. Owalah Part 22 | Kisah Malam

Owalah Part 22

0
242

Owalah Part 22

Kampus, sekitar jam 3 sore.

“Za, dimana?”
Pesan dari intan.

Saat ini, aku baru saja selesai kelas dan sedang membereskan peralatan kuliahku.

“Ini baru selesai kelas, kamu dimana?”
Balasku.

“Di depan gedung, kamu jadi nganterin aku pulang kan?”

“Jadi dong. Tunggu ya, aku kesitu”

Selesai merapihkan peralatan kuliah, aku segera bangkit dan melangkah keluar gedung.

Di depan gedung.

Intan, terlihat menawan menggunakan kemeja lengan panjang berwarna putih yang nampak sedikit kebesaran, celana panjang berbahan chino warna abu – abu, menggenggam pegangan tote bag dengan kedua tangannya, tersenyum ke arahku.

“Udah lama?”
Tanyaku, membuka obrolan.

“Baru selesai juga kok”
Balasnya tersenyum.

“Eh…yaudah yuk”
Ajakku, gugup.

Intan mengangguk.

Kami berdua melangkah berdampingan, menuju area parkir kampus yang berlokasi tak jauh dari gedung perkuliahan.

Di area parkiran.

“Nih”
Ucapku kepada intan seraya menyodorkan helm kepadanya.

Lagi – lagi, ia tersenyum saat menerima helm dari tanganku. Ia nampak sedikit kesulitan menggunakan helm tersebut.

“Udah, yuk”
Ucap intan saat ia berhasil mengunci kaitan helm di bawah dagunya.

“Eiyaiya”
Balasku cepat karena sempat terlena dengan keindahan wajahnya.

Aku menaiki motorku, membuka step belakang untuk mempermudah intan meletakan tubuhnya di jok motorku. Intan memegang pundakku, dengan hati – hati mengangkat kakiknya hingga pantatnya berhasil mendarat dengan sempurna.

Saat merasakan tote bag intan sudah berada di punggung bagian bawahku, aku menyalakan mesin dan segera memacu motorku pelan meninggalkan area kampus.

Di perjalanan.

Tanganku terasa dingin saat setetes air mendarat di tempurungnya.

“Ntan, ujan”
Umumku padanya.

“Ohiya”
Jawab intan singkat.

“Terobos aja dulu yah? Nanti kalo deres baru kita neduh”
Tawarku, seraya melihat wajah intan melalui pantulan kaca spion motorku.

“Yaudah”
Balas intan, tanpa melihat ke arahku.

Mendapatkan persetujuan dari intan, aku lanjut memacu motorku menembus keramaian jalan. Hingga kami sudah berada di dekat pintu masuk komplek perumahannya. Tempurung tanganku terasa di injak olah puluhan tetes air hujan.

Hujan, marah.

“Za, neduh aja dulu kalo mau”
Ucap intan.

“Tapi udah deket banget”
Aku ngeyel.

“Yaudah deh, ngebut aja gapapa kok”
Balas intan. Sedetik kemudian aku merasakan kedua sisi pinggangku di genggam olehnya.

“Oke”
Jawabku singkat, mempercepat laju motorku saat intan sudah berpegangan.

Di depan rumah intan

“Masukmasuk”
Ucap intan panik seraya mendorong pagar rumahnya terbuka.

Tanpa ragu, aku menarik gas motorku hingga melaju masuk ke area parkir rumahnya.

Seluruh pakaianku terasa lepek menempel pada tubuh. Aku mematikan motor, bergerak turun sambil mengusap air yang ada di wajahku, memutarkan badan melihat ke arah intan.

Jujur, aku terpana melihat betapa menariknya intan yang sedang berusaha melepaskan helm, dengan kemeja putih yang sudah basah sehingga kaos singlet berwarna merah nampak menerawang dari balik kemejanya.

“Masuk dulu za”
Ucap intan seraya menyodorkan helm yang sudah berhasil ia lepas ke arahku.

“Iya”
Balasku singkat, menerima helm yang ia berikan dan meletakannya di atas jok motorku, lalu mulai melangkah mengikuti intan menuju pintu rumahnya.

Di ruang tamu.

“Duduk aja dulu za, eh……maaf”
Ucapan intan terputus saat ia menyadari bahwa aku menatap tubuhnya, intan segera menarik kemejanya kedepan agar tak lagi menjiplakkan kaos dalamnya.

Intan tak berbicara apapun, ia dengan cepat berlari kecil meninggalkanku. Aku berdiri mematung di ruang tamu, menunggu intan untuk kembali.

Beberapa saat kemudian..

Intan kembali, masih menggunakan pakaian yang sama, namun dengan handuk yang menutup bagian depan tubuhnya.

“Nih za”
Ucap intan seraya menyodorkan sebuah handuk yang masih terlipat rapih kepadaku.

“Iya”
Balasku menerima handuk yang ia berikan.

Sejak kembalinya intan, satu hal yang aku sadari adalah ia sama sekali tak melihat ke arahku. Ia bahkan memberikan handuk sambil terus menatap ke samping.

“Za, aku ganti baju dulu yah”
Ucap intan saat aku sedang mengeringkan pakaianku.

“Bentar ntan”
Ucapku saat intan hendak melangkah.

Kini, intan melihatku, wajahnya bingung.

“Aku langsung pulang aja ya”
Lanjutku.

Intan sempat terdiam..

“Serius za? Masih deres loh, atau aku pinjemin jas ujan aja ya?”
Jawabnya.

“Iya, pinjem jas ujan aja”
Balasku seraya memberikan handuk yang sudah selesai ku gunakan.

Intan tersenyum.

“Bentar”
Jawab intan, menerima handuk yang ku berikan, lalu melangkah pergi.

Setelah beberapa saat..

“Nih za, makasih banyak ya”
Ucap intan menyerahkan lipatan jas hujan kepadaku.

“Iya sama – sama”
Balasku.

Aku melangkah ke teras rumah, membuka jas hujan yang intan berikan dan mulai mengenakannya.

“Yaudah ntan, aku duluan yah”
Ucapku.

Intan tersenyum seperti menahan tawa, mungkin ia mendapatkan hal lucu saat melihatku menggunakan jas hujan ini..

Intan mengangguk.

Aku hendak memutar arah badanku.

“Eh…bentar za”
Ucap intan.

Gerakanku berhenti, aku kembali menatap intan.

Intan berjalan ke arahku, memajukan wajahnya, mengecup pipiku.

“Makasih banyak ya”
Lanjutnya.

Aku sejenak diam tersenyum mendapatkan ucapan terimakasih di tambah ciuman di pipiku..

“Sama – sama”
Jawabku.

Intan mengangguk, aku dan intan kemudian melangkah menuju area parkir.

Aku merasakan seperti mengalami de javu saat sebuah mobil berhenti di depan pagar. Mobilnya nandes.
Ia melangkah keluar, sama seperti waktu itu, bersama seorang wanita.
Pintu mobil terbuka, nandes keluar dan segera berlari kecil sambil meletakan tangan di atas kepalanya.

Nandes kini sudah berada di hadapanku.

“Lah, ada elu” ucap nandes kepadaku seraya mengeringkan tangannya.

“Iya bang”
Jawabku.

“Duh…dek pinjem handuknya dong”
Ucap wanita yang berada di belakang nandes kepada intan.

“Hihi..nih kak”
Jawab intan memberikan handuk yang tadi aku gunakan.

Wanita itu tampak segera mengeringkan rambutnya.

“Ini lu mau balik?”
Lagi – lagi, nandes bertanya kepadaku.

“Iya, ga enak bang baju gua basah semua”
Jawabku.

Nandes mengangguk.

“Cil, dek. Masuk duluan gih”
Suruh nandes kepada intan dan wanita yang mungkin pacarnya.

Tanpa menjawab, intan dan wanita itu segera melangkah ke dalam rumah. Nandes sedikit membuka gerbang yang berada di belakangnya.

Mengerti apa yang di maksud oleh nandes, aku segera menggunakan helm dan mendorong motorku keluar.

“Makasih bang”
Ucapku saat melewatinya.

“Sama – sama”
Balas nandes saat aku sudah berada di depan rumah.

Aku menyalakan mesin motorku, nandes mulai menutup gerbang.

“Ohiya bentar”
Ucap nandes saat aku hendak menarik gas.

Aku hanya melihat ke arahnya.

“Jas ujan gua jangan lupa balikin”
Lanjut nandes.

“Ohiya, pinjem dulu ya bang”
Balasku.

Nandes mengangguk.

“Hati – hati lu”
Sambungnya bertepatan saat aku mulai melajukan motorku…

______

Pov Intan.

Aku sedang duduk di teras rumah, menunggu bang nandes yang mulai melangkah ke arahku.

“Ngapain sih bang?”
Tanyaku saat bang nandes berada di depanku.

“Ah? Ga ngapa – ngapain kok”
Jawabnya sambil terus melangkah.

“Ih serius”
Ucapku menahan tangan bang nandes agar ia berhenti melangkah.

Langkahnya berhenti, ia menghadap ke arahku.

“Serius intan”
Balas bang nandes sambil mengusap kepalaku.

“Jangan…….

“Udah, mandi gih sana”
Lanjut bang nandes memotong ucapanku, tangannya kini beralih merangkul untuk mengajakku berjalan bersamanya.

________

Di rumah kak tiara.

“Lah, ke ujanan bang?”
Tanya fadil yang sedang duduk di teras rumah.

“Iya, dingin banget njir”
Jawabku yang sedang melepaskan jas ujan.

Jas ujan terlepas, aku meletakannya di kursi samping fadil.

“Masuk lah”
Ucapku kepada fadil sambil mengeringkan telapak kakikku di keset rumah.

“Sebatang dulu bang”
Jawab fadil menunjukan rokok di tangannya..

Aku hanya mengangguk kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

Di lantai dua, merasa bingung saat menemukan bahwa pintu kamarku terkunci.

“Aah…emmhhh”
Nafasku terhenti saat mendengar jelas desahan kak tiara dari dalam kamar.

Panik, aku segera mengetuk pintu.

“Kak!”
Panggilku.

“Eh….iyaiya..bentar”
Jawab kak tiara, nadanya terdengar kaget mendengar suaraku.

Cukup lama aku menunggu di depan pintu. Jantungku mulai berdebar. Pintu terbuka, yang pertama ku lihat adalah kak nindy berdiri di hadapanku dengan pakaian terlihat di gunakan seadanya.

“Oh kirain.”
Ucapku lega mengetahui bahwa kak tiara ‘bermain’ dengan kak nindy.

“Maaf za”
Ucap kak nindy dengan wajah terus menatap ke bawah kemudian dengan cepat melangkah melewatiku, namun saat ia berada di sebelahku aku segera menangkap tangannya. Kak nindy berhenti melangkah, wajahnya melihatku ragu.

“Gapapa kok kak” ucapku

Kak nindy tersenyum lega.

“Gua mau ke bawah dulu” balasnya.

Aku melepaskan tangan kak nindy, ia segera melangkah menuju tangga. Di dalam kamar, aku menemukan kak tiara sedang berbaring di tengah kasur terbungkus selimut hingga selehernya.

“Yang” panggil kak tiara.

Aku hanya menaikan alis untuk membalas panggilannya.

“Gapapa kan?” Tanya kak tiara.

“Gapapa kok” balasku yang sudah mengerti maksud ucapannya.

Aku melepaskan baju untuk segera mandi.

“Kamu ke ujanan?” Tanya kak tiara lagi.

“Iya, ini mau mandi” jawabku, tanpa melihat ke arahnya.

Aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan hendak menutup pintu.

“Bentar yang” panggil kak tiara.

Aku menghentikan gerakan menutup pintu, justru memajukan kepala ke depan untuk dapat melihat kak tiara.
Kak tiara kini sudah berada dalam posisi duduk di atas ranjang, masih terbalut selimutnya. Sedetik kemudian, selimut terlepas, tubuh telanjang kak tiara terpampang.

Kak Tiara​

Aku menelan ludah. Kak tiara turun dari kasur, dan berjalan pelan mendekatiku..

“Mandi bareng yuk” ucapnya sambil menarik pintu semakin terbuka lalu menempelkan tubuh bagian depannya denganku.

“Yuk” balasku tersenyum.

Aku menarik kak tiara ke dalam kamar mandi menggunakan tangan kiriku, sementara tangan kananku menarik pintu hingga tertutup.

Pintu baru saja tertutup..

“Emhh” suara desahan kami saat kak tiara segera mencumbu bibirku, kedua tanganku ikut bergerak aktif mengelus punggung dan pantatnya.

Tak lama, ciuman kami terlepas.

“Kakak telanjangin yah sayang” ucap kak tiara nakal.

Aku hanya tersenyum.

Kak tiara kembali mencium bibirku, namun kali ini kedua tangannya meraih kaitan celana jeansku, membukanya serentak dengan reseletingku, menarik celanaku kebawah hingga terjatuh di lantai kamar mandi, dan ia melakukan hal yang sama dengan celana dalamku.
Penisku yang sudah menengang langsung terasa menyentuh bagian bawah perutnya.

“Yuk mandi” ucap kak tiara setelah ciuman kami terlepas.

Kak tiara menuntun tanganku menuju bathup yang berada pada pojok ruangan. Ia membuka keran, bergerak masuk dan duduk di dalam bathup, menatapku nakal dengan tatapan genitnya

“Sini” panggil kak tiara sambil menggerakan jari telunjuk memanggilku.

Aku melangkah masuk ke dalam bathup, menurunkan tubuhku setinggi dengan kak tiara, sebelum akhirnya ia dengan ganas kembali menyerang bibirku..

Kami terus berciuman, kini posisi ku bersender di tepian bathup, sementara kak tiara duduk di pangkuanku. Entah berapa lama kami berciuman bahkan hingga air di dalam bathup mulai tumpah keluar membasahi lantai kamar mandi..

Ciuman kami terlepas..

“Isepin dong sayang” pinta kak tiara sambil mengarahkan wajahku ke payudaranya.

Aku mengabulkan permintaanya, sambil terus meremasi pantat kak tiara yang terasa penuh di dalam genggamanku.

“Hihi…gelli…ah” ucap kak tiara manja.

“Eja masuk sarang dulu yah” lanjutnya genit.

Aku tak peduli dan terus melahap payudaranya. Hingga aku merasakan penisku di genggam dan di arahkan menuju ke lubang vaginanya.

“Ahhhh…..” Desah kak tiara panjang saat kepala penisku mulai membelah vaginanya.

Sedetik kemudian, kak tiara menurunkan tubuhnya ke bawah hingga penisku menancap penuh.

“Emh” aku sempat mendesah merasakan jepitan vagina kak tiara. Lalu kembali melahap kedua bukit indahnya..

Kami bersetubuh, kak tiara terus bergerak naik turun mengatur ritme pertempuran, sambil sesekali menjambak kepalaku yang masih terkubur di antara dua bongkah payudaranya. Beberapa menit ke depan yang dapat ku dengar hanyalah desahan kak tiara dan suara cipratan air akibat gerakan persetubuhan kami.

“Ahh…bentar – bentar” ucap kak tiara menghentikan gerakannya dan mendorong kepalaku agar berhenti menyerang payudaranya.

Kak tiara berdiri, membalikan tubuhnya membelakangiku, meletakan kedua tangannya di tembok, memundurkan pinggulnya sedikit menungging..

“Tusuk dong” pintanya nakal sambil melebarkan kedua kakinya.

Aku tersenyum lebar, mengambil posisi berdiri tepat di belakangnya.
Meletakan kepala penisku membelah bibir vaginanya.

“Siap yang?” Tanyaku.

“Iyah” jawabnya lirih.

Aku segera meraih pinggul kak tiara, menariknya mundur sambil memajukan pinggulku ke depan..

“Aahh ampunnnn” racau kak tiara saat vaginanya melahap penisku.

“Ah..ah..teruss sayangg”lanjutnya saat aku mulai menggerakan pinggulku.

Persetubuhan berlanjut, aku menggempurnya kuat menggunakan tenaga pinggul dan kedua tanganku. Suara desahan kak tiara terus mengisi indera pendengaranku, di selingi suara benturan pahaku dengan sekal pantatnya.

“Aaahhhh….lagiiiiiii” teriak kak tiara keras menandakan bahwa ia akan segera orgasme karena vaginanya terasa menjepit penisku.

“Emhhh bareng!” Ucapku mengimbangi..

“Iya..aahh….aaahhh” racau kak tiara saat aku merasakan cairan kenikmatannya membasahi penisku..

Disaat yang bersamaan aku mengeluarkan penisku, mengocoknya cepat hingga cairan spermaku tumpah di pantat kak tiara.

Belum sempat aku mengambil nafas, kak tiara memundurkan tubuhnya bersender pada dadaku.

“Mandinya enak yah sayang” ucap kak tiara manja sambil melihat ke samping sehingga aku mencium pipinya.

“Iya” jawabku singkat sambil tersenyum.

Aku perlahan menarik tubuh kak tiara mundur sambil menurunkan tubuh hingga bersender pada tepian bathup, sementara kak tiara terpangku di atas pahaku.

“Mau mandi lagi?” Tanya kak tiara dengan punggung menempel pada dadaku..

“Mandi beneran kan?” Balasku sambil menjilati jenjang lehernya.

“Terserah hihi” jawabnya.

Aku dan kak tiara pun lanjut mandi, atau tepatnya…mulai mandi.

__________

3 hari kemudian.

Jumat, jam 2 siang.

POV Fadil.

Aku baru saja selesai memindahkan barang – barang kostanku ke dalam kamar yang di sediakan di rumah kak tiara. Ya, setidaknya aku bisa menghemat pengeluarkanku dengan tinggal di rumah ‘Tendes’ ini.

Siang ini, hanya ada aku, haris dan oliv yang sedang berada di sini.

“Lu yakin bang oliv mau main bertigaan?” Tanyaku kepada haris yang sedang duduk di sampingku.

“Yakin coy, malah kadang doi yang minta gua buat ngajak orang laen” jawabnya.

Aku hanya menganga mendengar jawaban haris.

“Jadi gimane? Lu mau ga?” Tanya haris.

“Ya gua mah mau banget bang, tapi gua ngerinya jadi masalah” balasku..

“Selow udeh… Kalo ga gini aja deh, lu tunggu di sini 10 menit, trus abis itu lu masuk, ntar lu liat sendiri aje dia reaksinya gimana, kalo emang lu ragu yaudeh lu langsung cabut aja” ucap haris mengatur rencana.

“Nah boleh tuh boleh” jawabku semangat.

Haris segera berdiri dan hendak melangkah meninggalkanku..

“10 menit ye” ucapnya kemudian berjalan menuju kamarku..

Aku terdiam, menunggu waktu yang terasa lama berjalan, membayangkan momen dimana aku akan menikmati tubuh oliv, salah satu mahasiswa tercantik di angkatanku..

10 menit berlalu, aku segera berdiri dan berjalan menuju kamar. Aku meraih gagang pintu, dengan cepat membukanya untuk dapat menyaksikan apa yang sedang terjadi.

Haris, sudah tidak menggunakan celana sedang duduk di pinggir kasur. Oliv, masih lengkap dengan seluruh bajunya, sedang jongkok membelakangiku, memaju mundurkan kepalanya dengan penis haris di dalam mulutnya.

Mereka berdua sontak melihat ke arahku, wajah oliv nampak terkejut, sedangkan haris tersenyum.

“Eh…sorry – sorry, gua mau ngambil jaket” ucapku untuk memancing reaksi oliv.

Aku memberanikan diri untuk melangkah masuk menuju lemari baju yang berada di samping mereka.

“Dil” tiba – tiba oliv memanggilku.

Aku melihat oliv.

“Gamau ikutan?” Tanya oliv tersenyum sambil terus menggenggam penis haris.

“Serius liv?” Tanyaku, memastikan kebersediaan oliv.

Oliv justru bangkit berdiri dan berjalan ke sampingku.

“Serius kok” ucap oliv tepat di telingaku..

Badanku merinding saat oliv dengan santainya meremas penisku dari luar celana.

“Kalo kata bang haris…..aku lontenya semua anak tendes” lanjut oliv kemudian menggigit daun telingaku.

Bersambung

Daftar Part