. Owalah Part 17 | Kisah Malam

Owalah Part 17

0
250

Owalah Part 17

“Mati lu anjing!” Teriak salah satu anak 5hc sembari melayangkan tendangannya di sela – sela kerumunan.

Entah sudah berapa lama kami : tendes, hanya berdiri menyaksikan geri yang sudah meringkuk tak berdaya di tengah kerumanan, terus di hadiahi pijakan dan tendangan dari puluhan anak 5hc.

“Bro, udah bro” akhirnya aku berusaha menghentikan mereka.

Salah seorang dari anak 5hc melihat ke arahku.

“Lah lu siape ngatur – ngatur?!” Ucapnya menantang, teman – temannya masih sibuk menendangi geri.

“Buset, mau diramein nih?!” Teriak haris mengangkat suara sambil mengambil satu langkah ke depan.

Mendengar teriakan haris, semua anak 5hc sontak menghentikan aktivitasnya kemudian menatap ke arah kami. Sejenak, mereka terlihat berbicara satu sama lain, aku tidak dapat mendengar ucapan mereka.

Hingga seseorang anak 5hc yang ku kenal mengambil satu langkah ke depan, keluar dari kerumunan.

“Pinter – pinter jaga kepala aja dah lu pada” ucapnya.

Aku dan haris sontak terdiam mendengar ucapan bang roni.

“Kalo semuanya terserah gua mah udah gua abisin lu pada” lanjut bang roni.

Roni sebentar menatap kami, kemudian mulai melangkah mundur bersama anak 5 hc lainnya, meninggalkann geri yang masih tergerletak tak berdaya dengan posisi meringkuk melindungi kepala.

Setelah anak 5hc sudah berada cukup jauh, kami mulai maju ke depan untuk melihat kondisi geri.

Wajahnya sudah di penuhi darah akibat sobekan besar di bagian alis matanya, ia bahkan sudah kehilangan kesadaran.

“Kostannya di mana kak?” Tanyaku pada kak nindy yang sedang berjongkok memegang pundak geri untuk memeriksa keadaannya.

“Gatau za” jawab kak nindy tanpa melihat ke arahku.

“Bawa ke dokter aja” lanjutnya justru mengambil keputusan.

Daud, haris dan belasan mahasiswa lainnya hanya terdiam menunggu jawabanku.

Aku melihat daud, ia juga melihat ke araku lalu menaikan kedua pundaknya, mengisyaratkan bahwa ia tak dapat memberikan masukan.

“Bawa kerumah dulu aja kali ya?” Aku akhirnya memberikan suara.

“Yakin lu?” Balas haris ragu.

“Udeh bawa ayok ris” saut daud mendungkung keputusanku.

Haris dan daud, di bantu oleh beberapa mahasiswa lainnya mulai mengangkat geri dan membopongnya menuju ke arah motor kami.

“Sama reza aja nin” ucap daud kepada kak nindy saat kami sudah berada di dekat motor.

Daud dan haris kemudian berbonceng tiga, meletakan geri di tengah mereka, sementara kak nindy menaiki jok belakang motorku.

“Bukannya gua udah ngomong yah kak, jangan nemuin geri lagi?”
Ucapku kepada kak nindy, di dalam perjalanan menuju rumah kak tiara.

“Iya, tapi tadi kejadiannya juga pas dia lagi maksa buat nganterin gua za”

“Tapi lu ga kenapa – napa kan kak?”

“Ehm, iya..gapapa” jawab kak nindy, pelan.

Hingga akhirnya kami tiba di rumah kak tiara, aku membantu haris dan daud untuk membawa geri dan meletakannya berbaring di sofa ruang tamu.

“Ih, itu darahnya!” Ucap kak tiara yang baru saja datang dari arah ruang makan, kaget melihat kondisi geri.

“Bentar deh” lanjut kak tiara kemudian membalikan badan dan mulai melangkah ke arah ruang makan.

Melihat kak tiara melangkah, aku segera mengikutinya. Ternyata kak tiara terus melangkah menuju lantai dua, aku terus berjalan di belakangnya.

Di kamar, aku yang datang belakangan melihat kak tiara sedang membuka laci meja tv, mencari sesuatu.

“Nyari apa sih kak?” Tanyaku, lalu berjalan ke belakang kak tiara.

“Perasaan waktu itu disini ada kotak P3K deh” jawab kak tiara, tanpa melihat ke arahku.

Kak tiara hendak berjongkok untuk memeriksa laci yang berada di paling bawah, namun aku segera memegang kedua pundaknya, lalu memutarkan badannya menghadap ke arahku.

Kak tiara menatapku, bingung.

“Inget omonganku yah kak” ucapku.

Kak tiara tersenyum.

“Iya sayang, kakak cuman mau nolongin dia kok, kan kasian berdarah gitu” jawabnya.

“Tapi….

“Jangan mau di ajak ngobrol, trus kalo dia ngedeketin, langsung pergi aja, ya kan?” Potong kak tiara mengulangi ucapanku kemarin.

Aku tersenyum.

Kak tiara memajukan wajahnya dan mengecup bibirku sejenak.

“Kakak bakal nurut sama kamu kok sayang” ucapnya, tersenyum.

Kak tiara berbalik kemudian menurunkan badannya sembari membuka laci meja yang paling bawah, lanjut mencari keberadaan kotak P3K yang menurutnya ada di laci meja tersebut.

Aku justru melihat sebuah kotak kecil putih di dalam laci atas yang belum sepenuhnya tertutup, menjulurkan tanganku melewati kak tiara dan meraih kotak tersebut.

“Ini apa?” Ucapku.

Kak tiara melihat ke atas.

“Ohiya, ish oon banget sih aku” jawab kak tiara sambil bediri sehingga tanganku berada di samping lengannya.

Kak tiara meraih kotak p3k dari tanganku, lalu membelokan badannya sehingga kini aku berada di sampingnya.

“Ke bawah yuk” ajak kak tiara.

Aku mengangguk. Kak tiara mulai melangkah keluar kamar, aku mengikuti langkahnya.

Tepat ketika kami melewati meja makan, oliv yang sedang duduk sendirian melihat ke arahku.

“Bang, boleh ngobrol sebentar?” Ucap oliv.

Aku menghentikan langkah, melihat ke arah kak tiara. Kak tiara ternyata juga sejenak berhenti, melihat ke arahku kemudian sedikit tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.

Aku menarik kursi yang berada di seberang oliv, lalu menurunkan badanku terduduk.

“Kenapa?” Tanyaku kepada oliv.

Ia menatapku ragu.

“Sebenernya aku ada masalah geri” jawabnya.

“Boleh tau masalahnya?”

Oliv sejenak terdiam, nampak enggan untuk menjawab pertanyaanku.

“Waktu itu aku lagi deket sama anak 5hc, trus tiba – tiba geri dateng dan mereka berantem”

“Emang lu ada hubungan sama geri?”

“Awalnya sih engga, mangkanya gua juga bingung kenapa geri tiba – tiba mukul anak 5hc itu”

Jujur, aku merasa kasihan kepada oliv menyadari apa yang mungkin telah geri lakukan kepadanya.

“Ya karena lu cantik” ucapku, enteng.

Ekspresi wajah oliv berubah, kini ia menatapku bingung.

“Saran gua cuman satu, lu lagi deket sama haris, jadi mending lu gausah tebar pesona lagi kemana – mana, lu lebih pantes di sayangi dari pada di kagumi”
Entah bagamana aku bisa mengucapkan kata – kata itu.

Mulut oliv sedikit terbuka saat mendengar ucapanku, sepertinya kata – kataku berhasil mengenai perasaannya.

“Apalagi sekarang lu udah ada disini, walau lu belum jadi bagian dari tendes, tapi…..

“EH ANJING, LU PIKIR LU GOKU? LUFFY? APA SAITAMA? AH GUA INJEK NIH MUKA LU!”

Ucapanku terhenti saat mendengar suara teriakan haris dari ruang tamu, aku dan oliv segera bangkit dan melihat ke arahnya, haris nampak sedang berusaha mendekati geri yang kini sudah terduduk di sofa, namun gerakan haris di tahan oleh daud.

Aku dengan cepat melangkah ke ruang tamu, berdiri di samping haris dan daud, berhadapan dengan geri.

“Haha, apa kabar to?” Tanya geri dengan suara parau, saat aku baru saja tiba di hadapannya.

“Gausah tengil ger, lu bukan siapa – siapa disini” jawabku.

Entah apa yang ada di fikiran geri, ia justru sekuat tenaga berusaha berdiri, kemudian melangkah tertatih tepat ke hadapanku.

“Yaelah to, lu aje ribut sama gua sini” ucap geri.

Geri semakin bergerak mendekat, bahkan daud mulai meletakan tangannya menahan dada geri.

“Ayoklah to, minimal biar gua inget perjuangan gua yang berhasil nikmatin keluarga lonte lu” lanjut geri.

Mendengar ucapannya, aku justru tersenyum, kemudian meraih kerah bajunya, dan dengan sekuat tenaga melayangkan pukulanku ke arah wajahnya.

‘buk!’

Pukulanku mendarat telak dan sempurna, menyebabkan darah dari dalam mulut geri muncrat keluar dan mengenai wajahku.

Tubuh geri terpental ke belakang, dan mendarat dengan punggungnya berbenturan dengan bagian bawah sofa.

Geri kembali kehilangan kesadaran, lalu tubuhnya jatuh menyamping menyebabkan kepalanya terbentur lantai.

“MASIH UNTUNG LU GUA TOLONGIN!” Teriakku.

Aku hendak melangkah ke depan untuk kembali menghajar geri, namun langkahku tertahan saat merasakan cekikan lengan daud di leherku.

“Oi, mau bunuh anak orang lu bro?!” Tanya daud berbisik sambil menarik leherku ke belakang.

Merasakan cekikan lengan daud, aku dengan sekuat tenaga menggerakan tubuh hingga berhasil melepaskan cekikannya.

“Ja, kalem ja kalem” ucap daud kini berusaha menahan pundakku.

Aku terdiam, berusaha menenangkan diri sambil terus menatap geri.

Setelah beberapa saat.

“Liv, sini liv!” Panggilku kepada oliv saat aku sudah dapat meredakan emosiku.

“Lu tau kostannya dia kan?” Tanyaku kepada oliv saat ia sudah berada di ruang tamu.

Oliv hanya mengangguk lemah.

“Lu anterin dah nih bocah” ucapku, entah kepada siapa.

“Biar gua yang ngurusin udah bro, tapi lu ke sana dulu gih” jawab daud berusaha mengusirku.

Menyadari maksud daud yang berusaha mengusirku agar aku tidak kembali emosi, aku segera melangkah menuju ruang makan..

“Bang, tapi gua takut” ucap oliv lirih saat aku melewatinya.

Langkahku terhenti, aku melihat oliv.

“Kasih tau gua atau haris kalo dia berani macem – macem lagi” jawabku, berusaha tenang.

Aku lanjut melangkah, menaiki tangga dan menurunkan tubuhku terduduk di sofa lantai dua. Tak peduli dengan himbauan kak tiara untuk tidak merokok di dalam rumah, aku mengeluarkan rokok dari dalam kantong lalu menyulutnya.

Tak lama, kak tiara datang menyusulku, ia terlihat ragu dan perlahan duduk di sampingku.

Kak tiara menggenggam tanganku, aku melihat ke arahnya.

“Jangan marah lagi yah sayang” ucapnya, dengan wajah memohon.

Aku berusaha tersenyum. Kak tiara menggenggam tempurung tanganku menggunakan kedua tangannya.

“Maaf”
Entah kenapa aku justru meminta maaf.

Kak tiara tersenyum, menaruh tanganku di atas pahanya, meletakan kepalanya bersandar di pundakku.

“Kamu mau apa aja, malem ini kakak layanin” ucap kak tiara.

Mendengar ucapannya, aku justru tersenyum lebar.

“Ah kakak yang mau kali?” Tanyaku.

“Ih, emang kamu gamau?”
Kak tiara tersenyum nakal.

“Sebenarnya ada yang mau aku omongin sih kak”

“Yaudah tapi ngomongnya di kamar aja yah?”
Kak tiara meletakan tanganku tepat di selangkangannya.

Aku tersenyum.

“Bentar deh” jawabku.

Aku berdiri, berjalan ke kamar mandi, mematikan rokokku dan membuangnya ke tong sampah, lalu berjalan menuju kamar..

“Sini” ucapku saat sudah berada di depan pintu, kepada kak tiara yang masih terduduk di sofa.

Kak tiara bangkit dari sofa, lalu berjalan ke arahku sambil menjulurkan kedua tangannya seakan ingin segera memelukku. Aku justru dengan cepat masuk ke dalam kamar lalu membaringkan tubuhku di kasur.

Kak tiara menyusul, lalu menindihku hingga empuk badannya terasa di sekujur tubuhku.

Kak Tiara​

“Mau ngomong apa sih sayang?” Tanya kak tiara, kemudian mengecup bibirku.

“Masalah kak nindy sama oliv”
Aku melingkarkan tanganku melewati tubuh kak tiara, mendarat di bagian belakang pingganya.

“Kenapa? Takut geri aneh – aneh ya?”

Aku mengangguk, sedikit mengusap punggungnya.

“Oliv bukannya sama haris?” Tanya kak tiara..

“Iya, tapi kak nindy?”

“Tau tuh, kakak udah suruh dia sama daud aja, tapi dia gamau..atau kamu mau sama dia juga yang?”

Nafasku terhenti saat mendengar ucapannya.

“Apaansih kak” protesku.

“Hihi, biar dia kenalan sama si eja”

Aku merasakan kak tiara menekan pinggulnya sehingga penisku berdesakan dengan permukaan selangkangannya.

“Kak…” Panggilku lirih..

“Ssst”

Kak tiara meletakan satu jarinya di bibirku, lalu menurunkan tubuhnya hingga wajahnya berada di depan selangkanganku..

“Kakak buka yah?” Tanya kak tiara seraya meraih kaitan celanaku.

Aku tersenyum, mengangguk.

Sambil terus menatapku dengan senyuman nakalnya, kak tiara melepas kaitan celanaku, aku sedikit menaikan pinggulku saat kak tiara menarik celanaku, begitu juga dengan celana dalamku…

Hingga terpampanglah penisku di depan wajahnya..

Penisku terasa nyaman saat kak tiara mulai memijitnya, namun rasa nyaman tersebut hilang digantikan kenikmatan saat kak tiara mulai memasukan penisku di dalam mulutnya…

“Ahh kak” desahku menikmati sensasi penisku bergesekan dengan bibir dan rongga mulutnya.

Tiga perempat dari batang penisku berada dalam mulutnya, kak tiara menarik kepalanya ke atas, tiba – tiba kak tiara memajukan kepalanya bahkan hingga batang penisku sepenuhnya menghilang..

“Emhhhh” desahku merasakan sensasi ngilu saat kepala penisku terasa bertabrakan dengan rongga kerongkongannya..

Kak tiara beberapa kali mengulanginya, aku yang sudah terbawa suasana meletakan tanganku di belakang kepala kak tiara, mengikuti ritme gerakannya..

Hingga setelah beberapa saat akhirnya kak tiara mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya..

“Enak yang?” Tanya kak tiara tersenyum sambil menggenggam penisku dan menggerakan tangannya naik turun..

“Iyaa” jawabku, jujur.

Kak tiara melepaskan penisku, lalu bergerak mundur menuruni kasur, kemudian mulai melepaskan pakaiannya. Tak mau kalah, aku juga mengangkat tubuhku terduduk lalu melepas baju dan celanaku..

“Sayaang” panggil kak tiara manja saat ia sudah telanjang lalu merangkak ke atas kasur.

Aku tersenyum, menjulurkan tanganku meraih lengannya lalu menariknya mendekat. Aku terus menarik kak tiara sambil bergerak mundur hingga punggungku bersender pada sandaran kasur..

Kak tiara menaikan tubuh dan meletakan kedua dengkulnya di antara tubuhku.

Melihat payudara kak tiara terpampang di depan wajahku, aku segera menyerangnya dengan mulutku..

“Ihhh, bentarr” protes kak tiara sambil mendorong kepalaku.

Seranganku berhenti, kak tiara mengganti pijakannya sehingga kini ia berjongkok dengan kedua kaki berada di antara tubuhku.

Kak tiara meraih penisku, memasukan kepala penisku ka lubang vaginanya, memegang kedua pipiku dan mengarahkan untuk melihat ke arahnya, menurunkan tubuhnya sambil mencium bibirku…

“Emhhhh” desah kami berdua saat penisku sepenuhnya masuk ke dalam lubang vaginanya.

Sejenak kami berciuman, sambil kak tiara mulai menaik turunkan tubuhnya.

“Aaah….sayaanggg..” desah kak tiara saat ciuman kami terlepas.

Aku segera menyerang indah payudara kak tiara, sambil meletakan tanganku di kedua pinggulnya untuk membantu gerakan tubuh kak tiara.

“Ahhh…emmhh…teruss”

Aku semakin bersemangat menikmati kenyal payudara kak tiara, bahkan kedua tangan kak tiara kini berada di belakang kepalaku, mendorong wajahku untuk terus memainkan payudaranya..

Persetubuhan kami berlanjut, aku melepas payudara kak tiara, kak tiara dengan cepat menyambar bibirku..

“Emmmh” desah kak tiara tertahan dipadukan dengan suara benturan paha atasku dengan pantatnya..

Hingga setelah beberapa saat, kak tiara melepaskan bibirku namun tak memundurkan wajahnya sehingga hidung kami masih bertemu.

Kak tiara mempercepat gerakan tubuhnya..

“Nyampeeeeee…..aaahh” desah kak tiara panjang.

Tubuhnya berhenti bergerak, berganti dengan getaran tak beratur menyambut cairan kenikmatannya yang terasa memandikan penisku di dalam vaginanya.

“Aaaahhh”
Kak tiara masih mendesah panjang, ia meletakan kedua tangannya di atas pundakku.

“Emhh…hah..” nafasnya tak teratur, aku memberikannya waktu sejenak.

“Lemes banget” ucap kak tiara lemah, dengan hidung masih menempel.

“Istirahat dulu?” Tanyaku.

Kak tiara justru mengecup bibirku.

“Lanjut aja sayang, tapi kamu yang genjot yah” ucapnya nakal.

Aku tersenyum, mengambil alih permainan dengan menjatuhkan tubuh kak tiara ke samping, namun tangan kak masih memelukku.

Kini aku yang menindihnya, penisku yang sempat terlepas kembali ku arahkan ke bibir vaginanya…

“Siap kak?” Tanyaku sambil sedikit memasukan kepala penisku ke dalam vagiannya..

“Iyahh, sini cium” jawab kak tiara, meletakan kedua tangannya di belakang leherku, menariknya lembut sehingga kami kembali bercumbu.

Sambil menikmati permainan lidahnya, aku mendorong pinggulku sehingga penisku kembali membelah vagina kak tiara.

“Emhhhh” kak tiara mulai mendesah, aku mulai menentukan ritme gerakan pinggulku.

Aku mulai mengenjot kak tiara dengan kencang, bahkan lebih kencang dari biasannya.

“Emhhhh….mmmhhh” kak tiara mendesah keras, namun tertahan dengan ciuman kami..

Aku melepas ciumanku, berfokus untuk mempercepat gerakan pinggulku..

“Ahhhhhhh…..aaaaaahh” desahan kak tiara semakin keras, ia memejamkan mata, tangannya kini beralih meremas kuat sprei kasur.

Gerakan pinggulku semakin cepat dan dalam.

“AAAHHHH….TERUS NDREE!!”

Sontak, gerakan pinggulku berhenti menyadari kak tiara baru saja salah menyebut nama..

“Emhhhh, ja?” Tanya kak tiara lirih, nampaknya ia belum tersadar akan kesalahannya.

“Ndre?” Balasku singkat.

“Eh….enggaa…engga, bukann..”
Kak tiara panik.

Aku bergerak mundur, kak tiara dengan cepat bangkit dan meraih tanganku.

“Engga jaa, ga gituu….maaf, bukan gitu” ucap kak tiara bingung, sambil menahan tanganku..

Aku tersenyum kesal menggelengkan kepala, tanganku menahan pundak kak tiara agar ia tak lagi mendekatiku.

“Udah ya, sekarang kakak tenang dulu, pake baju, baru kita ngomong” ucapku sambil menggerakan tangan yang di genggam kak tiara.

“Jaaa, engga…kakak ga maksud gituu, maaf” balas kak tiara memohon.

“Iyaa, udah mangkanya kakak tenang dulu”
Aku semakin bergerak mundur, turun dari kasur.

“Jaaa plisss”
Balas kak tiara sambil kembali merangkak ke arahku.

“Tenang dulu kak!!” Ucapku membentak, sambil mendorong tubuh kak tiara kembali ke tengah kasur.

Kak tiara menatapku sayu, air matanya menetes membasahi pipi.

“Maaf, jangan marah” ucapnya pelan.

“Diem dulu, pake baju”

“disitu” jawab kak tiara lirih sambil menunjuk ke lantai yang berada di bawahku.

Aku melihat ke bawah, meraih pakaian kak tiara, menjulurkan tangan menyerahkannya. Kak tiara meraih pakaiannya dan mulai berpakaian, begitu juga denganku.

Setelah berpakaian, aku menarik nafas sejenak untuk meredakan emosiku.

“Kakak masih sayang sama andre?” Tanyaku, masih berdiri di pinggir kasur..

“Engga” jawabnya singkat.

“Trus kenapa kakak nyebut nama dia?”

“Gatau”

Entah kenapa, aku merasa kesal mendengar jawaban singkatnya.

“Yaudah gini, gapapa kan kalo aku ga tidur di sini dulu?”

Kak tiara menatapku..

“Kamu jangan kemana – mana ah!!” Tangis kak tiara pecah, ia dengan cepat bergerak mendekatiku dan meraih tanganku..

“Engga kok, aku……

“GA!!” Bentak kak tiara kencang memotong ucapanku sambil memeluk tubuhku erat.

“Maaf ja, maaf!” Lanjutnya.

Aku hanya terdiam, sebentar menatap langit memikirkan apa yang harus ku lakukan..

“Iyaiya, sekarang kakak tidur aja, aku mau ngerokok….

“Gaboleh!!!” Potong kak tiara lagi dengan suara masih sedikit membentak.

“Yaudah kalo gitu aku minta maaf”

Tangisan kak tiara berhenti, ia mengendurkan pelukannya dan meletakan wajahnya di hadapanku.

“Plis ja” ucap kak tiara benar – benar memohon..

“Engga kok, aku minta maaf karena blum bisa buat kakak lupa sama andre, aku pacar kakak, ini tugasku”

“Engga kok ja, kakak….

“Sssst”
Aku memotong ucapannya.

“Sekarang kita tidur aja yah”
Lanjutku.

Kak tiara sedikit tersenyum, kemudian mengangguk walau pipinya masih di banjiri air mata.

Aku menaikan tanganku untuk mengusap air matanya, namun kak tiara dengan cepat menarik kepalanya kebelakang lalu menghapus air matanya sendiri menggunakan lengannya.

Kak tiara menariku ke tengah kasur, aku menurut dan merebahkan tubuhku di sampingnya.

“Maaf yah ja”
Kak tiara menaruh kepalanya di atas dadaku.

“Ga” jawabku singkat.

Kak tiara sontak menatapku, aku juga melihatnya kemudian aku tersenyum..

“Rese” ucap kak tiara dengan wajah cemberut namun meletakan tangannya di atas perutku lalu mengusapnya..

Bersambung

Daftar Part