. Owalah Part 7 | Kisah Malam

Owalah Part 7

0
279

Owalah Part 7

Di rumah Kak tiara

“Kamu beneran ja ga mau di anterin?”
Tanya kak tiara, sedang duduk di tengah kasur.

“Engga kak, aku bareng sama temen”
Jawabku yang tengah memasukan dua pasang baju ke dalam tas lalu menarik resletingnya hingga tertutup.

Aku mengangkat tas kemudian memasukan lenganku diantara penyangganya.

Tas sudah menempel di punggungku, sebentar aku melihat ke arah kak tiara yang masih menatapku cemberut.

“Senyum kek”
Ucapku sambil tersenyum kepada kak tiara.

Bibir kak tiara perlahan bergerak menekuk hingga menunjukan senyum manis diwajah cantiknya..

“Bentar…”
Ucap kak tiara.

Dengan bertumpu pada dengkulnya, kak tiara bergerak mendekatiku. Sangat dekat, bahkan hingga ia meletakan kedua tangannya di dadaku.

“Kamu jangan aneh – aneh ya”
Lanjut kak tiara lemah dengan telapak tangan menempel pada dadaku..

Aku tersenyum.

Dengan cepat, tangan kananku bergerak ke belakang lehernya sementara tangan kiri ku letakan di belakang punggungnya.

“Emh”
Desah kak tiara saat aku menarik tubuhnya dan langsung mencium bibirnya.

Kak tiara sama sekali tak melawan, aku bahkan merasakan kedua tangan kak tiara mulai mengelus dadaku.

Setelah beberapa saat, aku menggerakan wajahku ke samping hingga ciuman kami terlepas.

“Kakak juga jangan aneh – aneh”
Ucapku, masih dalam posisi berpelukan namun tidak ciuman.

“Iyah sayang”
Ucap kak tiara dengan suara sayu.

Aku kemudian mengambil satu langkah mundur sambil melepaskan pelukanku.

“Yaudah aku berangkat dulu”
Ucapku.

Kak tiara hanya tersenyum.

Aku membalas senyumannya kemudian mulai melangkah menuju ke arah pintu kamar.

“Hp jangan di matiin”
Ucap kak tiara ketika aku sudah berada di depan pintu.

Aku sebentar kembali melihat kak tiara yang kini sedang duduk bersimpuh di pinggir kasur, aku mengangguk kemudian lanjut melangkah pergi meninggalkannya.

__________

“Yakin lu ja ini villanya?”
Tanya haris yang sedang mengendarai motor setelah beberapa saat menyusuri sebuah jalan sempit di area puncak.

“Mana gua tau, kalo dari map mah bener”
Jawabku.

Motor kami berhenti di dekat pintu gerbang sebuah villa yang memiliki ukuran sangat besar.

“Ohiye bener, itu ada mobilnya bang roni”
Balas haris setelah ia mengintip ke area perkarangan villa.

Haris kembali menjalankan motornya, melewati pintu gerbang villa yang tak tertutup.

Di area pekarangan villa, mataku langsung melihat ke arah lapangan dimana ada lima orang mahasiswa sedang duduk di tengah lapangan, sementara satu orang dengan blazer 5hc sedang berdiri di depan mereka.

“WOI, BURUAN!”
Suara teriakan anggota 5hc yang sedang berdiri di tengah lapangan.

Haris bergegas melajukan motor dan memarkirkannya, kemudian segera melangkah melangkah memasuki area lapangan.

“CIEEE MAU JADI ANAK HC NIH!”
Sebuah suara teriakan dari sebelah kiriku.

Aku melihat ke arah suara, ternyata ada dua orang pria menggunakan blazer 5hc tengah berdiri di area balkon lantai dua, bersama seorang wanita cantik di tengah mereka.

“Ih itu ganteng!”
Ucap sang wanita sambil menunjuk ke arahku.

Aku tak menggrubis ucapan wanita tersebut kemudian lanjut melangkah ke tengah lapangan.

Hingga aku dan haris sudah berada di tengah lapangan..

“Nama lu siape?”
Tanya anggota 5hc kepada kami..

“Haris bang”

“Reza”

Jawabku dan haris di saat yang bersamaan.

“Yaudah duduk lu”
Balasnya.

Sebelum menurunkan badan, aku sempat melihat kelima wajah mahasiswa yang sudah duduk ditengah lapangan.

Mereka semua maba, mereka semua juga sering nongkrong di ukm, aku cukup mengenal mereka walau sama sekali tak akrab.

“Sabar ye, 15 menit lagi…lu pada ngorekin tanah aja dulu gih haha”
Ucap anggota 5hc itu mengejek kami.

Kini, ada sekitar 7 orang termasuk aku dan haris yang sedang duduk di lapangan.

Tiba – tiba haris yang berada di sebelahku mengangkat tangannya.

“Oi bang, boleh ngerokok ga nih?”
Tanya haris, yang menurutku merupakan pertanyaan bodoh

“Boleh, asal siap gua bikin ganteng muka lu”
Jawab anggota 5hc.

Mendengar jawabannya, beberapa orang yang sedang duduk termasuk aku langsung tertawa. Tertawa karena haris memang memiliki wajah pas – pasan, atau bahkan bisa di bilang jelek.

“Yaelah, gitu aje”
Balas haris menanggapinya dengan santai.

Beberapa menit berlalu, kami hanya sibuk dengan aktivitas kami masing – masing, bahkan beberapa diatara kami benar – benar sedang mengoreki tanah.

Tiba – tiba aku mendengar anggota 5hc bersuara.

“Nama lu siape?”
Ucapnya.

Aku sontak melihat ke lawan bicara anggota 5hc itu.

Seorang pria sedang berdiri membelakangiku. Badannya besar, bahkan sangat besar, mungkin tingginya sekitar 190cm, sehingga anggota 5hc harus sedikit mengangkat wajah untuk berbicara dengannya.

“Daud”
Jawab pria berbadan besar itu.

“Duduk gih lu”
Balas anggota 5hc.

Kemudian daud memutarkan badan, ia berjalan ke arahku.
Aku melihat wajahnya, aku sama sekali tak mengenali orang ini.

Daud terus melangkah mendekatiku, kemudian duduk tepat di sebelahku.
Jujur, aku bahkan merasa sedikit terintimidasi harus duduk di sampingnya.

Tiba – tiba daud menggerakan pandangannya melihatku, reflek aku segera membuang pandanganku ke depan untuk menghindari kontak mata dengannya..

“Udah lengkap nih ya, bentar gua panggil roni dulu”
Ucap anggota 5hc kemudian memutarkan badan dan melangkah pergi menuju ke arah villa..

Tak lama kemudian, aku melihat seorang yang ku kenal keluar dari villa dan melangkah menuju ke arah kami.

Bang Roni.

“Kenalin, gua roni. Mungkin beberapa dari lu udah ada yang kenal sama gua”
Ucap roni membuka omongan saat ia sudah berada di depan kami.

“Gua anggota 5hc bagian kaderisasi dan tahun ini gua yang bertanggung jawab buat natar maba. Peraturan buat lu pada cuman ada dua.
Satu, jangan keluar dari area villa, kalo lu keluar area villa berarti lu gua anggep cabut.
Dua, nurut sama semua orang yang make nih blazer”
Lanjut bang roni sambil menunjuk ke arah lambang 5hc yang ada di saku blazer.

“Ohiye, jangan harap lu semua bisa jadi anggota 5hc, penerimaan tahun ini cuman 2 atau tiga orang. Jadi kalo lu ga niat – niat amat, mending lu cabut dari sekarang”
Lanjutnya lagi.

Hampir semua maba langsung menatap bang roni dengan wajah tak percaya, termasuk aku.

“Sekarang lu semua berdiri, taro semua barang lu di tas, trus tas lu kumpulin di depan”
Ucap roni.

Kami berdelapan langsung kompak berdiri dan melakukan apa yang roni perintahkan.

Aku meletakan hp dan dompetku ke dalam tas, kemudian meletakan tasku bertumpuk dengan tas maba lainnya.

Setelah beberapa saat, semua tas maba sudah bertumpuk pada satu tempat.

“Jongkok gih lu pada, trus jalan jongkok ikutin gua”
Ucap roni santai kemudian membalikan badan.

Tanpa di suruh, semua maba membuat satu barisan di belakang roni kemudian menurunkan badan.

Roni mulai berjalan ke arah villa, semua maba mulai berjalan jongkok mengikutinya.

Aku berada di belakang haris, sementara daud berada di belakangku.

Setelah beberapa saat kami berjalan.

“WOI ******, MAU AJE LU PADA DISURUH SURUH!”
Teriak anggota 5hc yang berada di balkon lantai dua, tertawa melihat kami.

Kami berdelapan tak peduli dengan teriakannya dan terus berjalan mengikuti roni, memasuki villa.

Di dalam villa yang sangat besar ini, roni membawa kami ke sebuah ruang aula besar yang terdapat tangga menuju lantai dua di tengahnya.

Roni berhenti lalu memutarkan badan ke arah kami.

“Diri, jejer, tunggu”
Ucap roni santai memberikan tiga perintah kepada kami, roni kemudian bergerak mundur mendekati tangga yang ada di belakangnya.

Semua maba kompak berdiri, lalu berbaris mebuat satu jejer panjang, dan menunggu roni yang kini sudah berjalan menaiki tangga.

Disaat kami menunggu bang roni..

“Nandes dateng kaga?”
Samar – samar ucapan para maba yang bisa ku dengar.

“Dateng kayaknya si”

“Ah anjing deg – degan gua”

Percakapan mereka dengan suara berbisik.

Tiba – tiba aku merasakan lengan kananku di sentuh oleh haris, aku melihat ke arahnya.

Haris hanya menggerakan bibirnya..

“Kalem”
Gerakan bibir haris tanpa mengeluarkan suara.

Tak berapa lama, 12 pria menggunakan blazer hitam melangkah menuruni tangga bersama dengan 7 orang wanita.

Bang roni terus melangkah mendekat, beberapa orang yang ada dibelakang bang roni menyebar mencari tepat duduk yang ada di sekitar ruangan, sementara beberapa yang lainnya memilih untuk duduk di atas anak tangga.

Jantungku berdetak lebih cepat saat melihat intan duduk di tangga bersama seorang wanita di sebelahnya.

“MULAI LAH RON!”
Teriak seorang dari sudut kanan ruangan saat aku masih menatap ke arah intan.

Bang roni kemudian memutarkan badan melihat ke arah tangga.

“Gimana bang?”
Tanya bang roni menatap seseorang yang duduk di tangga.

Ternyata bang roni berbicara pada seorang pria yang sedang duduk di belakang intan, pria itu hanya sedikit mengangkat jempolnya untuk menjawab.

Mendapat persetujuan dari pria tersebut, bang roni memutarkan badan kembali melihat ke arah kami.

“Buat pembukaan, push up dulu gih lu pada sampe gua bilang berhenti”
Ucap bang roni sambil tersenyum memberikan perintah kepada kami berdelapan.

______________

Perpeloncoan pun dimulai.

Lenganku sudah terasa panas setelah melakukan entah berapa banyak push up hingga bang roni menyuruh berhenti..

Setelah itu mereka menyuruh kami melepaskan baju hingga telanjang dada..

Bang roni tak lagi sendirian, kini ia dibantu oleh dua anggota 5hc lainnya.

Mereka bertiga menanyai nama kami satu persatu, saat kami menjawab mereka malah melayangkan pukulan tepat diwajah. Begitu juga denganku, yang hanya bisa mengeraskan dagu saat menerima tiga pukulan yang mendarat keras di wajahku secara bergantian.

Kini bukan hanya lenganku yang terasa panas, namun juga wajahku.

Setelah puas memukuli kami, mereka kembali menyuruh kami untuk berjalan jongkok ke tengah lapangan

Beberapa anggota 5hc ikut melangkah ke lapangan, sementara beberapa yang lainnya memilih untuk tetap di dalam villa.

Di lapangan, mereka kembali menyuruh kami melakukan push up.
Tanganku terasa bergetar saat akhirnya mereka menyuruh kami berhenti dan kembali berdiri.

“Nah, sekarang baru seru nih.. babak penyisihan”
Ucap bang roni yang sedang berdiri tepat di hadapan maba yang berada di paling kanan.

“Gua udah bilang kan kalo kita cuman nerima dua ato tiga orang. Sekarang gua minta lu ribut sama orang di sebelah lu”
Lanjut bang roni.

Jantungku berdebar saat mendengar ucapannya..

Menyadari bahwa aku harus berkelahi dengan daud yang ada di sebelah kiriku.

Aku menatap daud, daud juga menatapku.

“Buru!”
Teriak bang roni kencang.

Daud membelokan tubuhnya menghadapku, kakiku terasa lemas namun tetap ku paksakan untuk bergerak menghadap ke arahnya.

Kami berhadapan..

“Sorry ya”
Ucap daud santai.

Tiba – tiba daud menggerakan tangan kirinya coba meraih leherku, disaat yang bersamaan dia juga melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah wajahku.

Reflek, aku segera menepis tangan kirinya dengan tangan kananku, kemudian menggerakan kepalaku ke kiri untuk menghindari pukulannya.

Pukulan daud meleset, aku bergerak ke kiri dan mundur ke belakang untuk menjaga jarak dengannya.

“Kalem”
Jawabku singkat, yang sebenarnya aku ucapkan kepada diriku sendiri.

Aku mengangkat kedua tanganku hingga ke depan wajah, mengambil sikap bertarung.

Daud menatapku tajam, ia dengan cepat bergerak mendekat sambil kembali melayangkan pukulannya ke arah wajahku.

Aku lagi lagi menggeser kepalaku ke kiri, namun kali ini sambil mendorong kepalan tangan kananku maju ke arah wajahnya.

‘dagh’
Pukulanku mengenai wajahnya, sementara pukulannya lagi – lagi berhasil ku hindari.

“Boleh juga lu”
Ucap daud.

Walau pukulanku tepat mengenai wajahnya, namun daud tampak seperti tak merasakan sakit dan justru kembali mendekat ke arahku.

Kali ini ia tak memukul, daud menundukan tubuhnya dan mengarahakan pundaknya pada perutku.

Aku sempat mencoba menghindar dengan bergeser ke kiri. Namun gagal karena ternyata tangan daud telah berhasil mencengkram celana jeansku.

Pundak daud membentur dengan perutku. Sedetik kemudian aku merasakan perutku didorong ke belakang, sementara kakiku di tarik ke depan.

Aku kehilangan keseimbangan, pasrah menjatuhkan tubuhku ke belakang.

Setelah terjatuh. Daud dengan cepat bergerak dan meletakan dudukannya di atas perutku.

Jantungku berdebar keras saat menyadari posisi ini, menyadari bahwa daud memiliki kemampuan bela diri yang sama denganku.

“Kelar lu”
Ucap daud dengan tenang kemudian meletakan tangan kirinya di leherku.

“Anjing”
Umpatku yang mulai emosi.

Daud menarik tangan kanannya ke atas bersiap memukulku. Aku panik dan mencoba menahan tangannya dengan tangan kiriku..

Namun harus ku akui, tenagaku tak sebanding dengannya.

Tangannya terus terdorong ke depan, hingga akhirnya mendarat keras di wajah kiriku..

“Egh”
Keluhku saat merasakan wajahku terbentur keras dengan kepalan tangannya..

Daud kembali menarik tangan kanannya ke belakang, lalu dengan keras menyingkirkan tanganku yang masih memegangi tangannya.

Lagi – lagi ia melayangkan pukulannya ke wajahku. Aku reflek hanya bisa meletakan pergelangan tangan kiriku melindungi wajah.

‘bagh’
Wajahku terasa remuk saat berbenturan dengan tanganku sendiri akibat menahan pukulan daud.

“BANGSATT!!”
Teriakku kencang tak terima dengan kondisiku..

Daud kembali menarik tangannya, tepat sebelum daud melayangkan pukulannya, aku dengan cepat mencekik lehernya dengan kedua tanganku.

Daud nampak tak peduli dengan cekikanku, ia lagi – lagi mendaratkan pukulannya di wajahku..

Aku merasakan perih di area bibir kiriku, juga aliran darah yang mulai keluar dari pelipis kiriku..

“Woi seru nih!”
Suara pria berteriak entah dari mana.

“Eh itu berhentiin”
Suara wanita berteriak membalas.

Untuk ketiga kalinya, daud kembali mendaratkan pukulannya, hingga kini aku tak bisa lagi merasakan keberadaan wajah bagian kiriku.

“Woi, nyerah ga boy?”
Teriak seorang pria yang sepertinya berbicara denganku..

Aku tak peduli, justru semakin memperkuat cekikan tanganku..
Daud nampak mulai terganggu dengan cekikanku, ia mencoba melepaskan cekikanku dengan tangan kirinya.

Namun tangan kanannya kembali melayang ke arah wajahku.

Aku hanya bisa memalingkan wajahku ke kiri, membiarkan wajah bagian kananku menerima pukulannya.

‘bagh’

Pukulannya mendarat keras, bagian kanan wajahku sontak terasa sakit, walau belum sesakit wajah bagian kiriku.

“Eghh….nyerah lah anjing!”
Ucap daud yang sedikit tertahan akibat cekikanku.

Namun sedetik kemudian daud kembali menghatam wajahku…

Lagi dan lagi…

Entah berapa kali hingga mataku berkunang – kunang, tubuhku lemas, cekikanku terlepas.

Daud kembali menarik tangannya dan bersiap memukulku..

Mulutku dengan sendirinya berkata

“Udah”
Ucapku lemas.

Gerakan daud berhenti, kemudian ia menaikan tubuhnya..

“Sorry”
Ucap daud tenang sambil berdiri.

Aku hanya bisa menatap ke arah parkiran, bahkan pandangaku terasa menyempit akibat mataku yang membengkak…

Beberapa saat kemudian aku melihat sebuah cahaya, sekaligus dengan pandanganku yang makin menyempit..

Hingga aku kehilangan kesadaran.

____________

POV orang ketiga.

Area parkiran villa nampak bercahaya saat tiga buah mobil masuk melewati pagar.

Ketiga mobil tersebut berhenti, pintunya terbuka, keluarlah beberapa orang menggunakan jaket hoody dengan tulisan Tripunar di bagian belakangnya.

“Apa – apaan nih?”
Teriak seorang anggota 5hc saat melihat belasan anggota tripunar mulai melangkah ke area lapangan..

“Haha… Apa kabar dess?!”
Teriak seorang anggota tripunar.

“Raka”
Ucap nandes pelan saat ia sedang berada di balkon lantai dua, bersender pada pinggiran balkon.

“Ada apaan?”
Tanya nandes dengan tatapan tajam kepada raka.

Raka tak menjawab, ia terus menatap.

“Itu bang bocahnya”
Ucap seorang si sebelah raka.

Andre, sambil menunjuk ke arah reza yang sedang terbaring dilapangan.

Raka sebentar melihat ke arah reza, kemudian kembali menatap nandes.

“Itu bocah lu?”
Tanya raka

“Bukan, maba”
Jawab nandes cepat.

“Gua ada masalah sama tuh anak”
Ucap raka.

“Lah terus?”
Balas nandes.

Raka dan nandes terus bertatapan, namun tiba tiba raka tersenyum.

“Yaelah des, kita udah tua coy, masa masih mau ribut juga si”
Ucap raka sambil tersenyum sinis.

Nandes terdiam, kemudian pelan membangkitkan sendarannya dari pinggir balkon..

“Serah dah”
Jawab nandes malas.

“Nah gitu dong, kan enak gausah ribut – ribut”
Balas raka.

Mendengar ucapan nandes, andre dan beberapa anak tripunar lainnya melangkah mendekati tubuh reza.

Tepat ketika anak tripunar hendak menangkat tubuh reza.

“Jangan!”
Teriak seorang wanita dari area pinggir lapangan.

Mendengar teriakan tersebut, nandes sontak melihat ke sumber suara.

“Dia temenku bang!”
Teriak intan kepada nandes

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler