. Owalah Part 21 | Kisah Malam

Owalah Part 21

0
244

Owalah Part 21

Pertarungan berlanjut, ritme berubah, daud memberikan tekanan dengan terus mengimbangi jarak pertarungan.

Daud memukul, geri memberikan balasan, namun daud dengan cepat menahan pukulan geri dan kembali menyerang, membuat geri harus terus melangkah mundur untuk menghindari serangan daud.

“Ayo lah, tadi aja bacot mulu lu”
Ucap daud, kembali bergerak maju.

Geri yang nafasnya mulai terlihat ngos – ngosan mengangkat kakinya untuk menendang daud.

‘bagk’

Suara benturan dari tulang kering mereka karena daud lagi – lagi mengangkat kakinya.

“Anjing!”
Keluh geri menahan rasa ngilu di tulang keringnya.

Tak ingin memberikan waktu bagi geri untuk bernafas, daud bergerak maju dan melayangkan pukulan. Geri masih cukup sigap untuk menunduk dan memberikan pukulan balik ke perut daud. Aku menahan nafas saat melihat gerakan daud yang dengan santai memiringkan tubuh, lalu melilitkan tangannya yang tadi memukul untuk mencekik geri.

Sedetik kemudian, kini daud sudah berada di belakang geri. Mencekik lehernya menggunakan lengan. Geri yang nampak tak siap dengan gerakan daud hanya bisa memegangi lengan daud yang sudah mencengkram kencang lehernya.

“Kelar”
Ucapku pelan saat daud mulai memperkuat cekikannya.

“Egggghh!”
Suara dari mulut geri saat ia mulai meronta untuk melepaskan cekikan daud.

Namun geri belum menyerah, ia bergerak ke samping lalu dengan sekuat tenaga melayangkan sikutnya ke perut daud.
Daud terlihat sengaja melepaskan cekikannya, lalu meletakan tangan kirinya untuk menahan sikut geri.

Geri terlihat panik saat menyadari bahwa daud bukan hanya menahan sikutnya, tapi juga menangkap. Tangan kiri daud memegang sikut geri, di saat yang bersamaan, tangan kanan daud sudah melayang cepat untuk memukul wajah geri dari samping.

Pukulan daud mendarat tepat di dagu geri.

“ABISIN UD!”
Teriak haris menyadari momen kekalahan geri.

Tubuh geri terpental akibat pukulan daud, namun ‘pentalan’ tubuhnya tertahan karena daud masih dengan kuat memegang sikut geri.

Pegangan daud di sikut geri memaksa geri untuk tetap berdiri, pandangan geri menerawang ke langit saat daud lagi – lagi memukul wajahnya.

Geri kehilangan ke seimbangan, ia terjatuh. Namun sial baginya karena daud masih memegang sikutnya sehingga tubuh geri terlihat seperti tertahan di udara.

Masih menahan sikut geri, daud menarik kaki kirinya tinggi.

“UD! JANGAN!”
Teriak kak nindy kencang di sampingku.

Daud nampak tak peduli dengan teriakan kak nindy. Daud melepas sikut geri membuat tubuh geri jatuh ke tanah, lalu daud menurunkan telapak kakinya tepat di wajah geri.

Daud menginjak wajah geri dengan keras. Geri yang sudah terlihat lemas hanya bisa memiringkan wajahnya ke samping sehingga pijakan daud mendarat di pipinya.

“Gua yang menang”
Ucap daud tenang lalu mengangkat kaki kirinya untuk kembali menginjak kepala geri.

Geri hanya bisa meringkukan badannya dan meletakan tangan untuk melindungi wajah.
Telapak kaki daud mendarat di keras di atas tangan geri.

Untuk beberapa saat, daud hanya terdiam menatap geri yang sedang meringkuk kesakitan.

Namun bukan geri namanya bila ia mudah menyerah.

Geri dengan cepat bergerak menjauhi daud dan hendak ingin kembali berdiri.
Namun jelas terlihat bahwa geri sudah kehilangan kecepatannya, karena momen selanjutnya yang bisa ia lihat adalah daud yang sudah kembali mendekati dan melayangkan dengkul tepat ke wajahnya.

Geri yang saat itu masih berada dalam posisi duduk terlihat sama sekali tak siap dengan serangan daud. Keras dengkul daud yang sudah di tempa dengan dua seni bela diri itu mendarat sangat keras di wajahnya.

Terlihat jelas cipratan darah dari hidungnya terbang tinggi seirama dengan dengkulan daud. Wajah geri terperanga ke atas, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh ke tanah.

Mulut geri masih menganga saat daud kembali bergerak mendekat..

“UD UDAH!”
Teriak kak tiara yang sepertinya sudah tak tega melihat kondisi geri.

Daud tak peduli, justru kembali dengan keras menginjak wajah geri, kini geri sama sekali tak menghindar..

“Yang! Tolongin!”
Kini kak tiara berbicara kepadaku sambil menepuk keras lenganku..

Daud sedikit menurunkan kakinya sehingga ia menginjak leher geri.

“Leher lu yang gua injek”
Ucap daud tenang.

“Egghhh…”
Suara mulut geri yang nampak kesulitan bernafas akibat pijakan daud.

“Bro, udah bro”
Ucapku kepada daud menyadari bahwa hal yang dilakukan daud bisa berbahaya.

Daud masih sempat menatap geri sebelum akhirnya ia melepaskan leher geri.

“Udah ya? Gausah tengil lagi lu” ucap daud kepada geri lalu mulai melangkah meninggalkan geri.

Lagi – lagi, bukan geri namanya jika ia menyerah.

“Gua belum kelar tot”
Balas geri lemah.

Geri memiringkan tubuhnya ke samping, dan dengan sekuat tenaga berusaha untuk berdiri.

Di sisi lain, bukan daud namanya jika ia memberikan kesempatan melawan bagi musuhnya.

Daud memutarkan badannya, namun di saat itu juga ia melayangkan kaki kirinya ke wajah geri.

‘BAK’

Tempurung kaki daud mendarat sempurna di wajah geri yang saat itu masih berada dalam posisi merangkak.

Kepala dan tubuh geri terpental ke samping, mendarat di tanah sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.

“Mampus lu!”
Ucap haris senang melihat kondisi geri.

Sejenak, kami berlima hanya menatap tubuh tidak berdaya geri, sebelum akhirnya daud mulai melangkah ke arahku.

“Lu yakin bro?”
Tanya daud masih mempertanyaan rencanaku.

“Iya”
Balasku singkat.

Daud mengangguk, kemudian bersampingan denganku berjalan ke arah geri.

Aku dan daud mengangkat tubuh geri, membawanya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa.

“Kak”
Aku memanggil kak tiara yang masih berada di depan rumah.

“Iyaiya”
Balas kak tiara yang nampaknya sudah mengerti dengan maksudku.
Kak tiara segera melangkah ke lantai dua.

Aku merogoh saku geri dan mengambil kunci motornya, lalu kembali ke teras rumah bersama daud dan haris.

“Itu bocah mau lu apain sih ja?”
Tanya haris.

“Mau gua suruh tinggal di sini”
Jawabku tenang.

“Hah?! Ah tolol lu mah, ngapain anjing!”
Protes haris.

“Dia ada masalah sama 5hc dan tripunar, dia tau dimana rumah kita, apa lu mau ngebahayain rumah kita kalo dia sampe ngejual informasi ke 5hc apa tripunar?”
Balasku.

“Tapi dia mau tidur dimane njir, itu kamar yang masih kosong kan bakal anak baru”
Ucap haris.

“Yaelah kalem sih ris. Kamar kan masih lega, anak baru suruh gabung di kamar gua aja kalo engga”
Saud daud mendukungku.

“Enak banget tuh orang dapet kamar sendirian, dia aje yang suruh tidur sama lu”
Protes haris

“Iya, serah lu dah”
Balas daud mengalah.

“Tapi lu selow kan ud?”
Tanyaku kepada daud.

“Selow gua mah bro, asal tuh bocah suruh bawa kasur sendiri aje, najis banget gua sekasur sama dia”
Jawab daud.

Beberapa saat, aku, daud dan haris masih berbicara di teras rumah menjawab semua protes haris terhadap rencanaku. Sementara kak tiara, oliv dan kak nindy sedang sibuk mengobati luka di wajah geri.

“Yang!”
Panggil kak tiara dari dalam rumah.

Aku, daud dan haris sontak melihat ke dalam.

Geri nampak sudah tersadar walau sama sekali belum bergerak dari posisi awalnya. Namun saat melihat wajahku, geri seakan kembali mendapatkan tenaga dan dengan susah payah membangunkan tubuhnya duduk di sofa.

Darah masih mengalir dari dalam hidung geri, namun geri justru mulai mencoba untuk berdiri.

Kakinya goyang, langkahnya tertatih saat ia mulai berjalan mendekatiku. Melihat kondisi geri, aku sengaja sedikit bergeser untuk tidak menghalanginya, geri melangkah melewatiku.

“Mau kemana si bro?”
Tanyaku sambil memutar arah badan.

Geri nampak tak peduli dan terus melangkah ke area parkiran, ia memasukan tangan mencari keberadaan kunci motornya.

“Nyari kunci motor?”
Tanyaku lagi..

Langkah geri berhenti, ia menatapku.

“Jadi keinget kejadian di kamar mandi gua”
Ucapku..

Geri hanya terdiam

“Lu bonyok juga kan waktu itu?”
Lanjutku..

Geri terlihat mulai emosi..

Aku segera melangkah mendekatinya, mengeluarkan kunci motornya dari kantong celanaku.

“Gua gamau sok baik, tapi kalo lu mau tinggal disini, silahkan, asal lu ikutin semua peraturan gua”
Ucapku sambil menyerahkan kunci motornya.

Geri terus menatapku, entah apa yang ia pikirkan sekarang.

Namun tiba – tiba ia tersenyum.

“Najis bagi gua buat tinggal sama lu”
Jawab geri, kemudian lanjut melangkah.

Aku hanya terdiam, sama sekali tak mengira bahwa geri akan sekeras kepala ini..

__________

Sekitar jam 8 malam.

Aku sedang berbaring sendirian di kamar..

“Masalahnya dia ga akan bisa bangun pagi kalo ga aku bangunin za”
Pesan dari intan.

Ya, beberapa jam ini aku sedang asik berbalas pesan dengannya.

“Emang ga masang alarm?”
Balasku.

“Udah, tapi emang dasarnya kebo bang nandes mah hihi”

“Haha, gapapa lah ntan, biar kamu juga jadi rajin bangun pagi”

“Iyasih… Kalo kamu za?”

“Pake alarm, untungnya ga pernah kesiangan sih”
Balasku, tepat ketika pintu kamar tiba – tiba terbuka.

“Temenin kek yang”
Ucap kak tiara manja, melangkah ke dalam kamar membawa laptopnya.

“Ah? Iya kak”
Balasku gugup.

Kak tiara justru tak peduli dengan jawabanku dan duduk di pinggir kasur.

Hpku bergetar, diam – diam ku baca balasan dari intan.

“Bagus deh, eh besok makan di warteg lagi mau za?”
Pesan dari intan.

Mataku melihat ke arah kak tiara yang sedang duduk membelakangiku, jariku bergerak mengusap layar hp untuk membalas pesan intan.

“Iyaiya. ntan, udah dulu ya”
Kirimku.

Tiba – tiba kak tiara bergerak mundur mendekatiku.

“Sini kek yang”
Panggil kak tiara tepat ketika hpku kembali bergetar.

Aku mengambil keputusan untuk mengabaikan pesan dari intan, lalu bangkit dan bergerak mundur hingga punggungku menempel pada senderan kasur.

“Kakak yang ke sini dong”
Balasku pada kak tiara.

Kak tiara tersenyum, lanjut bergerak mundur hingga tubuhnya berada di antara kedua kakiku.

“Lagi ngerjain apa sih kak?”
Tanyaku, sambil memeluk tubuh kak tiara dari belakang.

“Makalah presentasi”
Jawabnya.

Kak tiara yang saat itu sedang menggunakan singlet hitam dengan bawahan celana ketat panjang semata kaki, menempelkan punggungnya di dadaku.

“Mau di bantuin?”
Ucapku, lalu meletakan daguku di pundaknya.

“Engga, kamu temenin aja”
Balas kak tiara menepuk – nepuk tanganku yang memeluk perutnya.

Kak tiara terus mengetik, aku hanya menemani sambil sesekali mengecup leher mulusnya.

Kak Tiara

“Pengen yah yang?”
Tanya kak tiara sadar bahwa penisku yang menempel dengan pantatnya mulai mengeras.

“Hah? Eh..gapapa, lanjut kerjain aja kak”
Balasku.

“Hihi, sabar yah eja sayang”

Kak tiara melihat ke samping sejenak mengecup pipiku lalu lanjut mengerjakan tugasnya. Jujur aku mulai terbawa suasana, tanganku kini mulai mengelus perutnya. Entah setelah berapa lama aku menahan nafsu ini, hingga akhirnya kak tiara menutup laptopnya.

Kak tiara meletakan laptopnya di meja yang berada di samping kasur, lalu mengubah posisi duduknya hingga menghadap ke arahku.

“Sini, puas – puasin sayang”
Ucap kak tiara manja sambil meraih leherku.

Nafsuku sudah menggebu, aku segera bergerak maju dan menyerang bibir indahnya, kak tiara pasrah dan menjatuhkan tubuhnya sehingga kini aku menindihnya.

“Emmmhhh”
Desah kami berdua menikmati nikmatnya percumbuan ini.

Sambil terus beradu lidah, aku meraih bagian bawah singlet kak tiara, menaikannya hingga ke atas payudara. Terbukalah indah payudara kak tiara yang masih terbungkus bh.

Kak tiara mendorong pundakku hingga ciuman kami terlepas.

“Telanjangin aku sayang”
Ucapnya manja sambil sedikit mengangkat punggungnya hingga tak menempel dengan kasur.

Aku tersenyum lebar.

Ku selipkan kedua tanganku di bawah punggung kak tiara untuk melepas kaitan bhnya.

Aku sempat kesulitan..

“Bisa?”
Tanya kak tiara yang nampaknya tersadar bahwa ini adalah pengalaman pertamaku membuka bh wanita.

“Bisa kok”
Jawabku percaya diri.

Kaitan bh kak tiara terlepas, kak tiara segera menarik bhnya ke bawah sementara aku menarik tanganku dari selipan badan kak tiara.

Montok payudara kak tiara terpampang di depan wajahku, aku segera mengecupi bagian puttingnya…

“Ahh….emhh…bentarr jaa”
Kak tiara sedikit mendesah dan mendorong kepalaku mundur..

Puttingnya terlepas dari mulutku, aku melihat wajah sayunya.

“Telanjangin dulu”
Ucap kak tiara manja sambil meraih bagian atas celananya ketatnya.

Aku mengangguk, bergerak mundur hingga wajahku berada di depan selangkangannya. Ku raih bagian atas celana kak tiara, dengan lembut ku turunkan hingga indah kulit pinggulnya mulai terpampang di hadapanku.

Celananya terlepas, kini tinggal celana dalam hitamnya yang menutupi lubang kewanitaan kak tiara, aku meraih bagian atas cdnya, ku turunkan kebawah…

Lubang kenikmatan itu kini berada tepat di hadapanku.

“Sayangg”
Panggil kak tiara mesra.

Aku melihat kak tiara.

“Jilatin, mau?”
Lanjut kak tiara sambil mengusap bibir vaginanya.

“Mau”
Balasku singkat dan dengan segera menurunkan wajahku.

Awalnya aku menjilati bagian luar vagina kak tiara, namun kak tiara justru membuka bibir vaginanya sehingga daging merah di bagian dalamnya nampak di hadapanku.

“Ah….atasan lagii..aaahhh”
Desah kak tiara saat aku menjilati klitorisnya.

Aku terus menjilati sambil sesekali menghisap lembut lubang kenikmatan itu. Kak tiara terus mendesah, tubuhnya meliuk – liuk merasakan kenikmatan. Tangan kiri kak tiara terus menahan vaginanya untuk tetap terbuka, tangan kanannya terasa memijit – mijit kepalaku.

“Ahhh teruss”
Desah kak tiara

Aku semakin semangat memainkan vaginanya.

Entah setelah berapa lama, otot paha kak tiara terasa mengeras, bahkan seperti menjempit kepalaku, tangannya yang berada di kepelaku terasa mendorong agar aku terus memainkan vaginannya..

“Terrrussss ahh terruss”
Desah kak tiara panjang..

Tubuh kak tiara kejang, begitu juga otot di bagian vaginanya yang terasa berkedut tak beraturan.

“Aaaaahhhh”
Teriak kak tiara bersamaan dengan cairan kenikmatannya terasa membanjiri lidahku.

Aku reflek berhenti menjulurkan lidah, hanya memperhatikan vagina kak tiara memuntahkan cairan kewanitaannya itu..
Kak tiara terus mendesah, tubuhnya sedikut meliuk keatas hingga bagian perutnya tak menempel pada kasur.

Sejenak, kak tiara nampak seperti mengempulkan kesadaran. Kedua pahanya tak lagi menjepit kepalaku, tangannya kini megelus rambutku.

“Sini sayangg”
Panggil kak tiara sambil menarik lembut daguku.

Aku menurutinya, kepalaku di bimbing mendekati wajahnya.

“Kamu jijik yah?” Tanya kak tiara tersenyum..

“Ah..engga kok” Jawabku

“Hihi..boong ah” balasnya lalu mengecup bibirku.

“Mau langsung masukin, atau kakak isepin dulu?” Lanjut kak tiara manja.

Aku tersenyum, nafsuku sudah berada di ujung kepala. Segera ku raih penisku dan ku arahkan di depan bibir vaginanya.

“Silahkan sayang” ucap kak tiara sambil melebarkan bibir vaginanya dengan jari tangannya.

“Ah” desahku saat tanpa ragu mendorong pinggul hingga penisku terasa di jepit diding vagina kak tiara.

“Ahhh…iyaaa..lagii” desah kak tiara memintaku untuk mendorong masuk seluruh batang penisku.

Aku mengabulkan permintaannya…

“Aaaaahhh…gede..ejaa gedee”
Kak tiara nampak saat menikmati momen ini.

Tanpa komando, aku mulai mengerakan pinggulku maju mundur menusuk kak tiara.

“Emhh….aaahh.. aaaahh”
Kak tiara semakin tak kuasa mengatur desahannya..

Kepalaku bergerak turun menyerang bibir kak tiara.

“Emmmmhhhh….mmmhhh”
Kini desahan kak tiara tertahan ciumanku..

Entah berapa lama persetubuhan ini terjadi, aku terus mengejot vaginanya, mencium bibirnya, mengusap lembut kulit mulus lehernya.

Nafasku semakin terpacu, orgasmeku akan segera tiba.

Kak tiara nampaknya tersadar dengan kondisiku, ia dengan kuat mendorong dadaku hingga ciuman kami terlepas..

“Aahhhh….siinnniihh…siniiin yaang”
Ucap kak tiara sambil mengenggam kedua payudaranya..

Aku menarik pinggulku hingga penisku keluar, lalu bangkit mengangkangi perut kak tiara.
Kak tiara segera meraih penisku, dengan cepat mengocoknya untuk mengeluarkan spermaku.

“Aahh” desahku saat spermaku muncrat dan tumpah di atas payudara indah kak tiara, bahkan juga mengenai bagian pundak dan lehernya.

Kami sejenak hanya saling bertatapan, namun kak tiara masih terus memijit penisku.

“Aku sayang banget sama kamu ja” ucap kak tiara sambil menarik lenganku untuk kembali menciumnya.

“Aku juga sayang kamu kak” balasku lalu mencium bibirnya.

“Kamu kuliah yang bener, cepet lulus, terus kita langsung nikah yah”. Ucap kak tiara setelah kami selesai berciuman.

Aku hanya tersenyun, entah mengapa ada perasaan bersalah di dalam hatiku.

___________

Ke esokan harinya, jam 10 pagi.

Aku yang sedang berangkat menuju kampus bersama haris menghentikan laju motorku saat berada di depan warung.

“Oit, ga kuliah bang?” Tanya salah satu mahasiswa yang sedang berkumpul.

“Oi dil!” Haris tak menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut, justru memanggil fadil yang sedang duduk di dalam kerumunan.

“Kenapa bang?!” Jawab fadil bangkit berdiri.

Haris degan kuat melemparkan sebuah jaket jeans yang terdapat tulisan ‘Tendes’ di bagian lengan ke tengah kerumunan.
Belasan mahasiwa tersebut sontak berebut untuk melihat nama yang berada di bagian dalam jaket tersebut..

“ANJINGG LU DIL EMANG!”

“GOKIL LU DIL!”

“CE’ES GUA KEREN EMANG DAH!”
Teriak mereka menyoraki fadil yang berhasil bergabung dengan Tendes.

“Thankyou bang”
Ucap fadil tersenyum lebara kepada aku dan haris sambil menunjukan jari jempolnya..

_______

Di kampus.

POV Geri.

“Muka lu ngapa dah ger?”
Tanya seorang teman sekelasku, saat aku hendak melangkah keluar ruangan.

“Ah bacot lu”
Balasku sambil melewatinya..

Namun langkahku langsung terhenti.

“Eh, lu mau kemana?”
Tanyaku..

“Kantin, kenapa dah?”

Aku segera menarik lengannya agar ia berdiri di sampingku.

“Lu dateng ke anak tripunar, tanya yang namanya andre, terus bilang gua mau ngomong sama dia”
Ucapku.

“Ah kaga dah ger, ntar malah kena masalah gua” tolaknya sambil berusaha melepas tanganku.

“Yaelah anjing, culun banget sih lu. Tolong si elah, dari pada gua bikin ganteng muka lu” ancamku.

Mendengar ucapanku, ia segera memundurkan wajahnya.

“Iya ger iya, sorry – sorry” balasnya panik sambil melindungi wajah mengira bahwa aku ingin memukulnya.

“Awas aje lu kalo sampe kaga ngomong ke dia” ucapku, melepaskan lengannya.

“Selow ger, ini gua langsung ke sana dah”
Ia dengan segera melangkah meninggalkanku.

Bersambung

Daftar Part