. Owalah Part 9 | Kisah Malam

Owalah Part 9

0
290

Owalah Part 9

Di warung, sekitar jam 4.

“Anjing mau buat tongkrongan baru kaga ngajak – ngajak”
Ucap haris, kemudian ia duduk di sebelah kananku.

“Brisik nih anak hc”
Balasku mengejek.

“Yaelah ja, gua juga jadi males kalo kaya gini mah, yang di terima malah bocah – bocah kaga jelas”

Tepat ketika haris berhenti berbicara, aku merasakan hpku bergetar, ada sebuah pesan dari kak tiara.

“Kamu dimana ja? Pulang bareng dong”
Isi pesan tersebut.

Haris lanjut mengutarakan kekecewaannya terhadap 5hc kepada daud, sementara aku sibuk membalas pesan kepada kak tiara.

“Di warung kak, emang ga bawa mobil?”
Balasku.

“Engga, males. Kakak otw ya”

Aku hendak membalas pesan kepada kak tiara agar dia jangan ke sini, namun tiba – tiba daud memanggilku.

“Jadi gimana bro? Kalo emang lu mau ayok kita maju bareng”
Ucap daud.

Aku sontak melihat ke arah daud.

“Ah tau dah”
Balasku, sambil memasukan hp ke dalam kantong celana.

“Ayok lah ja, kalo emang jadi biar gua gausah nongkrong di ukm lagi sekalian”
Saut haris.

“Trus blazer lu?”
Ucapku kini bertanya kepada haris.

“Yaelah, anggep aja kenang – kenagan haha”
Ucapnya santai sambil tertawa, membuatku juga ikut tersenyum mengetahui pendek pikirannya.

“Eh ja, cewek lu tuh”
Lanjut haris sambil melihat ke arah gerbang kampus.

Aku ikut melihat ke arah gerbang kampus, ternyata kak tiara sedang berjalan ke arah kami bertiga.

“Jangan aneh – aneh ris”
Ucapku pelan kepada haris ketika kak tiara sudah berada beberapa meter dari posisi kami.

“Oh, lagi ngumpul yah”
Ucap kak tiara dengan senyum manisnya.

Aku hendak berdiri untuk mengajak kak tiara segera pulang, namun gerakanku terhenti saat daud menahan pundak kiriku.

“Duduk aja kak”
Ucap daud sambil berdiri mempersilahkan kak tiara duduk disampingku.

Kak tiara tersenyum kepada daud kemudian melangkah dan duduk di samping kiriku.

“Terakhir kali gua tanya dah bro, jadi lu mau apa engga?”
Tanya daud yang kini sedang berdiri di samping kak tiara.

“Kaga dah”
Jawabku cepat.

Aku segera berdiri untuk mengajak kak tiara pulang, kak tiara justru menatapku sambil menggerakan bibirnya seakan berkata..

“Mau ngapain sih?”
Gerakan bibir kak tiara.

Aku hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan kak tiara.

Namun haris justru berkata….

“Mau buat tongkrongan baru kak”
Ucap haris.

Aku sontak menggerakan kepalaku melihat haris yang masih menatap kak tiara.

“Ris!”
Protesku.

Merasa semakin terpojok, aku meraih lengan kak tiara untuk segera mengajaknya pulang, namun kak tiara justru dengan cepat menggenggam tanganku.

“Kamu ga keterima di 5hc?”
Tanya kak tiara.

Mendengar pertanyaan kak tiara, aku mengeraskan rahang, membayangkan ‘paksaan’ yang pasti akan kak tiara lakukan kepadaku.

“Gak”
Ucapku singkat sambil melepaskan peganganku pada lengan kak tiara.

Kak tiara terdiam sejenak, aku terus menatapnya, berharap sekali ini saja ia mau mengalah.

“Yaudah kamu buat baru aja”
Ucap kak tiara.

“Gausah!”
Ucapku, entah mengapa terdengar sedikit membentak.

Wajah kak tiara berubah, mungkin ia terkejut mendengar ucapanku dengan nada yang sedikit meninggi. Namun tiba – tiba, daud yang kini berada di kananku dengan posisi sama – sama berdiri menyentuh lenganku.

“Bro, ini bukan cuma masalah lu sama andre”
Ucap daud.

Aku hanya menatapnya yang terlihat ingin lanjut berbicara…

“Gua juga punya masalah sama anak tripunar”
Lanjutnya…

“Masalah apaan?”
Tanyaku.

Daud menarik nafas panjang kemudian membuang rokoknya ke aspal, wajahnya tampak enggan untuk menceritakan masalahnya.

“Mendiang abang gua anak hc, seangkatan sama nandes…”
Ucap daud.

Aku mengerenyitkan alis saat mendengar kata ‘mendiang’ di dalam ucapannya..

“Lu adeknya bori?”
Tanya kak tiara memotong pembicaraan..

Daud sebentar menatap kak tiara, kemudian kembali melihat ke arahku.

“Iya, semua anak hc sama tripunar pasti tau atau minimal pernah denger nama abang gua”
Jawab daud.

Kini aku, kak tiara dan haris hanya bisa terdiam mendengar ucapan daud

“Ga salah kan kalo gua pengen nyari tau siapa yang ngebunuh abang gua?”
Lanjutnya..

Aku menurunkan padanganku saat mengetahui latar belakang daud ingin membantuku. Setelah beberapa saat berfikir, aku kembali menaikan pandanganku menatap daud, aku mengepalkan tangan lalu menaikannya hingga berada di depan perut daud.

“Buat abang lu”
Ucapku.

Daud sebentar menatapku, kemudian ikut mengepalkan tangan lalu meninju pelan kepalan tanganku.

“Thankyou bro”
Ucapnya.

__________

Sekitar jam 7 malam.

Kami masih di warung, justru asik membicarakan tentang berbagai hal, daud baru saja mengungkapkan bahwa sebenarnya ia dua tahun lebih tua dari aku dan haris, bahkan setahun lebih tua dari kak tiara.

Daud juga bercerita bahwa setelah lulus sma, ia sengaja bekerja selama dua tahun mengumpulkan uang agar bisa kuliah di kampus ini. Hingga bosnya justru mau menanggung biaya kuliahnya, dengan syarat ia harus tetap bekerja di perusahannya.

“Emang rumah lu dimana dah ud?”
Tanya haris yang masih duduk di se sebalah kananku kepada daud.

“Rumah gua mah diluar pulau bro, ngekost gua disini”
Jawab daud yang kini sedang duduk di motor milik penjaga warung.

“Lah mending lu ngontrak dah berduaan sama reja, sekalian bakal basecamp coy…ntar gua ikut patungan dah”
Balas haris memberikan saran..

Aku melihat ke arah daud, ternyata daud juga ikut melihat ke arahku.

“Ajak tinggal di rumah aja ja”
Celetuk kak tiara tiba – tiba memberikan ide..

Ekpresi daud berubah, ia sedikit mengangkat alis matanya.

“Ja elu?!”
Tanya haris yang sepertinya juga terkejut mendengar ucapan kak tiara.

Diam – diam aku menggerakan tanganku ke samping, sedikit mencubit pinggang kak tiara yang baru saja mengungkapkan bahwa selama ini aku tinggal bersamanya.

“Ihh sakitt”
Ucap kak tiara sambil menahan tanganku yang masih menempel pada pinggangnya..

Kak tiara justru tersenyum manja kepadaku sambil mendorong pelan tanganku untuk melepaskan pinggangnya.

“Kaga usah dah kak, yang ada malah ngerusak rumah tangga orang ntar gua”
Ucap daud sambil tersenyum lebar kepadaku dan kak tiara.

Aku sama sekali tak tersinggung dengan ucapan daud karena tau bahwa ia hanya bercanda. Namun di sisi lain, aku menyadari bahwa aku dan daud memiliki nasib yang hampir sama, sama – sama mampu kuliah karena di biayai oleh orang yang kami hormati.

“Haha, yaudeh cari kontrakan aja dah mending”
Ucap haris sambil tertawa.

Aku terdiam, perlahan aku menyentuh paha bagian samping kak tiara. Kak tiara sontak melihat ke arahku..

“Boleh kak?”
Bisikku pelan, yang entah mengapa justru ingin membantu daud.

“Boleh kok, kan masih ada lantai dua. Nanti kalo mau nongkrong di lantai satu aja, kita tidurnya di lantai dua, kayak tripunar gitu”
Ucap kak tiara, mengutarakan pengetahuannya mengenai kontrakan tripunar.

“Anjing lu ja udah tidur bareng!”
Ucap haris yang justru menanggapi masalah kedekatanku dengan kak tiara.

Aku memejamkan mata menahan emosi saat mendengar ucapan haris, kak tiara hanya tersenyum sambil menggenggam tanganku keras.

Setelah beberapa saat, aku kembali melihat ke arah daud.

“Bareng aja ud kalo mau”
Ucapku menyetujui daud untuk ikut tinggal di rumah kak tiara.

“Ah gampang dah”
Jawab daud santai.

Setelah itu kami sempat sebentar mengobrol, hingga jam sudah menunjukan sekitar pukul 9 malam, daud melangkah turun dari jok motor pemilik warung.

“Duluan dah gua bro, gawe besok”
Ucap daud.

“Lah ga kuliah lu?”
Tanyaku.

“Ga pernah ngambil kuliah pagi gua, mangkanya kita ga pernah sekelas”
Jawab daud kemudian mulai melangkah meninggalkan kami.

Namun tiba – tiba daud memutarkan tubuhnya ke belakang namun tetap melangkah menjauh.

“Ohiya, ntar gua kabarin ya”
Ucap daud kemudian kembali memutarkan tubuhnya ke depan

“Iye!”
Balasku sedikit berteriak.

Sambil terus melangkah, daud mengangkat tangan kanannya disamping wajah kemudian menunjukan ibu jarinya.

_____________

Di perjalanan pulang.

“Kak, yakin daud boleh tinggal di rumah?”
Tanyaku saat sedang mengendarai motor.

“Yakin, dia keliatannya baik kok orangnya”
Jawab kak tiara duduk di jok belakang sambil memeluk perutku.

“Iyasih, tapi kalo ada apa – apa bilang aja ya kak, nanti biar aku yang ngomong ke dia”
Ucapku.

“Iyaa sayaangg”
Balas kak tiara sambil meletakan kepalanya di punggungku dan mengeratkan pelukannya.

__________

Dirumah kak tiara.

“Emang abangnya daud kenapa sih kak?”
Ucapku ketika baru saja selesai menghabiskan makananku, kepada kak tiara yang duduk di seberangku, sedang sibuk dengan laptopnya.

“Kakak juga ga terlalu paham si ja, cuman sering denger ceritanya aja. Intinya itu dia meninggal di kontrakannya tripunar, nah yang jadi masalah itu kenapa dia bisa ada di sana.”
Jawabnya sambil terus menatap layar laptop.

“Maksudnya?”

“Anak tripunar bilang dia ke sana karena nekat mau nemuin kak nata, anak 5hc bilang dia di culik dan kak nata sebagai dalang penculikannya”

“Kak nata?”

“Iya, pacaranya raka, mantannya bori”

“Trus polisi ga ikut campur?”

“Ikut, beberapa anak tripunar sempet dibawa tapi langsung ditebus sama raka”

“Lah emang…

“Udah ih jangan nanya mulu, gatau orang lagi sibuk apa”
Potong kak tiara sambil menatapku dengan wajah ketusnya.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum kemudian bangkit dari kursi makan sambil membawa piring ke dapur.

“Eh ja, kamu ga ada tugas kuliah?”
Tanya kak tiara ketika aku hendak mencuci piring.

“Hmm…oh ada, tapi tugas kelompok”
Jawabku, yang jadi teringat dengan tugas kelompok bersama intan.

“Kalo mau ngerjain pake laptop ini aja dulu, sabtu ini kita beli laptop buat kamu deh”

“Astaga, yang lama aja sih di servis”
Ucapku tepat ketika aku baru selesai mencuci piring.

Aku memutarkan badan menghadap ke arah kak tiara, ia masih sibuk menatap layar laptopnya.

“Yaudah terserah kamu deh”
Jawabnya tanpa melihat ke arahku.

Aku berjalan mendekati kak tiara, ketika aku berada tepat di belakangnya, aku meletakan kedua tanganku di atas pundaknya.

“Serius banget sih”
Ucapku sambil memijit pelan pundak kak tiara yang hanya terhalingi tali tank topnya

“Diem ihh”
Balas kak tiara sambil sedikit menggerakan pundak, seakan menyuruhku untuk melepasnya.

Mendengar ucapan kak tiara, aku justru menurunkan tanganku ke depan, hingga kedua tanganku berada di payudaranya. Aku menggenggam kedua payudara kak tiara, meremasnya pelan.

“Ahhh jaaa”
Protes kak tiara dengan suara manja.

Melihat kak tiara masih sibuk menatap layar laptopnya, aku menghentikan aksiku kemudian melangkah menjauhinya.

“Ntar tanggung jawab yahh”
Ucap kak tiara ketika aku hendak berjalan ke depan rumah.

“Gak”
Jawabku singkat lalu mulai melangkah menuju pintu rumah.

Setibanya di halaman, aku mengeluarkan rokok kemudian menyulutnya, lalu meraih hpku dari dalam kantong celana. Aku membuka aplikasi wa, menulusuri ratusan nama yang ada di dalam grup angkatan, hingga aku berhasil menemukan nama intan..

Setelah menyimpan nomornya ke dalam daftar kontak, aku dengan segera mengirimkan pesan padanya.

“Hi ntan, ini reza”
Kirimku.

Aku menunggu beberapa saat sambil menikmati rokok di tanganku, hingga akhirnya intan membalas.

“Iya, kenapa za?”
Isi pesan dari intan.

“Ganggu ga? cuman mau nanyain tugas kelompok kok”

“Engga kok. Ohiya, buat jumat ini ya”

“Ntar aku tanya ke yang lain deh za, kamu kapan bisa ngerjainnya?”
Balasan tambahan darinya.

“Kapan aja bisa kok”
Balasku..

“Oke deh, tunggu kabar dari yang lain ya”

“Iya. Besok kuliah ntan?”
Entah mengapa aku merasa berat untuk mengirim pesan tersebut.

“Kuliah kok”
Balasan dari intan, hanya menjawab tak balas bertanya.

“Kamu?”
Pesan lanjutan dari intan, entah mengapa aku tersenyum lega.

“Kuliah, sampe jam 12 doang sih”
Balasku.

“Ih enak banget.. aku sampe jam 3”

“Dari jam 8?”

“Iyaa, males banget mangkanya”

Obrolan kami berlanjut, walau hanya membicarakan mengenai masalah perkuliahan. Hingga akhirnya intan ijin pamit untuk segera tidur..

“Sleepwell yah ntan”
Kirimku sebelum mengakhiri obrolan dengan intan.

“Iyaa, kamu jugaa”
Balas intan..

Aku tersenyum, kemudian meletakan hpku di dalam kantong celana lalu pelan memutar badanku untuk kembali ke dalam rumah. Namun gerakanku terhenti saat menemukan kak tiara yang sedang berdiri tepat di samping bagian belakangku.

Kak tiara hanya terdiam sambil terus menatap ke arah posisi tempat dimana hpku sebelumnya berada. Jantungku berdebar, mengetahui bahwa kak tiara membaca percakapanku dengan intan.

“Kak”
Panggilku pelan

Kak tiara tak menjawab, ia bahkan tak menggerakan matanya. Sedetik kemudian kak tiara tersenyum, lalu memutarkan badan ke arah pintu rumah, membelakangiku. Kak tiara dengan cepat melangkah meninggalkanku dan berjalan ke arah pintu kamar.

Aku hanya terdiam, kemudian menggaruk kepalaku sendiri, menyadari kesalahan yang telah ku perbuat. Setelah beberapa saat, aku mulai melangkah menyusul kak tiara menuju kamar.

Di dalam kamar, aku tak menemukan kak tiara. Namun aku mendengar suara shower di kamar mandi menyala. Aku melangkah mendekati pintu kamar mandi..

“Kak”
Panggilku sambil mengetuk pelan pintu kamar mandi.

“Kenapa ja?”
Jawab kak tiara bercampur dengan suara percikan shower.

“Buka dulu”
Balasku sambil mencoba membuka pintu kamar mandi.

“Lagi mandi”

Aku yakin kak tiara berbohong, karena ia baru saja mandi ketika kami pulang tadi.

“Yaudah buka dulu”
Ucapku memaksa.

Kak tiara tak menjawab, sedetik kemudian aku merasakan kunci pintu terbuka. Aku segera memutarkan gagang pintu dan melihat kak tiara sedang berdiri di hadapanku, dengan badan kering, kecuali di pipinya yang basah akibat air matanya sendiri.

Aku meraih lengan kak tiara, kemudian menariknya pelan keluar kamar mandi. Kak tiara tak melawan, ia mengikuti tarikanku.

“Maaf”
Ucapku pelan ketika kak tiara sudah berada diluar kamar mandi.

Kak tiara tak menjawab, ia hanya menatapku sayu dengan tetesan air mata yang mulai keluar dari pinggir matanya.

“Jangan nang….”

“Kamu suka sama dia?”
Tanya kak tiara memotong ucapanku.

Aku terdiam.

“Jawab ja!”
Tanya kak tiara lagi.

Aku menurunkan pandangaku kebawah, sambil melepaskan genggamanku pada lengan kak tiara.

“Maaf”
Balasku lagi – lagi hanya bisa meminta maaf.

Kemudian, kami hanya terdiam entah berapa lama kak tiara terus menatapku.

“Kamu tidur diluar dulu deh”
Ucap kak tiara memecah keheningan.

Aku memberanikan diri untuk menaikan pandanganku sejenak, menatap wajah kak tiara yang perlahan mulai berhenti menangis, lalu memutarkan arah badanku ke belakang.

Aku melangkah menuju pintu kamar, namun tepat ketika aku berada di depan pintu, tangan kiriku meraih tasku yang berada di atas lemari kecil.

“Mau kemana?!”
Tiba – tiba kak tiara bertanya tepat ketika aku meraih tas.

Aku memutarkan kepala melihat ke arah kak tiara.

“Tidur diluar”
Jawabku polos.

“Tasnya?”

Aku sejenak melihat tasku, lalu kembali melihat ke arah kak tiara.

“Bantal”
Jawabku singkat.

Kak tiara dengan cepat melihat ke arah kasur, ia meraih sebuah bantal lalu melemparkannya ke arahku.

“Tasnya tinggalin!”
Ucap kak tiara tepat ketika bantal yang ia lempar mendarat pada pahaku kemudian jatuh di lantai.

Aku meraih bantal yang ia lempar, meletakan tasku di atas lemari, lalu menarik gagang pintu dan berjalan keluar kamar..

Diluar kamar, aku melihat ke sekeliling ruangan mencari tempat untuk tidur, namun sayangnya sama sekali tak ada tempat yang nyaman karena rumah ini masih benar – benar kosong.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencari ke lantai dua.

Di lantai dua, ada beberapa ruangan, satu persatu aku memeriksa ruangan tersebut, hingga aku menemukan sebuah sofa panjang di salah satu ruangan, sofa yang akan menjadi tempat tidurku malam ini.

_____________

Aku terbangun saat mendengar alram hpku menyala.

Seperti manusia modern lainnya, hal pertama yang aku lakukan ketika terbangun adalah memeriksa hpku. Kesadaranku terasa terkumpul saat melihat sangat banyak pesan dan misscall dari kak tiara.

“Ja dimana?”

“Kamu kemana ja?”

“Ja kakak minta maaf, kamu pergi kemana?”

“Ja angkat donggg”

Beberapa pesan dari kak tiara.

Entah mengapa, dadaku terasa pilu mengetahui ke khawatiran kak tiara.
Sesaat kemudian hpku kembali bergetar, telepon dari kak tiara.

“Jaa, kamu kemana sih? Jangan gitu ish, kakak minta maaf!”
Cerocos kak tiara saat aku baru saja menerima panggilannya.

“Apasih kak, aku tidur diatas”
Jawabku.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler