. Owalah Part 23 | Kisah Malam

Owalah Part 23

0
236

Owalah Part 23

Pov Orang ketiga

Di rumah kak tiara, jam 3 sore.

“Emh” Fadil sedikit mendesis saat oliv terus memijat penisnya dari luar celana sambil sesekali menggigit pelan daun telinganya.


Oliv​

“Ayok dong fadil” bisik oliv semakin memancing gejolak nafsu fadil.

Fadil meraih tangan oliv yang sedang memijat penisnya, menghadap ke samping membuat daun telinganya bergesekan dengan gigitan oliv, memajukan wajahnya ke depan untuk melumat bibir merah oliv.

“Gua ke depan dulu deh ya” ucap haris yang berada di belakang oliv sambil berdiri dan hendak melangkah keluar.

Ketika haris tepat berada di belakang oliv, oliv segera melepas ciumannya dengan fadil dan meraih penis haris yang udah tak di tutupi apapun.

“Jangan” ucap oliv

Haris berhenti melangkah, tersenyum kepada oliv yang kini berdiri di antara ia dan fadil.

“Dua lawan satu dong” lanjut oliv nakal mulai memijit penis mereka berdua.

Mendengar ucapan oliv. Haris dan fadil segera menyerang leher putih oliv dari kanan dan kiri.

“Emhhh…aah” oliv mendesah saat bongkahan payudara dan pantatnya di serang oleh fadil, sementara haris memilih untuk meremas punuk vaginanya yang masih terbungkus celana.

‘Pengeroyokan’ terus terjadi, oliv semakin mendesah nikmat akibat serangan di sekujur tubuhnya, sambil terus memainkan dua batang penis yang ada di kedua tangannya.

“Bentar ih bentar” ucap oliv memberontak manja sambil menggoyangkan tubuh, hingga tangan fadil dan haris berhenti mengerjainya.

“Buka dulu dong celananya” lanjut oliv sambil menghadap ke arah fadil.

Fadil tersenyum lebar, ia segera melepas kaitan celana jeansnya, menariknya kebawah bersama dengan celana dalam, sehingga penisnya yang sudah menegang itu langsung mencuat ke atas.

“Ih..gede…” Oliv terpana melihat ukuran penis fadil.

“Aku isepin yah?” Tanya oliv manja sambil meraih penis fadil.

Fadil mengangguk cepat.

Oliv menurunkan tubuhnya jongkok, sebentar mengurut penis fadil lalu tanpa ragu membuka mulut dan mulai menjilati penis fadil.

Haris tak mau ketinggalan acara, ia ikut berjongkok di belakang oliv dan mulai meremasi payudaranya dari belakang.

“Ah….ehm….hap” ucap oliv merasakan remasan tangan haris seraya membuka mulut dan melahap penis fadil.

“Emhh” fadil mendesis saat penisnya terasa hangat di dalam mulut oliv.

Oliv mulai memaju mundurkan kepala sambil sesekali memijit buah zakar fadil. Fadil mengelus kepala oliv yang sedang mengoral penisnya. Haris yang tadi meremasi payudara oliv kini berusaha untuk melepaskan kancing kemeja oliv.

“Ahh…enak liv” racau fadil menikmati gesekan hisapan dan gesekan mulut oliv.

“Abang telanjangin yah liv” bisik haris terus melepaskan kancing kemeja oliv.

“Emmhh…e’emm” jawab oliv setuju kepada haris walau mulutnya tertahan dengan penis fadil.

Setelah seluruh kancing kemeja oliv terlepas. Oliv mengeluarkan penis fadil dari mulutnya, lalu bangkit berdiri begitu juga dengan haris yang berada di belakangnya.

“Telanjangin oliv dong abang – abang” ucap oliv sambil mengangkat tangannya.

Fadil segera meloloskan kemeja dan kaos dalam oliv sehingga hanya menyisakan bh berwarna merahnya, sementara haris dari belakang oliv melepas kaitan celananya dan dengan cepat menariknya ke bawah.

Kini wanita cantik di tengah dua pria itu hanya menyisahkan celana dalam dan bh. Tanpa disuruh, haris lanjut menarik celana dalam oliv ke bawah, sementara oliv melepaskan kaitan bhnya.

Oliv sudah benar – benar telanjang.

Fadil dengan cepat meletakan bibirnya menghisapi payudara kiri oliv dan meremas – remas payudara kanan oliv dengan tangannya.

“Aah….gelii” ucap oliv manja menerima serangan oliv.

“Aaaahh…bang haris nakal ihh” lanjut oliv mendesah saat merasakan tangan haris mulai mengusap bibir vaginanya.

Merasakan bahwa permukaan vagina oliv sudah basah, haris tanpa ragu memasukan jari tengahnya ke dalam vagina oliv.

“Ah…enak banget sih” racau oliv justru menikmati tangan haris yang mulai mengaduk vaginanya, di tambah perasaan geli di payudaranya akibat permainan mulut dan tangan fadil..

Permainan berlanjut, oliv terus mendesah nikmat menikmati serangan dua arah tersebut..

“Aaaahhh…terusssss…bangg”
Oliv mendesah kuat, tubuhnya sedikit bergetar, oliv mendapatkan orgasme akibat stimulus yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Tubuh oliv terasa lemas sehingga ia bersender pada haris.

“Hihi…sebentar dong dil” ucap oliv mendorong kepala fadil sehingga ia berhenti menciumi payudaranya.

“Fadil mau duluan?” Tanya oliv kepada fadil sambil menggenggam tangan haris yang masih berada di vaginanya.

“Nih dil sikat, anggep aja ini hadiah penerimaan lu” saut haris mendorong tubuh oliv sehingga oliv bersender pada dada fadil. Oliv justru tersenyum mendengar ucapan haris.

“Nakal banget lu liv” jawab fadil lalu mengecup sejenak bibir oliv.

“Kan biar kamu betah nongkrong sama kita” balas oliv.

Oliv justru mendorong fadil. Fadil melemaskan tubuh hingga ia terduduk di pinggir kasur.

“Yakin liv?” Tanya fadil yang ternyata masih ragu.

“Iya sayang” jawab oliv meletakan kedua tangannya di pundak fadil.

Oliv lagi – lagi mendorong fadil tiduran dikasur dengan lutut hingga kepalanya berbaring namun kakinya masih menyentuh lantai, lalu oliv merangkak tepat di atas fadil.

“Kalo buat anak tendes, oliv yakin kok” lanjut oliv mengecup bibir fadil.

Oliv meraih penis fadil yang sudah menyundul bagian bawah perutnya, mengarahkannya kedepan bibir vagina.

“Ah” oliv mendesah kecil saat kepala penis fadil mulai membelah bibir vaginya.

“Selamat datang di tendes….aahh” ucap oliv tersenyum kepada fadil lalu menekan pinggulnya membuat penis fadil membelah lebar bibir vaginanya.

“Ahh..liv” desah fadil menikmati jepitan vagina oliv

Sesaat kumdian, oliv mulai menggerakan pinggulnya naik turun menentukan ritme persetubuhan mereka.

“Aah….inii gedee” racau oliv merasakan penis fadil terasa memenuhi tubuhnya.

Di sisi lain, haris tak mau tinggal diam, menggenggam pantat oliv yang terasa empuk di tangannya, lalu iseng mencoba memasukan jarinya ke lubang anus oliv..

“Bangg…aduhh…sakitt…ihh” racau oliv tak siap menerima permainan jadi haris di lubang duburnya.

“Oh..maaf – maaf” jawab haris segera menarik jarinya keluar.

“Nakal..ihh..sini..emhh…sinii ajah” ucap oliv menarik tangan haris untuk naik ke atas kasur sambil terus menggerakan pinggulnya.

Haris yang mengerti permintaan oliv segera naik dan berdiri di atas kasur. Oliv dengan liar segera menegakan badannya dan mencaplok penis haris..

“Emhh…enak liv” racau haris saat oliv dengan semangat menghisap penisnya.

Bagai menyelam sambil minum air, kini gerakan naik turun oliv membuat penis fadil di dalam lubang kemaluannya bergesekan dengan dinding vaginanya, juga penis haris yang berada di dalam mulutnya bergesekan dengan bibir indahnya.

Melihat indah payudara oliv yang ikut bergerak naik turun akibat persetubuhan ini. Fadil segera menggenggam kedua payudara oliv, meremasnya keras seakan berharap bahwa payudara oliv yang baru ranum tersebut dapat mengeluarkan susu.

“Emmphhh….mmmphh” desahan oliv justru semakin menjadi, ia justru ikut mengenggam tangan fadil seakan menyuruh fadil untuk terus menjaili payudaranya.

Desahan tiga manusia di dalam kamar ini terus bergema, di iringi indahnya suara benturan antara pantat oliv dengan paha depan fadil. Tiba – tiba oliv seakan kejang dan melepaskan penis haris dari mulutnya.

“Aaah….sampeee….lagii” racau oliv menikmati serangan orgasmenya.

Tubuh oliv terlihat lemah dan hendak ambruk ke menimpa fadil, namun harus dengan cepat menahan pundak oliv agar ia tetap duduk tegak di atas paha fadil.

“Capekk…aaah…aduhh…aah” racau oliv karena kini fadil gantian mengambil alih menentukan tempo permainan menggunakan gerakan pinggulnya.

“Emh…siniihh..lagii….empph” walau tubuhnya lemas, namun oliv justru kembali mengulum penis haris sambil menerima tusukan penis fadil di vaginanya.

Oliv terlihat pasrah menikmati permainan haris dan fadil, tubuhnya sudah penuh keringat, rambutnya acak – acakan.

Hingga beberapa waktu kemudian, fadil mempercepat gerakannya..

“Emhh…gua keluarr” ucap fadil bergetar, menghentikan gerakan pinggulnya dan mengangkat tubuh oliv untuk melepaskan penisnya.

Namun oliv justru melawan dan kembali menggerakan pinggulnya dengan cepat.

“Empphh….mmmhh..” desah oliv bersiap untuk menerima siraman hangat sperma fadil di dalam vaginaya.

“Liv?! Ahh” fadil sempat panik namun akhirnya penisnya memuntahkan sperma di dalam vagina oliv.

“Gapapa dil, dia rutin minum pil kb kok” saut haris santai kepada fadil yang masih terlihat panik menyadari perbuatannya..

“Hah? Serius ga?” Tanya fadil memastikan.

*Plop*
Oliv mengeluarkan penis haris dari dalam mulutnya, dan melihat ke arah fadil.

“Iyah….aku selalu aman kok” ucap oliv tersenyum menikmati cairan sperma fadil yang mulai menetes keluar.

“Bang haris mau lanjutin?” Tanya oliv kepada haris

“Ga dulu deh, isepin aja dong” jawab haris sambil bergerak turun dan duduk di samping oliv.

“Yaudah sini – sini” balas oliv.

Oliv turun dari atas kasur, bergeser dan jongkok di depan selangkangan haris, mulai mengulum penisnya saat sperma fadil menetes keluar dari dalam vaginanya..

“Gimana dil? Aman kan?” Tanya haris kepada fadil sambil menikmati pelayanan mulut oliv.

Fadil membangunkan tubuh terduduk di samping haris, tersenyum dan menggelengkan kepala mengetahui kenakalan oliv.

“Asalkan kita gamaksa mah tenang dil, kalo dia lagi mau ya sikat, kalo dia lagi gamau ya jangan” lanjut haris berteori.

“Haha bisa aja lu bang…sexy banget sih lu liv” jawab fadil tertawa lalu meremas payudara oliv yang sedang melayani penis haris.

“Emmhh…mhh” oliv justru mendesah saat mendengar pujian dari haris.

Setelah meremas payudara oliv, fadil bangkit berdiri dan menggunakan celananya.

“Kemane lu?” Tanya haris

“Ngerokok dulu lah” jawab haris lalu berjalan menuju pintu…

Tepat ketika haris menggenggam gagang pintu, terdengar suara kencang dari arah depan rumah.

“Langsung masuk aje!” Ucap suara orang tak di kenal dari depan rumah.

Fadil dan haris sontak bertatapan, oliv segera menghentikan aksinya.
Fadil dengan cepat melangkah ke pintu rumah, dan menemukan belasan pria sedang berjalan memasuki area parkiran.

Di dalam kamar, haris dan oliv dengan cepat menggunakan baju sekenanya, lalu melangkah keluar kamar.

“Siape dil?!” Tanya haris di depan pintu kamar, sementara oliv masih berada di dalam.

Fadil tak menjawab, terus melihat ke belasan mahasiswa tersebut.

“Anjing lah” sesal fadil menyadari bahwa ia dan haris harus bertarung menghadapi belasan anak tripunar di dalam kondisi yang masih lelah akibat menikmati tubuh oliv.

_______

Di depan rumah intan.

Pov Reza.

“Makasih banyak ya za” ucap intan seraya menyerahkan helm di tangannya kepadaku.

“Iya, sama – sama ntan” balasku, menerima helm darinya.

Intan melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada pagar rumah.

“Za” panggil intan.

“Ya?” Jawabku saat meletakan helm yang tadi intan gunakan di cantolan yang berada antara dua kakiku.

“Masuk dulu, mau?” Tanya intan.

Aku tersenyum mengangguk. Intan membalas senyumanku lalu berbalik badan dan mulai membuka pagar rumahnya.

Tak lama kemudian, aku sudah berada di ruang tamu rumah intan. Duduk sendirian di sofa, menunggu intan yang sedang mengambil minuman.

“Di minum za” tawar intan saat ia datang membawa segelas minuman di tangan lalu meletakannya di meja..

Aku meraih gelas tersebut, menegak cairan sirup yang berada di dalamnya.

“Mau diambilin lagi za?” Tanya intan melihatku menegak habis minuman yang ia berikan.

“Ah? Gausah” jawab ku meletakan gelas di atas meja.

Intan tersenyum, aku membalas senyumannya. Setelah itu, kami terdiam, bahkan terdiam cukup lama menunggu satu dengan yang lain untuk membuka obrolan.
Menyadari suasana canggung ini, aku segera bangkit berdiri.

“Aku pulang aja yah ntan” ucapku.

“Kenapa?” Balas intan, wajahnya bingung.

“Emm…ga enak kita cuman berduaan di rumah” jawabku.

Intan terdiam, lagi – lagi tersenyum lalu perlahan bangkit berdiri. Aku mengira bahwa intan akan mengantarkanku ke pagar namun dugaan ku salah, ia justru berjalan mendekatiku..

“Za” panggil intan lirih, wajahnya menghadap ke bawah..

Aku hanya terdiam menunggu ucapannya..

“Aku suka sama kamu” lanjut intan.

Aku tersenyum akhirnya mengetahui bahwa intan memiliki perasaan yang sama denganku.

“Aku juga ntan, aku bahkan sayang sama kamu” balasku

Intan mengangkat wajahnya menatapku..
Aku memberanikan diri untuk memajukan kepalaku mendekati wajahnya. Intan justru memejamkan mata..

Kami berciuman..

Namun hanya sepersekian detik karena intan segera memundurkan kepalanya…

“Kita ga……..

Ucapan intan terhenti saat aku kembali mencium bibirnya. Bila aku tak ingat dengan kak tiara, mungkin aku akan segera meminta intan untuk menjadi pacarku sekarang juga.

“Aku pulang dulu yah ntan” ucapku..

Intan terus menatapku bingung, aku segera melangkah menuju pintu rumah..

“Za” panggil intan lagi.

Aku kembali melihatnya..

“Bukan karena bang nandes kan?” Tanya intan, mungkin ia mengira bahwa aku tak berani ‘menembak’nya karena statusnya yang merupakan adik dari salah satu mahasiwa yang paling di segani di kampus.

“Bukan” jawabku singkat..

Intan terlihat lega lalu melangkah ke arahku, untuk mengantarkanku ke pagar rumah….

Beberapa saat kemudian….

Aku sudah berada di jalan menuju rumah, hingga tiba – tiba hpku bergetar menerima panggilan masuk..

Atas dasar pengalaman mengendarai motor selama bertahun – tahun, aku sudah memiliki kemampuan untuk menerima panggilan telepon tanpa harus menghentikan motorku.

Panggilan dari oliv.

“Kenapa liv?” Ucapku membuka obrolan.

“Rumah kak tiara di datengin anak tripunar bang!” Balas oliv panik.

“Hah?! Maksudnya?”

“Ini tadi anak tripunar dateng ke rumah terus langsung mukulin bang haris sama fadil”

Mendengar penjelasan oliv, aku segera menghentikan laju motorku.

“Lu sekarang dimana liv?” Tanyaku.

“Masih dirumah”

“Anak tripunar masih disitu?”

“Engga, mereka langsung kabur pas tadi di teriakin maling sama tetangga”

“Yaudahyaudah, lu tunggu dirumah, ini gua udah di jalan”

“Tadi ada geri bang…..gua takut”
Ucap oliv dengan suaranya bergetar..

Nafasku terhenti membayangkan geri bersama anak tripunar.

“Udah lu tenang dulu, tunggu di situ”
Balasku.

“Iyaiya”
Jawab oliv.

Aku mematikan saluran telepon, segera melajukan motorku secepat mungkin menuju rumah.

_______

Di rumah kak tiara.

Saat berada di depan rumah kak tiara, aku melihat beberapa orang tetangga baru saja keluar dari gerbang rumah. Tanpa mempedulikan mereka, aku segera turun dari motorku dan melangkah masuk ke dalam rumah..

Di ruang tamu, aku melihat haris dan fadil sedang duduk di sofa sementara oliv berdiri disamping mereka. Jujur, aku merasa lega karena ternyata mereka tak terluka cukup parah.

“Lu diapain?” Tanyaku cepat.

“Si geri bangsat ja, udeh main sama anak tripunar tuh bocah” jawab haris sambil memijit rahangnya.

“Trus lu ga kenapa – napa?” Tanyaku lagi memastikan keadaan mereka.

“Kalem bang, untungnya tadi warga ada yang liat” saut fadil ikut dalam pembicaraan.

“Anjing!” Keluhku pelan mengetahui bahwa geri kembali berulah..

“Malem kita omongin dah” ucapku kepada mereka bertiga.

_______

Sekitar jam 7 malam.

Aku dan daud sedang duduk di meja makan sementara haris dan fadil sedang merokok di teras, saat ini kami sedang menunggu kehadiran kak tiara.

“Kalo gini mah mereka berarti udah ga ada takut – takutnya bro”
Ucap daud yang berada di seberangku.

“Asli ud, emosi gua” balasku.

“Terus menurut lu gimana enaknya?”

Aku terdiam sejenak, menarik nafas untuk mengambil keputusan..

“Kalo kita balikin ke kontrakannya tiba – tiba kayak yang mereka lakuin sekarang, gua yakin pasti cuman bakal manjangin masalah doang. Kalo kita ajak bentrokin rame – rame aja gimana?” Ucapku.

“Buset, lu yakin? Kita cuman ber empat, sama bocah yang di warung paling belasan. Lu tau kan tripunar bocahnya rame banget?”
Balas daud mempertanyakan keputusanku.

“Temenin gua nemuin nandes mau?”

Daud menaikan alis, nampaknya ia tak siap dengan ajakkanku.

“Ngapain?” Tanya daud.

“Balikin jas ujan”

“Et..serius bro”

“Iya serius”

Daud menggaruk kepala bingung dengan jawabanku..

“Yaudah kapan?” Tanya daud lagi.

Di saat yang bersamaan, aku melihat kak tiara sudah tiba dan sedang berjalan ke arah kami. Wajahnya nampak tak senang dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, kak tiara berjalan melewatiku menaiki tangga ke lantai dua..

“Ntar gua kabarin ud” ucapku kepada daud.

Aku segera mengikuti langkah kak tiara naik ke lantai dua kemudian masuk ke kamar.

Di dalam kamar…

“Kak?” Panggilku

Kak tiara tak menjawab, ia justru dengan tanpa ragu mulai melepaskan bajunya.

Aku mendekati kak tiara, mencoba memeluknya dari belakang saat ia sudah melepaskan bajunya.

“Awas ih, mau ganti baju dulu” ucap kak tiara jutek menyingkirkan tanganku.

Aku melepaskan pelukan, kak tiara lanjut mengganti pakaian.

“Mau belanja gaboleh, ga magang gaboleh, tugas banyak banget, sekarang kamu ada masalah sama tripunar” gerutu kak tiara saat ia melepaskan celana jeansnya.

“Ya maaf” ucapku reflek mendengar keluhannya.

“Untung aja kamu pacarnya kakak” balas kak tiara, kini ia menggunakan singletnya.

Aku menurunkan tubuh duduk di belakang kak tiara, menatap indah pantatnya yang hanya terbalut celana dalam itu. Namun hanya beberapa saat karena kini kak tiara mulai menggunakan celana pendek ketatnya.

Setelah selesai berpakaian, kak tiara meraih pakaian kotornya dan berjalan menuju pintu.

“Di sayang – sayang kek gitu ishhh” ucap kak tiara jutek sambil sedikit melirikku lalu lanjut melangkah keluar kamar.

Aku justru tersenyum mendengar ucapan kak tiara lalu segera ikut berjalan keluar kamar.
Diluar kamar, aku tak menemukan kak tiara. Mungkin ia sudah turun ke lantai satu untuk meletakan pakaian kotornya di mesin cucian..

Aku duduk di sofa lantai dua, mengeluarkan hpku untuk membalas pesan dari intan..

“Za?” pesan dari intan hanya memanggilku

“Iya ntan” balasku.

“Udah di rumah kan?”

“Udah kok, kamu lagi dirumah juga kan?”

“Iya.. za…tadi kamu serius?”
Tanya intan membuatku mengingat ucapanku di rumahnya tadi sore.

“Serius, gapapa kan?”
Balasku.

Aku mendengar langkah kak tiara menaiki tangga, dengan cepat aku mematikan layar hpku.

Kak tiara berhenti tepat di hadapanku…

“Betee….” Ucap kak tiara manja memanyunkan bibirnya..

Aku tersenyum.

“Sini sayang” balasku meraih tangannya.

Kak tiara duduk di sampingku, aku merangkul kepalanya bersandar pada pundakku..

Di saat yang bersamaan, aku merasakan hp yang ada di genggamanku bergetar.

“Maaf ya, kalo kakak mau belanja atau ga magang..boleh kok ” ucapku mengusap kepalanya.

“Ga” ucap kak tiara singkat sambil mencubit – cubit pelan lenganku.

“Trus maunya?”

“Gatau ah, kakak lagi pusing banget” balas kak tiara..

“Kenapa sih?”

“Tugas yang kemaren belum selesai juga yang…mana besok pagi udah harus di kirim lagi” akhirnya kak tiara mengungkapkan penyebab ke kesalannya..

“Mau aku bantuin?” Tawarku..

“Bener yah?”

“Iya”

Kak tiara tersenyum, bangkit berdiri dan menarik lenganku menggunakan kedua tangannya.

“Ayuuk” rengeknya manja.

Aku tersenyum dan mengikuti tarikannya menuju kamar, di dalam kamar aku segera duduk bersender di kasur. Kak tiara mengambil laptop dari tasnya, kemudian ikut duduk di sampingku…

“Bantuin yah sayang” ucap kak tiara manja sambil menyalakan laptopnya.

“Iya, apa mau aku yang ketikin?” Tawarku..

“Hmmm….kamu yang bacain aja deh” jawab kak tiara seraya mencoba mengambil hp dari genggaman tanganku.

Aku reflek menggerakan tanganku menjauh dari capaiannya..
Kak tiara menatapku bingung. Jujur, aku panik.

“Sini hpnya” ucap kak tiara meraih pundakku..

“Mau ngapain?” Tanyaku, jantungku terasa berdebar.

“Kenapa sih?” Tanya kak tiara, bingung.

“Gapapa” jawabku singkat.

“Yaudah sini hpnya” pinta kak tiara lagi sambil menarik lenganku.

Aku tak menjawab, yang bisa ku lakukan adalah menguatkan lenganku..

“Sini ga?!” Kini kak tiara menaikan suaranya.

Aku masih tak menjawab.

“SINI!!” Kak tiara berteriak.

Jujur, aku bingung untuk melakukan apa..

“HAPENYA SINIIN!!!!!” Teriak kak tiara lagi, wajahnya nampak ingin menangis.

“Maaf” ucapku pelan menyadari kesalahnku, namun aku terus mempertahanku hpku.

Kini kak tiara bangkit dan meraih tanganku, mencoba membuka genggamanku menggunakan kedua tangannya. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal karena aku memepertahankan genggamanku dengan kuat, kak tiara menatapku.

“Plis ja” ucap kak tiara dengan wajah memohon, air mata mulai menetes di pipinya.

Pasrah, aku mengendurkan genggaman tanganku, kak tiara segera merebut hpku, menekan tombol di samping untuk menyalakan layar..

Aku, bersama kak tiara, membaca pesan dari intan.

“Kalo aku sayang sama kamu juga, gapapa kan za?” Isi pesan tersebut.

“JABLAY!!!” Teriak kak tiara sangat kencang sambil melempar hpku kuat hingga membentur tembok kamar.

“Kak” panggilku lemah menyadari kak tiara berada di puncak emosinya.

“KAKAK KURANG APA?!!!” Teriak kak tiara lagi, kini ia menatapku dan menangis histeris.

Aku terdiam, bingung untuk melakukan apa.

“KAKAK KURANG APA SIH JA?!!”
Kak tiara kembali berteriak, wajahnya bahkan memerah.

“KAKAK BENCI SAMA KAMU!”
Kini kak tiara memukul lenganku dengan keras.

Ia terus menangis histeris sambil memukul lenganku, seakan meluapkan semua kekesalannya kepadaku.

Lagi – lagi aku hanya terdiam, hanya bisa berharap bahwa emosi kak tiara akan mereda.

“KELUAR!!!”
Kini pukulan tangannya berubah menjadi dorongan.

Aku sejenak menahan dorongannm kak tiara untuk menatap wajahnya, Ia menangis histeris bahkan hingga tersendak.

“KELUAR!!!!” Teriak kak tiara lagi semakin mendorong lenganku.

Tak mau membuatnya semakin emosi, aku segera turun dari kasur, mengambil hp dari lantai, lalu melangkah ke pintu kamar.

“Maaf” jawabku pelan kepada kak tiara sebelum aku melangkah keluar kamar.

Saat pintu baru saja ku tutup, aku mendengar suara langkah kak tiara di dalam kamar ke arahku, mengunci pintu, dan tangisan kak tiara jelas terdengar turun ke bawah di balik pintu.

Hatiku terasa pilu membayangkan kak tiara sedang duduk menangis bersender di balik pintu ini.

Aku menjambak rambutku sendiri, kemudian berjalan menuju sofa.
Sambil duduk, aku memeriksa hpku. Masih bisa menyala namun setengah layar dari tengah ke atasnya berwarna hitam.

Aku menatap pesan dari intan…

“Tolol” hinaku pada diriku sendiri menyesali hal yang sudah ku perbuat.

Entah mengapa justru aku membuka kontak di hpku dan menggunakan layar yang masih menyala untuk mencari sebuah nama…

Kak Vina.

Ya, ingin sekali aku rasanya aku mengadu pada kak vina..

Mungkin benar apa yang di katakan @pumkin , bahwa hanya kak vina yang mampu mengerti perasaanku, setidaknya, dulu ia selalu ada untukku.

Menggunakan layar hp yang masih menyala, aku mencoba mengetik pesan untuk kak vina…

“Kak, ini aku anto, maaf baru ngasih tau nomorku sekarang. Kak vina gimana kabarnya? Selalu sehat kan kak?

Kak, aku mau cerita.. disini aku punya pacar namanya tiara, kayaknya dia seumuran sama kak vina deh..

Tapi sekarang kita lagi berantem, aku ketauan selingkuh. Aku nyesel kak, aku yakin kak vina juga pasti langsung nasehatin aku kan?

Tapi aku janji kak, aku disini bisa hidup mandiri. Walau aku kuliah masih di biayain sama papahnya kakak dan tinggal di rumah pacarku. Senggaknya aku selalu inget apa yang waktu itu kakak bilang sebelum aku pergi ‘biar kamu bisa belajar menghadapi dunia’.

Dan sekarang aku belajar kak, bahwa hal yang paling sulit untuk dilakukan saat kita sedang jatuh cinta adalah tahu diri. Iya, harusnya aku tahu diri bahwa aku udah punya kak tiara yang selalu nolongin aku.

Maaf yah kak kalo tiba – tiba aku nyeritain ini, jujur aku kangen sama semua nasehat kakak”

Pesan yang ku ketik, namun segera ku hapus karena aku sadar bahwa aku belum bisa memenuhi apa yang di katakan oleh pak nuel.

Bersambung