. Owalah Part 4 | Kisah Malam

Owalah Part 4

0
300

Owalah Part 4

Setibanya di depan rumah kak tiara, sekitar jam delapan malam.

Aku mengeluarkan hp untuk segera menghubunginya.

“Kak, aku di depan”
Isi pesan yang ku kirim pada kak tiara.

Setelah sejenak menunggu, akhirnya pintu rumah pun terbuka.

Munculah seorang wanita cantik berkulit putih menggunakan kaos minim bertali dan celana pendek ketat di atas dengkul sebagai bawahannya.

“Haii jaa”
Ucap kak tiara tersenyum sambil berjalan ke arahku.

“Iya kak”
Ucapku singkat sambil sedikit menelan ludah akibat melihat mulusnya kulit kak tiara.

Kak tiara sudah berada di depanku. Ia meraih gembok dan membukanya.

“Kamu laper ga ja?”
Tanya kak tiara.

“Emm…laper sih kak”
Jawabku sedikit merasa canggung karena pertama kalinya mendengar kak tiara memanggilku dengan rujukan ‘kamu’

Tiba – tiba kak tiara malah melangkah maju ke depan mendekatiku, bahkan tubuh kami hampir saling menempel, namun aku reflek mengambil satu langkah ke kanan menghindari tubuhnya.

“Makan dulu yuk”
Ucap kak tiara sambil terus melangkah maju melewatiku, hingga kini ia berada di dekat motorku.

Aku memutarkan tubuh kembali menghadap ke arah kak tiara.

“Maksudnya?”
Tanyaku bingung.

Kak tiara juga memutarkan tubuhnya, kini kami saling berhadapan.

“Yakita beli makan diluar lah ja, dirumah kakak ga ada makanan”
Jawab kak tiara.

“Oh…iyaiya kak”
Jawab ku ragu.

Ragu karena melihat kak tiara mengajak beli makanan diluar dengan pakaian yang ia gunakan sekarang.

Aku segera melangkah maju mendekati kak tiara.

“Makan dimana kak?”
Tanyaku saat sudah kembali berada di hadapan kak tiara.

Aku sedikit mengangkat kaki untuk segera menaiki motor.

“Di depan komplek ada mekdi kok, makan disitu aja”
Jawab kak tiara.

Aku melihat ke belakang, menurunkan tubuh dan meraih footstep lalu menariknya terbuka.

Kak tiara meletakan tangannya di kedua pundakku untuk menjadikannya pegangan sembari menginjak footstep kemudian naik ke atas motor.

“Yuk”
Ucap kak tiara setelah dia berhasil mendaratkan pantatnya di atas jok motor.

Tanpa menjawab ucapan kak tiara. Aku segera menaikan standard, menyalakan mesin dan mulai menjalankan motor.

Kami berdua meluncur ke arah restoran cepat saji yang berada tak jauh dari pintu masuk kompek rumah kak tiara.

Sesampainya disana, kak tiara dengan santainya melangkah masuk ke dalam restaurant.

Aku dapat melihat banyak mata para pria yang berada di restaurant langsung melirik ke arah kak tiara, bahkan seorang bapak penjaga parkiran.

Namun kak tiara nampak tak acuh dengan tatapan mereka, kak tiara dengan santainya terus melangkah masuk hingga kami berdua tiba di konter pelayanan.

Di sisi lain, entah mengapa aku merasa bangga bisa berjalan di samping wanita yang sangat menarik perhatian ini.

“Kamu mau makan apa ja?”
Tanya kak tiara.

“Terserah kak”
Jawabku singkat karena masih memperhatikan mata – mata yang terus mencuri pandang ke arah kak tiara.

Kak tiara memesan makanan, sementara aku hanya berdiri terdiam di sampingnya.

Beberapa saat kemudian, makanan kami telah tersaji. Aku dan kak tiara lalu melangkah menuju meja kosong yang berada di pojok ruangan..

“Kamu langsung dari kampus tadi ja?”
Tanya kak tiara ketika kami sudah duduk berhadapan menengahi meja.

“Hmmm…..kamu banget kak?”
Aku malah balik bertanya, sedikit menggoda kak tiara karena mulai memanggilku dengan rujukan ‘kamu’

Kak tiara sontak menatapku…

“Ish biarin sih..”
Ucap kak tiara dengan pandangan sewot yang jelas dibuat – buat.

“Haha…engga kak, ke kosan dulu ngambil helm”
Jawabku santai sambil tersenyum.

Tatapan kak tiara berubah, kini ia ikut tersenyum kepadaku.

“Yaudah makan dulu yuk”
Saut kak tiara sambil menurunkan pandangannya ke arah makanan.

Aku hanya mengangguk, lalu kami berdua mulai menikmati makanan kami masing – masing.

Tak butuh waktu lama hingga akhirnya makanan kami sudah berpindah ke dalam perut.

Aku sejenak melihat ke arah kak tiara yang sedang menghisap minumannya menggunakan sedotan.

“Kak.. boleh nanya?”
Ucapku kembali membuka obrolan.

Kak tiara tak menjawab, ia hanya menganggukan kepala namun bibirnya masih sibuk menghisap cairan dari gelas minuman.

“Kakak ga takut kalo andre tau?”
Tanyaku.

Kak tiara kemudian melepaskan sedotan dari bibirnya, mengambil nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

“Gimana yah ja… Kakak justru berharap dia tau hubungan kita trus dia mutusin kakak”
Ucap kak tiara.

Entah mengapa aku merasakan sesuatu di dadaku, saat mendengar kak tiara mengucapkan kata ‘hubungan kita’

“Maksudnya kak?”
Tanyaku.

“Hm… sebenernya kakak tau kalo dia sering main sama tripunar ladies yang lain”

“Trus kenapa ga kakak putusin?”

Suasana obrolan kami kini berubah menjadi sangat serius, aku tak lagi memikirkan mata para pria yang terus mencuri pandang kepada kak tiara.

“Ih buat apa kakak putusin, mending kakak bales main juga”
Jawab kak tiara sambil tersenyum.

Entah mengapa aku sama sekali tak senang melihat senyuman kak tiara.

“Oh main”
Ketusku tak setuju dengan ucapan kak tiara.

Ekpresi wajah kak tiara berubah, tatapannya membesar..

“Ihh…engga….engga main doang kok ja…..ishh…ga gitu maksudnya”
Ucap kak tiara panik..

Kak tiara bahkan meraih dan menggenggam tanganku yang masih ku letakan di atas meja.

“Haha…iya kak, aku ngerti kok.. tapi maksud ku kalo kakak cuman mau main ya gapapa, biar aku niatinnya juga cuman sekedar main”
Entah mengapa aku berani melontarkan ucapan tersebut.

“Ishhh ga gituu ejaaa!”
Balas kak tiara.

Aku bisa merasakan kak tiara memperkuat genggaman tangannya.

“Jangan gitu kek”
Sambung kak tiara.

Kak tiara terus menatapku, aku bisa melihat jelas matanya mulai sedikit berair.

“Eh.. maaf kak”
Ucapku reflek menyadari akibat perbuatanku.

Kak tiara hanya terdiam sambil terus menatapku..

Aku memberanikan diri untuk menjulurkan tangan kiriku, meraih tangan kak tiara yang masih menggenggam erat tanganku.

“Maaf ya kak, aku cuman bercanda kok”
Ucapku, walau sebenarnya perkataanku tadi adalah sungguh – sungguh, namun aku tidak mengira bahwa kak tiara akan menangis.

Aku meletakan ibu jariku diatas tempurung tangan kak tiara, perlahan mengelusnya.

Kak tiara tiba – tiba malah menarik tangannya terlepas dari genggamanku, sambil terus menatapku.

“Ngeselin ih”
Ucap kak tiara.

Namun sedetik kemudian bibir pada wajah sayunya bergerak melengkung tersenyum.

Kak tiara beberapa kali mengedipkan mata, berusaha mengeringkan matanya yang tadi sempat berair.

“Yaudah yuk pulang”
Ucap kak tiara sambil bangkit berdiri.

Sebentar aku memandang wajahnya, tersenyum dan mengangguk lalu bangkit berdiri sebelum akhirnya kami berdua bergegas kembali menuju rumah kak tiara.

_______

Di dalam kamar kak tiara.

Kak tiara duduk di tengah kasur dengan posisi kaki memanjang selonjoran. Sementara aku duduk di pinggir kasur membelakanginnya, sehingga telapak kaki kak tiara tepat berada di samping kiriku.

“Ja, sekarang kakak yang mau nanya ke kamu”
Ucap kak tiara.

Aku sedikit memutar leherku untuk dapat melihatnya.

“Menurut kamu kakak orangnya gimana sih?”
Tanya kak tiara.

“Yang pasti baik kak”
Jawabku cepat.

“Truss?”

“Hmm selain cantik kan?”
Tanyaku memastikan bahwa kami memikirkan hal yang sama.

Tapi kak tiara malah tersenyum saat mendengar ucapanku.

“Ih emang cantik?”
Ucapnya.

“Ehmm…iyalah”
Jawabku singkat.

Aku mengalihkan pandangaku ke depan, canggung dengan tatapan dan senyumannya.

“Hmmmm…..tapi ja”
Ucap kak tiara

Aku hanya terdiam menunggu kak tiara melanjutkan perkataannya.

“Foto kakak ga kamu sebar kan?”
Sambungnya.

Jantungku sedikit berbedebar, tergambar di bayanganku foto – foto kak tiara yang semalam ku temukan..

Aku memberanikan diri untuk kembali melirik ke arah kak tiara, kak tiara terus menatapku dengan tersenyum nakal.

Sepertinya ini adalah batas kesabaranku…

Tanpa berfikir, aku membalikan badan lalu mendorong pijakanku sehingga tubuhku melaju ke depan.

Kak tiara kini berada tepat di hadapanku.

Entah sejak kapan, kak tiara rupanya malah mengaitkan kedua tangannya ke leher bagian belakangku, menariknya lembut sehingga wajah kami saling bertemu.

Kak Tiara

“Emhh”
Suara mulut kami saat bertemu.

Tak mau kalah, aku ikut mendorong tubuhku ke depan, kak tiara menjatuhkan tubuhnya ke kasur sehingga payudaranya yang kenyal menempel dengan dadaku.

Aku mendindihnya, hangat dan empuk badannya jelas terasa di tubuh bagian depanku…

Aku mengangkat badannku sedikit sehingga payudaranya tak lagi menempel dengan dadaku, dengan cepat aku menggerakan tangan kananku masuk diantara dada kami berdua.

“Emhh”
Desah kak tiara tepat di saat aku menggenggam payudaranya..

Aku meremas daging kenyalnya itu dengan halus..

“Ehhhmm”
Desah kak tiara lagi..

Beberapa saat kami terus berciuman, sementara aku terus menikmati sensasi memainkan payudaranya..

Namun tiba – tiba kak tiara mendorong wajahku menjauh..

Aku merasakan kaki kiri kak tiara bergerak ke atas dan mendorongku ke samping..

Mengerti dengan maksudnya, aku menggeser tubuhku dan menjatuhkannya di atas kasur dan membalikan arah menghadap ke atas..

Kak tiara meletakan dengkul kirinya di samping paha kananku, lalu dengan cepat mengangkat tubuhnya sehingga kini ia duduk tepat di atas penisku..

Kak tiara menatapku sayu, ia menjulurkan kedua tangannya, meraih tanganku, lalu ditarik dan di arahkan menuju ke payudaranya..

“Mainin lagi jaa”
Ucap kak tiara sambil tersenyum dan menggigit bibirnya sendiri..

Aku menggenggam dua bongkahan payudaranya, meremasnya halus.

“Ah..”
Desah kak tiara..

Kak tiara mulai menekan pinggulnya sehingga penisku terasa beradu dengan dudukannya..

“Ahh…kak”
Ucapku merasakan penisku sesak akibat tekanan pinggulnya..

Sedetik kemudian kak tiara memundurkan posisi duduknya menggunakan kedua dengkulnya..

“Keluarin ja”
Ucap kak tiara sambil melihat ke arah selangkanganku..

Tanpa menunggu, aku segera meraih cantelan celana jeansku, membukanya dan menariknya turun sekaligus bersama boxer dan celana dalamku..

“Jaa…gede bangett”
Ucap kak tiara dengan mata terkunci pada penisku..

Aku sama sekali tak menghiraukannya..

Aku mengangkat pinggulku ke atas sambil menarik celanaku kebawah sehingga ujung celanaku kini sudah berada di atas dengkul..

Aku membangkitkan tubuhku menjadi posisi setengah terduduk untuk dapat melepaskan celanaku seluruhnya.

Namun kak tiara malah bergerak mendekat..

“Gausahh”
Ucap kak tiara..

Kak tiara kembali mengecup bibirku, ia mendorong tubuhku hingga lagi lagi terjatuh di atas kasur..

“Emmmhh”
Suara desahan kami berdua menikmati tubuh kami yang saling bersentuhkan..

Cukup lama kami saling bertukar ludah, hingga tiba – tiba aku merasakan kak tiara sedikit mengangkat pinggulnya..

Aku merasakan tangan kak tiara menggenggam penisku, ia mengarahkannya ke satu bagian, dan tiba – tiba ujung penisku terasa sesak..

“Eemhh”
Desahku..

Aku menggerakan tanganku meraba pinggulnya, entah sejak kapan rupanya kak tiara sudah menurunkan celananya..

Kak tiara melepaskan ciumannya…

Sesaat kemudian aku merasakan terhimpit hangat bergesekan dengan dinding vaginannya…

“Ahhhh…..gedee banget”

“Ahh…..”

Desah kami berdua menikmati sensasi saat – saat penisku terdorong masuk.

“Emhh….dorong”
Ucap kak tiara dengan mata tertutup..

Tanpa aba – aba, aku menggerkan pinggulku maju ke depan..

“Aaaahhhhh jaa”
Desah kak tiara keras saat penisku hampir sepenuhnya masuk.

Tiba – tiba kak tiara malah menurunkan pinggulnya kebawah dengan keras..

“Emhhhh”
Desahku merasakan penisku terhimpit didalam vagina kak tiara..

“Aaaahhhh”
Desah kak tiara keras..

Beberapa saat kami terdiam, menikmati alat kelamin kami yang sudah terhubung..

Kak tiara menurunkan tubuhnya, meletakan wajahnya di samping wajahku..

“Siap yah”
Ucapnya lirih.

Sedetik kemudian, kak tiara sedikit mengangkat pinggulnya, lalu kembali mendorongnya kebawah…

“Ahh….aaahh”

“Mhhhh kak”

Desah kami menikmati hentakan saat alat kelamin kami kembali bergersekan..

“Enakkk kan jaa?? Ah”
Tanya kak tiara berbisik di sampingku..

Kak tiara kembali melakukan gerakannya lagi..

“Bangett”
Jawabku.

“Aaahh….ah”
Desah kak tiara saat ia mulai menentukan tempo gerakan pinggulnya..

Kak tiara mengangkat wajahnya sedikit dan kembali menciumnku..

“Mmhhhhhh”

Hanya suara desahan itu yang dapat ku dengar setiap kak tiara menggerakan pinggulnya..

Aku menggerakan kedua tanganku dan meraih sisi kanan dan kiri pingganya.

Mengikuti nafsu, aku ikut membantu gerakan kak tiara dengan menangkat tubuhnya ke atas lalu kembali mendorongnya kebawah..

“Emmhhh….”
Desahan kak tiara terus berlanjut selama persetubuhan ini berlangsung..

Entah berapa lama kami melakukan ini, tiba tiba kak tiara melepaskan bibirku.. ia mengangkat tubuhnya terduduk..

“Aaahh….kakak mau sampe”
Ucap kak tiara.

Kak tiara memejamkan matanya, kini aku ikut menggerakan pinggulku seirama dengannya..

“Ceepetttin aaah”
Ucapnya.

Aku sontak mempercepat gerakanku, hingga tiba – tiba aku merasakan diding vaginnya menjempit penisku dan bergetarr.

“Aaaaahhh sampeeeeee”
Desah kak tiara keras.

Aku merasakan penisku terasa basah, bahkan sangat basah hingga beberapa tetes kewanitaannya sedikit membasahi daerah selangkanganku..

Tubuh kak tiara bergetar, kak tiara mendesah panjang sambil menutup matanya..

Setelah beberapa saat, kak tiara menjatuhkan tubuhnya kembali menindihku .

“Emmhhm…lagiih”
Ucap kak tiara berbisik..

Mendengar bisikannya, aku segera menggerakan pinggulku kembali, memopanya secara cepat.

“Ahh…ejaaa….enakkk”
Desah kak tiara di samping telingaku..

“Emmhhh”
Desahku menikmati sensasi di penisku..

“Emhhhh…gedeee banget….aaahh jaa”
Ucap kak tiara terpekik karena aku semakin mempercepat gerakanku..

Setelah beberapa saat menikmati jepitan vaginanya, di tambah lagi dengan desahannya di telingaku..

Aku merasakan bahwa aku akan segera sampai..

“Kakk…akuu mau…”

“Didaleemm ajaaa….aahh terusss…kakak jugaaa sampeee”
Kak tiara memotong ucapanku .

Aku semakin mempercepat doronganku hingga tubuh bagian bawah kak tiara menghentak keras dengan tubuhku…

“Aaaahhh sampeeeee”

“Emhhhh”

Desah kami berdua kencang menikmati momen – momen dimana kami berhasil mendapatkan orgasme kami..

Kami berdua menikmati getaran pada tubuh kami masing – masing.

Beberapa saat kami terdiam, hanya hembusan nafas kami berdua yang dapat ku dengar..

Kak tiara kemudian menjatuhkan tubuhnya ke samping, membuat penisku terlepas dari vaginanya..

Kak tiara meraih pipiku, menarik wajahku ke samping menghadapnya.

“Ja”
Ucap kak tiara lirih sambil mengelus pipiku..

Aku tak menjawab, hanya menatap wajah sayunya..

“Kamu sempurna banget sih”
Ucap kak tiara.

Belum sempat berkata apa – apa, kak tiara memajukan wajahnya dan kembali mencium bibirku.

Kami terus berciuman, kak tiara justru kembali meraih penisku, lalu tiba – tiba ia melepaskan ciumannya.

“Ihh..masih kuat nih”
Ucap kak tiara sambil memijit penisku..

“Emhh…ntar aja ka”
Ucapku saat merasakan nikmat pijitannyaa.

“Ntar lagi yaa”
Sambung kak tiara tersenyum genit .

Aku melihat ke arah jam yang berada di belakang badan kak tiara.

“Aku besok kuliah pagi”
Balasku.

Kak tiara memutarkan lehernya ikut melihat ke arah jam..

“Ihh masih jam sepuluh kok”
Ucap kak tiara..

Kak tiara kembali menatapku.

“Sebentar aja”
Pintanya memelas..

Aku menatap wajah kak tiara sebentar, lalu tersenyum…

“Besok aja”
Ucapku tenang.

“Yaudah deh”
Balasnya

Wajah kak tiara berubah menjadi cemberut, walau aku tau ia hanya berpura – pura.

Aku mendekatkan wajahku lalu mengecup bibirnya..

“Senyum kek”
Ucapku..

Bibir kak tiara bergerak cepat melengkung ke atas menunjukan senyuman di wajah cantiknya..

___________

Aku terbangun dari tidurku, segera meraih hp yang berada di pinggir kasur.

Jam 7.

Aku kembali meletakan hpku di kasur dan mengangkat tubuhku terduduk.

Setelah sebentar mengumpulkan nyawa, aku beranjak dan melangkah keluar kamar kost untuk melakukan setoran pagi dan mandi.

_______

Aku kini sedang berada di depan gedung ukm. Tak ada hal yang menarik selama perkuliahan hari ini.

Seperti kemarin, aku sibuk memainkan game online di hpku sementara haris sedang asik bermain kartu bersama tiga lawan setianya.

“Adaaaa yangggg lainnnnn…..disenyummmmuuuu”
Sebuah suara nyanyian mahasiwa dari sisi lain sedang menghayati suara mereka masing – masing yang mereka kira terdengar enak.

Aku menatap layar hpku, hingga tiba – tiba aku mendengar sebuah suara..

“Wihhhh pada dari manaa nihh?”
Teriakan seorang mahasiswa yang sedang bermain kartu bersama haris.

Aku menggerakan pandanganku ke kanan, mencari lawan bicara mahasiswa tadi..

Tiga orang mahasiswi dengan penampilan yang menarik sedang melangkah ke arah pintu masuk gedung ukm.

Aku tidak mengenal dua dari ketiga mahasiswi itu..

Namun salah satunya adalah intan..

Intan terus melangkah menuju ke arah pintu, ia sama sekali tak melihatku..

“Kepo bangett sih”
Ucap seorang mahasiswi yang berada di sebelah intan kepada mahasiswa yang sedang bermain kartu bersama haris.

“Epoo angett ihhhh”
Mahasiswa yang sedang bermain kartu bersama haris malah balas mengenjek dengan menirukan ucapan mahasiswi tadi.

Gemuruh tawa pun terdengar, bahkan mahasiswa yang tadi sibuk bernyanyi terpaksa menghentikan konser mereka.

“Woii jalan anjingg!”
Tiba – tiba suara teriakan dari mahasiswa lain yang saat itu juga sedang bermain kartu bersama haris ..

Intan terus melangkah, hingga akhirnya menghilang masuk ke dalam gedung ukm..

Aku masih terdiam, lalu kembali menatap layar hpku.

Hingga akhirnya jam di hpku sudah menunjukan pukul 5 sore.

Aku bangkit dan melangkah mendekati haris.

“Ris, cabut dulu gua ya”
Ucapku kepada haris yang masih terduduk di lantai..

Haris mendokakan wajahnya untuk melihat ke arahku.

“Yaelah ja, baru jam berapa”
Jawab haris tidak setuju dengan ucapanku..

“Mau kemane si ja buru – buru”
Celetuk seorang mahasiswa yang bermain kartu bersama haris .

“Mau nyuci baju gua coy”
Ucapku berbohong agar tidak di tahan oleh mereka..

“Yaudeh dah, tiati lu”
Ucap haris lalu kembali melihat ke arah kartunya..

“Iye, duluan bang”
Ucapku sambil melihat ke arah mahasiswa lainnya..

_______

Aku baru saja tiba di depan kostan, memasukan tanganku ke dalam sela pagar untuk meraih selotan gerbang..

Tiba – tiba aku mendengar banyak suara langkah kaki dari tangga besi kostan yang berada di samping rumah.

Aku mengarahkan pandanganku ke tangga..

Seorang pemuda baru saja selesai menuruni anak tangga terakhir..

“Lah ini dia bocahnya”
Ucap pemuda tersebut.

Sesaat kemudian satu orang pemuda lagi menuruni tangga..

Aku hanya terdiam melihat mereka.

Suara langkah kaki tak kunjung berhenti, kini telah ada empat pemuda yang sedang berdiri di dekat tangga…

Aku menggeser selot gerbang kostanku, lalu mendorongnya terbuka.

“Ada apaan bang?”
Tanyaku santai sambil berjalan mundur mendekati motorku.

Mereka berempat kompak maju ke arahku, tatapan mereka berubah. Instingku bekerja, aku menarik nafas panjang untuk bersiap menghadapi mereka..

“Andre titip salam”
Ucap salah satu dari mereka sambil terus melangkah maju..

Bersambung

Cerita Terpopuler