. Perjalanan Mengejar Cita Cita dan Cinta Part 38 | Kisah Malam

Perjalanan Mengejar Cita Cita dan Cinta Part 38

2
403

Part 38 – Mau Gila Rasanya..


Ratih Larasati

Emery Naila

Gaby Adrien

“halo aldo.. sudah dapat informasi orang yang bantai aku..” ucapku

“sudah san.. yang nusuk kamu namanya ndoy.. dia salah satu bajingan anak kampus teknik kuru.. dia berasal dari desa utara..” jawab aldo

“dimana aku bisa ketemu dia..” tanyaku..

“dia biasa kumpul di café barongan.. cafe tempat berkumpulnya anak kuru..”

“terus anak maba yang jadi dalangnya dimana dia..?”

“namanya iput.. kondisinya parah.. dia sekarat dan dia geger otak.. dan dia sudah ga ada dikampus.. katanya sih mau pindah, itu pun kalau dia sadar dari sekaratnya..”

“oke makasih infonya ya do..”

“kamu ga ‘uji beton’ kan malam ini..? kalau iya aku ikut..” tanya aldo

“ga usah do.. aku mau silaturahmi aja kesana.. pengen kenal dekat aja sama yang namanya ndoy..” ucapku

“oke deh san.. hari-hati ya san..”

“oke.. makasih infonya ya..” ucapku lalu menutup hp ku..

Setelah kuhabiskan rokokku.. aku pun meninggalkan tempat ini menuju café barongan… tampak api masih membakar dua motor bajingan yang aku bakar barusan.. aku lalu memacu pelan tigiku kearah kota.. kepalaku terasa berat akibat pengaruh tiga botol gepeng mansion yang aku minum.. dan aku merasa ada seseorang yang memelukku dengan erat dibelakang..

[table id=Ads4D /]

“yang.. sampai kapan sayang akan meluapkan emosi seperti ini..” tanya dia sambil memelukku dengan erat dan kepalanya ditempelkan dipundakku..

“sampai aku puas..” jawabku datar..

“kapan puasnya..? sesudah menghajar empat orang dan membuangnya kejurang, masih belum puas juga..?” ucapnya

“belum..”

“harus berapa lagi korbannya..?”

“ga tau.. yang jelas, sekarang aku mau menyelesaikan orang-orang yang menyebabkan kematianmu..”

“kematianku..?”

“ya.. mereka kan membantai aku, dan itu membuat kamu jadi kepikiran dan akhirnya penyakitmu dengan mudah menggerogoti kamu..”

“bukan salah mereka itu yang.. memang takdirku seperti ini..”

“persetan dengan takdir.. pokoknya aku harus bantai mereka..”

“kamu itu memang keras kepala..” ucapnya lalu hening seketika..

 

Aku berhenti dilampu merah, dan aku baru sadar ternyata semua orang disekitarku melihatku dengan heran, mungkin karena aku berbicara sendiri dari tadi.. terserahlah kalian melihatku bagaimana.. yang penting jangan menyentuhku aja, atau kalian semua aku habisi sekalian…

Tujuanku sudah dekat dan aku aku lihat didepan café barongan banyak sepeda motor dan mobil yang terpakir..

Setelah sampai dicafe aku pun memarkirkan tigi.. lalu aku berjalan pelan kearah dalam café sambil membakar rokokku dan menghisapnya… aku memandang kesekeliling dalam ruangan ini.. didalam café ramai sekali pengunjung.. banyak orang yang lagi pacaran dan ada juga yang cuman nongkrong bersama teman-temannya.. pandanganku langsung tertuju pada pojok ruangan, disana ada sekelompok orang yang berkumpul dan bersenda gurau.. ada lima orang yang berambut gondrong, tiga orang aku hafal wajahnya karena mereka yang mengeroyok aku.. dan salah satunya yang menikam pinggangku..

Aku pun mendekati mereka berlima.. dan membuang rokokku kearah mereka.. lalu

BUUHHHGGGG….

Tanpa banyak kata aku memukul salah seorang yang mengeroyok aku.. aku memukul rahang kanannya dengan keras sehingga dia oleng kesamping kiri dan mengenai temannya disamping kirinya..

“apa-apan ini.. kamu siapa..? berani betul kamu mukul anggotaku dimarkas kami..” ucap seseorang yang menikamku terkejut lalu berdiri dan diikuti ketiga yang lain.. sedang orang yang kupukul rebah kesamping diatas kursi..

Aku tidak menghiraukan omongannya.. aku lalu memegang kepala orang yang barusan aku pukul.. kujambak rambutnya dan kutarik lalu kuhantamkan kepalanya dimeja..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Setelah itu aku jambak lagi.. dan aku pukul mukanya yang telah berdarah-darah..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Kupukul terus dia sampai tidak bergerak lagi dan aku seret kebawah sampai dia terjatuh dengan posisi kepala yang miring.. lalu aku injak kepalanya dari samping..

BUUUMMMMM..

BUUUMMMMM..

BUUUMMMMM..

Darah langsung menggenang dilantai..

Suasana café langsung berubah kacau.. para wanita yang ada didalam berteriak histeris dan berlarian keluar.. sedangkan pengunjung yang ada di meja lain langsung menghambur keluar…

Empat orang yang didepanku langsung bersiap.. dua orang menyerangku berbarengan.. dan mereka berdua bukan orang yang mengeroyokku kemarin..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Pukulan mereka berdua diarahkan kepadaku.. aku hanya menghindar sedikit.. dan beberapa pukulan mengenai wajahku.. ketika salah seorang mau memukul lagi dengan tangan kanannya aku menunduk lalu aku memukul bagian tubuhnya yang dibawah ketiak kanan dengan tangan kiriku dengan kuat..

“AAAAAAAAGGGGG…..”

Raungan yang keluar dari mulutnya karena sakitnya pukulanku.. setelah itu aku memukul tepat dimulutnya menggunakan tangan kananku dengan kuat

BUUHHHGGGG….

Dia roboh kebelakang.. aku lalu menginjak dadanya dengan keras..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Setelah itu..

BUUHHHGGGG….

Salah satu temannya tadi loncat dan menendang kepalaku..

Aku oleng kesamping tapi tidak jatuh.. perlahan darah mangalir dari bibirku aku membersihkannya dengan jempolku lalu kubersihkan jempolku dengan lidahku.. dia lalu meloncat lagi dan menendangku, aku bergeser kesamping dan

BUUUMMMMM..

Sebuah pukulanku yang sangat keras dan telak mendarat mulus di hidungnya.. dia pun langsung roboh dengan hidungnya patah kedalam dan darah langsung muncrat dari hidungnya.. aku datangi dia dan aku injak lagi wajahnya

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Dia menggelepar dan setelah itu tidak bergerak lagi.. kupandangi dua orang yang tersisa.. satu yang mengeroyokku dan satu lagi yang menikamku..

“ka..kamu yang a..a..aku tikam kemarin ya..” ucapnya dengan terbata-bata..

tidak kujawab pertanyaannya.. hanya kupandangi lalu kudekati.. kuambil es teh yang ada dimejanya lalu kuminum.. setelah itu..

BUUHHHGGGG….

Sebuah uppercut ku mengenai rahang kirinya dan dia oleng kesamping..

BUUHHHGGGG….

Cuuukkkk.. temannya yang disebelahnya menendang di punggungku bekas tikaman yang belum sembuh.. aku pun tersandar di meja.. hiuuuffftttttt.. aku pegang perbannya ternyata darah sudah mengalir dari pinggangku.. tidak ada rasa sakit yang kurasakan, aku ga tau apa pengaruh minuman atau memang rasa sakit dihati yang membuat bekas tikaman yang berdarah itu tidak sakit lagi.. aku mendekati orang tersebut.. dia memukulku lagi..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Tiga pukulannya mendarat diwajahku.. darah mengalir dari hidung dan mulutku.. ketika dia akan memukulku lagi aku langsung mengarahkan pukulanku..

BUUHHHGGGG….

Sebuah upercatku dengan tangan kanan dari arah bawah mengarah didagunya dan

BUUUUMMMMM…

dia roboh menimpa meja dibelakangnya.. darah keluar dari mulutnya.. aku lalu menarik kerahnya dan kuseret.. sampai dia berlutut didepanku… aku jambak rambutnya.. dan

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Pukulanku kuarahkan kewajahnya secara bertubi-tubi.. darah memenuhi wajahnya.. setelah itu.. kuhantamkan wajahnya kelantai..

BUUUMMMM…

Dia pun tertelungkup dilantai.. tidak puas dengan itu, aku injak kepala belakangnya..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Badannya lalu kejang-kejang setelah itu dia tidak bergerak lagi.. didepanku tinggal ndoy yang memegang pipi kirinya yang kuhajar tadi.. dia adalah orang yang menikamku kemarin..

“sabar mas.. sabar.. aku hanya disuruh oleh iput (nama maba yang jadi otak pengeroyokanku..) untuk mengeroyok kamu..” ucapnya dengan wajah yang pucat setelah aku menghajar keempat temannya.. aku mendekatinya lalu

BUUHHHGGGG….

Sebuah injakan telapak sepatuku mengenai wajahnya yang membuat dia terjengkang kebelakang.. dia pun terguling-guling memegang wajahnya yang berdarah.. aku mendekatinya lalu aku pegang tangan kanannya.. dia meronta.. lalu

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Kupukul wajahnya dengan tangan kiriku.. sampai dia lemas.. setelah itu kuletakkan tangan kanannya dilantai dan aku buka semua jarinya.. lalu kutempelkan dilantai.. lalu..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Aku injak kuat-kuat telapak tangan dan jari-jari yang menikamku..

“AAAAAAAAAAA…….” Dia meraung kesakitan…

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

aku terus menginjaknya..

“AAAAAAAAAAA……” dia meraung lagi..

BUUHHHGGGG….

Aku injak mulutnya.. setelah itu aku jambak rambutnya dan menyeretnya..

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Aku benturkan kepalanya dilantai.. darah langsung menggenang dilantai.. setelah itu aku berdiri.. kulihat dia tertelungkup dan tidak bersuara serta tidak bergerak.. dan

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

BUUHHHGGGG….

Aku injak kepala belakangnya… setelah puas menginjaknya, aku lalu mengambil rokokku dikantong, aku bakar dan hisap dalam-dalam.. setelah itu aku keluarkan asapnya perlahan.. aku melihat sekeliling.. darah berceceran dimana-mana, didinding, meja, kursi dan lantai.. setelah itu aku berjalan kearah keluar café dengan santainya..

Saat aku mulai berjalan kearah luar kafe tampak puluhan orang berdiri dipintu masuk.. aku ingat mereka semua.. mereka adalah anak-anak kos black house yang dipimpin oleh galih.. aku berhenti didepan galih.. aku menatapnya tajam.. lalu aku hisap rokokku dalam-dalam dan mengeluarkan diwajah galih.. dia lalu mundur dan bergeser kesamping kanan.. teman-temannya pun langsung membelah dua seolah memberi aku jalan untuk keluar..

Aku berjalan santai melewati mereka semua sambil merokok.. sampai didepan café.. dua orang berpakaian preman mendongkan pistol dikepalaku..

“kami polisi.. berhenti sebelum kutembak kepalamu..” kata seseorang berteriak kepadaku.. aku cuek saja dan tetap berjalan kearah parkiran sambil merokok.. dan

WIU..WIU..WIU..WIU..

Bunyi sirine mobil polisi yang memekakan telinga yang berhenti didepanku.. lalu turun segerombol polisi dengan berpakaian preman.. mereka lalu berdiri didepanku..

“kamu kami tangkap..” ucap seorang polisi yang mungkin dia adalah komandannya.. aku menghisap rokokku yang sisa sedikit lalu kubuang.. tanganku dipegang dan langsung diborgol.. aku tetap santai dan tidak melawan.. aku dimasukkan kedalam mobilnya… lalu mobil pun berjalan..

[table id=AdsKaisar /]

Didalam mobil aku tetap diam dan tetap dengan ekspresi santai dan dingin.. aku diapit dua orang polisi.. sedangkan komandannya ada dikursi depan disamping sopirnya..

“nama kamu siapa..?” tanya komandan yang ada dikursi depan menoleh kearahku..

Aku diam dan tidak menjawab.. sambil kutatap wajahnya..

BUUHHHGGGG….

“jawab kalau komandanku ini bertanya..” kata polisi disebelahku dan dia memukul wajahku sebelah kanan.. aku tetap diam dan aku menoleh kearahnya lalu kutatap matanya dengan tajam.. dia kaget melihat ekspresiku setelah dia pukul.. dia lalu mencabut pistolnya dan diarahkan kekeningku..

“kamu jawab pertanyaan komandanku atau kubuat bolong jidatmu..” ucapnya..

“kamu tembak aja kepalaku.. kalau aku ga mati.. kamu yang kubuat mati..” akhirnya aku bersuara sambil menatapnya dengan tajam.. tidak ada ketakutan sedikitpun didalam diriku.. kalau memang mati ya mati.. kenapa harus takut.. toh manusia itu juga pasti akan mati.. kulihat dimatanya dia mulai ragu dengan ucapannya tadi…

“turunkan pistolmu..” kata komandannya..

Dia pun menurunkan pistolnya.. pandanganku kualihkan kedepan dan komandannya sudah menghadap kedepan lagi..

“kenapa pinggangmu berdarah..” kata polisi disebelah kiriku dan dia mengangkat jaket dan kaosku.. dia melihat perban yang melilit dan dipenuhi dengan darah.. aku melihatnya dan tidak menjawab..

“kamu habis ditikam ya…?” ucapnya..

Aku tetap diam.. diapun tidak melanjutkan pertanyaannya dan menatap kedepan.. aku pun menghadap kedepan lagi..

Setelah perjalanan yang lumayan lama, akhirnya kami sampai didepan polres kota ini.. mereka lalu turun dan menarik tanganku supaya turun juga..

“ndan.. ini dimasukkan keruangan untuk diintrogasi..?” tanya seorang polisi..

“masukan kesel aja langung.. besok pagi aja kita introgasi dia..” kata komandannya..

Mereka lalu membawaku keruang belakang.. aku berjalan mengikuti mereka.. ketika sampai didepan sel, mereka lalu mebuka borgolku.. dan mereka membuka selnya.. aku lalu masuk didalam sel.. dan mereka menutupnya kembali lalu pergi..

Didalam sel tampak puluhan orang berdiri melihatku masuk.. tatapan mereka tajam sekali melihat kearahku.. dengan santainya aku membuka jaket lalu aku mengambil rokokku dan membakarnya..

“kasus apa kamu..?” tanya seseorang didepanku sambil melotot.. dia tidak memakai baju.. dan kulihat yang lain juga tidak memakai baju.. badan mereka semua bertato dan rambut mereka rata-rata gondrong semua..

“woiii.. ditanya malah diam.. kasus apa kamu..?” tanyanya sekali lagi..

“kasih aja pelajaran dia..” kata seseorang dibelakang yang lagi duduk sendirian sambil menatapku.. badannya besar, rambutnya gondrong dan badannya banyak sekali tatonya.. kelihatannya dia pentolan disini..

“bajingan kamu ya…” kata orang tadi yang bertanya kepadaku lalu

BUUHHHGGGG….

Dia memukulku dirahangku dengan keras.. efek pukulannya tidak membuatku bergerak sama sekali.. kepalaku hanya oleng kekanan.. setelah aku menatapnya dengan tajam.. dan

BUUUUUMMMM….

Sebuah pukulan mengarah dimulut dan hidungnya yang membuat dia langsung roboh kebelakang.. semua yang ada didalam sel kaget dan diam melihat orang tadi roboh dengan sekali pukulanku yang keras.. aku lalu menjatuhkan jaketku lalu kubuka kaosku.. aku bertelanjang dada didepan mereka.. mereka kaget melihat tato dibadanku.. aku lalu mendekati orang yang roboh habis kupukul tadi.. dan

BUUHHHGGGG….

Aku injak sekali wajahnya.. dan dia mengejang.. setelah itu aku berjalan kearah pentolannya yang duduk didepanku.. dengan santainya aku berjalan lalu kutatap matanya…

“kamu keluarga jati ya..?” ucap orang itu dengan bergetar.. lalu

BUUHHHGGGG….

Aku injak mukanya sampai dia terjengkang dan roboh kebelakang.. ketika aku mau menyerangnya lagi..

“sandi purnama irawan.. mau kamu apain lagi dia..” ucap seseorang memanggilku dari depan sel.. aku lalu menoleh kebelakang dan kulihat seorang berdiri dengan berpakaian polisi.. pangkatnya letkol (jaman itu belum memakai nama pangkat AKBP) dan aku lihat didadanya namanya TITO..

Cuukk.. ngapain orang ini disini.. dia ini dulu masih berpangkat kapten, dan waktu itu banyak menangani berbagai kasusku waktu dipulau seberang.. dia sangat mengenalku dan juga ayahku..

Aku diam dan mendekati dia..

“masih aja ga berubah kamu san.. kukira setelah keluar sel kamu tobat, ga taunya malah tambah jadi di kota ini..” kata dia sambil menggelang..

Aku diam dan tidak menjawab pertanyaannya.. dan dia langsung pergi meninggalkan aku..

Aku melihat dijam ditanganku.. pukul 23.00.. aku lalu berbalik dan kulihat semua penghuni sel sudah duduk dan tunduk tidak menatapku tajam seperti tadi.. aku lalu berjalan kepojokan.. lalu jaketku kuhampar dilantai dan kaosku kutaruh dipundakku.. aku duduk diatas jaketku dan bersandar didinding sel yang dingin.. tidak ada suara dari semua penghuni sel, mereka semua terdiam.. orang yang aku hajar pertama kali pun sudah sadar dan duduk bersandar didinding seberang tempat aku duduk.. dia menunduk tidak berani melihatku lagi.. sedangkan orang kedua yang kuinjak juga sudah bangun dan duduk ditempatnya yang tadi..

Aku lalu mengambil rokok dikantongku.. ternyata sisa sebatang.. aku lalu membakar dan menghisapnya perlahan..

“bang.. kami tidur dulu ya..” ucap seseorang meminta izin kepadaku..

“tidurlah.. ga ada yang melarang kalian tidur..” ucapku dengan santai..

“oh iya ada yang punya rokok putihan..?” tanyaku..

Beberapa penghuni langsung bangkit dan menyerahkan rokoknya masing-masing kepadaku dengan cepat..

“santai aja om.. terimakasih ya.. besok aku ganti semua..” kataku..

“santai aja bang.. hisap aja..” kata salah seorang menjawab..

Aku lalu menatap keorang itu, dia lalu menunduk..

“aku ga suka berhutang budi.. besok aku ganti..” ucapku dengan santai..

Tidak ada jawaban lagi dan mereka satu persatu mulai merebahkan diri dan tidur.. sedangkan aku tetap duduk dan menikmati rokokku..

[table id=AdsLapakPk /]

“yang.. kenapa bisa begini sih..?” ucap seorang wanita disebelahku dan dia menyandarkan kepalanya dipundakku..

“ga tau aku.. biar aja ini mengalir..”

“kamu bukan lagi orang yang aku kenal dulu yang..”ucapnya

“aku ya aku, dan aku ga berubah tih.. inilah aku yang sebenarnya..”

“bukan yang.. ini bukan kamu yang sebenarnya.. sadarlah lah yang.. ini memang takdir kita..”

“takdir kita..? jadi kita harus pasrah dengan takdir..?”

“yang.. lakukan aja kewajibanmu sebagai manusia dan jangan melawan kuasanya..”

“dengan cara apa..?” ucapku datar..

“mencintai semua mahluknya..”

“termasuk mencintai orang yang membuat cinta kita pergi selamanya..?”

“yang… tugas kita didunia ini cuman mencintai sesama.. masalah dia membalasnya dengan cara yang kejam, biar sang pencipta aja yang memberi hukuman.. sayang ga usah ikut-ikut..”

“aku manusia tih.. kesabaranku ada batasnya.. dan aku sudah cukup disakiti.. aku masih belum puas membalasnya..”

“yang.. kamu jangan ikut-ikutan kejam dong..”

“kenapa..? kenapa aku ga boleh menyakiti orang yang menyakiti aku dan kamu..”

“yang pliss.. aku mohon.. mulai malam ini move on lah dari aku.. jangan begini terus.. cukup sudah korban pembalasanmu malam ini.. jangan ditambah lagi.. masa depanmu masih panjang yang.. dan masih banyak yang akan mencintaimu dan membahagiakanmu.. jadi tolong mulai malam ini tutup lembaran kita.. dan buka lembaran baru.. hilangkan semua dipikiranmu tentang aku.. aku mohon.”.

“ga tau sudah aku tih.. mampu ga aku lewati ini semua tanpa kamu..”

“yang.. aku ga akan tenang pergi dari sini kalau kamu begini terus.. sayang ga kasihan ratih kah…? hikss..hikss.. jangan dibutakan cintamu yang.. mencintailah sewajarnya dan membencilah seperlunya.. hikss. hikss.. ”ucap rati menangis dipundakku..

Assuuu.. kata-kata ratih langsung membuka pikiranku yang kalut malam ini.. kenapa aku begini..? kenapa aku kok dibutakan dengan cintaku sendiri..? kasihan ratih kalau harus ikut-ikutan menanggung semua ini..

“maafin aku yang.. maafin aku.. aku akan belajar melupakan kamu..”

“jangan belajar melupakan yang.. tapi harus melupakan.. biarlah kenangan kita terkubur didalam pusaraku.. baru setelah itu, aku akan pergi untuk selamanya darimu..”

“kenapa kamu ngomong seperti itu tih..”

“yang alam kita berbeda dan terimalah kenyataan ini..”

“boleh aku susul kamu tih..?”

“ngga.. sekarang kamu istirahat aja ya..”

“aku sayang kamu tih..”

“iya aku tau.. sekarang istirahat ya..”

“jangan pergi tih..”

“istirahatlah yang.. masa depan yang indah menantimu.. dan ingat.. setelah kamu bangun besok pagi, jadilah sandi yang seperti biasa.. sandi yang penuh kasih sayang dan perhatian kesemua orang..”

“bisa kamu beri aku kecupan terakhir kali sebelum kamu pergi tih…?” ucapku dengan tetap memandang kedepan..

“ngga.. itu akan membuat kamu makin susah melupakan aku..”ucapnya dingin..

“yang.. sang pencipta telah menyiapkan sesuatu yang indah buatmu dan itu akan membuat kamu bahagia.. dan ingat itu bukan aku.. bersabarlah..” ucapnya lagi.. setelah itu hening tidak ada suara.. dan dipundakku aku merasa sudah tidak ada yang bersandar lagi.. ratih telah bener-bener meninggalkan aku..

Aku pun mencoba memejamkan mataku.. pikiranku melayang ntah kemana dan bingung mencari tujuan.. dan disaat pikiranku seperti ini, malah terlintas wajah seorang manusia misterius yang selalu ada disaat aku terpuruk.. mba mery.. mba aku butuh pelukan darimu.. aku kacau mba.. aku hancur..

[table id=AdsTbet /]

“sandi purnama irawan.. ada tamu..” tiba-tiba seorang membangunkan aku..

Assuuu.. siapa teriak-teriak ini dikamarku.. bajingan.. Aku melihat jam ditanganku.. cuukk jam 05.55.. siapa yang bertamu jam segini..

Hiuufftt.. kok dingin sekali ya disini.. aku lalu memandang kesekeliling.. aku melihat banyak orang-orang ter tidur dilantai.. cuuukkk.. aku di sel ya ini.. bajingan.. aku baru sadar kalau aku didalam penjara dan aku baru ingat kalau semalam aku dibawa kesini..

Aku pun lalu berdiri dan memakai kaosku.. asssuu.. pinggangku sakit sekali.. mungkin luka bekas tikamannya basah dan berair akibat tendangan semalam…

Didepan pintu sel telah berdiri seorang polisi dan membuka pintunya.. dengan langkah gontai aku mengikuti polisi itu..

Tampak diruang besuk mas pandu, mas rendi, mba mery dan gaby.. mereka menatapku dengan wajah sayu dan mereka seolah mengasihani aku..

Aku berjalan mendekati mereka.. mereka diam dan tidak berbicara kepadaku.. assuu.. kenapa mereka diam saja.. aku malah ga suka kalau begini situasinya.. kalau mereka mau marah, silahkan marahi aku.. kalau mereka mau memaki, silahkan memakiku.. kalau mereka mau memukul silakan pukul aku.. tapi jangan diam.. bajingan…

Aku lalu mengeluarkan rokokku dan membakarnya.. aku hisap perlahan dan aku melihat kearah yang lain…

“nih minum..” ucap seorang wanita yang aku pikirkan semalam.. dia menyerahan teh kotak yang sudah terpasang sedotan seperti biasa..

Dan aku mengambilnya tanpa melihat wajahnya.. dan dia mundur kebelakang lagi.. ntah kenapa aku malu dengan kondisiku sekarang dihadapannya.. aku seolah menjadi seorang yang bener-bener terhina..

Aku minum perlahan dan menikmati air kenikmatan ini masuk kedalam tenggorokanku.. pelan-pelan pengaruh teh ini merambat sampai keotakku dan membawa energy yang baru disana.. aku mengelus pelan rambutku dan menjambaknya..

Mas pandu langsung memelukku… dia memelukku erat dan menepuk pundakku.. tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya..

“kalau sampean mau marah, marah aja mas.. kalau sampean mau mukul, pukul aja.. tapi jangan diamkan aku..” aku membalas pelukannya …

“ga ada yang perlu dimarahi san.. dan ga ada yang perlu dipukul.. aku tau kamu lagi butuh teman untuk mencurahkan isi hatimu yang sedang kacau.. maaf kan paklekmu ini yang ga bisa mengerti kamu..” kata mas pandu dengan suara yang bergetar..

“maaf mas.. aku selalu membuat sampean susah..” kataku..

“sudah.. san.. sudah.. yang penting kamu sudah meluapkan semua amarahmu semalam.. sekarang kembalilah menjadi sandi yang seperti biasa..” ucapnya sambil menepuk punggungku.. setelah itu dia melepaskan pelukannya..

Mas rendi yang dibelakangnya lalu memelukku.. dan dia juga diam saja saat memelukku..

“maaf ya mas ren.. maaf kalau aku membuat semua khawatir..” ucapku sambil membalas pelukannya..

“kurang ajar kamu san.. pesta ga ngajak-ngajak..” kata mas rendi sambil menepuk punggungku..

“maaf mas.. maaf banget..” ucapku.. dan mas rendi melepas pelukannya..

Giliran gaby yang didepanku.. dia langsung menghambur kepelukanku…

“kamu san ya.. senang betul betul bikin orang khawatir.. hikss.. hikss..” ucap gaby sambil menangis didadaku..

“maaf gab.. maaf..” ucapku sambil memeluk dan mengelus rambutnya..

“semalaman kami cari kamu.. ga taunya kamu malah disel… terlalu kamu itu.. hikss.. hiks..” ucap gaby..

Asssuuu.. begitu perhatiannya teman-temanku dan wanita-wanita ini.. sedangkan aku yang dikhawatirkan malah ga perduli sama mereka.. bajingan…

“mba gaby.. dipanggil pak kapolres..” ucap seorang anggota polisi yang mengagetkan kami..

“oh iya pak..” kata gaby melepas pelukannya dan membersihkan air matanya yang mengalir..

“aku ikut menghadap..” kata mas pandu..

“aku juga..” kata mas rendi..

Mereka bertiga meninggalkan aku dan mba merry diruang besuk ini.. aku lalu melihat kearah mba mery yang memandangku dengan tatapannya yang sendu.. kelopak matanya bengkak.. kelihatannya dia habis menangis semalaman..

Aku kangen kamu mba.. aku sakit.. aku lelah.. dan aku butuh pelukanmu.. aku angkat kedua tanganku kedepan dan membukanya lebar.. aku ingin memeluknya saat ini..

“sandiiiii…” mba mery berlari kearahku dan memelukku.. dia menangis didadaku.. aku pun membalas pelukannya.. hiiuuuffttttt.. perlahan dadaku pun bergetar.. air mata yang aku tahan sedari tadi akhirnya keluar juga membasahi pipiku.. aku kangen pelukan ini.. aku kangen dengan ketenangan ini.. aku pun mengelus pelan rambutnya.. dan dia membelai punggungku dengan pelan..

“kenapa bisa begini san..? kenapa..? hiksss…hikss…” ucapnya sambil menangis dipelukanku..

“kan sudah kubilang jangan kemana-mana.. kenapa kamu nekat aja keluar semalam..?” ucapnya.. haaa..? kapan dia bilang begitu..? aneh memang mba mery ini..

“kamu keras kepala san.. kondisimu begini masih juga berkelahi.. terus sekarang kamu masuk sel lagi.. hikkss..hiksss..”

“kamu itu senang betul bikin orang khawatir.. hikss..hikss..”

“begini kok kamu nyuruh aku pergi kerja..? bagaimana aku bisa ninggalin kamu dengan kondisi begini..? haaaa..? hikss..hikss..” ucapnya yang terus-terusan mengomel sambil menangis sesenggukan.. dan dia tambah mengeratkan pelukannya..

“mba.. bisa diam ga..? aku butuh pelukanmu bukan omelanmu..” ucapku.. sambil membersihkan air mataku dipipi..

“kamu itu.. dikasih tau masih masih aja bercanda..” ucapnya..

“siapa yang bercanda mer.. aku memang butuh pelukanmu..” ucapku yang tidak memanggilnya mba lagi..

CUUPPP

Aku lalu mengecup keningnya.. dan dia tetap menempelkan kepalanya didadaku..

“kalau memang butuh pelukanku kenapa tadi malam pergi..? ha..?” ucapnya lalu menatap mataku tanpa melepaskan pelukannya.. terlihat air mata membasahi pipinya..

“ya gila aja aku mau peluk kamu dikos.. kamu pengen aku bacok-bacokan sama mas rendi..?” ucapku sambil menatap matanya..

“kan bisa kamu ajak aku keluar..” ucapnya

“jadi aku disuruh nyulik pacar orang gitu..?” ucapku

“kamu itu terlalu banyak omong..” ucapnya dan menempelkan wajahnya lagi didadaku..

Assuuu.. dia yang tanya, terus aku jawab, eh.. malah aku dibilang cerewet..

“aku kangen kamu san.. maaf disaat kamu rapuh aku ga ada disimu.. aku itu sa…”

“mer…” ucap gaby memanggilnya dan menghentikan omongan mba mery..

Gaby datang bersama mas rendi dan mas pandu.. mereka berdiri agak jauh dari aku.. mereka berdiri dipintu ruangan besuk.. dengan reflek aku pun melepaskan pelukanku.. dan mendorong pelan mba mery.. dia tetap bertahan dengan pelukannya.. aku jadi ga enak sama mas pandu dan mas rendi… ditambah mba mery nangis lagi.. assuuuu.. assuuu..

“mba.. ada mas rendi loh..” bisikku..

“biar.. hikss.. hikss..” katanya sambil menangis didadaku..

“ada mas pandu juga loh..” bisikku lagi..

“biar aja.. hikss.. hikss..”

Gaby lalu mendekati kami.. dan membelai kepala mba mery..

“mer.. tenangin dirimu..” bisik gaby..

Dan akhirnya mba merry melepaskan pelukannya.. dan menarik tanganku supaya duduk..

“uuppppp..” ucapku menahan sakit dipinggang ketika aku duduk..

“kenapa kamu san…?” ucap mba mery

“san.. kamu ga pa-pa..?” gaby menyahut..

“san..” ucap mas pandu dan mas rendi berbarengan dan mendekati aku..

“ga pa-pa..” ucapku sambil meringis kesakitan..

Mba mery lalu mengangkat kaoskku..

“ya ampun san..? kenapa ini..? lukamu berdarah lagi ya..?” ucap mba mery sambil menutup mulutnya dan air matanya lagi-lagi menetes..

“bisa busuk ini lukamu kalau dibiarkan san..” kata gaby sambil berkaca-kaca

“kayaknya kita harus cepat kerumah sakit ini..” kata mas pandu

“iya mas..” kata mas rendi..

“ga pa-pa kok santai aja.. lagian aku sekarang disel.. gimana mau kerumah sakit..” ucapku..

“bawa sekarang sandi kerumah sakit..” ucap seorang polisi kepada kami..

Aku lalu melihat kearahnya.. ternyata letkol tito yang berbicara dan dia berdiri didepan pintu ruang besuk..

“aku kan lagi disel pak.. emang bisa aku keluar..” ucapku..

“aku sudah mengurusnya barusan san.. dan pengacara ditempat kerjaku juga sudah menghubungi pak tito.. jadi kita bisa keluar sekarang..” kata gaby..

Aku lalu berdiri dan mendekati pak tito.. beliau langsung memelukku..

“san.. kurang-kurangilah gilamu.. cukup dipulau seberang aja.. kalau kamu jadi preman disana aja, ga usah disini.. kamu ga kasihan sama ibu dan ayahmu yang menaruh kepercayaan besar sama kamu..” ucap pak tito

“iya pak.. terimakasih nasehatnya pak.. dan terimakasih bapak sudah membantu saya.. maaf pak aku ngerepotin bapak..” ucapku

“sudahlah ga usah dipikir.. aku tau kamu itu sebenarnya anak yang baik selama gilamu ga kumat..” ucap pak tito sambil melihat wajahku..

“maaf pak.. kalau gitu saya pamit..” ucapku

“iya.. hati-hati.. kuharap ini terakhir kamu berurusan dengan kami.. kalau kamu belum berubah, aku sendiri yang akan jemput kamu..” ucap pak tito

“iya pak.. terimakasih..” aku pun pamit ke pak tito

“mas pandu.. ada uang..?”tanyaku kemas pandu

“buat apa..?

“aku mau kasih ketahanan didalam.. semalam rokok mereka kuhabisin.. “ ucapku

“assuu ancene kok..” (anj*ng memang kok..) kata mas pandu yang sudah mulai bisa bercanda denganku dan dia menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan..

Akupun berjalan ke arah sel..

“pak bisa minta tolong dibuka selnya..? aku mau mengambil jaketku..” ucapku kepada polisi jaga..

“oke.. jangan lama-lama ya..” ucapnya

Aku pun memasuki ruang sel ini.. didalam orang-orang berdiri dan mengangguk kepadaku.. aku berjalan mendekati orang yang aku pukul semalam…

“om.. maafin aku ya.. semalam aku bener-bener ga sadar..” ucapku..

“ga pa-pa mas.. harusnya aku yang meminta maaf.. aku salah orang kalau mau cari masalah sama sampean..” kata orang itu tertunduk.. aku lalu menyalaminya dan menyalami yang lain.. setelah itu aku mendekati pentolan yang disegani diruangan ini yang juga aku hajar semalam..

“om.. maaf ya semalam.. aku mau pamit..” ucapku..

“iya mas.. aku juga minta maaf tentang semalam..” ucapnya lalu mengajakku bersalaman..

“oh iya mas.. ada hubungan apa sampean sama mbah jati..?” tanyanya..

“aku cucu pertama mbah jati om..” ucapku..

“cucu pertama dari anak yang keberapa..?” tanyanya lagi

“dari anak pertama.. irawan jati nama ayahku..” lalu aku berbalik dan berjalan kearah pintu sel..

“kamu anak pertama dari anak mbah jati yang menghilang itu ya..?” ucapnya kaget.. Aku cuman mengangguk dan mengangkat jempolku..

“pak ini untuk bapak beli rokok.. dan yang ini tolong belikan mereka semua yang didalam rokok..” ucapku pada seorang polisi jaga yang didepan sel..

“terimakasih mas..” ucap polisi itu..

“terimakasih mas…” sahut para penghuni sel…

Aku lalu keluar dan menemui mas pandu, mas rendi, gaby dan mba mery.. kami keluar polres dan menuju rumah sakit untuk mengecek luka dipinggangku..

Dirumah sakit lukaku dibersihkan dan diberi obat lalu diberi perban baru lagi.. setelah itu kami semua balik kekos..

Sampai dikos semua penghuni kos sedang berkumpul diruang tengah dan disana ada aldo, yuda dan surya.. aku terkejut dengan kehadiran teman-temanku dikosku.. yang kutahukan dikos ini tidak boleh ada yang masuk selain penghuni kos dan pasangannya, tapi kenapa teman-temanku ini diijinkan masuk..?

Ketika aku dipintu kos semua mata langsung menuju ke arahku.. mereka berdiri sambil menatapku tajam.. mba mery, gaby, mas pandu dan mas rendi berjalan cuek dan langsung duduk bergabung dengan teman-temanku yang lagi berdiri.. sedangkan aku berdiri didepan pintu dan mematung.. bingung harus ngapain.. setelah agak lama akhirnya aku berjalan kearah teman-temanku.. aku berjalan sambil menggaruk selangkangan..

“jancoookk..”

“asssuuu..”

“bajingan..”

“tai laso..”

“cukimai..”

“begedel..”

“mendol..”

“gimbal jagung..”

Cuukkk makian teman-temanku diarahkan semua kepadaku.. aku cuman tersenyum sambil tetap menggaruk selangkanganku..

“kurang ajar ini.. malah garuk-garuk ulat bulunya lagi..” kata kakanda alan memakiku..

“memang biadab ko..” kata mas arief..

“kurang ajar sekali ko san.. olah raga malam tra ajak torang samua disini..” ucap bung toni memakiku..

“iya mas.. katanya semalam sama aku dia ga uji beton.. eh malah nguji sendirian lagi..” ucap aldo memanasi teman-temanku..

“maaf.. aku semalam khilaf.. hehehehe..” ucapku sambil tersenyum….

“khilafmu nggateli san..” kata mas adam..

“iyo.. assuu ancene..” sahut mas bendu..

Merekapun mendekati aku dan merangkulku satu persatu.. setelah itu mereka duduk lagi diruang tengah dan aku disuruh duduk diantara mereka..

“alan.. ko ambil minuman dikamar itu.. kita lanjutin pesta yang tertunda tadi..” ucap bung toni..

Jiah.. Berarti mereka sudah minum dari semalam..? gila.. gila..

“kapan kalian datang..?” ucapku kepada anggota power ranger..

“semalam kami disini.. kami cari kamu kemana-mana.. sampai dicafe barongan segala..” kata yuda..

“iya.. tapi pestanya sudah bubar waktu kami kesana..” kata mas wawan..

“untung kami ketemu sama galih disana.. dia cerita sama kami tentang kamu yang ngamuk disana.. bajingan kamu san..” kata mas adam..

“udahlah mas.. kita bahas yang lain aja ya..” ucapku sambil membakar rokokku..

“pancet ae awakmu iku san..” (tetap aja kamu itu san..) ucap mas bendu

“ayolah mas.. kita bahas yang lain aja ya.. aku capek ingat yang semalam..” ucapku memelas..

Suana pun canggung kembali..

“kamu itu san kalau ada masalah coba kekosku..” kata surya mengganti topik pembicaraan..

“emang kenapa aku kekosmu.. kamu bisa kasih solusi..?” tanyaku

“ya enggalah.. kita nangis bareng aja..” ucap surya dengan polosnya..

“asssuuu.. nangis sama kamu ga ada enaknya.. ga dapat nenen..” ucapku..

“kalau nenen ga ada.. kalau es lilin ada.. mau..?” ucap surya sambil melirik ‘es lilinnya’..

“bajingan.. ternyata kamu hom.. hom.. sur..?” ucapku..

“assuuu’i aku normal cook..” ucap surya..

“elehhh.. surya kok normal.. kentutnya itu loh bau..” ucap yuda

“cuukkk.. hubungan kentut sama hom-hom apa..?” tanya surya..

“ya kentutmu itu ga ada suaranya.. tiba-tiba nyengat aja baunya..” kata yuda dengan cueknya..

“lah.. berarti sudah dol dong bokongnya…” kata aldo mempertegas..

“iya gitu deh.. sama ampasnya ikut keluar juga..” kata yuda..

“bajingan terlaknat kalian berdua ini..” gerutu surya..

“hahahahahahahahaha…”

“asssuuu koncomu lambene rusak san.. hahahahahaha..” (anj*ng temanmu mulutnya rusak san..) kata mas pandu tertawa terkekeh-kekeh..

“mulut mereka ini ga rusak mas.. cuman sudah dol aja..” ucapku..

“berarti bokong sama mulutnya dol dong..” kata mas wawan..

“ya gitu deh mas… kalau ngomong sama kentut sama-sama keluar ampasnya… hehehehe..” ucapku

“bajingaaannnn..” ucap ketiga temanku..

“hahahahahahahahass… assuuuu..” teman-teman kos ku tertawa semua mendengar celotehan kami berempat..

“assuuu.. kamu sur.. berarti kamu ngerusak adekku aldo ya..” kata mas bendu

”dia itu ga dirusak sudah rusak sendiri mas..” kata surya..

“ko itu banyak bicara.. ini giliranmu..” kata bung toni menyerahkan minuman ke surya..

“punya mulut.. masa ga boleh bicara bung..” gerutu surya..

“ya tapi jangan ngomong terus.. bau..” kata mas raimond..

“cuukkk..” kata surya lalu meminum jatah putarannya..

“hahahahaha..”

“anak baru.. besok rencana aku balik ke ibu kota propinsi.. aku mau beli sesuatu dulu.. antarin yo…” ucap mba mery memotong candaan kami barusan..

Aku kaget tiba-tiba mba mery ngomong begitu.. kenapa dia ga minta antar mas rendi aja.. aku kan ga enak sama mas rendi sama yang lain juga..

Semua lalu memandangku dengan tatapan yang aneh..

“emang mas rendi ga bisa antar mba..?” tanyaku..

“kalau kamu ga capek.. kamu antar san.. sekalian cari udara segar kamu.. ” kata mas rendi

“terus gaby gimana..?” tanyaku lagi

“aku mau tidur.. semalam begadang.. jadi sekarang mau tidur.. mas ren, kamarmu kupake lagi ya..” kata gaby lalu berdiri dan menuju kamar mas rendi..

“terus naik apa..?” tanyaku lagi..

“kamu mau ga..? dari tadi nanya mulu..” kata mba mery lalu berdiri dengan muka cemberut lalu pergi menyusul gaby..

Asssuuu.. kenapa jadi begini sih.. sudah enak-enak tadi suasananya.. kok sekarang jadi tegang gini..

“san.. antarlah.. tolong ya.. kamu tau sendiri.. dia kalau sudah ngambek susah ditenangin..” kata mas rendi..

“iya san.. antar sudah..” kata mas pandu..

“iya sudah.. aku pergi dulu deh..” ucapku..

“san.. ko minum dulu.. dari semalam sampai sekarang sudah ketinggalan berapa putaran ko..?” kata bung toni.. lalu menuangkan segelas penuh TM ke gelas kosong..

Aku lalu mengambil jatahku ke bung toni dan meminumnya.. setelah itu aku menyerahkan ke bung toni lagi..

“mas rendi.. pinjam motornya dong.. tigiku masih dikafe barongan mas..” ucapku

“itu loh tigimu san..” mas pandu yang menjawab samabil menunjuk kearah motor anak kos yang diparkirkan…

“cuukkk.. kok bisa disini..? siapa yang bawa kesini mas..?” tanyaku..

“ya kita lah.. mau siapa lagi yang bawa kesini..” kata mas adam..

“suwon mas.. suwon…” ucapku..

“aku tinggal dulu ya mas..” pamitku kepada penghuni kos..

“ini kunci kamarku tunggu aku balik ya do.. sama kalian juga..” ucapku ke surya dan yuda.. mereka bertiga mengangguk aja..

Asssuu.. ga nyadar aku kalau tigiku terparkir diruang tengah diantara motor anak-anak kos.. aku pun mendorong tigi kedepan dan memanaskannya.. setelah itu aku masuk lagi memanggil mba mery..

[table id=AdsTbet /]

TOK..TOK..TOK..

“mba..mba mery.. jadi keluar ga..?” ucapku mengetuk kamar mas rendi..

Pintu pun dibuka.. mba mery berdiri dengan wajah cemberut dan mata yang sembab.. assuuu.. kenapa sih sedikit-sedikit harus keluar air mata.. coba keluar air mani kan enak tuh.. bajingan…

Tanpa bersuara dia langsung melewati aku dan menuju pintu kos.. laahhh.. dicuekin aku.. assuu’i.. dilewatin gitu aja.. dianggapnya apa aku ini.. apa dianggap cicak yang nempel dipintu kamar mas rendi.. bajingan..

“kamu jadi ngantar ga..” ucap mba mery menoleh kearahku ketika sampai dipintu kos.. dia melihatku sambil melotot.. bajingannn.. yang mau minta tolong siapa yang marah siapa..? hiuuffttt.. kamu itu memang mahluk paling aneh yang pernah kutemuin dan manusia yang ga bisa dibantah..

Akhirnya aku keluar dan menyusul mba mery yang berjalan duluan keluar kos.. aku lalu naik tigi dengan sedikit cemberut dan mba mery tanpa kusuruh langsung naik dibelakangku.. duduknya ga begitu rapat seperti biasa.. aku lalu menjalan kan pelan tigi keluar gang.. setelah sampai diluar gang, aku tarik gas tigi dengan agak keras lalu aku melaju.. mba mery lalu merapatkan duduknya dan dadanya menempel erat dipunggungku serta dagunya menempel dipundakku.. nah.. kalu gini hilang sudah cemberutku..

“kamu bawa aku kemana..?” tanya mba mery.. asssuuu.. iya ya.. kok aku asal ngegas aja.. kan dia yang mau kuantar..

“mau kuantar kemana ini..?” ucapku

“nyari sarapan dulu.. kita kan belum makan..” ucapnya dengan suara lembut ga seperti tadi waktu dikos..

“sarapan dimana..?”

“nasi pecel kawi.. kamu mau kan..?” ucapnya..

“hemmm..” ucapku datar..

Nyiuutttt.. tiba-tiba mba mery mencubit pahaku…

“cuukkk.. sakit tau mba.. kenapa sih nyubit segala..?” ucapku jengkel

“kamu tuh ya.. seneng betul bikin aku jengkel..” rengeknya

“yang buat jengkel itu siapa mba..?” ucapku

“kamu lah.. sudah tau diajak keluar, pake acara banyak alasan lagi..” ucapnya menggerutu

“bukan banyak alasan mba.. cuman ga enak aja.. mba langsung frontal gitu ngajaknya..” jawabku

“namanya juga kangen.. mau diapain…” katanya cuek.. lalu dia menarik pipi kiriku dan diarahkan kebibirnya..

CUUUPPP…

Dia mengecup pipi kananku agak kebawah mepet bibirku..

“hem.. emang adekmu ini ngangenin ya mba..?” ucapku..

“aku ga punya adek bajingan lendir kayak kamu..” balasnya datar.. lalu menegakkan duduknya.. dia ga menempelkan dagunya dipundakku lagi..

Cuukkk.. kenapa sih kamu mba..? kok gitu jawabnya.. mau kujawab lagi omongannya, ntar malah marah lagi dia.. mending aku diam aja sudah.. susah kalau bicara sama mahluk yang ga pernah salah ini, dengan kondisi seperti ini..

Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya kami sampai di pecel kawi.. salah satu tempat kuliner yang terkenal dan melegenda dikota ini.. kami pun harus antri dulu sebelum mendapatan kursi untuk duduk dan sarapan.. pada saat turun dari tigi dan berjalan kearah warung serta menunggu antrian, mba mery menggandeng tanganku.. aku pun ga bisa menolak.. cuukkk.. habis ngambek, langsung megang tangan aja.. bingung aku sama mahluk satu ini.. ketika telapak tangannya menggenggam telapak tanganku ada sesuatu perasaan yang mengalir didadaku.. perasaan nyaman dan damai.. perasaan yang mulai menyembuhkan lelahku beberapa hari ini.. dan perasaan yang membuat aku tenang..

“yang.. sang pencipta telah menyiapkan sesuatu yang indah buatmu dan itu akan membuat kamu bahagia.. dan itu bukan aku.. bersabarlah..”

Apa ini yang dimaksud ratih..? ga tau wes.. hatiku masih berduka dengan kepergian ratih.. aku ga mau memikirkan cinta dulu.. biar aku berdamai dengan hatiku dulu lah..

Kami kebetulan dapat meja dipojokan.. setelah memesan menunya akhirnya dua piring nasi pecel pesanan kami datang.. Nasi ditumpuk cambah, kacang panjang, kangkung, timun, daun kemangi dan lain-lain, disiram dengan bumbu pecel dan pelengkapnya diberi tempe dan peyek kacang.. serta sepiring jeroan usus, hati dan ampela.. dan tidak lupa dua gelas teh hangat.. nikmat sekali sarapan pagi ini..

“san.. nih..” kata mba mery menyodorkan sesuap nasi diatas sendoknya kepadaku.. cuukk.. tadi ngambek, habis itu pegang tangan sekarang mau nyuapin.. tambah aneh aja sih.. terus ngapain juga pakai suap-suapan segala.. malu tau.. masa potongan preman begini disuapain.. mau ditaruh mana ini muka.. mau ditaruh ditempat jago terus mukanya jago ditaruh diwajahku gitu.. assuuu..

[table id=Lgcash88 /]

“ga usah nyebut nama ku bang..” ucap jago..

“eh.. jago.. gimana kabar..? tumben bersuara..” ucapku

“ga usah tanya kabarku.. aku lagi ngambek..”

“kenapa..”

“sudah lama ga ada jatah betina buat aku.. aku sih masih bisa tahan.. tapi hinaan para pembaca itu loh bang.. bikin gatal bijiku..”

“sabar go.. kan memang belum waktunya.. dari kemarin suasananya kan tegang terus.. pasti mereka mengerti lah..”

“percuma bang.. mana mereka mengerti.. taunya cuman coli aja mereka itu..”

“assuu kamu.. ga takut dibully lagi kah kamu…?”

“bulian orang bertitit kecil ga ngaruh buatku bang…”

“bajingan kamu go.. ntar kalau kamu dihina ‘jago itu bisanya cuman satu kali crott aja, cuman menang ngomong aja..’ gimana go..?”

“mending satu kali crot bang.. dan itu ditempatnya.. dari pada crot berkali-kali tapi dikamar mandi.. kan assu banget gitu bang..”

“hahahahahahaha.. biadab kamu go.. siap-siap dibully kamu..”

“ntar bang.. aku pasang Walkman dulu sambil tiduran.. enak dengarin music slank ini bang.. tong kosong nyaring bunyinya..”

“hahahahahaha.. asuuu.. assuuu.. bajingan kamu go.. ”

“dududududu.. ora krungu..” (dududududu.. ga dengar..)

[table id=iklanlapak /]

“mau ga disuapin..?” ucap mba mery sambil tetap mengarahkan sendoknya dimulutku..

“malu tau mba..” ucapku..

“ya udah biar gini aja terus tanganku..” kata mba mery dengan tetap diposisinya..

Asssuuu.. assuuu.. kenapa mahluk satu ini.. ihhhh…

“aaaeeemm…” akhirnya mengalah juga aku, sambil mengunyah makanan yang dia suapin barusan..

“habis ini kemana kita..?” tanyaku sambil memakan makananku..

“makan dulu.. ga usah banyak ngomong.. pemali tau..” kata mba mery

“apa itu pemali..?”

“pemali itu kira-kira artinya pantangan atau larangan dari orang tua.. pokoknya itulah artinya..” kata mba mery..

“ya udah makan dulu sana.. pemali makan sambil ngomong..” balasku..

“iihhhhh…” jawabnya sambil melotot kearahku..

Setelah habis makananku, aku lalu meminum teh hangat pesananku lalu membakar rokokku.. ketika mba mery mau mengambil rokokku.. aku langsung cepat mengambil bungkusnya..

“kenapa..?” tanya mba mery

“kalau kamu rokokan.. kutinggal disini mer..” ucapku sambil melotot ke dia..

“dihhh.. dah mulai perhatian ya..?” ucapnya kepadaku, sambil melirikku dengan tatapan yang menggoda..

“bukan begitu.. ga baik rokok buat wanita itu..” elakku.. emang baik gitu cowo.. assuuu.. ada-ada aja alasanku.. bilang aja kalau ga suka lihat dia rokokan..

“dihh.. mulai ngelarang aku ya..?” ucapnya lagi..

“cuukkk.. dikasih tau malah ngejek..” ucapku jengkel..

“hihihihihi.. jadi tambah sayang aku sama kamu..” kata mba mery..

“sayang sebagai ade..?” ucapku datar..

“aku ga punya adek bajingan lendir kayak kamu..” balasnya yang juga datar.. assuuu.. kenapa langsung berubah ekspresinya..?

“kok gitu terus jawabnya..” kataku heran

“udah ah.. ga asyik ngobrol sama kamu itu..” katanya sambil berdiri lalu kemeja kasir untuk membayar makanan kami..

Asssuu.. kenapa sih kamu itu mba.. pasti begini akhirnya kalau ngobrol sama kamu.. bawaannya kesel melulu..

“arrrrggggghhhhhh..” aku lalu mengacak-acak rambutku sendiri..

“kamu masih mau duduk terus disitu..? sampai kapan..?” kata mba mery yang mengagetkanku dari lamunan.. orang-orang sekeliling melihat kearahku karena ucapan mba mery tadi lumayan keras..

Cuukkk.. aku langsung berdiri dan berjalan kearah parkiran motor.. aku lalu menaiki tigi dan menyalakannya.. mba mery pun langsung naik dan dia langsung memelukku erat.. kalau sudah begini hilang keselku sama dia.. bajingan.. bajingan..

“kemana kita ini mba..” tanyaku

“terserah.. yang penting aku mau berdua sama kamu seharian ini..” jawabnya.. dan langsung menempelkan wajahnya dipunggungku.. aku merasa dadanya agak bergetar.. mba mery nangis..?

#cuukkk.. kenapa lagi sih kamu mba..? arrrggggghhhhh.. baru aku mau melupakan ratih, sekarang ditambah mba mery yang seperti ini.. mau gila rasanya aku..

Halaman Utama : Perjalanan Mengejar Cita Cita dan Cinta

BERSAMBUNG – Perjalanan Mengejar Cita Cita dan Cinta Part 38 | Perjalanan Mengejar Cita Cita dan Cinta Part 38 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 36 ) | ( Part 39 ) Selanjutnya