. Owalah Part 11 | Kisah Malam

Owalah Part 11

1
279

Owalah Part 11

“Oi bro, gua pindahan ntar sore bisa ga?”
Pesan dari daud di grup tendes.

“Bisa, mau kemari jam berapa?”
Balasku.

“Sorean, kelas dulu gua. Lu ga kekampus bro?”
Tanya daud lagi

“Udah kelar, satu kelas pagi doang gua”

“Oalah, yaudeh ntar gua langsung ke sono ya”

“Siap”

Setelah daud tak lagi membalas, aku meletakan hp di sampingku. Saat ini, sekitar jam 1 siang, aku sedang berbaring di kasur menikmati kelenggangan jadwal perkuliahanku. Entah sejak kapan, mataku mulai terpenjam, tertidur.

“BUKA BANGSAT!”
Teriak ku sambil berkali – kali menggendor pintu kamar.

Mereka tak menjawab, justru terdengar jelas suara gelak tawa mereka dari dalam kamar.

“ANJING!!”
Teriakku kencang, kali ini sambil menendang pintu untuk mendobraknya, bagian bawah pintu yang ku tendang sempat bengkok sedikit terbuka, namun dengan cepat kembali pada kondisi semula.

Setelah beberapa kali ku tendang, akhirnya pintu terbuka dengan sendirinya, rupanya aryo dan bagas lah yang membuka pintu, kini mereka berdua sedang berdiri percis di depan pintu.

Aku dengan segera melangkah mendekati mereka.

“MINGGIR LU!”
Bentakku seraya berusaha untuk menyingkirkan tubuh mereka berdua.

Mereka menahan tubuhku, namun sebagian kepalaku dapat melihat ke dalam kamar. Badanku terasa lemas saat melihat lala yang masih memakai seragam sekolahnya lengkap sedang jongkok di lantai tepat di depan selangkangan geri yang duduk di pinggir kasur dengan celana melorot ke bawah.

“LA JANGAN GINI LAH!”
Teriakku mencoba memanggil lala, lala tak menghiraukannku, justru geri yang menatapku sambil tersenyum.

“AWAS ANJING!”
Teriakku lagi sambil mencoba mendorong aryo dan bagas yang masih menahan tubuhku.

Namun, dengan empat tangan mereka berdua segera mendorong tubuhku hingga aku harus melangkah mundur menjauhi pintu kamar.

“Elu yang anjing!”
Ucap bagas sambil melotot ku arahku.

“Mati lu bertiga”
Balasku sambil kembali melangkah maju, mengangkat kedua tanganku ke samping pelipis, membungkukan badan mengambil sikap bertarung..

Tiba – tiba aku merasakan sentuhan di betisku..

“Sayang, ada daud tuh di bawah”
Suara kak tiara.

Aku membuka mata dan menemukan kak tiara sedang berdiri di hadapanku, membangunkanku dengan mengelus betisku.

“Iya kak”
Balasku.

Aku perlahan mengangkat tubuhku hingga terduduk di pinggir kasur, terdiam sejenak mengumpulkan nyawa. Kak tiara justru mengulurkan tangannya dan pengelus pipiku, sontak aku melihat ke arahnya.

“Kakak ke bawah yah”
Ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah mundur menuju pintu kamar.

Aku masih terdiam, sebentar mengucek mata kemudian bangkit berdiri dan mulai berjalan menuju lantai satu..

“Udah lama lu ud?”
Ucapku saat masih berada di tangga kepada daud yang sedang duduk di kursi makan..

“Baru banget nyampe, ketiduran lu ye?”
Balasnya, saat aku sudah berada di anak tangga terakhir.

“Iya, barang – barang lu mana?”
Tanyaku lagi sambil meraih botol minuman yang tersedia di atas meja makan..

“Depan”
Jawab daud singkat kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu rumah..

Aku sebentar menenggak minumanku lalu ikut melangkah ke depan rumah..

“Ayok pak turunin”
Ucap daud kepada seseorang di luar.

Aku melangkah keluar dan melihat sebuah mobil bak sedang terparkir di depan rumah, pengemudi bak mobil tersebut dengan segera bergerak ke belakang mobil dan melepaskan ikatan tali pada barang – barang di belakang mobilnya.

“Buset, niat banget lu”
Ucapku kemudian mengikuti daud melangkah menuju gerbang..

“Alah, orang bengkel itu mah”
Balas daud.

Aku tak menjawab, terus mengikuti daud mendekati mobil bak, lalu mulai membantunya menurunkan barang dan memindahkannya ke dalam kamar.

Saat memindahkan barang – barang daud dari mobil bak menuju kamar, aku sempat melihat kak tiara sedang duduk di kursi makan, menatap layar hpnya. Beberapa kali berbolak – balik, aku terus melihat kak tiara masih duduk di kursi makan, namun satu hal yang aku sadari adalah alisnya mengerenyit seakan sedang tak nyaman akan sesuatu.

“Bentar ud”
Ucapku pada daud sambil meletakan alat seterikaannya di atas kasurnya yang sudah berada di dalam kamar.

Aku melangkah keluar kamar, berjalan mendekati kak tiara yang masih termenung menatap jutek layar hpnya..

“Kenapa kak?”
Tanyaku..

Kak tiara dengan cepat melihat ke arahku dan menarik hpnya menjauh dari pengelihatanku..

“Gapapa kok”
Jawabnnya sambil tersenyum, bibirnya tersenyum namun alis matanya tak ikut bergerak.

“Serius kenapa?”
Tanyaku lagi menyadari bahwa kak tiara berpura – pura tersenyum.

“Gapapa sayangg”
Jawabnya lagi.

Aku dengan cepat melangkah ke arah tangga, saat kakiku menaiki anak tangga pertama aku sebentar melihat kak tiara, kak tiara juga melihat ke arahku, kemudian aku segera menaiki tangga, kak tiara nampak mengerti dan bangkit berdiri dari tempat duduknya..

Aku berjalan memasuki kamar, kak tiara mengikutiku. Setelah berada di dalam kamar, aku memutarkan arah badan berhadapan dengan kak tiara.

“Sini hpnya”
Ucapku sambil menjulurkan tangan meminta hp kak tiara.

“Ih apaansih”
Balas kak tiara justru menjauhkan hpnya dari jangkauanku.

“Mangkanya cerita ada apa”
Ucapku lagi, kini tanganku yang tadi ingin meraih hpnya ku letakan di lengannya.

Kak tiara terdiam, ia sedikit menundukan kepalanya.

“Kak”
Panggilku pelan sambil mengelus lembut lengannya.

“Andre”
Jawab kak tiara sambil kembali mengangkat kepalanya melihatku.

“Kenapa?”

“Ngajak ketemuan”

“Kakak mau?”
Entah mengapa, jantungku sedikit berdetak lebih cepat, menunggu jawabannya.

“Engga lah!”
Jawabnya lantang, dengan wajah cemberut.

Aku tersenyum, kembali mengelus lengannya.

“Yaudah diemin….

Ucapanku terpotong saat mendengar hp kak tiara kembali bergetar, kak tiara dengan segera melihat layar hpnya.

“Tuh, dia nelpon terus”
Keluh kak tiara.

Aku melepas lengan kak tiara, membuka telapak tanganku dan meletakannya di antara perut ku dan kak tiara.

“Sini”
Ucapku sambil melihat ke hpnya..

Kak tiara menatapku, tangannya menggenggam hpnya kuat.

“Jangan aneh – aneh ah”
Jawab kak tiara dengan nada meminta.

“Percaya sama aku kan kak?”

Tatapan kak tiara melemah, perlahan tangannya bergerak menaruh hpnya di atas telapak tanganku. Aku sebentar melihat layar hpnya, membaca nama ‘andre’, kemudian mengusap layar untuk menerima dan menempelkan hp kak tiara dengan telingaku.

“Kok ga di angkat – angkat sih?!”
Ucap andre membuka omongan.

“Jangan ganggu tiara lagi bro”
Ucapku.

Kami berdua sejenak terdiam.

“Lu siape?”
Ucapnya kembali melanjutkan pembicaraan.

“Elu yang siape?”
Balasku balik bertanya.

“Lah gua cowoknya”

“Gausah ngaku – ngaku lah, inget lu udah……

“Alah ngentot! Lu si maba tengil kan?”
Ucapnya memotong omonganku..

“Kalo iya kenapa?”
Balasku menantang

“BANGSAT LU YE! GA BAKAL PANJANG NYAWA LU!!”
Bentaknya mulai berteriak..

“Yaelah bro…..

“BACOT!! TIARA MANA ANJING!”
Bentaknya lagi memotong omonganku.

“Kalo emang lu cowok, temuin gua. Satu lawan satu kita, mau tau gua kerasan mana bacot apa rahang lu”
Ucapku.

“NGEN…”

Ucapannya terpotong saat aku dengan segera memutuskan saluran telepon.

Aku melihat kak tiara yang masih menatapku dengan khawatir, aku melempar hp kak tiara ke atas kasur lalu meraih tangannya dan mengajaknya untuk turun ke lantai 1, kak tiara tak melawan, ia justru merangkul lenganku dan ikut melangkah.

Di lantai 1, daud sedang duduk di kursi meja makan, menatap layar hpnya dengan sebatang rokok menyala yang terselip di antara jarinya.

“Ih, kalo ngerokok di luar”
Protes kak tiara kepada daud ketika kami berdua sudah selesai menuruni tangga.

“Ohiya maap”
Ucap daud kemudian berdiri dan hendak melangkah menuju pintu rumah.

“Ikut dah ud”
Balasku yang juga hendak melangkah untuk menghilangkan rasa asam di mulutku dengan sebatang rokok..

Aku baru ingat bahwa kak tiara masih merangkulku saat ia menahan kedua lenganku, melarangku untuk berjalan.

“Buat kali ini gapapa deh”
Ucap kak tiara sambil terus menahan lenganku.

Aku melihat ke arahnya, ia justru menatapku dengan wajah cemberut.

“Serius nih kak?”
Tanya daud.

“Iya”
Jawab kak tiara singkat.

Kak tiara kemudian menarik lenganku ke bawah seakan menyuruhku untuk duduk di kursi, aku menuruti permintaanya menurunkan badanku, kak tiara lalu dengan santainya meletakan pantatnya duduk di atas pahaku.

“Bangsat lu bro”
Ucap daud

Aku melihat daud, ternyata daud sedang membuang pandangan seakan merasa terganggu melihat posisiku dan kak tiara.

“Haha sorry sorry, disamping aja kak”
Balasku sambil sedikit tertawa, kemudian meletakan kedua tanganku di pinggang kak tiara, mendorongnya pelan untuk membuatnya meyingkir dari pahaku.

Kak tiara menurut, ia mengangkat tubuhnya lalu duduk di kursi sebelahku. Aku kembali melihat daud, daud kini sudah berani untuk membalas tatapanku.

“Haris mana dah?”
Tanyaku membuka obrolan..

“Di warung, biasa sama bocahannya”
Jawab daud.

Aku terdiam sejenak, mengambil waktu untuk menyalakan rokok.

“Ohiya, ini bayar bulanannya berapa?”
Tanya daud.

Aku tak menjawab, menunggu keputusan dari kak tiara.

“Gausah sih”
Jawab kak tiara.

“Jangan gitu lah kak, kalo ga bikin kas bulanan aja buat kita – kita”

“Yaudah seratus atau dua ratus ribu aja”
Jawab kak tiara.

Entah mengapa, aku membunyikan persendian jari tanganku saat mendengar jawaban kak tiara..

“Nah, jadi kan enak kalo ntar pengen beli apa – apa, tapi kalo gua ntar naro 500 aja kak perbulan, itung – itung nambahin uang kas”
Ucap daud, justru memahalkan uang kasnya.

“Trus yang boleh dateng kemari siapa aja nih?”
Lanjut daud kembali bertanya.

“Anak – anak tendes sama orang yang di undang aja, tapi jangan sering – sering ngajak orang yah”
Balas kak tiara.

“Iyaiya, mangkanya kalo lu ga nyaman ngomong aja kak, sama uang kas juga, jangan ragu ngingetin”

“Loh kok gua?”
Protes kak tiara.

“Trus siapa lagi? Reza, yang ada di tilep malah”

“Gapapa, biar gua gigit dia”
Ucap kak tiara sambil tersenyum penuh arti kepadaku.

“Apaansih, udah kakak aja yang megang”
Balasku, tanpa membalas senyumannya.

“Okedeh boss”
Jawab kak tiara tersenyum manja lalu meraih tanganku.

Setelah itu, kami lanjut berbicang hingga malam mulai menua dan akhirnya kami kembali ke kamar masing – masing.

________

Di kampus, jam setengah satu siang.

Aku sedang melangkah di lorong kampus menuju kelas perkuliahanku, tiba – tiba langkahku terhenti saat mendengar sebuah suara memanggil namaku.

“Zaa”
Suara intan.

Aku melihat ke belakang, intan sedang berjalan cepat mengejarku.

“Ntar malem ngerjain tugas kelompok bisa?”
Tanya intan saat ia sudah berada di hadapanku.

“Hah? Kok malem?”
Balasku sambil mengembalikan pandangaku ke depan lalu lanjut melangkah.

“Iya, si ajis ada kuliah sampe jam 5”
Balas intan menyebutkan nama salah satu mahasiswa sekelompok kami.

Intan ikut berjalan mengimbangi langkahku.

“Oh yaudah, ngerjain dimana?”

“Di rumahku, bisa?”

Aku sontak menghentikan langkahku, melihat intan yang masih sempat berjalan mendahuluiku.

“Kenapa? Oh.. engga, gapapa kok”
Lanjut intan ikut menghentikan langkah, nampaknya ia mengerti apa yang aku pikirkan.

“Gapapa za yaampun, bang nandes baik kok orangnya”
Ucap intan lagi.

Aku masih terdiam, sejenak menggaruk kepala, kemudian menerima ajakannya.

“Oke deh”
Ucapku.

__________

Sekitar jam setengah 7 malam.

Aku sedang mengendarai motorku membonceng intan, sementara seorang mahasiswa lain juga sedang membonceng seorang mahasiswa yang merupakan anggota kelompok kami.

“Itu pager biru”
Ucap intan.

Aku menghentikan motorku di depan gerbang sebuah rumah sederhana, yang merupakan rumahnya intan. Intan turun dari motor, melangkah ke gerbang lalu membukanya..

“Yuk”
Ucap intan saat gerbang terbuka.

Aku dan mahasiswa yang mengendari motor dengan segera melajukan motor kami memasuki area parkir rumah intan yang tergolong kecil.

Intan menutup gerbang lalu mulai melangkah menuju pintu rumahnya.

“Masuk aja, ga ada orang kok”
Ucap intan.

Aku dan kedua anggota kelompok melangkah mengikuti intan.

“Orang rumah pada kemana ntan?”
Tanya seorang teman sekelompokku.

“Bang nandes blum pulang, mamah masih di toko”
Ucap intan sambil membuka pintu rumahnya.

Kami bertiga hanya mengangguk, sadar untuk tidak menanyakan mengenai ayahnya.

Intan mempersilahkan kami untuk duduk di ruang tamu, lalu kegiatan mengerjakan tugas kelompok pun di mulai.

“Kalo yang gua tangkep sih, ilmu merupakan kumpulan dari informasi yang sudah di kategorikan ke dalam satu terapan, sementara pengetahuan merupakan kumpulan informasi yang masih bersifat bebas, bisa merupakan bagian dari sebuah ilmu tapi bisa juga engga”
Ucapku berdiskusi.

Intan menatapku, ia sedikit tersenyum kemudian mengangguk.

“Yaudah, nanti kamu aja yah za yang jelasin di bagian ini”
Ucap intan.

“Beres”
Jawabku percaya diri.

Diskusi berlanjut, namun tiba – tiba hpku bergetar. Aku memeriksanya, ternyata ada sebuah panggilan dari haris.

“Halo?”
Ucapku menjawab telepon haris.

“Oi, temen lu udah pengen mati nih”
Ucapnya.

Mataku terbelalak, menyadari ini bukan suara haris, namun suara andre.

“Lu ngapain temen gua?!”
Balasku sontak emosi memikirkan kondisi haris.

Andre tak menjawab, justru dengan segera menyudahi panggilan telepon.

“Anjing!”
Sungutku pelan agar tidak terdengar oleh teman – teman sekelompok, namun sepertinya percuma karena mereka bertiga ternyata sudah menatapku.

“Eh.. gua pamit duluan ya”
Ucapku meminta izin pada mereka, mereka tak menjawab, hanya menatapku bingung.

“Ohyaudah, ayok aku anter ke depan”
Balas intan menyetuhi perizinanku.

Aku berdirii, intan ikut berdiri, dengan terburu – buru aku melangkah keluar rumah, saat berjalan menuju gerbang, aku menyempatkan untuk membuka hpku dan menanyakan keberadaan haris di grup tendes, tanpa menunggu balasan aku segera meletakan hpku kembali ke dalam kantong.

Tepat ketika intan membuka gerbang, sebuah mobil sedang berhenti di depan gerbang, pintu mobil terbuka, keluarlah dua orang manusia dari dalam mobil, nandes bersama seorang wanita cantik yang tak ku kenal.

Nandes menatapku, aku juga menatapnya.

“Udah pulang bang?”
Tanya intan kepada nandes.

Nandes tak menjawab, ia terus melangkah ke arah gerbang.

“Oh ada tamu”
Ucap nandes..

“Iya”
Jawab intan.

Aku dengan segera melangkah menghampiri nandes, menjulurkan tangan dan menjabatnya.

“Udah mau pulang atau baru nyampe?”
Tanya nandes kepadaku.

“Mau pulang bang”
Jawabku.

Nandes mengangguk lalu melihat ke arah intan..

“Dek, bentar yah”
Ucap nandes.

Intan mengangguk lalu membalikan arah dan mulai berjalan menuju pintu rumah.

Setelah beberapa saat….

“Lu ngapain?”
Tanya nandes.

“Ada tugas kelompok bang”
Jawabku..

Nandes kemudian berjalan ke sampingku, tepat ketika ia berada di sebelahku, ia menghentikan langkahnya.

“Gua tau lu siapa dan sebenernya gua ga ada masalah sama lu, tapi gimanapun juga gua abangnya intan, jadi kalo bisa jangan aneh – aneh lah ya”
Ucap nandes dengan nada serius..

“Iya bang”
Jawabku cepat..

Nandes menempuk pundakku lalu lanjut berjalan menuju pintu rumah, aku masih terdiam sambil sesekali melihat ke seorang wanita yang berada di depanku, berjalan mengikuti nandes.

Aku dengan segera mengeluarkan motorku, lalu di saat aku hendak menutup gerbang…

“Gausah”
Teriak nandes yang ternyata sedang duduk di halaman rumah bersama.

Aku mengangguk, kemudian dengan cepat berangkat menuju kampus..

Beresambung

Cerita Terpopuler