. Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 73 | Kisah Malam

Perjalanan Mengejar Cita dan Cinta 2 Part 73

0
386

Bagian 73 – Terbakar

Suasana pagi diruang tengah kos – kosan ini tidak seperti biasa.. teman – teman semua lebih banyak diam dan wajah – wajah mereka seperti sedang menikmati kekalahan.. kejadian kemarin malam terus terang berpengaruh terhadap mental teman – teman.. pondok merah yang terkenal dengan kegarangannya, kemarin malam harus menerima kenyataan pahit.. kami semua tumbang.. hanya aldo saja yang tidak tumbang, karena kebetulan dia berpesta diluar gang tengkorak..

Memang awalnya kami menang dengan membabat habis semua anak – anak iblis hitam.. termasuk juga alwi dan black pimpinan mereka.. tapi apa arti sebuah kemenangan bila akhirnya kami semua tumbang dengan seseorang tamu yang sangat mengejutkan kami.. ‘king’ atau cakra..

Kemenangan yang terasa anti klimaks.. wajah mas rendi, mas wawan, mas bendu dan bung toni terlihat sangat kecewa.. kemenangan yang sudah didepan mata harus sirna dengan seseorang yang bernama cakra itu.. bajingaannn.. dan ini adalah kado yang sangat pahit bagi empat sekawan pondok merah yang sudah berniat untuk lulus dari kampus teknik kita..

Kalau mendengar cerita tentang cakra dari aldo.. memang dia bukan tandingan kami.. tapi masa iya kami yang berjumlah tujuh belas orang tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti.. assuuuu..

Kami semua tumbang dan baru sadar keesokan harinya disebuah klinik.. klinik yang baru buka dan pemiliknya adalah anak dari om totok..

Malu, sakit dan kecewa menjadi satu.. dan itu membuat kami semua seperti anak kecil yang baru belajar berkelahi dan kalah dengan telak oleh satu lawan kami.. bajingaaannn..

Tapi apa kami harus terjerumus dengan kekalahan ini..? jangan.. pondok merah terlalu indah untuk berlarut – larut dalam sebuah kekalahan.. kami harus bangkit.. dan kami harus bisa membantai cakra.. dan kami tidak bisa seperti ini terus menerus.. semenjak semalam, aku merasa suasana kehidupan dikossan ini seperti mati dan tidak ada nafas didalamnya.. jancokkk..

Ada apa dengan teman – temanku ini..? kenapa mereka tidak mau menerima ini sebagai suatu pelajaran..? apa mereka terlalu terbuai dengan kedigdayaan dan kejayaan pondok merah, jadi mereka sulit untuk menerima kekalahan..

Aku juga sakit sama seperti mereka, tapi aku bukan type orang yang menyukai keterpurukan dalam hal perkelahian seperti ini.. aku hanya butuh waktu beberapa saat saja untuk sakit.. setelah itu pasti emosiku akan memuncak lagi dan ingin segera balas dendam atas semua ini..

Apakah emosiku ini dirasakan juga oleh teman – teman..? atau mereka hanya ingin menikmati kekalahan ini.. bajingaaannn..
Dan ditengah lamunan kami semua.. ada seekor cicak jatuh di meja tepat dihadapan kami..

PLAKKK..

Teman – teman langsung terkejut semua..

“assuuuu..” maki teman – temanku yang terkejut lalu berdiam diri lagi.. dan itu membuat cicak yang jatuh tadi cepat berlari dari meja.. bangsat.. lebay banget semua orang disini.. kenapa harus kaget dengan jatuhnya seekor cicak sekecil itu sih..? lagian kan itu cicak yang jatuh, bukannya asuuu.. kenapa harus memaki assuu nya..? bajingaann..

Terus terang melihat situasi yang seperti ini, hatiku semakin sedih.. aku sedih melihat kenyataan teman – temanku tidak menerima kekalahan ini.. dan yang membuat aku semakin sedih, teman – teman hanya duduk diam dan meratapi kekalahan ini.. dan bukannya segera bangkit dari keterpurukan ini.. apa mungkin mereka butuh shock terapy dulu supaya mereka bangkit dan semangat lagi..? bangsaaattt.. situasi seperti ini malah membuat aku semakin emosi dan semakin ingin menggila..

Akupun lalu berdiri dari tempat dudukku lalu aku membakar rokokku.. dan ketika aku akan melangkah..

“mau kemana kamu san..?” tanya mas wawan yang membuka omongan dan memecahkan keheningan ruangan ini..

“mau cari udara segar mas… aku malas disini terus.. duduk bersama sekumpulan orang – orang P E C U N D A NG..” ucapku dengan penekanan kata yang tegas.. aku sengaja ingin memancing emosi teman – teman diruangan ini..

“maksudmu apa san..? kamu kira setelah kekalahan kita kemarin malam, aku ga punya nyali lagi gitu..? bangsattt.. kamu kira aku ga bisa merobohkan kamu sekarang ini kah..?” ucap mas akbar dengan emosinya dan dia langsung berdiri sambil menatapku tajam..

Mas wawan, mas bendu, bung toni, mas raimond, mas bobby, mas danis, mas rudi, kakanda alan, langsung melihat kearahku dengan emosi juga…

Sedangkan satria, yuda, surya, aldo, Ilham, dalle dan tigor hanya membuang muka mereka.. sementara mas rendi cuek saja sambil terus menghisap rokoknya..

“terus sampean mau apa..? sampean mau melampiaskan kekalahan kemarin malam dengan cara duel sama aku kah..?” ucap dengan santainya..

“jaga omonganmu san.. jangan terlalu angkuh.. kamu tinggal pilih aja siapa yang mau jadi lawan duelmu diruangan ini.. orang – orang yang kamu anggap sebagai P E C U N D A NG..” ucap mas danis dengan dinginnya..

“terus kalau ga mau disebut pecundang, mau disebut apa lagi mas..?” ucapku dan aku masih berdiri dengan santainya..

“jiancoookkk..” ucap mas bobby dan dia juga langsung berdiri lalu bersiap menyerangku..

Dan diruangan ini yang tadinya tenang, langsung berubah dipenuhi emosi..

“siapa lagi..? cuman mas akbar sama mas bobby aja ini yang berdiri..?” ucapku lalu aku menghisap rokokku dalam – dalam..

“asuuuu..” mas wawan, mas bendu, bung toni, mas raimond, mas danis, mas rudi, kakanda alan memakiku dengan kompak dan langsung berdiri juga..

“san..” ucap mas rendi dengan dinginnya..

“kenapa mas rendi..? ada yang salah dengan ucapanku..? memang benarkan.. disini cuman sekumpulan orang – orang pecundang..” ucapku lalu aku membuang mukaku.. dan ketika aku akan melangkah..

“CUKIMAIII KO SAN..” teriak bung toni dan dia langsung berlari kearahku sambil melayangkan sebuah pukulan kearah wajahku..

BUUUHHHGGGGG..

Aku oleng dan sempat mau roboh terkena kepalan tangan kanan bung toni yang sangat besar dan kuat, tepat dipipiku sebelah kiri.. tapi aku langsung menahan tubuhku dengan menekuk kaki kananku sedikit lalu mendorongnya supaya aku tegak berdiri lagi.. lalu aku menatap bung toni yang berdiri tidak jauh dari hadapanku.. kedua tangannya terkepal dan matanya melotot.. nafasnya pun naik turun menahan emosinya yang memuncak.. sementara yang lain langsung menatapku dengan kemarahan..

Perlahan aku merasa ada cairan asin ditepi bibirku.. assuuu.. darah ini cuukkk.. aku menunduk sebentar, lalu aku membersihkan darah yang ada ditepi bibirku dengan menggunakan jempolku lalu menjilatnya.. heeeemmmm.. aku menikmati cairan darah yang ada dilidahku.. rupanya masih bisa emosi teman – temanku ini.. bajingan.. aku lalu menatap semua teman – temanku satu persatu dengan tajam.. dan pandanganku berhenti di bung toni yang sedang terbakar emosinya.. aku pun menatap mata bung toni dengan tajam..

“ayahku tidak pernah mengajarkan aku tentang arti kekalahan bung.. yang ada hanya sebuah pelajaran,.. supaya aku mengerti dan tidak berlarut – larut menikmati setiap tetesan darah yang keluar dari tubuhku dengan cara berdiam diri…. dan setiap aku terbaring dirumah sakit akibat perkelahian.. ayahku selalu berkata ‘jatuh itu biasa mas.. bangkit yang luar biasa..’ “ ucapku dengan dinginnya dan kata – kata yang sengaja aku buat lambat dan tegas.. lalu aku hisap rokokku dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan..

“ayahku bilang jatuh bung.. JATUH.. BUKAN KALAH..” ucapku pelan lalu berteriak.. teman – temanku pun semua langsung kaget mendengar teriakanku dan pandangan mereka perlahan berubah, tidak se emosi tadi.. dan mereka semua langsung menundukkan kepala.. sedangkan bung toni yang ada dihadapanku pun, juga langsung menunduk.. tangannya yang tadi terkepal.. langsung terbuka dengan lemasnya..

Mas wawan, mas bendu, mas raimond, mas danis, mas rudi, kakanda alan, mas akbar dan mas bobby satu persatu duduk kembali.. suasana kembali hening.. tidak ada emosi lagi yang terasa dari teman – temanku diruangan ini..

“itulah alasannya aku mau keluar dan mencari udara segar.. karena aku ga mau duduk dengan orang – orang yang hanya mau meratapi kekalahannya.. itu sama saja dengan P E C U N D A NG..” ucapku lagi.. dan sekali lagi tidak ada jawaban dari teman – teman atau emosi seperti tadi.. mereka semua tetap tertunduk.. hanya mas rendi yang tidak menunduk dan tetap asyik menikmati rokoknya..

“kalian semua lihat cicak yang jatuh tadi kan.. apa setelah dia jatuh, terus dia tidur tiduran dan bermalas – malasan dimeja..? atau dia malah menangis meratapi kejatuhannya..?”

“ngga kan..? dia cepat berbalik dan turun dari meja.. berlari kedinding, naik lagi keplafon dan berdiri lagi dengan sombongnya diatas sana..” ucapku sambil menunjuk cicak yang ada diatas plafond.. cicak itu seolah tertawa melihat kesedihan diwajah teman – temanku ini.. bajingaannn…

“apa setelah jatuh dia takut untuk naik ke atas lagi..? E N G G AK..”

“dia malah berlari lebih kencang lagi tanpa memperdulikan rasa sakitnya ketika jatuh.. dan dia berlari disela – sela makian kalian semua..”

“JIAANNNCOOOOKKKK..” makiku dengan keras dan emosi yang menggelora..

“dimana semangat pondok merah yang pernah aku rasakan menggelora dikota ini..? dimana semangat itu..? DIMANA..?”

“semangat untuk saling mendukung diantara saudaranya, semangat untuk menarik saudaranya ketika jatuh.. semangat canda tawa ketika duduk diruangan ini..”

“DIMANAAAA…??”

“apa semua telah direngut oleh si cakra itu..?”

“aku memang jatuh oleh pukulan dan tendangannya kemarin malam.. tapi itu menjadi semangat buat aku untuk membalas setiap pukulannya yang mendarat ditubuhku.. dan menjadikan semangat untuk membalas setiap tetesan darah yang mengalir dari tubuhku dan darah dari saudara – saudaraku..” ucapku dengan tegas dan mata yang berkaca – kaca..

“tadinya aku percaya.. bahwa kekuatan cakra itu tidak ada apa – apanya walaupun sempat menumbangkan kita semua.. aku percaya bahwa semangat pondok merah pasti bisa membalas kekalahan itu..”

“tapi ternyata semua itu hanya omong kosong.. wajah – wajah kalian yang menyedihkan ini.. tidak akan bisa mengalahkan cakra.. TIDAK AKAN BISA..”

“JIANNCOOOKKKK..!!!!!!!” teriakku lagi dan aku langsung berbalik keluar kosan.. aku menuju tigi yang terparkir diluar kosan.. dan ketika aku sudah diatas tigi dan menyalakan mesinnya..

BRUUMMMM… BRUUMMMM… BRUUMMMM… BRUUMMMM…

Aku menarik gas tigi sekencang – kencangnya.. lalu aku menjalankan tigi keluar gang.. dan setelah sampai dijalan raya.. aku menarik lagi gas tigi dengan kecepatan penuh..

Aku keluar dengan emosi yang menggila dan darah yang mendidih.. sebenarnya aku marah bukan pada teman – temanku.. aku marah untuk diriku sendiri.. aku juga kalah malam itu.. tapi aku ga mau terlalu berlarut – larut dengan jatuhnya aku malam itu..

Dan aku sengaja berteriak hanya untuk membangkitkan semangat mereka dan semangatku sendiri.. terserah mereka menganggapnya seperti apa..

Dan kalau memang teman – temanku tidak mau bangkit dari kekalahannya.. aku sendiri yang akan bangkit dan aku sendiri yang akan mencari si cakra bangsat itu… dan aku akan mengembalikan senyum dari teman – temanku.. bajingaannn….

Dan aku terus memacu tigi dengan kecepatan penuh.. tujuan pertamaku adalah warung cak gundul.. aku membeli empat botol mansion gepeng dan beberapa bungkus rokok serta teh kotak.. setelah itu aku melanjutkan perjalananku lagi.. aku menuju ketempat sepi, tempat aku dulu pernah dibantai sampai aku kritis dan masuk rumah sakit.. aku ingin menenangkan diri sejenak dan memikirkan langkah untuk mencari cakra.. tempat itu memang tepat untuk menenangkan diri..

Dan setelah sampai ditempat sepi ini.. aku parkirkan tigi dan aku berjalan ketepi jurang.. aku lalu duduk dipinggiran beton tepi jurang.. botol – botol mansion gepeng aku jejer disebelahku bersama beberapa teh kotak dan rokok yang baru aku beli..

Aku membuka satu teh kotakku lalu meminumnya dan setelah itu aku membuka satu botol mansion gepeng lalu meminumnya setengah..

Aku pun menikmati aliran cairan mansion gepeng yang masuk ditenggorokanku, ditemani hawa dingin tempat ini dan pemandangan kota yang terhampar indah dihadapanku.. kepulan asap rokokku pun keluar bersama emosiku yang meledak – ledak dikepala..

“caramu membangkitkan semangat teman – temanmu itu bagus san..” ucap sesorang yang baru datang dan langsung duduk disebelahku.. dan aku merasa dia mengambil satu botol mansion gepengku dan langsung meminumnya sekali nafas dan langsung membuang botolnya kedalam jurang.. bangsaatt.. siapa dia..? kok enak sekali mengambil minumanku tanpa permisi.. bajingaaannn.. tapi ngomong – ngomong kuat juga dia minumnya.. sekali nafas dan langsung habis… gilaaa..

Aku lalu melirik orang yang duduk disebelahku.. dia memakai topi pelukis.. dan betapa terkejutnya aku setelah memperhatikan wajahnya dari samping.. dia ini om edigius van gerrit.. cuuukkk.. om agus.. ngapain beliau kesini..?

“om..” ucapku yang terkejut..

“san.. orang itu punya cara sendiri untuk menikmati kekalahannya.. kamu boleh membangkitkan semangat mereka, bagus sih.. tapi kamu ga bisa memaksa mereka supaya seperti kamu.. biarkan mereka bangkit dengan cara mereka sendiri.. dan aku yakin.. mereka akan menggila setelah kekalahan ini..” ucap om agus lalu beliau membakar rokoknya dan menghisapnya pelan..

“kekalahan ini pasti menyakitkan bagimu dan bagi teman – temanmu.. karena kalian terbiasa dengan kemenangan..”

“ingat san.. kekalahan ini adalah teguran buat kalian semua.. teguran agar kalian bisa lebih berhati – hati dan lebih matang dalam menyusun suatu rencana kedepannya.. dan teguran ini, harusnya buat kalian menjadi lebih menyatu dalam ikatan pondok merah.. bukan hanya tentang perkelahian tapi juga tentang kehidupan.. kehidupan yang keras diluar sana..” ucap om agus lalu melirikku sebentar lalu menghadap lurus kedepan lagi..

“dan yang harus kamu tau.. kerasnya kehidupan ini, bukan ditentukan dengan kepalan tangan.. tapi ketenangan dalam berpikir.. berpikir untuk menyelesaikannya satu persatu.. bukan dengan emosi, tapi kejernihan otak.. kamu pahamkan..?” ucap om agus dengan santainya..

“kami dulu juga pernah kalah oleh cakra dan kelompoknya.. tapi kebersamaan kami bisa membalas semuanya.. walaupun akhirannya kami tumbang dan hanya ayahmu yang berduel dengan cakra.. tapi semangat kami semua menyatu dengan kepalan tangan ayahmu.. cakra bisa roboh dan tumbang.. ayahmu memang luar biasa.. tapi ayahmu justru menganggapnya ini kemenangan pondok merah bukan kemenangan pribadinya..” ucap om agus lagi..

“aku tau.. kamu pasti punya pemikiran sama seperti ayahmu.. hanya emosimu saja yang kadang – kadang terlalu meluap.. dan aku juga tau kamu juga sedang belajar untuk mengontrol emosimu itu..” ucap om agus sambil menepuk pundakku pelan..

“maaf om..” ucapku lalu menunduk dan menghisap rokokku..

“ga ada yang perlu dimaafkan san.. aku hanya pesan.. bangkitlah kalian dari bayang – bayang kami.. selesaikan semua masalah ini dengan cara kalian dan kebersamaan kalian.. jangan pernah menjadi orang lain.. jadilah diri – sendiri.. dan jadikan kebersamaan kami hanya sebagai motovasi kalian saja..” ucap om agus lalu menghisap rokoknya lagi..

“iya om..” ucapku singkat.. assuuu.. kata – kata om agus ini betul – betul serasa menampar kedua pipiku.. bajingaannn… aku pun menundukkan kepala dan merenungkan setiap kata – kata beliau.. dan setelah berdiam diri beberapa saat..

“om boleh sandi tanya..?” ucapku dengan pelan dan melihat om agus sebentar lalu melihat lurus kedepan lagi..

“tentang cakra ya..?” ucap om agus.. aku lalu menganggukan kepalaku.. semalam aldo memang sudah cerita tentang cakra.. tapi hanya sebatas garis besarnya saja.. aku ingin mengetahui semua tentang cakra dan awal permusuhannya dengan pondok merah..

“cakra itu dulunya sahabat ayahmu dan sahabat kami.. kami dulu satu kampus dan satu kos sebelum kami pindah kepondok merah..”

“awal permusahan kami dengan cakra adalah cinta dan tahta.. cakra itu orangnya ambisius.. dia akan melakukan segala cara untuk meraih segala mimpinya.. dia ingin menguasai dunia bawah tanah kampus teknik kita dan kota ini.. dan dibantu ayahnya yang bersebrangan dengan bapak (mbah jati), cakra mulai melakukan aksinya dengan menghancurkan satu persatu kelompok preman dikota ini dan memaksa mereka untuk bergabung dengannya.. cakra melakukannya bersama dengan kelompoknya tanpa sepengetuhuan kami.. “

“dan setelah mengetahui semua aksinya.. ayahmu mencoba merangkulnya lagi.. bagaimanapun dia adalah sahabat kami.. ayahmu ga mau, persahabatan kami bubar hanya karena ambisi salah satu orang.. dan itu sudah hampir berhasil.. tapi, cinta yang membuat permasalahan itu kembali muncul dan melebar kemana – mana.. dan cinta itu adalah putri anjani ranajaya.. seorang wanita cantik dan anggun yang membuat cakra jatuh hati dan kecewa.. wanita yang sekarang menjadi ibumu..” ucap om agus lalu diam sejenak..

Bajingaannn.. ternyata ini toh awal mulanya.. assuuu.. kenapa cinta yang harus dipermasalahkan oleh semua orang..? harusnya cinta kan menyatukan, bukannya malah menjadikan permusuhan..?

“kamu pasti berpikir kenapa cinta bisa membuat segalanya menjadi gila..? ya begitulah adanya.. kalau cinta itu tulus, dia akan bisa menyatukan segalanya.. tapi kalau cinta itu buta.. dia akan menghancurkan segalanya..”

“dan salah satu bukti cinta tulus itu masih ada.. damayanti.. dia bisa menerima semua keputusan ayahmu dan tidak memaksakan cintanya walaupun itu sakit..”

“dan bukti cinta itu buta, ada di cakra..”

Assuuu.. gila.. ini gila.. begitu besarnya pengaruh cinta didunia ini.. bajingaann..

“sebenarnya sebelum masalah itu terjadi, kami sudah berniat untuk pindah kosan baru dan berkumpul disana.. tapi apa daya.. semua tidak terlaksana dengan baik.. kami berlima pindah tanpa cakra.. dia pindah dikosan lain dan diapun pindah kampus kekampus teknik kuru.. kami pindah kekosan baru yang sekarang jadi kos pondok merah.. sedangkan cakra mendirikan black house..”

Cuukkk.. keblack house lagi ujung tali yang ruwet ini.. assuuuu..

“kalau iblis hitam om..?” tanyaku

“iblis hitam itu karena black house tidak bisa bersaing dengan pondok merah.. jadi cakra dengan nafsunya yang gila, mengumpulkan semua bajingan – bajingan kampus dikota ini untuk melawan kampus teknik kita.. dan itu awalnya kami kalah.. tapi kami bisa membalasnya dan menghancurkan iblis hitam.. tapi benih – benih mereka sekarang mulai bangkit lagi lewat black dan anggota seven devilsnya.. ”

“dan cakra tidak pernah puas mengganggu ayahmu dan keluarga jati.. cakra pindah ke ibukota provinsi dan membuat perkumpulan baru untuk menyaingi kelompok mbah jati.. salah satunya dengan aliansi selatan.. dia ingin merebut semua bisnis bapak..” ucap om agus lagi.. lalu beliau diam sesaat dan mengambil satu botol mansion gepengku.. beliau lalu membukanya dan meminumnya sedikit, lalu diletakkan disampingnya..

Cuukkk.. sampai segitunya ya.. bajingaannn.. berarti ini bukan hanya tentang cinta dan tahta.. tapi juga tentang harga diri yang merasa kalah segalanya.. asssuuu..

“apa ayah akan datang setelah kejadian ini om..?” tanyaku lalu aku meminum mansion gepengku yang sisa setengah…

“ga tau.. ayahmu itu gila dan misterius.. dia bisa aja muncul tiba – tiba tanpa kami tau.. tapi kalau dia ingin bertarung, pasti akan datang kekami dulu seperti waktu melawan aliansi selatan waktu itu..” ucap om agus lalu meminum mansionnya lagi sampai habis.. gila nih tenggorakan om agus.. lempeng banget ya minum dua botol mansion gepeng begitu..

“jadi apa yang harus kami lakukan sekarang ini om..?” tanyaku lagi..

“ikuti kata hatimu dan jangan gegabah.. satu lagi.. control emosimu.. kamu itu bisa lebih gila dari ayahmu dalam segala hal, kalau kamu bisa mengendalikan pikiranmu..” ucap om agus lalu berdiri dari tempat duduknya.. aku pun langsung mengerutkan kedua alisku.. maksudnya apa nih ya..?

“berbanggalah dan berbahagialah nak.. karena terlalu banyak orang yang menyayangimu dan mencintaimu, walaupun cara mereka berbeda dalam mengungkapkannya.. kamu akan menjadi pembeda dan menjadi seorang yang mengubah semuanya menjadi lebih baik.. pikirkanlah itu..” ucap om agus lagi lalu berbalik dan meninggalkan aku yang hanya bisa menatapnya pergi dari belakang..

Dan ga berapa lama sebuah mobil berhenti didekat kami.. om agus lalu naik mobil itu dan meninggalkan aku seorang diri..

Cuukkk.. maksudnya apa nih kata – kata terakhir om agus..? banyak yang menyayangi aku..? ah ga mungkinlah.. mungkin itu hanya teman – temanku dan wanita – wanitaku saja.. mau siapa lagi..? oh iya mungkin keluarga ku ya.. terus menjadi pembeda dan mengubah menjadi lebih baik..? apa lagi itu.. apa yang beda dan apa yang perlu diperbaiki.. ? semua sudah nyaman kok.. tinggal masalah dengan cakra saja, tidak ada yang lain.. bajingaannn.. tambah mumet aja aku.. asssuuu..

Aku lalu menghabiskan sisa botol mansion dengan perlahan sambil terus berpikir.. cuukk.. sepertinya aku harus cari tempat baru untuk mencari inspirasi diotakku.. bajingaannn..

Setelah minumanku habis dan teh kotakku habis.. aku lalu pergi meninggalkan tempat sepi ini.. aku menarik gas tigi menuju kafe ditengah kota.. kali ini aku agak santai mengendarai tigi..

Dan ketika hari menjelang malam.. aku pun sampai dikafe tujuanku.. dan ini kedua kalinya aku berkunjung dikafe ini..

“mas teh panas ya..” ucapku kepada seorang pelayan.. setelah itu aku mencari tempat duduk yang paling pojok dan tidak terlalu terlihat orang yang berlalu lalang.. tempat yang selalu aku cari ketika aku berkunjung ke semua kafe..

Dan ga berapa lama.. datang pelayan tadi sambil membawa teh hangat pesananku.. aku lalu menikmati teh panas itu lalu aku bakar rokokku.. dan kembali aku berkutat dengan pikiran yang terus menggelayut diotakku.. assuuu..

Oh iya.. gimana kabar ayu ya..? aku lalu mengambil hpku dan menelpon ibu ratih..

“halo bu..” ucapku setelah sambungan telpon ku diangkat..

“ya nak.. gimana kabar sandi..? dua hari kok ga kasih kabar..?” tanya ibu ratih kepadaku..

“baik bu.. maaf.. kemarin sandi sibuk bu..” ucapku berbohong.. padahal kemarin lusa aku pingsan dan baru sadar kemarin siang.. setelah itu aku balik kekosan dan larut dengan kekalah bersama dengan teman – teman kosku sampai tadi pagi…

“oh.. jadi gimana..? masih berkutat dengan permasalahan atau sudah diselesaikan..?” tanya ibu ratih..

“masih berusaha menyelesaikan semuanya bu..” ucapku

“ya nak selesaikan dulu.. setelah itu baru sandi kesini ya..” ucap ibu ratih lalu terdiam..

“iya bu.. gimana ayu bu..?” tanyaku

“ayu sudah keluar rumah sakit tadi pagi nak.. dan mungkin setelah ini perlu teraphy beberapa kali kedokter..”

“teraphy..? ke.. ke.. kenapa bu..? apa luka dikepala ayu parah..?” tanyaku kaget..

“engga.. engga apa – apa kok nak.. maksud ibu cuman kontrol aja sama dokter..” ucap ibu ratih dengan gugup..

“bu.. ada apa dengan ayu..? beneran ayu ga kenapa – kenapa bu..?” tanyaku dengan rasa khawatir sekali..

“ga pa – pa nak.. sudah tenang aja..” ucap ibu ratih singkat dan seperti menyembunyikan sesuatu..

“bu..” ucapku lagi..

“nak.. percayakan sama ibu..? disini baik – baik saja.. selesaikan lah masalah sandi, setelah itu baru kesini nak ya..” ucap ibunya ratih menenangkan aku.. cuukkk.. gimana aku mau tenang kalau seperti ada yang disembunyikan begini.. assuuu..

“bu maaf kan sandi ya.. maaf kalau sandi masih belum bisa kesana..”

“iya nak.. ibu paham kok.. sudahlah jangan pikirkan disini.. percayakan semuanya sama ibu aja ya..”

“iya bu..” ucapku lalu terdiam dan berpikir kembali..

“sudahlah.. jangan dipikirkan ya nak.. udah dulu.. ibu mau masak..” ucap ibu ratih

“oh iya bu.. maaf kalau sandi ngerepotin ibu..”

“apasih..? kalau seperti ini terus kata – katanya sandi, mending ga usah telpon ibu lagi..”

“eh.. iya – iya bu.. hehehehe..” ucapku dengan senyum yang terpaksa..

“ya udah nak ya.. semoga urusan sandi cepat selesai dan sandi cepat kesini..”

“iya bu.. terimakasih..” ucapku lalu ibu ratih menutup telponnya..

Assuu.. kenapa sih kalau membahas ayu, ibu ratih seolah menutupi sesuatu dan ingin cepat menutup telponnya.. ahhh.. bajingaannn.. aku harus menyelesaikan semuanya dan cepat kekota sebelah untuk menemui ayu..

“mas..” ucap seseorang pemuda yang datang dan mengagetkanku.. dan dia langsung duduk dihadapanku..

“ya..” ucapku singkat sambil menatapnya..

“hehehe.. saya kelvin.. saya pemilik kafe ini..” ucapnya sambil tersenyum..

“oh ya.. ada apa mas kelvin..?” tanyaku..

“sampean cuman minum teh panas aja nih..? ga pengen nyobain minuman yang spesial dikafe ini..?” tanyanya..

“minuman apa mas..? bukan racunkan..” kata ku sambil sedikit bercanda..

“siapa yang berani kasih racun sama sandi purnama irawan.. anak kos pondok merah.. hehehehe..” ucapnya lalu tertawa..

Assuuu.. dia kenal aku..? bajingan..

“sampean kok kenal aku mas..?” tanyaku dengan heran lalu aku membakar rokokku..

“hehehe.. ya kenal lah mas.. kalau anak – anak pondok merah pasti aku kenal semua.. apalagi mas pandu.. teman akrabku tuh.. dulu sering kesini..” kata mas kelvin dengan senyum khasnya..

“oh.. sampean kenal mas pandu ya..” ucapku..

“iya mas.. pamanmu yang gila itu juga sering cerita tentang kamu.. disini tempat nongkrongnya tiga singa tua.. mas pandu, mas arief dan mas adam..” katanya lagi..

“dan ini kunjungan sampean yang kedua kan kesini..? yang pertama waktu membuntuti dosenmu yang judes itu.. hehehehe..” ucapnya lalu tertawa..

Assuuu.. kok dia paham sekali dengan gerak – gerikku.. bajingann..

“cuukkk.. sampai segitunya sampean tau tentang gerak – gerikku mas.. mas ini orangnya pak tito kan..?” ucapku dengan santainya.. aku hanya menebaknya sih.. kalau melihat caranya berbicara dan menatapku, kelihatannya dia dari kalangan militer..

“hahahaha..” dia cuman tertawa..

“assuuu.. malah tertawa lagi sampean.. mana nih minuman sepesialnya..” ucapku kepadanya..

“oh iya.. din.. bawa minuman special kafe ini kesini..” ucap mas kelvin kepada salah satu pelayannya..

Dan ga berapa lama seorang pelayan membawa segelas minuman kepadaku.. warnanya biru muda dan ada es batunya.. dan ketika aku meminumnya, minuman ini langsung nendang dikepala.. rasanya manis dan dan tidak terlalu berasa alkoholnya.. tapi efeknya langsung membuat kedua alisku terangkat.. asssuuu..

“cuukkk.. mantap bener ini minumannya mas.. bajingan.. minuman apa ini mas..?” ucapku sambil terus mengangkat kedua alisku dan sesekali memejamkan mataku..

“hahahaha.. kalau aku kasih tau ga special mas.. itu rahasia kafe ini..” ucapnya sambil terus tersenyum kepadaku.. assuuu..

“eh mas.. ada dosenmu tuh..” katanya sambil mengkodeku untuk melihat pintu kafe..

Dan benar saja.. ketika aku berbalik melihat pintu masuk kafe.. disana terlihat bu jenny yang baru masuk ke kafe ini dengan muka yang seperti biasa.. tidak tersenyum.. assuuu.. aku lalu membuang mukaku lagi menatap mas kelvin..

Jenny kusuma


“aku tinggal dulu ya.. hehehehehe..” ucap mas kelvin lalu berdiri..

“oh iya.. minuman ini gratis untuk sampean mas.. itu minuman selamat datang.. besok – besok kalau kesini lagi, baru sampean bayar.. hehehehehe..” ucap mas kelvin..

“oke mas.. terimakasih ya..” ucapku.. dan mas kelvin langsung meninggalkan aku seorang diri lagi..

Dan aku meminum lagi minuman special dari kafe ini perlahan.. perlahan aku mendengar seseorang berjalan dibelakangku… asuuu.. masa bu jenny kearahku sih..? bajingan..

“kamu ngapain disini..? kamu mau mata – matain aku ya..?” ucapnya yang berhenti dan berbicara dengan sinisnya..

Bajingaannn.. yang ngikutin dia siapa..? dan kenapa dia juga dia harus bicara begini sama aku..? lagian kan aku duluan yang duduk dikafe ini.. assuuu’og..

Aku lalu menghisap rokokku dengan santainya lalu meliriknya sebentar.. matanya terlihat ngeselein banget waktu menatapku.. jiancook’i.. aku lalu melihat lurus depan lagi..

“yang ngikutin ibu itu siapa..? aku loh dari tadi duduk disini..” ucapku dengan cueknya..

“eleh.. kan kamu tau kalau ini kafe langgananku.. jadi kamu sengaja kesini untuk mata – matain aku kan..?” ucapnya dengan jutek..

“dari pada ibu berdiri dan ngomel ga jelas.. mending duduk.. terus pesan minuman..” ucapku dengan santainya..

“siapa yang mau duduk sama orang yang kurang ajar kayak kamu ini..” ucapnya..

“hehehe.. ibu ambeien ya..” ucapku lalu tersenyum dengan sinisnya..

“apa..? kurang ajar..” ucapnya dengan emosi lalu berbalik.. dan ketika bu jenny akan meningalkan aku..

“berarti bener ibu ini ambeien.. hehehehehe..” ucapku lagi dan aku meliriknya lagi.. bu jenny pun berbalik..

“kurang ajar ya kamu..” ucapnya dengan geregetan..

“ternyata.. selain sakitnya dibokong.. ambeien itu bisa membuat komplikasi di semua tubuh ya.. pikiran emosi, mata melotot, bibir manyun dan marah – marah ga jelas..” ucapku..

“kurang ajar.. yang ambeien itu siapa..? kamu memang suka cari masalah sama aku ya..” ucapnya dan dia langsung duduk didepan ku dengan emosinya dan langsung menatapku dengan tajam..

“loh bisa duduk toh bu..? ga sakit tuh bokong.. hehehehe..” ucapku dengan senyuman yang mengejek..

“kurang ajar.. aku duduk itu mau buktikan sama kamu, kalau aku itu ga ambeien seperti yang kamu pikirkan itu..” ucapnya dengan geregetan..

“ohhh.. gitu ya..” ucapku dengan santainya…

“mas..” ucapku memanggil seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari aku..

“ya mas mau pesan apa..” ucapnya kepadaku..

“oh.. mba ini yang mau pesan..” ucapku sambil melirik bu jenny yang ada didepanku..

“ha..?” ucapnya lalu bengong melihatku.. hahahaha.. gemesin banget sih ekspresinya..

Assuuu.. cantik juga loh bu jenny ini.. tapi judesnya itu loh ga nguati.. dan ga tau kenapa, kok sekarang ini aku pengen ngobrol dengan bu jenny.. walaupun sebenarnya dia marah denganku…

“pesan apa bu..? kasihan masnya nunggu nih..” ucapku dengan santainya..

“ya mba jenny.. mau pesan apa..?” tanya pelayan itu.. cuukkk.. rupanya dia terkenal juga dikafe ini..

“eh.. biasa deh mas..” ucapnya dengan salah tingkah ke pelayan ini..

“oke deh mba..” lalu pelayan itu meninggalkan kami berdua..

“kamu jangan geer ya.. jangan dikira aku senang duduk berdua sama kamu disini..” ucapnya dengan mata yang melotot..

“ibu ga bosan ya, marah terus menerus sama aku..?” ucapku lalu aku menatap dalam – dalam matanya.. setelah itu aku menghisap lagi rokokkku yang sisa sedikit lalu mematikannya..

Dan dia langsung salah tingkah ketika aku menatap matanya dengan serius.. ibu jenny menunduk lalu melirikku lagi dan menunduk lagi..

“bu.. untuk kali ini hilangkan kebencian ibu denganku.. aku lagi malas ribut bu.. besok – besok mau dilanjut terserah..” ucapku lagi..

Dan ga berapa lama.. seorang pelayan datang sambil membawa pesanan bu jenny.. setelah meletakkan pesanannya.. pelayan itu meninggalkan kami berdua..

Bu jenny meminum minuman itu sambil menoleh kearah yang lain.. dan caranya menyeruput sedotan sungguh seksi sekali.. bajingaann.. bibirnya itu merah diwajahnya yang putih dan cantik.. tipis, seksi dan menggoda.. kapan aku ngerasain bibir seksi ini lagi ya..? bangsaattt.. sempat – sempatnya aku mikir begini sih.. kok bisa aku lupa dengan emosiku yang menggila tadi.. asssuuu.. wajahnya yang jutek bisa menghilangkan semua emosi yang ada dikepalaku dalam sekejap.. jiancookkk’ig..

“he.. dasar mata keranjang..” ucapnya dengan sinisnya dan bergumam.. assuu.. assuuu..

“ga pa – pa deh jadi keranjang.. yang penting bisa nampung ibu didalamnya..” ucapku.. assuuu.. mulai lagi kan aku gilanya.. bangsattt.. kenapa bibirku bisa ngomong begini sih..?

“ini – nih yang bikin aku malas duduk berhadapan dengan playboy cap kecoa kayak kamu..” ucapnya lalu melihatku dengan sinisnya…

“kalau ibu malas duduk berhadapan.. gimana kalau duduknya berdampingan.. siapa tau itu bisa mendinginkan panas diantara kita..” ucapku lalu aku membuang mukaku..

Bu jenny terlihat marah sekali lalu berdiri..

“gombalanmu itu ga akan bisa meruntuhkan hatiku.. dan jangan samakan aku dengan semua wanita yang telah takluk dihadapanmu..” ucapnya dengan tegas lalu dia melangkah kaki untuk keluar kafe.. dan ketika dia melewati aku.. aku lalu memegang tangan kirinya..

“kalau kamu pergi sekarang.. kamu ga akan melihat aku lagi jen.. mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir..” ucapku dengan dinginnya dan tatapanku lurus kedepan tanpa meliriknya disampingku.. dia tidak menepis tanganku atau menolak pegangan tanganku.. assuuu.. nekat banget aku cuukkk.. dan kenapa aku kurang ajar memanggil namanya aja tanpa ada embel – embel bu..? dan kenapa tanganku kok berani sekali memegang tangannya.. assuuu..

Bu jenny pun tetap mematung dan tanganku tetap memegang tangannya.. asuuu.. dia marah atau gimana ya..? kalau dia mengamuk bagaimana..? ah sudahlah.. terserah.. lagian kan dia memang benci sama aku.. mau rusak – rusak aja sekalian.. bajingaaannn..

Dan aku merasa tangannya agak bergetar.. aku lalu meliriknya.. asuuu.. dia menunduk dan menangis cuukkk.. kenapa lagi dia ini.. bajingaann.. apa ini puncak emosinya yang tertinggi denganku sampai dia menangis seperti ini..? bangsatttt..

Aku lalu berdiri dan menariknya pelan.. dan dia langsung menghadapku dan langsung memelukku.. asssuuu.. asuuu.. dia memelukku erat sekali.. kepalanya bersandar didadaku.. dan dadanya terasa bergetar sekali didadaku… bajingaannn..

Aku lalu membalas pelukannya dan dengan kurang ajarnya tanganku mengelus rambutnya yang halus.. assuuu.. aku gila cuukkk.. aku gila… aku meluk dosenku sendiri.. bajingaaannn..

Aku membiarkannya menangis didadaku sambil terus mengelus rambutnya.. dan aku tidak memperdulikan pelayan yang berlalu lalang didekat kami, serta mas kelvin yang melirik kami berpelukan.. dan harus kuakui.. pelukan ini terasa hangat dan entah kenapa aku sangat menikmati ini.. assuuu..

“kurang ajar kamu itu le.. setiap pelukan sama wanita kok dibilang hangat dan nikmat.. dasar ngacengan..” ucap simbah datang dipikiranku.. (ngacengan = sangean)

“cuukkk.. sampean itu kok datang waktu begini sih mbah…”

“habisnya kamu ngacengan sih.. assuuu”

“dia nangis mbah..”

“nangis kan karena ucapanmu tadi..”

“ya mau gimana mbah..? masa mau kubiarkan dia nangis, terus pergi..”

“kamu memang suka bermain api le.. belum kelar masalahmu dengan beberapa wanita, sekarang ditambah lagi dengan dosenmu ini..”

“terus gimana sudah kalau begini mbah..?”

“ya ga tau.. uruslah sendiri.. giliran sudah susah tanya sama aku.. kamu yang mulai kamu juga yang harus mengakhiri..”

“cuukkk.. cuman begitu aja mbah..? terus ngapain mbah datang kalau cuman ngomong begitu..?”

“aku kan ngingatin kamu aja le..”

“kalau ngingatin itu dari tadi mbah.. bukan pas sudah kejadian.. gimana sih..?”

“ya harusnya kamu berpikir sebelum bertindak.. jangan asal ngomong, pegang terus main peluk.. emang dia ini kucing, yang bisa dengan mudahnya kamu perlakuin seperti itu terus kamu tinggal..?”

“asuu’ig.. disamakan sama kucing.. bajingaann..”

“le.. dia ini wanita yang punya perasaan.. kamu itu memang suka kok menggantung perasaan wanita.. terus setelah terjerumus bingung harus ngapain.. assuuu..”

“cuukkk.. yang gantung itu siapa mbah..? emang dia suka sama aku..?”

“kata – kata rayuanmu kedia itu, membuktikan kamu kalau itu punya perasaan sama dia.. walaupun niatmu bercanda.. bercanda kok dengan perasaan.. sempak kamu itu..”

“bajingaannn.. masa aku dikatai sempak sih..? dia ini kan ga suka dengan rayuanku.. dan dia ini benci sama aku.. gimana sih mbah..”

“wanita mana yang benci dengan seorang laki – laki terus mau meluk seperti ini.. kamu pura – pura lugu atau memang bajingan lendir..? asuu’og kamu itu..”

“cuukkk..” makiku pelan…

“sudahlah aku pergi dulu..”

“sudah mbah..? gitu aja..?”

“ya iyalah, terus mau mu gimana..? aku duduk disini, terus ngelihat kamu pelukan, terus nanti kalian kecup – kecupan gitu..? assuuu..”

“emang ada adegan kecupannya mbah..?”

“matamu…” ucap simbah lalu pergi meninggalkan aku..

Dan cukup lama kami berpelukan dan berdiri seperti ini.. dan setelah aku merasa tangisannya mereda..

“kenapa ibu menangisi orang yang kurang ajar seperti aku..?” ucapku sambil terus membelai rambutnya..

Bu jenny lalu mengangkat wajahnya dan menatap mataku dengan tetap memelukku..

“kamu itu memang playboy cap kecoa.. tanpa bicarapun kamu bisa meluluhkan hati perempuan.. dan kata – katamu itu memang bisa meluluhkan wanita.. kurang ajar..” ucapnya dengan sisa – sia air mata dan dengan bibir yang bergetar..

“maksudnya bu..?” tanyaku..

CUUUPPPP..

Bu jenny langsung mengecup bibirku.. setelah itu menatapku lagi lalu..

“terlalu banyak bicara kamu itu..” ucapnya lalu..

CUUUPPPP.. CUUUPPP.. MUAAACCHHH..

Bu jenny mendekatkan wajahnya lagi dan langsung melumat bibirku.. assuuu.. ini semua diluar perkiraanku.. bajingaaaann..

Dan aku langsung memeluk erat bu jenny sambil membalas kuluman bibirnya.. assuuu.. bibir kami saling melumat dan tidak menghiraukan kondisi sekitar.. ciuman kami pun sangat dalam sekali.. aku merasa dia seperti memendam ini sejak lama.. dan aku mengimbanginya.. bajingaaannnnn..

KRINGGG.. KRINGGG.. KRINGGG..

Bunyi hpku langsung mengagetkan kami.. bu jeni langsung melepas pelukannya dan mundur selangkah lalu menunduk.. bajingaannn.. siapa sih yang mengganggu kenikmatan ini..?

Aku lalu mengambil hpku dikantong yang terus berbunyi..

KRINGGG.. KRINGGG.. KRINGGG..

Gani.. cukkk.. kenapa sepupuku ini telpon aku..? kelihatannya ini temping eh salah penting…

“halo gan..” ucapku mengangkat telpon ku..

“mas keterminal satu ya.. ditunggu..” ucap gani..

“ada apa gan..?”

“cakra..” ucap gani singkat dan itu langsung membuat emosiku naik lagi..

“ya aku kesana sekarang..” ucapku lalu mematikan hpku..

Aku lalu menyimpan hpku dikantong.. bu jenny lalu mengangkat wajahnya.. dan ketika melihat perubahan wajahku yang emosi.. bu jenny lalu melangkah mendekati aku..

“mau kemana kamu..?” tanya nya dengan bibir yang bergetar..

“ke ibu kota propinsi bu..” ucapku singkat..

“aku ga akan mencegahmu.. tapi aku mohon segeralah kembali.. aku ga mau ini menjadi pertemuan kita yang terakhir..” ucapnya lalu..

CUUPPP..

Bu jenny mengecup bibirku dengan lembut.. setelah itu berbalik dan meninggalkan aku tanpa berbicara lagi..
Bajingaannnnnn…

#cuukkk.. ini bukan main api lagi.. tapi aku sudah terjerumus dan terbakar didalam kobaran api yang menyala.. bangsatttt..