. Nirwana Part 9 | Kisah Malam

Nirwana Part 9

0
254

Nirwana Part 9

The Crossing Fate

The Crossing Fate. Tulisan neon itu berpendar terang di tepi jalan yang hiruk pikuk. Seorang bule yang mengenakan singlet Bir Bintang dan kacamata Oakley palsu memasukinya. Telinganya agak pengang mendengar suara distorsi yang menghentak ke seluruh penjuru ruangan yang remang-remang. Ingar bingar. Asap rokok dan aroma alkohol memenuhi pengap udara. Sementara lantai kotak-kotak hitam putih seperti papan catur dipenuhi pengunjung yang sudah terlebih dahulu berjoget dan moshing mengikuti alunan musik Punk-Rockabilly yang dimainkan di atas panggung.

Lagu cover version ‘The Ramones’ memantul ke dinding yang berwarna merah-hitam, dan atap beton yang tidak diplester.

Seorang Pemain Bass penuh tato, mengenakan celana ketat dan singlet ketat, dengan rambut jambul pompadour ala Elvis asyik memainkan bass betot putih berukuran besar, yang ditempeli stiker heart-spade-clover-diamond, layaknya kartu remi. Kadang ia beratraksi dengan berdiri menaiki bass betotnya itu sehingga memancing riuh tepuk tangan para hadirin.

Di belakang, sang drummer yang mengenakan topi koboi memandu ritme sambil berdiri memainkan set drum yang hanya terdiri dari bass drum, hi-hat, dan snare, tanpa tom-tom, tanpa symbal.

Sementara sang vokalis – Sheena- mengenakan skinny jeans dan T-Shirt hitam ketat bertuliskan “ElectroHell” dibalut jaket kulit hitam. Wanita berambut pendek itu nampak asyik bernyanyi sambil memainkan gitar Grestch White Falcon yang putih mengkilap. Kakinya bergerak-gerak asyik ke sana kemari. Suaranya merdu tapi melengking parau sekilas mirip suara Karen-O, vokalis ‘Yeah Yeah Yeahs’.

“Well the kids are all hopped up and ready to go / They’re ready to go now / They’ve got their surfboards / And they’re going to the discotheque a go go!”

Benak Sheena kembali mengenangkan pertemuannya dengan bidadari cantik bernama Indira tadi siang. Akankah dia datang malam ini seperti yang dijanjikannya tadi? Di antara nyanyiannya Sheena masih menyempatkan diri mencari-cari sang bidadari. Sepasang matanya yang tersembunyi di balik kacamata retro warna hitam sibuk menelisik kerumunan penonton, berharap Indira sedang menyaksikan permainannya.

Pencarian Sheena baru berhenti ketika sesosok bidadari menyelinap di antara keramaian. Malam ini Indira nampak mengenakan tank top hitam, lengkap dengan bracelet bling-bling bak seorang cheerleader yang ingin jadi punk rock star. Rok jins mini yang lebih pantas disebut pakaian dalam membalut ketat pantat bulat Indira, sengaja dikenakannya agak melorot sehingga memamerkan tali g-string pada pinggulnya.

Indira tersenyum dan melambaikan tangan ke arah panggung, gairah sang vokalis kian terbakar dibuatnya. Penuh semangat Sheena bernyanyi, ingin menarik perhatian sang bidadari.

“Sheena is a punk rocker! / Sheena is a punk rocker! / Sheena is a punk rocker now!”

“Kenalanmu?!” tanya seorang lelaki muda di samping Indira. Ia harus berteriak agak keras agar suaranya tidak tertelan suara musik. Pemuda itu berusia 20-an awal, wajahnya tampan-setengah bule seperti Indira. Berpakaian rapi dan mengenakan kaca mata kotak dengan frame tebal.

Indira hanya tersenyum dan menggandeng tangan laki-laki itu, “Ih, Dewa mau tahu aja!” jawab Indira bermanja-manja.

Adalah Dewa, kekasih Indira. Malam ini mereka datang bersama teman-teman kuliah Dewa, 2 orang laki-laki dan 2 orang wanita. Mengambil tempat duduk di pojokan, kumpulan muda-mudi itu duduk dan memesan minuman.

Tak seberapa lama, Indira sudah tak tahan untuk turun melantai. Ia menghambur ke arah panggung tanpa bisa dihalangi kekasihnya. Remaja blasteran itu mulai menggerakkan anggota tubuhnya mengikuti irama musik nan rancak bak bidadari di tengah gerombolan begundal yang asyik moshing dan crowd surfing.

Hingga akhirnya lagu selesai dimainkan. Sang vokalis melompat dan mendekatkan pick-up gitarnya pada amplifier sehingga menimbulkan bunyi berdenging. Indira bersorak histeris dan menaiki panggung tanpa dikomando. Sebuah kecupan mendarat di bibir Sheena, membuat sorakan penonton membahana ketika sesama jenis itu saling menempelkan bibir.

“Gila kamu!” protes Dewa yang disambut derai tawa indira seolah tidak peduli jika sang kekasih terbakar cemburu.

Indira melambaikan tangan ke arah bartender, sesaat kemudian ia sudah menenggak segelas tequilla langsung tandas, dua sloki datang lagi, hadir dengan garam dan perasan jeruk nipis. Indira menenggaknya habis. Puas sekali ia hari ini. Indira merasa bisa melampiaskan kekesalan kepada orang-orang yang sudah berbuat seenaknya pada dirinya, terutama sang ayah. Huh! Sloki ketiga menyusul ditandaskan.

Dewa duduk di samping Indira, melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang bidadari. Harum parfum bercampur dengan aroma alkohol tercium begitu membius di hidung sang pemuda.

Lekat-lekat, Dewa memandangi wajah kekasihnya. Perpaduan antara darah Bali dan Australia membuatnya begitu eksotis sekaligus anggun pada saat yang sama. Sepasang dada Indira yang ranum dan membusung hanya ditutupi sehelai tank top ketat warna hitam. Sekilas nampak dua tonjolan kecil mencuat di atas dada mungil Indira. Senyum mesum segera membayang di wajah Dewa, nampaknya sang gadis sengaja tidak mengenakan penutup dada malam ini.

Gejolak remaja ditambah intoksikasi alkohol membuat Indira tak menolak ketika pria tampan itu mendaratkan kecupan di tengkuknya. Elakan setengah hati dari sang gadis tentu saja tak cukup mencegah tangan sang pemuda untuk jauh bergerilya. Indira menenggak segelas vodka, membiarkan konsentrasi etil alkohol dalam darahnya mengambil alih rasa malu dan jengah.

Semua orang di tempat itu seakan larut dalam pengaruh musik dan alkohol. Dan tak ada yang ambil peduli dengan pasangan muda yang sedang dimabuk asmara.

Tapi tidak Sheena. Dari kejauhan ia melihat bidadarinya jatuh ke dalam rayuan seorang pemuda. Cemburu mulai merambati hati wanita berambut pendek itu, dan segera dikandaskannya dengan menenggak sebotol Jack Daniels yang diletakkan di atas amplifier Gallien-Krueger.

Terdengar bunyi feedback yang berdenging begitu Sheena angkat bicara, “The next song is cover version from Superman Is Dead! King, Queen, and Poison!”

Sheena mulai memainkan intro, jemarinya bergerak lincah di atas fret gitar. Suaranya melengking melalui mikrofon yang digantungi hiasan dadu besar, dan disambut riuh sorakan para hadirin yang mulai berjoget pogo.

“When the sky is dark, and my passion seems to strong / guess the queen has left this thorned heart alone…”

“tomorrow’s broken dream is harder than i thought / i fought the devil,
find emptiness in me..”

Di antara raungan suara sang vokalis dan euforia penonton yang menggelora, Dewa menarik kekasihnya ke pojokan, ke balik bayangan tiang beton yang tersamar dari pandangan, di mana ia bisa mencumbui Indira dengan lebih leluasa. Dihimpitnya tubuh mungil Indira ke dinding, ke arah yang dirasanya cukup remang. Wajah tampan sang kekasih membuat Indira pasrah saja ketika lehernya diciumi dan pantat ranumnya diremas gemas. Sementara deru sayatan gitar Sheena terdengar semakin resah, semakin gelisah, namun ia hanya bisa bernyanyi tanpa bisa berbuat apa-apa menyaksikan bidadarinya merintih tak berdaya di seberang sana.

Bibir Dewa bergerak ke atas menyusuri tulang rahang Indira, naik ke atas dan mulai melumati bibir lembut kekasihnya. Sang bidadari melengguh pelan, dan mulai membalas lumatan Dewa. Dihisapnya lidah Dewa yang mencoba memasuki bibirnya lalu dibelainya lidah itu sehingga menimbulkan sensasi geli yang menakjubkan. “Mmmmmh….” Mereka berpagutan di tengah deru sayatan gitar Sheena yang semakin resah.

“Everything is a blur, a picture of your kiss, tasted so sweet and poison, here i come!”

Erangan Indira dengan mudah ditenggelamkan suara bising. Dibiarkannya tangan Dewa menyusup ke balik roknya, meremas-remas pantat dan membelai belahannya yang sudah membasah semenjak tadi. Indira melengguh keras, tidak ambil peduli meskipun beberapa orang di sekitarnya mulai memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Indira tersenyu puas, menikmati sensasi mendebarkan itu. Adakah si bartender memperhatikannya? Adakah bule di depan melihat dadanya yang ranum di remas dengan kasar? Oh! Membayangkan ini saja sudah membuat sekujur tubuh Indira merinding, dan selangkangannya semakin gatal dan basah oleh lendir!

Mengerang, Indira mendekap pasangannya semakin erat dan balik menciumi leher sang pemuda sambil balas menggerayangi selangkangan kekasihnya. Merasa mendapat angin, Dewa semakin berani menjelajah lebih jauh lagi. Sengaja disusupkan jemarinya ke balik g-string Indira yang basah kuyup, mencari belahan sempit yang kini telah diliputi lendir licin. Klitoris Indira yang membengkak maksimal segera diusap dan dibelai, membuat sang gadis kian blingsatan dan meracau binal di telinga kekasihnya.

“Jangan… di sini… jangan… ohhh… aaah!” rengek Indira tak berdaya. Namun jemari sang kekasih yang terus mengorek dan menggaruk dinding-dinding kewanitaannya hingga birahi sang gadis binal tak terbendung lagi. Cairan cintanya sudah meleleh-leleh tanpa terkendali, menimbulkan suara berkecipak setiap kali jemari Dewa masuk keluar menggobel-gobel kewanitaannya dengan brutal. Remaja belia itu hanya bisa mengejang, meregang, dan menggelinjang dalam keramaian.

“Oooouuuh… Ooouuuuh… oooouuuuh!” Indira memekik tertahan, memeluk erat-erat tubuh Dewa ketika puncak kenikmatannya dirasa hampir tiba. Jambakan keras menyusul medarat di rambut sang kekasih, mengikuti sekujur otot-otot tubuhnya yang mengejang dalam gerakan involunter. Bergemeletar. Bergemuruh. Berguncang-guncang, seirama dentuman amplifier. Cairan cinta memancar deras dari selangkangan Indira dan merembes melelehi paha dan betisnya.

Suara musik terdengar meraung, mengiringi enggahan nafas Indira yang tergolek lemas dalam pelukan kekasihnya. Namun seolah tidak peduli, Dewa tetap mencumbui Indira, meski remaja itu sudah mengaduh-aduh ngilu. Semakin perih hati Sheena melihat pemandangan itu, tapi ia hanya bisa bernyanyi tanpa bisa berbuat apa-apa menyaksikan bidadarinya merintih tak berdaya di seberang sana.

“Inject myself with angels wings / lay me down here in a burning ring /
oh no my lady, the memory remains.”

= = = = = = = = = = = = = = = = =​

Suara nyanyian yang meraung-raung terdengar sampai jalan ketika Ava dan Kadek tiba di tempat itu. Benar saja, seperti yang sudah diduga oleh Kadek, Ava segera berlagak seperti orang kampung yang pertama ke kota. Matanya jelalatan, tak bisa tinggal diam melihat cewek-cewek cantik yang bertebaran. Sungguh pemandangan yang tidak biasa disaksikannya di kampung halamannya.

Ava memperhatikan seorang wanita tomboy namun seksi yang sedang asyik bernyanyi sambil bermain gitar di atas panggung. Benar-benar keseksian yang liar! Batin Ava. Matanya kemudian bergerak jalang ke seantero ruangan, mengagumi para bule yang berpakaian tak kalah seksi.

“Dek! Ini baru mantap!” Ava harus agak berteriak agar suaranya tidak tenggelam dalam keriuhan. Kadek hanya tertawa melihat gelagat udik sang pemuda. “Dek, aku mau kenalan sama bule!” jerit Ava lagi. “Siapa tahu dapat ngentot gratisan!”

“Jangan ngimpi kamu, woy! Hahahaha!”

“Ya udah, aku kenalan sama yang lokal aja!” Ava berkata sembari sibuk mencari-cari target operasi yang sekiranya bisa diprospek. Tak lama, matanya langsung menyalang begitu melihat sosok bening di kejauhan. “Dek! arah jam 1. Lokal, Dek!”

“Mana? Iya! jegeg! Tapi udah ada anjingnya, nok!”

“Wah, lagi digrepe tuh!”

“Eh, kok kayaknya pernah lihat?” kata Kadek.

“Weh, Indira itu, Dek!”

Kadek segera menghampiri Indira. Ava tak tahu yang mereka bicarakan, namun sepertinya Kadek terlibat adu mulut dengan Dewa dan 2 orang temannya. Mereka tampak saling tuding dan saling dorong. Ava hendak memisahkan mereka, namun tiba-tiba satu orang tampak tidak terima dan memukul Kadek.

Astaga! jerit Ava dalam hati.

Kadek tentu membalas, namun ia kalah jumlah dan segera terjerembab di lantai, dipukuli beramai-ramai. Indira berusaha melerai, namun sebuah bogem nyasar mendarat di wajah cantiknya, membuatnya jatuh terhuyung.

Sheena tidak bisa diam lagi-

-Ava pun tidak bisa tinggal diam.

Bidadarinya telah disakiti – bidadari mereka telah disakiti!

Ava segera mengambil bangku kayu dan melompat. Sang pemuda brewok segera menghantamkan bangku itu dengan sekuat tenaga ke tengkuk seseorang yang dianggapnya paling kekar, membuatnya tersungkur dan tak bergerak di detik berikutnya.

Ava bergerak ke sasaran berikutnya, Dewa. Sang pemuda tampan menangkis serangannya, namun Ava mengayunkan senjatanya secara membabi buta. Kacamata Dewa pecah terhantam bangku. Pecahannya masuk ke mata, hingga terpaksa ia memegangi matanya dengan kesakitan.

Seorang lagi tidak terima dan memecahkan sebotol bir untuk dijadikan senjata. Namun sebuah hantaman keras dari gitar Grescth membuatnya kejang-kejang di lantai bersamaan dengan body gitar yang patah jadi dua.

Dewa memegangi matanya sambil mengacung-acungkan pisau lipat. Keadaan hampir bertambah gawat. Indira menangis histeris, memegangi Kadek yang nampak kesakitan. Begitu juga dua orang cewek rombongan Dewa ikut memekik ketakutan. Malam itu betul-betul chaos, sampai-sampai keamanan Pub melerai mereka. Lama mereka terlibat adu mulut, hingga akhirnyaDewa dan teman-temannya pergi dengan menaiki mobil sambil memaki.

“MAU IKUT AKU ATAU MEREKA?!” bentak Dewa.

Indira tak menjawab, hanya menangis tersedu, hingga akhirnya Dewa meninggalkan kekasihnya yang sedang sesengukan di lantai kotak-kotak itu.

“Huk… huk… Jangan bilangin Ajik. Ya, Dek…,” rengek Indira di antara tangisnya, namun Kadek terus saja mengomeli gadis itu.

“Udah lah, Dek, udah malem nie… besok aja diomongin lagi.” Ava menepuk pundak Kadek, berusaha menengahi. Orang-orang semakin ramai berkerumun, dan pemuda itu hanya berharap malam ini tidak bertambah buruk.

= = = = = = = = = = = = = = = = =​

Duduk di depan Pub, di tepian Jalan Legian, Sheena mencoba menenangkan Indira yang tak juga berhenti menangis. Wanita berambut pendek itu memeluk tubuh Indira yang masih saja sesengukan. Ava mendekat perlahan, hendak mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolongnya tadi. Dingin, Sheena merespon tangan Ava yang mengulur ke arahnya.

“Mbak… temannya Indira…? makasih…,” Ava berkata kepada wanita dengan tangan dipenuhi tato itu. Sheena melirik malas ke arah Ava.

Ada sekitar satu detik ketika dua pasang mata itu bersitatap. Satu detik yang cukup lama untuk membuat rangkaian imaji berkelebatan liar dari alam bawah sadar Sheena.

Tubuhnya mendadak limbung.

“Mbak…?” suara Ava membuyarkan kelebatan imaji itu.

“Dont mention it,” Sheena menukas cepat, memalingkan pandangannya jauh-jauh dari wajah brewok yang ada di hadapannya.

Akhirnya Kadek mengambil keputusan: Ava dan Indira pulang naik taksi, sementara ia mengikuti dari belakang dengan skuter. Good point. Ava segera menyetop taksi berwarna biru yang kebetulan melintas tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Ubud, Pak,” kata Ava.

“Yakin, Bli? Jauh itu.” Supir taksi segera mengernyitkan dahi mendengar tujuan mereka.

Ava melirik pada Indira dan Kadek, meminta pertimbangan.

“Nggak apa-apa,” kata Indira.

Anak itu memberikan ucapan terima kasih pada Sheena yang mengantarnya hingga pintu taksi. Hingga akhirnya taksi berlalu, meninggalkan Sheena yang kini membatu seperti patung.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler