. Nirwana Part 68 | Kisah Malam

Nirwana Part 68

0
147

Nirwana Part 68

Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan

“Indira, marry me…”

Indira terkesiap, tidak menyangka akan mendapati kata-kata itu.

“Saya tetap Islam, kamu tetap Hindu, kita cari Surga kita masing-masing.” ucap Ava mantap.

“Oh… W-wow.. a-aku nggak nyangka b-bakal secepat ini…” suara Indira bergetar, tak mampu dia menatap mata Ava yang nampak sangat yakin itu.

Ombak berdebur menghempas karang, menimbulkan suara riuh yang bergema ke udara. Angin laut berhembus semakin kencang, meliuk di sela-sela bebatuan, menimbulkan bunyi ganjil yang mendadak mencekam.

“T-tapi… Kamu… tahu… kan…? aku… anaknya… Ajik satu-satunya?”

“Aku tahu, tapi aku…” aku cinta kamu, aku sayang kamu…

“K-kamu t-tahu… kan… itu artinya kamu harus…” Angin malam menggigit tulang. Indira berhenti sejenak untuk menarik nafas, kemudian berkata pelan. Nyaris tak bersuara.

Ava menatap dalam-dalam mata Indira, sebelum berucap mantap, “Yang itu… aku nggak bisa.”

Lama tak ada jawaban, hanya ada kebisuan di sela debur ombak dan desau angin.

Indira menggigit-gigit bibirnya, meremas tangan Ava kuat-kuat. “Please... ngertiin kondisiku… kondisi kami…”

“Aku sayang kamu… tapi…”

“Ava… Kalau kamu memang bener sayang aku… please…”

“Aku… cuma realistis…” desis Ava.

Indira terhenyak mendengar kalimat terakhir Ava, sekujur tubuhnya mendadak melunglai, seperti baru saja dibangunkan dari mimpi indah. Sepasang matanya perlahan meredup, digenangi air mata yang siap membanjir.

Malam menyisakan keheningan yang berujung pada isakan tertahan. “Kenapa… nggak dari dulu… kamu… bilang gitu…” Indira menarik nafas panjang di antara nafasnya yang tersengal dan tangis yang hendak pecah. “K-kenapa nggak dari dulu kamu… huk… huk…”

Kenapa baru sekarang? Setelah aku sayang banget sama kamu?

“Maaf….” bisik Ava. “Maaf…” bisik Ava berkali-kali, sambil mengusapi rambut Indira yang menangis sesengukan di dadanya.

Di atas mereka lautan bintang, di bawahnya samudera yang berdebur, namun Ava dan Indira hanyalah sekelumit bintang jatuh yang melintas di langit malam. Cinta mereka seperti secarik cahaya yang menerangi langit, selintas, panas membara sebelum terbakar habis.

Ava dan Indira hanyalah sepasang buih yang terasar di dasar samudera. Sepasang insan yang terpisah oleh konsep tak berujung pangkal yang bernama:

Iman.

Bersama Ava, Indira membangun keping demi keping, fragmen demi fragmen mimpi-mimpinya yang pernah hancur. Ava membuatnya berani bermimpi, bermimpi tentang keluarga kecil yang bahagia, tentang masa depan, di mana Ava berdiri gagah dalam balutan Udeng dan Destra, memimpin sepasang anak kembarnya ke Pura.

Namun malam ini, mimpi-mimpinya runtuh, seperti air mata yang tak mau berhenti jatuh dari matanya, satu demi satu…

Indira hanya bisa mendekap Ava erat-erat, menikmati setiap milisekon pelukan yang pasti akan terlepas, entah detik ini, atau esok hari…

Pasti…

Kita tak semestinya berpijak di antara
Ragu yang tak berbatas…

Seperti berdiri ditengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta…

Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya
Berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap

Kita pernah mencoba berjuang…
Berjuang terlepas dari kehampaan ini…

Meski hanyalah dua cinta
yang tak tahu entah akan dibawa kemana… 

Fragmen 67
Kita adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan

Beberapa hari kemudian…

Ruang makan itu terasa lengang, seperti ada jarak besar antara Pak De dan Indira. Mulut ayah dan anak itu seperti sama-sama mengunci, tanpa mau saling bicara. Pak De melirik wajah Indira yang menunduk murung, menyuap nasi tanpa berselera.

“Gek,” ucap Pak De, memecah keheningan. “Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa… Jik.”

Pak De menghela nafas, prihatin. “Sudah Ajik duga akan jadi seperti ini.” ia berkata sambil memegangi dada. “Tapi Ajik mohon, kamu jangan benci sama Ava, uhuk.. huk… ini semua… salahnya Ajik.”

Tak ada jawaban. Indira kembali menunduk, menyuap makanan yang terasa begitu pahit.

“Kasihan banget, ya… nasib Indira.” Indira tersenyum getir, sambil memainkan ujung sendoknya. “Nggak laku, nggak ada yang mau…”

Pak De mendadak tertegun, memandangi putrinya dengan mata berkaca. “Jangan bilang gitu, Gek… Ajik yakin… Hyang Widhi pasti akan mengganti dengan yang lebih baik.”

Kembali hening, hingga tinggal suara piring berdenting dengan sendok. Indira kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat ia akhirnya tersadar bahwa dirinya dan Ava begitu berbeda, tanpa bisa ditawar-tawar…

…dan mau tak mau mereka harus mengambil keputusan, sepahit apapun itu.

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan..

Akankah bisa bertemu
Kelak didalam perjumpaan abadi?

= = = = = = = = = = = = = = =​

Piringan hitam mengalun sayup-sayup dari ruang kerja Pak De, sementara dari arah halaman terdengar suara VW safari Pak De yang sedang dipanaskan oleh Kadek sedari pagi.

Pemuda itu nampak sedang berbicara di ponsel, berjalan hilir-mudik tidak jelas, sebelum akhirnya melangkah masuk, menyita perhatian Pak De dan Indira.

“Ajik, ng-nganu… maaf mengganggu… barusan Suar nelepon saya, katanya baru boarding dari Jakarta… eh… ehm…” Kadek melirik ragu-ragu, mendapati suasana ruang makan itu begitu muram. “A-ajik kemaren ‘kan b-bilangnya mau i-ikut jemput?”

“Siapa yang mau datang?” Indira mengernyit ke arah Kadek.

Pak De berdehem, memberi isyarat kepada Kadek agar anak itu tutup mulut. “Oh iya, kamu ingat Bli Suar? Teman SMA-nya Kadek dan Kak Raka.” Pak De mencoba tersenyum, dan nada bicaranya sengaja diwajar-wajarkan.

Indira mengangguk, namun nasi yang ditelannya mendadak seperti memiliki duri.

“Sekarang dia jadi Redaktur majalah Rolling Stone di Jakarta, mau pulang kampung, nanti menginap seminggu di sini.”

“Oh.”

Kembali hening. Pak De dan Kadek saling lirik, dan berdehem-dehem.

“Ehem… ehem… K-kadek, kamu saja yang jemput Suar, emm…” Pak De melirik ke arah Indira. “Kalau mau Indira diajak sekalian.”

“S-siap, Jik.” Kikuk, Kadek memberi hormat layaknya tentara.

Indira tersenyum pahit, menyadari ada yang tidak beres. “Sebenarnya kalian mau ngomong apa, sih?” ia menatap tajam ke arah Kadek dan Pak De yang seperti menyembunyikan sesuatu.

Kadek dan Pak De saling berpandangan. Udara pagi begitu dingin, namun wajah Pak De dan Kadek terasa begitu panas.

“Ajik… nggak berpikiran mau jodohin Indira, kan?” Indira melirik, sepasang matanya seperti menyelidik.

Kadek menelan ludah, mengusap wajahnya yang mendadak berkeringat.

Lagu piringan hitam terdengar sayup-sayup, berpadu dengan deru mesin VW dan suara nafas-nafas yang perlahan saling memburu, gelisah.

Ketiganya membisu lama, sampai akhirnya Pak De menarik nafas panjang dan berat. “Indira… mungkin saatnya kurang tepat… tapi kamu tahu, enggak banyak orang yang mau nyentana.” Pak De berdehem lagi, melirik ke arah Kadek. “Maaf kalau terdengar tiba-tiba… tapi tenang saja… nggak harus buru-buru, semua ini masih rencana… masih wacana…”

Indira tidak menjawab, dan sesaat kemudian terdengar suara sendok yang dibanting, dan kursi yang berderak, ditarik kasar.

= = = = = = = = = = = = = = =​

“Pengecut.” Sheena mendengus ketus, sebelum menenggak habis arak dalam satu gerakan. Sementara Ava yang duduk di ujung satunya hanya menunduk sambil menekuk muka.

Terdengar suara menderu dari pesawat yang terbang rendah, melayang di atas permukaan laut yang berkilauan di atas mereka, di Bar The Rastafarian Pilgrims yang belum buka.

“Apa sih, susahnya masuk Hindu?”

Ava tak menyahut, menatap lekat-lekat nyala rokoknya yang sebentar lagi tinggal puntung.

Bob Si Anak Rasta cuma bisa menelan ludah, karena mendadak aura Bar-nya seperti dinaungi oleh Dementor. Berkali-kali ia menggaruk rambut gimbalnya sambil memandangi Ava dan Sheena, hingga wajahnya yang hitam kurus nampak semakin pucat saja.

Pesawat mendarat di kejauhan, terdengar suara berdecit di antara debur ombak yang menghempas pantai di dekatnya. Arak dituang, ditenggak Sheena dalam sekali teguk.

“Kamu takut masuk Neraka?” ucap Sheena setengah teler.

Ava tak menyahut memandangi gelas arak di tangannya dengan hampa

“Ava, kamu itu cuma Islam KTP. Kamu pikir kamu pikir kamu bakal masuk Surga?”

Ava nyengir, pahit. “Aku tahu, aku itu bukan orang suci, Na.” Segelas arak ditenggaknya habis. “Tapi Iman, Faith, itu hal terakhir yang aku nggak bisa lepas.”

“Taik.” dengus Sheena. “Kamu itu sama aja kayak politikus-politikus, sok-sokan beriman, tapi kelakuan kayak…” Sheena menatap bengis ke arah Ava. “… anjing.”

“U-udah… udah…. gue buatin minuman lagi… ya… kalian mau apa…? jangan arak, deh… jus jeruk, perhaps?” Bob kalang kabut melihat dua sahabatnya terlibat adu mulut.

Sheena mendengus kesal, menyalakan batang rokok kedua, memijat kepalanya yang mulai pening karena alkohol. Cepat-cepat Bob menuangkan Orange Juice ke dalam gelas berisi es batu.

Ava menatap hampa ke arah laut yang menghampar di depan Bar Rasta itu, meresapi lirik lagu yang sayup-sayup mengalun di sela debur ombak.

“Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today”

“Na, menurutmu, sebenarnya apa sih, Surga dan Neraka itu?”

Muncul tawa kecil dari bibir Sheena, setengah kaget, setengahnya sinis. “God is dead. God remains dead[SUP](1)[/SUP]. Nggak ada Surga, nggak ada Neraka. Manusia berkuasa penuh untuk menentukan nasibnya.”

Fuckin’ atheist,” cibir Ava.

Sheena menghabiskan minumannya, sebelum menggambar-gambar di udara dengan ujung rokoknya yang menyala redup.

Sigmund Freud bilang, alam bawah sadar manusia menyimpan kerinduan akan pengalaman indah yang hilang, yaitu pengalaman indah dalam rahim ibu.” Sheena terdiam sejenak, menghisap rokoknya. “Sebagai gantinya, tanpa disadari manusia menciptakan substitusi dan kompensasi dengan cara membangun imajinasi: berupa bayangan Surga.[SUP]([/SUP][SUP]2[/SUP][SUP])[/SUP]”

Bob melirik takut-takut ke arah keduanya. Meletakkan dua gelas Orange Juice di atas Bar.

“Lalu apa artinya hidup kalau nggak ada apa-apa di ujung sana?” Ava bertanya, retoris. “Sheena, Coba kamu pikir, apa yang disebut perjuangan dan pengorbanan nggak akan ada artinya kalau Nabi dan Pemerkosa akan mendapat reward yang sama setelah mati, dan betapa menyakitkan kalau ternyata nasib akhir semua orang sama: antara penindas dan yang ditindas, antara pejuang dan pengkhianat, antara koruptor dan penegak keadilan.[SUP]([/SUP][SUP]3[/SUP][SUP])[/SUP]” Ava berkata panjang lebar tanpa diputus nafas, “…Imanuel Kant yang bilang.” Cepat-cepat ditambahkannya sumber, seolah tidak mau kalah.

“Itulah dia, agama dan Tuhan diciptakan manusia karena takut dengan kematian. It is Death that creates Religion!” sanggah Sheena.

Cepat Ava menukas, “Maksudku, justru karena kita yakin dengan kehidupan setelah kematian, maka kita selalu diajak untuk berpikir mengenai persiapan buat itu!”

“Terus apa buktinya ada kehidupan setelah mati?!”

“Apa buktinya juga kalau nggak ada?”

Bob cuma bengong dengan mata bergerak ke kiri-ke kanan, seperti menonton pertandingan pingpong.

Suara Sheena sedikit meninggi. “Jadi kalau menurutmu Surga dan Neraka itu ada, yang mana yang benar? Surga-mu, atau Surga-nya Indira?!” Sheena menekankan pada kalimat terakhirnya itu.

“Na, udah… take it easy, man… ” Bob berusaha menenangkan.

Kali ini Ava yang terdiam, cukup lama hingga detak jantung mereka berdua terdengar. Kencang, dan saling berdegupan.

Ava menarik nafas panjang, seperti hendak menarik sesuatu dari lubuk pikirannya.

“Salah satu-nya pasti benar… itu yang namanya Iman…”

Sheena menggebrak meja. “IMAN?! BANYAK ORANG MENGKLAIM DIRI MEREKA PALING BENAR! PALING BERIMAN! ITU JUGA YANG MENYEBABKAN KAKAK DAN MAMA-NYA INDIRA, JUGA…”

“Na…” Bob memegang pundak Sheena namun segera ditepis kasar.

“Biar, Bob!” Sheena menyingkapkan lengan t-shirt-nya, menunjukkan bekas luka memanjang yang tersamar di balik tato “INI SEMUA GARA-GARA ORANG-ORANG YANG MENGAKU DIRINYA BERIMAN! INI SEMUA GARA-GARA SESUATU YANG NAMANYA AGAMA! YANG CUMA JADI PEMBENARAN BUAT ORANG-ORANG UNTUK SALING MEMBUNUH!”

Sheena tak lagi berkata, karena tenggorokannya sudah tak mampu lagi bersuara. Hanya tinggal air mata yang tahu-tahu meleleh selintas, dan cepat-cepat diusap.

Sheena menenggak segelas arak, membanting gelas hingga pecah, sebelum disusul tangis yang ikut pecah.

= = = = = = = = = = = = = = =​

“Dira, dengerin dulu!” Pak De berdiri, mencoba menahan Indira yang beranjak pergi.

“Jadi Ajik merencanakan sesatu tanpa sepengetahuan Indira?” Indira tertawa lebar, menyadari seluruh hidupnya adalah bagian dari sandiwara besar. “Jadi selama ini Indira cuma sekedar bagian dari rencana besar Ajik? great!” Gadis itu menggeleng-geleng gusar.

“Gek!” Pak De menyusul langkah Indira yang lebar-lebar di lorong Villa.

Indira menatap tajam ke arah ayahnya. “Jik, terus terang saya sudah muak. Ajik nggak pernah peduli sama perasaannya Indira. Dari dulu cuma ini ‘kan, yang jadi pikirannya Ajik? Pewaris nama besar Sang Maestro, Dewa Gede Subrata.” Indira tertawa sinis, melangkah menjauhi Kadek dan Pak De.

“Indira, dengerin dulu Ajik ngomong.” Kadek berusaha mendekat, namun segera dituding Indira.

“Kamu jangan ikut-ikutan!” Indira meradang, menatap tajam ke arah Kadek. “Itu juga alasannya, kan? Kenapa Kadek dan Ajik memilih Ava jadi murid? iya, kan?!”

Kadek menelan ludah, dirinya tidak bisa membantah ucapan Indira.

Oh, God….” Indira menggeleng-geleng putus asa. “Oke, selamat mencari penerus. I’m out,” tandasnya, sebelum melengos pergi.

“Kadek! Uhuk-uhuk! Sudah!” Pak De berjalan terhuyung, memegangi dadanya.

Kadek menghampiri setengah berlari,. “Ajik, Ajik nggak kenapa-kenapa?”

Tersengal, Pak De duduk di kursi rotan di teras sambil terbatuk-batuk. “Uhuk-uhuk! Eng-enggak apa-apa… uhuk!”

Kadek mengernyit khawatir. “Ajik istirahat saja dulu. Kalau perlu saya yang bicara sama Indira.”

“Enggak usah…. biarkan dulu dia sendiri…” Pak De terbatuk, dipapah Kadek ke dalam kamar.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Indira menangis, tapi tanpa isak, hanya air mata yang terus meleleh tanpa henti.

Ibu dan Kakaknya mati karena kebencian yang tak berujung pangkal. Dewa, meninggalkan dirinya karena terhalang permasalahan adat yang rumit, dan kini ia tidak bisa bersatu dengan Ava karena perbedaan yang…

Indira berteriak dalam hati, mengutuki nasibnya. Di matanya, Agama dan Adat kini hanya nampak sebagai sekat-sekat pembatas yang mengkotak-kotakkan manusia.

Indira letih, dirinya sudah terlalu…

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

You, you may say
I’m a dreamer, but I’m not the only one
I hope some day you’ll join us
And the world will be as one

= = = = = = = = = = = = = = =​

Kadek membantu Pak De meminum dua butir obat, menyelimuti lelaki tua itu, ketika mendengar suara motor distarter, melaju, meninggalkan deru resah di balik kabut pagi.

= = = = = = = = = = = = = = =​

Dan yang terdengar hanyalah debur ombak, deru angin, dan suara sesengukan yang saling sahut menyahut.

“Kamu jahat… Va… kamu jahat……. “Kamu sudah ngecewain Pak De… Ngecewain Indira, ngecewain keluarganya…” Sheena mendorong dada Ava, meracau tidak jelas.

Sheena berkata lagi “Asal kamu tahu, aku juga sayang sama Indira… aku cuma nggak mau anak itu sedih lagi… aku nggak mau Indira nangis lagi……”

Sheena menenggak arak dari langsung pitcher. “Aku rela ngelakuin apa saja agar Indira bahagia… agar kamu bahagia…” Kalimat terakhirnya tertelan isak yang semakin menjadi, “… padahal aku… padahal aku…”

Kalimat itu tidak selesai, karena mendadak pandangan mata Sheena memburam, dan kepalanya terasa begitu ringan, sesaat sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.

To Be Continued