. Owalah Part 16 | Kisah Malam

Owalah Part 16

0
276

Owalah Part 16

Siang, di dalam gedung perkuliahan.

Aku baru saja melangkah masuk ke dalam kelas, menemukan segerombolan mahasiswa sedang berkumpul di bagian depan.

“Oi ger, isi absen nih, pak burhan kaga ada” seorang mahasiswa berkaca mata yang sedang berkumpul memberitahuku bahwa dosen tidak hadir.

Aku melangkah menuju gerombolan mahasiswa yang sedang berkumpul mengantri mengisi absen, beberapa orang dari mereka sontak menyingkir untuk memberikanku kesempatan mengisi absen duluan.

“Kenapa ga ngabarin dari tadi si lu” keluhku karena kesal sudah menunggu lama untuk mengikuti kelas ini.

“Yeh gua juga baru tau coy” balas mahasiswa berkaca mata tersebut saat aku sedang menulis nama dan nomor mahasiswaku di dalam kertas absen.

“Eh, cewek lu ngapa noh diem mulu” lanjutnya, aku sudah selesai mengisi absen.

Aku melangkah keluar dari gerombolan mahasiswa, menggerakan pandanganku dan menemukan oliv yang seperti biasa sedang duduk di pojokan kelas, kemudian berjalan mendekatinya.

“Udah ngisi absen?” Tanyaku saat sudah berada di dekat oliv.

“Udah” jawabnya singkat tanpa melihat ke arahku.

“Lu masih berani ngejutekin gua?” Kini aku sudah berada tepat di hadapannya.

Oliv mengangkat wajahnya, memandangku dengan tatapan kesal.

“Maaf ger” balasnya pelan.

Aku menaikan alis, kemudian bergeser dan duduk di atas meja yang berada di samping oliv.

“Lu udah makan?” Tanyaku.

Oliv tak menjawab, ia hanya menatapku diam dengan eskpresi heran.

“Makan yuk” ucapku lagi.

Aku turun dari atas meja, sedikit tersenyum kemudian meraih lengan oliv untuk mengajaknya berdiri.

“Bentar” jawab oliv menurut namun meminta waktu sejenak untuk meletakan hp ke dalam tasnya.

Aku melepaskan lengannya, oliv berdiri kemudian mengambil satu langkah ke sampingku.

“Yuk” ucapku, mulai melangkah mundur menjauhi oliv.

Oliv mengangguk lemah, kemudian ikut melangkah seraya aku memutar tubuhku dan berjalan keluar kelas.

Aku terus berjalan bersama oliv, bukan ke kantin namun ke arah parkiran kampus.

“Makan dimana?” Tanya oliv heran saat menyadari arah langkah kami.

“Cari makan diluar aja, gapapa kan?” Balasku sambil melihatnya yang berjalan disampingku.

“Gapapa” jawab oliv singkat.

Aku dan oliv berangkat menuju ke sebuah tempat makan yang berada di luar kampus, tempat makan yang mungkin dikategorikan cukup mewah bagi khalangan mahasiswa perantau seperti diriku.

Setibanya di sana, aku dan oliv duduk berhadapan lalu memesan makanan kepada pramusaji yang dengan sendirinya datang menghampiri kami.

“Ngomong – ngomong lu kenapa si pengen gabung tongkorngan gitu?” Tanyaku membuka obrolan setelah memestikan bahwa pramusaji yang menerima pesanan kami sudah pergi.

“Gapapa, pengen aja” jawab oliv.

“Ya kenapa? Apa biar keliatan keren dan gaul aja gitu?”

“…….” Oliv terdiam, sepertinya aku berhasil menebak isi kepalanya.

“Yaelah liv, liat gua, gua bukan anak tongkrongan tapi semua cowok di kelas nurut sama omongan gua” ucapku, sombong.

Oliv menatapku heran setelah mendengar ucapanku.

“Lu beneran gatakut yah ger kalo mereka rame – rame nyamperin lu?” Tanya oliv.

“Nah itu dia kuncinya, kalo emang mereka rame – rame nyamperin gua, berarti jelas kan kalo mereka itu sebenernya cuman kumpulan orang – orang lemah”

“Tapi lu ga takut?”

“Engga lah” jawabku cepat, aku melirik ke kanan, melihat seorang pramusaji membawa nampan hendak mengantarkan makanan kami.

“Seekor singa ga pernah takut buat ngelawan 100 domba, liv.” Lanjutku, tersenyum percaya diri kepada oliv, tepat ketika makanan kami tiba.

Aku dan oliv menghentikan percakapan, mulai menikmati makanan kami dalam diam, hingga aku merasakan hp di saku celanaku bergetar.

Ku raih hp di celanaku menggunakan tangan kiri, membuka pesan yang baru saja ku terima.

“Lagi di kelas”
Pesan dari nindy, membalas pesan pertanyaanku tadi pagi.

Hanya menggunakan tangan kiri, aku mengusap layar hp untuk mengetik pesan balasanku.

“Yaudah, kuliah aja dulu”
Kirimku.

“Gaada dosen”
Balasnya cepat.

“Loh sama, trus sekarang mau langsung pulang?”
Ketikku, sambil melahap makananku menggunakan sendok di tangan kananku.

“Jam 3 ada kelas lagi”

Alisku mengerenyit saat menyadari bahwa nindy terkesan tak ingin bersmsan denganku.

“Udeh kena omongannya si culun pasti nih” ucapku dalam hati mengingat nindy memiliki jaket yang sama dengan anto.

“Oh yaudah, baliknya gua anterin lagi ya”
Kirimku.

“Gausah”
Balasnya singkat

“Jam 5 gua tungguin di depan gedung”
Balasku memaksa.

Kesal, aku segera memasukan hpku ke dalam saku celana.

“Kenapa sih ger?” Tanya oliv yang nampaknya menyadari kekesalanku.

“Gapapa, abis ini kita langsung ke kostan ya” balasku.

Oliv nampak terkejut dengan ajakanku.

“Gua gabisa ger” ucapnya pelan.

“Kenapa si?” Aku mulai emosi.

“Ditempat les gua ada ujian”

“Yaelah, ijin dulu gabisa apa?”

“Gabisa, plis ger, buat hari ini aja kok” ucap oliv, memohon.

“Ah anjing lah” sungutku, menyerah dengan permohonan oliv.

Tak lagi berselera, aku segera memanggil pramusaji untuk membayar makananku.

“Semuanya jadi 76 ”
Ucap sang pramusaji.

Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu lalu menyerahkannya.

“Sebentar yah”
Ucap sang pramusaji lalu melangkah pergi untuk mengambil uang kembalian.

“Nih ger” ucap oliv tiba – tiba sambil menjulurkan selembar uang 50 ribuan kepadaku.

“Gausah udeh, ini juga pake uang lu yang kemaren” aku menolak uang pemberiannya.

“Maksudnya?” Tanya oliv bingung sambil menarik tangannya.

“Uang yang kemaren gua pinjem, selow ntar tetep gua ganti” ucapku sambil berdiri lalu melangkah menuju sang pramusaji yang sedang berjalan ke arahku.

“Kembalinya 24ribu, makasih banyak yah mas”
Ucap sang pramusaji sembari memberikan uang kembalian kepadaku.

Aku mengangguk kemudian melihat ke arah oliv yang masih terduduk menatapku.

“Udah ayo” ucapku.

Oliv segera berdiri dan berjalan ke arahku, kemudian kami melangkah ke area parkiran dan segera berangkat menuju kampus.

Tanpa sedikitpun berbicara, aku mengantarkan oliv kembali ke kampus lalu melanjutkan perjanalanku menuju kostan, setidaknya agar aku bisa rebahan dan memikirkan rencanaku agar bisa mendapatkan nindy.

________

Sekitar jam 4 sore.

Sudah hampir dua jam aku berbaring di kamar kostanku, menunggu waktu untuk menjemput nindy, sembari memikirkan rencana untuk mendapatkannya.

“Gua ikutin cara maen lu to” ucapku dalam hati.

Bosan, aku membangkitkan tubuhku terduduk, memutuskan untuk melanjutkan penantianku dikampus.

Setibanya di parkiran kampus, aku menemukan dua orang teman sekelasku juga baru saja tiba dan sedang turun dari motornya.

“Oi, dari mana lu pada?” Aku menegur mereka.

“Lah elu ger, dari kostan gua berdua, lu ngapain jam segini masih dikampus?” Saut salah seorang dari mereka.

“Nungguin orang, lu kemana itu bawa – bawa gitar segala?” Tanyaku heran karena melihat seorang dari mereka membawa gitar.

“Ke ukm lah biasa” ucap mahasiswa yang membawa gitar.

“Yaelah, mending temenin gua aja lu berdua”

“Kemane?”

“Nongkrong aja di depan gedung, udeh si ayok” ajakku memaksa.

Mereka sempat saling bertatapan mempertimbangkan ajakanku.

“Ayok dah” jawab mereka.

Hingga sekitar 1 jam ku lewatkan bersama dua teman sekelasku ini, memainkan gitar mendendangkan lagu untuk menunggu waktu berjalan.

“Put the rose on your hair, full of grace my burning latin queen, can you see? Can you believe? And all they say its true, lady rose.”
Dendangku bersama mereka sembari menggerakan jari tangan kiriku, mengganti chord gitar B menjadi BMaj7

“When you fall to my arms, when you sleep for a thousand years…….

Nyanyianku terhenti saat melihat nindy baru saja keluar dari gedung” perkuliahan.

“Eh coy, gua duluan”
Ucapku kepada dua temanku sambil memberikan gitarnya.

Mereka hanya menatapku bingung, sementara aku segera melangkah ke arah pintu gedung perkuliahan.

“Udah selesai nin?” Tanyaku pada nindy untuk menyapanya.

Nindy tak menjawab, ia hanya menatapku.

“Mau langsung pulang apa gimana?” Lanjutku kembali bertanya.

“Gausah” jawabnya singkat.

Nindy kemudian melangkah hendak meninggalkanku, aku segera menyusulnya.

“Kenapa si?” Tanyaku saat sudah berada di samping nindy.

“Gapapa”
lagi – lagi ia terus melangkah meninggalkanku.

“Anto ya?” Ucapku, tanpa berfikir panjang segera meraih lengannya.

“Ih apaan sih, anto siapa lagi”
Balas nindy sambil menyingkirkan tanganku dengan gerakan lengannya.

“Reza Putra Hartanto” ucapku.

Nindy sontak menghentikan langkahnya, ia perlahan memutar setengah badannya ke arahku.

“Lu beneran kenal reza?” Tanya nindy

“Yaelah reza, iya kenal. Dia ngomong apaan emang?”

“Ga ngomong apa – apa” jawab nindy ketus, kemudian kembali melangkah meninggalkanku.

Lagi – lagi, aku berjalan untuk menyusulnya, hingga kini kami sudah berada di area sepi dekat parkiran.

“Yaudah gini deh, kalo emang lu gamau ngomong, gapapa. Tapi jujur gua ga ada niatan jelek sama lu, gua cuman pengen kenal, terserah lu mau percaya sama omongan anto apa gua” jelasku.

Nindy menghentikan langkah, ia sedikit menggeser kepalanya untuk dapat melihatku yang kini berada di sampingnya.

“Emang lu tau reza ngomong apa ke gua?” Tanya nindy.

Nafasku sejenak terhenti saat mendengar pertanyaanya, nampaknya aku sudah membuat kesalahan.

“Ehmm….maksud gua….

“Nah iya, bener ini bocahnya”

Ucapanku terpotong saat mendengar sebuah suara dari belakangku, aku melihat ke belakang, tetangga kostanku bersama 10 orang sedang berdiri dan dua diantaranya menggunakan sebuah blazer dengan tulisan ‘5hc’ di bagian dada.

“Ger, lu ada masalah apaan?”
Bisik nindy.

Aku melihat ke arah nindy yang masih menatap ke arah 10 anak 5hc itu.

“Ga ada apa – apaan, udah lu cabut aja dulu”
Bisikku kepada nindy.

“Mampus lu sekarang” ucap tetangga kostanku kemudian mulai melangkah maju bersama anak 5hc lainnya.

Aku sontak melangkah mundur, namun nindy justru tetap berdiri di tempat. Jujur, aku terkesima saat melihat nindy menaikan kedua tangannya ke samping alis dan sedikit menundukan tubuhnya..

“Kickboxing?” Tanyaku dalam hati melihat nindy sedang berada dalam sikap bertarung kickboxing.

Sambil terus melangkah mundur, aku meraih lengan nindy dan menariknya kuat sehingga nindy terpaksa menghadap ke araku.

“Udah cabut aja!” Ucapku, pelan tapi membentak.

“Apaan si ih” protes nindy justru berusaha melepaskan tanganku.

“Itu cewek mau lu ajak bonyok ger? Haha”
Sebuah suara lagi – lagi dari arah belakangku.

Aku melihat ke belakang dan menemukan dua orang teman sekelasku bersama belasan anggota 5hc lainnya sudah mengepungku.

“Lu yakin mau bonyok bareng gua?” Ucapku berbisik kepada nindy.

Kini wajah nindy terlihat ragu, sadar harus menghadapi sekitar 20 orang anak 5hc ini.

“Cabut ya? Biar gua aja yang nikmatin pukulan mereka haha” lanjutku kepada nindy, justru tertawa menyadari apa yang harus aku hadapi saat ini.

Nindy masih terlihat ragu, perlahan dia akhirnya melangkah meninggalkanku, melewati gerombolan 5hc yang sedang mengepungku.

Tiba – tiba aku melihat tangan seorang anak 5hc bergerak ke arah pantat nindy, menempelkan dan meremasnya dengan keras.

“JANGAN KURANG AJAR YA!”
Teriak nindy.

‘bagh’
Nindy dengan cepat melayangkan pukulannya ke arah dagu anak 5hc tersebut, sangat keras bahkan membuat anak 5hc tersebut melangkah mundur lalu tumbang.

“Wahahahah culun banget lu anjing”

“Najiss dipukul cewek aje jatoh lu!”

Gerombolan 5hc yang sedang mengepungku justru tertawan dan mengejeknya, walau satu orang terlihat berusaha membangunkannya.

Nindy sudah berhasil keluar dari kepungan ini, hingga hanya tersisa satu aku dan dua puluhan mereka.

Setelah puas tertawa, mereka kembali menatapku.

Aku menaikan kedua tanganku ke samping alis, meletakan kaki kiriku sedikit di depan..

“Maju dah lu pada” tantangku tenang, dengan sikap bertarungku.

_________

Di halaman rumah kak tiara.

POV Reza.

“Yaudah lanjut ngobrol gih lu berdua, mau mandi dulu gua”
Ucapku kepada haris, kemudian berdiri dan berjalan masuk ke rumah, meninggalkannya bersama gebetan barunya, seorang maba yang bernama olivia itu.

Baru saja aku melewati sofa ruang tamu, tiba – tiba pintu kamar daud terdengar dibuka dengan cepat.

“Ja!” Teriak daud sambil melihat ke arah meja makan.

“Apaan?” Jawabku.

Daud menggerakan kepalanya kini melihat ke arahku, wajahnya tampak panik.

“Nindy sama si geri di samperin sama anak 5hc di kampus” ucap daud.

Nafasku tertahan saat mendengar ucapannya. Entah apa yang ku rasakan sekarang, panik karena mendengar kak nindy di samperin anak 5hc, atau kesal karena kak nindy tak mengindahkan ucapanku dan masih nekat menemui geri. Re

“Ayo berangkat” ucapku kepada daud sambil memutarkan arah badanku dan mulai berjalan keluar rumah.

“Ris ke kampus ris, yang di warung suruh pada ngikut” ucapku pada haris saat aku berjalan melewatinya.

Haris sempat menatapku bingung, namun setelah beberapa saat ia segera berdiri dan melangkah.

“Iyaiya. Liv, tinggal dulu ya, ada kak tiara kok di dalam” ucap haris kepada oliv sembari terus melangkah mengikutiku.

Aku dan haris segera berangkat menuju kampus menggunakan motorku, sementara daud menggunakan motornya sendiri.

Sebelum ke kampus, aku mengurangi kecepatan motorku saat melewati warung.

“Woii!!! Ramein sini ramein!!” Teriak haris kepada belasan mahasiswa yang sedang berbincang di warung, mahasiswa yang selalu menanyakan kapan tendes akan membuka penerimaan.

Mereka semua kompak berdiri, lalu berlari menuju motornya dan segera mengikuti laju motorku.

Setibanya di area parkiran, aku melihat puluhan mahasiswa sedang mengerumuni sesuatu. Namun aku merasa tenang saat melihat kak nindy sedang berdiri di luar kerumunan, melihat ke arah kami.

Aku segera memarkirkan motorku, lalu melangkah ke arah kak nindy, bersama haris, daud dan belasan mahasiswa lainnya.

“Lu gapapa nin?” Tanya daud yang berada di kananku kepada kak nindy.

“Itu tolongin!” Jawab kak nindy panik sambil menunjuk ke arah kerumunan.

Dari sela – sela kerumunan, aku bisa melihat seorang pria sedang meringkuk melindungi diri dari puluhan anak 5hc yang sedang menendanginya.

“Ja, tolongin!” Ucap kak nindy kini berbicara kepadaku.

Aku terdiam, sama sekali tak menanggapinya

Tiba – tiba salah satu dari puluhan anak 5hc melihat ke arah kami.

“WIDIH TENDES, HAHA.. TEMEN LO NIH?” Teriaknya bertanya.

Aku masih terdiam, mempertimbangkan jawaban yang harus ku berikan.

“Bukan” jawabku

Bersambung

DAftar Part