. Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 74 | Kisah Malam

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 74

0
344

Bagian 74 – Cinta dan Persaudaraan

Asuuu.. memang gila beneran aku ini.. bajingaann.. kenapa sih mulutku ini ga bisa dikontrol kalau sudah berhadapan dengan wanita cantik..? bangsaaatt.. dan sekarang gara – gara rayuanku yang sekenanya tadi, bu jenny mulai jatuh hati kepadaku dan gilanya, dia nunggu aku balik dari ibu kota propinsi.. jiancookkkk..

Ini ibaratnya kalau kata pepatah.. membasuh muka dengan air mani.. tau artinya kan.. seseorang yang berusaha untuk memperbaiki sebuah kesalahan dengan sebuah perbuatan, tetapi perbuatannya tersebut justru menambah permasalahannya.. asuu kan..? assuu banget pastinya.. dan itu membuat pikiranku tambah menggila.. bajingaaann..

Terus sekarang aku harus gimana..? mery tetap dengan pendiriannya dia akan tetap mencintai aku, walaupun aku tidak membalas cintanya.. gila ga kalau gitu..? terus apa bener aku ga mau balas cintanya mery..? bangsatt.. ya ga mungkinlah.. luluh hatiku ini melihat sikap mery seperti itu.. aku tuh cinta sama mery.. dan dia itu cinta pertamaku.. tapi bagaimana dengan ayu yang sekarang sedang sakit..? ya aku juga cinta sama dia.. terus gimana dengan bu jenny yang melumat bibirku barusan..? aku main – main sama dia..? gila aja aku mau main – main sama wanita cantik dan manis seperti bu jenny..? assuuu.. assuuu.. kalau begini bukannya gila lagi aku, tapi guendeng puol notok jedog.. (gila sekali sampai paling ujung)… terus solusinya gimana..?

Apa aku pacarin aja tiga – tiganya..? biar tidak ada yang kecewa.. atau kalau perlu aku nikahin aja semuanya sekalian.. iya bisa juga seperti itu.. bisa digantung sama ibuku aku.. bangsaatttt.. arrgghhhhhh…

“dan ketika sudah tidak ada kata yang terucap.. hanya air mata saja yang bisa mewakilkan ketulusan hati seorang wanita terhadapmu..”

Cuuukkk.. dan tiga wanita itu sudah meneteskan air matanya dipelukanku.. bangsat.. bangsat.. harus dengan makian apa lagi, aku mengungkapkan kebingunganku sekarang ini..? apa harus dengan kata – kata binatang lagi..? kasihan sekali mahluk ciptaan tuhan yang selalu aku sebut disaat aku sedang kebingungan dan emosi seperti ini.. apa salahnya assuu..? bajingan’og…

Dan ditengah pikiranku yang menggila ini.. aku memacu kecepatan tigi sampai dia menjerit – jerit seolah aku memperkosa knalpotnya.. bajingaann.. kok tambah ngelantur gini ya omonganku.. gila aku.. gilaaa…

Baiklah.. mungkin sekarang aku akan menyelesaikan masalah di ibukota propinsi dulu.. semoga gani ada kabar tentang cakra.. aku penasaran sekali dengan manusia bangsat itu.. dan aku salut dengan ayahku karena bisa merebut hati ibuku.. seandainya dulu cakra yang mendapatkannya.. waahhh.. ga bisa bayangkan aku..

Terus seandainya aku sudah mendapatkan informasi tentang cakra, apa yang akan aku lakukan..? aku mau menyerang seorang diri..? assuuu.. setor nyawa aku kalau gitu.. lawan cakra seorang diri aja aku pingsan kok, apa lagi aku melawan anak buahnya ditambah dengan cakra.. bisa jadi mendol aku..

Kelihatannya aku harus memikirkan langkahku kedepannya.. dan aku harus merencanakannya dengan baik.. aku ga mau kalau aku cuman jadi sansak hidup bagi cakra..

Berpikir san.. berpikir untuk masalahmu kali ini.. jangan wanita aja yang kamu urus..

Dan setelah perjalanan panjang.. aku akhirnya sampai diterminal satu ibu kota propinsi.. aku lalu memarkirkan tigi dan berjalan kebelakang terminal.. dan disana sepupuku gani telah menantiku.. dan disana juga tampak puluhan bajingan – bajingan terminal ini sedang berkumpul.. sebagian diantara mereka wajahnya babak belur.. assuuu.. apa terminal ini habis diserang..? siapa yang nyerang..? bajingann.. apa cakra pelakunya..? gila.. kalau sampai dia pelakunya.. dia telah mengibarkan bendera perang kepada mbahku.. bangsaatttt…

“mas..” ucap gani setelah melihat kedatanganku.. dia lalu meraih tangan kananku dan menciumnya..

“kenapa mereka gan..?” tanyaku dengan emosi yang tertahan..

“mereka anggota kita dari terminal tiga mas.. dan tadi siang, terminal tiga diserang anggota cakra..” ucap gani dengan emosinya..

“asssuuu.. berani sekali cakra melakukanj ini gan.. dia sudah menggali kuburannya sendiri dengan mengibarkan bendera perang ke kelompok mbah jati..” ucapku dengan tangan yang terkepal…

“mereka diatas angin sekarang mas.. banyak anggota kita yang membelot ke kelompok cakra..” kata gani..

“bajingaannn.. persetan lah berapa jumlah anggota mereka.. yang penting kita masih ada sisa kekuatan.. kita balas mereka..” ucapku dengan nada yang agak tinggi..

“kita tunggu ayah sama lek ji’i dulu mas..” ucap gani lalu mengeluarkan rokoknya dan memberikan kepadaku.. aku lalu mengambil satu dan membakarnya lalu menghisapnya..

“memang kemana lek gito sama lek ji’i..?”

“kerumah sakit mas.. om imam sekarat.. kebetulan om imam keterminal tadi siang..” ucap gani dengan bibir yang bergetar.. (imam = tangan kanan lek gito)

“bangsattt..” ucapku bergumam..

“sudah datang kamu le..?” ucap sesorang dibelakangku dan aku langsung menoleh kebelakang.. lek gito dan lek ji’i berjalan kearahku.. aku lalu menyambut lek gito dan lek ji’i dengan mencium punggung tangan kanan mereka bergantian..

“iya lek.. baru aja..” ucapku lalu aku menghisap rokokku..

“wajahmu kok babak belur gitu..? assuuu..” kata lek ji’i setelah melihat wajahku yang masih terlihat bonyok – bonyok dengan beberapa luka dipelipis..

“biasa lek anak muda..” jawabku sekenanya..

“gendeng.. (gila)” sambung lek ji’i…

“jadi gimana ini lek..?” tanyaku ke lek gito..

“kita kumpulkan kekuatan dulu, baru kita balas meraka..” jawab lek gito..

“kumpulkan kekuatan..? emang kekuatan mereka besar banget kah lek..?” tanyaku dengan kagetnya..

“iya san.. mereka sudah memepersiapkan ini sejak lama.. dan ketika kami lengah dan kamu menghancurkan jaringan mereka di kota pendidikan.. cakra bergerilya disini dan menyerang dengan tiba – tiba..” ucap lek gito..

“kenapa bisa begitu lek..? apa pergerakan mereka ga bisa dipantau sampai mereka bisa leluasa seperti itu..?” tanyaku lagi..

“mereka licik san.. mereka menggunakan anggota kita untuk bergerak dari dalam..”

“apa mbah jati tau ini semua lek..?”

“bapak tau.. beliau sudah beberapa kali mengingatkan aku.. tapi aku aja yang terlalu meremehkan pergerakan mereka..” ucap lek gito lalu menunduk sebentar..

“sudahlah mas.. ga usah ngomong gitu.. intinya sekarang itu bagaimana kita membalas mereka dan mengembalikan kepercayaan diri anggota kita semua..” ucap lek ji’I ke lek gito..

“kita duduk ajalah dulu..” kata lek gito yang wajahnya masih terlihat sangat bersalah..

Kami pun langsung duduk disebuah warung.. kami berempat sengaja memisahkan diri dari anggota yang lain.. kami ingin membicarakan tentang langkah selanjutnya..

“memang berapa jumlah anggota mereka sekarang lek..?” tanyaku untuk membuka omongan..

“dua kali lipat dari jumlah anggota kita..” jawab lek gito singkat..

Cuukkk.. dua kali lipat.. biasanya kalau segitu aja, lek gito masih nekat untuk mengahancurkan lawannya.. tapi kenapa ini ngga..? ada apa ini..?

“bukan masalah anggotanya yang dipikir san.. tapi cakranya.. kita harus menghadapi anggotanya yang dua kali lipat, terus kita harus hadapin sicakra.. itu yang jadi pertimbangan kami..” kata lek ji’i dan dia langsung menunduk lagi..

“kalau anggota kita jumlahnya kurang lebih sama dengan mereka, kita akan nekat menyerang malam ini..” sambung lek gito..

Assuu.. ribet banget ya..? memang aku akui cakra itu kuat.. tapi masa lek gito atau lak ji’i ga bisa mengimbanginya sih..?

“lek aku penasaran sama cakra itu.. aku mau duel lagi sama dia..” ucapku lalu aku menghisap rokokku..

“san.. kamu kemarin baru dibantai sama dia.. masa dalam beberapa hari kamu mau langsung duel lagi sama cakra..? saya akui kamu itu keras seperti ayahmu.. tapi jangan terlalu nekat juga seperti ini.. ayahmu dulu itu pernah kalah dengan cakra dan ayahmu baru bisa membalasnya beberapa bulan kemudian.. coba pikirkan itu san..” ucap lek gito sambil melirikku..

“jadi kita harus berdiam diri disini lek..?” tanyaku dengan penekanan yang tegas..

“bukan berdiam diri.. tapi kita rencanakan serangan dulu dengan baik, biar kita ga babak belur disana..” ucap lek gito dengan penekanan kata yang ga kalah tinggi dari aku..

“kelihatannya kita minum dulu ini supaya otak bisa encer..” kata lek gito mengalihkan pembicaraan kami yang mulai panas..

“jum.. ambilkan mansion gepeng dulu..” panggil lek gito kepada seorang pelayan wanita yang semok..

“berapa cak..?”

“satu karton..” ucap lek gito dengan santainya…

“sama teh kotak ya mba..” ucapku ke pelayan yang semok itu..

“iya mas..” jawabnya dengan senyumannya yang manis.. lalu berbalik dan berjalan melanggak – lenggok memamerkan bokong semoknya.. cukkk.. enak banget kalau diceples itu bokongnya.. hahahahaha.. bangsat.. sempat – sempatnya aku mikirin bokong.. assuu.. assuu..

“jiancokk ancene arek iki.. wong bingung koyok ngene kok sempet – sempete ndelok bokong iku loh..” (jancook memang anak ini.. orang lagi bingung begini sempat – sempatnya lihat bokong itu loh..) ucap lek ji’i mengomel…

“hahahahahaha..” gani cuman tertawa aja melihat lek ji’i mengomel..

“aku lagi cari inspirasi lek..” jawabku dengan cueknya..

“assuuu.. inspirasi nde bokong.. gendeng ancene awakmu iku san..” (anjing.. inspirasi dipantat.. gila memang kamu itu san..) ucap lek ji’i sambil menggelengkan kepalanya..

“hehehehe…” aku cuman tertawa aja mendengar makikan paklekku satu ini..

Dan setelah minuman kami datang.. kami pun menikmati mansion gepeng ini bersama.. dan untuk aku sendiri ditambah dengan teh kotak…

“lek.. makin lama kita berdiam diri.. maka kelompok cakra akan merajalela.. dan ga menutup kemungkinan.. setelah terminal tiga, giliran terminal satu atau terminal dua yang akan jadi sasaran mereka.. atau juga mungkin pelabuhan.. atau malah tempat – tempat lain yang dikuasai keluarga kita.. dan itu pasti akan semakin melemahkan anggota kita lek..” ucapku lalu aku meminum mansion gepeng dihadapanku lagi..

“itu juga yang jadi pikiranku san.. terus terang cakra ini memang musuh yang paling gila menurutku..” ucap lek gito lalu menghisap rokokknya..

“gila gimana mas..? kita selesaikan aja cakra malam ini..” ucap seseorang dibelakang kami.. dan suara itu sangat aku kenal.. aku lalu menoleh kebelakang.. dan benar saja.. dia adalah lek pandu atau mas pandu aku biasa menyebutnya.. assuuuu..

“mas pandu.. hahahahahaha.. bajingaannnn..” aku lalu berdiri dan mendatangi lek pandu dan merangkulnya.. bangsaattt.. aku kangen sama pamanku yang gila satu ini.. assuuu..

“hahahahaha.. gimana kabarmu san..?” ucap mas pandu sambil memelukku dan menepuk punggungku..

“baik mas.. heheheheh..” ucapku sambil tertawa..

“baik gimana..? wajahmu loh babak belur gitu.. assuu’og..” kata mas pandu yang melepaskan pelukannya dan melihat seluruh wajahku..

“ah.. nyamar aja aku ini mas.. biar ga kelihatan gantengku.. hahahahaha..” ucapku lalu tertawa..

“assuuu..” maki mas pandu kepadaku..

“memang gila keponakanmu satu ini mas..” ucap seseorang lagi dibelakang mas pandu.. dan orang yang biasa menyebut kata – kata seperti itu hanya mas arief.. bajingaannnn….

“hahahahaha..” dan disebelahnya mas adam tertawa terbahak – bahak…

Assuuu.. tiga singa tua ada ditempat ini bajingaannn.. hahahahaha..

“mas arief.. mas adam… hahahahaha..” aku lalu tertawa dan memeluk mereka bergantian…

“jangan kenceng – kenceng cuukkk.. aku bukan hom – hom..” kata mas arief setelah aku memeluknya dengan erat..

“hahahaha..” dan kami pun tertawa bersama..

“mas gito.. mas ji’i…” ucap mas pandu lalu mendatangi lek gito dan lek ji’i dan menyalami mereka satu persatu diikuti mas arief dan mas adam..

“tumben kamu kesini ndu..” ucap lek gito kepada mas pandu..

“aku cuman mau ikut pesta di ibukota propinsi mas.. hehehehe..” kata mas pandu lalu tertawa..

“cuukkk.. jadi sampean bertiga mau gabung mas..?” tanyaku..

“iyalah.. karena cakra telah menumbangkan anak – anak pondok merah dan berani mengusik keluarga jati.. aku harus ikut pesta kali ini..” kata mas pandu dan kali ini mimic wajahnya agak serius..

“dan kami ga sendiri.. kami membawa singa tua angkatan kami..” kata mas adam..

Dan ga berapa lama masuk tujuh orang kedalam warung.. assuu.. dari ketujuh orang itu hanya dua yang aku kenal.. dia adalah daeng betta dan bang ucok.. sedangkan limanya aku ga kenal sama sekali.. assuu.. siapa aja mereka ini..

“ucok, betta, wagiyo, ance, ramos, ujang dan oka.. bajingaann.. gimana kabar kalian..” kata lek gito kepada mereka bertujuh..

Dan mereka satu persatu masuk dan bersalaman dengan lek ji’i dan lek gito.. assuu.. mereka sangar – sangar cuukkk..

Dan setelah mereka bersalaman dengan kedua pamanku.. mereka juga bersalaman denganku dan gani.. dan aku juga menyempatkan berkenalan dengan mereka semua..

“iki sandi ta ndes..” ucap mas wagiyo bertanya kepada mas pandu sambil melirikku..

“iyo.. naksir ta awakmu yo..?” tanya mas pandu kepada mas wagiyo..

“asem’ik.. mbelgedes..” (sialan.. gembel..) maki mas wagiyo kepada pandu..

“hahahaha..” dan mereka semua tertawa lagi

Dan mas wagiyo cuman memainkan kedua alis matanya kepadaku.. lalu daeng betta dan bang ucok tersenyum kepadaku..

“kamu sama penghuni pondok merah sekarang ini memang gila san.. angkatan kami aja berpikir dua kali mau melawan cakra.. kalian malah melawannya.. hahahaha..” kata bli oka kepadaku lalu tertawa..

“tapi kami tumbang semua bli..” ucapku lalu menghisap rokokku..

“tumbang itu nomer dua san.. yang penting kalian bernyali.. hehehehe..” ucap kang ujang lalu menepuk pundakku..

“jadi gimana ini bang..? kita serang malam ini kah..?” tanya bang ance ke lek gito..

“assuu.. kalian ini memang pasukan yang gila.. tapi kedatangan kalian ini terus terang membuat semangatku langsung berkobar.. hehehehe..” kata lek gito dan tersenyum dengan bengisnya..

“terlalu banyak hutang budi kami dengan keluarga jati bang.. mana mungkinlah kami berdiam diri melihat keadaan ini.. apalagi adek – adek kami pondok merah baru tumbang semua dengan cakra itu..” ucap bang ucok ke lek gito..

“okelah.. kita matangkan dulu rencananya.. kita duduklah dulu..” ucap lek gito.. dan kami semua langsung duduk.. untung warung ini lumayan besar.. jadi bisa menampung kami semua dan masih bisa menampung belasan orang lagi tentunya..

“terus kalian mau meninggalkan kami..?” ucap seseorang bersama empat orang dibelakangnya..

Bajingann.. siapa lagi lima orang ini..? assuu.. mereka juga tidak kalah sangar dengan ketujuh orang yang baru datang tadi..

“cuukkk.. mas daud, mas jalal, mas edwin, bang arman, bang andre..” ucap mas pandu lalu berdiri.. dan semua singa tua teman – teman mas pandu juga berdiri..

“assuuu.. ini reoni kelurga besar pondok merahkah..?” tanya lek ji’i sambil menampakkan wajah yang gembira..

“iyalah ji’i.. masa kami ga ikut pesta besar ini..” ucap seseorang yang berbicara pertama tadi..

Assuuu.. mereka ini juga penghuni pondok merah juga kah..? berarti mereka ini generasi kedua dipondok merah.. bajingaaannn.. pesta kali ini pasti seru nih.. bangsat.. tapi ada yang kurang.. teman – temanku tidak datang kali ini.. hiuuffttt.. huuu..

Lalu mereka bersalaman dan berpelukan dengan semua yang ada diwarung ini.. suasana kekeluargaan pun langsung terasa.. sempat aku melihat beberapa orang tua ini matanya berkaca – kaca ditengah kami.. assuuu.. ternyata ini kekeluargaan pondok merah bukan hanya pada saat kuliah.. tapi pada saat lulus pun, mereka masih menjalinnya.. bajingaannn..

Dan setelah aku bersalaman dan berkenalan dengan mereka..

“terus kami ga dilibatkan gitu..?” tiba – tiba mas rendi muncul dari arah pintu warung.. dan dibelakangnya, semua penghuni kos pondok merah tersenyum melihat kami yang ada didalam..

Bajingaaannn.. akhirnya teman – temanku pun hadir disini..

Aku pun langsung melangkah mendekati mas rendi..

“kami bukan pecundang san.. kami adalah saudaramu..” ucap mas rendi dengan santainya lalu menghisap rokonya..

Matakupun langsung berkaca – kaca mendengar ucapan mas rendi barusan.. bajingan.. aku lalu memeluk mas rendi dan mas rendi membalas pelukanku dan menepuk pundakku..

“maaf mas..” ucapku dengan bibir yang bergetar..

“ga ada yang perlu dimaafkan san.. kita adalah keluarga.. adek dan kakak itu biasa berkelahi.. tapi setelah itu kan berangkulan lagi..” ucap mas rendi lalu melepas pelukannya kepadaku.. dan setelah berpelukan dengan mas rendi.. aku lalu mendekati bung toni..

“ade… ko buat sa menangis tuh.. cukimai ko..” ucap bung toni dengan mata yang berkaca – kaca.. dan aku langsung memeluknya juga..

“maaf bung.. maafin omonganku yang kasar tadi pagi..” ucapku dan lagi – lagi dengan bibir yang bergetar..

“sudah.. ko jang kasih ingat kejadian tadi pagi..” ucap bung toni sambil memelukku erat..

“iyo bung..” ucapku dengan mata yang berkaca – kaca..

Dan setelah berpelukan dengan bung toni.. aku pun berpelukan dengan semua temanku dan meminta maaf tentang kejadian tadi pagi.. aku lihat wajah – wajah temanku sekarang dipenuhi semangat untuk balas dendam yang sangat luar biasa.. Mas wawan, mas bendu, mas akbar, mas raimond, mas bobby, mas danis, mas rudi, kakanda alan, satria, yuda, surya, aldo, Ilham, dalle dan tigor.. semua bersemangat sekali.. dan semoga kali ini kami bener – bener akan membantai cakra dan kelompoknya sampai tuntas… assuuu..

“assuu.. ini memang momen yang sangat langka dan sangat luar biasa.. kita semua bisa berkumpul ditempat ini.. dan harusnya kita mengucapkan terimakasih kepada cakra yang bisa membuat semua penghuni pondok merah berkumpul lagi.. hahahahaha..” ucap mas daud dengan senangnya..

“iya sebagai ucapan terimakasihnya.. kita kirim cakra dan anggotanya keneraka yang paling dalam..” ucap bang arman dengan wajah sangarnya..

“tapi ngomong – ngomong.. kok lima pendiri pondok merah belum bergabung ini..? kurang lengkap rasanya..” kata mas jalal lalu dia menghisap rokoknya..

“kakeh je’ ngomonging oreng kita lal.. dekki’ kakeh seh pemareh bi engko..” (kamu jangan ngomongin kami lal.. ku selesaikan nanti kamu..) ucap sesorang yang muncul didepan pintu warung dan dia adalah om nawi bersama om agus, om totok dan pak tomo.. cuukkk.. empat pendiri pondok merah datang..? tapi kemana ayahku ya..?

“kak nawi.. hahahaha.. ta’ langkong sepuranah kak.. de’ remmah kabarreh kak..?” (kak nawi.. hahahaha.. maaf kak maaf.. gimana kabarnya..?) ucap mas jalal langsung berdiri dan mendatangi om nawi…

“baik lal..” kata om nawi lalu mereka bersalaman..

“nawi.. jalal bisa ga kalian pakai bahasa yang dimengerti..?” ucap om totok dengan santainya..

“santai tok.. jangan emosi..” kata om nawi dan tersenyum seperti biasa..

“hahahahaha..” suara tawa langsung membahana diwarung ini..

“cuukkk.. ini luar biasa sekali cak.. gila.. sampean berempat main ketempatku ini..” ucap lek gito lalu berdiri dan menyalami para pendiri pondok merah.. dan lek ji’i serta yang lainpun ikut berdiri dan menyalami satu persatu empat pendiri pondok merah…

“jum.. keluarkan semua mansion gepeng dan vodka gepeng dibelakang..” ucap lek gito kepada pelayan yang semok itu..

“iya cak..” jawab pelayan itu.. dan dibantu dengan beberapa pelayan yang ada disitu.. minuman pun dikeluarkan.. bajingaann.. ini pesta minuman yang luar biasa sekali.. dan tampak mas rendi agak canggung ketika melihat om agus..

Dan setelah minuman dikeluarkan.. lek gito pun membandari minuman ini.. sejenak kami semua bercanda gurau sambil menikmati putaran gelas dari lek gito.. dan suasana disini langsung membuat bulu kudukku berdiri.. assuuu.. mereka semua berkumpul dari daerah masing – masing dan itu demi semangat pondok merah.. bajingaannnn.. ini mengharukan cuukkk.. mengharukan sekali.. dan seandainya disini ada ayah, mungkin pesta ini terasa akan lengkap sekali..

Dan obrolanpun diawali dengan nostalgila jaman mereka – mereka dahulu kala.. tidak ada sekat disini.. antara om agus yang paling tua dengan dalle dan tigor yang paling muda.. semuanya bersatu dengan gelas yang diputar lek gito.. tawa dan canda pun mengalir dengan indahnya.. assuuu..

Dan obrolan kami pun menjadi serius ketika om agus membuka omongan..

“jadi gimana rencanya ini to..?” kata om agus ke lek gito..

“saya sebenarnya ingin melakukan penyerangan beberapa hari lagi mas.. tapi berhubung semua sudah berkumpul disini, jadi mau ga mau kita harus menyerang kemarkas cakra malam ini juga..” ucap lek gito..

“lebih cepat lebih baik to..” ucap om nawi lalu tersenyum..

“tapi apa mas irawan datang ya..?” tanya lek ji’i.. kepada empat pendiri kos pondok merah lalu melirikku..

“ga tau kalau itu.. mas mu itukan misterius.. tiba – tiba datang lalu menghilang lagi..” kata om totok dengan santainya..

“datang atau tidak datang.. kita harus menyerang mereka malam ini..” kata om agus dengan dinginnya..

Cuuukkk.. masa ayahku ga datang sih..? padahal disinikan teman – temannya lagi berkumpul..

“ya pasti hadirlah aku kanda..” ucap sesorang berdiri dipintu warung dengan santainya dan dengan menghisap rokok surya kesukaannya..

Dan semua orang langsung melihat kearah pintu warung dan mereka semua langsung berdiri..

“irawannn..” ucap empat pendiri pondok merah..

“mas irawan..” ucap yang lain..

“ayah..” ucapku.. dan disana ayahku berdiri dengan santainya dan tersenyum kepadaku lalu kepada yang lain….

Cuukkk.. beberapa bulan aku ga ketemu ayah.. kenapa tubuhnya agak kurusan..? apa ayah sakit ya..? tapi kenapa ga pernah cerita..? atau karena ayah terlalu banyak kerja dan kurang tidur.. dan perlahan ntah kenapa cairan dari kelopak mataku menetes melihat ayah berdiri dihadapanku.. asuuu..

Aku lalu melangkah kearah pintu warung lalu meraih tangan ayahku dan mencium punggung tangan ayahku.. lalu ayahku memeluk aku dan mengelus rambutku dengan lembut..

“ayah sakitkah..?” tanyaku dipelukan ayah..

“ngga nak.. ayah kurang istirahat aja..” ucap ayahku sambil terus mengelus rambutku..

“beneran kan yah..?” ucapku sekali lagi..

“iya nak..” ucap ayahku..

“kenapa sandi menangis nak..?” tanya ayahku lalu mengangkat wajahku sehingga kami saling bertatapan..

“sandi kangen sama ayah..” ucapku dengan tetesan air mata yang terus turun dari mataku.. assuuu.. manja sekali aku ya.. bajingaannn..

“kamu itu nak..” ucap ayahku sambil menghapus air mataku yang mengalir..

“jangan terlalu banyak berkelahi nak.. lihat ini.. wajahmu sudah ga mirip del piero lagi..” kata ayahku sambil meraba wajahku yang bonyok dan luka – luka disekitar wajahku pun dielus dengan lembut juga..

“iya yah..” ucapku lalu menunduk dan aku langsung memeluk tubuh ayahku lagi…

“woi san.. manja banget sih kamu itu..” kata lek gito menegurku..

“emang kenapa de..? ga boleh anakku meluk aku..” ucap ayahku ke lek gito..

“ga pa – pa kok mas.. hehehehehe..” kata lek gito tersenyum..

Lalu setelah aku dan ayah selesai berpelukan.. ayahpun merangkulku dan mengajakku berjalan kearah teman – teman semua.. satu persatu semua orang berpelukan dengan ayahku.. mereka juga melepas kangen dengan ayahku ini..

Setelah kami semua melepas kangen.. kami pun duduk lagi.. dan melanjutkan pesta kami.. bajingaannn.. aku pun merasakan apa yang dirasakan mas rendi.. canggung ketika mengangkat gelas minuman pemberian lek gito.. ini adalah pertama kalinya aku minum satu meja dengan ayah.. bajingannn.. tapi ayah selalu tidak melihatku ketika aku meminum jatahku, dan aku pun tidak melihat ketika beliau meminum jatahnya..

“jadi bagaimana..?” ucap ayahku memulai pembicaraan dengan serius..

“semua tergantung kamu dinda.. kamu panglima perangnya malam ini..” kata om agus lalu tersenyum..

“ya udah kanda.. kita berangkat..” kata ayahku dengan santainya..

Cuukkk.. gitu aja..? dari tadi kami itu membahas bagaimana rencananya ketika menyerang markas kelompok cakra.. eh.. ayahku dengan gampangnya malah bilang ayo berangkat.. bajingaannn…

Dan semua cuman bengong mendengar ucapan ayahku.. kecuali empat pendiri kos pondok merah.. mereka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka..

“kenapa..? kalian ga pernah bertempur kah..? masa iya harus aku ajarin sih..?” kata ayahku lalu menghisap rokoknya dengan santainya..

“rencananya gimana mas.. masa datang langsung bak.. buk.. bak.. buk.. gitu..” tanya mas pandu dengan herannya..

“seperti biasa aja ndu.. kita datang, lalu selesaikan mereka dan pulang..” ucap ayahku dengan entengnya..

“jangan lupa saling melindungi.. aku yakin kalian pasti paham kok maksudku..” kata ayahku lalu berdiri dengan santainya..

Cuuukkk.. gila.. gitu aja.. bajingaannn.. dan suasana tegang langsung menyelimuti tempat ini.. kami semua berdiam diri dan mematung tanpa mengucapkan apa – apa..

“pertarungan ini bukan hanya untuk bapak (mbah jati).. tapi pertarungan ini untuk kita semua.. untuk setiap tetesan air mata.. untuk setiap tetesan darah yang mengalir dari tubuh kita.. dan untuk cinta yang terluka.. kita bantai mereka malam ini..” ucap ayahku dengan dinginnya sambil melihat kami satu persatu..

“BANTAIIIIII..” teriak kami bersama dengan tangan kiri terkepal keudara..

Dan ayahku pun melangkahkan kaki keluar diikuti empat pendiri kos pondok merah, lek gito dan lek ji’i, generasi kedua dari pondok merah, generasi mas pandu, generasi mas rendi, gerenerasi ku dan dibelakangnya seluruh anggota lek gito dan lek ji’i yang telah menunggu diluar warung…

Bajingaannn.. ini adalah susana yang paling membuat aku merinding ketika akan bertempur.. belum pernah aku merasakan hawa seperti saat ini.. hawa ingin membantai yang menyatu disemua generasi.. gila.. ini gila.. jianncookkk…

#cuukkk.. pembantaian akan segera dimulai.. darah kami semua mendidih dan emosi kami juga bergejolak.. dan ini semua untuk cinta dan persaudaraan.. bajingaann…