. Owalah Part 3 | Kisah Malam

Owalah Part 3

0
304

Owalah Part 3

Pagi ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya, sekitar jam setengah 7. Mungkin karena semalam aku langsung tertidur pulas setelah melampiaskan hasratku menggunakan foto – foto kak tiara yang ada di dalam laptopnya.

Layaknya manusia modern pada umumnya, yang pertama aku lakukan setelah bangun adalah melihat hapeku.

“Rezaa, besok ke kampus kan?”
Pesan dari kak tiara, sekitar jam 10 malam.

“Iya kak, maaf kak semalem udah tidur”
Balasku

Beberapa saat aku menunggu balasan dari kak tiara sembari mengumpulkan kesadaranku, namun Kak tiara tak kunjung membalas, mungkin ia masih tertidur. Akhirnya ku putuskan untuk bangkit dari kasur dan pergi keluar kamar untuk mandi dan melaksanakan setoran pagi.

_______

Dikampus.

Suasana kampus masih terasa sepi. Setelah tadi di kostan aku menunggu balasan dari kak tiara yang tak kunjung tiba, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke kampus walaupun waktu masih menunjukan sekitar jam 7 pagi. Alhasil kini aku sedang berdiri di depan gedung perkuliahanku, menikmati rokok yang baru saja ku bakar.

Bosan, aku membuang rokok ke aspal lalu menginjaknya dan pergi melangkah masuk menuju ruang perkuliahan. Di dalam ruangan, aku melihat beberapa orang mahasiswa yang tidak ku kenal dengan baik. Tanpa mengacuhkan mereka, aku langsung melangkah masuk dan duduk di kursi yang berada di bagian paling belakang, kemudian engeluarkan hp dan memainkannya sambil berharap ke tidak seruan pagi ini akan segera berakhir.

Beberapa orang mahasiswa lainnya mulai berdatangan, hingga munculah seseorang yang menarik perhatianku, memasuki ruangan dengan anggunnya menggunakan celana jeans dan kemeja merah marun yang tampak melekat pas di badannya.

Intan.

Intan berjalan ke arah bangku yang berada di barisan paling depan, ia meletakan tasnya di meja dan hendak menurunkan badannya duduk diatas kursi. Namun disaat yang sama, intan melihat ke arahku, mata kami saling bertemu, entah mengapa aku tersenyum, sedetik kemudian intan melengkungkan bibirnya ke atas membalas senyumanku.

Intan kini telah duduk di kursinya dan memalingkan wajah, ingin rasanya aku menghampiri untuk berbicara dengannya, namun aku mengurungkan niatku saat merasakan hp ku bergetar.

“Jwu zaa, cepet banget sih tidurnya”
Isi pesan dari kak tiara yang baru saja ku terima.

“Ketiduran kak haha.. kak tiara ga ke kampus?”

“Ini mau kekampus kok.. lu?”

“Udah dikampus”

“Ih pagi bangett”

“bosen kak sendirian di kostan”

Akhirnya ke bosanan pagi ini aku lewati dengan berbalasan pesan bersama kak tiara. Tak terasa waktu berlalu, dosen pengajar sudah masuk ke dalam kelas, dengan segera aku memasukan hp ke kantong celana dan mulai mengikuti aktivitas perkuliahaan.

_____

“Kita lanjut di pertemuan selanjutnya”
Ucap dosen menandakan telah berakhirnya jam perkuliahan.

Suasana ruangan sontak menjadi ramai, seluruh mahasiswa sibuk membereskan perlengkapan kuliahnya, begitu juga denganku. Setelah selesai, aku sempat melihat ke arah intan yang masih sibuk dengan hapenya, aku mengangkat tubuhku berdiri dan mulai melangkah ke menghampiri.

“Masih nyatet?”
Ucapku berbasa basi ketika berada tepat disamping intan.

Intan sejenak melihat ke arahku.

“Apasih”
Balas intan sambil tersenyum manis.

Nampaknya ia menyadari maksud pertanyaan bercandaku selayaknya yang ku lakukan kemarin.

“Ga makan tan?”
Tanyaku lagi.

“Aku gabiasa makan pagi za”

“Oh”

Kami berdua terdiam, intan justru memalingkan wajah dan kembali menatap layar hpnya.

“Hmm…yaudah, gua ke kantin dulu ya tan”
Ucapku sambil menggerakan kaki untuk mulai melangkah.

“Ya”
Jawab intan singkat.

Entah mengapa, aku merasa kecewa dengan jawabannya, jujur aku berharap untuk dapat berbicara lebih lama dengannya atau bahkan menikmati makan siang bersamanya. Dengan berat hati, aku melangkahkan kaki dan berjalan keluar kelas.

_________

Dikantin.

Suasana kantin saat ini sedang ramai, bahkan sangat ramai, aku terpaksa harus rela berdesak – desakan untuk membeli makanan di warung kantin dengan menu layaknya warung dipinggir jalan.

Aku sudah berhasil membeli makananku.

Merasakan gerahnya suasana di kantin, aku mengurungkan niat untuk makan di meja yang sudah disediakan dan memilih berjalan keluar area kantin untuk dapat menikmati makananku tanpa harus menahan sensasi keringat membanjiri tubuhku.

Ketika aku sedang berjalan keluar area kantin, aku melihat seorang pria yang sedang berjalan ke arahku…

Andre.

Emosiku sedikit terpancing mengingat apa yang telah dia lakukan pada kamar kostanku, aku terus mengambil langkah ke depan, begitu juga dengannya. Jelas tak ada diantara kami yang ingin menggeser badan untuk menghindari terjadinya tabrakan.

Namun aku teringat bahwa aku sedang memegang piring makanan. Sontak aku mengambil satu langkah ke samping untuk menghindari terjadinya tabrakan badan dengannya.

Andre melewatiku dengan tenang.

Jujur aku emosi, namun emosiku sedikit mereda saat melihat kak tiara yang rupanya sedang berjalan dibelakang andre. Kak tiara meliriku lalu tersenyum, namun terus melangkah seirama dengan andre.

Ketika mereka berdua sudah melewatiku, aku sejenak terdiam, ada sebuah ke anehan yang aku sadari. Ketika berhadapan denganku tadi, Andre sama sekali tak menatapku dalam, ia sempat membalas tatapanku namun langsung membuang pandangannya, entah mengapa ia terkesan seperti tak pernah memiliki masalah apa – apa denganku..

Setelah beberapa saat akhirnya aku mulai kembali berjalan keluar area kantin. Diluar area kantin, aku memilih untuk duduk di pinggir trotoar, tempat dimana memang banyak mahasiswa yang memilih untuk makan disini karena malas dengan hawa panas di dalam kantin.

Makananku sudah selesai ku lahap, aku meletakan piring di atas aspal trotoar. Tiba – tiba hpku bergetar.

“Heyy…kok makan diluar sih?”
Isi pesan dari kak tiara.

“Panas kak di dalam.. bukannya lagi sama andre?”

“Iya, tapi dia lagi asik ngobrol sama yang lain”

“Oh gitu.. awas ketauan kak”

“Emang kalo ketauan kenapa? Takut?”
Kak tiara malah menantang.

Aku tersenyum sinis membacanya.

“Iya, takut dimarahin pacaranya”
Balasku mengejek.

“Ihhh apansih zaa”

” ;p ”

Aku mengakhiri pembincaraan dengan hanya mengirim emoticon.

Setelah menunggu sesaat untuk memastikan bahwa kak tiara sudah tak membalas, aku bangkit berdiri dan mulai berjalan menuju gedung perkuliahan.

_____

Di dalam gedung perkuliahan.

Aku melangkah memasuki ruang kelasku yang ternyata sudah ramai oleh mahasiswa, namun saat aku baru saja aku menutup pintu..

“Oiii zaaa!! Duduk sini aja coy!”
Sebuah teriakan dari area belakang kelas.

Aku melihat ke arah sumber suara, ternyata haris sedang duduk di kursi barisan paling belakang. Aku memang memiliki jadwal yang sama dengannya hari ini, itulah mengapa aku meminta titip absen padanya bila terjadi sesuatu di saat aku ingin pergi ke kontrakan tripunar kemarin.

Dengan santai aku melangkah ke arah haris.

“Pindah lu coy, cs gua mau duduk disini!”
Ucap haris dengan enaknya mengusir mahasiswa yang duduk di sebelahnya.

Mahasiswa berkacamata yang terlihat sangat culun itu pasrah pergi menjauhi haris.

“Gua kirain ga bakalan masuk lu hari ini”
Ucap haris.

“Nyumpahin gua bonyok lu?”

Aku meletakan tasku diatas meja lalu duduk disamping haris.

“Kaga lah coy….trus gimana lu jadinya kemaren?”
Balas haris.

“Gajadi”

Aku sebentar mengibaskan kerahku untuk membuang sensasi panas akibat dikatin tadi

“Lah kenapa? Takut lu ya?”
Tanya haris.

Wajahnya tersenyum menghina.

“Panjang dah ceritanya, kalo diceritain gua takut lu sange”
Jawabku sambil membalas senyuman menghinanya.

Ekpresi wajah haris berubah, kini mulutnya sedikit menganga penasaran dengan ucapanku.

“Eh seriusan anjing”
Balas haris malah sambil memukul pelan lenganku.

“Haha kepo kan lu”

“Serius njing emang lu ngapain?”

Kini ia justru sedikit mendekatkan kursinya ke arahku, bersiap untuk mendengar ceritaku.

“Hmmmm….jadi gini ris…….”

Akhirnya aku memutuskan untuk sedikit bercerita kepada haris mengenai kejadian kemarin, bahkan mungkin lebih dari sedikit, karena aku juga mengatakan bahwa kak tiara meminjamkan laptopnya padaku.

“Ah gokil lu ja!”
Ucap haris setelah mendengar ceritaku.

Wajahnya masih tampak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan.

“Haha…orang ganteng mah susah ris”
Ucapku bercanda padanya.

“Yeh bangsat”
Balas haris sambil memalingkan wajahnya melihat ke arah depan kelas, tepat disaat dosen memasuki ruangan..

_________

Di depan gedung perkuliahan.

“Ayoklah ja, nongkrong bentar”
Ajak haris.

“Ah mager banget gua ris”

“Yaelah..pasti pengen ke rumah tiara lagi lu ye?”

“Kaga lah anjing”

Haris hanya tertawa mendengar jawabanku. Aku mengeluarkan hp dari kantong celanaku, membuka kontak kak tiara..

Tidak ada pesan darinya.

Aku kembali meletakan hpku ke kantong celana lalu melihat ke arah haris..

“Ayok dah”
Ucapku pelan.

“Nah gitu dong”
Balas haris sambil menepuk pundakku.

Haris pun memutarkan badannya dan mulai berjalan ke arah gedung ukm, begitu juga denganku yang mulai berjalan seirama dengannya.

__________

Di depan gedung ukm.

Ternyata orang – orang yang nongkrong di sini sangatlah santai, mereka bahkan tak menghiraukan keberadaanku yang padahal merupakan wajah baru di tempat ini. Entah berapa jam telah aku habiskan di tempat ini, berbicara hal – hal yang tidak penting bersama haris dan yang lainnya.

Langit terlihat sudah mulai gelap.

Saat ini aku sedang duduk di lantai bersama haris, haris sedang duduk di belakangku, bermain kartu dengan tiga mahasiswa lainnya. Sementara aku sedang sibuk memainkan game online di hpku sambil menikmati rokok di tangan.

“Bentar coy, kencing dulu gua”
Ucap haris di belakangku.

Aku dapat mendengar suara haris sedang berdiri dan melangkah masuk ke dalam gedung ukm.

“Oi ja, main lah sini”
Sebuah suara lain juga dari belakangku.

Aku menengok kebelakang, ternyata suara tersebut berasal dari seorang senior yang sedari tadi sibuk bermain kartu bersama haris.

“Kaga ngerti gua bang”
Ucapku berbohong untuk menolak, karena sebenarnya aku sedang asik memainkan game hpku.

Senior itu tak membalas, aku kembali fokus dengan permainanku.

Setelah beberapa saat.

“Oii ja, sini dah bentar”
Suara haris.

Aku melihat ke belakang, haris sedang berdiri percis di pintu masuk gedung.

“Apaan si”
Ucapku malas namun tetap berdiri dan melangkah mendekatinya.

Haris tak menjawab ucapanku.

Ia justru melangkah masuk ke dalam gedung ukm, akupun terus berjalan mengikutinya. Haris masuk ke dalam ruangan dengan tulisan ‘wc’ di depan pintunya, begitu aku ikut masuk, aku melihat ada seorang pria sedang duduk di atas westafel.

Pria tersebut terlihat rapih menggunakan blazer hitam dengan kaos putih sebagai dalamannya. Aku melihat ke arah area bagian dada kantong blazernya dimana terpampang tulisan “5HC”

“Ini bang bocahnya”
Ucap haris memecah kesunyian di kamar mandi ini.

Pria tersebut melihat ke arahku yang masih berdiri membelakangi pintu kamar mandi.

“Lu bener lagi deket sama tiara?”
Tanya pria itu tenang.

Reflek, aku melihat ke arah haris.

“Lu apa – apaan…..”

“Oi gua nanya”
Potong pria itu membuatku tak sempat mengungkapkan rasa kecewaku kepada haris.

Aku kembali melihat ke arah pria yang menggunakan blazer 5HC itu.

“Iya bang”
Jawabku sopan.

Pria itu turun dari westafel lalu berjalan ke arahku.

“Haris udah cerita masalah lu sama tripunar, selow mulut gua rapet”
Ucapnya

Sontak aku langsung menatap matanya, ia juga menatapku tajam.

“Gua sih ga ada masalah lu nongkrong disini walau ada urusan sama anak tripunar, jujur gua malah salut karena lu masih maba dan udah berani begini”
Lanjutnya lagi saat ia sudah berada tepat di hadapanku.

Pelan, ia mengambil satu langkah ke samping dan berjalan ke depan sehingga kini ia berada di sampingku.

“Tapi saran gua lu pinter – pinter jaga kepala, inget lu belum jadi siapa – siapa di sini”
Lanjutnya.

Pria itu mulai berjalan ke depan menuju keluar kamar mandi, meninggalkan aku dan haris.

Beberapa saat kemudian..

“Ngentot lu ris”
Ucapku sewot kepada haris karena ia telah menceritakan masalahku.

“Haha kalem sih ja”
Haris malah tertawa dan berjalan keluar kamar mandi.

Aku menang tidak terlalu merasa kesal kepada haris setelah mendengar ucapan pria yang sepertinya merupakan anggota 5hc tadi. Aku memutar arah dan berjalan keluar kamar mandi, ketika aku sudah kembali ke depan gedung ukm, aku melihat haris sudah bergabung bersama kelompok permainan kartunya.

Namun saat aku hendak menurunkan tubuh untuk kembali duduk di lantai, aku merasakan hpku bergetar.

“Ejaaaaaaa”
Isi pesan dari kak tiara.

Entah mengapa aku tersenyum sendiri melihat isi pesan tersebut.

“Kenapa kak?”
Balasku.

“Gpp manggil aja hihi…lagi dimana?”

“Kangen yah? Haha.. lagi di ukm kak”
Balasku yang entah mengapa mulai berani sedikit menggodainya.

“GA!… Wihh, mau masuk 5hc nih ceritanya?”

“Engga kok kak, cuma nongkrong aja, bosen sendirian di kosan”

“Oh… Kakak juga bosen sendirian di rumah”

Aku tersenyum lebar membaca pesan tersebut.

“Trus?”
Balasku singkat

Entah mengapa jantungku sedikit berdebar menunggu balasan dari kak tiara.

“Lu kesini kek, atau ajak jalan gitu ish”
Balasan dari kak tiara.

Senyumku menjadi semakin lebar, aku bahkan sempat melihat ke sekitarku memastikan tidak ada yang mengintip isi percakapan pesan ini.

“OTW!”
Balasku.

Bersambung

Daftar Part