. Owalah Part 5 | Kisah Malam

Owalah Part 5

0
289

Owalah Part 5

Mereka berempat terus berjalan mendekat, hingga pria pertama melewati pagar dan dengan santainya mencoba meraih kerah bajuku.

“Masih maba, gausah tengil”
Ucapnya sambil menjulurkan tangan.

Tanpa aba – aba, aku menggerakan tangan kananku untuk menepisnya, lalu dengan keras mendorong tangan kiriku ke depan, ke arah lehernya.

Tepat di area jakun.

“Oghh”
Sungutnya saat kepalan tanganku beradu dengan biji jakunnya.

Pria pertama langsung mundur ke belakang lalu menjatuhkan tubuhnya ke aspal sambil memegangi leher, wajahnya terlihat seperti sedang menahan muntah.

“Buset”
Ucap pria kedua melihat temannya meringkuk kesakitan.

Pria kedua melewati pagar dan mengambil satu langkah ke kiri, memberikan jalan untuk yang lain.

Sesaat kemudian mereka bertiga sudah berbaris di depan pagar.

Pria kedua mulai bergerak mendekat, kemudian menarik tangan kanan ke belakang siap untuk memukul.

Dengan cepat, aku juga menarik tangan kanan ke belakang, sambil menggerakan wajahku sedikit ke samping.

Kami beradu pukulan, namun pukulannya meleset akibat gerakan wajahku, sementara pukulanku tepat mengenai rahangnya.

Belum sempat melakukan apa – apa, sedetik kemudian aku melihat pria ke tiga sudah mendekat dan melayangkan pukulan ke arah wajahku.

Reflek, aku menaikan tangan kiri untuk melindungi wajah.

Pukulannya tertahan dengan tangan kiriku, namun masih menyebabkan gaya dorong sehingga wajahku beradu dengan tanganku sendiri.

Aku mencoba melangkah ke belakang, sayangnya langkahku tertahan saat merasakan pantatku terbentur dengan jok motor.

Aku menyadari kesalahanku saat merasakan benturan keras di area perut.

Ternyata pria ke empat juga ikut maju dan sudah melayangkan tendangan lurus ke arah perutku.

Aku terjatuh ke belakang, motorku ikut terjatuh..

Perutku terasa sesak akibat tendangan pria ke empat, di tambah dengan benturan punggungku pada body motor.

“Kelar lu anjing!”
Ucap salah satu dari mereka, saat aku terbaring di atas motor.

Walau perutku masih terasa sesak. Aku dengan segera mendorong tubuhku ke belakang, bahkan punggungku terasa nyeri karena bergesekan dengan body motor.

Sekarang posisiku sudah tak lagi berbaring diatas motor, kini aku berada hampir di tengah jalan, dengan posisi setengah jongkok.

Aku kembali melihat ke arah pagar.

Ternyata tinggal pria ke tiga dan ke empat yang masih berdiri, sementara pria kedua sudah berbaring di atas aspal memegangi rahangnya.

“Bangsat”
Ucapku pelan, emosi akibat merasakan sesak di perut.

Pria ke tiga justru melangkah ke depan melompati motor.

Aku masih berada dalam posisi jongkok.

Aku melihat kesempatan.

Dengan segera aku menghentakan kedua kakiku dengan tanah, membuat tubuhku melayang ke depan. Aku mengarahkan pundak kiriku ke arah perutnya.

“Ogh”
Sungutnya saat pundakku mendarat sempurna membentur perutnya.

Tubuhnya terdorong dan jatuh tepat di atas motor. Pundak kiriku langsung menindih perutnya, walau tubuh bagian kananku terasa sakit karena juga harus ikut terbentur dengan body motor.

Namun tiba – tiba..

“Aaggghhhhh”
Teriaknya keras..

Entah mendapatkan tenaga dari mana, ia langsung mendorong tubuhku hingga sedikit terpental ke belakang.

Aku terpental dan jatuh dengan posisi duduk.

Pria ketiga langsung menggeser tubuhnya turun ke aspal

“ANJINGGG!!!!”
Teriaknya kencang sambil memiringkan badan dan memegangi punggung.

Ternyata punggungnya beradu keras dengan stang motorku.

Aku melihat ke arah pria terakhir, wajahnya terlihat segan menatapku, namun ia tetap bergerak maju.

Aku mengangkat tubuhku berdiri, pria terakhir sudah berada di depanku.

“Ngentot lu!”
Ucapku kesal sambil memajukan tangan kiriku meraih kerahnya.

Ia mencoba melepaskan genggamanku dengan menggunakan kedua tangannya.

Wajahnya terlihat panik.

Aku segera menarik tangan kananku ke belakang lalu mengayunkannya sekuat tenaga.

‘bagh’
Suara benturan saat tanganku beradu keras dengan wajahnya.

Tubuhnya terdorong ke belakang, namun aku tetap menggenggam kerah bajunya dengan kuat, sehingga ia tetap berada di hadapanku..

“Aghh….ampun bangg”
Ucapnya..

Aku tak peduli, justru kembali menarik tanganku.

Lagi – lagi pukulanku mendarat keras dengan wajahnya..

“AMPUN!”
Teriaknya setelah menerima pukulan kedua.

Wajahnya tampak memerah, aku bisa melihat bercak darah mulai keluar dari area hidung dan bibirnya.

“SALAMIN NIH KE SI ANJING!”
Teriakku sambil kembali menarik tangan kananku ke belakang..

Kali ini aku mendorong tanganku dengan sangat kuat, juga melepaskan genggamanku pada kerahnya

‘buggh’
Suara benturan antara tanganku dengan wajahnya.

Tubuhnya terpental cukup jauh, bahkan mendarat di pinggir selokan.

Setelah mendarat, tubuhnya masih terseret hingga akhirnya ia jatuh ke dalam selokan.

“Haha, tolol!”
Ucapku menghina saat melihat setengah badannya masuk ke dalam selokan.

Aku terdiam sejenak melihat mereka ber empat.

Pria pertama sedang meringkuk seperti huruf C sambil memegangi leher.

Pria kedua, terbaring lemas di depan pagar.

Pria ketiga, terbaring ke samping terus mengeluh kesakitan memegangi punggung

Pria keempat, sedang mengeluarkan tubuhnya dari dalam selokan dengan merangkak sehingga tetesan darah terlihat mengalir deras dari wajahnya.

Aku terdiam sejenak mengambil nafas lalu mulai berjalan ke arah motorku.

“KAMU ITU BIKIN MASALAH TERUS YA!!”
Teriakan seorang wanita di saat aku baru saja selesai mendirikan motor.

Aku melihat ke sumber suara, ternyata ibu pemilik kost sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

“Mereka yang mulai duluan bu”
Ucapku membela diri.

“TETEP AJA KAMU YANG BERANTEM!”
Teriaknya lagi.

Ibu kost kemudian melangkah mendekati pagar.

“Dua hari yang lalu kamar kamu juga kan yang di jebol sama mereka?”
Tanya ibu kost dengan suara mulai melemah.

Aku tak menjawab, malah melihat ke arah spion dan membenarkan posisinya yang miring akibat perkelahian tadi.

“Dari pada bawa masalah terus, mendingan kamu gausah ngekost disini lagi deh mas”
Lanjut ibu kost.

Mendengar ucapan tersebut, aku langsung melihat ke arahnya..

Perlahan aku mulai berjalan mengitari motor, mendekat ke arah pagar.

“Terserah”
Jawabku pelan saat berada percis di samping ibu kost yang sedang berdiri di depan pagar.

Aku terus melangkah dan mulai menaiki tangga.

Saat tiba di lantai dua, aku melihat pintu kamar kostku sudah terbuka.

“Anjing”
Ucapku kesal mengetahui apa sudah terjadi dengan kamarku.

Kamarku sungguh berantakan, bahkan isi lemari pakaianku sudah berhamburan di lantai. Namun satu hal yang paling ku sesali adalah saat melihat ke atas kasur.

Laptop kak tiara, hancur.

Aku menekan tombol power, namun laptop kak tiara sama sekali tak memberikan respon.

Pasrah, aku menutup laptop kak tiara lalu memasukannya ke dalam tas, begitu juga dengan seluruh pakaianku yang berhamburan di lantai.

Setelah selesai, aku melangkah keluar kamar, memasukan kunci kamarku pada selot gagang pintu, lalu berjalan menuruni tangga.

Di lantai satu. Terrnyata ibu kost sudah tidak ada, aku melangkah keluar pagar, sempat ku lihat pria ketiga yang tadi menjadi lawanku kini sedang duduk dan menunduk sambil terus memegangi punggung.

Aku berjalan ke arahnya, meraih rambutnya dan ku tarik ke belakang.

“Bilangin sama si andre, kalo berani temuin gua sendirian”
Ucapku tepat di depan wajahnya.

“Ah anjing!”
Ucap pria tersebut sambil mendorong lututku untuk menjauh darinya.

Aku melangkah ke belakang, namun pria itu kembali menunduk.

“Sampah”
Ucapku pelan kemudian melangkah dan menaiki motor.

__________

Sekitar jam setengah tujuh malam.

“Mas, teh manis anget satu”
Ucapku pada penjaga warung.

Aku melangkah ke kanan dan duduk di atas kursi kayu, kemudian mengeluarkan hp dari kantong celana.

Aku menelepon Haris.

“Oit, ada apaan ja?”
Ucap haris membuka pembicaraan.

“Anak tripunar ke kostan gua lagi ris”
Jawabku.

“Hah? Serius lu? Lu dimane sekarang?”
Tanya haris dengan nada meninggi.

“Di warung”
Jawabku singkat.

“Yaudeh sini lu ke ukm”
Suruh haris.

“Rame, yang ada malah banyak yang denger”
Balasku tak mengindahi suruhannya.

“Ohiyeiye… Yaudah tunggu dah”
Ucap haris kemudian mematikan panggilan.

Aku menatap layar hpku, ternyata ada satu pesan dari kak tiara.

“Ejaaaaa”
Isi pesan dari kak tiara yang ku terima satu jam yang lalu, mungkin saat aku sedang berkelahi.

Aku merasa malas untuk membalas pesan dari kak tiara, menyadari bahwa masalahku sekarang bisa dibilang berawal dari kedekatanku dengannya.

“Ya”
Jawabku singkat.

Setelah menunggu beberapa saat, aku melihat seseorang yang ku kenal sedang berjalan ke arahku.

Haris.

Namun ia tak sendirian, haris berjalan bersama seorang anggota 5hc yang kemarin bertemu denganku di kamar mandi..

“Masalah mulu hidup lu ce es”
Ejek haris saat sudah berada dekat denganku.

Haris terus melangkah kemudian duduk di sampingku, sedangkan anggota 5hc memilih untuk berhenti tepat di hadapanku.

“Bisa bantu ga lu bang?”
Lanjut haris kepada anggota 5hc yang ada di hadapanku.

“Yeh, lu siape.. gua saranin lu pindah kostan aja dulu”
Jawabnya.

Aku melihat ke arahnya.

“Ini emang gua mau pindah bang”
Ketusku.

Sejenak kami bertatapan, entah mengapa aku merasa bahwa dia mengerti masalahku ini.

“Trus mau pindah kemana lu ja?”
Tanya haris di sebelahku.

Aku tak menjawab, malah terus menatap anggota 5c.

“Kalo emang semua terserah gua mah gua bolehin lu tinggal di kontrakan”
Ucap anggota 5hc.

Kemudian ia memalingkan wajahnya dan melihat ke arah haris.

“Tapi bisa kelar gua sama nandes kalo ngajak orang seenak jidat”
Lanjutnya.

Aku menurunkan pandanganku saat merasakan hp di tanganku bergetar. Pesan balasan dari kak tiara, aku membacanya.

“Pendek banget balesnya, lagi dimana sih?”
Isi pesan dari kak tiara.

Aku belum sempat membalas pesan kak tiara saat tiba – tiba anggota 5hc kembali berbicara.

“Mending lu tahan – tahan aja dah sampe hari sabtu, cabut dulu gua ada urusan”
Ucapnya.

Ia kemudian memutarkan badan dan mulai berjalan meninggalkan aku dan haris..

Setelah melihatnya pergi, aku melihat ke arah haris yang ternyata sedang menatap ke layar hpku.

“Tiara ye?”
Tanya haris.

Reflek, aku segera menjauhkan hpku dari pandangannya..

“Kepo anjing.. senior lu namanya siapa dah?”
Jawabku ketus sambil balik bertanya.

“Haha… Roni, setahun di atas kita”
Jawab haris.

“Oh”
Balasku singkat.

“Eh lu gimane sama tiara? Udah lu apain aja?”
Tanya haris kini justru mendekatakan posisi duduknya denganku.

“Udah gua ewe”
Jawabku singkat..

“Buset, serius njing udah ngapain aja lu”
Tanyanya lagi, kini justru merangkul leherku.

Merasakan rangkulannya, aku langsung berdiri sehingga tangannya terlepas dari leherku.

“Bacot”
Jawabku dengan harapan mematikan rasa penasarannya.

“Haha gitu aje, oh iye ntar malem lu tidur dimana? Nginep rumah gua aja kalo mau”
Balas haris.

Aku menatap haris yang masih terduduk, mempertimbangkan tawarannya.

“Gampang itu mah ris”
Jawabku.

Sesaat kemudian haris bangkit dari kursi, berdiri di sebelahku.

“Yaudah ke ukm ayo”
Ajak haris..

Haris mulai melangkah, posisinya kini ada di depanku.

“Duluan dah, ngeteh dulu gua”
Jawabku saat haris sudah melewatiku.

Haris menghentikan langkahnya kemudian melihat ke arahku.

“Yaudeh, kabarin aja kalo mau tidur di tempat gua”
Ucap haris.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan sedikit senyum seakan mengucapakan terimakasih.

Haris kembali melihat ke depan, lalu lanjut melangkah meninggalkanku.

Sejenak aku melihatnya pergi, kemudian kembali menurunkan tubuhku terduduk di atas kursi kayu.

Aku menyalakan layar hp, kembali membaca isi pesan dari kak tiara..

“Kampus”
Jawabku singkat setelah selesai membaca isi pesannya.

Tak berapa, hpku kembali bergetar, namun kali ini bukan pesan, melainkan telepon masuk dari kak tiara.

“Halo”
Ucapku setelah menjawab telepon dari kak tiara..

“Kamu dimana sih ja?”
Tanya kak tiara.

“Kampus”
Jawabku singkat.

“Ih kamu kenapa sih? Lagi ada masalah?”
Tanya kak tiara..

Aku diam, tak menjawab pertanyaannya.

“Kakak ke kampus sekarang”
Lanjut kak tiara lagi.

Aku masih diam tak membalas, setelah beberapa saat aku justru menjauhkan hp dari telingaku dan mematikan telepon dari kak tiara..

Aku hanya menatap ke arah jalanan untuk beberapa saat, mempertimbangkan apa yang harus aku lakukan.

Tak lagi berhubungan dengan kak tiara..

Atau terus berhubungan dan memperkeruh masalah dengan andre, yang pasti akan semakin membawaku kembali pada masa lalu.

Entah berapa lama aku termenung, tiba – tiba hpku bergetar.

“Kamu dimana? Kakak di parkiran”
Isi pesan dari kak tiara.

“Warung depan”
Balasku.

Beberapa saat kemudian, munculah seorang wanita cantik sedang menggunakan kaos putih dan celana jeans panjang sebagai bawahannya..

Kak tiara.

“Kamu kenapa sih ja?”
Tanya kak tiara.

Kak tiara terus melangkah kemudian duduk di sampingku.

“Andre kak”
Jawabku singkat.

“Andre kenapa?”
Tanya kak tiara lagi, kini sambil meletakan tangannya di paha kiriku.

Aku terdiam sejenak, mengambil nafas untuk menjawab pertanyaan kak tiara.

Aku menceritakan semuanya, mulai dari perkelahian hingga pengusiranku dari kostan..

“Astaga.. nanti kakak ngomong ke andre deh”
Ucap kak tiara setelah mendengar ceritaku..

Aku melihat ke arah kak tiara, sepertinya dia benar – benar tak mengerti cara menghadapi masalah seperti ini.

“Gausah kak”
Ucapku.

Mendengar ucapanku, kak tiara langsung melihat ke arahku.

Kami saling bertatapan.

“Trus kamu ngekost dimana?”
Tanya kak tiara sambil menatap sayu.

“Gatau”
Jawabku malas..

Kami berdua terdiam sejenak, tiba – tiba aku merasakan tangan kak tiara seperti meremas pahaku.

“Tinggal di rumah kakak dulu, mau?”
Tanya kak tiara.

Kak tiara tersenyum, aku paham betul maksud dari senyuman itu.

 

Bersambung

Daftar part

Cerita Terpopuler