. Owalah Part 24 | Kisah Malam

Owalah Part 24

0
238

Owalah Part 24

Dirumah kak tiara sekitar jam 8 pagi.

Aku membuka mata dan menemukan tubuhku sedang berbaring di atas sofa, sepertinya aku ketiduran disini semalam. Hal pertama yang ku ingat saat kesadaranku mulai kembali adalah ‘kak tiara’, aku segera bangkit duduk dan melihat ke pintu kamar yang ada di sebelah kananku.

Melihat pintu kamar yang terbuka lebar, aku segera bangkit melangkah mengintip ke dalam kamar.

Kosong.

Menyadari bahwa kak tiara tak ada di kamar, aku kemudian turun ke lantai satu dan menemukan daud yang sedang serapan di meja makan.

“Nyari tiara bro?”
Tanya daud.

“Iya, di depan ya?”
Jawabku balik bertanya dan memberikan tebakan.

“Kaga, udah balik doi tadi”

“Hah? Balik?”

“Iya..udah mending lu duduk aja dulu bro”
Balas daud.

“Dia ada ngomong sama lu ud?”
Tanyaku lagi sambil menarik kursi yang berada di seberang daud kemudian duduk.

“Gua cuman sempet nanya mau kemana, trus dia cuman jawab ‘pulang’ ”

Aku hanya bisa menggaruk kepala saat mengetahui bahwa kak tiara sudah pergi dari rumah ini.

“Ada masalah apaan sih lu?”
Tanya daud.

“Yagitu lah ud, ketauan selingkuh gua”
Jawabku malas.

“Hah? Astaga, tolol banget lu”
Ejek daud sambil tersenyum mendengar jawabanku.

“Tau dah, bingung gua juga”

“Udah mending lu tenang dulu bro, rokok nih”
Daud meletakan bungkusan rokoknya di atas meja.

Sadar bahwa kak tiara tak ada, aku segera meraih rokok yang di berikan daud kemudian menyalakannya. Kami berdua diam sejenak, daud melanjutkan aktivitas makanannya, aku menikmati rokok di jepitan jariku.

Setelah beberapa saat, daud sudah selesai sarapan dan segera bangkit berdiri membawa piring kotornya menuju westafel dapur.

“Sebenernya ini yang gua takutin dari dulu bro, kalo lu sampe ribut sama tiara pasti semua anak – anak jadi kena dampaknya”
Ujar daud saat ia sedang mencuci piring..

“Kalo gua sih sebenernya ga masalah kalo tiara ga ngijinin lagi kita tinggal di sini, nah elu? Kalo kita bilang paitnya lu harus putus sama tiara, tendes tetep lanjut kan?”
Lanjut daud.

Aku hanya terdiam tak menjawab ucapan daud, otakku terasa enggan untuk memikirkan hal seperti ini pagi – pagi.

Daud sudah selesai mencuci dan kembali duduk di hadapanku.

“Ayoklah ja, yakali cerita tendes cuman sampe sini doang”
Bujuk daud.

Aku justru bangkit berdiri dan mulai melangkah menaiki tangga.

“Tau dah ud, bingung gua”
Jawabku dengan suara sedikit keras untuk memastikan bahwa daud dapat mendengarku.

Aku terus melangkah ke lantai dua lalu masuk ke kamar dan segera membaringkan tubuhku di atas kasur.

Aku mengeluarkan hp dari kantong celana dan menemukan dua pesan dari intan.

“Za? Kamu udah tidur?”

“Sleepwell yah za”

Isi dari dua pesan tersebut.

Entah mengapa aku sama sekali tak berniat untuk membalas pesan dari intan justru segera membuka kontak kak tiara dan mengirim pesan untuknya.

“Kak? Dimana?”
Isi pesan yang ku kirim kepada kak tiara lalu meletakan hpku di kasur.

Menatap langit kamar, aku hanya mengharapkan kak tiara untuk segera kembali, setidaknya agar aku bisa meminta maaf.

________

Sekitar jam 4 sore aku terbangun, mungkin sudah lebih dari 8 jam aku tertidur dan sesekali terbangun untuk memeriksa pesan balasan dari kak tiara.

Bosan, aku memutuskan untuk bangkit dari kasur dan turun ke lantai satu. Di lantai satu, aku melihat fadil dan oliv sedang duduk bersebelahan di meja makan.

“Baru bangun bang?”
Sapa fadil.

“Iya”
Jawabku singkat lalu melangkah melewatinya.

Aku berjalan ke dapur, meraih gelas, mengisi air mineral lalu meminumnya.

“Oi bro”
Tiba – tiba suara daud memanggilku.

Aku melihat ke arah suara dan menemukan daud sedang duduk bersama haris di ruang tamu.

“Sini dah”
Suruh daud kepadaku.

Dengan langkah malas aku segera berjalan ke ruang tamu.

“Apaan?”
Tanyaku.

Haris segera bangkit berdiri.

“Duduk aja dulu ja”
Ucap haris mempersilahkanku untuk duduk.

Kini aku duduk di samping daud sementara haris berdiri di hadapanku. Sesaat kemudian aku mendengar suara dua pasang langkah kaki di belakangku, tanpa melihat aku sudah dapat menebak bahwa langkah tersebut adalah milik oliv dan fadil.

“Anak – anak udah pada tau ja lu lagi ada masalah sama kak tiara. Gua disini cuman mau bilang, kalo emang lu harus udahan sama kak tiara kita semua bakal siap bantuin lu”
Ucap haris mengutarakan topik pembicaraan.

“Lu butuh apa pasti kita bantu. tempat tinggal? Itu daud sama fadil udah siap patungan buat bayar kontrakan”
Lanjut haris.

“Lagian udah kayak pasti di putusin aje sih lu bro”
Saut daud.

“Ya semoga aja kaga dah ud”
Balasku.

“Tenang aja udah. Di sini kita cuman minta lu tetep jalanin tendes”
Ucap daud.

“Nah itu dia ja, apa lagi lu tau sendiri kan tripunar mulai nyari masalah lagi”
Saut haris.

Lagi – lagi aku hanya bisa terdiam menerima motivasi dari mereka berdua.

“Za”
Suara kak nindy dari arah belakang haris

Aku mengintip ke belakang haris, ternyata kak nindy baru saja masuk ke ruang tamu.

“Nanti gua coba ngomong sama tiara ya”
Lanjut kak nindy, kini ia sudah berdiri di samping haris.

Aku sedikit tersenyum dan mengangguk kepada kak nindy.

“Nah sekarang masalah tripunar nih ja, lu maunya kita gimana?”
Tanya haris membuka topik pembicaraan baru.

Aku menggaruk kepala sambil memikirkan keputusanku.

“Senin ini lu berdua temenin gua nemuin nandes mau ga?”
Tanyaku kepada haris dan daud.

“Lah? Ngapain? Lu mau minta tolong sama 5hc ja?”
Balas haris.

“Ya terus mau gimana? Soalnya menurut gua gini ris… Kalo kita bales main kotor juga, gua yakin yang ada malah manjangin masalah doang, dan jujur gua khawatir kalo bales – balesan main kotor”
Jelasku.

“Trus maksud lu kita gabung sama anak 5hc buat bentrokin gede – gedean gitu?”

“Iya”
Balasku singkat.

“Ya gua sih gas terus ja, masalahnya kalo anak 5hc gamau, gimana?”
Haris kembali bertanya.

Mendengar pertanyaan haris, aku justru tersenyum dan sebentar melihat ke arah daud.

“Tiga lawan sepuluh kan?”
Aku bertanya sambil kembali melihat haris

“Lah gua ga di itung bang? Empat lawan sepuluh lah”
Saut fadil yang berada di belakangku.

Haris tersenyum.

“Nah ini baru elu yang gua kenal ja”
Balas haris.

_______

Di rumah intan.

POV Intan.

“Kok ga bales – bales sih za?”
Gumamku pada diri sendiri menatap layar hp yang tak kunjung juga menerima pesan balasan dari reza.

Putus asa, aku segera melangkah keluar dari kamarku menuju ruang keluarga.

“Udah makan dek?”
Tanya mamah yang sedang duduk di sofa panjang, menonton tv bersama bang nandes.

“Udah”
Jawabku singkat lalu duduk di sofa satuan bersama mereka.

Saat aku duduk, aku melihat bang nandes yang rupanya juga terus melihat ke arahku.

“Ada yang lagi galau nih”
Ejek bang nandes menebak perasaanku.

“Ih apasih bang”
Balasku kesal.

“Galau kenapa sih dek?”
Tanya mamah ikut melihat ke arahku.

“Gapapa”
Jawabku singkat.

Mamah hanya tersenyum mendengar jawabanku.

Aku sebentar menatap layar tv walau pikiranku sama sekali tak terfokus pada acara yang sedang di tampilkan.

“Bang, sini bentar deh”
Ucapku pada bang nandes sambil bangkit berdiri.

“Kenapa sih?”
Balas bang nandes masih duduk di samping mamah.

“Ih sini bentar”
Ucapku lagi kemudian berjalan menuju kamar.

Bang nandes menatapku bingung, lalu berdiri dan berjalan mengikutiku.

Di dalam kamar.

“Abang kemarin ada ketemu reza?”
Tanyaku membuka obrolan.

“Hah? Ga ada kok”
Jawab bang nandes yang masih berdiri di depan pintu.

“Serius bang”
Tanyaku lagi tak percaya dengan jawabannya.

“Serius ntan, emang kenapa sih?”

“Gapapa”

“Kamu ada masalah sama dia?”

“Engga…itu…

Akhirnya, aku terpaksa menceritakan hubungan dan perasaanku kepada bang nandes…

________

Senin, jam tiga sore, di warung.

POV Reza.

“Gua udah kelar bro”
Pesan dari daud yang ku terima di grup tendes.

“Ris, daud udah kelar”
Ucapku kepada haris yang sedang bermain kartu di samping warung.

“Berangkat nih?”
Tanya haris.

“Iya, ayo”
Jawabku bangkit berdiri dari kursi kayu kemudian melangkah menuju motor.

Mendengar ucapanku, haris segera bangkit berdiri lalu melangkah mendekatiku

“Hati – hati bang”
Saut fadil yang sedang duduk di depan warung.

Aku mengangguk, lalu bergegas menaiki motorku bersama haris dan berangkat menuju kampus.
Di kampus, aku menemui daud di parkiran motor. Mengambil jas hujan nandes yang ku simpan di bagasi jok motor kemudian melangkah menuju gedung ukm.

Di gedung ukm.

Semua orang yang sedang duduk di depan gedung langsung menatap ke arah kami bertiga.

“Mau ngapain lu?”
Tanya seorang dari mereka yang sedang duduk di depan pintu.

“Nandes ada?”
Balasku bertanya.

“Buset, gausah nyari masalah ja”
Jawabnya yang sepertinya mengenaliku sambil bangkit berdiri seakan bersiap untuk bertarung.

“Kaga, mau balikin ini gua”
Ucapku sembari menununjukan jas hujan di tanganku.

“Oh, yaudah sini”
Balasnya mencoba meraih jas ujan di tanganku.

“Sekalian ada yang mau gua omongin”
Aku dengan cepat menarik tanganku untuk menghindari genggamannya.

Di saat yang bersamaan, terdengar suara seorang pria dari arah gedung.

“Naik aja ja”
Nandes, sedang berdiri di lantai dua bersender pada pinggiran lorong.

Aku, daud dan haris sejenak menatap nandes kemudian mulai melangkah masuk ke dalam gedung.

Di lantai dua, kami di sambut oleh 3 orang anak 5hc yang sedang berdiri di belakang nandes dan salah satunya adalah roni yang terus menatap ke arah kami bertiga dengan wajah tak senang.

Kini aku sudah berada tepat di hadapan nandes.

“Nih bang, thankyou ya”
Ucapku sembari memberikan jas hujan di tanganku.

“Iya….lu mau ngomong apaan?”
Balas nandes meraih jas ujan di tanganku dan balik bertanya.

Beberapa saat aku terdiam mempersiapkan mental untuk membuka obrolan di depan empat orang anggota 5hc yang sedang berdiri di depan kami bertiga.

“Jumat ini gua bakal bentrokin tripunar bang”
Ucapku.

Ekspresi wajah mereka berempat sontak berubah mendengar ucapanku.

“Terus?”
Tanya nandes.

“Lu pada juga ada masalah sama tripunar kan?”
Balasku.

Nandes justru tersenyum.

“Gausah ikut campur sama urusan orang lah bro”
Jawab nandes yang nampak tak senang mendengar pertanyaanku.

Namun tiba – tiba…

“Lu takut ye?”
Tanya daud di samping kananku..

Kami semua yang berada di lorong ini terlihat bingung dengan pertanyaan daud.

“Maksud lu apaan?”
Ucap nandes balik bertanya..

“Temen lu mati, tapi lu malah ngumpet di belakang semua anggota lu”
Balas daud.

Ekspresi wajah nandes berubah..

“Maksud lu apaan njing?!”
Nandes emosi, ia segera melangkah mendekati daud. Aku dengan cepat menahan dadanya.

“Maksud lu yang apaan ngebiarin bori mati gitu aja!”
Daud ikut emosi ia mendorong punggungku ke samping agar tak menghalangi langkah nandes, untungnya haris dengan segera menarik pundak daud mundur.

“Mulut lu jaga bangsat!”
Bentak nandes melawan dorongan tanganku..

Melihat nandes emosi, ketiga anggota 5hc di belakangnya segera membantuku menahan nandes.

“Lah kenape?! Ribut sama bori aje kalah terus kan lu anjing!”
Balas daud.

Mereka berdua semakin emosi.
Sadar bahwa haris tak kuat menahan daud sendirian, aku dengan cepat berputar arah lalu mendorong daud untuk mundur.

“Udah jadi jagoan lu bangsat?!”
Balas nandes mencoba memukul, namun tangannya sempat di tahan oleh anggota 5hc sehingga hanya berhasil mendarat di lenganku.

“Iye emang jagoan gua, bori yang lu takutin aje ga pernah menang lawan gua!”
Balas daud terus menatap nandes.

Mendengar ucapan daud, nandes menghentikan langkahnya, ekspresi wajahnya berubah, begitu juga dengan tiga anggota 5hc lainnya.

“NBIKT kan anjing?! Inget ada nama bori setelah nama lu! Ga sudi gua punya abang temanan sama bencong kayak lu!”
Lanjut daud.

Nandes dan ketiga anggota 5hc terdiam, kini hanya daud yang masih terus mencoba melangkah maju melawan doronganku dan tarikan haris.

“Liat muka gua!”
Ucap daud sambil menunjuk wajahnya.

“Ini muka yang di takutin bori! Gua ga butuh bantuan dari bencong kayak lu buat balesin dendam abang gua!”
Lanjut daud.

Kini daud melangkah mundur hingga tanganku terlepas dari dadanya. Daud sudah tak lagi mencoba melangkah ke depan untuk menghadapi nandes.

“Gausah lu taro nama abang gua didalem singkatan bencong lu itu”
Ucap daud merfrensikan nama 5hc.

Daud melangkah mundur menuju tangga sambil terus menatap nandes, hingga daud mulai menuruni tangga meninggalkan kami.

Setelah beberapa saat, aku mengarahkan tubuhku ke samping searah dengan gedung ukm.

“Terserah lu mau ikut apa engga, jumat ini gua tetep berangkat”
Ucapku kepada nandes yang masih nampak tak percaya dengan semua ucapan daud.

Tepat ketika aku hendak melangkah menuju tangga….

“Lu ada masalah apaan sama adek gua?”
Tanya nandes.

Aku mengeluarkan hp dari kantong celana, menekan tombol di samping untuk menyalakan layar.

“Hp gua rusak, bilang aja gua minta maaf”
Jawabku sambil menunjukan layar hpku yang hanya nyala setengah kemudian melangkah meninggalkan gedung ukm.

______

Di rumah kak tiara, sekitar jam 8 malam.

Aku sedang duduk bersama fadil dan daud di ruang makan, membicarakan persiapan aksi kami di hari jumat nanti. Aksi yang cukup gila menyadari perbedaan jumlah kami dengan anak tripunar.

Pembicaraan kami terhenti saat kak tiara melangkah masuk ke ruang makan.

Tanpa sedikitpun berbicara, kak tiara terus melangkah melewati kami dan naik ke lantai dua. Aku dengan cepat berdiri dan mengikutinya.

“Kak”
Panggilku saat kami sudah berada di lantai dua.

Kak tiara tak menjawab, ia terus melangkah menuju pintu kamar.

“Kak, bentar dulu”
Panggilku lagi kini sambil mencoba meraih lengannya..

Kak tiara berhenti melangkah.

“Gamau”
Ucap kak tiara singkat sambil menggerakan lengannya untuk menyingkirkan tanganku.

“Plis kak, bentar aja”
Aku lagi – lagi mencoba meraih lengannya.

“Gamau!”
Jawabnya lagi.

“Kak plis”
Aku menarik lengannya agar ia mau menghadap ke arahku..

“Dengerin….

*Plak*

Ucapanku terhenti saat merasakan telapak tangan kak tiara mendarat keras di pipiku.

“GAMAU!!”
Teriak kak tiara kesal, air matanya mulai menetes.

Aku hanya bisa terdiam merasakan panas di pipiku saat kak tiara kembali melangkah menuju kamar.

“Kakak ke sini cuman mau ambil baju”
Ucap kak tiara seraya mulai melangkah.

“Kakak kasih waktu tiga hari buat kamu dan temen – temen kamu untuk pergi dari sini”
Lanjut kak tiara sambil terus menangis dan melangkah masuk ke dalam kamar.

“Jangan jadi culun lagi ja..”
Ucapku pada diri sendiri saat kak tiara sudah berada di dalam kamar.

Kak tiara hendak menutup pintu kamar, aku dengan cepat memasukan lengan membuat tanganku terjepit di antara pintu.
Pintu tak jadi tertutup, aku dengan kuat mendorong pintu menggunakan tangan kiriku hingga kembali terbuka.

Di dalam kamar, kak tiara hanya menatapku bingung dengan pipi yang sudah basah akibat air matanya. Aku melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu kemudian mengunci gagangnya.

Kak tiara yang sempat berada di hadapanku hanya bisa melangkah mundur seakan takut menyadari apa yang baru saja ku lakukan.

“Dengerin aku dulu, bisa?”
Tanyaku tenang.

Kak tiara menatapku takut, ia kemudian menjatuhkan pantatnya terduduk di pinggir kasur.

“Apa lagi yang mau di omongin?”
Tanya kak tiara dengan suara rendah.

Aku melangkah maju menghampiri kak tiara, kak tiara menundukan kepala menghindari tatapanku.
Di depan kak tiara, aku berlutut hingga wajahku setara dengan perutnya.

“Kak”
Panggilku meletekan dua telapak tanganku di dengkulnya.

Kak tiara tak menjawab, ia menunduk sambil terus menangis.

“Aku sayang sama kakak, aku gamau kita pisah”
Ucapku..

“Aku sadar ini semua salahku, aku cuman bisa minta maaf. Aku janji ga akan berhubungan lagi sama dia dan aku cuman bisa berharap kakak mau maafin aku”
Lanjutku mengutarkan perasaan.

Lagi – lagi, kak tiara hanya terdiam dan terus menangis.

“Kalo emang kakak gabisa lagi nerima aku…yaudah aku ngalah dan janji bahkan besok pun aku ga akan ada lagi disini……aku cuman berharap kakak mau maafin aku…aku gamau ngelupain semua kebaikan kak tiara….entah sebagai apapun itu, kasih aku kesempatan buat membalas semua kebaikan kakak”

Kini kak tiara mulai melihat wajahku namun ia masih terus menangis.

“Jujur, aku gamau hubungan kita berubah…tapi aku cuman bisa memohon sama kakak…aku mohon kak, kasih aku kesempatan satu kali lagi”

“Aku benci sama kamu za”
Akhirnya kak tiara menjawab ucapanku.

“Iya, aku sadar bahwa aku udah terlalu jahat sama kakak, aku ngerti kenapa kakak benci sama aku”

“Kakak kurang apa sih za?”
Tanya kak tiara di tengah tangisannya..

“Ga ada kak, aku yang udah lupa diri dan ga bersyukur punya pacar sesempurna kakak”

Kak tiara sejenak terdiam dan kembali menurunkan wajahnya.

“Kakak ga peduli kamu mau main sama siapa, kakak cuman gamau ada yang ngegantiin posisi kakak”
Ucap kak tiara dengan wajah menunduk, tangisannya semakin menjadi hingga ia tersendak – sendak..

“Kamu mau main sama siapapun cewek di luar sana, terserah! Tapi tolong, kasih hati kamu cuman buat kakak!”
Lanjut kak tiara dengan suara meninggi meluapkan emosinya.

“KAKAK RELA BANTUIN KAMU UNTUK NIKMATIN TUBUH MEREKA KALO EMANG KAMU MAU ZA!”
Teriak kak tiara.

Sadar bahwa kak tiara mulai melantur, aku segera meraih kedua lengan kak tiara.

“Kak”
Panggilku berharap ia tak lagi terlena dalam emosinya..

“KENAPA SIH ZA KAMU TEGA BANGET?! KENAPA…..

Ucapan kak tiara berhenti saat aku dengan cepat bangkit berdiri lalu menarik tubuhnya menempel denganku..

Aku memeluk kak tiara erat..

“Kenapa za?”
Tanya kak tiara lagi, kini suaranya mulai melemah walau ia masih menangis.

Kak tiara melilitkan pundakku dengan tangan kirinya.

“Siapa za? Siapa lagi yang kamu mau nikmatin tubuhnya?”

“Kak…plis…”
Ucapku lemah berharap kak tiara berhenti mengucapkan hal itu.

Kak tiara mengenggam belakang pundakku dengan erat, ia terus menangis. Sementara aku terus memeluk tubuhnya..

Entah setelah berapa lama, aku merasakan kak tiara mulai meletakan dagunya bersender pada pundakku.

“Maaf yah kak…maafin aku”
Ucapku sambil mengusap punggung kak tiara saat ia nampak sudah mulai tenang.

Kini kak tiara terdengar tersendak – sendak seperti ingin berhenti menangis. Perlahan, kak tiara mulai membalas pelukanku, kepalanya sudah sepenuhnya bersender pada pundakku.

“Jangan pergi..”
Ucap kak tiara lemah..

“Iya, aku akan selalu disini”
Balasku tersenyum lega.

Saat aku yakin bahwa kak tiara sudah tenang, perlahan aku melepaskan pelukanku.

“Emh”
Suara mulut kak tiara saat ia justru menguatkan pelukannya.

Sadar bahwa kak tiara masih ingin memelukku, aku kembali merekatkan kedua tanganku memeluknya.

“Jangan kemana – mana ja”
Ucap kak tiara.

Jujur, aku merasa lega mendengar kak tiara kembali memanggilku dengan sebutan ‘ja’

“Iya kak”
Balasku singkat.

“Kakak gamau pisah sama kamu”

“Iya”

“Kamu pacar kakak”

“Iya kak”

“Jangan tinggalin kakak”

“Iya”

Aku hanya bisa meng ‘iya’ kan semua ucapan kak tiara, setidaknya aku juga tak pernah ingin meninggalkannya…

Setelah beberapa saat berpelukan.

Kak tiara mengendurkan pelukannya, begitu juga denganku.
Kak tiara duduk di pinggir kasur, aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya.

“Maaf yah ja”
Ucap kak tiara lemah kemudian meletakan kepalanya ke samping, bersandar pada pundakkku.

Aku tak menjawab, yang ku lakukan hanyalah meraih dan menggenggam tangannya.

“Maaf kalo kakak masih manja, maaf kalo kakak masih boros, maaf kalo kakak belum bisa nurutin semua permintaan kamu”

Entah mengapa, hatiku terasa pilu saat menyadari bahwa kak tiara justru selama ini sudah menuruti semua permintaanku..

“Udah ya kak, boleh aku minta kita lupain masalah ini dan mulai lembaran baru?”
Tanyaku.

Kak tiara mengangguk lemah.

Setelah itu kami hanya terdiam dalam posisi ini. Mungkin setelah lebih dari 10 menit hingga kak tiara sudah benar – benar berhenti menangis.

“Kak tiara udah makan?”
Tanyaku membuka obrolan.

“Belum”
Jawabnya singkat.

“Yaudah, aku ambilin yah”
Ucapku kemudian bangkit berdiri melepaskan senderan kepala kak tiara.

Tapi kak tiara justru bangkit berdiri mengikutiku.

“Gamau manja”
Ucap kak tiara dengan bibir sedikit manyun..

Aku tersenyum.

“Yaudah yuk”
Ucapku memberikan telapak tangan kepada kak tiara.

Kak tiara menggenggam telapak tanganku erat lalu kami berdua mulai melangkah keluar kamar…

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler