. Owalah Part 10 | Kisah Malam

Owalah Part 10

0
288

Owalah Part 10

Siang ini aku sedang berada di kampus setelah tadi pagi mendapat sikap jutek dari kak tiara karena telah membuatnya khawatir.

Saat aku sedang mengikuti mata kuliah kedua hari ini, tiba – tiba hapeku bergetar. Diam – diam aku memeriksanya, ternyata haris mengundangku bergabung ke sebuah grup, aku menggelengkan kepala saat membaca nama grup tersebut.

‘KAMI CINTA KAK TIARA!’

Di dalam grup tersebut, haris sedang melakukan percakapan dengan daud.

“Oi, ada yang di warung ga?”
Daud.

“Lu pengen ke warung ud?”
Haris.

“Iya, kaga ada dosen gua”

“Gua otw dah”

“Lah lu kaga kelas?”

“Mager gua”

Aku menyentuhkan kedua ibu jariku dengan layar layar hp untuk mengetik pesan.

“Woi! Nama grupnya ganti anjing!”
Kirimku.

“Wkwkwk ganti jadi apaan?”
Haris.

“Apaan kek, udeh ganti aja dulu!”

Beberapa saat kemudian nama grup berubah,

‘KAMI SAYANG KAK TIARA!’

“Ngentot!”
Kirimku setelah membaca nama baru grup tersebut.

“Wkkwkkw gua otw ud”
Balas haris justru tak menanggapi pesanku.

“Wkkwkwk okeoke”
Daud.

Haris dan daud tak lagi berbalas pesan, aku segera meletakan hpku ke dalam kanton dan kembali fokus mengikuti perkuliahan.

________

Di warung.

“Bangsat lu ye”
Ucapku kepada haris ketika aku baru saja turun dari motor.

“Buset dateng – dateng ngomel”
Jawab haris yang sedang duduk bersama daud.

Aku melangkah mendekati penjaga warung, membeli rokok dan minuman kemudian kembali melihat ke arah haris dan daud.

“Namanya mau di ganti apaan ja?”
Ucap haris kepadaku.

“Serah lu lah”
Jawabku sambil melangkah dan duduk diatas jok motorku.

“Emang tripunar sama 5hc artinya apaan dah?”
Lanjutku sambil menyulutkan rokok.

“Kalo 5hc mah artinya 5 huruf cukup, singkatan dari 5 nama depan pendirinya”
Jawab haris.

“Kalo tripunar?”

“Hari ketiga setelah bulan kuning, kejadian supermoon 23 juni 2013”
Jawab haris.

“Lah keren”
Ucapku.

“Trus nama kita apaan coy?”
Tanya haris lagi.

“Yaelah ngapain di pikirin si, ntar juga dapet sendiri”
Celetuk daud ikut dalam pembicaraan.

Kami bertiga kemudian terdiam, tak ingin berlama – lama dalam keheningan, entah di pancing oleh siapa kami justru mulai mengobrol panjang.

Waktu berlalu, hingga jam sudah menunjukan pukul 5 sore.

“Ah balik dulu dah gua coy”
Ucap daud sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Yaelah buru – buru amat”
Balas haris.

“Pegel gua, pengen rebahan”

“Pindah ke tempat kak tiara aja dah yok”

Mereka berdua melihat ke arah ku, aku hanya terdiam membalas tatapan mereka.

“Ohiye bro, rumah kak tiara beneran bisa ga? Kalo bisa gua minggu ini pindah”
Tanya daud.

“Tau dah ud, gua juga bingung”
Jawabku.

“Serius bro, biar gua siap – siap pindahan kalo emang bisa”

Aku terdiam sejenak, menarik nafas panjang sebelum menentukan keputusanku.

“Bisa dah”
Jawabku tenang.

Daud mengangguk kemudian melangkah menghampiri motornya.

“Duluan ye”
Ucap daud…

Tak lama, daud sudah pergi meninggalkan kami berdua. Setelah beberapa saat, aku menyalakan mesin motorku dan bersiap untuk pulang.

“Lah lu mau kemane?”
Tanya haris yang masih duduk di kursi kayu.

“Cabut lah”
Ucapku.

“Ah anjing…eh gua ngikut dah yak, males banget gua balik jam segini”
Ucap haris meminta ikut ke rumah kak tiara.

Aku melihat ke arah haris, ia sudah berdiri dan bersiap untuk ikut ke rumah kak tiara.

“Lain kali aja dah ris, lagi ga enak gua sama doi”
Ucapku, mengingat kejadian dengan kak tiara kemarin.

“Yaudeh cabut dah lu..jadi kuncen lagi dah gua”
Balasnya dengan wajah malas.

“Haha.. lain kali ye, serius gua”
Aku coba menghiburnya.

“Iye kalem”
Balasnya.

_________

Setibanya di rumah, aku menemukan kak tiara sedang duduk di meja makan. Seperti kemarin, ia masih sibuk dengan laptopnya, aku cuek melangkah melewatinya menuju tangga untuk segera naik ke lantai dua.

“Mau kemana?”
Tanya kak tiara tepat ketika aku hendak menaiki tangga.

“Naro tas”
Ucapku sambil melihat ke arahnya.

“Ih kan udah di bilang tas taro kamar aja”
Balasnya.

Mendengar ucapan kak tiara, aku memutarkan badan dan melangkah menuju kamar. Setibanya di dalam kamar, aku meletakan tasku di atas lemari lalu bergegas mandi.

Setelah mandi, aku kembali menuju ke ruang makan.

“Udah makan kak?”
Tanyaku.

“Udah”
Jawabnya singkat.

Aku mengangguk, kemudian hendak melangkah keluar rumah untuk membeli makanan.

“Itu ada ayam”
Ucap kak tiara.

Lagi – lagi aku kembali menuju dapur, aku melahap makananku dan mencuci piring tanpa sedikit pun berbicara dengan kak tiara.
Selesai makan dan mencuci piring, aku melangkah ke halaman rumah untuk menghilangkan rasa asam di mulut dengan sebatang rokok.

Aku menyalakan layar hp, iseng melihat – lihat daftar konta dan sempat berhenti di tiga buah nama..
Entah bagaimana kabar mereka sekarang, aku berharap mereka baik – baik saja.

Tiba – tiba ada sebuah pesan masuk di grup ‘KAMI SAYANG KAK TIARA!’

“Oi, besok gua ngajak orang ikut nongkrong di warung boleh ga?”
Haris.

“Siape?”
Balasku.

“Ada dah, maba kok selow”
Haris..

“Ajak aje ris, asal lu tanggung jawab”
Daud ikut dalam pembicaraan.

“Iye kalem”
Haris.

“Oi ris, nama grup ganti lah”
Kirimku.

“Ganti apaan?”
Haris.

Aku tak membalas, bingung untuk memberikan masukan nama.

“Gua ngasih saran boleh?”
Tanya daud.

“Apaan ud?”
Haris.

“Tendes”
Balas daud..

“Artinya apaan ud?”
Tanyaku.

Daud tak menjawab, namun beberapa saat kemudian justru haris yang menjawab pertanyaanku.

“10 desember, kejadian bori ja”
Jawab haris.

Aku sedikit mengerenyitkan alis mata saat mengetahui tanggal kematian mendiang abangnya daud.

“Gas!”
Balasku setuju.

Haris dan daud tak lagi membalas, sedetik kemudian nama grup berubah menjadi ‘TENDES’.

Setelah beberapa saat..

Aku membuang puntung rokok lalu melangkah masuk ke dalam rumah, saat melihat kak tiara yang masih sibuk dengan laptopnya, aku memberanikan diri untuk berjalan mendekatinya.

“Kak..”
Panggilku pelan saat sudah berada di dekatnya..

“Ya?”
Jawabnya, tanpa melihat ke arahku..

“Masih marah?”
Tanyaku..

Kak tiara tak menjawab.

“Aku minta maaf yah kak. Iya, aku suka sama dia, tapi aku sayang sama kak tiara”
Ucapku.

Kak tiara masih terdiam, namun jari – jarinya berhenti tak lagi mengetik keyboard laptopnya.

“Aku tidur duluan”
Lanjutku..

Aku hendak memutarkan tubuh untuk melangkah menuju tangga, namun dengan cepat kak tiara menggenggam tanganku…

“Tidur di kamar aja”
Ucapnya, sambil melihat ke arahku.

Entah mengapa, aku justru sedikit menurunkan tubuh hingga wajahku berada tepat di hadapan kak tiara.

“Tapi jangan marah lagi ya”
Ucapku, kemudian tersenyum.

Kak tiara tak menjawab, ia hanya sedikit tersenyum kemudian kembali melihat ke layar laptop. Aku dengan cepat meraih tangannya, membuat kak tiara kembali melihat ke arahku.

“Boleh aku gantiin posisinya andre?”
Tanyaku.

Kak tiara mengangkat alis matanya saat mendengar pertanyaanku, ia tersenyum lalu dengan cepat memajukan wajahnya dan meletakan bibirnya berciuman dengan bibirku.

“Emhh”
Desahku tak siap menerima ciuman kak tiara, bahkan kedua tangan kak tiara sudah berada di belakang leherku.

Aku meletakan tanganku di punggung bawah kak tiara, memeluknya erat membuat bibir kami semakin menyatu. Kami terus berciuman, hingga akhirnya kak tiara melepaskan ciumannya..

“Makasih ya ja”
Ucap kak tiara tepat di hadapanku..

Aku tak menjawab, justru kembali melumat bibirnya, entah setelah berapa lama, kini giliranku yang menyudahi aksi ciuman kami.

“Tugasnya ga di lanjutin?”
Tanyaku, disaat hidung kami masih saling menempel.

“Gausah deh”
Jawabnya.

Kak tiara kembali mengecup bibirku namun aku dengan cepat menggerakan kepala ke samping untuk menghindari ciumannya..

“Tugasnya kerjain dulu”
Ucapku.

“Ihh bentarr”
Balas kak tiara manja sambil ikut menggerakan wajahnya ke samping seakan mencari keberadaan bibirku.

Kak tiara masih sempat mengecup bagian samping bibirku, kemudian melepaskan pelukannya lalu kembali duduk di kursi, sejenak ia terus tersenyum kepadaku, namun akhirnya kembali melihat layar laptopnya.

“Yaudah, aku ke kamar duluan yah kak”
Ucapku kemudian memutarkan arah badan dan melangkah menuju pintu kamar..

“Eh ikut deh”
Balas kak tiara lalu berdiri dan mengangkat laptopnya.

Aku hanya tersenyum, lanjut melangkah masuk ke dalam kamar. Aku meletakan tubuhku berbaring di atas kasur, kak tiara juga naik ke atas kasur lalu duduk di sampingku.

Saat kak tiara masih sibuk memposisikan laptopnya, aku meletakan tangan kiriku di atas paha mulus kak tiara yang tak terhalingi celana ketat pendeknya.

“Ohiya kak, tadi daud nanya, dia beneran boleh tinggal disini?”
Tanyaku sambil sesekali meraba paha kak tiara.

“Boleh sayang”
Ucap kak tiara tanpa melihat ke arahku.

“Brarti kita tidur di lantai dua?”

“Iya, mangkanya pindahin barang – barangnya gimana ya?”

“Gimana kalo besok aku ajak mereka bantu pindahin?”

“Terserah, kalo ga kita beli…..”

Kak tiara tak melanjutkan ucapannya dan melihat ke arahku saat aku dengan cepat sedikit mencubit pahanya.

“Jangan dikit – dikit langsung asal beli kek kak”
Ucapku..

“Iya maaf”
Balas kak tiara sambil tersenyum, kemudian kembali menatap layar laptopnya.

Setelah itu, kami berdua lanjut membicarakan masalah perkuliahan sambil kak tiara mengetik tugas kuliahnya, hingga aku mulai merasa ngantuk dan tertidur.

____________

Sekitar jam 7, aku terbangun dan menemukan tangan kak tiara berada di atas dadaku, perlahan aku menyingkirkan tangannya lalu mengangkat tubuhku duduk di atas kasur.

Seperti biasa, setelah nyawaku terkumpul aku segera mandi dan berangkat ke kampus tanpa berpamitan dengan kak tiara yang terlihat masih nyenyak dalam tidurnya.

Perkuliahan berjalan seperti biasa, hingga pada sore harinya aku ke warung, ternyata daud, haris dan tiga orang mahasiswa yang hanya ku kenal nama sudah berkumpul.

Aku turun dari motor, melangkah menuju penjaga warung untuk memesan minuman, seorang mahasiswa dengan segera mengangkat tubuhnya berdiri dari kursi kayu.

“Duduk ja”
Ucapnya padaku.

“Iyaiya selow, udah duduk aja lu”
Balasku.

Mahasiswa tersebut kembali duduk di kursi kayu sementara aku memilih untuk duduk di atas jok motorku.

“Eh ud, ntar malem bantuin gua bisa?”
Tanyaku kepada daud.

“Ngapain?”
Balasnya.

“Mindahin barang kamar ke lantai dua”

“Lah siap”

“Weh gua ikut dong, brarti fix bisa kan ja?”
Ucap haris ikut dalam pembicaraan.

“Iya bisa”
Balasku kepada haris.

Setelah itu, aku, haris, daud dan 3 orang mahasiswa lainnya larut dalam obrolan ngarol ngidul hingga waktu sudah menunjukan pukul setengah 7 malam. Aku mengajak haris dan daud untuk berangkat ke rumah kak tiara, meninggalkan 3 orang mahasiswa lainnya.

Kami mengendarai motor kami masing – masing hingga akhirnya tiba di depan rumah kak tiara..

“Buset gede banget bro”
Ucap daud saat melihat rumah kak tiara.

“Iye, eh motor masukin aja”
Ucapku sambil membuka gerbang rumah.

Haris dan daud segera melajukan motornya masuk ke area parkiran lalu menutup gerbang.

“Masuk ayo”
Ajakku.

Aku memutarkan tubuh dan melangkah ke arah kak tiara yang rupanya sudah berdiri di depan pintu rumah.

“Mau pindahan ja?”
Tanya kak tiara saat aku sudah berada di depannya.

“Iya kak”
Jawabku.

Kak tiara mengangguk, lalu melihat ke arah haris dan daud yang berada di belakangku.

“Yuk masuk aja”
Ucap kak tiara kepada mereka sambil merangkul tanganku kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.

“Ini kamarnya”
Ucap kak tiara saat aku dan dia sudah berada di dalam kamar.

Haris dan daud memasukan kepalanya melihat ke dalam kamar.

“Buset gede – gede banget”
Ucap haris saat melihat barang – barang di dalam kamar kak tiara.

“Mangkanya gua minta tolong sama lu berdua, bisa ga?”
Ucapku.

“Yaelah, gampang ini mah, eh ntar gua tidur di sini?”
Balas daud

Aku mengangguk.

“Ohiya, a.c nya gausah di pindahin, di atas udah ada kok”
Ucap kak tiara..

“Anjing lu ud, dapet kamar gede ber ac”
Protes haris.

Daud hanya tertawa.

“Yaudah, mau pindahin sekarang kan? Biar kakak siapin minuman”
Ucap kak tiara.

Kami bertiga saling bertatapan kemudian mengangguk, kak tiara tersenyum lalu melangkah keluar kamar melewati haris dan daud..

“Semangat yaa”
Ucap kak tiara saat berada tepat di hadapan haris dan daud.

Mereka berdua tersenyum lalu kembali melihat ke arahku.

“Udah buruan yok, biar cepet kelar”
Ucapku.

Mereka mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Kami bertiga mulai bekerja sama memindahkan semua barang ke lantai dua, cukup lama, bahkan jam sudah menunjukan pukul 10 saat kami selesai memindahkan barang terakhir.

“Tae lah, olahraga malem gua”
Keluh haris lalu menurun tubuhnya duduk di atas anak tangga.

“Lebay ah, minggir lu”
Balasku sambil melangkah bersama daud melewati haris.

Aku dan daud sudah berada di lantai satu, sementara haris memilih untuk istirahat.

“Makasih ya, lu mau pindah ke sini kapan ud?”
Tanya kak tiara yang sedang duduk di kursi makan.

“Besok paling kak, gapapa kan?”
Balas daud sambil meraih gelas minuman yang di sediakan kak tiara di meja makan.

“Gapapa kok”
Jawab kak tiara.

“Kalo besok nongkrong di sini gapapa juga kan kak?”
Tanya haris yang ternyata sudah berdiri di belakangku.

“Gapapa, tapi di lantai 1 aja ya”
Balas kak tiara.

“Eh ris, tapi yang boleh kemari kita – kita doang loh”
Ucapku mengingatkan haris.

“Iya, paham gua ja”
Jawab haris sambil menepuk pundakku.

“Yaudah bro, cabut dulu dah gua”
Ucap daud sambil melangkah ke arahku.

“Ohiye, lu gawe ya, yaudah tiati lu, buka gerbang sendiri bisa kan?”
Balasku.

“Bisa lah, ris, kak, duluan”
Jawab daud saat ia melangkah melewatiku..

Hingga akhirnya hanya tersisa aku, kak tiara dan haris yang masih sempat mengobrol di ruang makan.

“Tapi kok rumahnya kosong banget kak?”
Tanya haris sambil menurunkan tubuhnya duduk di sebrang kak tiara.

“Iya, sebenernya gua udah mau beli banyak barang ris, tapi gaboleh tuh sama temen lu”
Jawab kak tiara sambil melirik ke arahku.

“Ya kita patungan lah”
Ucapku kepada haris.

“Iyasi, ntar gampang dah itumah”
Balas haris.

“Kakak ikut patungan boleh kan ja?”
Tanya kak tiara sambil tersenyum kepadaku.

“Boleh”
Ucapku mengalah.

“Ohiya, lu blum masuk grup ya kak?”
Haris.

“Grup apaan?”
Kak tiara.

“Tendes, nama grup kita”

“Kok tendes?…..oh, kejadian bori ya?”
Ucap kak tiara yang nampaknya langsung mengerti arti nama tendes.

Haris mengangguk, kemudian melihat ke arahku.

“Ja, lu yang nginvite lah, masa gua”
Ucap haris menyuruhku untuk mengundang kak tiara bergabung ke dalam grup.

“Gampang itu mah, mandi dulu dah gua”
Jawabku kemudian melangkah menuju lantai dua untuk mengambil peralatan mandi.

Waktu berlalu, selesai mandi aku kembali ke ruang makan dan menemukan mereka berdua masih mengobrol.

“Kak, aku ke kamar duluan ya.. ris selow kan lu?”
Tanyaku kepada mereka berdua.

Kak tiara sontak berdiri dan berjalan ke arahku.

“Aku ke kamar juga deh, lu masih mau disini ris?”
Ucap kak tiara.

“Kaga dah, cabut dah gua coy”
Jawab haris lalu ikut berdiri.

“Buka gerbang sendiri bisa kan lu? Ohiya sekalian di gembok tolong ris”
Ucapku kepada haris saat kak tiara dengan lembut merangkul lenganku.

“Beres, duluan coy, jangan ampe jadi ayah lu”
Balas haris sambil melangkah menuju pintu rumah.

“Bacot!”
Balasku.

Aku dan kak tiara terdiam sejenak melihat kepergian haris, hingga akhirnya haris melewati pintu rumah dan menutupnya.

“Bikin anak yuk”
Ucap kak tiara tiba – tiba sambil tersenyum nakal kepadaku.

“Apaan sih”
Balasku namun entah mengapa ikut tersenyum kepada kak tiara..

Kami berdua kemudian melangkah menuju kamar baru kami di lantai dua.

Di dalam kamar.

“Bentar yang, kakak mau ngomong”
Ucap kak tiara saat kami sudah berbaring berpelukan di atas kasur.

Aku melepaskan pelukanku, menunggu ucapan dari kak tiara..

“Kalo kakak beli barang – barang buat di lantai dua boleh?”

“Apa aja?”

“Sofa sama meja buat di ruang depan, jadi kalo kakak mau ngerjain tugas bisa di situ”

“Oh yaudah kalo itu doang mah”
Ucapku sambil meletakan tanganku di punggung kak tiara..

“Eh sama sofa buat di ruang tamu lantai satu deh yah, ga enak kalo kosong banget”

Aku hanya terdiam sambil terus menatapnya.

“Boleh ya? Kan pake uang kakak”
Bujuknya sambil meletakan satu tangannya di atas pipiku.

“Oh, terserah. Tapi aku gamau punya pacar yang selalu ngegampangin masalah uang”
Ucapku sambil menggerakan tanganku yang berada di punggungnya untuk menjauhkan tangan kak tiara dari pipiku.

“Ih ga gitu maksudnya”
Balasnya sambil berusaha kembali mendekatkan tangannya mendekatiku

Aku tak menjawab, namun terus menepis tangan kak tiara yang berusaha menyentuhku.

“Ejaaa”
Panggil kak tiara manja sambil menatapku sayu.

“Maaf”
Lanjutnya…

Aku tersenyum, kemudian dengan cepat menggenggam pergelangan tangan kak tiara.

“Kak, aku pengen”
Ucapku.

“Trus?”
Tanya kak tiara sambil tersenyum dan menggigit bibir bawahnya.

Kak Tiara

Aku segera memajukan kepalaku menyerang bibir tipis kak tiara, kak tiara tak melawan, kami mulai berciuman. Kemudian aku menggerakan tanganku mencari keberadaan selangkangan kak tiara, kak tiara justru melebarkan pahanya memudahkanku menyetuh vaginanya yang masih tertutup celana..

“Emhh”
Desah kak tiara saat aku mulai mengusap bibir vaginanya.

Setelah beberapa saat, kak tiara memundurkan kepalanya membuat ciuman kami terlepas. Kak tiara tersenyum kemudian dengan erotis mulai membuka pakaiannya, aku ikut tersenyum juga ikut mulai membuka pakaianku.

Kami berdua sudah telanjang.

“Sini”
Ucap kak tiara sambil meraih tanganku dan meletakannya di atas bibir vaginanya..

Aku mengerti dan segera menggerakan jari – jariku sambil kembali menciumi bibir kak tiara.

“Emhh”
Kak tiara mendesah.

Aku melepaskan ciuman, kemudian kepalaku bergerak turun ke arah payudara kak tiara, aku mengeucupi dua gunung indah itu.

“Ahhh ja.. masukin”
Ucap kak tiara sambil meraih tanganku.

Tanpa berfikir, aku segera memasukan satu jariku ke dalam lubang vagina kak tiara.

“Masukin dikit lagiii”
Ucapnya..

Aku mendorong jariku semakin dalam hingga tiba – tiba badan kak tiara bergerak kaku.

“Iyaahh..emhhh..disituu”
Ucapnya..

Aku terus menggerakan jari – jariku sambil melahap payudara kak tiara, kak tiara meletakan tangannya di kepalaku menjambak pelan rambutku. Aku terus melakukan aksiku hingga tubuh kak tiara mulai bergetar.

“Aahhh terusss yangg”
Ucap kak tiara saat tubuhnya bergetar hebat..

Sedetik kemudian aku merasakan jariku tersiram oleh cairan kewanitaannya. Tubuh kak tiara masih bergetar, aku sejenak menghentikan gerakan jariku namun masih terus menikmati empuk payudaranya.

“Sayangg”
Panggil kak tiara sambil membelai rambutku.

Aku memundurkan kepala untuk melihat wajahnya.

“Masukinn”
Ucapnya manja sambil menggerakan tangan seakan mencari keberadaan penisku.

Aku tersenyum, kemudian bergerak ke arah selangkangan kak tiara. Kak tiara membuka lebar kedua pahanya, aku memposisikan kepala penisku tepat di depan bibir vaginanya.

Aku sejenak melihat wajah kak tiara.

“Cepett”
Ucap kak tiara sambil memainkan payudaranya sendiri.

Tanpa aba – aba, aku segera menekan penisku masuk membelah bibir vaginanya. Kak tiara terpekik, otot perutnya mengeras.

“Ahhhh, penuh bangett”
Ucap kak tiara memejamkan mata.

Aku menurunkan badan menindih tubuh kak tiara, sebentar mengecup bibirnya lalu mulai menggerakan pinggulku.

“Ahh….terus sayangg”
Desah kak tiara menikmati persetubuhan kami.

Selangkangan kami terus bertemu, menimbulkan suara hentakan seirama. Aku terus memompa lubang vaginanya sambil sesekali menciumi wajah cantik kak tiara.

Lagi – lagi tubuh kak tiara bergetar, namun kali ia sambil mencengkram punggungku kuat, bahkan kedua kakinya di lipatkan ke belakang pahaku seakan memintaku untuk semakin mengenjotnya.

“Jaa aaahhh, kakak dapetttt”
Pekik kak tiara.

Tubuhnya bergetar, cengkraman tangannya pada punggungku semakin mengeras, aku merasakan penisku tenggelam di dalam cairan kenikmatannya..

Aku menghentikan gerakan pinggulku, sebentar memberikan kak tiara waktu untuk mengatur nafusnya yang masih terengah – engah.

“Aku lanjutin yah kak?”
Tanyaku setelah memberikan waktu bagi kak tiara untuk beristirahat.

Kak tiara membuka matanya, kemudian mengangguk pelan dengan tatapan sayu.

Aku kembali menggerakan pinggulku membuat kak tiara lagi – lagi mendesah setiap saat penisku membuka lebar bibir vaginanya. Hingga aku merasakan cairan spermaku sudah siap untuk keluar.

“Kak, aku keluar”
Ucapku semakin mempercepat gerakan pinggulku.

“Ahhh….kakakk lagi suburr ahh”
Ucap kak tiara.

Aku reflek menarik pinggulku jauh kebelakang saat mendengar ucapannya, membuat penisku sepenuhnya terlepas dari vagina kak tiara. Cairan kejantananku terpaksa muncrat membasahi kasur.

“Emhhh”
Desahku pelan saat merasakan sensasi klimaks.

Setelah itu, aku sepenuhnya meletakan tubuhku di atas kak tiara, kami berdua sama – sama mengatur nafas setelah aksi persetubuhan kami, kemudian aku menggeser tubuhku ke samping tak lagi menindih kak tiara.

“Bilang dari awal dong kalo lagi subur”
Ucapku sambil mengelus kulit payudara kak tiara.

“Biarin, sengaja”
Balas kak tiara justru sedikit memeletkan lidahnya.

Aku hanya tersenyum, kemudian mengecup sejenak bibir tipisnya.

Bersambung

Daftar Part