. Owalah Part 13 | Kisah Malam

Owalah Part 13

0
295

Owalah Part 13

Malam, di rumah kak tiara.

Aku, daud dan kak tiara sedang berbincang di meja makan, daud duduk di seberangku sementara kak tiara duduk di sampingku.

Saat sedang berbincang tiba – tiba pintu kamar daud terbuka, haris yang terlihat lesuh melangkah keluar dari kamar daud.

“Oi, ga ada niatan mau nyamperin abang lu apa ja?” Tanya haris

Kami bertiga kompak melihat ke arah haris, ia dengan santainya duduk di samping daud.

“Muka lu dulu aja benerin” Balasku.

“Yeh serius gua, eh tadi ada yang kemari ya?” Ucap haris.

“Iya, cewek bro, cakep lagi” Daud ikut dalam pembicaraan.

“Ah serius lu?!” Saut haris.

“Giliran cewek aja lu semangat” balas daud.

Aku, daud dan kak tiara sontak tertawa sementara haris hanya terdiam memonyongkan bibirnya sewot.

“Jadi gimana bro? Andre mau di gas kapan?” Tanya daud, kini menatapku serius.

“Eh mau ngapain sih?” Celetuk kak tiara di sampingku.

“Mau nyamperin andre kak” ucapku sambil melihat ke arah kak tiara.

Kak tiara juga melihat ke arahku, terlihat jelas rasa ke khawatiran di wajahnya.

“Enaknya kapan ya?” Lanjutku, kini melihat ke arah daud.

“Lu bisanya kapan?” Balas daud cepat.

“Sekarang juga ayo gua mah, noh adek lu gimana?” Jawabku sambil melihat haris .

Haris sejenak terdiam, bola matanya bergerak bolak – balik ke arahku dan daud.

“Sabtu dah yok” jawab haris.

Daud mengangguk..

“Oke sabtu, urusan cara nemuinnya biar gua yang ngatur” ucap daud.

Tiba – tiba kak tiara meraih tanganku, aku sontak melihat ke arahnya.

“Serius ga sih?” Tanya kak tiara.

“Iya, udah kakak tenang aja ya” jawabku sambil menggenggam tangannya.

“Jangan sampe kenapa – napa loh” ucap kak tiara.

“Tenang kak, paling haris lagi yang bonyok” celetuk daud menjawab kak tiara.

“Yeh anjing” balas haris.

“Gabakal ada yang kenapa – napa kok” ucapku pada kak tiara sambil tersenyum, ia ikut tersenyum.

“Ohiya uang kas bayar dulu kek, ke dokter kan ga gratis” ucap kak tiara melihat ke arah daud dan haris.

“Ohiya astaga”

“200 kan kak?”

Jawab daud dan haris sambil berdiri dan melangkah ke arah kamar.

“Kak, aku ntar dulu yah” ucapku pelan saat haris dan daud sudah masuk ke dalam kamar.

“Iya sayang” jawab kak tiara tersenyum.

“Nih kak” ucap haris yang sudah keluar dari kamar sambil menjulurkan tangannya menggegam uang.

“Nomor rekening lu berapa?” Susul daud yang berada di belakang haris sambil melihat ke layar hpnya.

___________

Sabtu sekitar jam 8 malam.

Aku, haris dan daud bersama 3 orang temannya haris sedang melangkah ke arah kantin.

Di depan kantin, kami melihat kak nindy yang baru saja keluar, ia mengangguk kepada kami. Kami ber enam masuk ke area kantin, sementara kak nindy terus melangkah keluar menuju ke area gelap yang berada di samping kantin.

Aku melihat ke arah ujung, tempat dimana biasanya anak tripunar berada. Ada sekitar 9 orang sedang berbincang dan salah satu di antaranya menggunakan jaket tripunar. Kami berenam mulai melangkah maju, satu persatu gerombolan tripunar mulai melihat ke arah kami.

“Ngapain lu pada?” Teriak salah satu anak tripunar.

“Andre mana?” Balasku.

Mereka ber sembilan kompak berdiri seakan bersiap untuk menghadapi kami.

“Lah lu siape emang?” Tanya anak tripunar.

Aku mempercepat langkah, begitu juga yang lainnya. Gerombolan tripunar juga mulai maju ke arah kami.

“Tendes” jawabku tenang, berbarengan dengan sebuah gelas kaca yang entah di lempar oleh siapa melayang dari belakangku ke arah anak tripunar.

“NGENTOT!” Teriak anak tripunar yang berhasil menepis lemparan gelas.

Gelas terjatuh ke lantai, aku menarik tanganku ke belakang.
Gelas pecah akibat berbenturan dengan lantai, aku mendorong tanganku kuat.

Pertarungan di mulai.

Kami kalah jumlah tapi tidak kalah rahang, karena sebagian dari 9 anak tripunar yang kami lawan hanya membutuhkan 1 pukulan tepat di dagu untuk membuat mereka tumbang dan tak lagi berdiri.

Setelah beberapa saat..

‘cuh’

Aku meludah untuk membersihkan darah dari luka di mulutku karena sempat beberapa kali terkena pukulan selama pertarungan.

Aku melihat ke sekitar, 7 anak tripunar sudah tumbang berserakan sementara dua orang lainnya berhasil kabur melalui jalan kecil yang berada di belakang kantin.

Haris sedang membantu salah satu temannya berdiri, yang sempat tumbang akibat pertarungan tadi, sementara daud sedang berdiri membelakangiku.

Di hadapan daud, seorang pemuda menggunakan jaket tripunar sedang duduk bersender ke dinding kantin. Daud mengangkat dengkulnya dan di benturkan dengan wajah anak tripunar itu.

Aku melangkah mendekati daud lalu menepuk pundaknya, daud melihatku kemudian sedikit menggeser posisinya sehingga kini aku berdiri tepat di depan anak tripunar yang wajahnya sudah berlumur darah.

“Andre mana?” Tanyaku.

“Di kontrakan bang” jawabnya lemah sambil meletakan tangannya di depan wajah seakan takut aku memukulnya.

Aku menunduk, menjulurkan tanganku ke arah kantong celananya dan mengeluarkan hpnya.

“Password hp lu berapa?” Tanyaku setelah menyalakan layar hpnya.

“Kosong empat kali”

Aku membuka password hpnya lalu mencari satu nama di dalam daftar kontaknya, andre.

“Oit, ada apaan boy?” Suara andre menjawab panggilanku.

“Temen lu udan pengen mati nih” balasku.

Andre sejenak terdiam.

“ANJI…”
Ucapan andre terpotong saat aku dengan segera mematikan saluran telepon.

Aku melihat ke arah daud, daud juga melihat ke arahku, aku mengangguk lalu dengan cepat memutarkan badan sambil melempar hp di tanganku ke lantai.

Aku, daud dan haris mulai berjalan menuju keluar kantin, sesampainya di luar kami bertiga masuk ke sebuah area gelap yang berada di samping kantin, dimana kak nindy menunggu kami.

“Udah kak” ucap ku kepada kak nindy.

Kak nindy mengangguk kemudian berjalan meninggalkan kami bertiga.

“Aduh idung gua kena lagi nih coy”
Ucap haris sambil memegangi hidungnya yang masih tertutup gips.

“Lebay banget lu” balas daud kepada haris.

Haris tak menjawab, beberapa saat kami hanya menunggu hingga akhirnya terlihat sekitar 20 orang berjalan ke arah kantin, melewati kami. Aku dapat melihat dengan jelas bahwa andre berada di dalam gerombolan itu.

Kami masih menunggu, hingga akhirnya terdengar..

“JANGAN KABUR LU NGENTOT!”
Teriak seseorang di dalam kantin

Sesaat kemudian terdengar suara langkah puluhan orang berlari.

“Ayo ja” ucap daud saat langkah itu sudah terdengar jauh.

Aku, daud dan haris dengan segera melangkah keluar dari area gelap, menuju ke depan kantin dan menemuka andre sedang berdiri menyampingiku, bersama seorang wanita.

“Oi” panggilku.

Andre melihat ke arahku, ia tak sempat melakukan apa – apa saat aku dengan cepat menurunkan tubuh dan mengarahkan pundakku ke bagian perutnya, sedangkan daud melayangkan pukulan ke arah wajahnya.

“Egh”
Pekik andre saat pundakku dan pukulan daud mendarat secara bersamaan.

Tubuh andre terpental ke belakang dan mendarat di atas aspal.

“ANJING!”
Protes andre saat menyadari kondisinya, aku dengan cepat bergerak ke atas tubuhnya.

Tangan andre bergerak untuk mendorong tubuhku, aku menangkap tangan kanannya, ku dorong menempel ke aspal, ku injak menggunakan dengkul.

“Kelar lu setan” ucapku.

Andre masih melawan dengan menggunakan tangan kiri namun aku tak menghiraukannya, justru aku melayangkan pukulan keras, tepat mengenai wajahnya.

“BANGSATT!” Teriak andre.

Aku tak peduli dan memukul wajahnya lagi, lagi dan lagi.

Entah setelah beberapa kali memukul, kini wajahnya sudah mulai di lumuri darah, tangan kirinya yang tadi sempat melawan kini di letakan di depan wajah untuk menahan pukulanku.

“Bacot lagi dong!” Ucapku, kemudian lanjut melayangkan pukulanku

Aku terus memukul wajahnya, bahkan tanganku sudah terasa panas, aku cukup salut dengannya karena sejauh ini dia belum juga menyerah.

Namun setelah entah beberapa pukulan.

“Iya bro udeh” ucap andre dengan suara parau akhirnya menyerah.

Nafasnya pelan, wajahnya di penuhi darah.

“Gua injek batang leher lu kalo besok ada urusan sama gua lagi” ucapku sambil sekali lagi memukul wajahnya..

Andre tak menjawab, matanya mulai terlihat menerawang seperti akan kehilangan kesadaran. Aku menaikan badanku berdiri, kini tubuh tak berdaya andre berada di antara kedua kakiku.

“Bentar ja” ucap haris, yang ternyata sudah berada di sampingku.

Aku mengangkat kaki dan melangkah menjauhi andre, haris menjulukan tangannya ke bawah menjambak rambut andre hingga wajahnya tertarik ke atas.

“Nonton trus mukul kan?” Tanya haris kepada andre kemudian memukul wajahnya dengan sekuat tenaga, kepala andre terhempas, bagian belakang kepalanya berbenturan dengan aspal.

Andre sudah terlihat benar – benar kehilangan kesadaran..

“WOI ANJING!” Suara teriakan dari dalam kantin

Aku melihat ke sumber suara, ternyata gerombolan tripunar yang tadi mengejar ketiga teman haris sudah kembali dan mulai melangkah ke arah kami..

Aku dan daud segera menggerakan kaki untuk berlari, sementara haris dengan santainya memutarkan badan ke arah mereka lalu melebarkan kedua tangannya.

“KEJAR SAYA DONG KAKAK!” Teriak haris menantang dengan kedua tangan terbentang, namun sedetik kemudian mulai ikut berlari.

“Gokil lu ris” ucapku kepada haris disaat kami berlari, haris nampak tak peduli dan terus berlari secepat mungkin menuju ke depan kampus.

Kami bertiga tiba di depan kampus, dengan segera berlari menuju mobil kak tiara yang sudah menunggu di pinggir jalan raya.

“Gas gas gas gas!” Ucap haris panik sambil menutup pintu mobil saat kami baru saja naik.

Kak nindy yang duduk di kursi pengemudi dengan cepat menginjak pedal gas dan meluncur menuju rumah kak tiara..

“Hahhaha gokil anjing!” Ucap haris yang duduk di belakang tertawa histeris.

“Idung lu dulu tuh pikirin” balas daud yang duduk di sebelahnya

“Oh iya, duh geser lagi ini mah” jawab haris seketika mengeluh.

Aku memutarkan leher ke belakang, melihat haris yang sedang memegangi hidung dengan wajah kesakitan.

“Mau ke dokter dulu ris?” Tanya kak nindy ikut berbicara.

“Ah? Eh gausah kak” jawab haris yang nampaknya masih merasa canggung dengan kak nindy.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya haris lalu menggerakan leherku kembali melihat ke depan..

“Keren bro”
Ucap daud tiba – tiba sambil menepuk pundakku.

Aku melihat daud melalui pantulan kaca spion tengah mobil, ia juga melihat arahku.

“Buat bori”
Ucapku.

Daud tersenyum kemudian mengangguk, aku juga tersenyum kemudian mengembalikan pandanganku ke depan.

__________

Beberapa bulan kemudian..

Aku sedang duduk bersama daud di sofa lantai 1, tiba – tiba terdengar suara gerbang terbuka. Aku berdiri untuk melihat gerbang, ternyata kak tiara baru saja pulang.

“Nih jaketnya” ucap kak tiara saat ia sudah berada di pintu, melemparkan jaket kepadaku dan daud.

Aku dan daud sebentar mengamati jaket tersebut lalu memakainya.

“Eh punya kita mana ra?” Tanya kak nindy yang dari tadi duduk sendirian di meja makan.

“Nih ada kok” jawab kak tiara melangkah menuju meja makan.

Aku dan daud kini sudah berdiri di depan sofa, menarik bagian kancing jaket jeans kami kebawah yang mana terdapat tulisan ‘TENDES’ pada bagian lengan kirinya.

“Ohiya itu ada nama di dalemnya” ucap kak tiara dari ruang makan.

Aku melihat ke bagian dalam kiri jaketku dan menemukan tulisan ‘EJA’.

“Kak! Nama ku kan reza!” Protesku membaca penulisan nama di jaketku.

“Biarin sih, kakak maunya eja” balas kak tiara lalu tertawa bersama kak nindy.

Aku hanya pasrah menggelengkan kepala, kemudian melihat ke arah daud.

“Berangkat ga?” Tanya daud.

“Berangkat lah” jawabku.

Tak lama kemudian, aku dan daud sudah berada di dalam mobil kak tiara. Daud duduk di jok pengemudi, aku duduk di kursi depan. Mobil kami berhenti tepat di depan warung dimana haris dan belasan temannya sedang berbincang..

Aku menurunkan jendela di sampingku.

“Woi ris” panggilku.

Haris segera melihat ke arahku.

“Apaan?” Tanya haris sambil berdiri

Aku meraih jaket yang berada di pangkuanku lalu melemparkannya kepada haris.

“YOMAN!” Teriak haris kencang sambil melebarkan jaketnya.

“OI PUNYA GUA MANA JA?”

“JA GUA MINTA SATU LAH!”
Suara teriakan teman – temannya haris.

Aku hanya tersenyum mendengar teriakan mereka lalu menutup jendela mobil.

_________

Aku dan daud sudah berada di kampus, baru saja selesai mendaftar mata kuliah. Kami berjalan di pinggir lapangan, dimana di tengah lapangan ratusan maba menggunakan pakaian hitam putih sedang menjalankan ospek.

Kami hendak berjalan menuju parkiran, namun langkah kami terhenti saat mendengar…

“LAH ADA SI CULUN!”

Aku melihat ke sumber suara, seorang pria menggunakan pakaian hitam putih sedang melihat ke arahku sambil tersenyum lebar.

“KENAPA BENGONG TO? NGELIAT SETAN?!” Teriaknya lagi.

Para panitia ospek segera melangkah menuju pria tersebut, begitu juga denganku dan daud.
Aku mendorong tubuh seorang panitia ospek yang menghalangi langkahku, hingga akhirnya aku sudah berhadapan dengannya, Geri.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler