingaannn.. cakrapun lalu berdiri diatas panggung diruang tengah..

“akhirnya kalian bisa masuk juga kedalam rumahku ya.. hahahahahaha..” ucap cakra lalu tertawa..

“halo irawan.. apa kabar..? sudah bahagia hidupmu sekarang..? assuuu..” maki cakra dan tiba – tiba mimik wajahnya berubah.. bangsat nih cakra.. bisa – bisa nya seorang preman besar gini baperan.. asssuuuu.. tapi cinta memang gila kok.. dia tidak memandang siapapun.. rahwana yang sakti mandraguna itupun bertekuk lutut dan rela melakukan apapun demi merebut pujaan hatinya, sinta.. bajingaann..

Ayahku tidak menjawabnya.. ayahku hanya menghisap rokoknya dengan santainya..

“masih saja kamu pengecut wan.. kamu ga berani menjawab pertanyaannku.. oke gini aja.. kita ulang pertarungan kita sekali lagi.. dan siapa yang menang.. dia akan mendapatkan anjani.. gimana..?” ucap cakra sambil menatap tajam ayahku… assuuu.. enak sekali sibangsat ini berbicara.. emang ibuku barang taruhan apa..? bajingan.. emosiku yang meluap – lupa dari tadi, sekarang tambah menggila.. sedangkan ayahku santai aja.. gilaaa..

“anjani bukan barang yang bisa dipertaruhkan cak.. anjani istriku dan ibu dari anak – anakku.. aku bersedia untuk melakukan apa saja kalau kamu berani menyentuh dan menganggunya.. termasuk juga jika kau mengganggu semua keluargaku.. walaupun aku harus membunuhmu sekarang ini..” ucap ayahku dengan dinginnya..

“banyak bicaramu wan.. kita mulai saja pertarungan ini.. dan untuk sekarang.. gimana kalau kita semua bertarungnya dengan cara mu.. kita semua berduel tanpa senjata.. gimana..?” tanya cakra kepada ayahku..

“bagus.. aku suka itu..” ucap ayahku..

“simpan senjata kalian semua.. kita habisi tikus – tikus ini tanpa senjata..” ucap cakra kepada anak buahnya.. dan anak buahnya pun langsung meletakkan senjata mereka masing – masing..

“letakkan senjata kalian semua..” ucap ayahku kepada kami semua..

Dan satu persatu kelompok kami semua yang membawa senjata meletakkan dipinggir ruangan.. setelah itu kami semua langsung bersiap lagi dengan tangan kosong..

“wan.. bisa ga aku cicip sedikit cakra itu..?” tanya om nawi kepada ayahku..

“iya kami juga..” ucak om totok dan pak tomo barengan..

“jangan ada yang ikut campur kalau masalah duel dengan cakra.. biar aku saja yang melakukannya.. dan kalau sampai aku kalah.. yang boleh maju melawan cakra hanya darah dagingku..” ucap ayahku lalu melirikku..

Cuukkkk.. maksudnya ayah apa nih..? ayahku bisa kalah dengan cakra..? ah ga mungkin.. ayahku seseorang yang hebat.. beliau pasti bisa mengalahkan cakra malam ini..

“baiklah..” ucap om nawi dan beliau juga melirikku lalu menghisap rokokknya.. assuuu.. gila ini kalau sampai ayahku kalah.. ah.. jangan lah berpikir macam – macam.. ayahku pasti bisa menumbangkan cakra.. pasti bisa..

“wan.. aku menunggumu disini..” ucap cakra sambil menunjuk ayahku.. lalu

“SERANGGGGG..” ucap cakra kepada pasukannya..

Dan pasukannya pun berlarian dengan tangan kosong kearah kami..

Ayahku lalu melempar sisa rokoknya ketengah dan menunjuk kearah pasukan cakra dengan tangan kirinya…

“BANTAIIIIII..” teriak ayahku..

“BANTAIIIIII..” teriak kami bersama dan kami semua langsung berlari menyambut pasukan cakra yang telah berlari kearah kami duluan..

Ayahku yang berdiri paling depan pun langsung mengarahkan pukulannya dengan santai kearah pasukan cakra…

PAAKKKKK… BUUUHHGGG… PAAKKKKK… BUUUHHGGG…

Pertempuran dengan tangan kosong pun pecah diruangan tengah ini.. lima generasi pondok merah langsung menghajar dengan ganasnya.. om nawi yang tadi memakai calo’, sekarang dengan tangan kosongnya pun terlihat garang.. om agus, om totok dan pak tomo juga mengganas.. mereka menumbangkan satu persatu anak buah cakra dengan mudahnya.. mereka berlima terus menerobos kebelakang menuju tempat cakra berdiri.. dan makin lama mereka maju, semakin kuat yang mereka hadapi.. barisan yang ditengah pun terlihat lebih sangar.. ayahku dan keempat sahabatnya sempat terkena serangan mereka dan baru kali ini aku lihat mereka berlima berdarah.. assuuu..

Generasi mas daud pun mendapatkan perlawanan yang seimbang.. musuh mereka sekarang lebih kuat.. mungkin ini kumpulan orang – orang cakra yang terpilih karena kekuatan dan kehebatannya..

Generasi mas pandu dan mas rendi juga terlihat kewalahan.. sedangkan generasiku, power ranger, satria baja hitam, dalle, ilham dan tigor sudah berdarah – darah.. gani dan pasukan lek ji’i dan lek gito memberikan perlawanan yang sangat keras… bajingaaann..

PAAKKKKK… BUUUHHGGG… PAAKKKKK… BUUUHHGGG…

Suara pukulan yang menggema diruangan ini sangat memekakan telinga..

Aku pun berlari sambil mengarahkan tendanganku kearah salah satu wajah musuh yang menghalangiku…

BUUUHHGGG…

Wajahnya terkena telapak sepatuku.. dan aku langsung menyambutnya dengan pukulan diulu hatinya..

BUUUHHGGG…

“AARRRGGHHHHH..” dia berteriak dengan nafas yang tertahan.. aku lalu meraih kepala belakangnya dan kuadu wajahnya dengan lututku..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Lalu aku cekek lehernya dan aku banting dengan kepala belakangnya menghantam lantai duluan..

BUUUHHGGG… BUUMMMMM…

Lalu aku maju lagi dan mencari lawan lainnya… dan tiba – tiba..

BUUUHHGGG…

Sebuah telapak kaki bersepatu menghantam wajahku dengan kuat dan mengenai bagian samping wajahku..

“bangsaatttt..” gumamku.. aku oleng kekanan dan tubuhku seperti melayang.. asuuu.. lalu..

BUHHGGGGG..

Sebuah hantaman didadaku membuat aku termundur dengan dada yang terasa sangat sesak sekali.. bangsaatttt.. ini sakit sekali cookkk…

Lalu lawanku ini mengarahkan kepalan tanganku tepat diwajahku.. aku lalu mendunduk dengan cepat sambil mengarahkan kepalan tanganku kearah tulang iganya sebelah kiri dengan keras..

BUUUHHGGG…

KRAKKKKKKK..

“ARRGGHHHH..” teriaknya dan dia sampai memiringkan tubuhnya kekanan akibat kerasnya pukulanku.. lalu aku sambung seranganku dengan kepalan tangan kiriku kearah rahangnya..

BUUUHHGGG…

Dia oleng kekiri dengan darah yang keluar dari mulutnya.. lalu kepalan tangan kanan dan kiriku bergantian menghajar perut, dada dan wajahnya..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Aku terus menghajarnya sampai dia termundur dan tersandar didinding.. lalu aku cengkram wajahnya yang penuh darah.. dan menghantamkan kepala belakangnya kedinding..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Lalu aku putar tubuhnya kepalanya kesamping dan aku banting kepalanya kelantai..

BUUUMMMM…

Lawanku itu pun menggelepar dan tidak bangun lagi..

Aku lalu melihat kearah panggung.. tampak ayahku sudah berada diatas sana.. beliau sudah berhasil menerobos kuatnya pertahanan dari anggota cakra.. dan beliau bersiap menghadapi cakra yang sudah menunggunya dari tadi..

Cuukkk.. tampak aura yang menyeramkan dari cakra dengan bayangan hitam dibelakangnya.. sedangkan ayahku menatapnya dengan mata yang memerah.. assuuu.. ini pasti akan seru pertarungannya.. sementara dibawah panggung.. pertarungan antar kelompok kami dan kelompok cakra masih berlangsung dengan berdarah – darah..

Dan dalam hitungan detik.. ayahku dan cakra sudah saling menyerang.. saling serang dan saling menangkis diantara mereka berdua sangat luar biasa.. kecepatan dan kekuatan pukulan mereka berdua pun sangat berimbang.. bajingaannn.. kalau aku yang ada diposisi ayahku.. mungkin akan tumbang dengan kecepatan dan kekuatan cakra..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Pukulan ayahku yang beruntun dapat ditangkis oleh cakra.. tapi beberapa pukulan ayahku pun sempat masuk dengan telak dan membuat wajah cakra berdarah.. begitu juga sebaliknya.. cakra yang terdesak, masih bisa membalas dengan beberapa pukulan yang juga masuk dengan telak dan membuat wajah ayahku juga berdarah.. asuuu..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Lalu disaat ayahku melayangkan sebuah pukulan kearah cakra lagi.. cakra menghindar kesamping..

WWUUTTTT….

Pukulan ayahku hanya mengenai angin saja.. dan tangan kanan ayahku lurus tepat disamping wajah cakra.. lalu cakra memegang lengan tangan kanan ayahku dengan tangan kirinya.. lalu dengan sikut kanannya.. cakra menghantam bawah ketiak kanan ayahku..

BUUUHHGGG…

“ARRGGGHHHH..” jerit ayahku dan tubuhnya sampai melengkung ke arah kiri.. bangsaattt.. tampak wajah ayahku kesakitan sekali..

Lalu diputarkan pergelangan tangan kanan ayahku itu kebelakang..

KRAAKKKK..

“ARRHHHGGGG…” lagi – lagi terdengar ayahku kesakitan setelah pergelangan tangan kanannya itu dipatahkan oleh cakra.. assuuuu…

Lalu dengan tetap memegang tangan kanan ayahku yang patah.. cakra menghantam wajah ayahku dengan tangan tangan kanannya secara bertubi – tubi..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Wajah ayahku berdarah – darah.. dan dari mulutnya keluar darah bercampur liurnya.. bajingaannn.. tanganku terkepal dan emosiku yang sudah memuncak bertambah menggila..

Lalu cakra berputar dan melepaskan pegangan tangan kirinya ditangan kanan ayahku.. dan cakra mengarahkan tendangan balik menggunakan tumitnya tepat diwajah ayahku..

BUUUHHGGG… BUUMMMMMM..

Ayahku pun langsung tumbang kebelakang.. bajingaaannnn..

Aku yang melihat hal itu langsung berlari kearah panggung.. tapi.. tiba – tiba..

BUUUHHGGG…

Sebuah tendangan seseorang yang telak dengan menggunakan punggung kaki, menghantam wajahku.. sampai membuat aku salto kebelakang dan aku jatuh dengan posisi tengkurap..

BUUUMMMMM…

Assuuuu… darah segar mengalir dari hidung dan mulutku… lalu orang yang menendangku, tadi menjambak rambutku dan langsung menarikku berdiri.. dan..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Dengan kepalan tangan kanan yang sangat besar.. orang itu menghantam perut, dada dan wajahku secara beruntun..

“HUUEEEKKK..” lagi – lagi darah segar keluar dari mulutku dan sangat banyak..

Aku yang dijambak dan dihajar.. tidak diberi kesempatan untuk membalasnya..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Dia terus menghajarku.. lalu..

BUUUHHGGG… BUUMMMMMM..

Sebuah injakan didadaku menutup serangannya dan langsung membuat aku roboh kebelakang dengan posisi terlentang.. bajingaaannn..

Dan dengan posisi yang terlentang dan berdarah – darah ini.. aku menoleh kearah panggung.. tampak ayahku berdiri sambil menunduk dan memegangi tangan kanannya yang patah dengan tangan kirinya.. lalu ayahku memegang sikut kanannya dan diurut sampai pergelangan tangan kanannya dan memutarnya dengan tangan kiri dengan kuatnya..

KRAAKKKKK..

Cuukkkk.. ayahku bisa mengembalikan tangannya yang patah itu..? assuuu.. lalu ayahku mengangkat wajahnya yang penuh darah dan dengan tatapan yang sangat mengerikan kearah cakra.. ayahku terlihat tersenyum dengan bengisnya sambil membersihkan darah yang keluar dari mulutnya…

Cakra hanya tersenyum.. lalu cakra maju sambil mengarahkan tendangan kearah wajah ayahku..

WUUTTTTT..

Ayahku menunduk dan cepat berputar sambil mengarahkan tendangan balik dengan tendangan yang lurus kearah bagian samping leher cakra..

BUUUHHGGG…

Cakra oleng kesamping kanan.. lalu ayahku berputar lagi dan mengarahkan tendangannya lagi kearah wajah sebelah kanan cakra dengan tumitnya..

BUUUHHGGG…

Wajah cakra terdonga dengan darah yang menyembur dari mulutnya.. lalu sambil meloncat.. ayahku mengarahkan kepalan tangan kanan dan kepalan tangan kiri secaran bergantian kearah wajah cakra..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Cakra termundur dan terdesak dengan pukulan beruntun ayahku..

Dan tiba – tiba sebuah kaki mengarah kearah wajahku yang terlentang..

BUUMMMMM…

Secara reflek aku menghindari dengan cara bergulung kearah kanan.. bangsat.. orang ini menyerang aku lagi..

Dan dengan posisiku yang masih tertidur dilantai.. aku memiringkan tubuhku.. dan menendang tulang keringnya dengan kaki kiri dan aku lanjut dengan menendang belakang lututnya dengan kaki kanan..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

JEDUUKKKK..

Orang itu sampai berlutut terkena serangan kakiku yang beruntun barusan..

Lalu aku cepat berdiri dan mengarahkan sikut kananku kekepala belakang orang yang masih berlutut itu..

BUUUHHGGG… BUMMMMMM..

Sikutku mengenai kepala belakangnya dengan telak dan membuat orang itu langsung tersungkur dengan wajah yang menghadap kelantai..

Lalu aku loncat dan menginjak kepala belakang orang itu dengan kuat..

BUUUHHGGG…

KRAKKKKKK..

Kepala belakangnya terkena injakanku yang kuat dan wajah depannya tergencet kelantai dan bunyi patahan terdengar dengan keras.. lalu darah menggenang memenuhi wajah orang itu dan dia mengejang dengan hebatnya..

Assuuu…

Dan kembali pandanganku tertuju pada pertarungan yang hebat diatas panggung.. ayahku menghajar cakra dengan menggunakan kedua kepalan tangannya, sikutnya, lututnya dan injakan telapak kakinya..

Dan aku lihat cakra sudah mulai melemas dengan darah yang memenuhi wajahnya.. asuu.. tamat kau cakra.. tamat…

Lalu pandanganku tertuju diruangan tengah.. teman – temanku mulai bangkit dan menghajar lawannya masing – masing..

Satria yang berdarah – darah, mengayunkan tendangannya yang kuat kearah wajah musuhnya sampai musuhnya itu terdanga.. dan satria menutup serangannya dengan menghantam jakun musuhnya dengan kepalan tangan kanan yang kuat..

BUUUHHGGG…

“HARRRRGGGG..” musuhnya melotot dengan nafas yang sesak dan langsung tumbang kebelakang..

Yuda dengan gerakan beladirinya.. mematahkan kedua tangan musuhnya lalu membanting musuhnya dengan cara memegang dagu dan ubun – ubun lawannya dan ditekan keatas sampai berbunyi..

KRAAAKKKK..

Lalu dibantingnya ke belakang..

BUMMMMMM..

Sedangkan surya berlari kearah musuhnya lalu meloncat dengan kedua kakinya langsung hinggap dileher musuhnya dan diputarkannya kesamping…

KRAAKKKKK.. BUUMMMMM

Leher musuh surya patah kearah putaran surya tadi.. dan musuhnya roboh dengan leher masih dikunci kaki surya.. bangsaattt..

Dalle dan tigor bahu membahu membantai lawannya.. begitu juga gani dan ilham.. mereka berempat bertarung dengan saling membelakangi.. mereka bergantian menyerang dan matahkan tubuh lawan – lawannya..

Dan dibagian lain.. mas rendi menggila.. dia menginjak – injak musuhnya yang tertidur dilantai.. dan pandanganku tertuju pada sesorang yang sedang mengeluarkan pistol dan diarahkan mas rendi.. bajingaaannnn.. mereka menggunakan senjata.. anjing.. ini ga sesuai dengan kesepakatan tadi.. bangsaattt.. ini ga bisa dibiarkan..

Mas rendi yang sedang menggila tidak menyadari kalau ada senjata diarahkan kepadanya.. lalu ketika orang itu akan menarik pelatuk pistolnya.. aku berlari dan mendorong mas rendi..

BUHHGGGG..

Aku mendorongnya dengan menggunakan bahuku sekuat tenagaku dan mas rendi kaget sampai terpental kedepan..

DOOORRRRR..

“ARRGHHHHHHH..” teriakku..

“SANDIIIIIIIIII..” teriak mas rendi yang menoleh kearahku..

“SANDIIIIIIIII..” teriak teman – temanku terdengar samar – samar..

Dan pandanganku langsung berbayang.. aku sempat melihat wajah ayahku.. beliau terlihat sangat terkejut melihatku tertembak dan..

BUUUHHHHHGGGG..

Sebuah pukulan yang sangat telak menghantam rahang ayahku dan langsung membuat ayahku roboh kebelakang..

Aku juga roboh, dengan darah yang menetes dari dada bagian atas dekat pundakku yang tertembus peluru.. assuuu.. aku tertembak.. bajingaannnn.. dan ketika aku roboh.. kepala belakangku menghantam ujung dinding dengan keras..

“SANNDIIIIII..” mas rendi berteriak lagi dan langsung menarik kepalaku dan menyandarkan dipangkuannya.. aku merasa air mata mas rendi menetes mengenai wajahku…

“sandi.. kenapa kamu san..? kenapa kamu dorong akuuuuu..? AAAARRRRGGGHHHH… HIKSS.. HIKSS….” teriak mas rendi sambil menatapku dan air matanya mengalir dengan deras… dan samar – samar aku melihat kepanikan dari semua penghuni pondok merah…

“HUEEKKKKSSSS….” Darah segar langsung keluar dari mulutku dan…

Gelap…

Cuukkkk.. mati aku ini.. bajingaaannnn..

Dan perlahan – lahan aku lalu membuka kedua mataku.. assuuu.. disini lagi aku.. bajingan.. dan aku berada disuatu tempat yang pernah aku datangi dulu waktu aku kritis akibat ditikam ditempat yang sepi dipinggiran kota ini..

Cuuukkkk… ini rumah si mbah.. rumah yang sangat tenang dan damai..

Aku melihat si mbah duduk dihadapanku dengan menggunakan jubah berwarna putih dan disebelahnya ‘sesuatu’ yang sering datang ketika aku lagi emosi.. ‘sesuatu’ itu memakai jubah berwarna hitam.. mereka berdua tampak melihat kearahku.. cuukkk.. tumben dua mahluk ini kok muncul barengan.. dan kenapa simbah memakai jubbah putih..?

Siapa sih simbah ini sebenarnya..?

“sudah matikah aku mbah..?” ucapku lalu aku duduk dan menselonjorkan kedua kakiku..lalu aku meraba dadaku yang terkena tembakan tadi.. cuukkk.. kok ga sakit..? kok ga berdarah..? bajingaannn..

“enaknya kalau ngomong anak ini..” ucap si mbah kepada ‘sesuatu’ disampingnya..

“iya.. kurang ajar..” ucap ‘sesuatu’ itu sambil menggelengkan kepalanya..

“ya kalau ga mati apa namanya coba..? hehehehe..” ucapku sambil tersenyum..

“cuukkk..” maki mereka berdua barengan..

“kenapa kalian berdua memakiku..? kalian ga suka kalau aku mati dan ada ditempat ini..?” tanyaku kepada kedua mahluk itu..

“kamu itu belum mati tell.. kamu itu cuman pingsan..” kata si mbah sambil menatapku..

“cuukkk.. ga mati gimana mbah..? aku loh tadi ketembak..” ucapku dengan entengnya..

“walaupun ditembak, ditikam atau diapain.. kalau belum waktunya mati.. gimana..?” ucap ‘sesuatu’ menyahut..

“cuukkk.. malah nanya.. terus ngapain aku disini kalau aku ga mati..? bosan aku ketemu sampean berdua terus didunia ini.. hehehe..” ucapku dan aku kembali tertawa..

“assuuu to.. nggateli memang anak ini..” kata simbah sambil menggelengkan kepalanya..

“iya.. baru kali ini aku ngerasain ketemu sama manusia paling menjancokkan didunia ini..” kata ‘sesuatu’ menambahkan..

“assuui’ig.. jadi gimana mbah..? beneran aku belum mati nih..?” tanyaku dan kali ini aku agak serius berbicaranya..

“belum..” jawab si mbah singkat..

“kalau belum mati kenapa aku ada disini..?” tanyaku lagi..

“titik balik..”

“maksudnya mbah..?”

“kejadian ini akan menjadi titik balik dalam hidupmu le..”

“hem.. jadi setelah ini semua masalahku akan terselesaikan mbah..”

“mungkin..”

“termasuk masalah dengan wanita – wanitaku mbah..?” tanyaku dan kali ini aku bertanya dengan semangatnya..

“kalau masalah itu ya tergantung kamu.. cuman aku pesan.. kamu hanya perlu membiarkan pergi, sesuatu yang memang harus pergi.. dan kamu harus menjalani dan menikmati yang harus kamu pertahankan..” ucap simbah dengan santainya..

“cuukkk.. berarti ada yang tersakiti ya mbah..?”

“ya seperti itulah resikonya memilih.. sakit atau bahagia..”

“kalau gitu biarkan aku disini mbah.. biarkan aku mati saja.. karena aku ga mau ada yang tersakiti dan aku bahagia diatas penderitaannya…” ucapku lalu menundukkan kepalaku..

“ga usah di nasehatilah anak ini.. biarkan dia mati sebagai pecundang.. banci yang pecundang..” ucap ‘sesuatu’ disebelah simbah..

Bangsaattt.. enak sekali dia bicara.. assuuu.. dia jarang bicara, tapi sekali bicara langsung membuat emosiku naik.. bajingaannn..

“jaga bicaramu ya..” ucapku yang emosi kepada ‘sesuatu’ itu..

“kenapa..? kamu kira dengan kekuatanmu sekarang ini, aku takut sama kamu..?” ucap sesuatu itu dan matanya langsung berubah menjadi merah..

“bangsaatttt..” ucapku langsung berdiri dengan tangan yang terkepal..

“kalau kamu ga mau disebut sebagai banci pecundang, hadapi semua masalahmu dengan jantan..” ucap simbah.. dan simbah menatapku tajam dengan mata yang menghitam…

Assuuu.. kenapa simbah jadi seperti ini..? kenapa matanya menghitam..? bangsaattt.. persetanlah dengan matanya.. mau menghitam, memerah, membiru atau apapun.. terserah.. tapi aku ga suka dengan perkataannya..

“aku ga perduli siapa kalian berdua.. dan aku paling benci bila ada yang menghinaku sebagai banci.. apalagi banci pecundang..” ucapku dengan tatapan yang tajam kearah mereka berdua.. lalu aku memutarkan kepalaku kekanan dan kekiri..

“dia nantang kita ki..” ucap ‘sesuatu’ kepada simbah..

“hehehe.. iya ki.. kebetulan sekali, lama juga aku ga membantai manusia..” kata simbah sambil mengepalkan kedua tangannya..

“kalau gitu, nunggu apa kita ki..? kita bantai aja banci pecundang satu ini..” kata ‘sesuatu’ itu ke simbah lalu melihatku dengan mata merahnya..

“JIANNCOOKKK..” ucapku berteriak.. emosiku bener – bener menggila.. kata – kata banci itu betul – betul membuat panas seluruh tubuhku.. asssuuu..

Aku lalu berlari kearah dua mahluk ini sambil mengarahkan kepalan tangan kananku kearah simbah dan kepalan tangan kiriku kearah ‘sesuatu’..

“AARRGGHHHHHHH..” ucapku berteriak lalu..

WUUTTTT.. WUUTTTT..

Pukulanku pun hanya terkena angina, karena mereka berdua telah menghilang dari hadapanku…

“HAHAHAHAHA.. BANCI..” teriak ‘sesuatu’ yang muncul disebelah kananku..

“PECUNDANG..” simbah menyahut dari sebelah kiriku..

Aku lalu memukul dengan membabi buta…

WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT..

Dan mereka berdua lagi – lagi menghilang dan muncul dari berbagai arah.. bajingaannn..

Dan mereka terus tertawa sambil mengejekku.. aku terus berlari kesana – kemari sambil mengarahkan kepalan tangan kanan dan tangan kiriku.. aku pun sesekali melakukan tendangan kearah mereka berdua..

“BANCIIII..”

“PENCUNDANGG..”

“HAHAHAHAHAHA..”

Dan suara mereka terus menggema dan membuat isi kepalaku seperti dipanggang dan darahku seperti direbus.. assuuuu..

WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT..

Aku terus mengarahkan seranganku ke asal suara yang berpindah – pindah tempat itu…

“BANGSAAAATTTTT..” teriakku..

“hu… hu.. hu.. hu.. hu..” nafasku memburu dan cepat..

Aku lalu beristirahat sejenak sambil mengatur nafasku..

“hu… hu.. hu.. hu.. hu..”

Sepertinya aku harus menenangkan pikiranku.. ini kejadian sama seperti sebelumnya, ketika aku harus menghadapi ‘sesuatu’ itu dua kali.. dan ini yang ketiga kalinya.. dan lawanku kali ini ada dua, ‘sesuatu’ dan simbah…

“BANCIIII..”

“PENCUNDANGG..”

“HAHAHAHAHAHA..”

Tenang san.. tenang.. mereka berdua hanya memancing emosimu aja ini.. assuuu.. aku lalu menundukkan kepalaku.. perlahan aku memejamkan mataku dan mengosongkan pikiranku..

“HAHAHAHAHAHA..”

Tawa mereka berdua terus mendengung ditelingaku..

Tenang san.. tenang…

Aku lalu menarik nafasku dalam – dalam sambil merentangkan kedua tanganku… lalu mengeluarkan nafasku perlahan..

“hiiuuffftttttttttt… hhuuuuuuuuuuuuu…”

“he.. he.. he.. hehe.. hehehe.. HAHAHAHAHAHAHAHA..” aku tertawa pelan lalu tertawa dengan kerasnya..

“HAHAHAHAHAHAHAHA.. ASSUUUUUU..” aku tertawa lalu memaki dengan kerasnya..

Hinaan dan tawa mereka berdua pun perlahan berhenti..

Aku lalu membuka kedua mataku dan menatap lurus kedepan..

“percuma aku membuang tenagaku.. kalau yang kuhadapi ternyata sepasang hom – hom yang suka tertawa lalu menghilang.. hehehehe..” ucapku lalu tertawa dengan sinisnya..

“JIANNCOOOOKK..” maki mereka berdua kepadaku..

“HAHAHHAHAHA…” giliranku tertawa lagi dengan keras..

Dan sekarang mereka berdua berdiri dihadapanku dengan emosi yang menggila.. mereka berdua bersiap untuk menyerangku.. dan kembali aku menutup kedua mataku.. lalu..

WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT.. WUUTTTT..

Kedua mahluk itu menyerangku secara bersama – sama dan aku menghindari serangan mereka sambil terus memejamkan kedua mataku..

“HAHAHHAHAHA…” aku terus menghindar sambil terus tertawa.. aku meliuk – liukan tubuhku mengikuti kata hatiku.. dan ntah kenapa, itu cara yang ampuh menghindari serang dua mahluk itu..

Dan setelah beberapa saat, aku pun membuka kedua mataku.. aku lalu mengarahkan pukulanku ke kedua mahluk itu..

BUHHGGGG.. BUHHGGGG..

Pada saat aku memukul kedua mahluk itu.. justru mereka berdua menabrakku secara bergantian sampai aku terlempar kebelakang dan jatuh bersandar didinding..

JEEDUUUUUKKKK….

Perlahan mataku kubuka.. cuukkk.. aku duduk dan tersandar didinding.. tampak mas rendi duduk disebelahku dan memegang pundakku.. dan ada sesosok orang yang sangat aku kenal berdiri disebelah kananku.. bajingan.. ini mbah jati.. kenapa beliau datang kesini..? tapi pandangan mas rendi dan mbah jati bukan kepadaku tapi ke panggung didepan kami.. semua penghuni pondok merah dan anggota lek ji’i dan lek gito pun sudah tidak ada yang bertarung.. dan semua mata mereka tertuju diatas panggung juga..

Dan diatas panggung tersaji pertrungan yang sangat mengerikan.. ayahku dihajar dengan brutalnya oleh cakra…

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Kepala belakang ayahku dipegang tangan kiri cakra.. sedangkan tangan kanan cakra yang terkepal, terus menghajar wajah ayahku yang sudah dipebuhi oleh darah..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Ayahku tidak diberi kesempatan melawan oleh cakra..

Ada apa yah..? kenapa ayah bisa babak belur begini..? kenapa ayah tidak melawannya..? bangsaatttttt..

“BANCIIII..”

“PENCUNDANGG..”

“HAHAHAHAHAHA..”

Ucap cakra sambil tertawa dan terus menghajar ayahku.. assuuuu..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

Bangun yah.. banguuunnnnn…

Tanganku sampai terkepal melihat kondisi ayahku yang tidak berdaya… dan cakra tanpa ampun terus menghajar ayahku..

Empat sahabat ayahku yang ada dibawah panggung pun terlihat sangat emosi.. begitu juga lek ji’i dan lek gito..

Teman – teman dari pondok merah dari berbagai generasi pun tampak emosi juga.. tampak mata mereka semua sampai meneteskan air mata, melihat ayahku yang sudah tidak berdaya lagi..

Sementara mbah jati yang berdiri disebelahku hanya santai sambil menghisap rokok klobotnya…

Jianccoookkkk.. emosiku bener – bener menggila ini.. anjing..

BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG… BUUUHHGGG…

“BANCI KAMU WAN.. HAHAHAHAHAHAHA..” teriak cakra sambil terus tertawa..

Lalu cakra membanting kepala ayahku kelantai dengan kerasnya..

BUUUHHGGG…

BUUUMMMMM…

Ayahku tengkurap dengan wajah yang menghadap kelantai.. lalu ayahku memiringkan kepalanya dan menatapku sambil tersenyum.. cuukkkkk..

Air mataku perlahan menetes melihat ayahku yang tersenyum dengan wajah yang berdarah – darah..

Lalu cakra berjalan mendekati ayahku dan menginjak wajah ayahku..

BUUUHHGGG…

Lalu cakra menahan injakannnya itu diwajah ayahku.. bajingaaannnnn..

Darahku mendidih dan tubuhku seperti terbakar..

Hu.. hu.. hu.. hu..

Nafasku benar – benar cepat dan memburu..

“ANJANIIIIIIIIIIIIIII.. SUAMIMU SEKARANG ADA DITELAPAK KAKIKU.. DAN SEBENTAR LAGI DIA AKAN MATI DITANGANKU.. TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENGHALANGI CINTA KU KEPADAMU.. HAHAHAHAHAHAHA..” teriak cakra lalu tertawa dengan kerasnya..

“setelah ini.. giliran putramu yang aku bunuh.. kamu milikku anjani.. kamu milikku.. HAHAHAHAHAHA..” ucap cakra dengan sombongnya sambil menguatkan injakannya diwajah ayahku..

Bajingan kamu cakra.. aku akan membunuhmu.. aku akan membunuhmu..

Tanganku bergetar dengan hebat dan terkepal dengan kuatnya.. lalu aku berdiri perlahan.. mas rendi yang ada disebelahku terkejut ketika melihat aku bangun dan berdiri.. mungkin dia baru menyadari kalau aku telah sadar dari pingsanku..

Tidak ada rasa sakit yang aku rasa ditubuhku.. bekas tembakanpun tidak aku rasakan.. yang ada hanya emosi yang benar – benar menggila dan pandanganku langsung berubah menjadi merah seperti darah..

“AYAH…” ucapku dengan suara yang parau dan berat..

Semua mata lalu tertuju padaku dan mereka semua seperti terkejut melihat aku yang berdiri..

Aku pun berjalan kearah panggung dengan kepala yang sedikit menunduk dan tatapan yang begitu tajam kearah cakra..

“AKU AKAN MEMBUNUHMU CAKRA.. AKU AKAN MEMBUNUHMU..” ucapku dengan bibir yang bergetar..

“AYYAAAHHHHHHHH….” Teriakku lalu aku berlari kearah panggung…

#cuukkkk.. aku akan mandi dengan darahmu cakra.. aku janji.. dan ini adalah sumpah disetiap tetes darah irwan jati yang mengalir ditubuhku… bangsaatttt..

 

Cerita Terpopuler