. Owalah Part 8 | Kisah Malam

Owalah Part 8

0
273

Owalah Part 8

Kepalaku terasa pusing saat indera pengelihatanku melihat sinar lampu, beberapa kali aku mengedipkan mata untuk mendapatkan kembali kesadaranku.

Aku melihat ke sekitar ruangan dan sama sekali tak dapat mengenali kamar ini. Setelah melirikan mataku ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 11, aku membangkitkan badan dari atas kasur walaupun seluruh wajahku masih terasa nyeri.

Aku sempat mendengar sebuah suara samar dari luar kamar.

Melalui jendela, aku melihat beberapa pemuda tak memakai baju sedang duduk menghadap ke sebuah api unggun, sementara sekelompok pemuda memakai blazer sedang berdiri di seberangnya.

Aku masih berada di villa.

Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadaranku, aku mulai berjalan keluar kamar. Masuk ke area aula, kemudian melangkah menuju pintu utama.

“Eh, udah bangun lu?”
Ucap seorang wanita di saat aku baru saja melewati pintu villa.

Aku melihat ke sumber suara, seorang wanita sedang duduk di area halaman villa bersama intan yang terlihat sudah terlelap dalam posisi duduk.

“Udah kak”
Jawabku.

Wanita itu perlahan menyenggol lengan intan dengan tangannya.

“Ntan, temennya udah bangun nih”
Ucapnya membangunkan intan.

Aku sempat menatap wajah intan yang sedang terlelap di atas kursi sambil memeluk sebuah jaket sweater.

“Emhhh…..iya kak”
Ucap intan malas sambil mengusap matanya dengan sweater.

Intan melihat ke arahku, walau tatapannya masih sayu namun ia sempat tersenyum kepadaku.

“Udah bangun za?”
Tanya intan dengan suara renyah.

“Udah”
Jawabku polos.

Beberapa saat kami sempat terdiam. Merasa suasana mulai canggung, aku melangkah ke depan untuk kembali berkumpul dengan maba lainnya.

“Eh mau kemana?”
Ucap kakak senior yang kini berada di belakangku.

“Ngumpul kak”
Jawabku sambil melihat ke arahnya.

Dengan cepat kakak senior itu mengangkat tubuhnya berdiri.

“Jangan, duduk sini aja.. yang ada malah kenapa – napa lagi lu”
Ucapnya sambil menepuk sandaran kursi yang tadi ia tempati.

Aku hanya terdiam, memikirkan suruhannya untuk duduk di sebelah intan.

“Sini za”
Ucap intan justru ikut menyuruhku untuk duduk di sebelahnya.

Perlahan, aku mulai melangkah dan duduk si sebelah intan.

“Yaudah, kakak tidur duluan yah ntan”
Ucap kakak senior kepada intan.

Kakak senior itu kemudian melangkah masuk ke dalam villa, meninggalkan aku dan intan.

Sejenak kami terdiam, aku menatap ke arah api unggun dimana sepertinya para maba sedang mendengarkan ceramah dari para anggota 5hc.

“Za”
Ucap intan tiba – tiba memanggilku.

Aku tak menjawab, hanya menggerakan kepalaku melihat ke arahnya.

“Kamu kenapa mau masuk 5hc sih za?”
Tanya intan.

“Ada masalah sama tripunar ntan”
Jawabku.

“Masalah apa?”
Tanya intan lagi.

Aku terdiam sejenak sambil memalingkan wajahku kembali melihat ke arah api unggung, mempertimbangkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya.

“Aku di kira ngedeketin ceweknya anak tripunar”
Jawabku, entah berbohong atau jujur.

“Kalo kamu kenapa?”
Lanjutku, gantian bertanya.

“Disuruh abangku za”
Jawab intan.

Mendengar jawaban intan, aku langsung melihat ke arahnya.

“Maksudnya?”
Ucapku.

Intan melirikan matanya kepadaku, namun wajahnya masih menghadap ke arah api unggun.

“Aku adeknya nandes za”
Jawab intan.

Aku hendak mengerenyitkan alis mata saat mendengar jawabannya, namun terasa kaku akibat pembengkakkan di wajahku.

“Bang nandes nyuruh aku buat main sama anak 5hc aja”
Lanjut intan.

“Ntan”
Ucapku pelan memanggilnya.

Intan menggerakan kepala hingga kini sepenuhnya menghadap ke arahku.

“Kalo sebenernya aku mau masuk 5hc karena kamu, gimana?”
Ucapku, mengutarakan alasan sesungguhnya mengapa aku ingin bergabung dengan 5hc.

“Yapaling kamu langsung ditolak za”
Jawab intan, kini justru sambil sedikit tersenyum.

Melihatnya tersenyum, entah mengapa aku ikut tersenyum walau pipiku masih terasa sakit.

“Tapi kamu beneran mau masuk 5hc za?”
Ucap intan gantian bertanya.

Aku menggeser pandanganku, kembali menatap ke arah api unggun. Menarik nafas untuk memberanikan diri mengutarakan isi hatiku.

“Gatau, sebenernya aku mau masuk 5hc karena penasaran sama kamu..tapi kalo kamu emang adeknya nandes, aku bisa apa”
Ucapku..

“Maksudnya?”
Tanya intan sepertinya gagal memahami perkataanku.

“Ehmm…engga kok…ya gitu deh pokoknya”
Jawabku, bingung untuk mengucapkan apa.

“Apasih za, aku ga ngerti”
Ucap intan.

Aku menarik nafas panjang, sambil terus melihat ke arah api unggun, aku memberanikan diri untuk menjelaskan maksudku.

“Aku suka sama kamu ntan, dari awal kita ketemu di kelas. Aku pengen kenal lebih deket sama kamu”
Ucapku.

Jantungku berdebar, bukan karena adrenalin yang terpicu seperti disaat aku berkelahi. Namun karena sebuah perasaan yang belum pernah ku alami sebelumnya..

“Trus kamu minder karena tau kalo aku adeknya nandes?”
Tanya intan.

Aku memberanikan diri untuk melihat intan, ternyata ia masih terus melihatku sehingga kini kami saling bertatapan.

“Culun banget sih za”
Lanjut intan.

Intan tiba – tiba tersenyum, entah mengapa lagi – lagi aku ikut tersenyum kepadanya. Setelah bertatapan sesaat, intan kembali melihat ke arah api unggun. Jantungku tambah berdebar saat intan dengan lembut meletakan kepalanya di atas pundakku.

“Kenapa yah za, manusia selalu berusaha terlihat kuat seakan merasa lebih besar dari takdirnya? sampe lupa kalo mereka lahir dan akan mati dalam kondisi lemah”
Ucap intan, dengan kepala menyender pada pundakku.

“Karena mereka yang hidup masih memiliki bayangan ntan”
Balasku.

Tanpa menggerakan kepala, intan hanya menggeser matanya melihatku.

“Bayangan selalu berkata pada manusia bahwa mereka lebih besar daripada matahari”
Lanjutku.

Intan tersenyum, kemudian kembali menatap api unggun.

Setelah itu, kami berdua hanya terdiam menyaksikan perpeloncoan para maba yang kini sedang berdiri dan berteriak menyebut nama masing – masing.

Entah setelah berapa lama, aku melirikan mataku melihat intan. Ternyata intan sudah kembali tertidur sambil mengeratkan jaket sweater di pelukannya.

Aku memberanikan diri untuk menyentuh lengannya.

“Ntan.”
Panggilku.

Intan perlahan membuka matanya.

“Disini dingin, pindah ke kamar aja”
Lanjutku.

Intan melihat ke arahku dengan tatapan sayu.

“Aku tidur duluan yah za”
Ucap intan dengan suara renyah.

Intan kemudian berdiri dan melangkah masuk ke dalam villa.

Aku sebentar terdiam dan menatap ke arah api unggun, kemudian berdiri dan melangkah masuk ke dalam villa, menujur kamar.

__________

Pagi hari.

“Bangun woy bangun! *Brak brak brak*”
Sebuah suara teriakan bercampur dengan suara gedoran pintu menyadarkanku dari tidur.

Aku merasakan gerakan di sebelahku, aku melihat ke kanan, ternyata haris yang juga sedang berusaha sadar dari nyenyak tidurnya.

“Woi muka bonyok! Bangun lu!”
Lanjut seorang anggota 5hc yang sedang berdiri di pintu terus berteriak membangunkan kami.

Aku memaksa tubuhku bangkit terduduk diatas kasur, kemudian melihat ke arah pintu.

“Buru bangun woy!..biar olahraga pagi, trus makan kita!”
Teriaknya lagi.

Semua orang yang berada di kamar ini seakan mendapatkan kabar bagus dan langsung bangun saat mendengar kata ‘makan’. Wajar, karena kami sama sekali belum dikasih makan dari kemarin sore.

Semua maba pun bangkit, kemudian kembali dikumpulkan di tengah lapangan.

Olahraga pagi, push up, sit up, dan perpeloncoan lainnya..
Saat tubuh ini sudah terasa benar – benar lemas, akhirnya kami dikumpulkan di aula dan diberikan makan.

“Bro, sorry yak soal kemaren”
Ucap daud yang sedang makan di sebelahku.

“Iya, selow”
Ucapku sambil menyuap nasi masuk ke dalam mulutku..

Saat kami masih sibuk makan, tiba – tiba bang roni datang dan berdiri di depan kami semua.

“Sorry nih ganggu makan lu pada, gua pengen ngasih tau kalo acara penataran cukup sampe sini, selesai makan gua minta lu pada cabut dari villa, tas udah di kumpulin di tengah lapangan”
Ucap bang roni.

“Ohiye, masalah siapa yang keterima, lu tunggu aja, ntar juga lu pada pasti tau”
Lanjut bang roni kemudian melangkah menaiki tangga..

Entah sebuah kabar baik atau buruk bagi para maba. Kabar baik karena akhirnya penataran selesai, kabar buruk karena ternyata para maba benar – benar tak di berikan waktu untuk bersenang – senang.

Kegiatan makan selesai, satu per satu para maba mulai meninggalkan aula dan melangkah menuju lapangan untuk mengambil tas mereka masing – masing lalu pergi meninggalkan villa, begitu juga denganku dan haris.

Di perjalanan.

“Penatarannya begitu doang ris?”
Tanyaku pada haris ketika kami sudah memasuki jalan raya puncak.

“Au dah ja, gara – gara masalah semalem kayaknya dah”
Jawab haris.

“Ada masalah apaan emang?”
Tanyaku lagi.

“Anak tripunar kemaren pada dateng bego”
Jawab haris.

“Hah? Maksudnya?”
Ucapku.

Akhirnya haris menceritakan yang terjadi saat semalam aku pingsan akibat berkelahi dengan daud, hingga aku mengetahui bahwa mungkin semalam intan telah menyelamatkan nyawaku.

_________

Pov orang ke-3

Di villa, semua anggota 5hc sedang berkumpul di lantai 2.

“Kalo saran dari gua sih des, mending lu pikirin apa layak kita bentrok lagi sama tripunar gara – gara satu orang maba”
Ucap salah satu anggota 5hc.

“Sorry bang, ini mah bukan masalah si reza. Menurut gua mereka tengil banget rame – rame nyamperin ke acara kita”
Sahut Roni ikut memberikan masukan.

“Nah bener tuh, niatnya apaan coba kalo bukan nyari masalah”
Sahut anggota 5hc lainnya setuju dengan pendapat Roni.

“Yaelah tong, lu mah enak asal ngomong kaga pernah ngalemin dulu rusuhnya kayak gimana”

Perseteruan antara anggota 5hc terjadi. Kebanyakan mereka yang setuju untuk menerima reza bergabung dengan 5hc adalah mahasiswa semester 3 dan 5, sementara mahasiswa semester 7 ke atas tak setuju untuk menerima reza karena dapat memicu kembali terjadinya bentrokan antara 5hc dan tripunar.

“Des, gua tau kok apa yang lu pertimbangin”
Tiba – tiba seseorang yang di tuakan di 5hc yang juga merupakan salah satu pendiri dan mahasiswa seangkatan dengan nandes angkat bicara..

“Kalo emang lu mau adek lu aman, mending lu relain tuh maba…anak tripunar sekarang udah tau kalo intan itu adek lu, lu tau kan otaknya raka? Inget kejadian bori des”
Lanjutnya.

Seluruh anggota 5hc terdiam setelah mendengar ucapannya, namun tiba – tiba.

“Lah malah saatnya balas dendam bang”
Celetuk roni memecah keheningan.

Nandes terlihat terganggu dengan ucapan roni, ia langsung menatapnya tajam.

“Lu diem dulu bisa ga?!”
Bentak nandes kepada roni.

Ekspresi wajah roni sontak berubah mendengar bentakan nandes. Roni menurunkan wajahnya menghindari tatapan nandes yang masih mengarah tajam kepadanya.

Melihat roni terdiam, nandes mengalihkan pandangannya ke arah intan.

“Maaf yah dek”
Ucap nandes kepada intan.

_____________

POV Reza.

“Yaudah gua duluan bray, ati – ati lu”
Ucap haris ketika kami sudah tiba di depan kampus dan turun dari motornya.

“Yoi, thankyou ris”
Balasku..

Haris mengangguk, kemudian melajukan motornya meninggalkannku.

Setelah melihat kepergian haris, aku mulai melangkah menuju parkiran kampus. Dalam perjalanan, aku membuka tas untuk mengambil hp, ternyata ada banyak pesan yang ku terima dan hampir semuanya dari kak tiara.

“Ejaaaa”

“Ja dimana?”

“Ja tadi andre ngajakin kakak buat nemuin kamu”

“Ja kamu ga apa – apa kan?”

“Ja, andre mutusin kakak”

Isi pesan dari kak tiara.
Selain itu, kak tiara juga sempat beberapa kali coba menelponku.

Aku dengan segera membuka menu panggilan dan coba menghubungi kak tiara.
Nada dering berbunyi, namun kak tiara tidak menjawab.
Aku mempercepat langkahku menuju parkiran dan lekas pulang ke rumah kak tiara.

Setibanya di rumah kak tiara, aku menemukannya sedang tertidur dibawah balutan selimut dengan guling di dalam pelukannya.
Aku bergerak mendekati kasur kemudian duduk di samping tubuh kak tiara.

Aku memperhatikan wajahnya, hatiku terasa sakit saat menemukan bekas luka di ujung bibir kak tiara.

“Kak”
Panggilku pelan.

Kak tiara perlahan membuka mata.
Namun matanya langsung terbuka penuh saat melihatku berada di hadapannya.

“Kamu kenapa ja?!”
Tanya kak tiara panik sambil mengangkat tubuhnya duduk diatas kasur.

Aku tak langsung menjawab, memberikan kak tiara waktu sejenak untuk benar – benar bangun dari tidurnya.

“Disuruh berantem kak, biasalah penataran”
Jawabku.

“Bukan karena andre kan?!”
Tanya kak tiara.

Kak tiara menjulurkan tangannya mencoba menyentuh luka di pelipis mataku.

“Bukan, aku ga ketemu kok sama dia”
Jawabku, disaat kak tiara sedang mengamati luka di area wajahku..

“Kak tiara di apain sama andre?”
Lanjutku gantian bertanya.

Kak tiara menarik tangannya tak lagi menyentuh wajahku, kemudian termenung lalu sedikit menurunkan wajah menatap kasur.

“Kemaren sore andre maksa kakak ikut nemuin kamu”
Ucap kak tiara mulai berbicara.

“Kakak gamau, dia marah dan kita sempet berantem. Trus malemnya dia nelpon buat mutusin kakak”
Lanjut kak tiara.

“Trus bibir kakak kenapa?”
Tanyaku.

“Pas berantem dia sempet emosi……”
Jawab kak tiara.

Kak tiara terus termenung menatap kasur.
Aku memberanikan diri untuk meletakan tanganku di atas paha kak tiara yang masih tertutup selimut.

“Brarti kak tiara sekarang jomblo kan?”
Ucapku, coba menghibur.

Kak tiara mengangkat pandangannya, ia melihatku kemudian tersenyum.

“Terus?”
Ucap kak tiara.

“Terus apanya?”
Balasku, ikut tersenyum.

“Terus kenapa kalo kakak jomblo?”
Ucapnya.

“Yacari pacar lagi lah”
Balasku.

“Ih resee banget sihh jaa”
Ucap kak tiara justru menggerakan tangannya dan mencubit halus tanganku yang masih ku letakan di atas pahanya.

Aku dengan cepat mengangkat tubuhku berdiri

“Aku mandi dulu deh kak”
Ucapku pada kak tiara yang masih duduk tersenyum di atas kasur.

“Eh kamu udah makan ja?”
Tanya kak tiara di saat aku hendak melangkah untuk mengambil alat mandi..

“Belum”
Jawabku singkat.

“Kakak pesen makanan deh ya”
Balas kak tiara di saat aku sudah berada di depan lemari.

“Terserah”
Jawabku pasrah karena sadar bahwa aku tak bisa berdebat banyak dengannya mengenai hal seperti ini.

Siang dan sore ini aku habiskan dengan beristirahat dan menerima pelayanan dari kak tiara, pelayanan makan dan pengobatan.

Hingga sekitar jam 7 malam di saat aku sedang istirahat, tiduran di kasur sambil memainkan hp.
Tiba – tiba pintu kamar mandi terbuka.

Kak tiara, baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk berjalan mendekatiku, sambil tersenyum dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Ejaaa”
Panggil kak tiara lembut.

“Ya?”
Jawabku, walau sebenarnya sudah paham betul apa yang kak tiara inginkan.

Dengan senyuman genitnya, kak tiara mulai menaikan kedua dengkul ke atas kasur.

“Main yukk”
Ucap kak tiara sambil menurunkan tubuh hingga kini ia berada dalam posisi merangkak mendekatiku.

“Main apa?”
Balasku, mencoba sedikit menggodanya.

Kak tiara terus merangkak ke arahku, tanpa ragu ia meletakan tangan dan dengkul kanannya di sebelah kiriku, sementara tangan dan dengkul kanannya berada di sebelah kananku.

“Mainin kakak”
Ucap kak tiara nakal kemudian meletakan tubuhnya menempel denganku, lalu menyerang bibirku dengan ciuman ganasnya.

Kak Tiara​

Kami berciuman, aku yang sudah terbawa nafsu menggerakan tangan kiriku ke arah pantat kak tiara.
Namun tiba – tiba tanganku di tahan oleh kak tiara.

“Emhh…. Kamu diem aja deh, biar kakak yang mainin kamu”
Ucap kak tiara genit setelah ia melepaskan ciumannya.

Kak tiara kemudian mengangkat tubuhnya hingga ia benar – benar duduk di atas area selangkanganku.
Masih terus menatapku dengan wajah genitnya, kak tiara meraih lipatan handuknya, kemudian dengan satu gerakan tegas ia menarik handuknya hingga telepas.

Aku tercengang melihat tubuh mulus kak tiara yang masih sedikit di basahi air itu, aku sontak menggerakan tanganku untuk merasakan empuk payudaranya.
Namun lagi – lagi kak tiara segera menahan tanganku.

“Ihh jangann.. kamu diem aja kek”
Ucap kak tiara, seakan protes dengan aksiku.

“Gatahan kak”
Ucapku merasakan sensasi dudukannya di atas penisku.

Kak tiara justru tersenyum, melepaskan tanganku kemudian meraih bagian bawah bajuku. Dengan lembut ia menarik bajuku ke atas, aku yang mengerti dengan maksudnya sedikit mengangkat punggungku.

“Buka ja”
Ucap kak tiara saat bajuku sudah terangkat hingga dada..

Aku meraih bagian bawah bajuku, lalu mengangkatnya hingga terbuka.
Baru saja aku meletakan bajuku di pinggir kasur, kak tiara dengan cepat bergerak mundur lalu menurunkan tubuhnya ke bawah.

“Emhhhh….kak”
Ucapku merasakan sensasi geli saat merasakan hangat lidah kak tiara menari di sekitar puting dadaku.

Bukan hanya itu, kak tiara juga meletakan tangan kanannya di dada kiriku, mengelusnya lembut.
Aku hanya terdiam menikmati aksi kak tiara sambil sesekali mengusap rambut kak tiara.

Tiba – tiba kak tiara mengangkat kepalanya. Dengan jari masih menempel pada dadaku, kak tiara bergerak turun dan berhenti disaat wajahnya tepat berada di depan penisku.

“Nikmatin aja yah ja”
Ucap kak tiara sambil tersenyum nakal.

Kak tiara meraih sudut celanaku dengan kedua tangannya, dengan satu gerakan pasti ia menarik celanaku kebawah.
Penisku yang sudah mengeras langsung berjendul dibawah celana dalamku. Tak menunggu lama, kak tiara kembali meraih sudut celana dalamku dan menurunkannya.

Kak tiara tersenyum melihat penisku yang sudah berdiri tegang di hadapannya. Dengan senyuman nakalnya, ia membuka mulut dan memajukan wajahnya…

“Emhhhh”
Desahku saat merasakan kepala penisku mulai memasuki mulutnya.

Kak tiara nampak tak peduli, ia semakin mendorong wajahnya hingga penisku mulai masuk ke dalam mulutnya.
Kak tiara kemudian menggerakan kepalanya naik turun membuat batang penisku bergesekan dengan bibir tipisnya.

Aku benar – benar terbuai dalam kenikmatan, memejamkan mata menikmati permainan mulut kak tiara.

Setelah beberapa lama, kak tiara melepaskan penisku dari dalam mulutnya.
Aku membuka mata, kak tiara masih saja menatapku.

“Kakak masukin yah ja”
Ucap kak tiara kemudian bergerak maju dan mengangkat tubuhnya.

“Iya kak”
Ucapku polos.

Kak tiara memposisikan penisku tepat dibawah bibir vaginanya, ia meletakan kedua tangannya di dadaku. Perlahan, kak tiara mulai menurunkan tubuhnya hingga penisku mulai terbenam di dalam lubang vaginannya.

“Emhh”
Desah kak tiara saat batang penisku mulai mempenetrasi lubang vaginanya.

Tak menunggu lama, kak tiara kemudian mulai menggerakan pinggulnya naik turun. Penisku terasa nikmat tergesek dengan dinding vagina kak tiara.

“Ahh…enakk”
Ucap kak tiara.

Kak tiara menurunkan tubuhnya hingga payudaranya menempel dengan dadaku. Dengan buas ia menempelkan bibirnya dengan bibirku.
Sambil terus menggerakan pinggulnya, kak tiara menciumi bibirku membuat desahannya tertahan.
Bagian depan pahaku terus beradu dengan pantatnya.

“Emhh…..mhhhhh”
Desah kak tiara tertahan ciuman kami.

Hingga tiba – tiba kak tiara mempercepat gerakannya, begitu cepat sampai ia harus melepaskan ciuman kami.

“Aaah..nyampeeee”
Ucap kak tiara disaat ia menggerakan pinggulnya dengan cepat.

Sedetik kemudian tubuh kak tiara terasa bergetar, aku bahkan merasakan bahwa dinding vaginanya mengurut penisku.

“Aaaaaaaaahhh”
Desah kak tiara panjang.

Kak tiara menghentikan gerakannya, penisku terasa basah akibat cairan kewanitaanya..
Hingga akhirnya kak tiara menjatuhkan wajahnya di samping wajahku..

“Emhhhh….bentar yahh ja”
Bisik kak tiara dengan suara lemas.

Belum mendapatkan orgasme, aku segera meletakan kedua tanganku tepat diatas pantat kak tiara. Aku hendak sedikit mengangkat tubuhnya untuk memberikanku ruang agar dapat kembali memopanya.

“Mhh jangann ja”
Bisik kak tiara lagi..

Aku menghentikan gerakanku, kak tiara kemudian mengangkat tubuhnya kembali tegak.

“Sabar yahh”
Ucap kak tiara sambil meraih tanganku dari pantatnya kemudian mendorongnya menjauh.

Sambil terus menggenggam kedua tanganku, kak tiara kembali menggerakan pinggulnya..
Kak tiara tampak lemas, namun ia terus bergerak naik turun dengan tempo lambat.

“Kak”
Panggilku.

Kak tiara tak menjawab, ia hanya menatapku sayu. Aku menggerakan tanganku untuk melepaskan genggamannya, kemudian meraih pinggang kak tiara.
Dengan cepat, aku sedikit mengangkat tubuh kak tiara lalu ku tarik ke bawah, membantunya mempercepat gerakan..

“Aaaahhh teruss jaa”
Desah kak tiara saat tempo mulai berubah.

Aku terus membantunya bergerak hingga aku dapat merasakan bahwa orgasmeku akan segera datang.

“Aaahh jaaaaa…dapettt lagii”
Ucap kak tiara .

“Emhh..aku jugaa kak”
Ucapku..

“Barreeenggg aaaaaah”
Desah kak tiara keras disaat ia kembali mendapatkan orgasmenya, begitu juga denganku.

Kak tiara kembali ambruk menindih tubuhku. Deru nafas kami berdua terdengar menenangkan diri dengan posisi kelamin yang masih menyatu..

“Jaaa”
Panggil kak tiara lirih tepat di telingaku.

“Kok di dalem sih”
Lanjut kak tiara.

Mendengar ucapannya, aku segera meraih kedua lengan kak tiara kemudian mengangkat tubuhnya sehingga berhadapan denganku.

“Gapapa kok ja”
Ucap kak tiara sambil tersenyum dan meliukan badan seakan menyuruhku untuk kembali meletakan tubuhnya.

_____________

Ke esokan harinya..

Di depan gedung ukm.

Aku sedang mengobrol dengan seorang mahasiswa ketika tiba – tiba bang roni berteriak dari lantai dua.

“WOI, BLAZER NIH”
Teriak haris sambil melemparkan tiga buah blazer yang masih terbungkus plastik ke lantai 1.

Blazer itu mendarat tepat di tengah gerombolan haris yang sedang bermain kartu. Semua orang terdiam dan dengan segera bergerak mendekati blazer.

“WOII PUNYAA GUA NIHH!”
Teriak seorang mahasiswa setelah melihat nama dibalik saku blazer.

“ANJING EMANG SI HARIS.. WOI RIS BLAZER LU NIH!”
Teriak mahasiswa yang berada di hadapan haris.

“HAHAHAH ANAK HC NIH GUA!!”
Teriak mahasiswa lain yang tertawa senang saat menyadari bahwa salah satu dari ketiga blazer tersebut adalah miliknya.

Aku hanya terdiam, menyaksikan kegembiraan mereka entah mengapa aku merasa sedikit terganggu.
Aku memutarkan tubuh dan melangkah menjauh dari gedung ukm, namun tiba – tiba aku melihat seseoang yang ku kenal sedang melangkah ke arahku.

“Mau kemana bro?”
Tanya daud ketika ia berada di hadapanku.

“Warung depan, beli rokok”
Jawabku.

Daud hanya mengangguk kemudian lanjut melangkah melewatiku, begitu juga denganku yang lanjut melangkah menuju area depan kampus.

_______

Diwarung

“Biasa mas, es teh manis”
Ucapku pada penjaga warung, kemudian menurunkan tubuhku duduk di atas kursi kayu.

Aku termenung, menyadari kenyataan bahwa 5hc tidak menerimaku.

“Andai bukan daud”
Ucapku dalam hati mengingat penyebab kegagalanku masuk 5hc.

Hingga tiba – tiba aku merasakan ada seseorang mendekatiku.

“Ga keterima juga lu bro?”
Ucapnya.

Aku melihat ke arahnya, ternyata daud sudah duduk di sebelahku.

“Iya, lu juga ye?”
Jawabku..

“Emang udah yakin ga bakal keterima gua mah bro, nongkrong aja ga pernah”
Balasnya..

Daud sebentar mengeluarkan rokok dari dalam kantong celananya..

“Trus gimana masalah lu sama tripunar?”
Tanya daud lalu memasukan bagian filter rokok ke dalam mulutnya.

“Au dah”
Jawabku singkat..

“Tiati bro, kalo satu lawan satu mah gua yakin lu kuat. Lah kalo satu lawan sepuluh? Gua juga pasti mikir”
Ucap daud malah menceramahiku..

Aku tak menjawab, justru merasa sedikit tertanggu dengan ucapannya.

“Tapi kalo dua lawan sepuluh mah gua ayo”
Sambungnya.

Aku reflek melihat ke arah daud.

“Maksud lu?”
Tanyaku.

“Bikin tongkrongan baru, elu yang mimpin”
Jawab daud sambil menatapku tajam.

“Tiga lawan sepuluh lah!!”
Tiba – tiba terdengar suara teriakan dari jauh.

Aku melihat ke sumber suara, ternyata haris sedang berjalan ke arah kami dengan blazer 5hc di pundaknya.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler