. Owalah Part 19 | Kisah Malam

Owalah Part 19

0
276

Owalah Part 19

4 hari setelah pertemuanku dengan pak tama.

Jumat, jam 7 malam.

“Pertigaan di depan belok kanan yah ud”
Kak tiara yang sedang duduk di kursi belakang bersama kak nindy, memberi arahan kepada daud yang duduk di belakang stir mobil.

Mobil berbelok, hingga kami tiba di depan sebuah villa yang memiliki bangunan dan area cukup luas.

“Bentar yah” ucap kak tiara kemudian turun dari mobil.

Kak tiara melangkah masuk melewati gerbang villa, seorang pria dari dalam sebuah rumah kecil di samping villa segera melangkah menghampiri kak tiara.

“Ohiye bro, kabarin haris jangan lupa” ucap daud kepadaku.

Aku meraih hpku, mengirimkan lokasi keberadaan kami kepada haris melalui grup Tendes.

“Langsung masuk aja a”
Terdengar suara pria dari depan mobil.

Aku melihat ke sumber suara, ternyata penjaga villa dan kak tiara sudah berada di pintu gerbang.
Daud mengangguk, lalu melajukan mobil memasuki area parkiran villa.

“Ahh capekk” ucap kak nindy yang kini duduk sendirian di kursi belakang sambil merenggangkan kedua tangannya.

Daud mematikan mesin mobil, membuka pintu dan melangkah keluar.

“Sini tasnya kak tiara” ucapku pada kak nindy meminta tas kak tiara yang ia tinggalkan di dalam mobil.

Kak nindy meraih tas kak tiara kemudian memberikannya kepadaku. Kompak, aku dan kak nindy segera membuka pintu mobil di sebelah kami masing – masing lalu melangkah keluar.

Kak tiara yang rupanya sudah berada di sampingku segera meraih tasnya yang berada di tanganku.

“Maaf non, makan malamnya mau langsung di sediakan?” Tanya penjaga villa yang baru saja selesai menutup gerbang.

“Hmm ntar aja deh, jam 9” balas kak tiara.

“Baik non, kalo gitu saya permisi dulu”
Izin sang penjaga villa, menundukan badan lalu melangkah masuk ke dalam rumah kecil yang berada di samping villa.

“Gede banget villa lu kak” ucap daud yang rupanya sudah mulai berjalan menuju pintu villa.

“Iya dong, ayok yang” balas kak tiara sambil meraih tanganku dan mengajakku mulai berjalan

Kami berempat mulai melangkah memasuki villa. Daud berada di paling depan, kak nindy setelahnya, sementara aku dan kak tiara berada di paling belakang.

Setelah beberapa saat..

Kami berempat sudah selesai meletakan tas kami di kamar masing – masing. Villa ini memiliki 4 kamar yang cukup luas, kamar pertama yang berada di lantai 1 akan digunakan oleh para peserta, kamar ke 2 yang juga berada di lantai 1 sengaja di kosongkan.

Aku, haris dan daud mendapatkan tempat di kamar ke 3, kak tiara, kak nindy, dan oliv di kamar ke 4.

Dengan alasan ‘keakraban’ kami memang sengaja membagi kamar berdasarkan jenis kelamin. Sehingga mungkin aku tidak akan bisa tidur bersama kak tiara selama acara penataran ini.

Saat ini, aku dan daud sedang duduk di halaman villa, sedangkan kak tiara dan kak nindy sedang sibuk berfoto – foto di area pekarangan yang masih terlihat sejuk di tanami pepohonan.

“Eh haris oliv gimana bro?” Tanya daud di sebelahku.

“Tau dah, hp gua di atas. Ah paling bentar lagi juga nyampe” balasku.

“Bro, gua mau minta ijin nih sama lu” ucap daud.

Aku sontak melihat ke arahnya.

“Gua boleh minum ga?” Lanjutnya.

“Terserah lu itu mah ud, asal jangan rese aja”

“Kaga kok, langsung tidur gua kalo abis minum” balas daud.

Aku mengangguk.

Kemudian kami sejenak terdiam, menimati rokok kami masing – masing, menyimak keseruan kak tiara dan kak nindy yang masih sibuk berfoto.

Hingga akhirnya terlihat sebuah sorotan lampu motor menerangi gerbang villa.

“Haris noh” ucapku kepada daud.

Tanpa disuruh, penjaga villa segera keluar dari ‘rumah’nya dan membuka pintu gerbang.

Haris segera melajukan motornya dan berhenti tepat di sebelah mobil kak tiara. Oliv yang nampak membawa tas gitar di belakangnya segera turun dari motor, melepas helm, kemudian melangkah bersama haris ke arah kami.

“Anjing macet banget coy” keluh haris saat sudah berada di halaman villa.

“Asli, gua yang bawa mobil aja begah” jawab daud.

Aku melihat oliv yang masih sibuk melepaskan tas gitar.

“Sini liv” ucapku kepada oliv sambil berdiri lalu membantunya.

“Makasih bang” jawab oliv.

“Iya, kalo mau istirahat atau naro tas langsung ke atas aja” ucapku kepada oliv dan haris.

“Yuk liv” ajak haris kepada oliv.

Oliv mengangguk kemudian mereka berdua melangkah masuk ke dalam villa.

Aku meletakan gitar bersender pada tembok, kemudian kembali duduk di samping daud.

“Itu haris bawa gitar” tanya kak tiara yang ternyata sudah selesai berfoto.

Aku dan daud hanya mengangguk..

“Emang ada yang bisa main?” Tanya kak tiara lagi.

Lagi – lagi aku dan daud tak menjawab, justru saling bertatapan.

“Eh nin, liat ke belakang yuk, siapa tau ada yang bagus” ucap kak tiara kini kepada kak nindy.

“Yuk” balas kak nindy semangat.

Kak tiara dan kak nindy segera melenggang mengitari villa menuju ke area belakang.

“Cewek kalo soal foto ga ada capeknya ya?” Tanya daud heran.

“Yaelah, kayak baru tau aja lu ud” balasku sambil tersenyum.

Aku dan daud pun lanjut menikmati dinginnya malam di area puncak ini..

Hingga setelah beberapa saat…

“Jaaa, sini bentar deh!” Panggil kak tiara dari dalam vila.

Aku segera bangkit dan melangkah menuju sumber suara, ternyata kak tiara sudah menunggu di ruang dapur..

“Makan malem mau siapain sekarang yang?” Tanya kak tiara.

Aku tak menjawab, justru melangkah mundur untuk dapat meilihat ke arah halaman villa.

“OI MAU MAKAN SEKARANG GA LU?” Teriakku..

“Boleh boleh!” Jawab daud dari halaman vila.

“Buruan ja, laper banget gua!” jawab haris dari lantai 2.

Aku kembali melihat kak tiara, kak tiara mengangguk menandakan bahwa dia sudah paham dengan jawabanku…

Tak lama.. kami berenam sudah berkumpul di ruang makan, menimati hidangan yang di sajikan oleh penjaga villa.

Puas mengisi perut, aku, haris dan daud segera melangkah menuju halaman untuk menghilangkan rasa asam di mulut kami. Sementara para gadis nampaknya memilih untuk masuk ke kamar..

Aku, haris dan daud pun berbincang di halaman villa, di temani suara permainan gitar haris yang tak pernah selesai memainkan sebuah lagu, sementara daud asik meneguk minuman beralkoholnya.

Setelah cukup lama, daud meminta izin untuk tidur.

“Ahh gua duluan juga dah ja, pegel banget badan gua” ucap haris yang rupanya juga merasa letih menikmati kemacetan kota saat berangkat tadi.

“Nih gitar mau lu mainin ga? Kalo ga biar gua taro dalem nih” tawar haris sambil mengarahkan gitar di tangannya padaku.

“Sini dah” jawabku meraih gitar tersebut.

“Yauds, duluan ye”
Haris melangkah masuk ke dalam villa.

Sendirian di halaman, aku iseng membuka hp untuk mencari chord lagu yang belakangan ini sering ku dengarkan.

Chord terbuka, ku letakan hp di atas paha, lalu mulai memainkan gitarku.

“If you’re my only friend, can you stay up on my pain?
The memories and the smells of her remains, in my memories.
Sitting down, with cigarettes of ours.

Take it easy for a little while, you know he did everything good so far
Our fragmented love and cry, we suddenly turn into dust and die…

I said it oooh…
Dont make it rain, it might for little while..

“Sendirian za?”
Tiba tiba suara kak nindy membuatku berhenti bernyanyi.

“Ehhh….iya, loh lu blum tidur kak?.” jawabku balik bertanya, kepada kak nindy yang sedang berdiri di pintu.

“Belum” jawab kak nindy singkat.

Kak nindy melangkah kemudian duduk di sampingku.

“Lanjut dong” pinta kak nindy.

“Gua yang main gitar, lu yang nyanyi” balasku.

“Ih, gua gabisa nyanyi”

“Sama haha”
Jawabku tertawa.

Kak nindy hanya tersenyum.

Aku meletakan gitar bersender pada tembok diantara kursi yang kami duduki.

Sejenak kami hanya terdiam, menunggu satu sama yang lain untuk membuka obrolan.

“Za, gua boleh ngomong sesuatu ga sama lu?” Akhirnya kak nindy berbicara.

Aku melihat ke arah kak nindy.

“Tapi lu jangan marah atau gimana yah” tanya kak nindy lagi

Aku mengangguk.

Ekspresi kak nindy berubah, kini ia terlihat ragu untuk berbicara.

“Kalo gua bilang, sebenernya gua suka tiara gimana?” Ucap kak nindy.

Mulutku sedikit terbuka saat mendengar ucapannya.

“Ehh..

“Plis, jangan marah za, gua juga berani ngungkapin ini karena di suruh daud” kak nindy memotong ucapanku.

“Daud?” Tanyaku.

“Iya, dia bilang, dia yakin kok kalo lu pasti bisa ngertiin perasaan gua”

Aku masih terdiam, sama sekali tak tau harus mengatakan apa, sedangkan kak nindy menundukan kepala, seakan merasa terganggu dengan tatapanku.

Setelah beberap saat.

“Gua tidur duluan ya za” ucap kak nindy berdiri.

“Temenin gua ngobrol dulu, mau?” Balasku.

Kak nindy sebentar membalas tatapanku, lalu kembali menurunkan tubuhnya duduk.

“Bukannya lu pernah deket sama si geri yah kak?” Tanyaku.

“Iya” balas kak nindy singkat.

“Trus kok lu bisa suka sama kak tiara juga?”

“Gua juga gatau za, gua sebenernya bingung gua ini……

“Sssttt”
Aku memotong ucapan kak nindy

Aku menarik nafas, meyakinkan diriku untuk mengucapkan..

“Kalo emang gua harus berbagi kak tiara sama lu, gua rela kok kak”

Kak nindy menaikan pandangannya, ia menatapku heran.

“Lu ngomong gini bukan karena daud udah cerita masa lalu gua kan za?” Tanya kak nindy.

“Kalo iya kenapa?” Balasku.

Kak nindy tak menjawab, ia kembali menunduk, aku segera meraih tangannya..

“Kak, gua bisa hidup sampe sekarang karena bantuan orang lain. Apa salah kalo sekarang gua pengen bantuin lu?” Aku memegang erat tangan kak nindy.

“Kak tiara tau soal perasaan lu ke dia?” Lanjutku.

“Jangan za” balas kak nindy, wajahnya terlihat panik.

“Plis, percaya sama gua kak, gua cuman pengen nolongin lu”
Aku memohon.

Kak nindy menatap mataku, lalu mengangguk lemah.

_____

Ke esokan harinya..

Aku tersadar saat sinar matahari terasa menyinari wajahku. Aku membangunkan tubuh terduduk, dan medengar suara air dari dalam kamar mandi. Aku melihat ke sekitar, ternyata hanya tinggal haris yang masih tertidur pulas.

“Mandi lu ud?” Teriakku, memastikan bahwa yang sedang mandi adalah daud.

“Yoi, seger coyy” balas daud.

Aku sejenak mengumpulkan nyawa, lalu bangkit dari kasur melangkah keluar kamar.

“Pagii sayangg” sapa kak tiara yang baru saja naik ke lantai dua..

Aku hanya tersenyum mengangguk membalas sapaannya..

“Baru juga pengen di bangunin, eh itu haris masih tidur?” Tanya kak tiara sambil mengintip ke dalam kamar.

“Iya” balasku singkat.

“Bangun oiii, sarapan!” Teriak kak tiara berusaha membangunkan haris.

Aku tak peduli dengan teriakan kak tiara, justru hendak melangkah menuju kamar mandi.

“Eh, kamu mau ngapain?” Tanya kak tiara menahan lenganku.

“Cuci muka” jawabku malas.

“Abis itu langsung sarapan…..ehiya kamu ga sarapan yah”

Aku hanya tersenyum dan lanjut melangkah ke kamar mandi.

“Yaudah itu haris bangunin, suruh sarapan”
Pesan kak tiara sebelum ia melangkah kembali ke lantai satu.

Di dalam kamar mandi, aku mencuci wajah, mengucek mata agar segera mendapatkan kesadaraan. Setelah beberapa saat, aku keluar dari dalam kamar mandi lalu kembali ke kamar.

“Ris, bangun woi”
Ucapku, berusaha membangunkan haris sambil menggerakan lengannya.

“Alah, dia mah mesti di giniin bro” saut daud yang ternyata sudah selesai mandi dan berpakaian

Daud dengan kuat melempar pakaian kotornya ke arah haris, aku reflek mengambil satu langkah mundur untuk menghindari lemparan daud.

“Aaahh anjingg” rengek haris tanpa membuka mata.

“Bangun woi, kebo banget lu!” Teriak daud.

“Bacot” balas haris, justru menarik selimut hingga menutupi wajahnya.

“Buset, orang apa bukan sih lu?” Ucap daud menggelengkan kepala.

“Biarin aje dah ud”
Aku menyerah, mengakui kegigihan haris mempertahankan nyenyak tidurnya, kemudian melangkah keluar dari kamar, lalu turun ke lantai satu.

Di lantai 1..

“Hihihi gantian kak, aku yang megangin”

“Gausah, aku mah bisa berenang”

Suara kak nindy dan oliv yang ternyata sedang asik berenang di area belakang villa.

Jujur, aku terkesima melihat pemandangan yang ada, oliv dengan bh berwarna merahnya terjiplak jelas di balik kaos putihnya yang sudah basah kuyup.

“Heh, mata nya!”
Suara kak tiara.

Aku melihat ke arah kak tiara, ternyata ia sedang menikmati sarapan di meja makan. Aku hanya tersenyum kemudian duduk di samping kak tiara, menikmati teh manis panas yang sudah di sediakan.

Selang beberapa detik, daud ternyata juga sudah menuruni tangga. Sama sepertiku, ia menghentikan langkahnya saat melihat ke arah kolam renang.

“Oi mata” aku meneriaki daud.

Daud sontak melihat ke arahku, tersenyum lalu ikut duduk bersama aku dan kak tiara.

“Ga ikut renang lu kak?” Tanya daud.

“Ntar aja sama eja”
Kak tiara melirik ke arahku dengan senyumannya.

“Payah dah pasutri” ejek daud.

_________

Sekitar jam 5 sore.

“Sekarang lu pada berdiri trus perkenalin diri masing – masing!” Perintah haris kepada para peserta penataran yang saat ini sedang duduk di tengah lapangan.

Aku, daud, kak nindy dan kak tiara sedang duduk di sebuah saung yang berada di pinggir lapangan.

Para peserta penataran berdiri dan melangkah ke arah kami.

“Nama gua hendro bang, semester 1”
Ucap peserta pertama yang kini sudah berbaris.

“Gua fadil, semester 1”
Peserta kedua.

“Deny, semester 1”

“Ardi, semester 3”

“Faisal, semester 3”

Ucap peserta ke 3 hingga 5 secara bergantian.

“Lu pada kenapa mau masuk tendes?” Tanya daud yang berada di belakangku.

“Karena gua ngerasa nyaman nongkrong sama anak tendes bang” jawab peserta yang benama faisal.

“Ada yang kenal nama cewek di samping gua?” Tanyaku, merefrensikan kak nindy yang sedang duduk di samping kiriku.

Para peserta sejenak terdiam..

“Kak nindy bang” jawab peserta yang bernama fadil.

Aku mengangguk lalu melihat ke arah haris, haris membalas tatapanku kemudian menggerakan kepalanya seakan menyuruhku untuk terus berbicara..

“Gua reza, mungkin lu semua udah tau kalo gua ketua tendes, dan saran gua buat siapapun yang bakal keterima, lu harus kenal sama semua anak tendes, dan kalo lu mau gabung cuma biar keliatan keren doang, mendingan lu cabut dari sekarang” balasku.

Aku memeberikan waktu sejenak bagi para peserta untuk mencerna ucapanku, lalu melihat ke arah haris kemudian mengangguk.

“Balik ke tengah lapangan gih lu pada” perintah haris kepada para peserta.

Para peserta kompak berbalik badan dan melangkah ke tengah lapangan.

“Mau mulai berantem yah yang?”
Tanya kak tiara yang sedang memelukku dari belakang..

“Iya, kakak kalo gamau nonton, masuk ke villa aja temenin oliv” balasku.

Kak tiara hanya menggelengkan kepala.

“Oke, sekarang buat lingkaran, gua yakin lu udah pada paham harus ngapain” ucap haris kepada para peserta.

Para peserta sontak melangkah membuat lingkaran.

“Peraturannya cuman satu, kalo lu udah ga kuat, bilang ampun trus minggir dari tengah lapangan”
Haris memberikan instruksi pada para peserta.

“Ngerti ga?” Lanjut haris .

“Ngerti bang” jawab para peserta kompak.

Kelima peserta penataran mulai menaikan tangannya masing – masing, bersiap untuk bertarung.

“SIKAT!” Teriak haris memulai pertarungan.

Para peserta mulai bergerak maju, lingkaran mengecil, pertarungan di mulai.

Sulit untuk memperhatikan pertarungan karena para peserta saling memukul dengan begitu liarnya.

“Ngentot!!”

“Anjinng!”

Hanya suara – suara makian yang dapat terdengar dari tengah lapangan.

“WOI! LU RIBUT LAH!” Teriak haris kepada seorang peserta bernama fadil yang rupanya masih berdiri diluar lingkaran, nampak kebingungan menyaksikan pertarungan.

“Iyaiya bang” jawab fadil melangkah maju.

Fadil mulai masuk ke area pertarungan, tiba – tiba seorang peserta melayangkan pukulan ke wajah fadil, fadil dengan santainya menunduk lalu memberikan pukulan lurus ke perut peserta tersebut.

“Aduh anjing!” Sungut peserta tersebut, lalu ambruk memegangi perutnya..

Fadil bergerak maju mendekati peserta tersebut.

“Udah dil udah, ampun” ucap peserta tersebut yang nampaknya mengenal fadil.

Fadil berhenti melangkah, namun tiba – tiba tubuhnya terdorong saat sebuah tendangan dari peserta lain mendarat sempurna di bagian samping pinggangnya.

Fadil dengan segera mengganti arah menghadapnya, lalu kembali bergerak maju menghadapi peserta yang baru saja menendangnya.

Tiba – tiba fadil dengan cepat menaikan tangannya sebatas leher, tubuhnya pendek menunduk.

Hal yang ku sadari dari sikap fadil adalah, tangan kirinya terkepal menyamping, tangan kanannya terbuka ke depan..

“Silat yah?” Tiba – tiba kak nindy menebak sikap bertarung fadil.

“Kayaknya” balasku singkat.

“Jelas banget silat itu mah” saut daud..

Aku kembali memperhatikan fadil, kini ia tinggal satu lawan satu dengan seorang peserta yang ku ingat bernama faisal.

Faisal, dengan sikap bertarung ala kadarnya melangkah maju dan mulai menyerang fadil. Fadil nampak seperti menari sambil terus melangkah ke belakang menghindari pukulan faisal.

Tiba – tiba fadil berhenti melangkah mundur, dengan satu gerakan cepat ia memukul bagian dagu faisal menggunakan telapak tangan kirinya yang terbuka.

Kepala faisal terdorong ke belakang, fadil dengan cepat merapatkan posisi dan gantian menyerang faisal. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, faisal nampak kesulitan menahan serangan fadil. Hingga akhirnya fadil dengan cepat meletakan kaki kirinya menjegal langkah kaki faisal, kemudian memukul dada faisal kencang menggunakan tangan kanannya..

Faisal kehilangan ke seimbangan dan terjatuh.

Aku pun baru menyadari bahwa sejak awal pertarungan, fadil selalu tersenyum..

Fadil bergerak maju, faisal nampak panik dan mencoba untuk berdiri. Namun fadil dengan cepat melayangkan kakinya ke depan, mendarat tepat di dada faisal. Faisal kembali terjatuh, kali ini fadil segera meletakan dengkulnya menumpu dada faisal, fadil menarik tangannya bersiap memukul, faisal panik dan berusaha melindungi wajahnya..

“Ampun dil ampun!” Teriak faisal panik..

Fadil masih tersenyum, kemudian melangkah mundur lalu sedikit membungkukan badannya memberikan hormat kepada faisal.

“Boleh juga tuh bocah ud” ucapku, melihat aksi pertarungan fadil.

“Bisa ribut si emang kalo diliat dari gerakannya mah” jawab daud..

“Udeh – udeh, sekarang ngumpul lagi lu pada” ucap haris menyatakan bahwa pertarungan telah selesai..

Para peserta nampak bersungut – sungut kembali ke tengah lapangan.

“Oke, sekarang lu pada gua ijinin buat mandi dan siap – siap makan malem. Abis makan malem gua minta lu semua balik ke sini lagi, karena kita bakal ada acara api unggun” lanjut haris memberikan instruksi pada para peserta.

Para peserta sontak bernafas lega, lalu satu persatu mulai melangkah meninggalkan lapangan.

_______

POV Kak nindy.

Sekitar jam 9 malam.

Aku dan oliv sedang duduk di balkon kamar, menyaksikan acara api unggun yang sedang berlangsung di tengah lapangan.

“Kak, ke bawah yuk” ajak oliv.

Oliv berdiri kemudian meraih tanganku.

“Duluan deh liv, kakak mau cuci muka dulu” jawabku.

Oliv melepas tanganku, lalu melangkah ke dalam kamar. Selang beberapa detik, aku bangkit dari kursi kemudian ikut masuk ke kamar.

“Ra, ke bawah yuk” ajakku pada tiara yang sedang berbaring di atas kasur, sibuk menatap layar hpnya. Sementara oliv sudah berada di pintu.

“Duluan aja deh, lagi seru” jawab tiara tanpa melihat ke arahku.

Mendengar jawaban tiara, oliv segera membuka pintu lalu melangkah keluar kamar. Sedangkan aku hanya mengangguk dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahku.

Sesaat aku menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, mencuci wajahku menggunakan cream wajah yang selalu aku gunakan setiap hari.

Selesai mencuci wajah, aku sebentar bercermin, melihat wajah seorang wanita yang beberapa tahun lalu masih bisa bersikap ceria – seandainya bori masih ada.

Tak ingin larut terlalu lama di dalam ingatanku, aku segera mengeringkan wajahku menggunakan handuk yang tersedia, kemudian berjalan keluar kamar mandi.

“Mau turun ra?” Tanyaku pada tiara saat aku melihatnya tengah menggenggam pintu kamar.

“Eh…engga kok” jawab tiara.

‘krek’

Tiba – tiba, aku dapat mendengar dengan jelas suara gagang pintu yang berada di genggaman tiara terkunci.

Seketika jantungku berdebar..

“Ra?” Panggilku, bingung.

Tiara justru tersenyum, perlahan ia mulai melangkah mendekatiku.

“Eja udah ngasih tau aku kok nin” ucap tiara, semakin mendekat.

Semua bulu di tubuhku seakan merinding saat tiara meletakan tangan kirinya di belakang leherku…

“Ra…emmmm” ucapan ku tertahan.

Aku sama sekali tak dapat mengerti apa yang aku rasakan saat tiara dengan lembut menarik leherku ke depan, mengarahkan bibirku untuk bertemu dengan bibirnya..

Kami berciuman.

Kak Tiara​

Jantungku semakin berdebar, aku bahkan menutup mata dan mengepalkan kedua tanganku merasakan bibir tiara yang terus melahap bibirku.

Kami terus berciuman..

Bahkan tiara mulai mendorong tubuhku ke belakang hingga punggungku menempel pada tembok..

Beberapa saat, hanya suara kecupan bibir kami berdua yang dapat ku dengar.

Perlahan, aku mulai menguasai perasaanku. Tanganku tak lagi mengepal, mataku perlahan terbuka. Yang dapat kulihat, hanyalah bagian samping wajah tiara dengan pipinya yang menempel pada hidungku..

Kami terus berciuman, aku memberanikan diri untuk meletakan kedua tanganku di pinggang tiara.

Tiba – tiba tiara bergerak ke depan, membuat tubuh kami saling menempel, payudaraku bertemu dengan payudaranya.

Tubuhku terasa semakin panas, nafasku tak beraturan, namun aku justru meletakan kedua tanganku melingkar memeluk tiara di belakang perutnya, menariknya erat agar tubuhnya semakin bertemu dengan tubuhku.

’emmmah’
Suara desahan kami berdua saat tiara melepaskan ciumannya.

Tiara menatapku tersenyum.

“Kamu cantik banget nin” ucap tiara.

Aku ikut tersenyum.

“Kamu juga ra” balasku.

’emhh’
Suara desah kami saat tiara kembali mencumbu bibirku..

“Emmmh”
Aku sedikit terpekik saat merasakan tiara meremas lembut bagian paha atasku.

Terus berciuman, kini tiara sedikit menarik tubuhku hingga punggungku tak lagi menempel dengan tembok.

Tiara meletakan kedua tangannya tepat di pantatku, lalu meremasnya pelan memberikan perasaan yang aneh di dalam tubuhku.

Sambil terus berciuman dan meremasi pantatku, tiara menarikku semakin mendekat kasur.

Tubuhku terasa lemas saat tiara dengan mudahnya menjatuhkanku berbaring di atas kasur…

Tiara menatapku nakal, kemudian mulai merangkak naik ke atas kasur.

“Kalo disini, aku yang ngajarin kamu nin” ucap tiara tersenyum.

Tiara merangkak hingga wajahnya tepat berada di atas wajahku.
Entah mengapa, aku justru memajukan kepalaku untuk segera kembali merasakan ciuman tiara.

Kami lanjut berciuman, namun tiba – tiba tubuhku seketika merinding saat merasakan geli di sekitar payudaraku..

“Emmmmhhh” desahku tertahan ciuman saat tiara mulai meremas lembut payudaraku dari luar baju.

Remasannya semakin intens, aku sudah tak dapat lagi berfikir..
Mengikuti insting, aku meletakan kedua tanganku di pantat tiara meremasnya pelan, lalu menariknya ke bawah.

Tiara pasrah menjatuhkan pinggulnya.

Aku merasakan kenikmatan tersendiri saat merasakan bagian vaginaku seakan tertekan dengan bagian bawah perut tiara..

Entah setelah berapa lama, dan setelah berapa banyak cairan ludah kami yang tertukar, tiara melepaskan ciumannya, namun ia terus meremasi payudaraku.

Ingin sekali rasanya aku kembali berciuman dengan tiara, bukan hanya itu, aku justru mulai memajukan pinggulku agar vaginaku terasa semakin tertekan dengan perut bagian bawahnya.

Tiba – tiba tiara menaikan pinggulnya, melepaskan tangan kanannya dari dadaku, lalu bergerak ke bawah dan mendarat tepat di bagian vaginaku..

“Raa” panggilku lemah..

Tiara justru tersenyum, ia meletakan jari telunjuk tangan kirinya di depan bibirku.

“Ahh…” Desahku pelan saat merasakan vaginaku di tekan tiara.

“Enak kan nin? Hihi” tanya tiara.

“Ahh….aah” aku tak menjawab, justru semakin mendesah akibat rasa gatal di selangkanganku terasa hilang berganti dengan kenikmatan akibat jari tiara.

Tiara terus memijat vaginaku dari luar celana, aku yang sudah berada di dalam kenikmatan justru ikut meletakan tanganku di selangkangan..

Namun tiba – tiba tiara menghentikan gerakan jarinya lalu menyingkirkan tanganku.

Tubuhku terasa bergetar saat merasakan vaginaku bersentuhan langsung dengan jari tiara..

Ya, kali ini tiara memasukan tangannya melalui lubang pinggang celana dan celana dalamku.

“Hihi, kamu basah banget sayang” ucap tiara lembut.

“Aaahh raaaaaa” desahku kencang saat tiara menggosokan jarinya di permukaan vaginaku..

“Sssst”
Desis tiara lalu kembali menempelkan bibirnya menciumku.

Aku semakin mendesah tak karuan. Saat ini, bibirku terus bercumbu dengan tiara, sementara vaginaku terus digosok dengan jari – jarinya.

Tiba – tiba aku merasakan tangan kananku di raih tiara, ia mengarahkan tanganku hingga menyentuh dengan bagian tubuh yang kenyal, payudaranya.

Tanpa disuruh, aku dengan semangat mulai memijat payudara tiara, bahkan tangan kiriku seakan tak mau kalah sehingga aku memijat kedua payudaranya..

“Emmmhh”
Kini tiara juga ikut mendesah..

Sedetik kemudian, aku merasakan vaginaku di masuki oleh jari tiara. Aku sempat panik, namun tiara justru memasukan lidahnya ke dalam mulutku.

“Emmmmmmh” desahku semakin tertahan akibat permainan lidahnya.

Larut dalam permainan tiara, aku justru ikut menggerakan lidahku sehingga lidah kami terasa sedang bertarung melilit satu sama lain.

Tak lagi kupedulikan jari tiara di dalam vaginaku yang justru mulai bergerak mengaduk lubang vagina.
Jujur, aku mulai merasa nikmat akibat gerakan jarinya di saat aku mulai mencoba untuk pasrah.

Permainan jari tiara menyebabkan perasaan ngilu dan geli di dalam vaginaku, namun entah mengapa rasa ngilu dan geli tersebut menimbulkan perasaan nikmat yang bahkan menjalar dari bagian kaki hingga ke atas perutku.
Ditambah lagi dengan rasa geli akibat permainan tangan kanan tiara di payudara, di lanjutkan dengan nikmat cumbuan di bibirku..

Entah setelah berapa lama, aku tak peduli, yang ku tau hanyalah perasaan nikmat di tubuhku, sambil terus meremas kedua bongkahan payudara tiara.

Tiba – tiba aku merasakan seperti ada sesuatu yang bergerak di perut dan dengkulku.
Perasaan tersebut terus bergerak dan seakan bertemu tepat di bagian vaginaku..

“Eemmmhhh” aku semakin mendesah kencang.

Tiara justru mempercepat permainan jarinya.

Tubuhku terasa bergetar, kakiku seakan kejang, otot di tubuhku terasa mengeras, mataku dengan sendirinya menutup..

“Eeeeeemmmmmmhhhhhh”
Aku mendesah kencang saat merasakan sesuatu keluar dari vaginaku, sesuatu yang terasa hangat dan basah mengalir menuju ke permukaan vaginaku..

Aku orgasme.

Tiara melepaskan permainan jarinya, sejenak masih menciumku lalu akhirnya menjauhkan wajahnya.

Nafasku tak beraturan, tubuhku terasa panas, namun selangkanganku jelas basah.

“Enak yah nin?” Tanya tiara tersenyum.

Aku tak menjawab.

Walau masih ngos – ngosan, aku segera menarik leher tiara untuk kembali berciuman dengannya, namun….

“Kak? Kok di kunci sih?” Suara oliv dari balik pintu kamar sambil sesekali mengetuknya.

Tiara dengan cepat melepaskan ciuman kami.

“Iya liv, emang kenapa?!” Balas tiara.

Tiara segera bangkit dan melepaskan tubuhku..

“Kata bang reza disuruh pada ke bawah kak” jawab oliv.

“Ohiyaiya, sebentar”
Jawab tiara.

Tiara turun dari kasur, menatapku, menggerakan mulutnya seakan mengatakan..

“Aku belum” gerakan mulut tiara sambil menyentuh area vaginanya.

Aku sama sekali tak menanggapi ucapan tiara. Dengan nafas yang belum teratur, sekuat tenaga ku angkat tubuhku duduk.

Menyadari bahwa celanaku basah kuyup, aku dengan cepat turun dari kasur untuk segera menggantinya.

Bersambung

Daftar Part