. Nirwana Part 69 | Kisah Malam

Nirwana Part 69

0
139

Nirwana Part 69

We’re All Alone

Indira memacu motornya di jalan raya. Garis putih pemisah jalan itu kini hanya nampak seperti garis lurus yang berkelebat cepat. Motor yang dinaiki Indira bergerak melaju, seperti waktu yang berderap berlalu.

Ada sepasang remaja yang berboncengan mesra mengenakan pakaian adat, mensejajari Indira yang terhenti di sebuah lampu merah. Indira melirik sekilas, mungkin mereka hendak menghadiri Piodalan di Pura Desa. Sepasang remaja itu tak setampan Ava atau secantik dirinya, namun jelas sekali, cinta mereka memancar tanpa ada yang menghalangi lagi, tanpa ada dinding-dinding pembatas berupa perbedaan Iman, ataupun sekat-sekat adat.

Di dekat Monkey Forest, kembali Indira menyaksikan bapak-bapak gendut brewok, menggandeng lengan istrinya yang mengenakan jilbab, di belakang mereka mengikuti anak-anak yang berbaris rapi, mungkin hendak bertamasya melihat kera, dan siang nanti mereka menunaikan Sholat bersama-sama.

Indira tersedak tangisnya sendiri, andaikan dirinya lahir di keluarga Muslim, atau Ava yang lahir dengan nama Dewa Gede Ava Sudarsana, pastilah ia kini bisa bersama. Dadanya semakin sesak, Ava benar, kita tidak pernah meminta kepada Tuhan, lahir dengan nama apa, dengan agama apa, lahir di belahan bumi mana.

Ada yang percaya, nasib, kelahiran, kematian adalah bahasa rahasia, tertulis dalam kitab yang tersimpan di atas langit, tersembunyi di antara ribuan bintang, di Lauh Mahfuz. Konstelasi Maha Rumit yang mengatur setiap peredaran elektron mengelilingi intinya, mengatur setiap potensi dan probabilitas. Baik atau buruk, manis ataupun pahit.

Ada yang percaya, segala yang terjadi saat ini, hanyalah konsekuensi dari perbuatan di masa lalu, et causa dari tindakan yang pernah dilakukan manusia di kehidupan lampau. Karmapala, buah perbuatan dari benih yang disemai di masa lalu. Buah yang harus dipetik, suka tidak suka, mau tidak mau.

Tapi indira tidak peduli semua itu.

Ia tidak peduli kenapa Tuhan satu, tetapi banyak konsep mengenai Sang Maha Tunggal itu sendiri.

Yang ia inginkan hanya satu…

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Aku ingin bahagia.

Kita semua ingin bahagia.

Aku ingin kamu bahagia.

Namun apa artinya kebahagiaan bila harus menyakiti orang lain?

Menyakiti keluarga kita?

Mengkhianati Tuhan Kita?

Pemuda brewok itu memandangi laut yang menghampar, melempari permukaan buih dengan kerikil. Angin yang berhembus menghamburkan pasir ke udara, seperti kenangan yang berterbangan di benak Ava: saat bertemu Indira di air terjun, saat lari pagi dengan bidadari itu, saat dilukis, saat bercinta di bawah ribuan bintang…

Ava tersenyum pahit, menghisap dalam-dalam rokoknya yang terasa semakin pahit. Dirinya tidak pernah menyangka, melepaskan Indira akan membuatnya menderita seperti ini.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Aku baru menyadari bahwa kehilanganmu akan sesakit ini.

Lucille menarik nafas panjang, berat, sebelum dihembuskan perlahan. Berkali-kali, seperti hendak melepaskan beban berat yang bergelayut di pundaknya sedari pagi.

Hari beranjak siang ketika Lucille menyelesaikan meditasi-nya. Perempuan anggun itu duduk di bangku kayu, menyesap jus buah sambil memandangi taman anggrek yang sedang segar-segarnya.

Tak ada yang tahu ketika saat Lucille tersenyum getir, memandangi gelasnya, sebelum memandang sayu ke arah lukisan dirinya yang dilukis Pak De dahulu, terbingkai rapi di ruang tamu.

Kadang kita menyadari sesuatu, justru di saat kita kehilangannya…

= = = = = = = = = = = = = = = = = =

Outside the rain begins
And it may never end
So cry no more
On the shore of dream,
Will take us to sea
Forever more…
Forever more…

Gerimis perlahan merambati udara saat Pak De memandangi villa-nya yang kini lenggang. Suara tawa Lucille masih bergaung-gaung di sana, juga bayangan Indira yang tersenyum ceria saat bercanda dengan Lucille.

Kemudian Lelaki tua itu melangkah pelan ke arah halaman, ke arah bayangan Ava yang membantunya membuat penjor, saat pemuda itu tersenyum ramah memapahnya yang terengah-engah.

Pak De berusaha merunuti, memunguti kenangannya yang tersisa.

Close your eyes and dream
And you can be with me
Beneath the waves
Through the caves of ours…

Sayup-sayup terdengar suara Julia, istrinya yang bersorak kagum saat dirinya membeli Villa ini. Dahulu, saat dirinya dan Julia membangun mulai mimpi, satu demi satu.

Pak De tersenyum bahagia, melihat istrinya mengitari taman-taman tropis yang dipenuhi bunga. Berlonjakan jenaka bersama, Raka, Indira yang sedang lucu-lucunya.

Julia adalah matahari yang menjadi pusat kehidupan keluarga itu, sementara Pak De, Raka, dan Indira seperti planet-planet mungil yang mengorbit dengan ceria.

Julia adalah matahari yang memberi kehangatan pada ketiganya, sehangat sarapan pagi serta kopi yang tak lupa disiapkan setiap pagi.

Julia adalah senyuman yang lebih hangat dan lebih lembut dari matahari yang terbit dari kabut pagi.

Long forgotten now
We’re all lone, we are alone…

Pak De terbatuk dan mengerjap-ngerjap. Lelaki tua itu mendapati dirinya sedang terbaring di atas tempat tidur. Tubuh tuanya terbungkus selimut yang ditangkupkan Kadek buru-buru sebelum pergi.

Mimpi, batinnya. Namun Lelaki itu tersenyum, meski dalam mimpi, untuk pertama kalinya ia merasa bahagia, merasa begitu dekat dengan matahari itu, dengan kehangatan itu.

Pak De terbatuk keras, mengatur nafasnya yang tersengal, namun udara terasa kian berat.

Indira…
Ajik nggak peduli masalah pewaris…
Ajik cuma nggak ingin kamu sendirian…

Pak De kembali memejam dan tersenyum. Ada baiknya bermimpi, sekali lagi.

Dirinya sudah terlalu lelah berjalan, semesta sudah cukup tua, dan tubuhnya sudah cukup lama memenuhi dunia…

Saatnya beristirahat dan kembali bermimpi, bersama Julia, Raka dan bercanda di antara bunga-bunga…

Mengitari matahari itu, kehangatan itu…

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
All’s forgotten now

We’re all alone,
Oh, we’re all alone…

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Siang itu Lucille menangis tanpa tahu mengapa. Tiba-tiba saja nafasnya terasa sesak, dan tangannya mendadak bergemetaran, hingga gelas yang digenggamnya jatuh dan pecah berhamburan.

Lucille mengatupkan rahangnya kuat-kuat, berusaha membungkam intuisi yang tiba-tiba menyergap, tapi tubuhnya yang sudah terlatih secara spiritual tidak bisa dibohongi.

Bibir Lucille bergemetaran menahan tangis yang hendak pecah. Apa yang lebih perih dari cinta yang tak sempat disampaikan?

….Kata maaf yang tak sempat diberikan.

= = = = = = = = = = = = = = = = = =​

Indira memacu motornya kencang-kencang di jalan besar, tanpa peduli lagi.

Hanya ada satu kalimat yang terus bergaung-gaung di benaknya.

Dad, i hate you.

To Be Continued

Cerita Terpopuler