. Nirwana Part 70 | Kisah Malam

Nirwana Part 70

0
152

Nirwana Part 70

Senja di Pelabuhan Kecil

Kepalanya masih terasa pening, namun sayup-sayup dirinya mulai bisa mendengar suara ombak di kejauhan, juga suara kaok burung camar yang bersahutan.

Sheena menggeliat, memegangi kepalanya yang seperti berputar. Pandangannya masih buram, namun samar-samar dirinya bisa melihat Ava duduk di sisinya, di dipan lapuk milik Bob.

“A-ava?” Sheena mengerang pelan.

“Ngapain kamu mabuk sampai kayak gini… kamu bikin aku sedih aja, tahu.” ucapnya pelan, mengusap rambut pendek Sheena.

Sheena menepis tangan itu, hingga berakhir hening, dan kembali terdengar suara ombak.

“Aku…” Sheena menarik nafas. “Aku kecewa sama kamu. Aku benci sama orang yang memberikan mimpi-mimpi semu, tapi nggak bisa mewujudkannya. Seperti…”

“Seperti aku?”

Sheena mengerjap terjaga. Tak ada siapapun di situ, tak ada seorangpun, hanya sebuah rol film yang didekapnya erat-erat.

= = = = = = = = = = = = = =​

“Gek… ” Pak De mengerang pelan, mendapati seorang bidadari menjaga di sisi pembaringannya.

“Kak, saya telepon berkali-kali, kenapa nggak diangkat!”

Pak De terkekeh sambil terbatuk-batuk. “Hehe heh.. telepon? Saya bahkan nggak dengar kamu datang… uhuk… uhuk…”

Lucille mendengus kesal, “Saya serius, Kak! Lagian, tidur lelap banget, sampai-sampai saya pikir kakak…” Lucille menelan ludah, tak melanjutkan kalimatnya.

“Meninggal?”

“U-udah deh, jangan ngomong yang aneh-aneh. Kalau memang sakit, bilang-bilang sama yang lain. Saya bukannya khawatir sama Kak Gede, saya cuma kasihan sama Indira kalau Kak Gede kenapa-kenapa. Oh iya, Indira mana? Kenapa Kak Gede sendirian di rumah? Ava mana? Yang lain?”

Lucille merepet panjang lebar, dan yang ditanya cuma senyum-senyum melihat dirinya menyerocos tiada habis.

“Nyebelin banget, sih! Ditanya baik-baik malah senyum-senyum nggak jelas!” Lucille mendelik kesal.

Pak De terkekeh-kekeh. “Gek, kamu itu cerewetnya orisinil banget. Dicari di seluruh dunia, saya jamin nggak bakal ada yang cerewetnya kayak kamu.”

Tanpa banyak kata Lucille buru-buru melengos keluar kamar Pak De. Langkahnya cepat-cepat, wajahnya menunduk-nunduk memerah, entah marah ataukah tersipu.

Fragmen 69
Senja di Pelabuhan Kecil

Sayup-sayup terdengar suara bas dari speaker murahan yang memutar lagu Sublime-Santeria. Hari beranjak senja, dan Bob mulai sibuk meladeni pembeli yang mulai datang, sambil sesekali tebar pesona ke arah cewek-cewek schoolie.

“Na!” Bob melambai ke arah Sheena yang berwajah kusut, berjalan sempoyongan.

Bar kecil itu mulai dipadati turis-turis kelas kere yang mengenakan kaus Bir Bintang dan kacamata Oakley palsu, merokok sambil memandangi panorama senja.

Sheena duduk di barstool, mengumpulkan sedikit kesadarannya. “Ava mana?”

“Kangen?”

“Taik.”

Sheena menekan-nekan tombol ponselnya, namun segera ditutup kembali saat mendengar sebuah ponsel yang di-charge di dekat Bob bergetar-getar dan berbunyi nyaring.

Bob mengekeh sambil meracik minuman, “Udah, jangan banyak mikir dulu.” Cowok gimbal itu menyodorkan segelas air jeruk hangat dengan asap yang masih mengepul. “Kalian itu memperdebatkan apa, sih? Hari akhir?”

“Nggak tahu, deh.” Sheena menggeleng malas.

“C’mon, nikmati aja apa yang ada sekarang, detik yang dianugerahkan Tuhan secara cuma-cuma. Apa kata Bob Marley kalau kalian ribut-ribut nggak jelas?”

Sheena tersenyum kecil, menghirup aroma jeruk hangat itu.

= = = = = = = = = = = = = =​

Uap panas itu mengepul menerpa wajahnya, dan Pak De menghirup aroma air jahe yang dibuatkan oleh Lucille, hingga perlahan dadanya ikut terasa hangat.

“Makasih, Gek.” Pak De berucap pelan.

Lucille tak menjawab, menunduk, dan buru-buru membereskan gelas-gelas. Perempuan itu bergerak kikuk, menyiapkan rangkaian jamu-jamu selanjutnya tanpa banyak kata.

“Kak Gede sudah makan siang?” Lucille berkata tanpa menoleh, menjerang air panas yang berisi bermacam-macam akar. “Soaalnya yang ini harus diminum setelah makan.”

Pak De tersenyum, memandangi punggung Lucille. Punggung yang seolah berpaling tidak peduli, namun Pak De tahu pasti: hari itu dirinya telah menemukan kehangatan baru, vitalitas baru.

Lucille, kamu bukan bayang-bayang. Kamu matahari.

= = = = = = = = = = = = = =​

Matahari senja itu menerpa wajahnya, menimbulkan kehangatan yang sama seperti yang diberikan Indira.

Ava duduk di situ, memandangi langit yang beranjak jingga, panorama senja di teluk Jimbaran, pemandangan yang sama yang dilihatnya bersama Indira beberapa hari yang lalu. Ada deru ombak, ada perahu-perahu nelayan yang berjajar-jajar, dan leretan payung-payung warung ikan bakar di kejauhan.

Ini kali tak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Indira adalah anomali. Pelangi yang tahu-tahu hadir dalam hidupnya.

“Ironis, ya. Pelangi itu aslinya cahaya putih, namun terpecah jadi 7 spektrum warna, dan nggak bisa bersatu

“Justru karena itu, pelangi jadi lebih indah, kan?” Indira tersenyum, dan Ava tidak bisa melupakan senyuman itu sampai detik ini.

Indira adalah pelangi yang mewarnai langit, sebelum menghilang dan menyisakan kenangan yang membekas di ingatan. Indah, sekaligus menyakitkan.

= = = = = = = = = = = = = =​

“Woi!” namun suara yang memanggilnya kini terdengar seperti jamu, pahit, namun… sudahlah, Ava malas berpikir, ia hanya melihat Sheena berjalan mendekat. “Lu budeg, yah?”

Ava tak berminat menjawab. Pemuda itu menghembuskan rokoknya dengan hampa, kembali memandangi ombak yang membuih di hadapannya.

“Apa maksudnya, nih?!” Sheena mengacungkan sebuah rol film, menghempaskan pantat ke pasir di samping Ava.

“Aku mau resign, Na. Aku mau balik ke Kroya.” Ava menyisipkan rokok di bibirnya. “Kubalikin, sebelum aku pergi.”

“Pengecut.” Sheena mendengus ketus.

“Kamu tahu, kan, setelah apa yang kulakukan, aku merasa nggak layak lagi buat ada di tempat Pak De. Bahkan aku nggak layak lagi buat…” Ava melirik roll film itu. “…C’mon, lagian roll film itu nggak pernah jadi punyaku, kan? Itu semua punya Awan!”

Dada Sheena terasa sedikit perih, ia mengambil sebatang rokok milik Ava, menyulutnya.

Muncul keheningan yang aneh ketika keduanya saling mendiamkan, hingga tinggal suara ombak yang menghempas pantai. Tenang, sekaligus resah.

Ava tersenyum getir “Indira dijodohin, Na.” ucapnya, bersamaan dengan suara burung camar yang terbang melintas.

“Hah?!”

“Kadek yang bilang tadi pagi.”

Sheena terhenyak sesaat. “Terus… kamu nyerah begitu aja, gitu?”

“Terus aku bisa apa? Mendobrak norma? Bawa kabur Indira? Agama, norma, adat, kita semua hidup di dalamnya!” Ava menekankan.

Sheena memilih tak menjawab, menyadari bahwa hal ini akan kembali menjadi perdebatan yang tak berujungpangkal.

“Na, aku cuma realistis. Kadang kita harus rela menyisih, demi kebahagiaan orang yang kita sayang.” Ava menarik nafas panjang. “Aku sadar, kalau aku ada di tempat Pak De, Indira bakalan sedih terus, nangis terus, dan aku nggak mau itu.” Nada bicaranya berakhir lirih, memilukan.

Ombak berdesir pelan. Ada perasaan perih menyelinap diam-diam di dada Sheena. Ia teringat ketika dirinya menyingkirkan diri demi kebahagiaan Ava dan Indira,- dan Sheena tahu benar perasaan itu.

“Balik ke galeri, yo. Udah hampir malem, neh…”

Ava tak langsung menyahut, menghabiskan batang rokoknya hingga puntung.

“Sekalian cuci cetak.” Sheena berkata “…t-tapi itupun kalau kamu mau anterin.” buru-buru ia menambahkan.

Ava tersenyum kecil, mengibas-ngibas pantatnya yang penuh pasir.

= = = = = = = = = = = = = =​

 

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Perjalanan ke Bar The Rastafarian Pilgrims itu terasa lebih panjang dari biasanya. Ava memandangi ujung ombak yang saling mengejar,- seperti kebahagiaan dan kesedihan, pertemuan dan perpisahan, seperti karma, seperti roda nasib.- Ava memejam, menjejakkan kakinya dalam-dalam ke pasir, sebelum buih ombak menghapus jejaknya.

Sheena menyusul di belakang Ava, di antara debur ombak yang terdengar riuh, juga buih air yang memecah di kaki-kakinya.

“Bob benar, kadang kita selalu terbebani dengan masa lalu, atau terlalu sibuk memimpikan masa depan!” Sheena sedikit berteriak agar suaranya tak ditelan angin. “Kadang kita terlalu sibuk memimpikan apa yang tidak kita punya, atau menangisi apa yang diambil dari kita, hingga lupa menikmati detik ini, detik yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma!”

Ava mengernyit. “Wow, what a wisdom. Kupikir kamu nggak percaya Tuhan!”

Sheena buru-buru nyengir. “Dulunya aku rajin ke Pura, tahu…” Cewek bertato itu berjongkok memainkan sesaji yang teronggok hanyut, tergeletak di pasir.

“Sama… dulunya aku juga rajin ngaji.” Ava memandangi awan dan langit di atas sana. “Aku nggak tahu, sejak kapan aku…”

Ombak berdebur, angin berdesir pelan, meliuk di antara keduanya.

“Tersesat-

“-tersesat.”

Ava dan Sheena berucap bersamaan, dan seketika itu juga keduanya saling menoleh dan bertatapan.

Seperti sedang berkaca, Sheena menemukan dirinya di situ, di dalam mata Ava. Sama kesepian, sama tersesatnya dengan dirinya.

Sesuatu di dalam diri mereka, homunculus-homunculus itu seperti saling memanggil, beresonansi.

Seperti lukisan pertama Ava dengan tatoo di lengan kirinya. Seperti lukisan kedua Ava dengan lukisannya.

= = = = = = = = = = = = = =​

Hidup ini tidak berakhir mati, hidup hanya berganti wujud. Apabila satu pintu ditutup, maka pintu lain di seberang sana akan terbuka.

Pak De merenungi, meresapi itu semua. Lama ia memandangi foto dirinya semasa muda bersama Julia dan Lucille, sepasang remaja bule dengan dandanan bohemian, kemudian foto keluarganya bersama Raka dan Indira. Pak De memejam, mencoba merenungi waktu yang telah diberikan Tuhan untuknya.

“Baru ditinggal sebentar saja, sudah berantakan kayak gini.” Lucille mengomel sambil membereskan ruang kerja Pak De yang berantakan. “Kak Gede nggak merokok lagi, kan?”

“Eng-enggak, hehe…” Pak De buru-buru tersenyum, menoleh ke arah Lucille.

Lucille cepat menunduk, kembali memberesi meja Pak De yang penuh kertas berisi sketsa.

“Apa ini?”

Pak De tergagap, “Ah-anu… i-itu Ide buat lukisan saya… haha… tiba-tiba dapat ide, tapi belum sempat dilukis… hahaha…”

Kembali terbit senyum dari bibir Lucille, melihat coretan dirinya dengan judul Mon Soleil.

“Kak… yang ini apa?” Lucille mengernyit melihat amplop besar bertuliskan ‘Prodia’ tersembunyi di balik tumpukan sketsa.

“i-itu…” Pak De mendekat gelagapan, namun Lucille keburu membuka amplop itu. “Itu hasil pemeriksaan lab saya.”

“Oh, ya? Hasilnya apa?” Raut wajah Lucille mengeras, menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Pak De tak menyahut, hening. Lelaki tua itu perlahan mengamati perubahan raut wajah Lucille. Tangan perempuan itu bergemetaran memegang lembar-lembar kertas itu, hingga perlahan air matanya mulai menggenang, dan menitik satu-satu, bersama baris-demi baris yang ia baca.

“Saya positif kanker paru, Gek.” ucap Pak De pelan, nyaris tak terdengar.

Hening, hanya ada isak yang terdengar sayup-sayup.

Kini jelas semua intuisi yang tiba-tiba menyergapnya pagi tadi, semua jelas terbaca di atas berlembar-lembar kertas, seperti surat keputusan vonis mati yang dijatuhkan Tuhan, tanpa bisa terelakkan lagi.

“Kenapa… Kak Gede nggak bilang dari dulu… Kenapa Kak Gede nggak terus terang sama saya…” suara Lucille terdengar kian memilukan di sela keheningan yang membekap.

Pak De tersenyum pahit. “Saya sendiri juga bingung, Gek. Soalnya pasti akan membuat panik semua orang. Saya benar-benar nggak tahu lagi harus ngapain…”

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. 

Ruangan itu kini hanya diisi isak, dan sepasang cinta renta yang saling memeluk, menikmati detik demi detik yang tersisa.

= = = = = = = = = = = = = =​

Ponsel yang di-charge di meja dekat kasir itu bergetar-getar, berkedip-kedip, hidup enggan, mati tak mau.

Bob menggaruk-garuk rambut gimbal-nya, serba salah melihat foto dan nama yang tertera di layar. Sampai kira-kira ada 4 panggilan tak terjawab, namun ponsel kembali berdering, barulah ia memutuskan menggeser tombol answer.

“Halo.” ucap Bob hati-hati.

Terdengar suara tangis sayup-sayup di seberang sana. “H-halo.. i-ini siapa?”

“I-ini Bob. Bob yang anak rasta…” Shit, aku ngomong apa? “Nganu… ini Bob yang temannya…”

“Ng.. Ava-nya ada?”

“Ada, dia di Bar saya, tapi dia lagi…” Bob tak melanjutkan kalimatnya, melihat Ava datang dengan bergandeng tangan dengan Sheena.

“Halo… halo?” ucap Indira berkali-kali.

To Be Continued