. Owalah Part 12 | Kisah Malam

Owalah Part 12

0
280

Owalah Part 12

Di perjalanan menuju kampus, aku menyempatkan untuk membuka hp memeriksa pesan di grup tendes.

“Ja, kamu dimana? Haris udah di bawa ke dokter”
Pesan dari kak tiara.

“Bro, gua pada udah di dokter umum deket pintu masuk wisma, langsung kemari aja”
Pesan dari daud menyebutkan lokasi keberadaan mereka.

“Otw”
Balasku.

______

Setibanya di dokter umum, aku menemukan daud sedang duduk di depan ruang praktek dokter.

“Haris gimana ud?”
Tanyaku kepada daud.

Daud melihat ke arahku.

“Au dah tuh, liat aja di dalem”
Jawab daud.

Aku segera melangkah menuju pintu, pelan – pelan membukanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, kak tiara sedang berdiri di belakang seorang dokter yang sedang memeriksa haris.

Aku berjalan ke samping kak tiara, kak tiara langsung melihat ke arahku, alisnya mengerenyit, tatapannya tak senang.

Aku sedikit menggeser badan untuk dapat melihat kondisi haris yang sedang terbaring, kondisinya lumayan parah, hidungnya jelas patah, luka di bibirnya terbuka lebar, mata kirinya membengkak hingga menutup.

Namun aku yakin bahwa haris masih tersadar karena ia menggerakan bola matanya ke arahku.

“Oi ja”
Ucap haris tak jelas karena ia berbicara tanpa menggerakan mulutnya.

“Diem dulu yah mas, biar di bersihin dulu lukanya”
Saut sang dokter yang sedang membersihkan luka di bagian pelipis haris.

Aku hanya terdiam, hingga akhirnya wajah haris sudah bersih dari darah, namun masih berwarna merah akibat pembengkakan di seluruh wajahnya.

Sang dokter membalikan badannya ke arahku dan kak tiara, lalu membuang tumpukan kapas yang berada di tangannya ke tong sampah.

“Sebenernya kalo buat luka luar sih aman mba, hidungnya juga udah di gips”
Ucap sang dokter, menjelaskan kondisi haris.

“Tapi harus dilakukan foto rontgent, untuk memastikan………”

“Ah, gausah lah dok”
Gumam haris memotong penjelasan dokter.

Sang dokter sontak terdiam, sebentar melihat ke arah haris kemudian kembali melihat ke arah kak tiara.

“Ya terserah, tapi kan lebih baik di periksa sekarang, biar ga ada masalah apa – apa kedepannya”
Lanjut sang dokter.

“Yaudah rontgent aja dok”
Jawab kak tiara enteng.

Aku hanya terdiam, membiarkan kak tiara mengambil keputusan.

“Proses rontgentnya gabisa dilakukan di sini mba, karena kita ga punya alatnya, tapi nanti saya buatkan surat pengantar ke rumah sakit, agar pemeriksaan dapat di lanjutkan di sana”
Balas sang dokter.

“Ja, tolong lah”
Gumam haris lagi, kini sambil melihat ke arahku.

Aku masih terdiam, sejenak melihat ke arah kak tiara, ternyata kak tiara juga sedang melihat ke arahku..

“Kalo suratnya dibikin, bukan berarti kita harus ke sana kan dok?”
Tanyaku.

“Oh engga, ini cuman deskrpisi hasil pemeriksaan saya terhadap pasien kok, agar tindakan yang dilakukan di sana bisa berlandaskan surat pengantar saya. Mau atau engga pemeriksaan di lanjutkan, itu sepenuhnya hak pasien.”
Jelasnya.

“Yaudah dok, bikin aja”
Balasku.

Sang dokter mengangguk kemudian mulai berjalan ke arah meja kerjanya, sementara aku dan kak tiara masih berdiri di dekat haris.

“Kemana aja sih?”
Tanya kak tiara sambil menatapku dengan wajah juteknya.

“Tugas kelompok”
Jawabku.

“Sama yang waktu itu yah?”
Tanya kak tiara lagi, merefrensikan intan di dalam pertanyaannya.

“Iya”
Balasku pelan.

Kak tiara sejenak terdiam, kemudian berjalan menuju meja kerja sang dokter.

“Ja”
Panggil haris, aku melihatnya.

“Tanyain daud dong, gua bisa tidur tempat dia ga beberapa hari ini, bisa kelar gua kalo balik bawa muka kayak gini”
Lanjut haris.

“Kalem”
Jawabku sambil menepuk pelan lutut haris.

Aku kemudian memutarkan arah badan dan melangkah keluar ruangan..

“Ud, haris numpang tidur tempat lu bisa ga?”
Tanyaku kepada daud ketika aku sudah berada di luar.

“Bisa lah, emang tuh bocah kenapa?”
Jawab daud balik bertanya.

“Takut ketauan orang rumah”
Balasku.

Daud hanya mengangguk.

Aku berjalan ke arah daud dan duduk di sampingnya.

“Gabisa di diemin ud kalo udah begini mah”
Ucapku.

“Iye, tapi saran gua lu kalem dulu dah bro ”

“Maksud lu?”

“Tunggu haris baikan, trus cari 1 orang lagi yang bisa di andelin, baru pede dah gua”

“Siapa?”

“Gua ada kenalan si, tapi senior, angkatannya tiara”

“Kalem ga orangnya?”

“Banget”
Jawab daud.

Disaat yang bersamaan, pintu terbuka, kak tiara melangkah keluar bersama haris yang masih sibuk memegangi idungnya

“Ih kan udah di bilangin jangan di pegang”
Ucap kak tiara kepada haris.

“Iyaiya”
Jawab haris sambil menyingkirkan tangannya tak lagi memegang hidung.

Kak tiara kemudian melangkah ke bagian administrasi, sementara haris menurunkan badan duduk di seberangku dan daud..

“Bencong banget abang lu ja”
Ucap haris dengan suara tak jelas.

“Ribut kaga, mukul iya”
Lanjut haris

Entah mengapa, aku justru tersenyum mendengar keluhan haris.

“Emang ga ikut ribut dia?”
Tanyaku.

“Nonton doang, giliran gua udah lemes baru ikut mukul”
Jawabnya.

“Tapi sakit ga pukulannya?”
Ucap daud gantian bertanya.

“Ya namanya mukul ud, kak tiara juga sakit kalo mukul mah”
Jawab haris sambil sedikit melirik ke arah kak tiara.

“Nyakar dia mah bro”
Timpal daud cepat.

“Ngentot”
Balasku sambil menghentakan sikutku ke lengan daud..

Setidaknya, kami tertawa.
Setelah beberapa saat, kak tiara melangkah ke arah kami.

“Udah yuk pulang”
Ucap kak tiara sambil memasukan dompet ke dalam tasnya.

Kami bertiga kompak berdiri.

“Di mobil aja lu ris, motor lu biar gua yang bawa”
Ucap daud kepada haris.

Haris mengangguk.

Akhirnya kami berempat berangkat pulang menuju rumah kak tiara. Aku mengendarai motor, daud mengendarai motor sementara haris dan kak tiara di mobil.

____________

Sesampainya di rumah kak tiara, haris meminta izin untuk tidur duluan di kamar daud.

Aku sedang berada di dapur bersama kak tiara, sementara daud sedang duduk di sofa ruang tamu, sofa yang sepertinya kak tiara beli.

“Sofa dateng kapan kak?”
Tanyaku membuka percakapan

“Sore”
Jawab kak tiara ketus sambil mencuci tangannya.

Kak tiara kemudian memutarkan arah badan dan berjalan meninggalkanku, ia melangkah menuju tangga dan naik ke lantai dua. Aku menyusulnya, ikut naik ke lantai dua.

Di lantai dua, aku menemukan kak tiara sedang duduk di pinggir kasur.

“Kenapasih kak?”
Tanyaku sambil menutup pintu kamar

Kak tiara tak menjawab, aku melangkah mendekatinya.

“Jangan marah dong”
Ucapku, ketika aku sudah berada di hadapan kak tiara.

“Apasih”
Jawabnya ketus.

Aku menurunkan tubuh berjongkok di hadapan kak tiara, hingga dadaku berada di depan lututnya.

“Sayang”
Panggilku, sambil meletakan kedua tanganku di lutut kak tiara.

Kak tiara menaikan pandangannya melihatku, tiba – tiba kedua tangannya dengan cepat bergerak ke arah wajahku dan mendarat di pipiku.

“Ihhhhh ngeselinn banget sihh!”
Ucap kak tiara kencang sambil menarik kedua pipiku ke kiri dan ke kanan.

Ekspresi wajah kak tiara berubah, kini tatapan juteknya terlihat jelas di buat – buat, karena bibirnya bergetar ingin tersenyum.

“Kan ngerjain tugas kelompok kak”
Jawabku, ikut tersenyum.

“Tapi kamu suka kan sama dia?”
Tanya kak tiara, masih dengan kedua tangan di pipiku.

“Iya, tapi bukan berarti aku ada apa – apa sama dia, kan sekarang aku pacarnya kak tiara”
Jawabku, masih tersenyum.

Ekpresi jutek kak tiara seakan kalah saat mendengar ucapanku, bibirnya melengkung ke atas ikut tersenyum.

“Apasih”
Balas kak tiara, sepenuhnya tersenyum.

Kak tiara tiba – tiba bergerak mundur lalu meletakan tubuhnya di tengah kasur, aku bangkit berdiri untuk dapat melihatnya.

“Sini sayang”
Panggil kak tiara sambil tersenyum nakal dan menjulurkan tangannya ke arahku.

Kak Tiara

Tanpa menunggu, aku melangkah naik ke atas kasur, meraih tangan kak tiara, kemudian meletakan tubuhku menindih badannya hingga payudaranya yang kenyal berada di depan dadaku.

Aku memajukan wajah menyerang bibirnya, kami berciuman.

“Emh”
Kak tiara mendesah, tiba – tiba aku merasakan tangannya masuk ke antara selangkangan kami berdua dan meraih penisku.

Sambil terus bertukar ludah, kak tiara memijiti penisku dari luar celana.

Hingga akhirnya aku menarik kepalaku ke belakang melepaskan ciuman..

“Keluarin dong”
Ucap kak tiara sambil meremas penisku sedikit keras.

Aku mengangkat tubuhku tegap dengan bertumpu pada kedua lututku, membuka kaitan celana jeansku, lalu menariknya kebawah bersama celana dalamku.

Penisku yang sudah menegang itu langsung menjulang keluar.

“Bentar sayang”
Ucap kak tiara.

Kak tiara dengan cepat mengangkat tubuhnya menyamai posisiku, ia meletakan tangan kirinya di belakang leherku dan mengajakku berciuman, kami kembali bertukar ludah, di saat yang sama aku merasakan penisku di genggam dan genggamannya bergerak naik turun.

“Emm”
Desahku menikmati ciuman dan permainan tangan kak tiara.

Tak mau kalah, aku menggerakan tanganku ke arah selangkangan kak tiara, mengusap – usap vaginanya dari luar celana. Kak tiara makin buas, ia justru mendorong tubuhku hingga badanku terjatuh di kasur.

“Tangannya jangan nakal yah”
Ucap kak tiara tersenyum sambil terus memijit penisku.

Kepala kak tiara turun kebawah, hingga wajahnya tepat berada di depan penisku, ia membuka mulutnya lalu tanpa ragu melahap penisku..

“Ahhh kak”
Desahku saat merasakan sensasi geli dan kehangatan mulut kak tiara..

Kak tiara kemudian mulai menggerakan kepalanya naik turun, membuat penisku terasa nikmat akibat bergesekan dengan bibir indahnya..

Aku hanya bisa mengerang kenikmatan, entah hingga berapa lama akhirnya kak tiara menyudahi aksinya, kemudian berdiri.

Masih dengan tatapan nakal, kak tiara mulai melorotkan celana jeans ketatnya kebawah. Celana jeansnya memang cukup ketat sehingga kak tiara harus menggerakan pinggulnya ke kiri dan kanan untuk dapat meloloskan celana, lalu celana dalamnya.

Kini kak tiara masih dalam posisi berdiri di hadapanku, masih menggunakan kaos namun bugil ke bawahnya. Kak tiara sejenak mengusap bibir vaginanya sendiri, kemudian bergerak maju dan meletakan kedua kakinya samping pinggulku.

“Hari ini kakak diatas lagi”
Ucapnya, mengingatkanku pada persetubuhan kami beberapa hari yang lalu.

Kak tiara mulai menurunkan tubuhnya berjongkok, hingga kepala penisku sudah berada tepat di depan bibir vaginanya.

“Emhh”
Desah kak tiara pelan saat kepala penisku mulai membuka bibir vaginanya..

Tanpa ragu, kak tiara mulai mendorong penisku masuk, hingga penisku mulai menghilang di telan lubang vaginannya.

“Aaahhhh”
Desah kak tiara cukup kencang saat penisku sudah sepenuhnya masuk..

“Gede bangett”
Ucap kak tiara.

Aku hanya terdiam, menikmati permainannya..

Setelah beberapa saat, kak tiara mulai menggerakan tubuhnya naik turun, membuat penisku mulai menusuk vaginanya..

“Aaahhhh….aahh”
Desah kak tiara kencang di tengah persebutuhan ini

Aku semakin bernafsu..

Tanganku bergerak ke arah dada kak tiara, meremasnya kencang sambil menikmati jepitan vagina kak tiara..

Aku kemudian dengan cepat menaikan tubuhku. Karena posisi kak tiara yang sedang duduk di atas pangkuanku, dua buah payudara indah kak tiara kini berada tepat di depan wajahku.

Tak sabar, aku segera menarik kaos kak tiara ke atas, begitu juga dengan bra hitamnya, hingga terpampanglah dua payudara putih mulus kak tiara di depan mataku. Aku meletakan mulutku tepat di bagian putingnya, menjilatinya dan menghisapnya.

Walau terkadang payudara kak tiara terlepas dari mulutku karena kak tiara semakin semangat menaik turunkan tubuhnya..

“Aaaahh terruss sayaangg”
Desah kak tiara sambil mengarahkan dadanya kembali ke mulutku..

Aku menurut, kembali menghisapi payudaranya .

Setelah beberapa saat, tiba – tiba kak tiara meletakan kedua tangannya di pundakku, lalu mendorongku kuat hingga tubuhku kembali berbaring di kasur..

Dengan bantuan kedua tangannya yang kini berada di dadaku, kak tiara semakin mempercepat gerakannya..

“Akuu keluarrrr yanggg”
Ucap kak tiara keras.

“Aku bentar lagi kak”
Balasku..

“Cepettttt”
Pekik kak tiara sambil memejamkan mata..

Entah apa yang kak tiara lakukan, tiba – tiba aku merasakan penisku benar – benar terjepit di dalam lubang vaginannya.

“Bareengg”
Ucapku yang merasa spermaku akan segera keluar karena merasakan sensasi jepitan kak tiara…

“Aaaahhh iyaahhh ahhhhh”
Teriak kak tiara, matanya terpejam, tubuhnya bergetar.

“Emmhh”
Desahku, otot kakiku mengeras.

Kami berdua mendapatkan ejakulasi disaat yang bersamaan.
Tubuh kak tiara seketika ambruk menindihku, kami berdua sesaat terdiam, hanya suara pacuan nafas kami yang perlahan terdengar mulai teratur

Wajah kak tiara berada di leherku, lalu aku merasakan tangan kak tiara mengelus dadaku..

“Yang, aku lagi subur loh”
Ucapnya.

Mataku terbelalak saat mengingat bahwa dua hari yang lalu kak tiara memang mengatakan bahwa dia sedang berada dalam masa subur.

Panik, aku dengan kuat menyingkirkan tubuh kak tiara hingga ia terdorong dan jatuh di atas kasur..

“Kak!”
Protesku menyadari apa yang baru saja terjadi..

Kak tiara hanya menatapku, ia nampak tak percaya bahwa aku baru saja mendorong tubuhnya dengan kuat..

“Astaga”
Ucapku sambil menggelengkan kepala.

Tatapan kak tiara berubah, ia dengan segera meraih tanganku.

“Engga kok ja, gapapa”
Ucapnya.

“Apanya yang gapapa?! Gapapa kalo lu hamil?!”
Bentakku sambil menggerakan tangan menyingkirkan genggaman kak tiara, aku emosi..

Kak tiara dengan buru – buru bergerak menuruni kasur lalu berlari masuk ke kamar mandi.
Aku hanya terdiam, tak percaya bahwa kak tiara tak mengindahkan ucapanku dua hari yang lalu.

Setelah beberapa saat kak tiara keluar dari kamar mandi, tubuh bagian bawahnya tampak basah.

“Udah kakak cuci kok ja”
Ucap kak tiara dengan nada memohon lalu meraih tanganku.

“Apa susahnya sih kak bilang dari awal doang?”
Balasku.

“Iya maaf, engga, gabakal kenapa – napa kok”
Ucapnya.

Aku menggelekan kepala kemudian bergerak menuruni kasur meninggalkan kak tiara..

“Ja maaf!”
Ucapnya lagi, suaranya mulai goyang.

Aku meraih celanaku yang berada di pinggir kasur, lalu melihat ke arahnya, yang masih menatapku sayu.

“Iya”
Jawabku sekenanya, hanya agar ia tak menangis..

Aku menggunakan celanaku, kemudian mulai melangkah ke arah pintu, aku bisa mendengar kak tiara dengan cepat ikut turun dari atas kasur.

“Ihh jaa mau kemana sih?!”
Tanya kak tiara, sambil memeluk lenganku.

Aku menghentikan langkahku, kemudian melihat ke arahnya..

“Maaf”
Ucap kak tiara lagi, kini pipinya mulai di tetesi air mata..

Aku menarik nafas, menenangkan diri.

“Iya ka, tapi jangan gitu lagi, kan ga susah buat ngingetin aku dari awal”
Ucapku.

Aku meletakan jariku di pipinya.

“Udah ah, aku cuman mau ngerokok dibawah kok”
Lanjutku sambil mengelus pipinya.

“Di depan aja, kakak ikut”
Jawab kak tiara masih memeluk lenganku erat..

“Yaudah tapi pake celana dulu”
Ucapku sambil tersenyum karena menyadari bahwa tanganku yang ia peluk, dapat merasakan kulit halus dibagian perut bawahnya.

Kak tiara melepaskan lenganku, lalu melangkah menuju lemari.

“Senyum kek”
Ucapku, kak tiara tak menjawab, ia terus berjalan sambil mengusap air matanya dengan lengan.

Setelah menggunakan celana pendek, kak tiara kembali melangkah ke arahku. Aku kemudian membuka pintu dan duduk di atas sofa baru yang berada di lantai dua.

Kak tiara duduk di sampingku, masih dengan wajah sayunya.
Aku melebarkan tanganku melewati leher kak tiara..

“Sini”
Ucapku sambil menarik lehernya.

Kak tiara menurut, ia bersender pada pundaku dan menggenggam tanganku yang merangkulnya.

_______

Ke esokan harinya, sekitar jam 3 sore.

Aku sedang merokok di ruang tamu seteleh mendapatkan izin khusus dari kak tiara, bersama haris yang dengan bodoh masih tetap memaksa merokok walau kerap mengeluh bahwa seluruh wajahnya masih terasa sakit..

Tiba – tiba ada pesan masuk di grup tendes.

“Di dirumah ada siapa?”
Tanya daud.

“Lengkap”
Jawabku singkat.

“Otw bro”
Balasnya.

Aku kembali menikmati rokokku lalu haris izin untuk istirahat di kamar.

Setelah beberapa saat, tiba – tiba terdengar suara gerbang dibuka, aku berdiri lalu melangkah ke halaman rumah untuk melihat gerbang.

Daud, bersama seorang wanita yang tak ku kenal.

“Oi bro, kenalin nih, nindy”
Ucap daud saat ia sudah berada di depanku.

“Reza”

“Nindy”

Kami berjabat tangan.

“Tiara mana?”
Tanya daud ketika aku melepaskan tangan nindy.

“Dapur”
Jawabku singkat.

“Ayo nin”
Ajak daud kepada nindy..

Nindy sempat tersenyum kepadaku, lalu berjalan mengikuti daud ke dalam rumah.

Lalu terdengar…

“Lohh nindy? Kok sama daud?”
Suara kak tiara.

“Iya, adek kelas pas sma ra”

“Oh gituu, sini – sini duduk”

Aku segera masuk ke dalam rumah dan menemukan daud yang baru saja duduk di atas sofa.

“Cewek lu ud?”
Tanyaku.

“Bukan, itu senior yang kemaren gua bilang”
Jawabnya.

“Oh, kakak kelas lu pas sma?”
Balasku sambil mengangguk teringat perbincanganku dengan daud di dokter kemarin..

“Dia adek kelas gua anjing”
Jawab daud sewot.

“Ohiye”

Aku menurunkan tubuh, ikut duduk di sofa.

“Lu serius ngajak dia?”
Tanyaku lagi

“Iya, tiati lu bro, anak kick boxing itu”

Aku menggerakan kepalaku untuk melihat ke arah kak nindy yang sedang seru berbincang dengan kak tiara.

“Suruh sparing dah sama gua di kamar”
Ucapku kembali melihat ke arah daud

“Yeh ngentot”
Protes daud sambil tersenyum.

Bersambung

Daftar part