. Owalah Part 15 | Kisah Malam

Owalah Part 15

0
269

Owalah Part 15

Jam 7 pagi.

Aku terbangun di atas kasur lapuk kamar kostanku ini saat mendengar suara alarm hpku berbunyi. Tanpa membangunkan badan, aku meraih hp yang ku letakan di atas lemari kecil di samping kasur, mengusap layar untuk mematikan alarm, membuka sebuah pesan yang masuk sekitar jam 10 malam kemarin.

“Oh, iyaa ger”
Pesan dari nindy, membalas pesanku kemarin sebelum bertemu oliv.

Malas, aku hanya mengetik ‘oke’ lalu mengirimnya.

Aku mengangkat badanku duduk diatas kasur, mengusap mata untuk mengumpulkan kesadaranku.

Saat aku hendak beranjak untuk segera mandi, hpku bergetar.

“Baru bangun ger? Maaf ya kemarin lama balesnya”
Pesan dari nindy.

“Iya, gpp kok. Lu juga baru bangun?”
Balasku.

“Dari tadi sih, ini aja udah mau berangkat ke kampus”

“Oh, rumah lu jauh dari kampus ya? Gua aja baru mau mandi”

“Yagitu deh, gua berangkat dulu ya”

“Okeoke, hati – hati”

Setelah sejenak berbalas pesan dengan nindy, aku bangkit berdiri untuk segera mandi lalu berangkat menuju kampus.

______

Di kampus.

Setelah bersusah payah mencari lapak kosong untuk memarkiran motorku, aku segera melangkah menuju gedung kuliahku, namun langkahku terhenti saat melihat anto bersama seorang wanita cantik sedang jalang berdampingan, wanita yang ku ingat adalah temannya nindy.

“Ah tau gini mending itu aja yang gua sikat” ucapku dalam hati.

Anto dan wanita itu kemudian berjalan terpisah saat sang wanita membelokan badan dan mulai berjalan ke arahku, sementara anto berjalan ke arah gedung perkuliahan yang berada di dekat ukm.

“Temennya nindy kan yah?” Tanyaku pada sang wanita saat ia sudah berada di hadapanku.

“Ya” balasnya singkat sambil terus berjalan melewatiku.

Aku segera berjalan mengikuti langkahnya.

“Tadi itu pacar lu?” Tanyaku saat kami berdua hendak masuk ke dalam gedung.

“Bukan urusan lu” jawabnya jutek lalu mempercepat langkahnya masuk ke dalam gedung

Aku yang masih berada tepat di pintu masuk gedung sontak menghentikan langkahku saat mendengar jawabnnya.

“Galak amat cewek lu to” gumamku sambil memperhatikan badan wanita itu saat ia mulai berjalan menaiki tangga.

________

Di dalam kelas.

Mataku bergerak mengelilingi kelas yang sudah cukup ramai ini, berhenti saat melihat seorang wanita cantik bernama olivia sedang duduk di kursi pojok paling belakang.

Aku tersenyum, kemudian mulai melangkah ke arahnya.

“Liv”
Sapaku sembari meletakan tas di atas meja sebelah oliv lalu menurunkan tubuhku terduduk di kursi.

Oliv masih saja sibuk dengan hpnya, sama sekali tak menghiraukan sapaanku

“Gimana kemaren? Langsung pulang apa sempet di pake lagi?”
Tanyaku enteng sambil melihat ke arah oliv.

Mendengar pertanyaanku, oliv dengan cepat menggerakan kepalanya, menatapku dengan wajah tak senang.

Namun ia masih terdiam

“Lu gagu apa gimana si?” Tanyaku lagi.

Kali ini oliv kembali menggerakan kepalanya, kembali menatap hpnya.

Aku sedikit menggeser tempat dudukku ke kanan, mendekati oliv.

“Lu cakep, badan lu bagus, kulit lu putih, tapi kenapa si lu mau di ewe sembarangan?”

Oliv menarik nafas saat mendengar pertanyaanku, ia segera melihat ke arahku dengan tatapan mengancam.

“Ger, kita lagi dikelas!” Jawab oliv sewot.

“Lah, yang bilang lagi di hotel siapa?” Balasku.

Oliv kembali terdiam, kembali menatap layar hpnya.

“Ohiye, pulang kuliah lu ke tempat gua ya, belum sempet nyicipin lu kan gua kemaren” lanjutku.

Lagi – lagi, ia hanya terdiam.

“Lu yakin mau ngediemin gua?” Tanyaku.

Aku memberikan waktu sesaat kepada oliv untuk menjawab, melihat ia tak juga memberikan respon, aku dengan cepat berdiri dari tempat dudukku dan melihat ke tengah kelas.

“OI! MAU TAU RAHASIANNYA OLIV GA LU PADA?” Teriakku.

Semua mahasiswa di kelas sontak melihat ke arahku.

Aku bisa merasakan oliv segera menarik bajuku di bagian pinggang, ia panik.

“SEKARANG OLIV UDAH JADI CEWEK GUA!” Lanjutku berteriak.

“Anjing keren lu ger”

“Wahahah panutan gua emang lu ger”

Saut para mahasiswa pria mendengar teriakanku.

“Ih apaansih, ga penting”
Balas seorang mahasiswi.

Aku membalikan arah tubuhku menghadap oliv, ia masih menatapku dengan wajah tak percaya, matanya terlihat jelas mulai berkaca – kaca.

Aku membungkukan tubuhku hingga wajahku berada di depan wajah oliv.

“Gua berani jamin, gua orang paling nekat yang pernah lu temuin, jadi dari pada lu nyesel, mending lu turutin semua omongan gua” ucapku, tepat di depan wajah oliv.

Oliv tampak terganggu dengan kedekatan wajah kami, ia hendak memalingkan wajahnya.

“Cium gua” ucapku sebelum oliv memalingkan wajahnya.

Gerakan kepala oliv berhenti, ia kembali menatapku.

Perlahan, ia mulai mendekatkan wajahnya, mengarahkan bibirnya menuju bibirku, mengecupnya sejenak.

“WOI LAGI DI KELAS WOI” Teriak seorang mahasiswa dari arah belakangku, yang sepertinya melihat aksi ciumanku dan oliv.

“Dan mulai sekarang lu harus bersikap jadi cewek gua” ucapku kepada oliv sambil sedikit tersenyum lalu bergerak mundur dan menurunkan tubuhku duduk di kursi.

____________

Di kostan, jam 3 sore.

“Lagi dimana nin?”
Isi pesan yang ku kirim kepada nindy.

Tiba – tiba, aku merasakan geli di area selangkanganku saat merasakan penisku seperti di hisap kuat.

“Emhh….mantep banget isepan lu liv” ucapku kepada oliv yang saat ini sedang merangkak di atas kasur, dengan mulut yang sedang sibuk menghisapi penisku.

Aku meletakan tangan kiriku di atas kepala oliv, kemudian denga lembut mengusap rambutnya.

“Dikampus ger, kenapa?”
Pesan balasan dari nindy.

“Lagi ada kelas?” Balasku.

“Engga kok”

Akupun terlarut berbalas pesan dengan nindy, sambil menikmati gesekan bibir oliv kepada penisku.

Setelah beberapa saat…

Aku mulai merasakan sensasi orgasmeku akan segera tiba, aku dengan cepat menahan kepala oliv untuk berhenti bergerak.

“Udah dulu, udah dulu” ucapku kepada oliv.

Oliv mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya, lalu mengangkat badannya duduk walau tangannya masih memegang penisku..

“Oh, brarti gua manggil lu kak doang ya?” Isi pesan yang ku kirim kepada nindy setelah mengetahui bahwa ia adalah seniorku.

“Gausah sih, lebay banget” balas nindy.

“Hahhha, emang…..

Aku tak sempat menyelesaikan mengetik pesan saat merasakan penisku seperti di remas.

“Duhh, apaan si?” Pekikku melihat oliv.

Oliv menatapku sambil terus memijit penisku, tatapannya sayu seakan meminta sesuatu dariku.

“Haha, udah sange lu ye?” Tanyaku sedikit tersenyum kepada oliv.

Oliv yang saat itu masih menggunakan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan celana jeans panjang ketat sebagai bawahannya, hanya menjawab pertanyaanku dengan sedikit menghisap bibir bawahnya..

“Bilang dong kalo pengen ini” lanjutku sambil menggenggam tangan oliv yang sedang menggenggam penisku.

“Jangan gitu kek ger” balas oliv, malu.

Aku tersenyum, lalu sejenak mengetik pesan untuk nindy.

“Hahha, eh nin, gua bantu temen gua ngangkat barang dulu ya”
Pesan yang ku kirim kepada nindy.

Aku segera meletakan hpku di pinggir kasur, mengangkat tubuhku hingga berada dalam posis duduk, lalu menarik tangan oliv yang masih menggenggam penisku.

“Sini sayang” ucapku kepada oliv.

Oliv tersenyum, kemudian menuruti tarikanku untuk mendekat. Aku mengarahkan tangan kananku ke dada oliv, meremasnya kuat menikmati kenyal dadanya yang masih di selimuti kemeja dan bh itu.

Aku mengarahkan mulut ke leher putih oliv, menjilatinya pelan sesekali menghisapinya.

“Emmh…gerr” desah oliv pelan sambil terus mengurut penisku.

Tangan kiriku bergerak ke belakang oliv, meremas bagian atas pantatnya yang masih terbungkus celana jeans, sambil terus menjilati leher dan memainkan dadanya.

Oliv semakin mendesah, bahkan ia juga mulai mengecup leherku.

Setelah beberapa saat, aku mendorong tubuh oliv untuk sedikit menjauh hingga oliv melepaskan penisku, lalu bangkit berdiri di pinggir kasur.

Oliv nampaknya mengerti keinginanku, ia mulai meraih kancing kemejanya dan melepaskannya, akupun dengan cepat melepaskan seluruh pakaianku.

Saat aku sudah telanjang, oliv masih sibuk berusaha melepaskan celana jeansnya yang memang terlihat sangat ketat.

“Sini” ucapku sedikit menunduk lalu meraih celana oliv untuk membantu melepaskannya.

Oliv tersenyum kemudian menggerak – gerakan kakinya untuk mempermudah melepas celanannya. Setelah celananya berhasil terlepas, oliv segera menarik celana dalamnya turun lalu melepasnya dengan menggerakan kakinya.

Tanpa di suruh, oliv justru merebahkan tubuh mulusnya berbaring di atas kasur sambil menatapku dengan wajah sayunya.

Aku tersenyum kemudian merangkak di atas kasur mendekati oliv, hingga ia berada di bawah tubuhku.

Aku meletakan tangan kananku di atas payudara putihnya, oliv menggerakan tangannya menggenggam penisku.

“Gua gabakal ngejagain lu asalkan lu nurut sama gua” ucapku lalu meremas payudara oliv yang terasa penuh di genggaman tanganku.

“Ahhh..iyaa ger” balas oliv parau

Aku menurunkan wajahku, mulai menciumi payudara kirinya. Oliv sontak mendesah akibat ciumanku.

“Lu punya siapa?” Tanyaku di sela ciumanku pada payudaranya.

“Ahh…punyaa lu gerr” jawab oliv.

Oliv justru meletakan satu tangannya di atas kepalaku, menekannya kebawah seakan menyuruhku untuk kembali menciumi payudaranya.

Sambil terus menciumi payudara oliv, tangan kananku yang tadi memainkan payudaranya kini bergerak ke bawah menuju selangkangannya.

Vagina oliv sudah sangat basah, aku dengan mudah menyelipkan satu jariku masuk ke dalam vaginanya.

“Ahh….ahh..emmhh” desah oliv.

Aku melepaskan mulutku dari payudara oliv, kemudian mengangkat wajahku kembali berada di depan wajahnya. Tiba – tiba oliv memajukan kepalanya hendak mencium bibirku, namun aku segera memundurkan kepalaku untuk menghindari ciumannya.

“Mulut lu abis nyepongin kontol gua” ucapku sambil tersenyum, namun tanganku terus memainkan vaginanya.

“Emhh….aahh yaudahh sinii” balas oliv lalu meletakan tanganya di belakang leherku, menekannya ke bawah ke arah payudaranya…

Aku kembali menjilati payudara oliv sambil tanganku terus memainkan payudaranya.

Oliv terus mendesah, hingga aku merasakan tubuh oliv bergetar seakan ia dekat dengan orgasmenya.

“Emmh.. terusss gerrr aaahhhh” desah oliv.

Aku menuruti permintaanya, bahkan semakin cepat memaikan vaginanya…

“Aahhh…..aaaaaaaaahh” desah oliv kencang, tubuhnya bergetar, jariku terasa kuyup tersiram cairan kenikmatannya.

“Hahahhah hyper banget lu ye?” Tanyaku mengetahui oliv sudah mendapatkan orgasme sebelum aku setubuhi.

Oliv tak menjawab, ia memejamkan mata sambil menghisap bibir bawahnya, tubuhnya masih sesekali bergetar. Aku melepaskan vagina oliv, meletakan tanganku di lehernya.

Setelah beberapa saat,

“Mau di masukin sayang?” Tanyaku sambil mengusap lembut lehernya.

“Maauuu” balas oliv manja tanpa membuka mata.

Aku meraih penisku lalu mengarahkannya ke lubang vagina oliv

“Emh” oliv sedikit mendesah saat kepala penisku berhasil masuk.

“Bilang dong, lu punya siapa?” Tanyaku menatap oliv.

“Emh…im yours ger” jawab oliv.

Aku tersenyum lebar lalu mulai mendorong penisku masuk membelah dinding vagina oliv.

“Ahmm…emmmhh penuuhh” racau oliv..

“Emhhh” aku sedikit mendesah merasakan penisku terjepit vagina oliv, aku meletakan wajahku di lehernya, mulai menggerakan pinggulku sembari mulai menciumi kulit putih leher oliv.

“Ahh….aaaahhh….” Desah oliv kencang saat aku mulai memompa vaginannya…

“Yang kenceng liv, biar sebelah tau kalo lu lagi gua entot” ucapku.

“Emhhhhh….emmmm” oliv justru menahan desahannya.

Aku mengangkat tubuhku lalu mendorong penisku kuat sambil meraih dagu oliv..

“Yang kenceng!” Suruhku menekan keras dagu oliv..

“Aaaaahhhh iyaaaaaa aaaahhhhh”
Oliv menuruti permintaanku dan mulai mendesah dengan kencang..

“Hahah enak kann?” Tanyaku..

“Iyaaaahh…enakkk ahh terusss” racau oliv.

Aku terus mengenjot vaginanya, entah setelah berapa lama hingga oliv terlihat akan kembali mendapatkan orgasmenya..

“Aaaahhh….gerrrrrrrr…..aaaaahhh” teriak oliv kencang memejamkan mata.

Tubuhnya kembali bergetar, aku merasakan penisku seakan tenggelam di dalam vaginannya..

Walau oliv baru saja mendapatkan orgasme, namun aku terus memompa penisku dengan cepat..

“Aaaahhh…gerrrrr..” ucap oliv seakan tak nyaman dengan genjotanku..

“Emmmh, kenapa?” Tanyaku yang sedang menikmati sensasi di penisku.

“Bentaaahhh……aaahh” oliv tak sempat menyelesaikan ucapannya karena aku semakin mempercepat gerakanku..

Aku terus memompa penisku dengan cepat, oliv kini mulai mendesah menikmati meracau dan mendesah.

Hingga setelah cukup lama, aku merasakan penisku akan segera memuntahkan isinya..

“Emmhhhh…gua mauu keluar” ucapku..

“Diluarrrr” balas oliv di tengah desahannya.

Aku justru menjatuhkan badanku menindih oliv, mencium bibirnya sambil memuntahkan cairanku di dalam vaginannya…

“Emhhh” desahku sambil menciumi bibir oliv saat spermaku membanjiri vaginanya.

Oliv terlihat panik dan berusaha mendorong tubuhku, namun aku justru menguatkan tubuhku dan terus mencium bibirnya.

Oliv mulai mengendurkan dorongnya dan terlihat pasrah dengan kenyataan bahwa aku mungkin bisa saja menghamilinya..

Setelah puas menciumi oliv, aku akhirnya membebaskan bibirnya.

“Kenapa di dalem sih?” Tanya oliv tak senang, namun jelas terlihat bahwa ia tak berani marah.

“Lu kan udah jadi punya gua sayang, mulai besok lu minum pil kb gih, kalo ga lu angkat rahim sekalian” jawabku enteng.

Ekpresi oliv sontak berubah mendengar ucapanku, ia menggeser wajahnya ke samping menghindari wajahku.

“Hha, bercanda kok.. tapi mulai besok lu pake pil kb yah atau apa kek terserah lu” lanjutku.

Oliv sedikit melihat ke arahku, kemudian mengangguk lemah..

“Nah gitu dong” ucapku lalu mencium pipi putih oliv.

“Gua ke kamar mandi dulu boleh ger?” Tanya oliv pelan.

“Ohiya, boleh.. cuci gih” balasku mengangkat badan, mengizinkan oliv untuk ke kamar mandi.

Aku terduduk di pinggir kasur, oliv bangkit, menggunakan kemeja dan celana jeans seadanya kemudian pergi keluar kamar.

Aku meraih hpku yang tadi ku letakan di pinggir kasur tadi.

“Iya ger”
Balasan dari nindy saat aku berbohong mengenai membantu teman tadi

Aku melihat jam di hpku, sekitar jam setengah 4 lewat.

“Masih di kampus nin?”
Kirimku.

“Iya, di kelas tapi ga ada dosen”

“Oh, kenapa ga pulang?”

“Ini mau pulang kok”

“Naik apa?”

“Ojek”

“Gua anterin mau?”

“Serius? Ngerepotin ga? Rumah gua jauh”

“Engga kok”
Balasku tepat ketika oliv sudah kembali ke dalam kamar.

“Eh liv, lu lagi megang duit ga?” Tayaku kepada oliv.

“Buat apa?” Balas oliv sambil duduk lalu merapihkan kemejanya.

“Gua mau nganterin cewek, pinjem dulu sini 200” ucapku

“Ih apa – apaan sih lu ger” protes oliv.

“Lah kenapa?”

“Gua ga megang duit”
Jawabnya jutek.

Aku segera berdiri dan melangkah ke hadapan oliv.

“Yaelah liv, dari setelan lu aje keliatan lu orang kaya” ucapku.

Aku menurunkan tubuhku jongkok lalu meletakan kedua tanganku di atas paha oliv.

“Gua emang brengsek tapi gua bukan penipu, kalo gua bilang minjem ya pasti bakal gua ganti, dan kalo lu gamau minjemin karena duitnya bakal gua pake buat urusan cewek..”

Aku menghentikan ucapanku dan mendekatkan wajahku dengan wajah oliv.

“Bilang kalo lu suka sama gua dan lu berharap bisa jadi cewek gua” lanjutku.

Oliv memalingkan wajahnya menghindariku.

Aku tersenyum, kemudian bangkit berdiri.

“Gua pinjem dulu ya” ucapku sambil memutarkan badan dan membuka tas oliv yang berada di atas lemari kecil.

“Ger apa – apaan sih” protes oliv sambil menahan lenganku.

Aku tak peduli, meraih dompetnya dan membukanya, mataku terbelalak saat melihat banyak lembaran merah di dalam dompetnya, aku segera mengeluarkan beberapa lembaran merah tersebut.

“Ihh ger itu berapa?” Tanya oliv.

“Mmm… Empat ratus” jawabku sembari meletakan tas oliv di atas lemari.

“Masukin lagi!!” Ucap oliv kini dengan nada sedikit membentak.

Aku dengan cepat membalikan arah tubuhku, memajukan wajahku mencium bibir oliv.

Oliv melawan dengan mendorong pundakku, aku justru meraih lehernya dan semakin menempelkan bibirku.

Perlahan oliv mulai pasrah, tak lagi mencoba melepaskan ciumanku. Saat ia sudah benar – benar diam, aku melepaskan bibirnya.

“Pinjem dulu yah sayang” ucapku saat hidung kami masih menempel.

Oliv tak menjawab, hanya memundurkan tubuhnya kembali terduduk di pinggir kasur, matanya terlihat mulai berkaca.

“Jangan nangis, inget lu harus nurut sama gua” ancamku.

Oliv sebentar melihatku dengan tatapan tak senang, lalu beberapa kali mengedipkan matanya, menahan agar air matanya tak menetes keluar.

“Nah gitu dong, sekarang gua mau cabut.. lu masih mau disini apa gimana?” Ucapku lalu meraih pakaianku yang berada di lantai..

“Pulang” jawab oliv singkat.

“Oh yaudah ojeknya pesen gih, biar gua temenin deh lu sampe ojeknya dateng”

Aku mulai menggunakan pakianku, sementara oliv memesan ojeknya.

“Rumah lu dimana si emang?” Tanyaku berbasa – basing sembari menggunakan pakaianku.

“Barat” jawab oliv singkat.

“Lah jauh, kenapa ga ngekost aja? Kalo ga disini aja berdua sama gua”

Entah mengapa oliv sebentar menatapku.

“Ga” jawabnya sambil kembali membuang pandangan..

“Yeh, asik padahal kita bisa ngewe tiap hari haha”

Oliv hanya terdiam, setelah beberapa saat.

“Ojeknya udah di depan” ucap oliv saat aku sudah selesai bersiap – siap untuk berangkat mengantar nindy.

“Yaudah yuk” ajakku sambi membuka pintu..

__________

Di area parkiran kampus.

“Nin, gua di parkiran yah”
Kirimku ke nindy.

“Oke wait” balas nindy.

Tak lama, munculah seorang wanita cantik dengan wajah cantik dan tubuh tinggi langsing berjalan ke arahku.

“Mau langsung pulang nin?” Tanya membuka obrolan.

“Iya, langsung aja” jawabnya.

Aku mengangguk kemudian menyerahkan helm teman kostku yang ku pinjam kepada nindy, nindy meraih lalu mengenakannya.

“Yuk” ucapku sambil menyalakan motorku saat nindy sudah menggunakan helm.

“Tapi rumah gua jauh loh ger” ucap nindy seraya menaiki motorku.

“Iya gapapa, dah siap?” Tanyaku sambil melihat wajah nindy melalui kaca spionku

Nindy juga melihatku, sedikit tersenyum kemudian mengangguk.

Bersambung

Daftar Part